Training Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaNews FeedTraining Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaComments Subscribe to Training Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaSitemap

Integrasi Ekonomi: Belajar dari Uni Eropa


Beberapa waktu silam Bisnis mendapatkan undangan dari Uni Eropa untuk mengikuti seminar khusus wartawan Asean tentang mata uang tunggal Eropa (euro) dan berbagai isyu di baliknya. Tulisan berikut adalah beberapa catatan dari seminar tersebut.

BRUSSELS (Bisnis): Krisis ekonomi yang melanda Asia Tenggara mendorong banyak pihak untuk memikirkan kembali kemungkinan membangun ikatan ekonomi pada skala regional sedemikian rupa sehingga lebih kokoh dalam menghadapi kemungkinan krisis berikutnya.

Di luar rencana mengenai pasar bebas Asean (AFTA), masih bisa disebut sejumlah ide seperti mata uang tunggal, integrasi sistem pabean, sampai pembentukan dana moneter Asia Tenggara (AMF). Pertanyaannya, realistiskah ide-ide itu?

Menyangkut kerjasama ekonomi seperti ini tak berlebihan kalau dikatakan, Uni Eropa adalah tempat belajar yang baik. Uni Eropa adalah sekumpulan negara dengan perbedaan tajam (bahkan dengan kebanggaan penuh untuk saling berbeda) yang mau duduk bersama, mendamaikan kepentingan nasional dengan kepentingan regional.

Albert Maes, profesor ekonomi di Universitas Namur (Belgia), mengatakan ada kesamaan yang sedemikian fundamental antara prakondisi Uni Eropa dengan (kalau mau dibentuk) prakondisi integrasi ekonomi Asean. Prakondisi Uni Eropa adalah Perang Dunia II sedang prakondisi Asia Tenggara adalah krisis ekonomi. Kedua-duanya membuat pemerintah dan masyarakat ‘babak belur’.

Hanya saja, antara kedua kawasan juga ada perbedaan mencolok. Uni Eropa bersatu untuk tujuan politis, yakni menghindarkan diri dari perang. Sebab, perang telah membuat semua pihak kalah, dalam arti hancur secara ekonomi, politis maupun mental. Kalau sekarang ini integrasi Eropa lebih terlihat sebagai integrasi ekonomi, menurut Profesor Ekonomi Universitas Katolik Louvain Luc Bernard, itu hanya tahapan yang kasat mata saja. Jiwa dari integrasi itu sendiri tetap integrasi politis yang belum diketahui bagaimana kelak bentuknya. “Gambaran idealnya jelas bagi semua orang. Tapi realisasinya mungkin akan berbeda.”

Sementara untuk kasus Asia Tenggara dan Timur justru menjadi pertanyaan, mungkinkah melakukan integrasi ekonomi (sebagai tujuan) dengan tetap mempertahankan perbedaan kepentingan politik?

Politik bernurani

Sebagian besar masyarakat Eropa sendiri menilai pemberlakuan mata uang tunggal Eropa ini adalah bukti kemenangan para politikus, bukan kemenangan ekonom. Mereka berpendapat, euro sama sekali jauh dari kepentingan ekonomi. Euro kental dengan kepentingan politik.

Yang berpendapat demikian umumnya adalah mereka yang memandang euro dalam perspektif sejarah yang cukup jauh. Menurut mereka euro adalah wujud penyatuan kepentingan bersama para politikus Eropa, menghindarkan diri dari perang, dalam skala apapun.

Pertanyaannya tentu, bagaimana caranya. Atas pertanyaan itu pada awalnya muncul dua pendekatan, keduanya pendekatan politis. Pertama adalah pendapat kelompok federalis yang sejak awal menginginkan negara-negara Eropa saling mendukung dan saling melengkapi sebagai layaknya sebuah negara federal. Dalam pada itu, diidealkan setiap negara tetap berdaulat.

Sementara, kedua, kelompok fungsionalis mengharapkan agar secara bertahap setiap negara mengurangi kedaulatannya, dan menyerahkan kedaulatan nasional itu ke tahap yang lebih tinggi. Titik akhir idealisme kelompok ini adalah terbentuknya ‘negara’ Eropa.

Namun sekarang, ketika berbagai kesepakatan dilalui, perbedaan antara kedua jenis pendekatan itu praktis sulit teridentifikasi. Yang terjadi kemudian adalah, kerjasama ekonomi secara gradual menuju ke satu perekonomian yang penuh. Apapun namanya, langkah integrasi sudah diambil, dan setiap saat tingkat integrasi itu terus bergerak menuju arah yang semakin intens.

Karena itu–dalam konteks dekat–euro lebih ditengarai sebagai satu integrasi ekonomi setelah upaya menuju integrasi politik Eropa dianggap tidak mungkin. Semua orang tahu, betapa setiap negara Eropa sangat mengagungkan kedaulatan politisnya sehingga ide integrasi politis dianggap mimpi. Sebab, banyak pihak termasuk kelompok muda yang berpendapat integrasi politik berarti memporakporandakan kedaulatan setiap negara.

Tidak mudah

Baik para sejarawan yang meneliti perkembangan Uni Eropa maupun para negosiator saat ini mengakui betapa proses integrasi ekonomi itu sama sekali bukan hal yang mudah. Albert Maes mengatakan setiap periode negosiasi selalu kritis. Orang selalu marah. Tapi beberapa tahun kemudian orang selalu bernafas lega menikmati hasil negosiasi itu. Ekonomi berkembang satu langkah kedepan.
Sebut saja proses terbentuknya Treaty of Paris pada 1951, tiang pancang utama Uni Eropa. Kesulitan utama terjadi karena di sisi politis Jerman adalah musuh bagi negara-negara Eropa Barat yang bersekutu dengan Amerika Serikat. Padahal secara geografis mereka berdekatan. Dalam pada itu secara ekonomi mereka sebenarnya juga saling membutuhkan.

Hal yang paling nyata adalah, seusai perang, ekonomi porak-poranda. Pilar ekonomi mereka, yakni industri batubara dan besi baja juga runtuh. Pasalnya, produksi melimpah dan stok menumpuk karena permintaan hampir tidak ada. Maka adalah kunci bahwa Menlu Prancis Robert Schuman bersedia mengambil prakarsa negosiasi dengan Jerman. Kedua negara duduk bersama sampai kemudian menelurkan deklarasi dengan sejumlah prinsip: bahwa Eropa tak bisa dibangun sekaligus tetapi bertahap; permusuhan lama Prancis-Jerman diakhiri; produksi batubara dan besi kedua negara harus didasarkan pada kebijakan bersama; kedua negara sepakat bahwa kerjasama ekonomi akan menjadi dasar kuat bagi kesejahteraan masyarakat dan pembentukan Masyarakat Eropa; dan kesepakatan antar pejabat tinggi akan bersifat mengikat.

Menyusul kesepakatan itu, kedua negara melayangkan undangan ke negara-negara Eropa lainnya untuk bergabung dalam kesepakatan itu. Empat negara menyambut positif, dan lahirlah Treaty of Rome. Dalam treaty tersebut enam negara (Prancis, Jerman, Italia, Belgia, Belanda dan Luksemburg) sepakat membentuk Masyarakat Batubara dan Besi Eropa (European Coal and Steel Community, ECSC). “Kenyataan bahwa banyak yang diundang tetapi hanya sedikit yang datang memberi satu indikasi bahwa memang waktu itu banyak yang tidak sependapat dengan ide ini,” tutur Albert Maes.

Kesulitan semacam itu semakin terlihat ketika keenam negara mencoba untuk duduk membicarakan kerjasama politik dan keamanan. Upaya pada 1954 itu gagal karena, menurut Luc Bernard, keberagaman kepentingan politis sangat sulit untuk disatukan. Salah satu buktinya, ketika pada 1957 keenam negara duduk lagi untuk membahas ekonomi, proses negosiasinya relatif lebih lancar sehingga lahirlah Treaty of Rome yang bersisi pembentukan Masyarakat Ekonomi Eropa dan kerjasama Eropa di bidang energi nuklir (Euraton).
Dalam perjalanan berikutnya pun, seperti penambahan anggota Uni Eropa, tetap terlihat bahwa metamorfosa Uni Eropa memang tidak mudah. Prancis misalnya, pernam memveto rencana bergabungnya Inggris, Irlandia dan Denmark kendati kemudian (1973) ketiga negara ikut bergabung. Keanggotaan MEE kemudian bertambah dengan Yunani (1981), Spanyol dan Portugis (1986) dan Austria, Finlandia serta Swedia (1995).

Tarif dan euro

Para negosiator integrasi Eropa sependapat, bahwa integrasi ekonomi membutuhkan dua pilar utama untuk mencapai satu sasaran pasar tunggal. Kedua pilar itu adalah kesamaan sistem kepabeanan (tarif bea masuk) dan kesatuan sistem moneter yang kemudian direalisasikan dalam kesatuan mata uang. Gagasan ambisius ini sudah muncul sejak 1979 ketika mereka meluncurkan European Monetary System yang menyeragamkan sistem moneter semua anggota.
Penyeragaman dan kemudian penyatuan sistem kepabeanan dan sistem moneter, menurut Albert Maes, adalah satu keharusan bagi mereka yang ingin membentuk pasar tunggal. Kalau kedua syarat itu tidak terpenuhi, yang terjadi hanya pasar bebas yang didalamnya memuat distorsi tarif dan distorsi nilai tukar.

Dalam pasar tunggal, menurut dia, yang diidealkan adalah mengubah sebagian cukup besar porsi perdagangan internasional menjadi perdagangan ‘dalam negeri’. Kalau sebelumnya perdagangan antara Italia dengan Jerman diperlakukan sebagai ekspor dan impor (yang mengandung perbedaan tarif dan nilai tukar), sekarang menjadi layaknya pedagangan antara Lampung dan Jawa Tengah.

Dalam hal manajemen ekonomi makro perubahan ini sangat signifikan mengingat ketika negara-negara Uni Eropa belum bersatu, perdagangan internasional negara-negara itu mencapai sekitar 40% PDB. Namun impor dari luar kawasan euro ke kawasan euro sebenarnya tidak terlalu tinggi, yakni sebesar15% dari PDB.

Dan sekarang unifikasi itu bukan cita-cita belaka. Proses itu semua sudah terjadi. Kendati bank note dan koin euro belum ada di dompet, unifikasi sistem moneter itu sudah terjadi. Perdagangan antar negara tak dikenai tarif bea masuk. Pasar tunggal ini akan menjadi sempurna pada 1 Januari 2002 mendatang, ketika mata uang euro benar-benar ada di dompet masyarakat sehingga tak ada lagi biaya konversi antar mata uang.

Integrasi yang sedemikian inilah yang kemudian dijadikan landasan berbagai pihak dunia untuk memprediksi kawasan itu akan tumbuh pesat. Komisi Eropa sendiri memperkirakan tahun ini kawasan itu akan tumbuh 3,4% disusul dengan angka 3,1% tahun berikutnya. Angka itu tak jauh dibanding prediksi IMF yang memperkirakan pertumbuhan berturut-turut 3,2% dan prediksi OECD yang memperkirakan pertumbuhan 3,5% dan 3,3%.
Semua pihak yakin dalam dua tahun pertumbuhan ekonomi Eropa akan lebih dari 3%. Padahal, selama akhir tahun 1999 mereka memperkirakan ekonomi akan tumbuh sekitar 2,5%. Revisi atas proyeksi itu dilakukan menyusul kinerja ekonomi kawasan itu pada paruh kedua tahun 1999-menyusul penyatuan sistem moneter dan mata uang pada 1 Januari-jauh lebih baik dari perkiraan sebelumnya.

Indikator ini diperkirakan akan mendorong pertumbuhan penyerapan tenaga kerja dan penambahan pendapatan keluarga. Hal itu, pada gilirannya, akan memacu konsumsi yang berarti meningkatnya produksi dan laba sektor swasta. Kalau pun ada kekhawatiran mengenai hambatan terhadap laju pertumbuhan, maka risiko itu berasal dari faktor eksternal seperti seperti kemungkinan slowdown di perekonomian AS yang pasti akan mengimbas ke Eropa.

Sementara itu Komisi Eropa memperkirakan inflasi di kawasan itu tahun ini akan mencapai 1,8% dan turun menjadi 1,7% tahun berikutnya. Sedang pihak lain juga memiliki prediksi yang tak jauh berbeda. IMF memprediksi inflasi dalam dua tahun itu berturut-turut 1,7% dan 1,6%. Sedang OECD memprediksi inflasi akan 2%.

Angka-angka itu lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya sebesar 1,5%. Revisi atas inflasi ini antara lain disebabkan oleh kenyataan kenaikan harga bahan bakar. Sementara itu tekanan beli di sektor konsumsi juga diduga akan mendorong inflasi. Satu gejala yang pasti sudah dirasakan, demikian laporan bank sentral, adalah meningkatnya harga produk impor sebagai akibat dari kenaikan BBM. Hal yang lebih kurang menguntungkan adalah melemahnya nilai tukar euro. Kalau kecenderungan atas kedua faktor ini terus berlanjut, meka tekanan atas inflasi tak bisa diabaikan lagi.

Namun di sisi dalam negeri tekanan inflasi mungkin akan terjadi karena tarikan permintaan (demand pull) sehubungan dengan meningkatnya pendapatan pegawai yang juga akan dipicu oleh rencana pengurangan biaya social security system. Di sisi itu, sebenarnya beban perusahaan juga berkurang sehingga peluang terjadinya kenaikan harga hanya terjadi kalau sektor usaha menaikkan margin laba secara signifikan.

Menuju Eurasia

Dalam bahasa masyarakat, semua itu berarti bahwa mereka mengalami peningkatan standard hidup. Masyarakat menikmati harga yang sangat stabil. Perjalanan antar negara menjadi mudah. Di samping moda transportasi yang maju, masyarakat tak lagi dipusingkan oleh urusan keimigrasian.

Maka tantangan buat mereka sekarang adalah, kemana mereka akan melangkah? Sampai batas mana mereka akan berintegrasi? Apa yang akan mampu menjaga integrasi antar mereka? Sejumlah tokoh seperti Paul Valery misalnya, mengharapkan agar Uni Eropa tak berhenti sampai di sana. Salah satu impian mereka adalah mengembangkan keanggotaan Uni Eropa ke Asia (Eurasia) sehingga akan terjadi satu integrasi harmonis antara negara hiperindustri dengan negara yang masih tertinggal di belakangnya.

Satu hal yang pasti, Uni Eropa (sekarang 15 negara) kini tengah bernegosiasi dengan 10 negara Eropa Timur plus Malta dan Cyprus yang ingin bergabung dengan Uni Eropa.

Kembali dalam konteks Asean atau Asia Timur, apakah integrasi semacam itu merupakan integrasi yang diinginkan? Kalau ditanya, kalangan masyarakat mungkin lebih dari happy untuk menjawab ya. Entah apa jawaban politisi.

*) Her Suharyanto; her@jurutulis.com; www.jurutulis.com


Telah di baca sebanyak: 1704

Disengsarakan Spekulan Minyak?

INVESTASI alternatif dengan janji untung besar, siapa yang tidak tertarik?

Suatu sore, di satu kafe di sekitar Pancoran, saya bertemu dengan seorang pejabat yang minta bantuan saya terkait dengan rencananya untuk menulis buku. Namun ternyata itu bukan pertemuan “bilateral” antara saya dengan pejabat tersebut, melainkan pertemuan “multilateral”. Setelah sekitar satu jam kami bebicara, datang dua perempuan cantik yang juga janji bertemu dengan sang pejabat.

“Sebentar lagi saya akan ada tamu lain, tolong Mas Her jangan pergi, nanti saya akan minta Mas Her memberi pertimbangan,” kata pejabat tersebut.

Tamu tersebut ya dua perempuan cantik itu.

Setelah berbasa-basi sejenak kedua perempuan itu mulai menawarkan investasi yang menurut mereka sangat menjanjikan. “Bapak boleh pilih, mau investasi di komoditas atau forex… dijamin untung karena ditangani oleh orang yang berpengalaman di bidangnya.” Kedua perempuan itu mulai memberi kesaksian sambil berbisik “ini rahasia lho…” bahwa pejabat A artis B dan pengusaha C adalah para nasabah perusahaannya yang menangguk untung besar. Keduanya, secara bergantian namun terasa agresif, berusaha menjelaskan bagaimana mungkin investasi itu menguntungkan.

“Ada yang untung lebih dari 100 persen dalam sebulan,” kata yang satu.

Sang pejabat mulai senyum-senyum, sesekali melirik saya (tapi lebih banyak memandang kedua perempuan yang menggoda dengan matanya).

“Wah, saya nggak ngerti mbak… Ini Mas Her, konsultan keuangan saya. Kita dengar saja dia bilang apa… saya ikut saja.”

Saya merasa seperti disambar geledek, karena ditempatkan pada posisi yang tidak mengenakkan. Akhirnya saya sekadar bercerita bagaimana saya juga telah sering mendapatkan tawaran serupa, dan bagaimana saya menolak. Kedua perempuan itu berbalik mencoba meyakinkan saya dengan manis. Namun air muka keduanya berubah ketika saya mengatakan, “Saya tidak mau karena bagi saya ini investasi spekulatif.”

“Ini bukan spekulatif mas… bisa dihitung. Fund manager kami tidak main-main. Mereka memakai perhitungan yang matang…” dan seterusnya.

Rupanya kata “spekulatif” yang saya maksud tidak ditangkap, dan ini menyengat mereka. Yang saya maksud dengan spekulatif adalah bahwa investasi ini tidak memiliki underlying assets. Investasi rumah berarti ada rumah yang dibeli. Begitu juga investasi tanah, emas atau bahkan juga valas sejauh dalam arti kita benar-benar membeli lembar uang (banknote) atau menabung dalam valas. Dalam istilah ekonomi, investasi tersebut memiliki underlying asset. Investasi pada saham pun masih ber-underlying asset. Kita memang membeli kertas, tetapi di balik kertas itu ada aset perusahaan yang menerbitkan saham tersebut.

Tetapi dalam perdagangan berjangka tidak ada aset yang dipertukarkan.

“Maksudnya tidak ada transaksi emas atau minyak yang riil?” Sang pejabat, yang bidangnya adalah kemasyarakatan, ikut bertanya.

“Tidak ada,” saya berkata. Saya melanjutkan bahwa para pemilik uang datang ke bursa yang disebut bursa berjangka bukan untuk dagang minyak, emas atau komoditas yang lain. Mereka datang ke bursa berjangka dengan tujuan untuk mencari untung dari pergerakan harga komoditas itu. “Kedua Mbak ini juga tidak mengajak Bapak untuk dagang emas atau minyak, tapi untuk cari untung dari pergerakan harga emas, minyak atau nilai tukar mata uang (valas).”

“Jadi tidak spekulatif kan? Bisa dihitung, kan?” kata seorang dari kedua perempuan cantik itu.

Saya memutuskan untuk menghentikan “penjelasan” saya di depan keduanya karena saya tidak mau menghalangi usahanya untuk bekerja. Dan untunglah sang pejabat cukup bijak dengan mengatakan dia bisa dihubungi lagi seminggu dari waktu pertemuan itu.

Tetapi setelah kedua orang itu pergi sang pejabat masih penasaran. Dia bertanya, bagaimana mungkin ada pasar tanpa ada aset yang ditransaksikan.

“Begini Pak. Katakan saja saya produsen karet. Bapak punya pabrik ban. Bapak setiap minggu beli karet dari saya. Bulan ini produksi karet lagi bagus, harganya katakan saja 100 dolar satu ton. Misalnya kita tahu enam bulan lagi produksi karet bakal susah. Kita sama-sama tahu harga akan naik, bukan? Nah, kita bikin kontrak. Enam bulan yang akan datang Bapak akan beli karet dari saya dengan harga 120 dolar per ton. Apakah ini mungkin terjadi?”

“Mungkin saja. Tapi harga riil enam bulan mendatang bisa cuma 110 atau bisa 140, kan?”

“Itu dia,” kata saya. “Kalau enam bulan mendatang harganya 110, berarti bapak rugi 10 saya untung 10. Sebaliknya kalau harga pasar 140, saya untung 20 Bapak rugi 20, bukan?”

Saya melanjutkan, “Tetapi untuk bisa bertransaksi seperti itu saya tidak harus menjadi petani karet dan Bapak tidak harus menjadi produsen ban. Tapi kita tetap bisa membuat perjanjian jual beli persis seperti di atas, bukan? Gampang saja. Kalau harga pasarnya nanti 110 berarti Bapak bayar saya 10, kalau harga pasarnya 140 saya bayar Bapak 20.”

“Jadi kalau mau modalnya bukan 120, tapi masing-masing 10 atau 20 cukup dong?” kata Pak Pejabat.

“Persis. Ini namanya bermain margin, Pak.”

“Jadi yang bertransaksi emas dan minyak itu bisa jadi orang-orang yang tidak ada kaitannya dengan produksi dan penggunaan emas atau minyak?”

“Lebih banyak yang seperti Bapak sebutkan. Di dunia ini ada ribuan atau jutaan orang seperti kedua tamu Bapak tadi. Apakah mereka semua mengajak orang-orang seperti Bapak menjadi produsen minyak atau membeli minyak? Tidak. Mereka mengajak orang-orang seperti Bapak untuk memanfaatkan pergerakan harga minyak.”

“Bertaruh dong?”

* * *

SAYA KEMBALI teringat peristiwa di atas beberapa pekan lalu ketika melihat foto di halaman satu Harian Kontan. Foto itu menunjukkan dua orang laki-laki tertawa lepas sambil mengepalkan kedua tinjunya. Caption foto menyebutkan bahwa mereka berdua adalah para investor bursa berjangka yang tertawa puas karena harga minyak terus bergerak naik.

Dalam beberapa bulan terakhir harga minyak terus merangkak naik, dan ini menjadi sumber kesengsaraan begitu banyak orang. Sama seperti ketika krisis ekonomi melanda Indonesia dan beberapa negara Asia tahun 1997/98, banyak pihak menuduh bahwa ini adalah ulah para spekulan. Negara-negara pengekspor minyak (OPEC) mengatakan produksi minyak dunia cukup untuk memenuhi kebutuhan. Jadi kalau harga naik, maka menurut mereka itu karena ulah para spekulan.

Pertanyaannya, mungkinkah para spekulan ikut menentukan harga? Bisa saja, minimal secara tidak langsung, melalui pembentukan sentimen dan ekspektasi (yang berperan besar pada harga). Saya bisa salah, tapi paling tidak India beberapa waktu lalu menutup bursa berjangka-nya dengan alasan harga yang dibentuk oleh bursa berjangka tersebut sudah sangat tidak sesuai dengan keadaan pasar.

*) Her Suharyanto; her@jurutulis.com; www.jurutulis.com

Telah di baca sebanyak: 615

Bankir Cantik di KRL Ciujung

Rabu sore 12 November saya naik KRL ekonomi AC Ciujung dari Tanah Abang menuju Serpong. Saya berdiri di gerbong paling belakang, dekat pintu. Ransel saya taruh di tempat bagasi, dan saya mencoba menyamankan diri dalam posisi berdiri.
Kereta belum bergerak. Seorang perempuan muda yang duduk dekat saya berdiri asyik bertelepon. Rupanya dia memanggil temannya untuk datang ke gerbong tempat dia duduk. Dan tak lama kemudian datang seorang perempuan lain, dugaan saya usianya lebih tua. Yang datang ini mengenakan blazer warna kuning kunyit (saya nggak tahu, itu seragam atau bukan).
Karena tak mendapat tempat duduk, pandatang baru ini berdiri di depan temannya, tepat di samping saya berdiri.
Tepat pukul 17.10 kereta yang lumayan penuh, tidak terlalu berdesakan, meninggalkan Tanah Abang.

Tak lama kemudian kedua perempuan itu terlibat diskusi heboh, seolah tak ada orang lain di sekitarnya. Dari apa yang mereka diskusikan, saya menduga mereka bekerja di satu bank. Yang satu bercerita dengan bangga bahwa dalam beberapa hari terakhir dia panen nasabah deposito baru, dengan total angka ratusan miliar. Saya sepenuhnya percaya. Tadi pagi harian Kontan bercerita jumlah rekening tabungan dan deposito di atas dua miliar membengkak. Total jenis rekening ini tercatat naik Rp70 triliun dalam sebulan menjadi Rp673 triliun dari total dana perbankan di Indonesia yang sebesar Rp1.600 triliun.

Perempuan yang berblazer juga bercerita mengenai pekerjaannya.
Saya mencoba tidak terganggu oleh obrolan mereka. Toh ini tempat umum. Kalau pun mereka ngomongin rahasia dapur mereka, ya silakan sajalah. Toh mereka memang mau begitu.
Tetapi akhirnya saya tersengat mendengar sharing si mbak berblazer, lebih dalam kapasitas saya sebagai salah satu nasabah bank. Saya coba rekonstruksi obrolan mereka, walau tentu saja tidak tepat benar.
“Tahu nggak lu, kapan hari gue salah blokir kartu (saya nggak pasti kartu kredit, kartu debit, atau kartu ATM) nasabah,” katanya sambil ketawa cekikikan.
“Loh, kok bisa sih,” kata perempuan yang duduk.
“Si ibu itu kan punya dua kartu. Begitu dia minta satu kartunya diblokir, eh yang gue blokir kartu yang satunya,” kata si mbak berblazer.
“Terus?”
“Seminggu kemudian si ibu telepon. Dia tanya kok kartunya yang satu keblokir.”
“Lu jawab apa?”
“Dia kan nggak ngerti. Saya jawab gini, ‘Bu, maaf, waktu saya panggil nama ibu di komputer, saya langsung blokir begitu saja. Saya nggak tahu kalau ibu punya dua kartu.”
“Si ibu marah?”
“Nggak tuh, malah dia minta maaf. ‘Maaf ya mbak, ngerepotin’, dia bilang gitu.”
Kedua perempuan itu pun tertawa berderai.
Sedih rasanya mendengar sharing itu. Begini rupanya cara perempuan muda ini bekerja. Pertama jelas si blazer kuning kunyit melakukan kesalahan, dan kesalahannya menurut saya fatal, bukan hanya karena dia memblokir kartu yang tidak seharusnya diblokir, tetapi justru tidak memblokir kartu yang seharusnya diblokir. [Saya menulis ini justru karena hari ini, Jumat 14 November 2008, di harian Kompas ada surat pembaca yang berisi keluhan bahwa orang sudah memblokir kartu ATM-nya, tetapi pembobolan masih terjadi]. Kedua, dia tidak mengakui kesalahannya di depan nasabah, bahkan membohongi si nasabah.

Rasa sedih belum hilang, dan kepala dipenuhi aneka macam tanda tanya ketika kereta berhenti di Stasiun Pondok Ranji. Kedua perempuan itu turun, dan saya mencari-cari tempat kosong, untuk menaruh pantat sekadar membuang penat.

*) Her Suharyanto; her@jurutulis.com; www.jurutulis.com

Telah di baca sebanyak: 3627

Financial Engineering Tukang Ojek

KALI INI saya sekadar ingin berbagi cerita mengenai keterkejutan saya mengenai bagaimana seorang tukang ojek melakukan rekayasa keuangan (financial engineering). Sebagai catatan awal, saya tidak ingin memberikan penilaian (judgment) moral apapun atas orang yang saya ceritakan berikut ini. Cerita ini saya sodorkan sekadar untuk berbagi bahwa mereka yang secara umum dipandang dengan sebelah mata sekalipun ternyata memiliki kecerdasan keuangan sekelas dengan mereka yang namanya menghiasi halaman-halaman koran ekonomi.

Sekitar November tahun silam saya memesan tukang ojek langganan, Pak Nikmat namanya, via telepon. Saya harus berangkat ke studio kerja (yang masih berada di kompleks yang sama dengan tempat tinggal saya) dengan ojek, tidak dengan sepeda seperti biasanya, karena harus membawa buku dalam jumlah yang cukup banyak.

Kurang dari lima menit setelah ditelepon Pak Nikmat datang, kali ini dengan sepeda motor baru merek Jepang buatan dalam negeri. “Wah, baru nih Pak, motornya…” saya membuka pembicaraan.

“Ah, cuma barang gadean pak…” dia menjawab dengan mimic biasanya, malu-malu.

“Loh, barang baru ada yang gadein?” saya sampaikan rasa penasaran saya.

“Orangnya memang seneng begitu, Pak.”

“Maksudnya?”

“Kredit motor, terus digadein…”

Saya penasaran. Jadi setelah nangkring di sadel bagian belakang motornya saya terus mencoba mengorek apa yang dimaksud dengan “orangnya senang begitu… kredit motor terus digadein.”

Dalam perjalanan ojek yang tidak terlalu lama itu saya berhasil mengorek sejumlah informasi dari Pak Nikmat, informasi yang membuat saya geleng kepala, mengagumi cara kerja orang yang disebutnya sebagai temannya itu.

“Orangnya nembak dua tingkat pak…” katanya memulai cerita. Menurut dia teman itu, sebut saja Udin Peang, mengambil kredit sepeda motor dengan “modal” uang muka Rp500.000. Setelah motor didapat, dia tidak langsung menggunakan motor itu, tetapi menggadaikannya pada Pak Nikmat seharga tiga juta rupiah. Uniknya, uang gadai ini nilainya tetap, tapi periodenya fleksibel. Sang empunya motor boleh mengambil motornya kapan saja dengan uang tiga juta rupiah. Loh, kok tanpa bunga? “Kan saya sudah pakai motor ini. Kalau dianggurin memang rugi, tapi kalau buat ngojek ya enggak pak…”

Itu tembakan tingkat satu.

Tembakan tingkat duanya adalah, dari uang gadai tiga juta itu dia mengambil yang satu juta rupiah untuk membeli dua sepeda motor lainnya. Anda tahu apa yang dilakukannya kemudian? Dua sepeda motor baru itu “dikaryakan” pada adik dan sepupunya dengan setoran harian. Menurut perhitungan Pak Nikmat, setoran dari dua sepeda motor ini cukup untuk membayar cicilan tiga sepeda motor sekaligus setiap bulan.

“Dia sendiri ngapain sekarang?”

“Dia nggak ngojek lagi Pak… katanya sih mau jualan bakso. Bakso sama bumbu jadi dia ambil dari Cileduk pakai modal yang dua juta itu…”

Saya tidak bisa bertanya lebih lanjut karena saya sudah sampai ke tempat kerja saya. Tetapi saya dibuat termangu-mangu untuk waktu yang lama. Bahkan seringkali, terutama ketika menulis artikel keuangan, saya selalu teringat pada cerita Pak Nikmat. Ada rasa penasaran ingin berkenalan dengan sang financial-engineer tersebut. Tetapi saya menunda keinginan itu karena pelajarannya sudah bisa dirumuskan: (1) ternyata modal kecil bukan masalah, (2) jangan sepelekan kecerdasan finansial “orang kecil”, (3) kecerdasan finansial hanya akan efektif kalau disertai dengan keberanian dan aksi.

Bayangkan, dengan modal lima ratus ribu rupiah ada tiga sepeda motor yang produktif, ada tiga pengojek mendapat kesempatan kerja, dan ada satu warung bakso (entah berapa pun skalanya) dengan minimal satu tenaga kerja. Ck…ck…ck…

*) Her Suharyanto; her@jurutulis.com

Telah di baca sebanyak: 576

Experiential Marketing Tukang Ojek


Ini adalah cerita teman lama saya, Beni namanya, yang tinggal di perumahan di pinggiran Jakarta.

Suatu pagi dia keluar rumah dengan mobil untuk mengantar istrinya ke terminal shuttle bus yang menghubungkan perumahan kami dengan sejumlah lokasi strategis di Jakarta. Teman ini sendiri seorang pekerja freelance yang sibuk, tapi selalu menyempatkan diri mengantar anak-anaknya ke sekolah dan istrinya ke terminal, khususnya kalau tidak ada pekerjaan di luar kota atau luar negeri.

Begitu roda mobilnya berputar, dia melihat Irma, tetangganya, baru saja menutup pintu pagar. Tumben berangkat pagi, begitu pikir teman saya. Biasanya Irma berangkat siang. Belum sempat melihat Beni, Irma sudah melambai ke arah tukang ojek yang mangkal di ujung tikungan. Sedetik kemudian, mobil Beni sudah berada di dekat Irma. Esther, istri Beni, langsung heboh berhai-hai dengan Irma. Dan apa yang terjadi?

“Gue nebeng aja ya, ke terminal shuttle bus…” teriaknya. Kemudian dia berteriak kepada si tukang ojek, “Pak, maaf ya… nggak jadi.”

Mobil pun bergerak. Tetapi sekejap kemudian Beni sempat beradu pandang dengan si tukang ojek. Ada rasa kecewa sekaligus rasa jengkel di mata tukang ojek itu. Bukankah juga ada sebersit rasa benci dalam tatapan itu? Begitu pikir Beni. Cara tukang ojek itu memandang terus terbayang di kepala Beni. Tiba-tiba saja dia merasa bersalah telah merampas rejeki tukang ojek. Padahal jangan-jangan Irma adalah calon penumpang pertamanya, yang akan memberinya uang untuk membeli beras hari ini. Jangan-jangan dia sudah menunggu penumpang sejak subuh. Jangan-jangan sampai sore nanti dia tidak dapat penumpang…

Terganggu dengan rasa bersalah itu, Beni memutuskan untuk menemui tukang ojek yang sering mangkal di dekat rumahnya itu. Dia menyiapkan uang sepuluh ribu rupiah untuk “ganti rugi plus”. Sebab tarif normal dari bloknya ke terminal shuttle bus adalah enam ribu rupiah.

Di tikungan dekat rumahnya tukang ojek itu masih di sana, Ketika Beni lewat, mata tukang ojek itu memandangnya . Beni menerjemahkan pandangan itu sebagai teriakan, “Kamu sudah merampas rejeki anak istriku.”

Maka Beni memilih tak menunda waktu. Begitu memarkir mobil, dia langsung mendekati si tukang ojek. Dengan setulus hati dia minta maaf, dan bermaksud memberi uang “ganti rugi plus” itu kepada si tukang ojek.

Namun reaksi si tukang ojek sungguh di luar perkiraannya.

“Kantongin aja deh pak,” katanya dengan wajah dingin.

Tentu saja Beni kaget bukan main. Tapi dia berusaha tenang, dan terus berusaha bicara baik-baik dengan si tukang ojek. Dia yakin, si tukang ojek pasti akan memahami dan menerima niat baiknya. Hanya harus sabar.

Benar, lama kelamaan si tukang ojek mau buka mulut, bahkan kemudian cenderung curhat. Selama ini, katanya, dia merasa warga kompleks Beni, terutama kaum ibu, cenderung menghindari dirinya. Kalau ada pilihan, warga kompleks, begitu istilah yang dia pakai, akan memilih tukang ojek lain, dan menghindari dirinya.

“Mungkin karena tampang saya sangar, Pak. Tapi mau gimana lagi, tampang saya memang begini,” katanya.

Tetapi hal itu tidak membuatnya surut langkah. Sebaliknya, dia justru berpikir bagaimana cara membuat para ibu dan remaja putri di kompleks itu merasa nyaman memakai jasanya. Wajah boleh sangar, tetapi sebagai penyedia jasa dia ingin profesional… begitulah kira-kira kalau kata-katanya diterjemahkan dalam bahasa bisnis.

Menurut si tukang ojek, satu-satunya cara untuk menunjukkan bahwa dia tidak berbeda dengan tukang ojek lain, bahkan lebih baik, adalah metode experiential (ini bahasa saya). Ketika ada ibu-ibu yang terpaksa, karena tidak ada pilihan lain, untuk memakai jasanya, dia akan memanfaatkan kesempatan itu untuk membuktikan bahwa yang sangar hanya wajahnya.

“Saya usahakan bawa motor setenang mungkin, nggak ngebut,” katanya. Dia juga akan memancing penumpangnya dengan obrolan ringan. Kalau penumpangnya senang ngobrol dia akan meladeni sekaligus untuk menunjukkan jati dirinya. Tapi kalau sang penumpang tidak suka ngobrol, dia akan diam, tetapi dia akan menjaga kesopanan dan keramahannya. “Saya satu-satunya tukang ojek yang nggak pasang tarif,” katanya.

Beni menjadi lebih paham. Tukang ojek itu kecewa bukan semata-mata kehilangan uang enam ribu rupiah, tetapi kehilangan peluang melakukan experiential marketing dengan pelanggan potensialnya. “Ibu itu belum pernah pakai saya…” tuturnya.

Maka Beni kemudian bilang, “Pak, tolong ini terima saja. Cuman ini. Tapi saya janji, saya akan bilang ke ibu-ibu kompleks ini tentang siapa sebenarnya Bapak.”

Beni memenuhi janjinya. Sasaran promosi pertamanya adalah Esther, kemudian Irma, dan kemudian dua orang ini menjadi seperti aktivis MLM yang haus downline. Dan cerita bermuara pada happy-ending, walau ini bukan bagian dari cerita film Hollywood.

(Her Suharyanto, her@jurutulis.com)

Telah di baca sebanyak: 464

Teror Ekonomi – Indikator Palsu IHSG


Pernahkah Anda menyaksikan film di mana banyak orang terbirit-birit ditodong perampok? Film tersebut ternyata drama komedi. Si penodong adalah seorang ayah yang kepepet karena anaknya sakit, dan senjata yang digunakan adalah pistol kosong tanpa peluru. Komedi itu sedang terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia. Terorisnya adalah bursa saham, pistol kosongnya adalah indeks harga, korbannya adalah investor yang tak pernah berpikir soal pistol kosong, penontonnya adalah kita semua yang tegang karena, seperti umumnya penonton yang “baik”, mengidentifikasikan diri sebagai korban.

Teror itu datang ketika indeks-indeks harga saham di berbagai bursa, praktis di seluruh muka bumi ini, berjatuhan. Kolaps masal itu terjadi karena indeks saham-saham unggulan di altar bursa saham dunia, New York Stock Exchange, terjun bebas. Ada banyak penjelasan yang cukup masuk akal mengapa indeks Dow Jones Industrial Average terpuruk, tapi sulit mencari penjelasan yang sama terkait dengan indeks di bursa-bursa lain, kecuali karena alasan panik dan takut — efek psikologis utama orang-orang yang terteror. Di Indonesia kondisinya sama saja. Indeks-indeks bursa utama dunia menjadi teror tersendiri bagi sebagian investor, yang kemudian melakukan panic selling yang membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menukik tajam, dan teror yang lebih massif pun terjadi.

Indeks dibuat untuk dijadikan indikator pergerakan harga saham di satu bursa efek. Tetapi orang sering tak lagi membacanya sebagai sekadar indikator harga, tetapi sebagai indikator bursa. Sekilas tidak ada masalah di sana. Tetapi pergeseran tersebut bukan hanya secara teori tidak benar melainkan juga berbahaya. Sesuai dengan namanya, indeks (khususnya IHSG) hanya menjadi indikator harga, padahal secara teori bursa tidak bisa hanya dilihat dari sisi harganya, karena di sana masih ada banyak variabel lain seperti investor (siapa saja mereka dan berapa jumlahnya) serta nilai dan volume transaksi.

Potensi penyesesatan indeks (mari kita spesifikkan ke IHSG) bisa dilihat dengan contoh hipotetis ekstrim berikut. Karena mempunyai nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia, saham Telkom memiliki kontribusi terbesar terhadap IHSG. Artinya setiap pergerakan harga saham Telkom besar sekali perannya terhadap perubahan IHSG. Sepanjang hari ini, misalnya Senin, saham tersebut sangat aktif diperdagangkan, melibatkan banyak investor dalam dan luar negeri, dengan volume transaksi yang sangat besar pula. Katakan saja sepanjang hari itu harga saham bergerak pada rentang Rp 8.000 – Rp8.200. Kalau sampai penutupan pasar terus bergerak seperti itu, dan harga-harga saham lain juga kurang lebih demikian, maka IHSG hari itu akan naik atau turun, katakan saja sekitar 1%-2%. Tetapi apa yang akan terjadi kalau sedetik sebelum penutupan ada satu transaksi super kecil oleh investor iseng, misalnya satu lot, dengan harga Rp10.000, dan itu menjadi transaksi terakhir hari itu? Tak pelak lagi, IHSG hari itu bisa melejit di atas 10%. Sebaliknya kalau ada yang melakukan hal yang sama pada harga Rp 6.000, maka IHSG berpotensi jatuh di atas 10%. Intinya, secara teori, (1) harga saham satu perusahaan bisa digerakkan oleh pemicu kecil, dan (2), pergerakan harga satu saham bisa menggerakkan indeks secara dramatis.

Mungkin Anda mengatakan itu contoh konyol yang tidak mungkin terjadi. Tak apa, karena bukan contohnya yang penting, melainkan logika di baliknya. Yang lebih mungkin begini. Hari ini investor-investor besar memilih parkir, karena pasar sedang tidak menentu. Tapi pasar sibuk luar biasa oleh investor kecil yang panik. Coba jual di angka Rp8.000 nggak laku, maka dia obral, di angka Rp7.500. Tak lama kemudian harga segitu sudah tidak laku, maka mulai ditawarkan di bawahnya lagi dan seterusnya. Mengapa begitu? Karena orang panik, kemudian melakukan apa yang namanya cut loss (daripada kerugiannya berdarah-darah).

Hal seperti ini bukan hanya benar secara teori, tetapi itulah yang terjadi paling tidak di Bursa Efek Indonesia. Pada pekan kerontokan indeks (5-8 Oktober), volume dan nilai transaksi di BEJ sangat kecil dibanding biasanya. Pada tanggal 7 Oktober misalnya, nilai transaksi hanya sekitar Rp2 triliun, padahal pada 7 September mencapai Rp8 triliun. Bahkan pada 8 Oktober, nilai transaksi di BEI hanya dalam hitungan ratusan miliar saja.
Yang mengerikan adalah bahwa sekecil apa pun nilai transaksinya, sesedikit apa pun yang melakukan transaksi, faktanya hal itulah yang membuat indeks harga saham terjungkal. Sialnya lagi, terjungkalnya indeks membuat semua orang seperti terteror bahwa ekonomi berada dalam bencana. Padahal (1) membaca indeks sebagai satu-satunya indikator sudah tidak tidak tepat, di samping itu (2) faktanya indeks jeblok lebih karena faktor psikologi massa.

Jadi ekonomi Indonesia baik-baik saja? Bursa kita baik-baik saja? Bukan itu soalnya. Soalnya adalah, marilah kita bersikap lebih proporsional dalam menyikapi keadaan. Yang de facto jeblok saat ini adalah ekonomi Amerika. Pengaruh langsung pada Indonesia adalah kemungkinan turunnya ekspor Indonesia ke negeri itu. Ekspor ke Eropa juga mungkin akan berkurang, karena Eropa sangat terpukul oleh krisis ekonomi di Amerika, karena ada hubungan yang lebih langsung terkait dengan saling-silang modal di kedua benua. Jadi, akan terkena pengaruh langsung adalah perusahaan-perusahaan Indonesia yang mempunyai ekspor ke Amerika atau ke Eropa. Tetapi jangan lupa bahwa Eropa Timur, Timur Tengah, Sub Sahara dan Amerika Latin relatif terisolasi dari krisis ini, sehingga ekspor ke kawasan itu masih akan bertahan dan bisa ditingkatkan.

Kedua, tidak semua produk ekspor Indonesia diekspor ke Amerika atau Eropa. Ada begitu banyak produk, terutama komoditas primer (belum diolah), yang pasar ekspor utamanya adalah justru negara-negara Asia, Eropa Timur, Afrika atau Amerika Latin. Sementara itu krisis ini sendiri “hanya sekadar” mengurangi ekspor ke Amerika dan Eropa. Jadi, ekspor tetap akan jalan, walaupun pertumbuhannya (bukan ekspornya) akan menurun (slowdown).

Alasan ketiga untuk lebih proporsional adalah bahwa pasar dalam negeri Indonesia luar biasa besarnya, hanya dikalahkan oleh Cina, India dan Amerika Serikat. Artinya, sejauh pemerintah dan Bank Indonesia mampu menciptakan kondisi yang memungkinkan, pasar dalam negeri akan menjadi peredam kejut (shock-breaker) yang cukup efektif. Modal itu itu ada. Total dana masyarakat dalam sistem perbankan kita lebih dari seribu triliun rupiah. Sementara itu dana nganggur di Bank Indonesia dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia jumlahnya lebih dari seratus triliun. Hanya tinggal pilihan Bank Indonesia untuk mempermudah kredit (bunga rendah) atau mempersulit kredit (bunga tinggi). [Pilihannya “sederhana”, kalau bunga rendah memang ada bahaya inflasi, tapi ekonomi jalan. Sementara kalau bunga tinggi inflasi memang rendah, tapi ekonomi mandek.]

Jadi apa poinnya? Sederhana saja: tak usah terlalu panik. Memang ada persoalan, tapi tak sedahsyat yang kita bayangkan. Memang ada teroris, dan teroris itu membawa pistol. Tapi saya optimis itu pistol kosong, dan yang lebih pasti teroris itu tak membawa bom atau senapan mesin. Dan perlu diingat, teroris mencatat sukses pertama tepat ketika kita mulai merasa takut. (Her Suharyanto, www.jurutulis.com)

Telah di baca sebanyak: 462

Berburu Berita yang Menggerakkan Pasar

02 Oktober 2006 – 09:58 (Her Suharyanto)   Diposting oleh: Editor

(Rate: 0 / 0 votes)
Seri Artikel News for Wealth

Kalau Anda ingin mendapatkan untung besar, cermatilah pasar. Dan kalau anda ingin mencermati pasar berikut perubahan-perubahannya, cermatilah berita dengan seksama, karena satu berita, dengan satu dan lain cara, akan dengan cepat menggerakkan pasar, dengan atau tanpa anda sadari.

Marilah kita mulai dari contoh berita yang kita cermati dalam beberapa tulisan saya yang terakhir, yakni berita-berita bencana. Dari sudut pandang pasar, apa sebenarnya yang terjadi ketika tsunami melanda Aceh, gempa melanda Jogjakarta dan Jawa Tengah, dan lumpur panas menggenangi desa-desa di Porong, Sidoarjo? Dari sudut pandang pasar, yang terjadi di sana adalah perubahan yang sangat besar di sisi permintaan. Dalam waktu yang sangat tiba-tiba saja, berbagai jenis permintaan langsung melonjak tajam di daerah itu, mulai dari permintaan akan kebutuhan akan tempat tinggal, karena persis inilah sisi yang paling “dihajar” habis oleh bencana-bencana di atas. Ada sisi lain yang ikut terkena, tetapi yang paling terkena dampaknya adalah tempat tinggal. Kebutuhan akan tempat tinggal itu terlihat dalam kebutuhan akan tempat tinggal sementara dan kebutuhan untuk membangun kembali rumah-rumah yang hancur oleh tsunami atau gempa, atau yang tenggelam oleh lumpur.

Untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, tiba-tiba saja muncul kebutuhan yang sangat besar akan tenda maupun rumah kontrakan. Di Aceh dan Jogjakarta serta Jawa Tengah, kebutuhan yang sangat mendesak setelah bencana adalah tenda, disusul dengan kebutuhan untuk membangun kembali rumah-rumah mereka yang hancur oleh bencana. Tetapi untuk kasus di Jawa Timur jenis permintaan yang muncul berbeda. Untuk sementara permintaan yang mendesak adalah permintaan akan rumah sewa, sedangkan untuk jangka panjang permintaan yang akan cukup tinggi adalah permintaan untuk membangun rumah baru, bahkan di tempat yang baru pula.

[Dalam menyikapi hal ini selalu muncul problematika etis, apakah kita layak mendapatkan keuntungan dari mereka yang tengah mengalami kesulitan hidup. Atas pertanyaan etis ini, penulis mengajukan pertimbangan etis yang lain, apakah kita akan memilih diam (untuk tidak mengambil keuntungan), membiarkan masyarakat tidak mendapatkan kebutuhan mereka, dan akhirnya membiarkan pihak lain menetapkan harga semaunya karena tingginya permintaan?]

Sebagai manusia ekonomi, kita akan serta merta tahu apa yang akan terjadi kalau permintaan tiba-tiba saja meningkat, apalagi melonjak, padahal di sisi lain pasokan bisa diasumsikan tidak mengalami perubahan. Sebagai pelaku ekonomi kita akan langsung tahu bagaimana mengambil peluang dari perubahan pasar seperti itu.

APA PENGARUH satu berita terhadap pasar, itulah pertanyaan yang harus selalu dikembangkan. Pertanyaan itu harus diikuti dengan pertanyaan bagaimana pengaruh itu bisa terjadi (logikanya), dan sejauh mana pengaruh itu bisa terjadi (skalanya). Berbicara mengenai pasar, satu peristiwa bisa berdampak pada salah satu atau kedua sisi pasar, yaitu permintaan atau penawaran. Maka secara rinci bisa diajukan beberapa kemungkinan pengaruh dari satu berita [tertentu]. Beberapa kemungkinan itu adalah:

• permintaan naik, penawaran naik
• permintaan naik, penawaran tetap
• permintaan naik, penawaran turun
• permintaan tetap, penawaran naik
• permintaan tetap, penawaran tetap
• permintaan tetap, penawaran turun
• permintaan turun, penawaran naik
• permintaan turun, penawaran tetap
• permintaan turun, penawaran turun

Berita paling buruk bagi para pelaku ekonomi adalah kalau berita itu berdampak pada turunnya permintaan sekaligus turunnya penawaran. Misalnya saja berita mengenai gagalnya teknologi AMPS dalam telekomunikasi tanpa kabel. Berita ini pasti diikuti dengan turunnya permintaan sekaliggus turunnya penawaran. Tetapi toh berita ini sangat diperlukan oleh para pelaku pasar, yaitu untuk segera ambil tindakan agar tidak menderita rugi lebih parah. Para pedagang hand-phone AMPS bisa segera menjual stocknya cepat-cepat dan membatalkan ordernya agar tidak tertimpa kerugian lebih parah lagi.

Berita yang netral adalah berita yang tidak mengubah apa-apa, baik di sisi permintaan maupun penawaran. Namun berita baiknya adalah, terutama untuk mereka yang sudah ada di industri yang bersangkutan, bahwa pasar di bidang itu cukup stabil.

Lantas berita seperti apa yang terbaik? Tidak mudah untuk menjawabnya, karena hal itu bergantung pada kesiapan seorang pelaku pasar. Bagi mereka yang sudah siap di pasar, berita yang paling menguntungkan adalah kalau terjadi lonjakan permintaan, sedangkan sisi penawaran tidak berubah, atau bahkan turun. Untuk kondisi sekarang, berita mengenai rencana pemerintah untuk membangun infrastruktur secara besar-besaran tentu menggembirakan para produsen semen, karena jumlah pemasoknya tidak akan melonjak secara serta merta. Berita tentang kenaikan harga minyak juga menggembirakan produsen gas karena tidak serta-merta orang bisa membangun perusahaan penambangan gas yang langsung bisa berproduksi.

Akan tetapi bagi mereka yang cenderung bermain aman, kenaikan di kedua sisi pasar merupakan peluang yang aman untuk dimanfaatkan. Berita mengenai perkembangan teknologi baru di sektor telekomunikasi atau teknologi informasi, misalnya, bisa dimasukkan dalam kategori ini. Kita bisa yakin bahwa sisi penawaran akan terus meningkat, tetapi sisi permintaan juga akan terus tumbuh. Untuk mereka yang cenderung takut berisiko, inilah sektor yang relatif aman untuk digeluti. Sedangkan untuk mereka yang sudah ada di dalam industri yang terkait dengan sektor ini, tak ada ancaman yang terlalu serius dari sisi pasar. Sebab, kendati persaingan akan selalu ada, pasarnya pun terus tumbuh dan berkembang.

* Her Suharyanto, editor independen bidang ekonomi, bisnis dan keuangan.

Telah di baca sebanyak: 526

SODOKAN KARAMBOL PENURUNAN SUKU BUNGA

02 Desember 2006 – 07:27 (Her Suharyanto)   Diposting oleh: Editor

(Rate: 0 / 0 votes)
Serial News for Wealth

Dalam beberapa bulan terakhir kita dibombardir oleh berita bahwa Bank Indonesia tengah dan akan terus menurunkan suku bunga. Apa makna penurunan suku bunga ini bagi kita orang per orang?

Pertama sekadar sebagai latar belakang, kita perlu mengingat kembali mengapa Bank Indonesia harus menaikkan atau menurunkan suku bunga. Bank Indonesia melakukan hal itu dalam tugasnya sebagai pengendali moneter, termasuk di dalamnya tugas mengendalikan laju inflasi dan nilai tukar mata uang. Untuk mengendalikan inflasi, yang dilakukan oleh Bank Indonesia adalah mengatur jumlah uang yang beredar di masyarakat. Logikanya, semakin banyak uang yang beredar, maka kecenderungan belanja masyarakat akan meningkat. Kalau belanja meningkat, maka harga-harga akan naik. Inilah inflasi. Sebaliknya kalau jumlah uang yang beredar sedikit, maka masyarakat cenderung berhemat, dan karena itu harga-harga akan cenderung turun. Ini yang dinamakan deflasi.

Nah, bank sentral mengatur jumlah uang yang beredar dengan suku bunga. Suku bunga adalah besaran imbalan yang diberikan kepada pihak yang menempatkan sejumlah uang. Bank Indonesia mengendalikan uang yang beredar dengan dua suku bunga. Yang pertama adalah suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). SBI adalah surat berharga yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, yang bisa dibeli oleh bank atau pihak lain melalui broker. Dengan SBI, Bank Indonesia bisa mengatur jumlah uang yang beredar di tengah masyarakat. Kalau jumlah yang beredar dinilai terlalu tinggi, maka Bank Indonesia akan memberikan suku bunga yang tinggi sehingga masyarakat (melalui bank dan lembaga keuangan) memilih menyimpan dananya di Bank Indonesia. Sebaliknya kalau dana yang beredar terlampau sedikit, Bank Indonesia menurunkan suku bunga SBI sehingga perbankan dan lembaga keuangan memilih menyediakan dananya untuk dipakai masyarakat. Tarik ulur seperti ini diperhitungkan dengan cara yang sedemikian cermat sehingga target inflasi bisa tercapai.

Langkah yang kedua adalah dengan menetapkan suku bunga patokan (benchmark) yang disebut dengan BI Rate. Bank Indonesia menyebut BI Rate ini sebagai sinyal kemana sebenarnya kebijakan moneter sedang diarahkan. Dengan demikian, diharapkan bunga di pasar uang (bank dan lembaga keuangan lainnya) akan mengacu pada BI Rate tersebut. Logikanya sama seperti pada SBI. Semakin tinggi BI Rate, maka suku bunga perbankan (tabungan maupun kredit) juga akan tinggi, dan dana masyarakat akan cenderung tersimpan di bank. Sebaliknya kalau BI Rate rendah, maka suku bunga perbankan juga akan turun, dan masyarakat akan cenderung menggunakan dananya untuk keperluan lain.

BI Rate Turun
Sejak awal kuartal ketiga tahun lalu, BI menaikkan suku bunga hingga ke titik tertinggi 12.75% pada akhir tahun lalu. BI mengambil langkah ini setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak sebanyak dua kali dalam setahun, dengan akumulasi kenaikan lebih dari 100%. Kita semua tahu, kenaikan harga BBM selalu diikuti oleh kenaikan harga berbagai kebutuhan yang lain. Itu sebabnya BI menaikkan suku bunga, untuk meredam inflasi.

Tetapi sejak Mei lalu, BI perlahan-lahan mulai menurunkan suku bunga, karena inflasi berhasil dikendalikan. Sejak saat itu hingga saat ini, penurunan suku bunga sudah enam kali dilakukan, dan saat ini BI Rate sudah tercatat sebesar 10.25%.

Pertanyaan untuk kita, kalau penurunan suku bunga ini ibarat sodokan stick pada satu bola bilyar, kemana bola-bola mana saja yang akan terpengaruh, dan yang lebih terpenting lagi bola mana yang akan masuk lobang di sudut dan mendatangkan poin untuk kita?

Bola pertama yang akan tersodok adalah suku bunga perbankan. Artinya, bank-bank pasti akan segera menurunkan suku bunganya. Pertama-tama, tentu saja, yang akan diturunkan adalah sukubunga tabungan dan deposito, dan baru kemudian suku bunga kredit. Ini normal, betapapun bikin gregetan, bahwa bank dengan cepat menurunkan bunga tabungan deposito, tetapi lambat dalam menurunkan bunga kredit. Alasan klasik yang dikemukan bank adalah bahwa dana yang tersedia saat ini adalah dana masyarakat yang masih berbunga tinggi. Misalnya saja, ada deposito satu tahun yang jatuh tempo Juni tahun depan, yang untuknya bank masih harus membayar bunga tinggi. Tetapi sebenarnya deposito baru sudah berbunga rendah, dan tabungan lama pun bunganya langsung “disesuaikan”. Di sinilah justru bank berpeluang untuk mendapatkan “margin karet” dari beban bunga (tabungan dan deposito) yang sudah turun, tetapi pendapatan bunga (kredit) masih tetap tinggi. Apakah ini saatnya membeli saham sektor perbankan? Tentu boleh dipikirkan.

Bola kedua akan bergerak beberapa bulan lagi, ketika bank-bank sudah secara riil juga menurunkan bunga kredit. Kalau ini yang terjadi, maka akan terjadi sodokan karambol ke bola-bola yang lain yang akan kita lihat berikut ini.

Bola ketiga yang tersodok adalah dunia bisnis. Bola ini tersodok karena dunia bisnis akan mendapatkan kredit dengan biaya yang lebih murah. Mereka yang sebelumnya tidak berani mengabil kredit untuk modal usaha karena bunga masih tinggi, sekarang akan berani, dan berarti akan ada aktivitas bisnis baru. Mereka yang sebelumnya sudah menggerakkan roda usahanya dengan bunga yang cukup tinggi, sekarang berpeluang mendapatkan kredit dengan bunga yang lebih murah, sehingga usaha mereka akan lebih efisien. Apakah ini artinya laba persahaan-perusahaan akan meningkat? Banyak orang sudah menduga ke sana. Buktinya, orang sudah berburu saham di bursa, sehingga dalam sebulan terakhir indeks harga saham gabungan terus mencatat rekor terbarunya.

Situasi ini menyodok bola keempat, yakni dunia kerja. Kalau dunia usaha sudah bergerak lagi, maka karyawan yang dulu sempat dirumahkan mungkin akan dipanggil lagi. Perusahaan yang sebelumnya tidak mampu menyesuaikan gaji terhadap inflasi, kini mulai bisa menaikkan gaji. Bahkan kini ada banyak perusahaan baru, yang otomatis juga akan menyerap tenaga kerja baru.

Maka bola kelima pun tersodok, yakni daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat meningkat karena perusahaan tempat mereka bekerja menjadi lebih aktif, semakin banyak usaha baru, dan semakin banyak peluang usaha baru pula. Daya beli masyarakat naik karena sumber pendapatan mereka semakin mantap.

Kondisi ini menyodok bola keenam, yakni rasa percaya diri masyarakat sebagai konsumen untuk mengambil kredit untuk konsumsi, karena bunga kredit konsumsi juga sudah turun. Masyarakat mulai kembali membeli rumah dengan KPR, membeli mobil atau sepeda motor secara kredit, dan ini berarti sodokan balik ke bola ketiga, yakni dunia usaha Karena masyarakat mulai berbelanja, maka sektor industri akan bergerak lebih lancar, dan ini kembali menyodok bola keempat (dunia kerja) yang pada gilirannya akan kembali lagi menyodok bola kelima.

Bola ketujuh yang tersodok adalah investasi. Ketika suku bunga tinggi, orang akan cenderung menyimpan uangnya di bank, karena tanpa susah payah, orang akan mendapatkan bunga yang lumayan. Sedikit lebih baik dari pendapatan bunga bank adalah bunga obligasi. Maka pendek kata wahana atau sarana investasi yang laku adalah instrumen berpendapatan tetap. Tetapi ketika suku bunga turun, maka hasil investasi pendapatan tetap juga otomatis akan turun. Maka orang akan memutar otak, bagaimana mendapatkan hasil investasi yang lebih baik. Pilihan yang cukup umum adalah dengan menanamkan dana di bursa saham. Dan inilah yang sudah mulai terjadi di Indonesia belakangan ini. Buktinya, sekali lagi, harga-harga saham di bursa terus merambat naik, sehingga indeks harga saham gabungan juga terus merambat naik.

Nah, anda lihat, bukan, betapa berita pergerakan suku bunga ternyata memiliki sodokan karambol, yang masing-masing mempunyai dampak ekonomi yang besar sekali. Apakah anda sudah mendapatkan keuntungan dari penurunan suku bunga ini? Saya sudah. Sejak Januari reksadana saham saya naik lebih dari 40%.(hs)

* Her Suharyanto adalah editor ekonomi dan penulis independen. Ia bisa dihubungi di her_suharyanto@hotmail.com.

Telah di baca sebanyak: 1199

BERITA + DATA = KAYA

01 Pebruari 2007 – 07:55 (Her Suharyanto)   Diposting oleh: Editor

(Rate: 0 / 0 votes)
Serial News for Wealth

Dalam jurnalistik ada satu (dari sekian banyak) kriteria untuk menentukan apakah satu peristiwa layak berita atau tidak. Kriteria itu adalah besarnya dampak atau magnitude dari berita itu. Semakin berita memiliki dampak besar, semakin besar pula nilai berita itu. Maka berita Tsunami di Aceh di penghujung tahun 1994 atau gempa bumi di Yogyakarta dan Klaten tahun 2006 masuk kategori berita besar, karena besarnya dampak yang ditimbulkannya.

Dalam diskusi kita mengenai dampak ekonomi dari satu berita berikut apa hubungannya dengan kita, tidak bisa lain kita harus juga berpikir mengenai magnitude. Lebih spesifik lagi, pertanyaan yang pantas kita majukan adalah, apa dampak dari satu peristiwa terhadap ekonomi. Mau lebih spesifik lagi? Mari kita bertanya, apa dampak dari satu peristiwa terhadap pasar. Hanya dengan mengetahui dampak dari satu peristiwa terhadap pasar kita bisa mengambil manfaat dari peristiwa itu.

Penawaran dan Permintaan
Dalam bahasa teknis, berbicara mengenai pasar berarti kita berbicara mengenai permintaan dan penawaran. Kalau kita berbicara mengenai perubahan pasar, maka kita berbicara salah satu dari keduanya, atau kedua-duanya. Kita ambil saja contoh yang pernah dikemukakan sebelumnya. Fakta yang dikemukakan dalam satu berita adalah hujan deras yang mengguyur daerah pertanian di satu musim kemarau. Peristiwa alam ini secara alamiah akan berdampak pada sektor pertanian, yakni gagal panen untuk sejumlah tanaman, misalnya bawang merah dan tembakau. Jelas bahwa pasar bawang merah dan pasar tembakau akan terpengaruh, karena pasokan kedua produk pertanian itu akan berkurang. Karena pasokan kurang, walaupun permintaan tetap, bisa diduga bahwa harga kedua produk pertanian ini akan meningkat sesuai dengan hukum pasar.

Dalam contoh mengenai bencana seperti tsunami di Aceh atau gempa bumi di Yogyakarta, perubahan bisa terjadi di sisi penawaran, bisa juga terjadi di sisi permintaan. Untuk kebutuhan-kebutuhan yang tidak diproduksi oleh daerah itu sendiri, perubahan yang terjadi lebih pada sisi permintaan. Permintaan akan semen, besi untuk konstruksi, cat dan lain-lain untuk daerah Aceh bisa dipastikan meningkat setelah gempa, karena masyarakat membutuhkan bahan-bahan itu untuk membangun kembali rumah dan infrastruktur seperti jalan dan jembatan. Sisi penawaran semestinya tetap, karena dalam kondisi normal pun kebutuhan itu didatangkan dari luar. Tetapi karena sisi penawaran juga ditentukan oleh faktor lain seperti transportasi, maka bisa jadi sisi penawaran juga ikut terpengaruh. Itu yang membuat harga-harga semakin mahal di lokasi bencana.

Sedangkan kebutuhan yang diproduksi masyarakat setempat (masih dengan contoh kasus Aceh) seperti batako atau batu bata, bisa dipastikan berubah di kedua sisi, baik penawaran maupun permintaan. Penawaran akan berkurang, paling tidak untuk jangka pendek, karena banyak produsen yang mengalami hambatan produksi.

Logika sebab akibat seperti ini, terutama logika sebab akibat yang langsung, cukup mudah untuk dipahami, terlebih oleh mereka yang sudah terbiasa berkecimpung di bidang tertentu. Orang yang sehari-hari sudah berbisnis rokok atau tembakau lebih mudah memahami apa yang secara langsung memengaruhi pasar di bisnis itu. Demikian halnya mereka yang sudah berkecimpung di industri-industri lain seperti perbankan, media, farmasi, retail, sembako, pakaian dll.

Tetapi tidak cukup mudah untuk memahami logika sebab akibat yang bersifat tidak langsung, seperti logika bola karambol dalam tulisan saya sebelum ini. Paling tidak orang perlu duduk tenang untuk mulai berpikir, apa dampak langsung dari satu peristiwa, dan apa rentetan dampak ikutan yang akan terjadi di belakangnya. Pada hemat saya ini bukan satu ilmu dengan basis teori yang rumit, melainkan lebih merupakan keterampilan berpikir dengan pijakan logika dan ajal sehat semata. Paling-paling yang diperlukan adalah pengetahuan umum mengenai jaring-jaring penghubung antara satu industri dengan industri yang lain, satu sektor dengan sektor yang lain, satu konteks dengan konteks yang lain.

Menjadi Analis?
Keterampilan inilah sebenarnya yang dimiliki dan terus dikembangkan oleh para analis, entah analis pasar atau analis industri. Keterampilan pokok yang mereka kuasai adalah keterampilan memahami jaring-jaring sebab akibat dari satu peristiwa. Hanya saja, karena mereka memang bekerja sebagai analis professional, mereka memiliki perangkat kerja lain diluar berita sebagai indicator perubahan. Para analis bekerja berdasarkan data (sevalid mungkin) tentang suatu hal, dan menghadapkan data itu dengan perubahan yang sedang terjadi. Maka kemudian mereka bisa mengeluarkan hasil analisa yang lebih masuk akal, lebih detil dan lebih terukur.

Misalnya saja ada sebuah koran yang menulis headline besar “PT Abadi Sejahtara Menerbitkan Obligasi Rp500 Miliar”. Koran yang bersangkutan tidak menyebut sepatah kata pun mengenai tujuan dari penerbitan obligasi atau surat utang tersebut. Koran ini sibuk melaporkan bahwa suku bunganya 10%, jangka waktunya lima tahun, dan permintaan membeludak.

Di tangan masyarakat pembaca awam, berita ini tidak berbunyi apa-apa, selain bahwa PT Abadi Sejahtara mendapatkan kepercayaan dari para pemilik modal. Tetapi di tangan analis, berita ini punya makna berbeda, karena mereka punya data bahwa obligasi Rp500 miliar itu akan dipakai untuk membayar utang bank sebesar Rp 400 miliar yang bunganya mencapai 16% per tahun, yang semestinya akan jatuh tempo tiga tahun yang akan datang, dan sisasnya akan dipakai untuk mengakuisisi kebun sawit produktif milik satu perusahaan kecil. Analis juga punya data bahwa selama sembilan bulan pertama tahun ini perusahaan itu sudah mencatatkan laba bersih Rp 35 miliar. Analis juga tahu perusahaan itu sepenuhnya bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit.

Nah, anda langsung tahu kan, apa arti headline di atas begitu dilengkapi dengan data? Artinya bahwa tingkat produksi perusahaan itu pasti akan meningkat (tambahan lahan), harga jual bisa diharapkan meningkat (seiring dengan trend pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan bio diesel), dan beban bunga perusahaan itu akan turun dari Rp64 miliar menjadi Rp50 miliar walaupun total utangnya naik. Jangan kaget kalau analis itu kemudian memperkirakan laba bersih perusahaan itu akan meningkat 80%, sehingga investor direkomendasikan untuk membeli sahamnya.

Apa pesan yang ingin saya sampaikan? Penting bagi anda untuk memahami logika sebab akibat dalam dunia ekonomi, tetapi akan lebih besar manfaatnya kalau anda memiki data yang cukup akurat mengenai satu hal. Kalau dalam contoh terakhir anda memiliki data seperti yang dimiliki oleh analis itu, maka anda bisa membeli saham PT Abadi Sejahtera sebelum analis itu menulis rekomendasi untuk para kliennya, dan anda sudah bisa mengambil untung ketika sang analis menerbitkan rekomendasi beli dan para kliennya mulai berburu saham itu.[her]

* Her Suharyanto, penulis & editor ekonomi.

Telah di baca sebanyak: 716

FUTURE TRADING, LEVERAGE FACTOR… AH, APA LAGI…

02 April 2007 – 16:54 (Her Suharyanto)   Diposting oleh: Editor

(Rate: 9.00 / 1 votes)
Seri Artikel News for Wealth

Seorang pembaca, Pak Randi Temat, menulis surat berisi pertanyaan untuk saya. Karena pertanyaan itu menyangkut hal yang mungkin berguna untuk pembaca lain, maka saya putuskan untuk memuat jawaban saya di media ini. Dengan satu paragraf pengantar, Pak Randi mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini:

1. Dalam Future Trading sering saya dapati tentang Leverage Factor atau daya ungkit. Terus terang saya masih agak bingung dengan hal ini. Tolong kiranya Bapak bisa menjelaskan saya tentang hal ini.

2. Kalo kita membeli saham/valas, kita mempunyai kemungkinan capital gain atau capital loss . Pertanyaan saya: Apakah Leverage factor itu yang menyebabkan kita mengalami capital loss hingga benar-bangkrut bangkrut.

3. Adakah Instrumen Investasi yang memungkinkan kita tidak mengalami capital loss hingga bangkrut? Jadi ya layaknya instrumen konvensional seperti investasi pada tanah misalnya?

4. Saya ingin memberi andil bagi perekonomian bangsa ini. Adakah instrumen trading yang bisa membuat saya melakukan itu? Kalau saya melakukan valas trading dollar/rupiah, apakah ini akan membantu menguatkan rupiah? Saya ingin melakukan trading yang melemahkan dollar sehingga rupiah menguat.

5. Kalau di Marketiva.com itu kita berperan sebagai trader langsung atau hanya sebagai investor (pihak marketiva yang menjadi brokernya)?

6. Adakah buku Bapak yang mengulas tentang trading ini. Kalau ada, boleh saya tahu judulnya?

Pertama saya perlu saya kemukakan kembali bahwa latar belakang saya adalah jurnalis. Dengan demikian pengetahuan saya secara umum berdasarkan riset ditambah sedikit pengalaman, sekadar untuk membedakan dengan jawaban para pakar dan para akademisi di bidang ini. Tentu saja ini juga berarti bahwa masukan dari para pakar akan disambut dengan senang hati.

Dua pertanyaan pertama mesti dijawab sekaligus. Leverage factor (daya ungkit) adalah istilah yang muncul dari ilmu fisika. Mungkin kita tidak bisa mengungkit sebuah batu seberat 100 kg dengan pengungkit sepanjang satu meter. Tetapi kalau pengungkit itu diperpanjang menjadi tiga meter, kita akan bisa mengungkit batu tersebut. Akan lebih ringan lagi kalau tongkat pengungkut diperpanjang menjadi lima atau sepuluh meter. Artinya, dengan kondisi tertentu tenaga yang lebih kecil bisa dipakai untuk mengungkit atau mengangkat beban yang lebih berat.

Istilah ini juga berlaku dalam bidang investasi. Dengan kondisi tertentu, dana yang lebih kecil bisa dimanfaatkan untuk investasi setara dengan uang yang jauh lebih besar. Dengan uang satu juta rupiah, orang bisa berinvestasi dengan “daya investasi” atau “peluang laba” sama seperti investasi sebesar duapuluh juta rupiah. Ini berarti leverage factor-nya sebesar 20 kali.

Dalam perbankan kita juga mengenal istilah daya ungkit ini. Tapi sesuai pertanyaan, kita pusatkan perhatian pada perdagangan berjangka, khususnya valuta asing. Daya ungkit akan efektif pada kondisi tertentu. Dalam future trading, kondisi tertentu itu adalah margin trading. Ini memerlukan sedikit penjelasan.

Dalam future trading, kita tidak memperdagangkan barang, tetapi memperdagangkan kontrak. Kita tidak membeli dollar atau yen, tetapi kita membeli kontrak transaksi. Misalnya hari ini nilai tukar dollar AS adalah Rp9.000 per dollar. Kalau saya yakin bahwa besok dollar akan menguat, saya bisa menyepakati (deal) kontrak menjual sebesar US$1000. Kalau besok nilai tukar dollar sungguh naik, mestinya saya menyerahkan uang US$1000 dan mitra transaski saya menyerahkan Rp9,2 juta. Tetapi agar penyerahan ini tidak terjadi, maka kontrak bisa diputus. Caranya, pembeli cukup menyerahkan uang sebesar selisih (margin) antara harga kemarin dengan harga sekarang. Dalam kasus ini saya menerima Rp200.000. Dalam kasus dollar melemah, misalnya menjadi Rp8.700, maka saya yang harus membayar selisihnya, Rp300.000.

Untuk kasus pertama saya untung karena menjual pada saat harga menguat dan mitra saya merugi karena membeli pada kondisi yang sama. Untuk kasus kedua, mitra saya untung karena menjual pada saat harga turun dan saya merugi karena pada saat itu justru melakukan transaksi beli. Karena itu dalam pasar berjangka (future) orang bisa menangguk untung baik ketika harga komoditas (termasuk valuta) naik atau turun. Jadi ada empat kondisi yang mungkin:

• Kalau kita melakukan kontrak beli dan harga naik, maka kita merugi
• Kalau kita melakukan kontrak beli dan harga turun, maka kita untung
• Kalau kita melakukan kontrak jual dan harga naik, maka kita untung
• Kalau kita melakukan kontrak jual dan harga turun, maka kita rugi.

Sekali lagi ini adalah pasar berjangka. Transaksi beli berarti kita deal untuk membeli pada saat hari kontrak. Transaksi jual berarti kita deal untuk menjual pada hari kontrak. Di sinilah daya ungkit (leverage factor) itu muncul. Untuk melakukan transaksi senilai US$1000, saya tidak perlu punya uang sebesar Rp9 juta. Saya cukup mendepositkan sejumlah dana yang akan dicadangkan untuk membayar margin pada akhir kontrak. Dalam contoh di atas ada dua contoh margin, yaitu Rp200.000 (untuk saya ketika saya untung) dan Rp300.000 (saya bayar kepada mitra transaksi, saya rugi).

Di sinilah pertanyaan kedua bisa dijawab: apakah leverage factor bisa menyebabkan total loss? Kalau dalam contoh di atas mitra saya hanya memiliki deposit Rp200.000, dia akan mengalami total loss. Kalau deposit saya Rp300.000 dan yang terjadi adalah contoh kedua, saya juga akan mengalami total loss. Bangkrut. Tapi ini sesuai dengan hukum investasi, bukan? Semakin besar potensi untung, semakin besar risiko dan sebaliknya.

Anti Bangkrut?
Adakah instrumen investasi yang anti bangkrut? Dalam cara pandang pesimistis jawabannya: tidak ada. Tapi dalam cara pandang yang optimis, jawabannya: ada. Kok bisa? Misalnya saja obligasi pemerintah. Ini adalah instrumen investasi yang sangat terjamin, karena jaminannya adalah pemerintah satu negara. Selama pemerintah ada, maka investasi atas obligasi itu terjamin. Dana yang kita tanamkan akan kembali berikut dengan hasil investasinya. Tapi orang yang pesimis bisa saja ngomong: memangnya pemerintah tidak bisa bubar?

Maka marilah kita melihatnya dengan sudut pandang yang optimis. Dalam sudut pandang ini banyak kok, instrumen yang cukup aman. Obligasi pemerintah, yang kini juga tersedia dalam ukuran ritel, sudah tersedia. Kalau kita membeli obligasi ini pada pasar perdana, dana kita akan aman sampai dengan jatuh tempo, dan kita masih akan mendapatkan keuntungan bunga (yang dalam kasus terakhir sangat bagus). Tapi kalau kita menjual obligasi itu sebelum jatuh tempo, bisa jadi harga obligasi itu turun. Misalnya saja dalam penjualan perdana obligasi pemerintah dilepas dengan bunga 9,5%. Tetapi lima bulan kemudian bunga di pasar naik menjadi 13%. Maka banyak orang yang rela melelas obligasinya, mungkin dengan harga 98% dari harga nominal, supaya bisa menanamkannya pada deposito misalnya. Sebaliknya kalau bunga di pasar turun jadi 4%, misalnya, harga obligasi itu akan naik di pasar sekunder. Misalnya, orang rela membeli obligasi kita dengan harga 102,5% dari harga nominal. Tetapi kalau kita mau menahan obligasi itu sampai jatuh tempo, dana kita akan aman.

Di samping itu sekarang sudah ada produk reksadana terjamin (guaranteed fund). Jaminannya adalah bahwa dana yang kita tanamkan tidak akan kurang dari investasi awal kita. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) sudah mengeluarkan aturan mengenai hal ini, dan sudah ada beberapa manajer investasi yang mengeluarkan produk reksadana seperti ini. Tetapi kembali lagi, semakin aman invetasi Anda, biasanya semakin kecil potensi labanya.

Apakah dengan melakukan trading valas kita bisa memperkuat atau memperlemah rupiah? Saya memilih jawaban ini. Begitu satu barang atau jasa dijadikan komoditas dalam satu pasar, maka kekuatan dan hukum pasarlah yang akan bermain di sana. Ketika permintaan naik maka harga naik dan sebaliknya. Tetapi pasar bisa diakali atau dieksploitasi. Permintaan maupun penawaran bisa dipermainkan (kita sedang berbicara mengenai pasar riil, pasar langsung, atau pasar spot). Orang bisa menutup keran impor supaya terjadi kelangkaan bawang putih, sehingga harga barang itu naik, misalnya. Orang bisa juga, dengan modal yang kuat, memborong dollar dengan rupiah sehingga dollar menguat, dan seterusnya.

Maka, kalau ingin ikut menjaga perekonomian (pertanyaan 4), sebaiknya kita memperlakukan setiap barang dan jasa sesuai dengan kodrat alamiah barang dan jasa itu. Mata uang adalah alat tukar. Ketika uang sudah jadi komoditas, maka kekuatan dan hukum pasar (yang bisa manipulatif) yang jadi pengendali. Dan kalau kita ikut dalam transaksi demi untung rugi atas valas itu, berarti kita melibatkan diri dalam mekanisme pasar, atau bisa jadi menambah distorsi atas pasar valas itu. Tentu saja ini berbeda dengan pembelian valas untuk mengimpor barang, untuk bekal perjalanan keluar negeri, atau untuk kebutuhan transaksi lainnya.

Bagaimana kalau Anda ikut trading valas dalam perdagangan berjangka? Apakah akan memperkuat atau memperlemah rupiah? Di sisi ini tidak ada pengaruhnya. Sebab yang kita lakukan sebenarnya adalah spekulasi, sekadar main tebak ke mana arah nilai tukar. Di sana tidak ada delivery barang, termasuk valas (undeliverable). Para pemain bursa komoditas adalah para spekulan sejati. Mereka bukan pedagang CPO, atau Kapas, atau minyak mentah, tetapi pemilik modal yang ingin menikmati keuntungan dari fluktuasi harga di pasar riil.

Dua pertanyaan terakhir jawabnya singkat: Marketiva.com menyelenggarakan kedua sistem yang Anda sebut. Artinya, kita semua boleh melakukan trading langsung di sana, tetapi bisa juga kita titip investasi di sana. Apakah ada buku saya mengenai hal ini? Maaf, belum ada Pak. Doakan saja buku itu bisa segera saya selesaikan secepatnya.[hs]

* Her Suharyanto dapat dihubungi di her_suharyanto@hotmail.com.

Telah di baca sebanyak: 968

Next Page »

Top