Raja Yang Kreatif
September 19, 2012 by admin
Filed under Jansen H. Sinamo, Kolomnis
Di sebuah negeri, raja sangat dipuja oleh para punggawa nya. Raja didewakan dan “dijilat”. Segala sesuatu dilakukan dan diucapkan untuk untuk menyenangkan hati raja.
Pada suatu hari, raja mengajak para punggawanya berjalan di tepi pantai. Di pantai raja menghardik laut, “Bangunlah! Bergeloralah!”. Tetapi laut diam saja. Raja lalu mengulangi perintahnya. Tetapi lagi-lagi laut diam saja. Kemudian raja berbalik kepada punggawanya dan berkata, “Aneh ya, kalian selalu mengatakan aku adalah raja sakti yang bisa berbuat apa saja, tapi ternyata laut tidak tunduk kepada perintahku”. Para punggawa pucat. Ketahuanlah kalau pujian mereka kepada raja adalah gombal belaka.
Raja berkata, “Ke depan, mohon kalian tidak mengucapkan kata-kata yang berlebihan kepadaku, aku memang raja, tapi aku manusia biasa, adapun yang maha sakti dan perkasa hanya Tuhan, Dialah yang Maha Besar dan Maha Berkuasa. Kita mausia adalah orang biasa, bedanya hanya saya raja, kalian punggawa. Marilah kita bertindak biasa-biasa saja”. Para punggawapun terhindari dari tindakan menjilat.
Yang ingin disampiakan dalam cerita ini adalah seni memimpin. Raja mendemonstrasikan bagaimana seni untuk menyampaikan yang benar kepada pegawainya. Sebuah teknik yang kreatif. Kalau Anda seorang pemimpin, maka Anda perlu punya banyak seni, apakah itu seni motivasi, seni berkomunikasi, atau seni menegur. Itulah kreatifitas kepemimpinan yang ada dalam kategori seni atau kreatifitas. Buah akal budi manusia yang menemukan cara tidak lazim tapi efektif untuk menyampaikan hal atau solusi, dan hasilnya efektif.
Kita memerlukan kreatifitas untuk memecahkan masalah. Jangan terpaku pada satu metode, pada satu yang klasik. Bukalah pikiran Anda pada hal-hal baru. Buka wawasan. Perhatikan cara orang yang berhasil melakukan hal tersebut. Dengan demikian pikiran Anda menjadi kaya dengan berbagai pilihan solusi.
Jansen H. Sinamo
www.8etos.com
Telah di baca sebanyak: 295
Ember Bocor Yang Berguna
July 17, 2012 by admin
Filed under Jansen H. Sinamo, Kolomnis
Seorang petani setiap hari pulang pergi dari sumber air ke ladang dengan pikulannya. Ia memikul 2 ember untuk menyirami tanamannya. Ember yang di pikulan depan sudah tua dan mulai bocor, sehingga ketika sampai di lading, airnya tinggal setengah, setengahnya lagi tumpah di perjalanan.
Suatu hari, ember bocor itu mengeluh dan berkata kepada petani, “Pensiunkan saja saya, saya adalah ember yang sia-sia karena tidak bisa menjaga air tetap penuh dari sumbernya hingga sampai ke ladang. Aku sudah bocor, aku tak berguna”. Tetapi petani berkata, “Tidak ember bocor, lihatlah di sepanjang perjalanan kita, bunga-bunga tumbuh, sementara yang lain kekeringan. Bunga-bunga itu tumbuh karena hasil pekerjaanmu. Memang kamu bocor, tapi kamu berguna untuk mekarnya bunga dan daun di sepanjang perjalanan yang kita lewati. Hidupmu tidak sia-sia, tapi berguna”.
Cerita ini mengingatkan kita bahwa disekitar kita ada banyak bunga. Kadang sumbangan dari kita kepada mereka tidak direncanakan, tapi sungguh, sumbangan kita apapun itu, tidak pernah sia-sia. Jika ada teori fisika tentang hukum kekekalan energi, maka ada hukum yang lebih penting, yakni hukum kekekalan kebaikan, bahkan pelipatgandaan kebaikan. Kebaikan yang kita lakukan tidak pernah percuma dan sia-sia. Oleh karena itu, mulai hari ini selalulah berpikir dan berkata baik, serta berbuat baik. Dengan demikian Anda menjadi insan yang baik. Jika Anda karyawan, Anda menjadi karyawan yang kontributif dan produktif. Siapapun Anda, Anda senantiasa mengihtiarkan kebaikan pada sekitar Anda.
Jansen H. Sinamo
Telah di baca sebanyak: 550












