training motivasi – pelatihan menulis – training for trainer – publik speaking – andrias harefaNews Feedtraining motivasi – pelatihan menulis – training for trainer – publik speaking – andrias harefaComments Subscribe to training motivasi – pelatihan menulis – training for trainer – publik speaking – andrias harefaSitemap

Merubah Diri


“..Dunia ini begitu rapuh…”

“..Lalu., mengapa masih mengeluh..?”

“..karena saya juga sangat rapuh..”

Sang penanya hanya menghela nafas panjang sambil pandangan matanya menerawang jauh ke arah keramaian sudut ibukota kerajaan Hastinapura. Sang penanya ini adalah seorang yang tua, wajahnya sayu, tatapan mata wibawa, dengan alis mata, kumis dan jenggot tipis yang kelihatan memutih. Memakai pakaian seorang bangsawan, membawa tongkat sebagai penopang sebelah kakinya yang terlihat cacat lebih pendek. Dialah yang dikenal sebagai penasehat agung kerajaan Hastinapura, bernama Arya Widura.

Sementara orang yang mengeluh adalah seseorang yang sangat terlihat baru saja terbangun dari tidur dan melewatkan malam dengan mabuk berat. Kantung mata cekung, mata memerah, bau tuak minuman keras masih menyengat keluar dari mulutnya. Merebahkan tubuhnya di sandaran sebuah tempat minum-minum para kerabat kerajaan. Porak poranda bekas suasana pesta tadi malam masih terlihat. Sang pemuda yang mengeluh ini memakai mahkota seorang pangeran yang miring melorot, busana kerajaan yang terlihat lusuh dan compang-camping. Dia adalah putra semata wayang sang pemegang tahta -atau setidaknya begitulah akunya- kerajaan Hastinapura, Raden Duryudana. Pemuda ini sendiri bernama Lesmana Mandrakumara.

Seorang muda yang dari kecil bergelimang harta dan dimanja, terutama oleh paman-pamannya para Kurawa. Membuatnya tumbuh dan berkembang tidak seperti layaknya seorang laki-laki dewasa. Pada usianya yang menjelang kepala tiga itu, sifat kekanak-kanakan masih terlihat.

Tapi pagi itu, Arya Widura yang tiba-tiba berdiri didepannya, membuatnya mau tak mau segan, dan berusaha bersikap dewasa. Berusaha untuk malu atas kelakuannya. Sambil seperti pura-pura kikuk. Tapi tetap saja yang keluar dari mulutnya adalah sebuah keluhan dan selalu menyalahkan keadaan apa yang diluar dirinya…

“..paman-paman sayalah yang membuat saya demikian..!” teriak Lesmana. Paman-paman yang dimaksud adalah para Kurawa. Mereka para Kurawa memang selalu memanjakan Lesmana, berjudi, mabuk-mabukan, main wanita, adalah kegiatan kesehariannya. Arya Widura tetap berdiri terdiam dengan tatapan mata wibawa menerawang jauh.

“..rama Duryudana juga keliru..! dia selalu mengungkung saya di istana! Tidak pernah saya merasakan hebatnya berkuda, berlatih pedang hanya di dalam istana melawan punggawa yang pura-pura..!” lanjut Lesmana.

Widura hanya terdiam, tapi kali ini sorot mata wibawanya memandang tajam ke arah kedua mata Lesmana. Membuat Lesmana kali ini grogi betulan. Tidak hanya sekedar pura-pura..

“..Sampai kapan kamu akan berlaku demikian, cucuku..?” terdengar suara berat dan tajam dari mulut Widura. Kata-kata yang tampaknya sederhana tapi terlihat membuat Lesmana gemetaran. “..Sampai kapan kamu akan menyalahkan keadaanmu, mengutuki takdirmu, menyalahkan orang-orang disekitarmu atas keadaanmu..!” lanjut Widura. “..Ketahuilah, cucuku.., hanya dirimulah yang mampu merubah keadaanmu, hanya dari dirimu sendirilah yang bisa berkata tidak dan melepaskan semua yang tidak baik dari dirimu untuk bangkit berdiri mulai melakukan hal-hal yang terpuji..”

Ya,.. ketika kita ingin berubah, hanya diri kita sendirilah yang seharusnya menjadi agen perubahan itu. Tidak perlu menunggu perintah orang lain, tidak perlu menunggu keadaan memungkinkan, tidak perlu menunggu saat yang tepat. Katakan tidak, sekarang juga! Bila ada orang menawarkan suap. Tidak perlu gengsi untuk memulai membuang sampah hanya pada tempatnya, adalah salah satu misal. Legenda mencatat bahwa Lesmana ternyata tidak mampu juga merubah dirinya bahkan sampai ajal menjemputnya. Tidak ada yang ditinggalkannya, kecuali rasa sesal semua orang atas keberadaannya.

Sebelum tiba waktu kita, hanya sekaranglah kesempatan kita untuk berubah. Saya suka yang pernah diutarakan Aa Gym, Mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal-hal kecil, dan mulailah dari saat ini..

Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga


Telah di baca sebanyak: 555

“Kaya Tanpa (baca: tidak harus dengan) Harta”


Saya yakin hampir semua orang bila ditanya arti kata kaya, maka mereka akan mengubungkannya dengan hal-hal yang terkait dengan materi. Kaya berarti memiliki materi berlimpah lebih dari kebutuhan, kaya diartikan dengan memiliki rumah mewah, mobil lebih dari satu, Kaya berarti bisa memenuhi secara melimpah kebutuhan tersier-nya. Tapi benarkah demikian?

Sebuah semangat kearifan budaya Jawa mengatakan: “Sugih Tanpa Banda” yang berarti Kaya Tanpa Harta. Tentunya ungkapan ini akan menjadi sebuah paradoks bila dikembalikan dengan sebuah persepsi akan kaya bagi kebanyakan orang. Karena jelas, bagi sebagian besar orang, yang disebut kaya adalah ketika memiliki harta, oleh karena itu seseorang tanpa harta, terminologinya bukanlah kaya. Tapi benarkah begitu? Karena pertanyaan selanjutnya tentunya akan menantang kita, jangan-jangan kearifan budaya Jawa tadi sudah tidak lagi pas bagi perikehidupan masa kini.

Tapi justru itulah menariknya! Ketika kita justru mencoba membalik paradigma kita, jangan-jangan persepsi kita akan sebuah kekayaan, pelan tapi pasti menuju kepada definisi yang akan menjebak kita untuk lama kelamaan semakin membuat kita melihat sesuatu secara keliru. Karena bagi paradigma sebagian besar kita tentunya, akan membuat definisi sederhana, bahwa hidup sebaiknya kaya, ketika kaya berarti memiliki harta lebih, maka kesimpulan sederhananya adalah hidup untuk menumpuk harta berlebih agar bisa baik adalah lebih baik. Hmm,.. mengkhawatirkan memang..

Sehingga ada baiknya kita tetap berupaya mempertanyakan paradigma mainstream itu, berangkat dari pemahaman bahwa apa yang sudah direnungkan para budayawan sesepuh Jawa waktu itu adalah sesuatu yang seharusnya. Bahwa betul memang, hidup sebaiknya kaya, tapi kaya tidak selalu berimplikasi pada memiliki harta, nah! Sehingga kalimat sederhananya adalah Kaya Tanpa Harta,.. Sugih Tanpa Banda…

Kalau sifat kaya tidak selalu berkonotasi kepada kepemilikan harta, lalu apakah definisi kaya secara umum? Ada sebuah pendapat yang selama ini menjadi pemahaman saya, dan juga terasa pas bagi logika di kepala saya, yaitu bahwa sifat kaya akan terjadi ketika kita bisa memenuhi setiap kebutuhan kita. Disinilah kuncinya! Ada kebutuhan di sana. Maslow boleh saja berpendapat tentang “Five Human Basic Needs”, dan hal itu menurut saya memang sesuatu yang penting untuk memahami orang lain, tapi ketika kita memahami diri kita, justru seharusnya kita mampu melihat bahwa kebutuhan bagi masing-masing diri kita adalah pilihan. Dan jangan lupa, kemampuan untuk memilih, menurut Covey, termasuk dalam anugrah manusiawi yang paling mendasar.

Karena saat ini, kebebasan manusia akan memilih sepertinya terdistorsi ketika definisi ‘kebutuhan’ bagi sebagian besar dari kita, terganggu oleh nafsu yang bernama ‘keinginan’. Sehingga bila definisi kaya adalah ‘bisa memenuhi semua kebutuhan’, kelompok ini akan mengaburkannya dengan definisi ‘bisa memenuhi semua keinginan’. Inilah yang kemudian membawa terminologi kaya pada hal-hal yang bersifat materi. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar kita melihat materi sebagai ‘keinginan’ yang utama.

Dan bila itu kita kembalikan pada kearifan “Sugih Tanpa Banda”, kembali saya harus takjub ketika menyadari bahwa bahwa kalimat ini, oleh penglihatan saya memberi sebuah pencerahan bukan pada bagaimana kita mencari-cari kalau kaya tanpa memiliki harta itu bagaimana, tapi justru kembali kepada masing-masing diri kita untuk dapat membuat garis tebal yang jelas antara apa sebenarnya kebutuhan kita dan apa sebenarnya keinginan kita. Dan untuk kaya, sebenarnya yang perlu kita lakukan adalah (sekedar) mampu memenuhi kebutuhan kita.

Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga


Telah di baca sebanyak: 643

Antareja dan Durna di Singapura


“..bukumu ada di Perpustakaan sini, Pit… kamu musti lihat..”, begitu kalimat terlontar dari salah seorang sahabat yang tinggal di Singapura, ketika kami bertemu beberapa hari lalu saya berkesempatan beberapa hari tugas di negri itu. Di hari keempat saya di sana, sore hari kami pun menyusuri jalan Victoria Street, dari hotel ke arah utara. Sungguh kebetulan, hotel tempat saya menginap ternyata tidak begitu jauh dengan National Library Board of Singapore. Dan betul kata teman saya, kunjungan saya ke negri itu tidak boleh melewatkan agenda ‘menjenguk’ buku saya yang menjadi koleksi perpustakaan di sana.

Singapura adalah negri yang menarik. Sekitar setahun lalu juga saya pernah berkunjung ke sana. Tak banyak yang berubah. Semua tertata rapi. Segala infrastruktur dan prasarana kehidupan seolah ditata dan disiapkan begitu rupa dengan sempurna. Kereta MRT yang murah dan tak pernah terlambat. Lalu lintas yang terkelola kepadatannya. Taman kota yang selalu tertata rapi. Pejalan kaki yang ditempatkan lebih tinggi kedudukannya daripada pengguna jalan lainnya. Fasilitas yang juga selalu tersedia bagi para difabel. Saya yang kebetulan menginap di bilangan City Hall, dengan agenda seminar di gedung Suntec City, jarak yang harus ditempuh kurang lebih sekitar dua kilometer, tapi terasa nyaman dan tak terasa, ketika jalur jalan kaki ke sana menyusuri jalan bawah tanah bernama City-Link yang ditata bak super market dengan gerai-gerai toko aneka macam di kiri-kanan sepanjang perjalanan.

Belum lagi tentang aturan dan hukum yang dijunjung tinggi ditegakkan. Saya bahkan hampir tak pernah melihat lalu-lalang atau polisi penegak hukum di pinggir jalan. Tapi orang-orang itu begitu taat. Tak ada buang sampah sembarangan. Larangan merokok di tempat umum, membuat seorang perokok yang pernah saya jumpai seperti terpaksa malu-malu merokok di sudut pojok bangunan dan merasa kikuk bila ada orang melihatnya merokok. Tak ada corat-coret di dinding ataupun fasilitas umum yang rusak.

Hari-hari pertama menyusuri sampai sudut negri Singapura, mungkin banyak orang sepakat bahwa inilah mungkin negri yang sempurna, bisa menjadi contoh tentang sebuah kehidupan bagaimana sebaiknya ditata. Tapi entahlah, beberapa hari kemudian, saya merasakan ada yang kurang di sana. Tiap pagi berjalan kaki memperhatikan lalu lalang orang-orang itu, mereka seperti murung, seperti ada yang kurang dalam diri mereka.

Orang-orang itu saya perhatikan berjalan begitu cepat. Mereka seperti diburu waktu. Waktu tersedia seperti tak cukup untuk kehidupan yang mereka jalani. Sebagian besar dari mereka berjalan sambil mengenakan head-phone di kepala. Bahkan ada yang berjalan sambil menunduk jemarinya sibuk memainkan smart-phone. Atau saya juga sempat lihat seseorang berjalan sambil memandang komputer tablet yang memutar film. Hampir tak ada yang tersenyum, tak ada yang ketawa. Semua serius. Bila ada beberapa diantara mereka tersenyum lebar, biasanya bisa ditebak adalah para pelancong yang berlibur berkunjung ke negri itu.

Tapi mungkin karena itulah, orang-orang kemudian haus butuh sesuatu untuk mengisinya. Itulah mengapa, konon katanya, seni dan berkesenian adalah sesuatu yang diletakkan pada kedudukan yang tinggi. Seni pertunjukkan menjadi sebuah tontonan berkelas. Karya seni dianggap sebagai barang langka karena tak banyak orang yang merasa bisa menghasilkannya. Termasuk ketika saya melihat sendiri bagaimana mereka merawat buku sebagai salah satu karya seni sastra.

Perpustakaan itu begitu nyaman. Begitu sejuk oleh pendingin ruangan. Saya langsung menuju ke lantai sembilan dimana buku karya saya dikoleksi diletakkan di sana. Sebagai salah satu buku yang mereka sebut ‘reference-list’, adalah buku-buku yang hanya boleh dibaca di sana, tidak boleh dipinjam untuk dibawa pulang. Memasuki ruangan besar lantai sembilan, penuh berisi rak buku. Ada banyak orang di sana, tapi suasana begitu tenang, bahkan saya bisa mendengar langkah kaki saya sendiri di atas karpet ruang itu.

Terus terang saya merasa terhormat melihat buku saya ada di sana. Walaupun saya juga berusaha memberi pengertian kepada diri saya agar tidak terlalu berbangga, karena saya sadar cara menulis saya sebenarnya masih jauh dari sebuah kategori karya sastra yang baik. Tapi mungkin karena itulah, buku saya dianggap bisa menjadi pengisi ‘kekosongan’ kehidupan di sana. Sebuah kisah klasik dunia wayang yang ditulis dengan gaya bahasa kekinian secara detail dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Adalah dua buku saya, Antareja-Antasena dan Resi Durna, yang kebetulan mengisi perpustakaan itu. Di fasilitasi oleh sahabat saya yang tinggal di negri itu, saya pun berinisiatif untuk kemudian menyumbangkan novel dunia wayang karya saya yang lain untuk melengkapi koleksi di sana.

Saya tidak tahu, apakah kehidupan seperti negri Singapura sudah dikatakan sebagai contoh komunitas negri yang dewasa. Memiliki produkstifitas yang tinggi, juga kebersamaan dalam perbedaan berbagai ras dengan landasan saling menghargai yang begitu tinggi. Saya pun sempat menangkap momen yang menarik, ketika saya melihat seorang perempuan muslim bercadar melakukan transaksi jual beli secara biasa dengan sang penjual kedai makanan seorang pemuda etnis Cina. Sesuatu yang mungkin sulit ditemui di negri kita.
Kita harus banyak belajar tentang mereka, seperti mereka yang merasa masih butuh untuk belajar tentang kisah Antareja dan Durna.

*) Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga


Telah di baca sebanyak: 552

“Kaya Tanpa (baca: tidak harus dengan) Harta”


Saya yakin hampir semua orang bila ditanya arti kata kaya, maka mereka akan mengubungkannya dengan hal-hal yang terkait dengan materi. Kaya berarti memiliki materi berlimpah lebih dari kebutuhan, kaya diartikan dengan memiliki rumah mewah, mobil lebih dari satu, Kaya berarti bisa memenuhi secara melimpah kebutuhan tersier-nya. Tapi benarkah demikian?

Sebuah semangat kearifan budaya Jawa mengatakan: “Sugih Tanpa Banda” yang berarti Kaya Tanpa Harta. Tentunya ungkapan ini akan menjadi sebuah paradoks bila dikembalikan dengan sebuah persepsi akan kaya bagi kebanyakan orang. Karena jelas, bagi sebagian besar orang, yang disebut kaya adalah ketika memiliki harta, oleh karena itu seseorang tanpa harta, terminologinya bukanlah kaya. Tapi benarkah begitu? Karena pertanyaan selanjutnya tentunya akan menantang kita, jangan-jangan kearifan budaya Jawa tadi sudah tidak lagi pas bagi perikehidupan masa kini.

Tapi justru itulah menariknya! Ketika kita justru mencoba membalik paradigma kita, jangan-jangan persepsi kita akan sebuah kekayaan, pelan tapi pasti menuju kepada definisi yang akan menjebak kita untuk lama kelamaan semakin membuat kita melihat sesuatu secara keliru. Karena bagi paradigma sebagian besar kita tentunya, akan membuat definisi sederhana, bahwa hidup sebaiknya kaya, ketika kaya berarti memiliki harta lebih, maka kesimpulan sederhananya adalah hidup untuk menumpuk harta berlebih agar bisa baik adalah lebih baik. Hmm,.. mengkhawatirkan memang..

Sehingga ada baiknya kita tetap berupaya mempertanyakan paradigma mainstream itu, berangkat dari pemahaman bahwa apa yang sudah direnungkan para budayawan sesepuh Jawa waktu itu adalah sesuatu yang seharusnya. Bahwa betul memang, hidup sebaiknya kaya, tapi kaya tidak selalu berimplikasi pada memiliki harta, nah! Sehingga kalimat sederhananya adalah Kaya Tanpa Harta,.. Sugih Tanpa Banda…

Kalau sifat kaya tidak selalu berkonotasi kepada kepemilikan harta, lalu apakah definisi kaya secara umum? Ada sebuah pendapat yang selama ini menjadi pemahaman saya, dan juga terasa pas bagi logika di kepala saya, yaitu bahwa sifat kaya akan terjadi ketika kita bisa memenuhi setiap kebutuhan kita. Disinilah kuncinya! Ada kebutuhan di sana. Maslow boleh saja berpendapat tentang “Five Human Basic Needs”, dan hal itu menurut saya memang sesuatu yang penting untuk memahami orang lain, tapi ketika kita memahami diri kita, justru seharusnya kita mampu melihat bahwa kebutuhan bagi masing-masing diri kita adalah pilihan. Dan jangan lupa, kemampuan untuk memilih, menurut Covey, termasuk dalam anugrah manusiawi yang paling mendasar.

Karena saat ini, kebebasan manusia akan memilih sepertinya terdistorsi ketika definisi ‘kebutuhan’ bagi sebagian besar dari kita, terganggu oleh nafsu yang bernama ‘keinginan’. Sehingga bila definisi kaya adalah ‘bisa memenuhi semua kebutuhan’, kelompok ini akan mengaburkannya dengan definisi ‘bisa memenuhi semua keinginan’. Inilah yang kemudian membawa terminologi kaya pada hal-hal yang bersifat materi. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar kita melihat materi sebagai ‘keinginan’ yang utama.

Dan bila itu kita kembalikan pada kearifan “Sugih Tanpa Banda”, kembali saya harus takjub ketika menyadari bahwa bahwa kalimat ini, oleh penglihatan saya memberi sebuah pencerahan bukan pada bagaimana kita mencari-cari kalau kaya tanpa memiliki harta itu bagaimana, tapi justru kembali kepada masing-masing diri kita untuk dapat membuat garis tebal yang jelas antara apa sebenarnya kebutuhan kita dan apa sebenarnya keinginan kita. Dan untuk kaya, sebenarnya yang perlu kita lakukan adalah (sekedar) mampu memenuhi kebutuhan kita.

Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga


Telah di baca sebanyak: 632

Facebook: Belajar dari para Raksasa Dunia Maya (bag 3)


Seri Membangun Bisnis Dunia Maya (32)

Rata-rata anak muda, diawal-awal masa kuliah, bila dia menghadapi sebuah masalah, masalah keuangan, diputus pacar, tidak lulus ujian dan sebagainya, biasanya mereka melakukan hal-hal yang agak radikal untuk melampiaskan kekesalannya. Ada yang berbau positif misal dengan siang malam melakukan hasrat hobi dan kesenangannya tanpa kenal waktu, kenal lelah, atau peduli pada tetangga. Saya pernah kenal seorang teman yang ketika dia tidak lulus sebuah mata kuliah melampiaskan dengan bermain gitar semalaman genjrang-genjreng membuat bising satu RT.

Tapi amat disayangkan, banyak juga diantara para pemuda mahasiswa itu melampiaskan kekecewaan dengan hal yang jelas-jelas negatif, dengan cara merusak. Baik merusak diri sendiri maupun merusak hal-hal yang seharusnya di pelihara dengan baik. Ada yang membenamkan diri dengan minuman keras merusak otak mereka. Ada yang membuat onar kesana-kemari meresahkan banyak orang. Konon katanya, sebagian besar para pemuda mahasiswa yang sering demo terpampang di televisi, masalah utamanya sebenarnya bukan pada aspirasi apa yang mereka sampaikan, tapi lebih kepada ungkapan rasa kecewa tanpa kendali yang baik, yang bisa berbuntut anarki dan pengrusakan-pengrusakan.

Dan anda mungkin akan tersenyum kecut bila membaca kisah sukses Mark Zuckenberg dengan Facebook-nya. Karena semua itu berawal dari rasa frustasi dan kecewanya saat di tinggal pacar di awal-awal musim kuliahnya dulu! Nah!

Istilah Facebook, awal mulanya tidak muncul dengan sendirinya sebagai kata-kata karangan Zuckenberg sendiri. Itu adalah sebuah istilah. Di Amerika sono, ada sebuah kebiasaan lokal di beberapa kampus, para mahasiswa baru dibuatkan semacam lembaran profil mengenai data diri mereka lengkap. Setiap mahasiswa punya profil sendiri, kemudian kumpulan profil sekian banyak semua mahasiswa baru itu, dibendel menjadi sebuah buku tebal, dan dibagikan ke semua mahasiswa universitas tersebut. Bendelan buku profil inilah yang diberi judul “face book”. Karena memang diberi judul demikian di halaman mukanya, semua latah demikian, mengikuti ide yang pertama kali konon terjadi di sebuah sekolah akademi bernama Phillip Exeter Academy, yang ketika itu menjadi tempat yang menjelang tahun 2000-an, pertama kali memiliki kebiasaan menerbitkan buku diberi judul ‘face book’ setiap tahunnya yang berisi profil lengkap semua mahasiswa baru.

Kira-kira mulai tahun 2003-an, Harvard University, membuat fungsi ‘face book’ tadi tapi dalam bentuk software yang ditanam di jaringan Local Area Network dan hanya bisa di akses secara internal. Tampilan muka ‘face book’ versi softcopy ini berisi profil seluruh mahasiswa dan kompilasi foto-foto yang bisa di-upload, di-update dan di-akses siapa pun secara internal di lingkungan universitas. Karena merupakan sebuah laman resmi sebuah universitas, maka profile-name yang tertera pun nama sebenarnya, profile-picture juga gambar sebenarnya dari sang empunya nama, juga semua informasi ter-up-load merupakan informasi yang memang apa adanya.

Nah, menurut ceritanya, di suatu malam di bulan Oktober 2003, Zuckenberg sang Facebook.com founders, yang ketika itu masih di tingkat pertama kuliah di Harvard University, ketiban sial diputus pacarnya. Malam itu juga dia nge-blog semalaman melampiaskan kekesalannya. Dan kemampuannya dalam hal membobol jaringan orang lain pun, malam itu seakan mendapat stimulus, sehingga semalaman dia duduk di depan layar melakukan keisengan, membobol jaringan Harvard, men-download ID semua mahasiswa secara ilegal, dan kemudian meng-upload-nya di internet ruang publik, dengan nama Facemash. Sekaligus di malam itu juga dia melakukan modifikasi tampilan profile itu sehingga setiap orang bisa menuliskan komentar pada setiap profile serta upload foto-foto tambahan secara bebas. Mungkin sebagai pelampiasan agar dia bisa marah-marah dengan seseorang secara diam-diam lewat profil-nya.

Rupanya sejarah terukir malam itu. Hanya dalam waktu empat jam sejak Facemash mengudara di dunia maya, tercatat ada 450 visitor entah dari mana, dan lebih dari duapuluh ribu foto terup-load malam itu oleh entah siapa. Hanya dalam beberapa hari muncul ratusan ID-ID baru karena Zuckenberg juga me-modifikasi fungsinya sehingga memungkinkan setiap orang –khususnya mahasiswa, karena saat itu begitu heboh beritanya di kalangan mahasiswa di Amerika- untuk membuat profil-profil baru. Dan karena profil yang terdahulu memperlihatkan nama asli serta foto profil dengan gambar foto diri sebenarnya, maka para follower baru itu pun ikut terbawa dengan membuat profil nama asli dan foto jujur.

Selama beberapa minggu setelah itu, Zuckenberg harus menghadapi masalah hukum atas apa yang dilakukannya. Harvard menuntutnya dengan bermacam pelanggaran, pembobolan, pencurian data, pembajakan software. Facemash pun di tutup. Tapi pengalaman berharga itu rupanya telah menginspirasi Zuckenberg.

Menjalani masa skorsing akibat apa yang dilakukannya, mulai January, 2004, dia justru mulai membuat script website sendiri mengambil ide ala Facemash dengan penyempurnaan-penyempurnaan. Dia pun menyampaikan gagasannya kepada teman-teman sekamarnya di asrama. Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes. Mereka pun menciptakan mimpi bersama mereka ingin membuat semacam buku angkatan “face book” yang tidak hanya di sebuah lingkup universitas, tapi terpampang di jaringan publik, dengan fungsi-fungsi interaktif yang tentunya tidak mungkin bisa dilakukan bila hanya dalam bentuk bendel print-out. Mereka daftarkan pertama kali dengan nama thefacebook.com, kemudian melakukan publikasi kepada teman-teman mereka sehingga menjadi sebuah functioned-engine yang berfungsi sebagai social networking.

Ketika itu sudah nge-top social-network yang terkenal semacam friendster, myspace dan sebagainya yang lebih banyak memakai nama alias dan foto avatar. Dan pilihan nama ‘facebook’ itu cukup mengena. Karena semua mahasiswa akan langsung terbawa pikiran mereka kepada bendel data profil yang seharusnya memuat profil secara jujur, nama aslinya, dan foto asli mereka. Dan hanya dalam waktu duapuluh empat jam, terdaftar lebih dari sepuluh ribu member, dan menampilkan nama, foto, serta informasi tentang mereka apa adanya.

Sejak itu bagai bola salju bergulir. Semua orang tidak hanya mahasiswa menjadi member thefacebook.com yang kemudian diubah menjadi facebook.com agar lebih mudah diingat. Pelajar, para profesional, ibu rumahtangga, politikus, semua dengan sukarela menjadi member, dan meng-upload nama, foto, serta informasi mereka apa adanya. Dan inilah yang sampai saat ini menjadi kekuatan facebook dibanding social network lainnya. Orang akan dengan mudah menemukan teman lama mereka, keluarga yang sudah lama terpisah. Para penggemar public-figure dengan mudah bertegur sapa dengan idolanya.

Sampai sekarang tercatat lebih dari delapan ratus juta member terdaftar, lebih dari puluhan juta visit setiap harinya, bergerak antara urutan dua dan tiga berdasarkan rangking jumlah visit yang di-index Alexa.com. Berganti-ganti berkejaran dengan posisi Yahoo!. Tak heran para raksasa dunia usaha ini pun melirik dan menggelontorkan share kepemilikan atas facebook.com walaupun sampai sekarang, Mark Zuckenberg dan kawan-kawannya masih belum merubah status perusahaan ini sebagai usaha private. Perusahaan besar semacam Paypal, Microsoft dan beberapa individu bilionare dari berbagai negara bahkan sampai Asia seperti Hongkong dan Malaysia.

Setiap orang pastilah pernah mengalami kekecewaan-kekecewaan. Saya hanya mencoba bermimpi, alih-alih para adik-adik mahasiswa kita yang senang melampiaskan kekecewaan dengan cara-cara anarki, mengapa tidak mencoba melampiaskan kekecewaan dengan melakukan sesuatu yang mungkin dalam beberapa tahun bisa mendatangkan keuntungkan, syukur-syukur bermanfaat bagi banyak orang. Anda mungkin boleh skeptis, tapi yang jelas, Zuckenberg telah membuktikan bahwa hal itu bisa menjadi tidak hanya sekedar mimpi…

*) Pitoyo Amrih. www.pitoyo.com – home improvement; bersama memberdayakan diri dan keluarga

Telah di baca sebanyak: 252

Belajar dari para Raksasa Dunia Maya (bag 2 – Yahoo!)

Seri Membangun Bisnis Dunia Maya (31)

Saya masih ingat dulu ketika pertama kali saya coba kutak-kutik menjelajah dunia maya, mungkin sekitar tahun 1997. Ketika itu memiliki alamat e-mail untuk seorang individu boleh dikata sebuah kepemilikan langka. Saat itu, yang seharusnya memiliki alamat e-mail adalah sebuah perusahaan yang berniat menjalin komunikasi di internet. Sementara bagi para individu, lebih kepada keinginan menaikkan gengsi. Karena alamat e-mail yang ada masih berbayar.

Waktu itu, saya termasuk yang juga tergoda gengsi, ikut ‘beli’ alamat e-mail dengan membayar tiap bulan. Walaupun cuman bertahan tidak sampai setahun, tapi itulah yang terjadi. Saat ini, lebih dari sepuluh tahun kemudian, mungkin kita akan tersenyum sendiri, punya alamat e-mail harus bayar? Hmm..

Dan di era tahun 1997 itu, adalah sebuah penyedia jasa internet yang berkontribusi merubah paradigma bahwa alamat e-mail bukanlah sebuah kemewahan yang mendaftarkan dirinya dengan nama Yahoo.com. Mereka memberi layanan web-base e-mail gratis bagi siapa saja. Memang saat itu kita tidak bisa serta merta memberi gelar Yahoo sebagai sang pelopor bagi e-mail gratisan. Karena ada juga Mailcity –yang saat ini lebur dalam perusahaan Lycos-, Hotbot, MSN. Tapi peran Yahoo tak bisa kita abaikan begitu saja, ketika kemudian dengan berjalannya waktu, Yahoo secara dramatis dari waktu ke waktu selalu menambah kuota mailbox-nya sampai dengan unlimited beberapa tahun terakhir ini. Sebuah gebrakan yang tentunya tak mudah. Dan Yahoo juga yang saya pikir ketika itu memulai menambah feature mail gratis-nya tidak hanya dalam bentuk web-base mail, tapi bisa di-set untuk ter-‘download’ dalam program POP3 maupun SMTP, kirim terima e-mail dengan menggunakan software mail-client. Sehingga kepemilikan alamat e-mail Yahoo tidak lagi terkesan murahan, tapi lebih personal.

Sang pendiri bernama Jerry Yang dan David Filo. Yang, adalah warga Amerika imigran asal Taiwan, sementara Filo adalah seorang yang dibesarkan di sebuah kota kecil di daerah Lousiana, Amerika. Mereka berdua dipertemukan sebagai dua orang peneliti paska sarjana di Universitas Stanford di bidang Electrical Engineering. Kabarnya mereka, ketika itu, di tahun 1990-an justru mulai tertarik dengan dunia internet dan berbekal keinginan mereka untuk membantu, mereka membuat program di bawah situs stanford.edu. Sebuah program untuk memberi petunjuk apa dan bagaimana memulai berselancar di dunia maya. Mungkin mirip sebuah function engine website portal, tapi terlihat lebih sederhana. Program yang di-upload di http://akebono.stanford.edu/yahoo.

Mereka memberi nama Yahoo, bermula dari singkatan atas kata itu : “Yet Another Hierarchical Officious Oracle”. Sebuah sebutan bagi program mereka, sekaligus konon katanya karena mereka juga suka dengan kata Yahoo itu sendiri, yang bermakna sebuah ungkapan ‘liar dan terbebaskan’ dalam bukunya Jonathan Swift yang berjudul Gulliver’s Travel.

Yahoo sendiri terdaftar sebagai domain resmi yahoo.com pada Januari 1995. Sejak itu, Yang dan Filo semakin menggilai dan semakin menekuni apa yang begitu mengasikkan bagi mereka. Meninggalkan keahlian formal mereka sendiri sebagai seorang Insinyur Listrik. Mereka semakin mempercantik layanan portal mereka. Sebuah halaman homepage yang memuat banyak hal dengan tampilan yang semakin dibuat mudah dan akrab bagi mata para peselancar dunia maya. Ada search engine, ada kolom update berita dari berbagai penyedia layanan berita, ramalan cuaca, ada game, semuanya dalam satu halaman! Maka portal mereka semakin banyak dikunjungi, dan semakin banyak perusahaan layanan internet kecil-kecil yang ingin ‘menginduk’ kepada mereka.

Istilah website ‘portal’ sendiri, layaknya sebuah pintu gerbang menuju ke segala macam halaman web lain tergantung apa keinginan para user. Pintu gerbang yang bisa dianalogikan sebagai ‘pintu masuk’ sebuah kawasan yang berisi segala macam informasi dan layanan internet. Ketika semakin banyak orang masuk melalui pintu gerbang itu, wajar kiranya, semakin banyak perusahaan kecil-kecil yang rela ‘menggabungkan diri’ masuk dalam ‘kawasan’ dalam lingkup portal itu.

Maka mulailah kerjasama itu. Perusahaan layanan e-mail yang kecil bernama RocketMail -dibanding raksasa Mailcity- yang bergabung dengan Yahoo dan menjadi Yahoo! Mail. ClassicGame.com salah satu pelopor game on-line saat itu, bergabung dengan Yahoo dan beralih rupa menjadi Yahoo! Games. Mereka pun berinovasi dengan Yahoo! Pager yang kemudian berubah nama menjadi Yahoo! Messenger dan begitu akrab bagi para pengguna internet dan ponsel.

Jerry Yang dan David Filo rupanya tidak hanya pintar dalam hal program-memrogram. Mereka juga begitu ringan tangan dalam semangat kebersamaan antara pelaku usaha dunia maya. Mereka sepertinya tidak melihat para pelaku lain di jagad internet sebagai seorang pesaing, mereka lebih melihat kompetitor bukanlah sebagai kompetitor, tapi rekan untuk berbagi. Hal ini bisa kita rasakan saat mereka melakukan hal-hal yang dianggap perlu untuk membuat Yahoo bisa bertahan dalam era ‘Dotcom Bubble’ di sekitar tahun 1999 sampai tahun 2002-an.

Pertumbuhan perusahaan Dotcom sejak awal 1990-an, membuat orang terutama di Amerika sana berlomba-lomba menjadi yang terdepan dalam menginvestasikan uang mereka di dunia maya. Begitu banyak perusahaan dotcom bermunculan dengan segala macam layanan. Baik yang berskala server dari garasi rumahan sampai perusahaan dotcom dengan nilai investasi jutaan dolar menguasai segala macam prasarana dan perangkat kerasnya. Tapi rupanya, pertumbuhan pasar tidak sepesat pertumbuhan modal. Khalayak ‘mengkonsumsi’ dunia maya dengan pertumbuhan wajar-wajar saja. Jadilah sang bubble di awal 2000-an. Perusahaan dotcom pun berguguran. Tapi Yahoo bukanlah salah satu diantaranya. Yahoo justru menggalang kerjasama dengan perusahaan dotcom untuk bisa bertahan.

Dan masa sulit itu telah lewat. Kini Yahoo telah menggelar kantor-kantor di banyak ibukota di seluruh dunia. Dan memperkerjakan hampir 15 ribu karyawan di seluruh dunia, dengan penghasilan lebih dari 4 milyard dollar setahun! Jadilah kini Yahoo.com duduk di urutan ke-dua selama beberapa tahun terakhir ditilik dari jumlah kunjungan per harinya yang mencapai 50 juta visitor!

Terlepas dari kontoversi dan masalah yang menimpa Yahoo sendiri sebagai perusahaan, terutama terkait dengan masalah privasi, sifatnya yang dianggap lunak terhadap ancaman spyware, serta beberapa anggapan yang melihat mereka kurang bisa mengakomodasi hal-hal yang bersifat budaya lokal seperti yang terjadi pada kasus mereka di Cina, yang jelas kita bisa banyak belajar dari sang pendiri, Yang dan Filo atas keyakinan pilihannya ketika dia meninggalkan profesi mereka sebagai peneliti dan memilih untuk tekun terhadap apa yang mereka senangi.

Juga semangat kebersamaan mereka, ketika menjadi salah satu pemilik penyedia layanan website yang selalu aktif menjalin kebersamaan dengan perusahaan dotcom lain –tinimbang sikap yang terlalu menganggap perusahaan dotcom lain sebagai pesaing- sehingga bisa melewati masa bergugurannya perusahaan dotcom kala itu.

Banyak orang bilang saat ini negara kita sedang menghadapi banyak masalah. Yang dan Filo memberi contoh kepada kita sikap kebersamaan untuk dapat melewati kesulitan. Bukannya saling curiga dan menyalahkan, sesuatu yang sepertinya masih biasa kita lakukan…

*) Pitoyo Amrih. www.pitoyo.com – home improvement, bersama memberdayakan diri dan keluarga

Telah di baca sebanyak: 257

Belajar dari para Raksasa Dunia Maya (bag 1 – Google)


Seri Membangun Bisnis Dunia Maya (30)
Di tahun 1996, bahkan mungkin Lawrence Page dan Sergey Brin tak pernah berpikir bahwa di tahun 2009 mereka bakal memiliki lebih dari sembilan belas ribu karyawan tetap yang bekerja untuk mereka. Page dan Brin, yang saat itu masih kurus tinggi, dua orang yang sedang menekuni studi PhD di Stanford University, mungkin juga tak pernah menyangka, bahwa salah satu penelitiannya saat itu tentang metode piranti lunak mesin pencari di internet, akan merubah perilaku dunia dalam hal mencari sebuah informasi di dunia maya, juga perilaku para praktisi iklan bila ingin merambah dunia maya sebagai media advertising mereka.

Dan dari tangan mereka terciptalah Google. Sebuah terminologi yang saat itu konon katanya salah eja. Ada yang mengatakan bahwa maksudnya akan memakai kata “Googol”, sebuah kata yang secara harfiah bermakna bilangan satu diikuti seratus angka nol di belakangnya, sehingga diartikan secara konotatif yang mengekspresikan bahwa mereka akan menyediakan informasi yang sangat banyak! Ada juga yang mengatakan bahwa maksud mereka sebenarnya akan memakai kata “Goggle”, sebuah kata yang berarti alat bantu penglihatan agar dapat mengamati lebih baik. Tapi apa pun itu, kata “Google” awal sekali di daftarkan menjadi sebuah domain, adalah kata yang salah eja. Namun sejarah mencatat, bahwa dari kata yang salah eja inilah, tahun 2006, Oxford English Dictionary menambahkan kata kerja ‘google’ dalam kamus mereka, yang berarti mencari informasi di internet. Sehingga sejak itu istilah ‘googling’ –tambahan –ing sebagai bentuk present tense- menjadi umum di telinga.

Google adalah salah satu keajaiban dalam bisnis dunia maya! Empat tahun terakhir secara bertutut-turut, Google masih bertengger sebagai ‘number-one’ top-list dunia, sebagai website pada urutan teratas dalam hal jumlah kunjungan tiap harinya. Anda bisa bayangkan, sebuah website yang dikunjungi rata-rata sebanyak lebih dari seratus empat puluh juta unique visitor tiap harinya! Bisa disetarakan dengan jumlah penduduk sebuah negara!

Apa yang kita bisa pelajari dari mereka? Mungkin sebagian dari kita, apa yang dilakukan Page dan Brin adalah sebuah extra upaya, bertemu dengan kondisi beruntung, yang terlalu absurd bagi kita untuk bisa kita tiru. Anggapan yang menurut saya salah dan angapan inilah yang selama ini hampir selalu membelenggu kita bangsa Indonesia untuk maju. Seolah dari awal kita sudah mengkondisikan diri kita sendiri bahwa talenta kita berada di bawah talenta rata-rata penduduk negara maju.

Keistimewaan yang utama dari Page dan Brin, menurut saya, adalah pada kompetensi mereka dalam hal mencipta dan paham betul secara detail apa yang mereka kembangkan terhadap function engine yang kemudian mereka tawarkan sebagai alat bantu di dunia maya bagi siapa saja yang mencari informasi. Karena mereka adalah mahasiswa yang menekuni betul apa yang mereka lakukan, sehingga terciptalah tata cara sebuah indexing mesin pencari yang mereka bisa buktikan lebih efisien dan lebih akurat dalam me-rangking sebuah ‘kata kunci’ dalam hutan belantara dunia maya.

Padahal saat itu, ketika mereka mengembangkan Google, sudah banyak dikenal orang mesin pencari semacam Altavista, Hotbot, dan sebagainya. Tapi Page dan Brin tak berhenti, mereka tetap mendaftarkan domain mereka Google, dan dengan metode unik cara pencarian mereka, Page dan Brin mencoba menawarkan fungsi yang sama kepada khalayak pengguna internet. Dan di awal mereka mendaftarkan domain mereka google.com, tak lebih dari sekedar upaya mereka melakukan serangkaian test terhadap tesis studi mereka. Dari yang semula secara internal di standford.google.com menginduk ke universitas tempat mereka belajar, untuk memperluas studi kasusnya secara eksternal tidak hanya lingkungan kampus mereka.

Ketika itu memang sudah mulai terbentuk sebuah anggapan bahwa search-engine di satu sisi bagi khalayak pengguna adalah sebagai alat bantu pencari informasi. Tapi di sisi lain, bagi pelaku bisnis, search-engine bisa menjadi semacam marketing-tools untuk mempromosikan produk mereka. Sebuah anggapan yang sampai sekarang menjadi sebuah paradigma, sampai kepada pengertian bahwa bila ingin produk anda dikenal di dunia maya, maka banyaklah ‘berteman’ dengan search-engine.

Berawal dari anggapan itulah, situs-situs function-engine yang memang dari awal mengkhususkan diri sebagai search-engine sudah langsung memasang tarip atas jasa diri mereka sebagai salah satu marketing-tools. Sehingga untuk menggenjot pemasukan bagi mereka, para search-engine –selain sebagai search-engine- juga menciptakan tool-tool marketing yang lebih menarik –tinimbang hanya sebatas daftar pada mesin pencari- seperti pop-up banner, atau apa yang mereka istilahkan dengan ‘advertising funded search-engine’.

Page dan Brin tidak begitu saja mengikuti arus pelaku bisnis search-engine. Tampilan dan cara-cara mereka terkesan lebih konservatif. Penyampaian iklan mereka lebih banyak di dominasi oleh –apa yang mereka istilahkan- simple text ads. Sehingga apa yang mereka lakukan di awal sekali dulu, ditanggapi para khalayak –baik pengguna maupun pelaku usaha- lebih banyak sebagai upaya membantu tinimbang sebagai profit oriented bussiness. Para pengguna search engine tidak merasa terganggu, karena iklan-iklan yang muncul terlihat lebih ‘sopan’. Para pelaku bisnis juga merasa nyaman karena awareness terhadap mereka meningkat dengan cara-cara yang tidak dipaksakan. Jadilah mereka sebagai situs search-engine yang dengan cepat dikenal, banyak digunakan, dan dengan cepat pula para pelaku bisnis lebih suka melirik ke Google sebagai partner mereka.

Ketika bisnis mereka mulai tumbuh menjadi sebuah perusahaan yang mapan, membangun kantor, merekrut banyak software-engineer untuk menciptakan inovasi-inovasi baru dalam internet-ads, menyebar jaringan server ke seluruh dunia, apa yang menjadi keunikan mereka adalah ketika mereka berupaya membangun company-culture yang rada beda dengan kebanyakan perusahaan lainnya.

Di sebuah kawasan perkantoran yang mereka namai Googleplex, konon hampir tak ada kesan sebuah kantor konvensional layaknya kegiatan bisnis kebanyakan. Masuk lobi kantor mereka, justru sebuah piano yang terpampang, dan sebuah proyeksi hasil search-query sebagai latar belakangnya. Di hall yang sama, penuh dengan alat olah-raga dan steady-bike yang setiap saat bisa diakses semua karyawannya. Dan di hampir setiap sudut kantor banyak alat-alat hiburan seperti video-game, snack-room, meja ping-pong. Mengapa bisa seperti itu? Mungkin anda bisa sedikit mencari celah jawaban ketika kita mendengar komentar-komentar sang pendiri dalam beberapa wawancara, yang menyampaikan sebuah semangat semacam “..you can be serious without a suit..”, atau hal yang pernah dikatakan Brin, yaitu “..work should be challenging, and the challengge should be fun!..”. Kalau menilik definisi yang pernah disampaikan Andy F.Noya tentang definisi seseorang yang bahagia, adalah orang yang bisa mendapatkan uang untuk menghidupi diri dan keluarganya secara cukup dari pekerjaan yang dia senang melakukannya, maka mungkin Page dan Brin termasuk dalam definisi ini.

Dan kebesaran Google seakan belum juga menemui kejenuhan. Tahun ini saja, tercatat mereka bisa memperoleh revenue lebih dari 20 milyard dollar! Dengan market-share untuk bisnis sejenis lebih dari 50%, mengalahkan Yahoo! Search di urutan ke-dua di hanya 19%.

Kembali ke pertanyaan yang diatas sudah saya sampaikan, apa yang bisa kita pelajari dari mereka? Sebuah talenta yang diasah oleh sebuah kemauan untuk belajar dan ketekunan selalu akan berbuah sebuah kompetensi unik setiap individu. Saya yakin lebih dari dua ratus juta penduduk Indonesia, pastilah banyak yang memiliki talenta-nya masing-masing. Saya yakin banyak diantara mereka yang kemudian tekun mengasah kompetensinya, diantara lalu-lalang berita yang seolah mengindikasikan bangsa kita yang lebih suka demo, menghujat, mengeluh dan meratap pada keadaan maupun pada pemerintah penyelenggara negara.

Dan Page dan Brin, dengan kompetensi unik mereka, tidak serta merta memasang tarip kepada setiap orang yang membutuhkan hasil kreasi mereka. Semangat mereka di awal lebih kepada membantu. Itulah kemudian banyak orang berbondong justru memakai produk mereka! Dan ketika mereka besar dan mulai memiliki karyawan, mereka lebih menganggap karyawan mereka sebagai ‘partner’, yang untuk produktif juga harus diperhatikan kebutuhannya, tidak sekedar hanya sebagai pekerja.

Page dan Brin adalah kisah nyata sebuah kemungkinan. Satu hal yang juga bisa jadi terjadi pada semua orang dengan semangat, kemampuan dan kemauan layaknya mereka. Termasuk kita!

*) Pitoyo Amrih; www.pitoyo.com – home improvement, bersama memberdayakan diri dan keluarga

Telah di baca sebanyak: 233

Internet.., Ancaman atau Kekuatan-kah? (Bag 3)

Seri Membangun Bisnis Dunia Maya (29)

Terasa sekali, mulai sekitar sebulan lalu, kerja laptop saya menjadi amat sangat melambat. Buka file yang biasanya cepat, sejak sebulan lalu terasa berat. Saya juga tidak begitu paham benar mengapa bisa menjadi demikian. Teman-teman saya berpendapat bahwa laptop saya itu sudah terjangkiti banyak virus, worm, spy-ware, dan sebagainya. Akses internet dengan broadband yang biasanya cepat juga seperti menjadi tertatih-tatih. Saya yang sudah memasang jenis free antivirus yang selalu ter-update secara online ternyata belum cukup menangkal itu semua.

Kita manusia kebetulan memang hidup ditengah bermacam ragam sifat dan tabiat manusia. Ada baik, ada jahat, ada yang ramah, ada yang pendendam. Perlu telaahan yang tidak sederhana ketika kita coba memahami orang-orang yang secara sadar dan sengaja menggunakan keahliannya untuk membuat repot orang, seperti para pencipta virus komputer. Tapi itulah yang terjadi, suka atau tidak suka, ada orang-orang seperti mereka hidup di antara kita. Orang seperti ini ada, sama tuanya dengan usia teknologi komputer itu sendiri. Sama seperti sifat buruk dari seseorang, seperti mencuri, membunuh, dan sebagainya, ada dan sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri.

Dulu sekali, ketika komputer masih lebih banyak bersifat stand alone, wabah merebaknya suatu jenis virus komputer juga tak seheboh sekarang. Dulu, bila saja kita selalu disiplin untuk memantau setiap external disc yang dibaca komputer, maka sudah menyumbang solusi yang jitu untuk menangkal virus masuk ke hard disc komputer kita.

Lain dulu, lain sekarang. Saat ini, orang beli atau memiliki komputer, entah itu desktop ataupun mobile, hampir bisa dipastikan bahwa komputer itu nantinya, atau paling tidak direncanakan untuk bisa terkoneksi dengan internet. Ditambah lagi saat ini, banyak sekali provider koneksi internet yang berlomba-lomba memberikan penawaran murah kepada konsumen. Sehingga selain perlu disiplin dalam hal tukar menukar data dari hard-drive, juga kita musti pandai-pandai dalam menyiapkan penangkal dari ancaman luar yang bisa jadi masuk ke dalam komputer dengan memanfaatkan koneksi internet.

Dan dari dunia internet, tidak hanya virus yang memungkinkan merusak kerja software kita yang mengancam! Di sana ada spyware, semacam program yang tiba-tiba masuk ke sistem file kita dan bersembunyi sambil mencatat setiap aktifitas kita terhadap komputer kita, untuk kemudian ‘melaporkan’ ke induk semangnya setiap komputer tersebut terkoneksi, segala apa yang dia catat terhadap kita, yang nantinya akan dipakai untuk kepentingan mereka atas kita. Bisa jadi terjangkiti worm yang memungkinkan terciptanya bug di komputer kita sehingga fungsi-fungsi tertentu tidak berjalan dengan semestinya. Ada Adware, yang kadang membuat kita kesal ketika setiap kali terkoneksi internet, ada saja pop-up windows yang berisi iklan-iklan yang mengganggu aktifitas kita.

Salah seorang teman saya, sampai ada yang memisahkan kegiatannya pada dua komputer yang terpisah. Satu komputer yang memiliki operating system Linux, yang dikoneksi dengan internet. Konon kabarnya, Linux lebih memiliki ketahanan terhadap malware internet. Saya juga tidak tahu persis apakah kabar itu benar atau hanya sekedar mitos. Tapi teman saya itu benar-benar menerapkannya. Sementara satu komputer lagi, yaitu komputer mobile yang dipakainya bekerja, tidak pernah sekalipun di set sebagai komputer terhubung di internet. Transfer file, bila harus download dari internet, dia ambil dari komputer terhubung yang berbasis Linux, masukkan USB drive. Kemudian dia scan antivirus dulu sebelum dipindah ke komputer kerjanya. Cukup merepotkan. Tapi dia merasa nyaman dengan mekanisme kerja demikian.

Sedemikian mengerikankah dunia internet? Apalagi bila saja internet juga menjadi salah satu ladang usaha kita, bukankah justru menjadi tidak efisien ketika kita harus bekerja seperti yang teman saya contohkan di atas? Misal kita punya website, punya online store. Ketika sekarang banyak sekali web-page dan web-store yang sudah dilengkapi CMS sehingga begitu mudah dalam mengoperasikannya, saya yakin semakin banyak webmaster –si administrator pengelola web- justru datang dari orang kebanyakan yang tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang teknis pemrograman. Sehingga hal-hal yang menyangkut masalah sekuriti, mereka serahkan –atau mungkin tepatnya ‘pasrahkan’- saja kepada para webmaster di tingkat penyedia jasa hosting provider, yang tentunya lebih ahli dalam menangani hal-hal teknis.

Beda ceritanya bila sebuah perusahaan ‘brick and click’ yang memiliki kemampuan memperkerjakan orang yang kompeten di teknologi informasi sehingga bisa mengelola selain konten juga hal-hal yang bersifat teknis pemrograman. Bagi ‘brick and click’ skala kecil atau bahkan ‘pure-player’ yang bisa jadi melakukan bisnis di internet secara sambilan, maka masalah sekuriti biasanya memakai strategi ‘gimana nanti sajalah..’ tanpa strategi yang bersifat antisipatif.

Karena bagaimanapun juga, bagi pengelola bisnis online, paling tidak tetap di butuhkan dua ‘wadah’ dalam menyimpan semua konten usahanya. Satu ‘wadah’ yang ada di hosting provider, yang berisi konten-konten yang tertampil di website. Untuk wilayah ini biasanya lebih terkendali masalah keamanannya, karena dukungan support teknis dari penyelenggara layanan hosting. Apalagi bila perusahaan penyedia hosting adalah perusahaan besar dan memiliki kondite yang bagus di kalangan per-hostingan.

Sementara satu wadah lagi, paling tidak kita adakan, di simpan di komputer kita, untuk menyimpan back-up data, data mentah sebelum di upload, simulasi untuk program aplikasi sebelum ditampilkan di website, dan sebagainya. Dan data di komputer kita ini, dari pengalaman saya, justru menyimpan jauh lebih banyak file dan data, daripada yang sudah tertampil di sisi hosting provider. Mau tidak mau, yang ada dalam wadah ini, sesekali waktu harus terkoneksi dengan internet, untuk melakukan upload download ke server di hosting provider. Sesekali waktu kita juga harus browsing mencari bahan update konten yang untuk sementara di download ke komputer kita sebelum diolah untuk bahan update website kita suatu saat kelak. Sehingga justru komputer di ‘wadah’ kedua inilah yang cukup kritis menjadi perhatian kita. Selain karena menyimpan data, praktis komputer ini dikelola oleh kita sendiri yang pengetahuan dalam hal malware tidak sehebat para webmaster di hosting provider.

Sampai di sini, juga seperti cerita saya di awal alenia tadi, sehingga berakhir pada keputusan dimana saya harus mem-format kembali hard-disk komputer saya beberapa hari lalu, kita akan bisa hanyut pada suasana yang mempersepsikan bahwa dunia internet, terutama aktivitas malware yang ada didalamnya adalah sebuah ancaman. Lalu pilihan apa yang tersisa bagi kita?

Apakah kita kemudian memilih untuk menghentikan saja usaha kita di internet? Kembali sebagai ‘brick and mortar’ mungkin? Pilihan ini saya analogikan sama dengan ketika kita belajar mengendara sepeda, kemudian jatuh dan memilih untuk tidak lagi pernah naik sepeda. Kita bisa memilih bersikap seperti yang dicontohkan teman saya dengan ekstra hati-hati dalam melakukan pekerjaannya terkait distribusi file dan data komputer. Dengan cara ini bagi anda yang memiliki usaha di internet, jadinya paling tidak perlu tiga wadah untuk mengalokasikan semua pekerjaan anda.

Tapi ada satu lagi kemungkinan. Dan justru kemungkinan ini yang bisa jadi ancaman-ancaman malware di internet akan memberi kita kekuatan. Seperti tubuh kita yang terserang virus justru meningkatkan antibodi tubuh kita yang menambah kekuatan. Tapi bedanya, antibodi yang terjadi bukannya secara otomatis muncul di komputer kita, tapi antibodi yang terjadi adalah berupa pengkayaan wawasan kita terhadap hal itu, keberanian kita untuk mengambil langkah usaha di internet, dan semakin meningkatkan kehati-hatian kita dalam berinteraksi di dunia maya. Yaitu pilihan untuk tetap berjalan!

Saya sempat harus melakukan pertimbangan yang panjang untuk mengambil keputusan memformat kembali hard-disk di komputer saya. Karena konsekuensinya, saya harus menata ulang kembali file-file data dan kerja saya selama sekian tahun yang jumlahnya mungkin mencapai puluhan ribu. Tapi setelah itu semua dilalui,.. selain laptop saya dalam bekerja dan terkoneksi seperti menjadi ringan, juga semakin memberi saya kekuatan, bahwa kendala apapun untuk melakukan usaha di internet bisa kita atasi bila kita konsisten untuk selalu melangkah…

*) 29 Juni 2009; Pitoyo Amrih – www.pitoyo.com – home improvement, bersama memberdayakan diri dan keluarga

Telah di baca sebanyak: 202

Internet… Ancaman atau Kekuatan-kah? (Bag 2)

Seri Membangun Bisnis Dunia Maya (28)

Kita semua prihatin, ketika sejarah kehidupan budaya kita diisi oleh sebuah kejadian yang sebetulnya lucu, lucu karena secara nalar pikiran kita harusnya kejadian ini hanyalah sebuah dongeng satir yang disangat-sangatkan. Tapi sekaligus mengharukan. Mengharukan karena kejadian yang menurut sangkaan orang hanya sebuah cerita ini, ternyata benar-benar terjadi di kehidupan kita. Seorang konsumen, bernama bu Prita, yang berkeluh kesah atas pelayanan jasa yang diterimanya,.. eh, dalam waktu yang super cepat, masuk tahanan! Mungkin beliau tidak akan segera masuk bui bilasaja keluh kesah itu ditulis di media cetak, atau mungkin ditulis di selebaran-selebaran, atau mungkin lewat cerita dari mulut ke mulut. Kebetulan keluh kesah itu ditulis lewat e-mail. Dan semakin aneh, ketika sebuah undang-undang yang memayungi kegiatan dunia maya, dan seharusnya menjamin keamanan setiap warga negara melakukan kegiatannya di internet, justru menjadi alat untuk menjerat, sehingga membuatnya segera masuk tahanan.

Dalam sebuah wawancara di televisi, sebuah ungkapan polos dan terlihat berkas trauma yang dalam, beliau menyampaikan bahwa sampai saat ini masih trauma untuk menulis e-mail, bahkan masih merasa takut berkomunikasi via internet.

Walaupun akhirnya secara kolektif, negara dalam hal ini, menyadari kesalahannya dan dengan segera melakukan koreksi, dan buru-buru memberikan pernyataan bahwa pihak jaksa penuntut adalah sebagai oknum yang bertindak kurang profesional. Tetap saja memberi kita kesimpulan sementara, bahwa bisa jadi sebagian abdi negara, yang seharusnya melayani masyarakat kita, ada yang masih melihat dan setuju bahwa internet bisa menjadi sebuah ancaman! Dan ini sebenarnya sekaligus menjadi cermin bagi budaya masyarakat kita semua bahwa memang benar, ada sebagian masyarakat kita yang melihat bahwa internet adalah sesuatu yang ada di luar sana dan menjadi ancaman, bukan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri kita dan menjadi kekuatan. Anda bisa tengok artikel saya sebelumnya agar bisa lebih mudah memahami apa yang saya maksud, meminjam istilah ancaman dan kekuatan dari teorinya SWOT.

Sekali lagi harus saya katakan, kalau boleh saya mencoba secara ekstrim menggambarkan internet ini. Internet yang semula hanya ‘sekedar’ sebuah tools, saat ini sudah menjadi budaya dan bagian dari kehidupan. Dan pertumbuhan pengguna internet, kalau kita coba menengok dan membandingkan dengan bagaimana telepon tersosialisasikan, atau faximile yang berevolusi, budaya pengguna dan pengakses dunia maya bagai air bah yang mempengaruhi orang begitu cepat.

Tentunya akan jadi aneh bila kita masih juga tetap menganggap internet adalah sebuah ancaman, sesuatu diluar sana yang bisa merusak kondisi equilibrium perikehidupan kita. Seperti sebuah analogi air bah, bila sang air bah datang dan segera pergi mungkin tetap kita akan melihatnya sebagai ancaman, tapi bilasaja air bah itu tetap datang dan selalu menggenangi kita, maka pilihan bagi kita adalah berusaha menggeser paradigma kita dan dengan segera membiasakan diri dengan adanya air bah, mencoba memahaminya, belajar darinya, hidup bersamanya, memanfaatkan apa yang bisa dimanfaatkan darinya, dan menjadikan itu bagian dari diri kita, yang menjadi kekuatan dalam membantu keseharian kita. Tapi rupanya sebagian dari kita masih tergagap-gagap akan apa yang terjadi. Ketika sebagian orang sudah menganggap air bah sudah menjadi keseharian mereka, sebagian dari kita tidak juga kunjung merubah paradigma, dan tetap melihat internet sebagai sebuah ancaman akan kemungkinan bencana.

Ini seperti pengalaman saya dengan salah satu teman saya, yang waktu itu sekitar delapan tahun lalu mencoba mengawali untuk belajar tentang apa itu internet, e-commerce, pembuatan website dan sebagainya. Dia kebetulan adalah seorang brick and mortar, pelaku usaha yang cukup lumayan menekuni bisnisnya di dunia nyata, dan ketika itu, tertarik untuk mulai melebarkan usahanya masuk ke dunia maya. Mencoba menjadi brick and click atas usahanya. Sementara waktu itu, pada saat yang sama, saya dan istri saya, mencoba mengawali usaha di internet sebagai pure-player.

Waktu itu, tidak seperti saat ini, penyedia layanan hosting masih hitungan jari dan hanya dikuasai oleh perusahaan besar. Pengurusan nama domain juga masih dilingkupi perasaan harap-harap cemas, apakah benar pembayaran domain lewat kartu kredit via internet kepada siapa entah dimana, akan benar-benar mendapatkan nama domain secara legal. Saya dan teman saya sama-sama belajar. Tanya sana tanya sini, browsing sana browsing sini. Sampailah kemudian, ketika itu kita harus belajar membuat sebuah website.

Tidak seperti sekarang, yang banyak ditawarkan CMS (Content Management System) jadi yang tinggal pakai dan sangat user friendly seperti Joomla, Mambo, phpNuke, dan sebagainya, saat itu benar-benar seperti hutan. Sepertinya semua orang masih mengembangkan. Yang populer saat itu adalah pembuatan website dengan Microsoft Frontpage yang sudah pasti banyak orang terkendala oleh masalah lisensi. Sementara yang bersifat open-source dengan php, saat itu, masih bak jamur yang berwujud spora tumbuh di sana sini, menayangkannya di internet, dan tak ada yang mengklaim bahwa apa yang mereka buat siap pakai dan bisa langsung dimanfaatkan. Yang kemudian orang lakukan adalah, ambil sana, ambil sini sebagian, di kompilasi, tambahi modul program php untuk fungsi tertentu, ambil dari tempat lain lagi, dijadikan satu, sisip sana sisip sini, demikian seterusnya, sehingga jadilah sebuah website, yang mungkin juga lengkap dengan content management, yang sifatnya belum universal dan hanya bisa digunakan dan dimanfaatkan oleh sang pencipta sendiri.

Dalam situasi seperti itu, saya dan teman saya coba kembangkan sendiri segala apa yang kita dapat. Tiba-tiba, di tengah jalan, dia berhenti, “..susah.., .. udah mentok..”, demikian katanya ketika itu suatu ketika, saat menghadapi masalah bug pada program buatannya. Sejak itu kami hampir tak pernah ketemu. Dan saat ini, lebih dari enam tahun kemudian, saya mendengar bahwa teman saya itu, masih merasa nyaman berada di brick and mortar. Walaupun saat ini, sudah banyak program pembuatan website yang mudah, atau mungkin bagi dia tidak susah untuk memperkerjakan lulusan internet programmer untuk menjadikan usahanya sebuah brick and click.

Memang, bagaimana pun, apakah sebuah usaha akan juga merambah ke dunia maya atau tidak, tetap merupakan sebuah pilihan. Orang boleh saja mempertahankan usahanya dan maju tanpa harus masuk ke ‘pergaulan’ dunia maya. Tapi,.. bahkan bagi orang yang tidak melebarkan networking-nya di dunia maya pun, tidak seharusnya menjadikan internet sebagai sebuah ancaman. Sehingga ketika suatu saat ada orang yang merasa perlu untuk masuk terhubung menjadi komunitas di dunia maya, saat itu pula dia seharusnya sudah mulai menggeser paradigma-nya untuk menjadikan internet sebagai sebuah kekuatan. Sesuatu yang menjadi bagian dari dirinya, dan siap untuk mendapatkan manfaat darinya.

Sekitar enam tahun lalu, teman saya yang saya ceritakan di atas, sang brick and mortar, saat itu merasa belum berhasil melihat internet sebagai sebuah kekuatan, walaupun masih mending dia tidak sepenuhnya melihat bahwa internet sebagai sebuah ancaman. Tapi yang membuat sedikit agak prihatin, adalah bahwa saat ini, enam tahun kemudian, ternyata masih ada orang yang melihat internet, tidak hanya internet sebagai sesuatu hal yang menjadi bagian dari kekuatan, tapi lebih menyedihkan lagi, melihat komunikasi dunia maya sebagai sebuah ancaman. Sehingga harus membuat bu Prita menjalani kehidupan di tahanan. Yang berdampak kepadanya saat ini, untuk sementara waktu, bahkan bu Prita juga harus melihat internet –juga- merupakan hal yang mengancam ketenangan kehidupannya.

Saya hanya ingin menyampaikan, daripada kita sibuk berfokus pada hal-hal yang mungkin memberi ancaman atas interaksi kita di dunia maya, mengapa tidak kita coba mencari hal-hal yang bisa dimanfaatkan dan menjadikan internet sebagai kekuatan kita. Tapi mungkin tetap saja belum cukup, atas apa yang saya lihat pada sebagian besar masyarakat pengguna internet di negara kita. Rata-rata mereka tidak melihat internet sebagai sebuah ancaman, tapi sekian lama berinteraksi di internet, tidak kunjung juga mencari hal yang bisa bermanfaat atas interaksinya di internet, sehingga dapat memberi kekuatan.. baik dalam rangka pemberdayaan diri mereka, ataupun perbaikan dari sisi sosial ekonominya..

* Pitoyo Amrih; www.pitoyo.com – home improvement – bersama memberdayakan diri dan keluarga

Telah di baca sebanyak: 236

Internet … Ancaman atau Kekuatan-kah? (Bag 1)

Terkadang, jarak antara ancaman (baca: Threat) dan kekuatan (baca: Strength) memang begitu tipis. Dan kita bisa melihatnya dari mana saja kaca mata akan kita tempatkan. Saya yakin anda sependapat dengan saya terutama bagi anda yang pernah mencoba memahami makna akan pemetaan SWOT (Strength-Weakness-Oportunity-Threat). Strength atau kekuatan, dan Weakness atau kelemahan, adalah sesuatu yang berada pada lingkup diri kita, apa yang ada pada lingkup lingkaran pengaruh kita, kalau saya boleh meminjam istilahnya Stephen Covey. Sedang Oportunity atau kesempatan, dan Threat atau ancaman, adalah sesuatu diluar sana, di luar diri kita yang bisa jadi akan memberi dampak ke kita, dampak baik akan memberi kita kesempatan, potensi dampak buruk adalah sebuah ancaman.

Saya tidak akan terlalu jauh bicara mengenai SWOT sendiri, karena saya yakin setiap orang bisa memetakan dan merenungi setiap SWOT bagi dirinya, dari sisi mana pun kita memandang. Apa yang saya sampaikan diatas mengenai jarak yang begitu dekat –sehingga terkadang kita susah membuat batas jelas diantaranya- antara ancaman dan kekuatan, adalah apa yang pertama kali muncul di benak saya akan maraknya pro dan kontra jejaring sosial di dunia maya. Ide pertama kali muncul menggema dan banyak dikenal anak muda melalui friendster.com. Diikuti kemudian oleh banyak pengekornya dengan ide unik yang ditawarkan, dengan segmen pasar dan member yang di-‘lebih kentara’-kan. MySpace.com, kemudian Goodreads.com pada jejaring penyuka buku, Flixter.com bagi para maniak film, Linkedin.com untuk –dimaksudkan- para profesional, dan banyak lagi lainnya, jejaring pertemanan yang mungkin hanya pada member terbatas, sampai yang menjangkau wilayah antar negara.

Ketika era gema pertemanan di friendster.com terdengar dimana-mana, sepertinya hal ini tidak begitu memberi ancaman bagi kita semua. Karena kalau ditelisik, ‘pasar’ atau member friendster kebanyakan adalah para remaja. Pelajar, atau paling pol mahasiswa. Mungkin satu dua ada juga para profesional, tapi rata-rata mereka menjadi malu sendiri ketika disadari bahwa yang mendominasi para friendster ternyata adalah para remaja dibawah usia tiga puluhan.

Tapi kali ini muncul era baru bagi function engine sejenis … Facebook.com! Dan gaungnya ternyata lebih hebat dari sekedar yang terjadi pada eranya friendster beberapa waktu lalu. Modul dan komponen pada Facebook lebih lengkap. Aplikasi yang terpasang disana lebih user-friendly, bahkan setiap member bisa membuat aplikasi sendiri. Dan yang lebih menarik, entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba dengan facebook.com ini, orang cenderung untuk menampilkan dirinya sendiri. Kalau dulu, tampil di jejaring dunia maya, orang-orang lebih suka memakai foto avatar, dan ungkapan yang disampaikan pun terkesan polesan. Di facebook, entah awalnya bagaimana, terasa lebih ‘ngeh’ kalau foto yang ditampilkan adalah foto diri yang sebenarnya, dan ada fasilitas wall di sana, di mana semua orang tiba-tiba menjadi jujur dan mudah untuk berbagi, bahkan kepada orang yang sama sekali belum pernah dijumpainya!

Kehebohan ini ditopang oleh berita-berita yang mengulas tentangnya di luar internet. Di TV, tak habis-habisnya orang bicara tentang facebook. Bahkan ada sebuah acara talkshow salah satu stasiun televisi, yang dihadiri nara sumber yang hampir semua adalah anggota dewan terhormat, dan sepanjang acara bicara tentang facebook! Belum lagi ulasan di koran, tabloid-tabloid, beberapa majalah. Membuat facebook semakin dikenal, orang yang belum bergabung menjadi merasa ketinggalan, mereka berbondong-bondong menjadi member-nya, dan berusaha merasa asik dengannya.

Hal inilah yang kemudian membuat sebagian khalayak menjadi merasa gerah karenanya. Sebuah budaya yang datang begitu tiba-tiba, gegap gempita, dan membuat sebagian dari kita tergopoh-gopoh dan sebagian lagi merasa curiga. Terjadi pada para bos dan pemilik perusahaan pada karyawan-karyawan mereka, terjadi pada para pengelola sekolah terhadap tenaga guru mereka, kecurigaan yang menjangkiti suami atau istri terhadap pasangan-pasangan mereka.

Menurut saya, facebook tetaplah facebook. Bagi Mark Zuckenberg sendiri, dipuja ataupun dicerca, dia tetap tersenyum, karena facebook baginya adalah sebuah tempat berkarya dan sumber penghasilan. Dan semua itu tetap berpulang kepada kita apakah kita akan melihatnya sebagai ancaman? Atau sebuah kekuatan? Yang menurut saya menjadi aneh dan berlebihan, ketika saya mendengar berita terbaru hari ini, bahwa ada sebuah pertemuan pengelola sebuah pondok pesantren di Jawa Timur yang sampai harus mengeluarkan fatwa haram kepada facebook!

Bagi sebuah pemilik perusahaan, karyawan –seharusnya- adalah sebuah kekuatan. Lalu ketika definisi itu saya perlebar, karyawan yang ber-facebook (menjadi member facebook), karena facebook itu bisa dimana saja, via notebook, mobile-phone, komputer terhubung di meja kerja, dan tidak mungkin setiap pengusaha harus menyediakan sumber daya untuk memelototi kerja karyawannya selama jam kantor, akankah sang karyawan ini –masih- menjadi kekuatan, atau mulai berubah menjadi ancaman? Dan lucunya, seperti terminologinya, kekuatan adalah sesuatu yang ada di dalam lingkup lingkaran pengaruh kita, sedang ancaman adalah sesuatu yang ada diluar sana –yang mungkin tidak bisa kendalikan-. Sang pengusaha akan tetap melihat sang karyawan –ber-facebook- sebagai kekuatannya, ketika mereka melihat si karyawan –masih- sebagai bagian dari dirinya. Dan akan mulai menganggapnya sebagai ancaman ketika justru melihat si karyawan sudah mulai berada di luar lingkup lingkaran pengaruhnya. Logika ini bisa dibalik dan sama keadaannya ketika karyawan yang merasa perlu –bukan karena ingin- menjadi member facebook, melihat bos mereka sebagai kekuatan –tetap berada dipihaknya-, atau sebagai ancaman –orang yang selalu mengawasi gerak-geriknya-.

Ini seperti ketika kita mendengar ada sebuah berita di Inggris, dimana seorang istri menggugat cerai suaminya, gara-gara, sang suami menghapus profile ‘married’ di account facebook-nya. Kita mungkin tidak bisa secara akurat menilai kejadian ini, karena kita tidak tahu persis kejadian sebenarnya dan bagaimana hubungan sang suami istri itu sebelum mereka memiliki account facebook. Sehingga, apakah ancaman itu memang muncul ketika mereka berfacebook ria, atau sebenarnya mereka sudah saling merasa terancam sebelumnya.

Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, facebook adalah facebook. Kita tidak bisa mengisolasi diri kita terhadap teknologi. Hanya tantangannya kemudian adalah, bagaimana sebuah kekuatan –potensi yang kita miliki- akan tetap menjadi kekuatan, dengan atau tanpa facebook. Dan bilasaja suatu saat kita menganggap pada sebuah sudut pandang tertentu, teknologi sebagai ancaman, maka justru tantangannya adalah bagaimana kita semakin memaksimalkan kekuatan -dari dalam lingkaran pengaruh- kita untuk bisa meminimalkan ancaman –dari luar diri kita-. Hmm, ..terdengar klasik memang, seperti teorinya SWOT, tapi memang begitulah esensinya.

Dan diantara berita miring itu, saya masih mendengar ada seorang karyawan yang dipercaya perusahaannya, dan sang karyawan begitu memegang teguh kepercayaan yang diberikan kepadanya. Dan yang terjadi adalah, sang karyawan sebagai member facebook, berupaya memaksimalkan segala aplikasi dan fasilitas di facebook untuk memajukan dan mempromosikan produk perusahaan tempatnya berkerja. Dia membentuk group yang memfasilitasi komunikasi para konsumennya, mendiskusikan kelebihan produknya, dan menerima komplain bilasaja ada konsumen yang kecewa. Dia memanfaatkan modul-modul advertising di facebook, yang bagi sebuah perusahaan besar, promosi banner di jejaring ratusan juta member itu, biaya pay-per-click yang ditawarkan seperti tak ada artinya. Dia juga membuat company profile di facebook sebagai representasi dari perusahaan tempatnya bekerja. Dan hebatnya, dia seolah selalu menjadi advertiser di setiap wall-nya, komentar-nya, foto-foto dan video yang di-uploadnya.

Guru-guru di sekolah anak saya, juga membentuk jejaring, yang setiap saat mereka selalu menyapa kita para orang tua, terkadang memberi masukan tentang bagaimana anak kita di sekolah. Sesekali juga pernah mengingatkan sekali lagi akan tugas-tugas yang harus dibawa anak-anak besok harinya di sekolah. Atau saya perhatikan, salah satu teman saya di facebook kebetulan adalah seorang dosen. Beliau begitu membuka diri terhadap para mahasiswa-nya dan dia memanfaatkan betul facebook sebagai media komunikasi dengan para mahasiswa-nya. Seolah dengan facebook mereka berusaha menambal lubang-lubang komunikasi mereka di kampus, yang terkadang terkendala oleh kekakuan budaya antara seorang dosen dengan mahasiswanya. Dari sisi pandang ini, saya melihat internet akan semakin memberi kekuatan kepada kita, tinimbang kecurigaan kita yang menganggapnya sebagai sebuah ancaman.

Cerita diatas adalah contoh bagaimana kita melihat internet dari sisi sosial budaya. Tentunya bila kita memandang internet sebagai salah satu ‘ladang’ kita bercocok tanam untuk membuka usaha, akan semakin besar tantangan buat kita untuk membuatnya sebagai bagian dari kekuatan. (bersambung)

* Pitoyo Amrih; www.pitoyo.com – home improvement, bersama memberdayakan diri dan keluarga

Telah di baca sebanyak: 237

Next Page »

Top