Jangan Menyerah
September 20, 2010 by admin
Filed under Surya Rachmannuh
Pada masa perang dunia kedua, Perdana Menteri Inggris yang bernama Sir Winston Churchill memberikan sebuah pidato singkat namun sarat makna yaitu “Never Give Up” atau Jangan menyerah. Pidato singkat ini mampu membangkitkan semangat juang prajurit Inggris yang kala itu sedang melawan agresi yang dilakukan oleh bangsa Jerman dan sekutunya sehingga bangsa Inggris mengalami kemenangan dan mencatat sejarah dalam dunia ini.
Pesan ini juga sangat bermanfaat bagi kita semua, apalagi di saat kita sedang menghadapi ujian persoalan dalam sekolah kehidupan ini. JANGAN MENYERAH. Sekali lagi ditekankan, JANGAN MENYERAH.
Kehidupan mempunyai pasang naik dan pasang surut, ada masa kejayaan dan ada masa kita harus bercermin atau melakukan refleksi diri. Namun, apapun persoalan yang menghimpit kita, jangan menyerah. Ketika lidah terasa kelu, tak mampu berkata apa-apa dan air matapun tak sempat mengalir karena ego yang menahan perasaan kita, atau apa pun itu…
Jangan menyerah.
Semangat untuk hidup atau survival adalah modal dasar dalam mengarungi kehidupan ini. Bila ada sekumpulan kata-kata bijak yang ada di dunia ini diringkas menjadi sebuah buku, dan diringkas lagi menjadi sebuah halaman, diringkas lagi menjadi sebuah paragraph, diringkas menjadi sebuah kalimat dan terakhir diringkas menjadi sebuah kata, maka kata itu dalam bahasa Inggris adalah survival atau semangat untuk hidup.
Jadi, semangat untuk hidup adalah kebutuhan mendasar kita. Tidak peduli berapa kali kita mengalami kegagalan, tetaplah berdiri tegar menghadapi ujian kehidupan kita. Anggaplah semua itu sebagai pemurnian hati kita yang tercermin lewat sikap dan perbuatan kita. Belajarlah menjadi orang yang proaktif dan asertif. Proaktif dalam arti mengambil tanggung jawab 100% atas segala yang telah terjadi dan siap menanggung segala konsekuensinya dan asertif adalah memiliki kesamaan hak atas kegagalan yang telah terjadi. Kebanyakan dari kita larut dalam kegagalan, mengasihani diri bahkan cenderung menghakimi diri atas kejadian yang sudah terjadi di masa yang lalu.
Itu sudah terjadi dan berakhir.
Sun Yat Sen, salah seorang pendiri negara Taiwan pernah berkata,”Bukan karena anda jujur anda mengalami begitu banyak persoalan, melainkan anda kurang hati-hati di dalam mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan resiko yang terjadi di masa datang”.
Jadi, jangan menyerah. Jujurlah kepada diri kita sendiri. Pelajari apa yang kurang sempurna dan lakukan yang terbaik dengan cara belajar dari kegagalan. Sesungguhnya, kita banyak belajar dari kegagalan kita dan bukan dari kesuksesan kita. Jadikan kegagalan sebagai batu loncatan kita untuk menggapai cita-cita dan kesuksesan sejati dari apa yang telah kita inginkan sekian lama.
Buatlah itu terjadi. Make it Happen.
*) Surya D. Rachmannuh adalah seorang praktisi HR, Manajemen Mutu, Auditing and Competency Based training yang bertujuan untuk membantu orang mengembangkan potensinya secara maksimal. Surya mempunyai sertifikasi Internal Quality Auditor dari Neville Clarke, Lead Auditor dari SGS, Problem Solving and Decision Making dari Kepner Tregoe, CPHR dari SHRM. Surya dapat dihubungi di 0819 3210 5388 atau melalui email di dsuryar@gmail.com
Telah di baca sebanyak: 35Proses Menuju Sukses Sejati
March 23, 2010 by admin
Filed under Surya Rachmannuh

Ada pendapat yang mengatakan sukses adalah sebuah perjalanan. Ada juga pendapat lain yang mengatakan, bila Anda sukses maka Anda pasti bahagia atau Anda harus bahagia dulu baru Anda akan mendapatkan sukses yang anda inginkan.
Saya tidak ingin menambah daftar panjang tentang definisi kesuksesan bagi kita semua. Bagi saya secara pribadi, sukses ukurannya adalah kemampuan kita mencapai potensi kita secara optimal sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Tentu saja untuk mengembangkan kapasitas dibutuhkan sebuah “proses” yang korelasi dengan pernyataan bahwa sukses adalah sebuah perjalanan, di dalam arti untuk mencapai sebuah sukses besar kita harus mempersiapkan diri kita secara pribadi secara optimal, mampu menjelaskan visi dan misi kita kepada orang lain supaya orang lain tergerak untuk mencapai sasaran bersama sebagai sukses-sukses kecil kita yang nanti akan bertambah besar kapasitasnya menjadi sukses yang besar dalam hal fisik, mental, dan spiritual.
Mari sekarang kita menelaah diri kita sendiri, apakah sukses sekarang yang sudah Anda raih ini adalah sukses sejati yang memang Anda rencanakan sendiri atau sekedar memenuhi target perusahaan atau orang lain belaka yang memang diukur dengan berapa banyak materi yang mereka miliki dan ini sama sekali tidak salah, sepanjang kita tidak melupakan pengembangan aspek mental dengan cara belajar tanpa henti, baik lewat hasil pencapaian dan kegagalan-kegagalan kita dalam proses kita menuju sukses kita.
Bila saya boleh mengatakan ada lima tahapan di dalam anda menuju sukses, sudahkah Anda memberikan pengukuran pada masing-masing tahapan di dalam menuju sukses dan yang paling mudah pengukuran hasil akhir yang saya ingin bagikan lewat pengalaman saya dulu sebagai seorang “Certified Webmaster” di tahun 2001-2004 sebelum alih profesi menjadi Trainer sebagai berikut:
Di awal mula saya membuat sebuah “web” hanya dengan menggunakan Adobe Photoshop dan notepad, saya berhasil membuat sebuah website sederhana selama kurang lebih tiga bulan, setiap hari saya mengasah kemampuan saya dengan target dua bulan, satu bulan, satu minggu, tiga hari, satu hari dengan menggunakan perangkat pengetahuan dan teknologi, sampai puncaknya adalah menyelenggarakan sebuah seminar pembuatan website sederhana selama satu hari dan saya juga menyertakan cara membuatnya dengan rekaman video sehingga para peserta dapat mengulangnya kembali di rumah sehingga dengan satu kata saja bagi para peserta bila mereka tidak dapat membuatnya adalah kata “MALAS”.
Bagi saya, cerita sukses di atas adalah sebuah proses menuju sukses yang sebenarnya seperti yang saya katakan diatas yaitu optimalisasi di bidang fisik, mental, dan spiritual. Saya ingin menyinggung sedikit berkaitan dengan masalah sukses yang berlaku universal dalam bidang spiritual adalah “passion” atau semangat yang tak kunjung padam. Passion sangat penting tidak hanya mencakup masalah kesuksesan melainkan mencakup masalah kehidupan itu sendiri.
Passion dapat berupa sebuah motivasi, sikap mental positif, semangat atau apapun istilahnya yang terpenting adalah keinginan manusia itu sendiri untuk dapat bertahan hidup, berusaha dan berkembang supaya menjadi seorang pribadi yang lebih baik dan bijaksana.
Mempunyai “Passion” saya tidak cukup. Kita perlu mengasah kemampuan mental kita dengan membaca buku, mengikuti seminar dan belajar kepada orang lain bahkan seorang anak kecil sekalipun dapat menjadi guru bagi kita dalam hal ketulusan, keinginan bekerja sama dan banyak hal lain yang dapat menjadi refleksi bagi kita bagaimana sikap dan tingkah laku kita sebagai anak agar dicintai orang tuanya, sikap itu pulah yang dapat kita kembangkan di dunia kerja kita bagaimana menyenangkan atasan, rekan kerja kita yang baik secara langsung atau tidak langsung akan mendukung sukses besar anda sendiri nantinya. Ingat kembali, apa yang kita tabur itu pulalah yang akan kita tuai. Biarlah benih kebaikan kita yang kita tabur, tumbuh subur di hati orang lain sehingga manakala kita membutuhkan kita juga dapat mendapatkan pertolongan dari orang lain juga. Sederhana dan masuk akal kan?
Saya ingin memberikan kembali sebuah ilustrasi tentang kaitan ”Passion” dan ”Direction” atau tujuan. Di dalam dunia bekerja, berbicara kepada atasan mengenai tentang sebuah tujuan jauh lebih penting daripada sikap mental positif dalam bekerja. Sebagai contoh, atasan anda menginginkan sebuah pekerjaan ”A” sebagai prioritas utama dikerjakan, namun anda sibuk dengan menyelesaikan pekerjaan lain yang bukan menjadi keinginan atasan Anda yang akan menyebabkan atasan Anda menjadi kecewa sehingga kredibilitas Anda di mata dia menjadi berkurang. Sekali lagi, membuka percakapan tentang bagaimana kita membantu atasan jauh lebih penting dibandingkan dengan sebuah pekerjaan dengan hasil terbaik namun tidak dibutuhkan oleh atasan anda saat itu. Prioritas lebih penting daripada kesempurnaan bekerja.
Bagian ketiga dari proses menuju kesuksesan adalah tindakan atau ”ACTION”.
Bagian inilah yang sering ditawarkan banyak motivator yaitu dengan melakukan tindakan yang telah terbukti membawa anda menuju sukses sesuai dengan ”cara” yang mereka tawarkan, bagian ini adalah yang memang terukur dan sampai tingkat aplikasi sehingga dapat dibuktikan lewat presentasi data, demo, atau bentuk kesuksesan yang mereka tawarkan.
Bagian ini penting, namun yang terpenting adalah apakah sukses dalam bidang fisik atau finansial anda seimbang dengan sukses anda di bidang mental dan spiritual anda yang merupakan bagian yang tidak mudah diukur.
Coba kita lihat karya-karya orang ternama seperti Leonardo Da Vinci, Michael Angelo dan masih banyak lagi karya abadi sepanjang masa, bila diukur secara materi sekarang saja harganya sudah tinggi apalagi bila kita melihat dari segi mental dan spiritual, anda akan menemukan ”passion” atau hasrat 100% di dalamnya, dan inilah kunci sukses sejati seorang sebagai seorang pribadi.
Oleh karena itu, mari kita tidak terlena dengan mengukur kesuksesan berdasarkan apa yang diukur dunia lewat materi belaka, namun kita sebagai pemimpin belajar mencari dan menemukan orang-orang yang bekerja secara luar biasa dengan atau tanpa pengawasan kita yaitu orang-orang yang mempunyai ”passion” pada profesinya sampai ”trance” di dalamnya, dan perhatikanlah, cepat atau lambat orang-orang itulah yang akan mencapai kesuksesan di masa yang akan datang.
Sebuah balon gas dapat terbang tinggi diangkasa, bukan dikarenakan oleh rupa warnanya, seberapa tinggi mereka dapat terbang ditentukan oleh ”gas” yang ada didalamnya. Demikian juga dengan kita, sejauh mana kita akan sukses ditentukan oleh ”passion” atau semangat tak kunjung padam dalam diri setiap pribadi yang selalu mengasah ketrampilannya didalam menuju sukses baik secara fisik, mental dan spiritual.
Happy Leadership
*) Surya Rachmannuh, penulis kolom tetap di www.pembelajar.com ini adalah praktisi training dalam bidang pelayanan prima, personal effectiveness, problem solving and decision making, pelatihan Leadership dan Management lainnya. Certified Lead Auditor dan Webmaster ini dapat dihubungi di Hp : 0819 3210 5388 atau www.webiddesign.com, surya.rachmannuh@yahoo.co.id, suryarachmannuh.blogspot.com
Telah di baca sebanyak: 9Persiapkan Diri Anda
February 15, 2010 by admin
Filed under Surya Rachmannuh

Apakah Anda pernah memainkan permainan “7 Booms”? Sebuah permainan yang diawali dengan berhitung di mulai dari angka 1,2,3 dan seterusnya secara bergiliran sesuai dengan jumlah kelompok, dimana setiap ada angka 7 dan kelipatan 7, maka peserta yang mendapatkan angka tersebut harus mengubah angka 7 tersebut menjadi “Boom”.
Contoh : 1,2,3,4,5,6, boom, 8, 9, 10, 11, 12, 13, boom, 15, 16 boom, 18, 19, 20, boom, 22, 23, 24, 24, 26, boom, boom dst.
Setiap anggota yang salah baik salah urut atau latah, maka dikeluarkan dari permainan dan hitungan dimulai kembali dari angka 1. Permainan selesai bila sudah didapatkan pertarungan final antara dua orang atau permainan disudahkan bila waktu yang dibutuhkan tidak memadai.
Permainan ini terbilang sederhana, namun dapat menimbulkan ketegangan. Permainan ini memerlukan konsentrasi yang tinggi, apalagi di pandu oleh fasilitator yang dapat menunjuk siapa saja secara acak, maka ketegangan semakin tinggi karena kita tidak dapat memperkirakan “siapa” kira-kira yang mendapatkan giliran dan angka boom.
Permainan ini baik untuk membina kebersamaan dalam waktu yang singkat terutama pada awal-awal pelatihan. Pernah sekali waktu saya memainkan permainan ini, saya merasa superior atau mampu menargetkan kemenangan dengan maksud ingin menunjukkan betapa pintarnya saya memainkan permainan ini, dan pernah juga saya merasa inferior ketika menyembutkan angka 4 menjadi emmmpat, hanya selisih sekian milidetik, saya terlambat merespon perintah yang diberikan kepada saya akibatnya saya keluar dari permainan dan sulit bagi diri saya untuk memaafkan diri atas kekurang tanggapan respon, malah mencari alasan pembenaran atas kesalah saya dan minta diulang, dan tentu saja tidak dikabuli karena aturan main harus ditegakkan bukan?
Nah, sekarang saya menyarankan Anda untuk mencoba permainan “7 Boom” tersebut karena lewat permainan ini kita dapat menyimpulkan beberapa tips yang dapat kita pratikkan di dunia kerja kita sebagai berikut :
1. Penting bagi kita untuk mengetahui aturan permainan (Rule of the game)
2. Mengikuti alur permainan dan memperhatikan setiap tindakan dan instruksi yang diberikan pemimpin kapan waktunya bagi kita untuk beraksi. Menyebut urutan angkan atau “BOOM”
3. Mengatasi ketegangan dengan cara mempelajari dan berlatih untuk menguasai permainan itu dengan seksama
Dari ketiga tips di atas, tips ketiga adalah tips bagi kita untuk selalu waspada dengan cara melakukan persiapan atas segala kemampuan yang Anda tekuni saat ini.
Bila Anda seorang sales dan marketing, makan mempersiapkan proposal penjualan lengkap harus selalu tersedia di dalam tas Anda. Mungkin juga Anda harus memperbaiki proses kerja yang ada saat ini atau mempersiapkan diri untuk menerima order mendadak dari potensial pelanggan lewat telepon, SMS, dan email.
Kuncinya adalah “dealing bisnis” yang dipersiapkan supaya Anda terkesan profesional dan Anda hampir selalu dapat menjadi partner solusi bagi mereka.
Lewat pengalaman saya sendiri sebagai seorang trainer, pada bulan Februari 2009 saya dipercaya untuk membuat “Movie Presentation” oleh Presiden Direktur sebuah perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia karena saya mempunyai kemampuan dalam bidang itu dan dapat menyelesaikan dalam waktu yang singkat tanpa mengurangi mutu presentasinya. Saya dapat melakukan hal itu karena saya telah menghabiskan waktu untuk belajar, meriset, sampai menemukan pola tercepat untuk membuat presentasi video sehingga saya dapat melakukan presentasi apapun sesuai dengan permintaan. Ingatlah bahwa sejak jaman dulu kala, para prajurit tekun berlatih setiap hari untuk memenangkan sebuah peperangan dengan cara yang cepat.
Jadi, persiapan itu sangat penting karena membutuhkan kedisplinan baik secara pikiran maupun tindakan. Ada bait lagu yang pernah saya dengar yaitu “Sa Hun Ti Cu Tia, Ci Hun Go Pa Pia, Ai Pia Ai Cia E Ya” yang artinya 3 bagian itu hoki, 7 bagian itu adalah tanggung jawab kita. Apa yang kita lakukan dengan penuh tanggung jawab pasti akan berhasil. Jika ada 7 bagian berada di pihak kita, seharusnya kita dapat lebih sukses dengan cara mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya dan biarlah 3 bagian lainnya kita serahkan kepada TUHAN sesuai rejeki kita masing-masing dan bukan melakukan sebaliknya dengan cara mengandai-andaikan sukses Anda saja dan menunggu rejeki yang datang dari langit. Bilapun ada kejadian seperti itu, sangat jarang terjadi dan tidak akan membawa orang menuju kedewasaan sebagai pengembangan diri manusia yang ingin lebih sukses.
Happy Leadership
*) Surya Rachmannuh; penulis kolom tetap di www.pembelajar.com ini adalah praktisi training dalam bidang pelayanan prima, personal effectiveness, problem solving and decision making, pelatihan Leadership dan Management lainnya. Certified Lead Auditor dan Webmaster ini dapat dihubungi di Hp : 0819 3210 5388 atau www.webiddesign.com, surya.rachmannuh@yahoo.co.id, suryarachmannuh.blogspot.com
Telah di baca sebanyak: 19Fakta Sosial di Sekitar Kita
January 31, 2010 by admin
Filed under Surya Rachmannuh
Terkadang kita terlena dengan aktivitas kita sehingga tidak menyadari adanya fakta-fakta sosial yang terjadi di sekitar kita, baik yang sudah terjadi tanpa kita sadari kehadirannya atau terkadang dapat berupa sebuah kejadian yang dulu dianggap tabu sekarang berubah menjadi sebuah acara reality show yang dikemas sedemikan rupa sehingga persepsi kitalah yang menjadi penentu akhirnya.
Cerita ini dimulai selepas beraktivitas dan beberapa hal lainnya di hari Rabu, 6 Januari 2010 sekitar jam 22 malam, saya menyaksikan sebuah tayangan televisi yang berjudul “Masihkan kau mencintaiku” yang membahas tentang seorang bapak yang berusia 40an dengan memakai topeng yang berwarna putih dengan para pendukungnya yang memakai topeng juga yang berada di sebelah kanan terdiri dari para adik dan adik iparnya sebanyak 4 orang melawan kubu disebelah kirinya dengan jumlah yang sama yakni 4 orang yang tidak lain dan tidak bukan adalah istri, satu anak laki-laki, satu anak perempuan dan ibu mertuanya sendiri.
Topik pembahasannya adalah apakah pantas istrinya yang setia mendampingi bapak tersebut selama 26 tahun itu serta melahirkan dua orang anak buah cinta kasih mereka itu diceraikan, dengan penyebab klasiknya adalah karena sudah tidak ada rasa cinta lagi, hubungan suami istri hanya sebagai sebuah kewajiban saja, dengan status kemapanannya dan situasi serta kondisi mendesak sebagai alasan utamanya, bapak itu bersikukuh untuk menceraikan istrinya dan ternyata sudah memiliki wanita idaman lainnya.
Saya mengikuti acara itu dengan seksama dan saya melihat serta merasakan betapa para panelis perempuan yang terdiri dari psikolog, mantan bintang film, pemerhati perempuan mencoba menyadarkan bapak itu dari segi moral, agama dan sudut pandang lainnya tentang arti pentingnya sebuah keluarga namun mengalami kegagalan dan sebagai puncak acaranya, ditampilkanlah seorang wanita yang memang telah berselingkuh dengan bapak itu sekian lama, terbukti atas pertanyaan salah satu panelis yang menanyakan apakah wanita selingkuh itu telah mengetahui resiko dari hasil perbuatannya dan wanita itu mengaku bahwa dia sudah memperhitungkan resiko perbuatannya sebelum tindakan perselingkuhan itu dilakukan.
Setelah melewati beberapa perdebatan sengit antara pihak keluarga dengan bapak beserta wanita selingkuhan yang digandengnya, dan penyataan terakhir dari anak bapak tersebut sangat mengejutkan karena dia menuding bapaknya telah mengidap penyakit HIV / AIDS berdasarkan pemeriksaan kesehatan bapaknya seminggu yang lalu ditempat klinik temannya. Bapak itu mencoba mengelak dan mungin itu berupa rekayasa, namun pernyataan itu membuat wanitan selingkuhan itu shock, seakan tidak percaya akan apa yang terjadi, dia langsung lari masuk ke belakang panggung, diikuti oleh para pesertanya dan meninggalkan sebuah akhir cerita drama keluarga yang tragis.
Para mitra pembelajar yang terhormat, ijinkan saya membahas hal tersebut diatas dari sudut pandang kepemimpinan. Pertama-tama kita ingat kembali kepada prinsip yang bersifat universal dan abadi. Salah satu dari prinsip itu adalah prinsip Tanam Tuai, yaitu apa yang ditanam orang, itu pula yang akan dituainya. Lepas dari seberapa jauh kesahihan dari reality show diatas, bapak itu langsung mendapatkan ganjaran berupa penyakit AIDS akibat perbuatannya, serta bapak itu telah gagal untuk menjadi pemimpin dan imam bagi keluarganya sendiri.
Jika lingkungan dijadikan alasan, alangkah naifnya dia sehingga dengan begitu mudah menyalahkan faktor diluar dirinya sendiri, bukan sebaliknya dia melakukan introspeksi dan mengambil peran serta tanggung jawab pemimpin sepenuhnya dengan cara kembali kepada keluarga, apalagi dengan sisa waktu yang sedikit karena penyakit AIDS yang dideritanya, lebih terlambat daripada tidak sama sekali.
Dari prinsip pertumbuhan dan perkembangan, secara psikologis bapak itu baru sampai tingkat remaja, dimana masih mencari jati diri, coba-coba, kurang bertanggung jawab yang ingin mencoba segala sesuatu tanpa memikirkan konsekuensinya di masa yang akan datang. Dari segi usia, bapak tersebut seharusnya sudah menjadi teladan bagi generasi muda, bukan sebaliknya, memberikan contoh yang tidak patut untuk ditiru dengan cara mengingkari janji pernikahan, selingkuh dan menceraikan istri serta merusak hubungan antara ayah dan anak-anak. Maka benarlah ungkapan yang mengatakan bahwa menjadi tua itu pasti sedangkan menjadi dewasa adalah masalah pilihan dan pilihan itu 101% berada ditangan kita.
Sebagai penutup dari sharing kita kali ini, saya pun berharap agar kita masing-masing dapat mengintrospeksi diri kita masing-masing agar kita mampu mengendalikan diri kita sendiri dengan baik, tidak peduli seberapa keras tekanan lingkungan yang diberikan dunia kepada kita, sepanjang kita kuat didalam diri, menentukan pilihan dan keputusan dengan benar serta mempertanggung jawabkan konsekuensi yang mungkin timbul diluar kendali kita maka kita akan bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang kuat sehingga anda mampu menjadi tuan atas diri anda sendiri, menjadi pemimpin atas keluarga anda dan bisa bersama membangun bangsa.
Happy Leadership
*) Surya Rachmannuh, penulis kolom tetap di www.pembelajar.com ini adalah praktisi training dalam bidang pelayanan prima, personal effectiveness, problem solving and decision making, pelatihan Leadership dan Management lainnya. Certified Lead Auditor dan Webmaster ini dapat dihubungi di Hp : 0819 3210 5388 atau www.webiddesign.com, surya.rachmannuh@yahoo.co.id, suryarachmannuh.blogspot.com
Telah di baca sebanyak: 18Pestanya Langsung Bubar
January 4, 2010 by admin
Filed under Surya Rachmannuh
Sekumpulan pedagang rokok yang berjumlah 4 orang di mulut halte Kalideres sedang jongkok sambil asyik bersenda gurau. Tiba-tiba terdengar bunyi “Sreg, sreg. Sreg, sreg”, yang ternyata berasal dari sapuan seorang penyapu jalanan yang sedang bertugas lengkap dengan seragam baju, celana panjang dan topi yang berwarna oranye ditambah dengan penutup wajah berwarna putih sehingga hanya menyisakan matanya saja yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugasnya itu persis ditrotoar tempat mangkal ke empat pedagang rokok tadi.
Dalam sekejab, pesta obrolan pedagang rokok itu pun bubar total. Dua orang segera bergerak kearah sebelah kiri untuk kembali melakukan tugasnya sedangkan dua orang lainnya masih melanjutkan obrolannya itu. Uniknya, tidak ada satu orang pun yang tersinggung akibat ulah sang penyapu jalanan itu yang tanpa permisi tersebut, mungkin mereka menyadari bahwa memang itu sudah menjadi kewajiban sang penyapu jalanan sekaligus membubarkan kumpulan itu sekaligus menyadarkan mereka supaya kembali ke tugasnya masing-masing.
Peristiwa “Sang Penyapu Jalan” yang tetap fokus melakukan tugasnya tanpa permisi ini sangat baik menjadi refleksi bagi kita semuanya. Memang tidak salah apabila kita fokus pada pekerjaan dan alangkah baiknya apabila kita juga memperhatikan keadaan sekitar dan peduli akan perasaan orang lain di dalam melakukan tugas kita sehari-hari. Petugas itu dapat saja memberikan kata-kata peringatan dan dengan menggunakan isyarat lewat bahasa tubuhnya agar para pedagang rokok itu bisa mundur atau kembali ke tempat tugasnya masing-masing yaitu menjajakan dagangannya. Namun secara tidak sadar kita diperlihatkan pada sebuah sikap yang seakan berbicara, “Bubar, bubar, ayo bubar. Saya sedang kerja dan kok kalian juga masih asyik-asyiknya ngobrol sih.” Mungkin begitu kira-kira maksud hatinya lewat perbuatannya yang tanpa permisi tersebut.
Nah, insight untuk kita hari ini adalah apabila anda seorang atasan atau rekan kerja yang memang memerlukan sebuah area yang memang masih menjadi tugas dan tanggung jawab kita, maka sebaiknya kita dapat memintanya dengan sopan maksud dan tujuan kita yang mungkin bersinggungan dengan orang lain supaya orang dapat menghargai pula segala sikap dan tingkah laku kita di dalam kehidupan sehari-hari, bila seorang penyapu jalan dapat kita maklumi, apa jadinya kita sebagai profesional juga melakukan hal yang sama, pasti tidak akan disukai orang karena menunjukkan sikap yang egois dan kecenderungan arogan kepada orang lain.
Mungkin maksud dan tujuan kita sebenarnya baik yaitu untuk membubarkan kerumunan supaya mereka kembali bekerja. Walaupun anda adalah seorang atasan, saya pikir kita masih dapat melakukan yang terbaik seperti dengan melakukan pendekatan yang asertif dengan cara ikut dalam pembicaraan, siapa tahu lewat obrolan santai datang ide-ide kreatif dan inovatif di dalam mencapai tujuan anda bersama di kantor atau ditempat kerja anda. Jadi janganlah dulu bertindak yang diluar harapan orang walaupun dia adalah bawahan anda, suatu saat dia juga mempunyai potensi untuk menjabat sebagai seorang pimpinan seperti anda.
Dan untuk kita semua yang kita ambil hikmahnya dari kumpulan pedagang rokok itu, para pedagang itu seharusnya harus menyadari bahwa lewat kerja keras dan tujuan yang benarlah yang akan membawa mereka ke taraf kehidupan yang lebih baik apalagi bila dikaitkan dengan value atau nilai, bagi sebagian orang profesi pedagang rokok adalah sebuah hubungan yang Menang-Kalah dalam arti ketika para pedangan rokok itu mendapatkan keuntungan berupa uang, yang juga tidak seberapa itu pula, mereka seakan memberikan pelayanan kepada pelanggannya sebuah potensi untuk mengalami gangguan pada saluran napas seperti paru-paru, dan efek negative lainnya. Kita memang dituntut selalu melakukan introspeksi atas segala tindakan yang kita lakukan apakah membawa kita menjadi lebih benar dan baik ataukah hal yang sebaliknya.
Bila kita mengilustrasikan dari profesi seorang penyapu jalan, ada sebuah pernyataan bahwa apabila profesi kita seperti penyapu jalan itu, semangatnya adalah biarlah kita melakukan tugas pekerjaan kita itu dapat dipuji oleh seorang Malaikat yang mengatakan bahwa “Dialah seorang petugas penyapu jalan yang terbaik yang pernah ada di muka bumi ini.”
Bagaimanakan dengan kita? Apakah selalu memberikan yang terbaik pada setiap apa pun yang kita ingin atau dapat kita lakukan untuk memberikan hal yang lebih baik pada setiap orang? Saya yakin dan percaya lewat pikiran yang berkembang menjadi sebuah tindakan, tindakan yang berkembang menjadi sebuah kebiasaan dan kebiasaan baik yang menjadikan kita mempunyai karakter-karakter orang baik seperti jujur, layak di percaya, dan karakter baik lainnya lah yang akan mengubah nasib kita dan itu semuanya terangkum dan selaras dengan hukum alam yang ada di dunia ini.
Dan sebagai kata penutup, ingatlah pepatah atau hukum Tanam Tuai berikut ini yang berlaku untuk semua orang. Apa yang orang Tanam, itu juga yang akan dituainya nanti.
Salam Champion.
*) Surya D. Rachmannuh; Competency Based Trainer. Kolomnis tetap di www.pembelajar.com ini adalah praktisi training dalam bidang pelayanan prima, personal effectiveness, problem solving and decision making, pelatihan Leadership dan Management lainnya. Certified Lead Auditor dan Webmaster ini dapat dihubungi di Hp : 0819 3210 5388 atau www.webiddesign.com, surya.rachmannuh@yahoo.co.id, suryarachmannuh.blogspot.com
Telah di baca sebanyak: 3Musuh Terutama dari Sikap yang Baik adalah Sikap TERBAIK Kita.
December 6, 2009 by admin
Filed under Surya Rachmannuh

Hal ini mudah dikatakan namun tidak mudah untuk dilakukan. Sayapun berjuang untuk melakukan hal ini memilih untuk hidup yang memberikan warisan terbaik di dunia ini atau menjadi biasa-biasa saja. Motivasi tertinggi antara Leave with Legacy dengan motivasi terendah What’s In it for me atau apa untungnya bagi saya jika saya melakukan yang terbaik.
Ini adalah merupakan perjuangan batin yang sangat dahsyat dan sering kita alami di dalam kehidupan kita. Pertentangan antara satu nilai dengan nilai yang lain. Oleh karena itu, benarlah apa yang dikatakan oleh Stephen R. Covey dalam buku “7 Kebiasaan manusia yang sangat efektif” bahwa paradigma yang berpegang pada prinsip yang utama, nilai yang diprioritaskan dan tercermin dalam sikap dan tingkah laku kita sehari-hari. Sebagai contoh, prinsip Tabur Tuai berlaku dalam setiap aspek kehidupan kita. Bila kita menabur benih terbaik dalam tingkah laku kita sehari-hari maka kita akan mendapatkan hasil yang terbaik pula, terutama dalam hubungan kita dengan orang lain baik didalam keluarga atau dunia kerja.
Di dalam masalah keuangan pun demikian adanya. Saya memberikan contoh yang saya praktikkan, saya termasuk orang yang moderat, cenderung konvensional malah dalam arti prioritas utama adalah ketersediaan uang bulanan, tabungan dan investasi, baru kesenangan lainnya. Jadi boleh dikatakan saya terbebas dari hutang akibat dari paradigma yang mengacu pada prinsip, nilai yang diprioritaskan dan berkembang menjadi kebiasaan atau perilaku permanen (karakter).
Dalam dunia kerja, seperti di dalam pelatihan “Pelayanan Prima” yang sering bawakan di rumah sakit di seluruh Indonesia, saya selalu menekankan pentingnya prinsip Melayani dengan hati, diikuti dengan prioritas nilai keselamatan pasien, perilaku-perilaku pelayanan prima dan terakhir adalah keuntungan atau profit supaya hal ini jelas bagi pelaksana untuk dapat melakukan hal yang terbaik, setiap saat, setiap waktu.
Bayangkan bila ada seorang perawat atau petugas yang sedang mempraktekkan perilaku pelayanan prima dengan seorang pelanggan dan tiba-tiba terdengan bunyi sirine ambulan, tanda adanya sebuah panggilan darurat untuk seorang petugas di Instalasi Gawat Darurat namun petugas lain tidak segera membantu karena sedang terlibat percakapan atau pekerjaan lainnya tanpa menilai situasinya terlebih dahulu, maka bila terjadi hilangnya nyawa seseorang akibat kelalaian petugas, maka ini benar-benar sebuah pelanggaran nilai, baik secara individu maupun secara organisasi.
Itulah mengapa prioritas utama adalah keselamatan pasien dulu, perilaku-perilaku pelayanan prima kemudian dan keuntungan yang terakhir, bila melakukan hal yang sebaliknya atau tertukar, maka kita dapat menanggung konsekuensi dari hal-hal yang tidak dapat kita inginkan dan dapat kita cegah sebenarnya. Hati nurani sebagai kompasnya.
Oleh karena itu, saya sangat berharap kita semua dapat merefleksikan kembali dalam hidup, apakah kita sudah mempunyai prinsip-prinsip kehidupan yang selaras dengan hukum alam, mempunyai prioritas yang benar atas nilai-nilai pribadi anda dan organisasi? Bila anda sudah mampun menjawab kedua pertanyaan itu, saya mengucapkan selamat dan tinggallah pada keputusan akhir yang juga menjadi penutup dari artikel ini adalah apakah anda mau melakukan segala hal dengan usaha terbaik anda sebenarnya atau sekedarnya saja sebagai hasil dari pembatasan diri anda tentang kompensasi atau keuntungan yang akan anda terima, jawabannya 101 persen ada ditangan anda.
Happy Leadership!
*) Surya Rachmannuh, penulis kolom tetap di www.pembelajar.com ini adalah praktisi training dalam bidang pelayanan prima, personal effectiveness, problem solving and decision making, pelatihan Leadership dan Management lainnya. Certified Lead Auditor dan Webmaster ini dapat dihubungi di Hp : 0819 3210 5388 atau www.webiddesign.com, surya.rachmannuh@yahoo.co.id, suryarachmannuh.blogspot.com
Memilih untuk Berpikir Positif
November 22, 2009 by admin
Filed under Surya Rachmannuh

Saya tergerak untuk menulis artikel ini menurut berbagai sumber buku seperti “7 Kebiasaan Manusia yang Efektif” karya Stephen R. Covey dan “Prinsip Sukses” ala Jack Canfield. Pertama-tama menurut saya benarlah yang dikatakan Stephen R. Covey tentang rumus sukses yang sejati yaitu bermula dari sebuah benih ide dalam pikiran yang berkembang menjadi sebuah tindakan, tindakan berkembang menjadi sebuah perilaku atau kebiasaan baru, kebiasaan yang diulang akan membentuk sebuah karakter yang baru dan karakter baku inilah yang pada akhirnya akan mengubah nasib seseorang.
Jadi ini adalah sebuah proses pembentukan karakter yang selaras dengan hukum alam dan hukum tanam tuai, yaitu apa yang kita tanam dalam pikiran kita maka akan kita akan menuai hasilnya di dunia nyata. Intinya, memilih berpikir positif adalah sebuah pilihan. Ketika dihadapi sebuah tantangan yang saya ilustrasikan dengan isi air dalam gelas yang memberikan kita dua buah pilihan yaitu separuh kosong atau separuh isi, maka kita dihadapi oleh sebuah pilihan apakah ini memilih berpikir negatif atau pesimis (isi air dalam gelah separuh kosong) atau berpikir positif atau optimis (isi air dalam gelas separuh isi) sehingga korelasi antara pilihan yang terjadi dalam pikiran kita itulah yang akan mempengaruhi tindakan kita di dalam menyikapi sebuah persoalan dalam hidup kita. Jadi berpikir positif bukan meniadakan fakta bahwa isi air memang tidak penuh, melainkan sebuah pilihan yang akan mengubah tindakan kita sampai kepada sebuah kebiasaan dan karakter sampai kita dapat melakukannya tanpa berpikir dan menjadi bagian dalam hidup kita, maka dengan sendirinya kebiasaan dan karakter kitalah yang akan mengatur hidup kita menjadi lebih efektif.
Untuk memperjelas pandangan isi air dalam gelas diatas, saya juga ingin menambahkan lagi sebuah ilustrasi tentang seorang Indian yang mempunyai dua ekor anjing yaitu anjing yang berwarna hitam dan satu lagi anjing yang berwarna putih. Setiap hari kedua anjing ini akan diadu sampai ada salah satu diantaranya mencapai kemenangan. Menariknya, setiap hari Senin, Rabu dan Jumat, kemenangan selalu ada dipihak anjing yang berwarna hitam, sedangkan Selasa, Kamis dan Sabtu, kemenangan ada dipihak anjing yang berwarna putih sedangkan hari Minggu tidak dilakukan perlombaan. Menariknya terkadang trend kemenangan itu bisa berubah juga, hari Senin sampai Rabu, anjing hitam yang menang sedangkan hari Kamis sampai Sabtu, anjing putih yang menang dan pertanyaan ini juga pernah ditanyakan kepada sang Indian, apakah rahasianya sehingga dia dapat mengatur kemenangan pertandingan tersebut dan ternyata jawabannya sangat sederhana, yaitu kepada anjing yang mana sang Indian itu memberikan makan sebelum pertandingan dimulai.
Demikian juga dengan kita. Di dalam setiap manusia ada dua azimat berpikir yaitu Sikap Mental Negatif (SMN) yang membawa anda kepada kegagalan, ketakutan dan kesengsaraan dan Sikap Mental Positif (SMP) yang akan membawa anda kepada kesuksesan, keberanian dan kebahagiaan hidup. Intinya terletak pada pilihan kita, seberapa sering kita mempraktekkan pikiran-pikiran positif yang ditunjukkan lewat tindakan atau perilaku positif seperti rajin, disiplin, jujur, penuh inisiatif, tanggung jawab, keuletan, menghargai orang lain dan sebagainya dalam kehidupan kita sehari-hari bahkan rela untuk bekerja ikhlas yaitu dengan menanamkan benih kebaikan kepada semua orang tanpa mengharapkan imbalan daripadanya.
Jadi kita secara sadar memilih sebuah tindakan yang bertanggung jawab berdasarkan prinsip yang tidak lekang oleh waktu dan bersifat universal seperti hukum gravitasi bumi yang akan selalu mengembalikan setiap benda yang dlempar kembali ke bumi. Apakah perbedaan salam tempel dengan tips? Perbedaannya terletak pada sikap ikhlas dan waktu pelaksanaan tindakan. Seseorang dapat dikatakan ikhlas ketika dia melaksanakan tugasnya dengan baik tanpa memikirkan berapa imbalan atau tips yang didapat seperti seorang bell boy di hotel misalnya, dia melakukan dulu tugas dan tanggung jawabnya untuk mengantar tamu hotel, menyalakan ac dan menjelaskan beberapa fasilitas di kamar hotel dan berhak atas berapa pun tips yang diberikan bahkan tidak mengeluh bila tidak mendapatkan tips sama sekali.
Salam tempel dilakukan orang akibat dari penyimpangan dari sebuah prosedur atau sistem. Contoh orang malas antri sehingga memberikan uang tempel atau pelicin agar diberikan kemudahan. Dulu mengurus Surat Ijin Mengemudi dan STNK tidak mudah alias dipersulit sehingga menimbulkan banyak biro jasa yang juga merupakan perpanjangan tangan untuk memudahkannya atau orang yang ingin mempunyai SIM itu sibuk atau bahkan tidak mempunyai kemampuan sama sekali, namun sekarang jaman sudah berubah memang masih ada beberapa penyimpangan namun tidak seperti dulu, di jaman reformasi kita melihat banyak gebrakan yang dilakukan di era reformasi ini yang sangat baik namun butuh waktu untuk menghilangkan persepsi “Salam Tempel” ini di banyak institusi di negeri ini.
Berpikir positif baru dikatakan tidak pada tempatnya ketika sesuatu hal yang salah dan bertentangan dengan hati nurani di legalkan atau disahkan. Contoh : boleh dong mencuri untuk kebaikan seperti Robin Hood, ini merupakan kebenaran yang sepotong. Boleh dong menerima salam tempel asal yang memberi “ikhlas” atau “diikhlaskan menurut sistem dan prosedur yang ada”, bahkan lewat pelatihan Spiritual sekalipun yang banyak beredar sekarang apalagi sampai membenarkan “Salam tempel” jelas ini adalah sebuah kesalahan yang dobel, baik salah secara pikiran positif juga secara spiritual.
Saya akan tutup sharing saya lewat sebuah rumus dari Jack Canfield yaitu Peristiwa + Respon = Outcome atau hasil yang diinginkan. Pertama-tama, anda harus menentukan dulu cita-cita, tujuan atau hasil yang diinginkan, misalnya sepasang laki-laki dan perempuan mendambakan sebuah pernikahan di gedung (outcome), namun takdir berbicara lain, terjadi peristiwa gempa yang mengakibatkan gedung itu rusak parah sehingga mengancam batalnya pesta pernikahan tersebut. Peristiwa sudah terjadi dan menghalangi hasil yang diinginkan (outcome) sehingga yang tersisa adalah sebuah pilihan lagi, apakah berpikir negative dengan cara mengeluh, mengomel bahkan bisa mengatakan Tuhan itu tidak adil ataukah sebaliknya, kita memilih untuk berpikir positif dan melakukan tindakan positif pula dengan cara mengabarkan kepada seluruh undangan tentang perpindahan gedung yang sedianya di dalam dilaksanakan ditempat yang berbeda atau di taman (garden party) dekat dengan tempat pemberkatan pernikahan pasangan itu. Inilah kenyataan dalam hidup, kita tidak dapat selalu mendapatkan hasil yang kita inginkan, namun kita selalu mendapatkan pilihan sebuah respon atas segala peristiwa atau persoalan yang terjadi dalam hidup kita.
Salam Champion!
*) Surya Rachmannuh lahir di Jakarta tahun 1970, lulusan S1 dari Bunda Mulia dan S2 dari Jakarta Institute of Management Studies, Certified ISO Lead Auditor dari SGS, Certified Webmaster dan Problem Solving & Decision Making. Aktif di PT. Kalbe Farma, tbk sebagai “Training Specialist”. Hasil tulisan Alumnus Writer Schoolen “Menulis Buku Best-Seller batch XI” ini dapat dilihat di www.webiddesign.com dan suryarachmannuh.blogspot.com
Telah di baca sebanyak: 14Hati yang Mau Melayani
November 3, 2009 by admin
Filed under Surya Rachmannuh

Sebuah kunci sukses yang sering saya bagikan dalam pelatihan saya adalah keinginan hati kita yang ingin melayani. Bagi sebagian orang yang belum mengenal arti pelayanan sesungguhnya mungkin memandang hal ini secara tidak lengkap seperti merasa cape, apa perlunya melayani pelanggan atau orang lain, bagus banget, emangnya gua pelayan apa, dan masih banyak lagi komentar lainnya.
Memang ini membutuhkan sebuah kebesaran jiwa dan arti yang mendalam bagi seseorang yang ingin benar-benar membuat sebuah komunitas orang-orang sukses dan terpelajar, karena hanya dengan melayani dengan sepenuh hatilah kita dapat menunjukkan kepada orang lain sebuah bentuk kepedulian yang dapat dilihat dalam kehidupan kita sehari-hari.
Melayani dalam kehidupan sehari-hari sangat penting karena manusia juga berubah dari hari ke sehari, apakah menjadi lebih bijak atau kurang kadar kebijakannya apalagi terbawa emosi. Emosi menurut saya adalah pengambil sumber daya kreativitas terbesar dalam pikiran kita. Kita marah namun tidak berdaya dan akhirnya kita jadi bersungut-sungut dan akhirnya tidak melakukan apapun dan tahukah anda, anda sedang menciptakan sebuah kebiasaan penolakan kecil dan akhirnya mencari ciri khas dan apalagi anda dalam sebuah komunitas yang paling cepat men”cap” atau melabel pribadi tertentu dengan kata lainnya adalah sebuah PERSEPSI.
PERSEPSI ini adalah pembunuh karakter dan kepribadian yang paling cepat. Pernahkah anda memutuskan untuk tidak berteman atau sudah tidak mau mendekati dia kecuali “kepepet” hanya karena persepsi publik atau orang yang anda mintai keterangan sedang tidak selaras dengan orang yang dibicarakan? Saya pikir pernah.
Itulah mengapa melayani harus terlihat dalam kehidupan kita sehari-hari bila perlu menjadi gaya hidup kita dan menciptakan “Positif Image” dalam diri anda. Ini memang tidak mudah karena anda harus melakukan “extra mile” atau bekerja lebih dibandingkan orang lain, apalagi kita memang pernah mempunyai perilaku yang tidak menyenangkan dan ditangkap tidak simpatis bagi orang lain, sudah pasti kita harus melakukan “double mile” bila perlu. Karena sangat mudah orang mengatakan sesuatu hal yang negatif tentang orang lain dibandingkan pada hal-hal yang positif.
Ada istilah yang mengatakan dan silakan anda teliti sendiri kebenarannya sebagai berikut :
“Susah lihat orang lain senang, dan senang lihat orang lain susah.”
Nah, persepsi ini sudah mengakar dalam kehidupan kita yang penuh dengan kompetisi ini, terutama untuk para laki-laki. Sebagai contoh, pertandingan persahabatan hanya untuk para wanita saja, para pria mungkin secara jantan mengakui kebolehan tim lain dalam sebuah olahraga misalnya, namun dalam hati kita para pria sering berkata dalam hati, “Suatu hari nanti aku akan mengalahkanmu, jadi tunggu hari pembalasannya.”
Sekarang, lepas dari jenis kelamin dan pernyataan “Susah lihat orang lain senang dan senang lihat orang lain susah”, mari kita mempunyai persepsi yang baru yaitu “Kebahagiaan anda adalah sebuah kebanggaan bagi kami” sehingga kita diajak dalam sebuah persepsi baru bahwa sebuah tindakan membantu orang lain atau melayani seseorang adalah sebuah kebanggaan bagi kita, sebuah kehormatan bagi kita. Kita sedang menabur benih-benih kebaikan di dalam hidup kita sehari-hari tidak hanya pada atasan kita, pelanggan kita atau segala sesuatu yang menguntungkan kita saja (WIIFM) melainkan sebuah pancaran hati yang tulus ingin membantu orang lain karena yakinlah bahwa ketika anda menabur benih kebaikan kepada seseorang maka kita akan memanen buah hasil kebaikan kita kelak, apalagi didorong oleh sebuah motivasi luhur bahwa melayani adalah bagian dari hidup kita sehari-hari.
Bila pun ada yang bertanya kepada anda, mengapa anda harus melayani satu sama lain dengan baik, maka hanya satu kata motivasi yang sederhana dan memikat untuk anda yaitu “Mengapa burung berkicau?”.
Salam Champion!
*) Surya Rachmannuh lahir di Jakarta tahun 1970, lulusan S1 dari Bunda Mulia dan S2 dari Jakarta Institute of Management Studies, Certified ISO Lead Auditor dari SGS, Certified Webmaster dan Problem Solving & Decision Making. Aktif di PT. Kalbe Farma, tbk sebagai “Training Specialist”. Hasil tulisan Alumnus Writer Schoolen “Menulis Buku Best-Seller batch XI” ini dapat dilihat di www.webiddesign.com dan suryarachmannuh.blogspot.com
Pengembangan SDM Indonesia
October 19, 2009 by admin
Filed under Surya Rachmannuh

Tulisan ini saya ambil dari diskusi antara 4 panelis dalam Launching acara Mini Workship Series tanggal 15 September 2009 yang terdiri dari Ibu Mooryati Sudibyo, Bapak Michael dari Combi Phar, Bapak Koes dari Astra Management Development International, Ibu Neli dari Manulife.
Acara ini dipandu oleh Anthony Dio Martin yang membuka panel diskusi dengan slogan dari Andrew Carnegie yang mengatakan bila anda mengambil alih perusahaan miliknya maka di masa yang akan datang akan berdiri pabrik baru dengan teknologi yang lebih baik namun bila anda mengambil SDM terbaiknya maka cepat atau lambat area pabriknya akan ditumbuhi rumput saja. Ini membuktikan bahwa pengembangan SDM menjadi area yang penting.
Menurut Pak Michael pada sesi awal diskusi bahwa Pemerintah kurang memberikan dukungan perihal rangking Indonesia yang mencapai Top Ten Worst dalam segi mutu SDM dan peran HR dinilai masih berkisar pada Recruitmnet dan administrasi saja, peran HR sebagai partner bisnis belum berkembang, ini yang membuat perkembangan pasar menjadi terhambat karena pengembangan mutu SDM tidak sesuai dengan tuntutan bisnis atau persaingan pasar yang berkembang dengan pesat sekali.
Diberikan juga sebuah gambaran tentang era apakah sekarang ini. Seperti yang kita ketahui bahwa pertama-tama adalah era pertanian atau tanah, dimana siapa yang memiliki tanah paling banyak, itulah orang yang berkuasa untuk menguasai perekomian, era ini kemudian berubah menjadi era industri sejak ditemukan mesin uap oleh James Watt, era berikutnya adalah era informasi, bahkan sekarang sudah memasuki sebuah era yang bernama “Talent” dimana sekarang banyak perusahaan melakukan sebuah “Talent Management” bagi pengembangan organisasinya.
Sedangkan menurut pendapat Bapak Koes, pengelolaan SDM kita seperti ini seperti pedagang buah mendapatkan buah. Bila buahnya tidak matang, maka mungkin buah itu akan di “prem” supaya matang, bila buahnya tidak manis, maka buah itu disuntik dengan gula sintesa agar didapat buah yang manis, jadi kita belum fokus kepada proses dimana buah itu ditanam, disiram, diberikan pupukn karena seperti prinsip Tanam Tuai, bila orang kekurangan gizi maka hasilnya adalah busung lapar dan sangat memprihatinkan adalah bentuk fisik sekolah yang tidak memadai dan terus dibawa sebagai kandidat calon pekerja yaitu sampai jenjang universitas. Bagaimana kita mampu mendapatkan calon SDM yang baik bila akar masalahnya tidak diperbaiki.
Di Manulife, yang merupakan wakil dari industri asuransi, diterapkan sebuah sistem untuk meningkatkan kemampuan SDM lewat sebuah kompetisi. Mereka memberika sistem aturan yang jelas sehingga setiap orang yang mampulah yang akan mencapai peringkat terbaik sedangkan yang tidak mencapai target akan mundur dengan sendirinya (hukum alam) dan yang perlu di garis bawahi adalah bukan berarti semua orang bisa naik pangkat, pangkat memang terbatas namun setiap orang sudah dapat menetapkan komitmennya dari awal untuk berhasil dan semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk mencapai jenjang karir berikutnya.
Ibu Mooryati menyoal isu SDM ini tentang pentingnya pendidikan masa kecil kita yang sangat mempengaruhi budaya belajar di Negara kita ini. Mereka seharusnya belajar dari rumah, sehingga saat menjadi karyawan mereka sudah terbiasa memimpin dan penting kita sebagai atasan mampu mengerakkan karyawan kita agar mau belajar yang dikaitkan dengan prestasi.
Dikatakan bahwa rata-rata orang itu biasa-biasa saja, mediocre. Bisa memulai namun tidak mengakhirinya, serba tanggung istilahnya. Sebelum budaya pembelajaran berkembang di Astra, mereka lebih dulu mengembangkan budaya keunggulan. Ini dilatar belakangi seringnya Astra berhubungan dengan perusahaan-perusahaan principal di Jepang seperti Toyota dan Honda. Jadi Astra tidak di desain dari awalnya untuk menjadi sebuah organisasi pembelajar. Mereka mengimpor manajemen mutu seperti Total Quality Management (TQM), Quality Control Circle (QCC) untuk membangun budaya keunggulana lewat semangat kaizen atau Continuous Improvement (CONIM).
Hal ini dibuktikan dengan adanya konvensi CONIM Astra yang dimulai sejak tahun 1984 sampai sekarang yang mendorong sebanyak mungkin peningkatan-peningkatan yang berkesinambungan. Apakah mungkin orang melakukan peningkatan tanpa belajar? Tidak mungkin kecuali dapat wangsit dari langit.
Menurut Bapak Michael lewat pendidikan yang tepat lah kita dapat menciptakan budaya organisasi ini karena kebanyakan orang Indonesia tidak mau diajari, budaya disiplin misalnya, di Indonesia hal ini tidak mudah diterapkan namun kalau di luar negeri, banyak orang Indonesia yang menjadi disiplin juga pada akhirnya, sehingga peran pemimpin atau Leader sangat penting untuk menjadi teladan dan ini membutuhkan komitmen yang tinggi bagi para pemimpin untuk mengubah perilakunya terlebih dulu sebelum diikuti oleh bawahannya.
Jadi, budaya itu penting. Begitu juga dengan disiplin, pola pembelajaran lewat kepemimpinan supaya mendapatkan hasil yang kita inginkan dan adanya sebuah pola peningkatan terus menerus sangat penting bagi kemaajuan bangasa Indonesia.
*) Surya Rachmannuh lahir di Jakarta 1970, lulusan S1 dari Bunda Mulia dan S2 dari Jakarta Institute of Management Studies, Certified ISO Lead Auditor dari SGS, Certified Webmaster dan Problem Solving & Decision Making. Aktif di PT. Kalbe Farma, tbk sebagai “Training Specialist”. Hasil tulisan Alumnus Writer Schoolen “Menulis Buku Best-Seller batch XI” ini dapat dilihat di www.webiddesign.com dan suryarachmannuh.blogspot.com
Solid Team Work
October 5, 2009 by admin
Filed under Surya Rachmannuh

Membentuk suatu tim kerja yang solid (Solid Team Work) memang bukan perkara yang mudah, karena setiap orang dengan talenta yang berbeda dan disatukan dalam sebuah tim memerlukan sebuah proses penyatuan yang memerlukan kesamaan tujuan atas terbentuknya tim itu.
Memang idealnya kita menetapkan sasaran dari awal dan membuatnya menjadi sasaran-sasaran tim yang lebih spesifik dalam sebuah organisasi (break down target) sehingga proses pemilihan orang yang cocok dengan sebuah penugasan (assignment) menjadi sangat penting karena sifatnya yang berbeda dan dapat digabungkan begitu saja.
Membangun tim yang solid ini butuh pemahaman yang mendalam karena dari tampak luar kelihatannya sebuah tim itu akrab namun sebenarnya tidak seakrab yang kita persepsikan sebelumnya, karena masing-masing individu sebagai bagian dari anggota kelompok mempunyai kesan ingin menonjolkan diri sehingga kita sebagai pemimpin harus menyadari bahwa kita ini sebenarnya mempunyai peran dengan menunjukkan komitmen dan usaha untuk memimpin tim dengan cara kita meminjam (borrow) kekuatan dari masing-masing individu dalam tim. Dan justru disitu letak kelemahan rata-rata orang Indonesia, kita mudah membuat komitmen tapi absen dalam pelaksanaannya.
Di dalam tayangan tentang kemenangan tim Ferrari juga disebutkan bahwa ada seorang pembalap yang bernama Massa yang ketika itu dinyatakan sebagai pemenang, namun selisih 3 detik kemudian dinyatakan kalah karena ada pembalap lain yang menyusul dibelakangnya dan itu akibat dari pemberian jalan seorang pembalap lainnya sehingga Massa urung menjadi juara lomba itu. Hal yang menarik dari tim itu adalah mereka benar-benar merasakan juara yang sebenarnya walaupun hanya terpaut dari 3 detik saja, segala impian mereka bubar karena sebuah “pemberian” tersebut.
Hal lain juga pernah dialami oleh Massa juga ketika etape terakhir yang seharusnya menjadi jalan kemenangan bagi dia tidak lagi kesampaian, karena hanya masih menyangkutnya selang bensin sebagai penyebab mobilnya terbakar sehingga tidak dapat melanjutkan lomba kembali. Kejadian itu diakibatkan tim yang bertugas memberikan bensin itu mendapatkan telepon tentang keluarganya yang menyebabkan dia kehilangan konsentrasi dalam beberapa detik dan menyebabkan keterlambatan untuk mencabut selang bensin tersebut.
Intinya bagaimana kita membina tim yang solid tergantung dari visi dan misi, ada sasaran, dan saling menghargai sesama anggota tim sehingga menciptakan sebuah kebanggaan tersendiri sebagai anggota tim tersebut dan tentu saja mendapatkan upah yang layak sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing.
Jenis-Jenis Anggota Tim
Dari hasil perbincangan yang cukup hangat, juga disebutkan beberapa jenis-jenis tim sebagai berikut :
1. Monkey
2. Mediocre (biasa-biasa saja)
3. STAR
Mari kita bahas satu persatu tipe berikut di atas
Yang pertama, anggota tim yang berjenis “Monkey” atau monyet ada pendapat yang mengatakan jenis ini harus dibinasakan, apakah mereka sudah di dalam zona nyaman (comfort zone) atau karena sebab lain. Berdasarkan diskusi, solusi menyatakan bahwa untuk menghadapi anggota tim dengan jenis seperti ini adalah dengan berbicara langsung kepadanya, apa sesungguhnya yang akan memotivasi dia, apakah dia punya hasrat yang terpendam sehingga kita dapat memberikan opsi kepada dia untuk pindah bagian, mungkin juga telah sekian lama dalam sebuah pekerjaan tertentu membuat dia merasa bosan, atau apa alasan lain yang membuatnya dia tidak antusias dalam mencapai target yang telah diberikan karena ini dapat mempengaruhi kinerja tim secara menyeluruh.
Yang lucunya, berdasarkan diskusi juga, ada kemungkinan “Monkey” ini bisa berubah menjadi “Gorilla” yang dapat menerkam kita sendiri bila dibiarkan. Namun menurut pandangan saya secara pribadi, bila kita sendiri yang dapat diterkam oleh “Gorilla”, itu menunjukkan kelemahan kita sebagai seorang pemimpin. Kita harus tegas dalam sebuah koridor tertentu dan tetap saja memegang hak asasi manusia dan sebisa mungkin menciptakan “Win-Win Solution” bagi kita semua.
Yang kedua, menjadi seorang mediocore atau tenang-tenang, biasa-biasa saja sebenarnya sah-sah saja, parameternya adalah apabila seseorang yang sudah mencapai posisi tertentu, katakanlah Manajer misalnya, dia sudah mendapat aktualisasi diri dan zona nyamannya, dia memblok orang lain yang menjadi bawahannya untuk bertumbuh dan berkembang lebih dibandingkan dia. Ini baru disebut ada sebuah masalah. Organisasi itu tumbuh dan berkembang, dan bila dia mempunyai sikap seperti ini maka dia secara tidak langsung juga menghalangi pertumbuhan dan perkembangan organisasi.
Berdasarkan hasil diskusi ditemukan opsi bahwa apakah orang-orang seperti ini dapat dipensiunkan dini bila memang sudah terpenuhi persyaratannya atau dia memang bertingkah seperti itu karena mengharapkan perusahaan mengambil tindakan tegas dengan cara memberikan PHK dan mendapatkan 2 PMTK atau apa solusi lainnya. Ini masih dalam perdebatan karena menurut saya masih banyak juga organisasi yang mempunyai kebudayaan untuk mempertahankan harmonisasi dan kekeluargaan sehingga tidak akan menempuh jalur PHK sebagai alternatif dan mengambil jalan arif dengan memberikan tantangan-tantagan baru kepada orang muda yang antusias untuk lebih bertumbuh dan berkembang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Mana yang paling pas, jawabannya ada di tangan anda. Anda yang dapat mengambil keputusan sesuai dengan situasi, kondisi dan budaya perusahaan masing-masing.
Yang ketiga, tipe STAR, yang merupakan bintang dalam sebuah tim. Ada beberapa pendekatan yang ditawarkan yaitu dengan memberikan sebuah “Program Ownership” seperti dengan memberikan sekolah lagi ke jenjang yang lebih tinggi (S2, S3, dsb), memberikan sebuah “Car Ownership Program” atau “Motorcycle Ownership Program” yang secara tidak langsung mengikat para STAR ini untuk dapat bertahan di organisasi kita.
Lepas dari ketiga bahasan tentang jenis tim diatas, lewat perbincangan tersebut juga dikatakan tentang “Zona Nyaman” yang didefinisikan secara bebas sebagai berikut Zona Nyaman adalah cukup materi dan aktualisasi diri. Dan ada tambahan istilah baru yaitu Zona Nyama ditambah dengan potensi maka akan menjadi Zona Layak.
Ditambahkan juga bahwa lepas dari zona itu ada juga tiga karakteristik yang diterapkan di PLN karena salah satu nara sumbernya yaitu Pak Juanda sebagai pemimpin “anak” perusahaan dalam naungan PLN yang mengembangkan tenaga listrik ke daerah-daerah terutama di Indonesia bagian Timur itu menjelaskan bahwa ada filosofi kerja yang diterapkan lewat sebuah pengalamannya menjadi kepala proyek bangkit tenaga listrik Payton, dimana ketika dua minggu sebelum kunjungan inspeksi Presiden, dibuatlah dulu kunjungan pertama oleh Menteri.
Pada awalnya Menteri menolak mengajukan rekomendasi kunjungan Presiden yang diakibatkan masih “berantakannya” proyek tersebut. Setelah kepulangan Bapak Menteri, Pak Juanda langsung mengumpulkan timnya dengan meningkatkan beberapa perbaikan dan itu ternyata membuahkan hasil yang signifikan, ini dibuktikan karena pada kunjungan kedua Bapak Menteri yaitu satu minggu sebelum hari kunjungan Presiden, Bapak Menteri takjub atas hasil perubahan dan langsung memberikan rekomendasi kunjungan Presiden. Ini salah satu bukti sebuah komitmen tim yang membawakan hasil yang memuaskan.
Kemudian pak Juanda juga menegaskan bahwa kita harus memandang tim itu juga lewat sebuah pandangan spiritual. Dia menyebutkan tiga hal mengenai hal ini secara lengkap yaitu
1. Kerja keras
2. Kerja pintar
3. Kerja Ikhlas
Sebagai akhir dari pembicaraan, disimpulkan juga bahwa kita sebagai pemimpin sendiri juga jangan terjebak dalam “Zona Nyaman”, karena bila seorang anggota tim saja sudah memberikan dampak tersendiri bila terjebak dalam zona ini, apalagi bila yang terjebak dalam zona nyaman itu adalah seorang pemimpin. Kuncinya adalah kita sebagai seorang pemimpin jangan terfokus pada diri sendiri.
Superstar dalam Tim
Superstar dalam tim selalu ada di mana-mana. Lewat sebuah tayangan film tahun 1998 dimana tim Chicago Bull, dengan Superstar “Michael Jordan” sebagai bintangnya mampu membalikkan keadaan dengan menciptkan dua skor penentu sehingga menang melawan Utah Jazz dengan Skor 86-85 dalam detik-detik terakhir di fase 6 pertandingan bola basket NBA Amerika Serikat.
Ada baiknya seorang pemimpin dapat menemukan kekuatan-kekuatan masing anggota tim dulu sehingga dia dapat menciptakan lagi nilai-nilai yang diperlukan dalam sebuah tim seperti saling berbagi (sharing), saling menghargai (respect) dan menjalin hubungan yang kompak (relationship). Mengapa hal ini harus dilakukan? Karena hanya dengan cara demikianlah setiap anggota tim mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing sehingga mereka bisa saling mendukung, Michael Jordan, Sang superstar dalam permainan bola basket pun tidak akan mencapai kinerja terbaiknya tanpa didukung oleh kekompakkan timnya.
Satu hal yang pasti bahwa seorang pemimpin atau pelatih (coach) sebaiknya tidak terlalu memanjakan superstar karena bisa mematahkan semangat anggota tim yang lainnya, superstar diperlukan untuk menginspirasi dan meningkatkan motivasi anggota tim yang lain. Kalaupun ingin memberikan perlakuan yang khusus, panggillah dia secara pribadi, pujilah dia dan jelaskan peran dan fungsinya dalam tim. Berikan penegasan saja, karena sesungguhnya seorang superstar sudah menunjukkan kualitas dengan atau tanpa pujian anda. Dan anda sebagai pelatih atau pemimpin jangan membanding-bandingkan superstar dengan anggota tim lain, melainkan kita mencari potensi terbaik dalam diri sebuah tim dengan memanfaatkan kekuatan dari superstar sehingga kita dapat membentuk tim yang solid lewat peran dan fungsi yang telah ditetapkan anda sedari awal pembentukan tim tersebut.
*) Surya Rachmannuh lahir di Jakarta 1970, lulusan S1 dari Bunda Mulia dan S2 dari Jakarta Institute of Management Studies, Certified ISO Lead Auditor dari SGS, Certified Webmaster dan Problem Solving & Decision Making. Aktif di PT. Kalbe Farma, tbk sebagai “Training Specialist”. Hasil tulisan Alumnus Writer Schoolen “Menulis Buku Best-Seller batch XI” ini dapat dilihat di www.webiddesign.com dan suryarachmannuh.blogspot.com











