training motivasi – pelatihan menulis – training for trainer – publik speaking – andrias harefaNews Feedtraining motivasi – pelatihan menulis – training for trainer – publik speaking – andrias harefaComments Subscribe to training motivasi – pelatihan menulis – training for trainer – publik speaking – andrias harefaSitemap

KEBIASAAN OPTIMIS DALAM BELAJAR


Hampir semua kenakalan remaja terjadi karena mereka merasa kurang diperhatikan dan disayangi oleh orang tua mereka.
Apa yang menyebabkan kebanyakan siswa tidak menyukai belajar? Atau tidak menyukai mata pelajaran tertentu, bahkan semua mata pelajaran? Jika pertanyaan ini kita tanyakan kembali pada orang-orang tua, sewaktu mereka masih belajar dulu, apakah masih pantas? Dengan kata lain, kebanyakan orang-orang tua pun tidak menyukai belajar, bukan hanya semasa sekolah dulu, mungkin masih sampai sekarang.

Lantas, apa yang menjadi penyebabnya? Peter Kline mengemukakan sebuah pernyataan menarik: Belajar Akan Efektif Jika Dilakukan Dalam Suasana Menyenangkan. Ini berarti, kegiatan belajar-mengajar akan membosankan dan tidak menarik, kalau tidak tercipta suasana yang menyenangkan. Dari sini dapat kita telusuri lagi dengan sebuah pertanyaan: Kenapa suasana belajar tersebut tidak menyenangkan? Atau kenapa sebuah mata pelajaran bahkan semua itu tidak menarik dan tidak menyenangkan? Buckminster Fuller memberikan jawabannya. Kata beliau, “Setiap anak terlahir jenius, tetapi kita memupuskan kejeniusan mereka dalam enam bulan pertama.” Lho, kok bisa demikian? Bukankah setiap orang tua menginginkan anaknya itu jenius. Lantas apa sebabnya?

Dalam buku The 10 Basic Principles of Good Parenting, Laurence Steinberg menulis tentang sepuluh prinsip dasar dalam mengasuh anak. Pada prinsip yang kedua berbunyi: Anda Tak Bisa Terlalu Mencintai. Prinsip ini banyak dipakai oleh kebanyakan orang. Arti prinsip ini adalah: Anda tak boleh terlalu mencurahkan kasih sayang pada anak, karena hal itu akan membuat dirinya menjadi manja, dan nanti akan sulit diatur. Menurut Steinberg, ini adalah pengasuhan “aliran keras”.

Padahal dalam penelitian ilmiah yang dilakukan dibidang psikologi dan neurosains menunjukkan sebaliknya. Anda tak perlu ragu dalam menunjukkan kasih sayang kepada anak. “Jika anak merasa benar-benar dicintai, mereka mengembangkan rasa aman yang kuat sehingga tidak lagi terlalu menuntut. Sebagai hasilnya, orang dewasa yang paling besar kebutuhan emosionalnya adalah mereka yang tidak menerima cukup cinta orangtua saat kecil atau yang cinta orangtuanya kurang konsisten atau kurang tulus. Orang dewasa tersehat, dan mereka yang mampu mengungkapkan cinta mereka pada orang lain, pastilah mereka yang tumbuh dengan perasaan dicintai secara penuh dan tanpa syarat oleh orangtuanya, bukan mereka yang dipaksa menerima kasih sayang yang kurang lengkap”, demikian ungkap Steinberg.

Ini berarti, bayi belajar paling baik dalam sebuah kondisi ideal, dengan kasih sayang, kehangatan, dorongan, dan dukungan. Bila sikap yang sama berlanjut di sekolah, kecepatan dan kesenangan belajar tadi akan terus berlanjut.

Mari kita lihat lagi, penemuan tak sengaja oleh Harry Balkwin. Beliau menemukan hal yang menakjubkan di Rumah Sakit Bellevue tahun 1931. Semula, sebagaimana kebiasaan rumah sakit waktu itu, bayi dilarang disentuh karena alasan higienis. Balkwin menghapuskan larangan itu dan menyuruh para perawat menyentuh dan menggendong bayi. Ajaib, tingkat infeksi menurun dengan drastis. Sebetulnya bukan sentuhan itu sendiri yang menyembuhkan tetapi rasa bahagia dan cinta yang dirasakan oleh bayi-bayi kecil itu.

Dari sini dapat kita ketahui bahwa, terciptanya rasa bahagia sangat penting, bukan saja terhadap perkembangan fisik anak, tapi juga terhadap perkembangan otak dan emosi anak. Gordon Dryden dan Jeannette Vos mengatakan, “Dalam setiap sistem yang terbukti berhasil – yang kami pelajari di seluruh dunia – citra diri ternyata lebih penting daripada materi pelajaran”. Citra diri yang positif menunjukkan bahwa suasana menyenangkan akan melahirkan optimisme dalam belajar. Selama ini, kebanyakan dari kita terperangkap oleh keyakinan lama dalam mendidik anak, sehingga pertumbuhan emosi anak dalam masa pertumbuhannya terganggu.

Hal inilah yang melahirkan sikap pesimis atau tidak percaya diri dalam belajar, yang melahirkan keengganan untuk memulai suatu pelajaran. Dengan kata lain, kehilangan perasaan bahagia. Coba perhatikan penelitian berikut ini:
Ahli psikologi Al Siebert menjadi berminat pada kepribadian orang-orang yang bertahan hidup ketika ia bergabung dengan pasukan payung setelah baru lulus dari pendidikan tingginya pada tahun 1953. Kelompok latihannya terdiri atas beberapa orang yang bertahan hidup dari sebuah unit yang bisa dibilang musnah di Korea. Ia menemukan bahwa veteran-veteran ini ulet tetapi lebih sabar daripada yang diduganya. Dalam menanggapi kesalahan, mereka biasanya menjadikannya sebagai lelucon bukannya menjadi marah.

Yang lebih penting, tulis Siebert, “Saya mengamati bahwa mereka mempunyai kesadaran yang santai. Mereka masing-masing tampaknya mempunyai semacam radar pribadi yang terus-menerus melacak.” Ia menyadari bahwa bukan hanya nasib mujur yang membuat orang-orang ini mampu mengatasi nasib buruk.

Sepanjang karirnya, Siebert secara kontinyu mengamati mereka yang bertahan hidup. Ia menemukan bahwa salah satu karakteristik mereka yang paling menonjol adalah kompleksitas karakter, suatu paduan dari banyak sifat yang berlawanan yang disebutnya sifat bifasik (berfase dua). Mereka itu serius sekaligus suka melucu, keras sekaligus lembut, logis sekaligus intuitif, suka bekerja keras sekaligus pemalas, pemalu sekaligus agresif, introspektif sekaligus suka bergaul, dan seterusnya. Mereka adalah orang-orang yang penuh pertentangan yang tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori-kategori psikologis yang lazim. Ini membuat mereka lebih luwes daripada kebanyakan orang, dengan serangkaian sumber-sumber yang lebih luas yang dapat mereka manfaatkan.

Melalui penelitian panjang, Siebert menemukan bahwa mereka yang bertahan itu mempunyai hierarki kebutuhan dan bahwa, berbeda dengan kebanyakan orang, mereka mengejar semua kebutuhan itu. Di mulai dari kebutuhan yang paling dasar, kebutuhan-kebutuhan itu adalah: kelangsungan hidup, rasa aman, penerimaan oleh orang lain, harga diri, dan aktualisasi diri. Namun, salah satu kebutuhan utama yang membedakan mereka dari orang-orang lain adalah lebih dari aktualisasi diri: kebutuhan akan sinergi. Siebert mendefenisikan kebutuhan akan sinergi itu sebagai kebutuhan untuk membuat segala sesuatunya berjalan lancar bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Oleh karena itu, mereka yang bertahan hidup bertindak bukan atas kepentingannya sendiri saja melainkan juga atas kepentingan orang lain, bahkan dalam situasi yang sangat membuat stres. Kadang-kadang mereka tampak tidak terlibat, tetapi mereka adalah “sahabat dalam keadaan yang buruk”. Mereka muncul apabila timbul masalah. Orang-orang seperti ini, biasanya, menafsirkan masalah sebagai pengarahan ulang, bukan kegagalan.

Dengan melihat penelitian Siebert ini, memberi pemahaman kepada kita untuk selalu optimis dalam hidup dan senantiasa tidak mementingkan diri sendiri, apalagi jika ada sebuah masalah yang dihadapi. Sebagai penutup, saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah pengalaman nyata yang dilakukan oleh seorang kepala sekolah:

Ketika Dr. Dan Yunk datang menjabat sebagai kepala sekolah baru di SD Northview di Manhattan, Kansas, pada 1983, dia mendapati rendahnya nilai ujian, lemahnya disiplin, dan loyonya staf pengajar. Tujuh tahun kemudian, seorang kru televisi PBS menemukan perubahan mendasar dalam hal lingkungan dan hasil belajar. Anak-anak kelas empat belajar pembagian dengan memotong-motong pizza; belajar bahasa Spanyol sambil bernyanyi; belajar sejarah Amerika melalui permainan dan lagu. Anak-anak kelas empat itu dipasangkan dengan murid TK, mereka bertindak sebagai guru, dan menggunakan kata-kata tertulis menjadi cerita untuk anak umur lima tahun.

Anak-anak aktif di gedung olahraga sejak pukul 7 pagi. Di kelas, guru-guru melayani seluruh gaya belajar mereka: dengan melibatkan penglihatan, pengucapan, dan tindakan; sebuah sekolah yang memungkinkan kebanyakan muridnya bermain alat musik, dan kurikulumnya diperkaya dengan seni. Dengan cara kerja yang mungkin sulit dimengerti oleh kebanyakan guru di negara-negera lain, pada 1983 Yunk menemukan bahwa guru-guru “dalam 20 tahun tidak pernah bertukar ruang kelas”. Lalu dia menetapkan norma kerjasama antarguru.

Ketika dia datang pertama kali, “orangtua tidak menyukai dirinya. Sekarang mereka bertindak sebagai tutor, pembantu, dan mentor; bahkan salah satunya menjadi ketua klub komputer”. Dari semua sekolah dasar di negara bagian itu pada 1983, hanya sepertiga dari anak kelas empat di SD Northview yang meraih tingkat kompetensi yang diharapkan. Pada 1990: 97 persen – di tiga persen teratas. Dan di beberapa daerah, di atas satu persen teratas. Resep keberhasilan Yunk? Sama seperti Bill Hewlett dan Dave Packard di dunia bisnis: Manajemen Kebersamaan”. “Berdayakan para siswa, orangtua, dan guru, mereka harus merasa ikut memiliki.”

*) Syahril Syam adalah seorang berlisensi NLP dan certified Hypnotherapist. Beliau juga adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id


Telah di baca sebanyak: 638

LOGIKA DAN KEBAHAGIAAN

Sambil bercengkerama di atas rumput di lapangan di depan mesjid, beberapa orang jamaah memperhatikan layang-layang yang berwarna-warni terbang ke angkasa berlatar belakang langit biru lazuardi. Dari jauh terlihat Mat Kacong mendekati mereka. Mereka menyambut Mat Kacong dengan gembira.

Setelah semua duduk beralaskan rumput hijau, mereka berbicara tentang perbaikan taman di depan mesjid Agung yang besar itu. Mat Kacong hanya mendengarkan percakapan mereka, maklumlah, ia hanya jamaah tamu yang beberapa minggu sekali datang berjamaah di mesjid itu.

Setelah bahan pembicaraan mereka habis, tiba-tiba seorang anak muda mengalihkan perhatian kepada rumput yang ada di lapangan itu, katanya, “Rumput-rumput di lapangan ini sejak dulu hanya begini-begini saja.”

“Maksudmu?” tanya seseorang.

“Tampaknya selalu biasa-biasa saja, tidak memperlihatkan sesuatu yang baru.”

“Huh, kamu ini sering membicarakan hal-hal yang kurang ada artinya,” sergah yang lain lagi. “Masak soal rumput masih sempat menarik perhatian dan diperhatikan. Itu mubazir.”

“Bagaimana perdebatan ini pak Mat?” tanya seseorang kepada Mat Kacong. Yang ditanya hanya tersenyum penuh arti.

“Bagaimana pak Mat Kacong menengahi persoalan ini?”

Mat Kacong masih tersenyum. Lalu memejamkan mata. Kemudian baru bicara, “Kalau kita mengakrabi rumput-rumput yang kita injak ini dengan kacamata “cinta” kita akan merasakan rumput-rumput ini atau rumput dimanapun sebagai sesuatu yang baru dan menyegarkan.”

“Apa manfaatnya kalau kita melihatnya dengan kacamata cinta?”

“Silahkan kalian memperhatikan rumput-rumput ini sekarang juga. Kemudian kita tinggalkan untuk shalat maghrib. Besok setelah shalat shubuh kita perhatikan kembali rumput-rumput ini.”

“Paling-paling tetap seperti sekarang,” komentar seseorang.

“Tidak!” ujar Mat Kacong.

“Lho, kok tidak?” tanya seseorang yang lain.

“Rumput-rumput ini setelah kita tinggalkan satu malam pasti akan bertambah panjang walau sepersejuta millimeter. Perpanjangan itu diikuti oleh semesta rumput yang tumbuh di atas seluruh permukaan bumi ini. Dan yang lebih hakiki dari itu ialah, pada yang demikian itu ada “kerja” Allah.”

“Allahu Akbar!” seru hampir semua yang ada di situ.

Dan benar, dari pengeras suara di atas mesjid Agung itu kemudian terdengar mu’adzin meneriakkan kalimat “Allahu Akbar”.

Saya mengambil kisah di atas dari buku yang berjudul “Sate Rohani dari Madura” karya dari seorang mubalig, D. Zawawi Imron. Jalaluddin Rakhmat dalam kata pengantarnya di buku tersebut memberikan julukan sebagai PENYAIR DESA bagi Zawawi Imron. Kisah di atas merupakan salah satu kisah religius orang jelata. Sangat sederhana, namun memiliki makna yang sangat mendalam. Saya bahkan teringat sebuah acara di salah satu stasiun TV, yang menayangkan kisah “minta tolong” kepada orang-orang. Dan sungguh ajaib, kebanyakan orang-orang yang bersedia menolong dalam tayangan tersebut, hanyalah orang-orang jelata (mereka bahkan sangat miskin, berkahilah mereka yaa Allah).

Begitu sederhananya hidup ini, sampai-sampai kita jarang melihat suatu makna di baliknya. Perhatikan saja, kisah mengenai rumput di atas. Kebanyakan dari kita suka memperhatikan hal-hal besar. Apakah itu demi sebuah gengsi intelektual atau hanya sekedar terlihat lebih hebat. Kebanyakan dari kita sangat jarang memperhatikan hal-hal kecil dan bermakna. Maunya selalu yang “besar-besar”.

Dalam wacana intelektual pun, kita bahkan mempergunakan segala macam logika “canggih”, hanya agar tidak terlihat bodoh. Namun, apakah logika itu hanya untuk perdebatan intelektual saja? Apakah kita bahagia setelah berdebat? Bagaimana pula pelajaran logika dapat mengantarkan kita ke arah yang lebih baik, bahkan meraih kebahagiaan?

Para pakar psikolog menunjukkan kepada kita, bagaimana mengukur kebahagiaan. Secara singkat dapat dikatakan, bahwa kebahagiaan itu terdiri dari dua komponen: pertama, perasaan. Kebahagiaan itu adalah perasaan yang menyenangkan. Bahagia adalah emosi positif, dan sedih adalah emosi negatif. Perasaan ini disebut sebagai unsur afektif. Namun kebahagiaan tidak hanya terdiri dari perasaan; dan ini komponen yang kedua, penilaian. Penilaian sering juga disebut sebagai unsur kognitif. Kebahagiaan ini meliputi penilaian seseorang atas keseluruhan hidupnya.

“Kebahagiaan adalah sesuatu yang harus dipelajari,” tutur Harrison Ford. Oleh karena itu,telah banyak orang-orang sukses yang telah meraih kekayan material, mengeluarkan begitu banyak uang hanya untuk mempelajari arti dari kebahagiaan. Seperti yang telah dikemukakan, kebahagiaan itu merupakan perasaan senang dan penilaian diri. Maka, sudah seharusnya seseorang yang berlogika pun meraih kebahagiaan. Mengapa? Karena logika merupakan pijakan awal terhadap metode berpikir yang benar. Dan penilaian yang benar terhadap diri, tentunya akan melahirkan perasaan senang.

Bagaimana sebuah logika (ilmu) akan membawa kita ke arah kebahagiaan? Dr. Dan Baker, Direktur Program Peningkatan Kehidupan, telah meneliti dan menulis hubungan antara kebahagiaan dan perbuatan baik kepada orang lain (altruisme). Dan ternyata, penelitian menunjukkan bahwa orang bahagia bersikap altruistik. Dan orang altruistik berbahagia. Jika Anda memberikan sesuatu kepada orang lain, maka Andalah yang akan merasa bahagia. Karena memberi adalah menerima.

Saya teringat teman adik saya. Suatu ketika dia dan kawan-kawannya datang ke rumah. Pada satu kesempatan saya mengobrol dengan salah seorang di antaranya. Dia adalah tipe perempuan yang agak kurang bicara. Dari pengalamannya, saya mengetahui bahwa dia adalah tempat curhat bagi teman-temannya. Saya kemudian berkata kepadanya, “Kamu merasa berharga, kan? Kamu merasa senang ketika dapat membantu kawan-kawanmu dalam mengatasi masalahnya.” Ia mengiyakan yang saya katakan tersebut. Hal ini pun ternyata membuktikan bahwa memberi (walau hanya sekedar saran/nasehat) adalah sesuatu hal yang sangat berharga. Dan dalam setiap pemberian, kita akan selalu menerima (diharapkan ataupun tidak diharapkan), walaupun penerimaan itu hanya rasa bahagia.

Walhasil, logika itu bukan hanya “sarana perdebatan”, namun lebih dari itu, mengantarkan kita pada perubahan persepsi yang benar. Seperti yang dikatakan oleh Imam Ali, “Kemenangan diperoleh dengan kebijakan. Kebijakan diperoleh dengan berpikir secara mendalam dan benar.” Dan bagilah kepada orang lain atas apa yang telah Anda ketahui! Tentunya dengan gairah “cinta”, seperti kisah Mat Kacong di atas.

*) Syahril Syam adalah seorang berlisensi NLP dan certified Hypnotherapist. Beliau juga adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id

Telah di baca sebanyak: 738

Momentum

“Kekuatan tidak terletak pada kemampuan membawa beban yang berat: burung bangau atau derek bisa melakukan hal itu. Esensi kekuatan ditemukan pada menjinakkan watak yang jelek serta amarah yang ada pada dirimu.” - Muhammad SAW -
Ciptaan Tuhan yang paling efektif dan kuat adalah cinta. -Baha’ ad-Din, Ayah Mawlana Rumi -

Seorang wanita keluar rumah dan melihat tiga orang laki-laki tua berjanggut putih lebat sedang duduk di depan halaman rumahnya. Dia tidak mengenal mereka. Dia berkata, “Aku tidak mengenal kalian, aku rasa kalian sedang lapar. Masuklah dan silahkan makan di dalam.” “Apakah suamimu ada di rumah?”, tanya mereka. “Tidak”, wanita itu menjawab, “dia sedang keluar.” “Kalau begitu kami tidak mau masuk”, jawab mereka.

Malamnya ketika sang suami sudah pulang, ia menceritakan apa yang dialaminya tadi. “Beritahukan mereka kalau aku sudah pulang, dan persilahkan mereka masuk.” Wanita itu segera keluar dan mengundang ketiga laki-laki itu masuk. Tapi mereka berkata, “Kami tidak masuk bersamaan ke dalam.” “Mengapa?” tanya si wanita. Salah satu dari laki-laki tua itu menjelaskan, “Dia bernama Kaya,” sambil menunjuk salah satu temannya, dan berkata sambil menunjuk temannya yang lain, “Dia bernama Sukses, dan aku Cinta.” Kemudian dia menambahkan, “Masuklah dan diskusikan dengan suamimu, siapa diantara kita yang kau inginkan di dalam rumahmu.”

Wanita itu masuk ke dalam dan memberitahu suaminya. Sang suami sangat gembira dan berkata, “Kalau begitu mari kita undang Kaya. Biarkan dia masuk dan mengisi rumah kita dengan kekayaan!” Sang istri tidak setuju. “Sayangku, kenapa tidak mengundang sukses?” Anak kecil mereka yang mendengarkan pembicaraan mereka, bangkit dari tempat duduknya dan memberikan pendapatnya, “Apakah tidak lebih baik kalau kita mengundang Cinta? Rumah kita akan dipenuhi dengan Cinta!”

“Baiklah, kita laksanakan usul anak kita,” kata sang suami kepada istrinya. “Pergilah keluar dan undanglah Cinta.” Si wanita pergi keluar dan berkata kepada ketiga lelaki tua itu, “Siapa diantara kalian Cinta? Silahkan masuk dan menjadi tamu kami.”

Cinta berdiri dan berjalan ke arah rumah. Kedua laki-laki yang lain juga berdiri dan mengikutinya. Si wanita terkejut dan menanyai Kaya dan Sukses, “Aku hanya mengundang Cinta, mengapa kalian masuk?” Keduanya menjawab bersamaan, “Jika kau mengundang Kaya atau Sukses, kami berdua akan tetap berada di luar, tetapi karena kau mengundang Cinta, kemana ia pergi, kami selalu mengikutinya. Di mana ada Cinta, selalu ada Kaya dan Sukses!”

Kisah yang saya dapatkan dari sebuah milis yang saya ikuti ini, mengingatkan saya akan berbagai penelitian tentang kebahagiaan. Penelitian mengenai kekayaan dan kesuksesan dalam hubungannya dengan perasaan bahagia. Sebut saja David Myers. Myers menulis tentang sebuah paradoks yang terjadi di Amerika. Kenapa? Karena kemajuan Amerika sebagai Negara dunia pertama, dengan tingkat kekayaan yang melimpah ternyata mengalami krisis kebahagiaan. Dan peningkatan krisis kebahagiaan ini berbanding lurus dengan tingkat kekayaan dan kemakmuran. Merupakan hal yang ironis bukan?

Di sisi yang lain, Dr. Paul Pearsall melakukan penelitian terhadap orang-orang yang sukses. Telah ditemukan bahwa orang-orang sukses pun ternyata menderita, dan sangat sedikit merasa bahagia. Kenapa bisa demikian? David Myers pernah bercerita: Salah seorang mahasiswaku menggambarkan penderitaannya setelah delapan tahun hidup dengan ibunya dan ayah tirinya yang kaya tetapi suka melecehkannya: “Tidak perlu aku katakan bahwa situasinya tidak menyenangkan. Memang … ia mengendarai BMW dan baru saja membelikan untuknya Mercedes. Mereka memberi aku Mazda 626. Ia berbelanja di Bloomingdale dan memberikan untuknya jam Gucci. Dalam setahun, ia memberiku kapal pesiar. Setelah itu ia membelikanku selancar angin sendiri. Rumahku punya 2 VCR dan 3 televisi Hitachi. Apakah semuanya itu membuatku bahagia? Sama sekali tidak. Aku ingin menukarkan semua kekayaan keluargaku untuk kehidupan keluarga yang penuh damai dan cinta kasih.”

Rasa bahagia ada cinta di dalamnya, begitu pula sebaliknya. Banyak orang bergerak dengan motivasi yang bersifat materialistis atau mentalitas negatif. Mula-mula mendapatkan diri tidak memiliki yang diinginkan, dan dengan keadaan yang terpuruk itu, muncullah sekian impian untuk menggapainya. Baik itu dengan alasan kemiskinan keluarga (khususnya pada seorang suami yang merasa harus membiayai kehidupan istri dan anaknya) ataupun ingin membuktikan sesuatu kepada orang-orang yang telah mengejek kita lantaran miskinnya dan tidak berguna.

Alasan-alasan di atas yang membuat kita bergerak dalam meraih kekayaan dan kesuksesan tidaklah salah. Namun pertanyaan berikutnya adalah: apa yang akan kita lakukan setelah mendapatkan semuanya? Biasanya sih berujung pada pencarian kesenangan dan memuaskan keinginan-keinginan. Jadi, pada awalnya hanya sekedar memenuhi kebutuhan keluarga atau ingin membuktikan keberhasilan kita pada orang lain, tapi berakhir pada “just for fun”. Inilah mungkin gambaran dari kisah di atas, kalau kita memilih Kaya atau Sukses, maka Cinta tak akan pernah ikut, sehingga kebahagiaan itu tak pernah diraih.

Pada sebuah training yang saya adakan pada bulan januari 2005 lalu, saya mengangkat tema pertama dari tujuh hukum kebahagiaan, yaitu momentum. Menurut saya, paling tidak, ada tujuh hal yang membuat kita bisa meraih kebahagiaan. Saya menyebutnya juga dengan siklus 7. Karena hidup ini adalah sebuah siklus, dimana kita bisa memilih ingin berada pada siklus mana? Ke-7 siklus itu adalah: momentum, perubahan, identitas diri, tujuan dan prioritas, pilihan, pelayanan, dan doa.

Kita telah menguraikan sedikit gambaran mengenai momentum, dan kita coba membahasnya dengan lebih (sedikit) mendalam. Secara biologis, manusia bisa memiliki fungsi yang tidak jauh berbeda dengan hewan/binatang. Hanya postur organ tubuh saja yang memiliki perbedaan, namun pada fungsi organ tubuh, hampir semuanya sama dengan hewan. Dan terdapat satu ciri khas pada manusia dan hewan, yang membedakannya dengan tumbuhan, yaitu kemampuan untuk bergerak/berpindah. Hal ini pulalah yang menjadi pembeda antara manusia dan hewan. Secara sederhana, dapat digambarkan dengan pertanyaan: kemana manusia akan bergerak? Proses gerak yang dimaksud, tentunya, tidak hanya pada berpindah tempat, karena hewan pun dapat berpindah tempat. Jadi, hanya ada satu pengertian sederhana untuk defenisi gerak ini. Saya mendefenisikan gerak di sini dengan: PROSES MENJADI (BEING).

Hidup ini bukan hanya sekedar makan, minum, dan memiliki tempat tinggal. Namun, lebih dari itu, setiap manusia memiliki tujuan. Dan untuk menggapai tujuan, maka terjadilah “proses menjadi” atau gerak pada manusia. Anda ingin lulus PNS atau UMPTN, maka Anda harus “menjadi” cerdas dan berwawasan luas, agar dapat menjawab soal-soal yang diberikan. Walhasil, keberadaan tujuan meniscayakan sebuah proses gerak, dan begitu pula sebaliknya, setiap melakukan proses gerak, maka harus memiliki tujuan. Namun, tak semua manusia bergerak. Berdasarkan penelitian, rata-rata pada umur 25 tahun kebanyakan manusia telah mati. Secara sederhana, orang mati berarti tidak bisa bergerak. Ini berarti, pada umur 25 tahun, kebanyakan manusia, tidak melakukan “proses menjadi” dan pada akhirnya kehilangan arah/tujuan. Inilah salah satu faktor, yang membuat manusia tidak merasakan kebahagiaan.

Oleh sebab itu, diperlukan momentum agar “proses menjadi” itu terus berlanjut. Dalam fisika, momentum dapat didefenisikan (secara sederhana) sebagai kekuatan penggerak. Dalam kehidupan nyata, kekuatan penggerak (momentum) ini dapat saya artikan sebagai: ALASAN. Dapat disederhanakan dengan pertanyaan berikut: apa alasan saya untuk melakukan sesuatu? Atau apa alasan saya untuk hidup? Atau apa alasan saya untuk menggapai tujuan-tujuan saya?

Seperti yang telah digambarkan di atas, kebanyakan orang (hanya) memiliki alasan yang bersifat materialistis atau mentalitas negatif. Seperti yang saya uraikan juga, hal tersebut tidaklah salah. Saya hanya ingin mengajak untuk menggali lebih dalam, dan menemukan alasan yang sangat kuat dibalik alasan-alasan di atas. Dan untuk itu, saya teringat dengan tulisan dari Gede Prama. Saya akan mencoba mengutipkannya untuk Anda:

Tidak ada satupun kata-kata yang bisa mewakili perasaan
jatuh cinta. Sebutlah kata senang, gembira, bahagia, bergetar,
berdebar, takut kehilangan, cemburu, ingin selalu bersama,
semua terlihat bersinar dan menyenangkan, tetap saja tidak bisa
mewakili seluruh nuansa jatuh cinta. Inilah rangkaian hal yang
membuat cinta diidentikkan dengan perasaan (feeling).

Ada dimensi kedua dari cinta yang layak dicermati setelah
cinta sebagai perasaan, yakni cinta sebagai sebuah kekuatan
(power). Coba perhatikan pengalaman jatuh cinta kita masing-masing.
Ada kekuatan maha dahsyat yang ada di dalam diri, yang
membuat badan dan jiwa ini demikian perkasanya. Seolah-olah
disuruh memindahkan gunung pun rasanya bisa. Hampir tidak ada
penugasan dari lawan jenis yang kita cintai, yang tidak bisa
diselesaikan. Mulut ini seperti dengan cepatnya berteriak: bisa!

Bermula dari pemahaman seperti inilah, maka Deepak
Chopra dalam The Path To Love, menyebut bahwa jatuh cinta
adalah sebuah kejadian spiritual. Ia tidak semata-mata
bertemunya dua hati yang cocok kemudian menghasilkan jantung
yang berdebar-debar. Ia adalah tanda-tanda hadirnya sebuah
kekuatan yang dahsyat. Persoalannya kemudian, untuk apa
kekuatan dahsyat tadi dilakukan.

Seperti yang dituturkan oleh Gede Prama, saya pun sepakat bahwa kekuatan penggerak (momentum) itu adalah: CINTA. Setelah kita memiliki cinta, lantas bagaimana memperlakukannya dalam kehidupan sehari-hari? Atau seperti kata Gede Prama, “Untuk apa kekuatan dahsyat tadi dilakukan?

Dalam training momentum (saya sudah menjelaskannya di atas), saya membawa cinta itu, sebagai kekuatan penggerak, ke arah orang tua. Saya menyatakannya seperti ini: Apa yang Anda persembahkan kepada kedua orang tua Anda? Keinginan mempersembahkan yang terbaik itu, memberikan kekuatan untuk menggapai tujuan-tujuan hidup. Kalau kita simak dengan lebih dalam, secara umum, cinta itu bukan hanya mempersembahkan kepada kedua orang tua, tapi kepada siapa saja. Di sinilah arti penting dari MEMBERI.

Dalam kehidupan, seolah-olah, terjadi dualisme. Ada terang dan gelap, hidup dan mati, begitu juga dengan memberi dan menerima. Namun pada dasarnya, yang ada hanya ketunggalan saja. Misalkan, terang dan gelap. Yang ada hanyalah terang. Gelap itu pada dasarnya tidak ada, karena gelap hanya terjadi sebagai akibat (konsekuensi) dari adanya terang. Kalau kita bertanya: adakah sumber terang? Mungkin kita menjawab, “lampu atau matahari”. Namun, jika kita tanyakan: adakah sumber gelap? Maka jawaban tidak akan pernah ditemukan, karena gelap terjadi ketika kita menjauh dari sumber terang. Inilah yang dalam filsafat disebut sebagai substansi dan aksident, dimana terang adalah substansi dan gelap adalah aksident (konsekuensi dari adanya terang). Maka begitu pula pada “memberi” dan “menerima”. Pada dasarnya “menerima” itu tidak ada. Karena “menerima” hanya terjadi jika kita telah “memberi” terlebih dahulu. Marilah kita simak (kembali) tulisan Gede Prama yang lain:

Mari kita amati lebih dalam tentang orang-orang yang
sedang jatuh cinta ini. Orang yang sedang jatuh cinta ternyata
berpikiran positif. Semua dilihat secara positif. Serba optimis,
serba menyenangkan, mudah menerima. Sebuah taman yang
biasa-biasa saja pun terlihat bak firdaus.

Kita pun menemukan energi yang luar biasa. Energi untuk
diberikan pada orang lain. Energi untuk berkreasi, berproduksi,
bahkan energi untuk berkorban bagi orang yang dicintainya.

Sekarang mari kita amati pengalaman pribadi kita sendiri.
Saat kita bertemu dengan orang yang mengarahkan kita dengan
hati mereka – orang tua, guru, dosen favorit, atasan, dan
sebagainya. Apa yang kita lakukan untuk mereka? Kita beri apa
yang mereka minta dengan senang hati. Kita lakukan apa yang
mereka minta tanpa syarat. Tanpa menggugat, tanpa memikirkan
apakah yang akan kita dapat sebagai imbalannya. Memberi cinta
akan mendapat cinta. Memberi hati, akan mendapatkan yang sama.

Jadi, Anda tak akan mungkin “menerima”, jika tidak terlebih dahulu “memberi”. Dan kekuatan “memberi” itu adalah kekuatan cinta, yang penuh ketulusan dan keikhlasan. Dengan melakukan hal ini, maka tanpa Anda harapkan dan meminta sekalipun, maka “penerimaan” akan selalu Anda dapatkan, karena (sekali lagi) “menerima” adalah konsekuensi dari “memberi”.

Walhasil, alasan kuat (momentum) untuk bergerak (proses menjadi) adalah cinta. Dan cinta ini merupakan landasan dari “memberi”. Alasan kuat inilah yang pada akhirnya akan melahirkan komitmen untuk berbuat. Nah, kalau kita perhatikan alasan-alasan yang telah kita sebutkan pada awal-awal pembahasan kita (misalnya: membuktikan diri kepada orang lain atau memberikan nafkah kepada keluarga, inipun merupakan persembahan juga), semuanya haruslah memiliki landasan cinta untuk memberi. Hal ini pun senada dengan perkataan Ali bin Abi Thalib, “Carilah rejeki dengan bersedekah”. Atau perkataan Rasulullah saw, “Orang yang paling mulia adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.”

Saya tertarik untuk mengakhiri pembahasan kita ini dengan kisah berikut:

Di kota Samarkand suatu ketika hiduplah seorang pembawa air yang bersumpah: apa yang dia dapat setiap hari Jumat, dia akan memberikannya kepada kaum miskin, demi ruh ibu dan ayahnya. Lebih jauh, dia akan berdoa demi pengampunan dosa bagi kaum miskin setelah shalat lima waktu. Sekian lama dia menjalani komitmen ini, tetapi suatu Jumat dia tidak memperoleh uang, sehingga ia tidak bisa memberi apa-apa pada kaum miskin.

Dia pergi dan bertanya pada seorang yang bijak tentang apa yang seharusnya dia lakukan. Orang itu berkata, “Anakku, kumpulkan kulit dan air dari buah melon. Berikan semuanya pada binatang, kemudian mintalah imbalan spiritual bagi tindakanmu untuk ibu dan ayahmu. Janjimu itu dengan begitu akan terpenuhi”.

Pembawa air itu melakukan apa yang dikatakan orang bijak itu. Dinihari itu ia melihat ibu dan ayahnya dalam sebuah mimpi. “Semoga Tuhan ridho denganmu!” mereka berteriak. “Engkau terbiasa memberi kami hadiah setiap Jumat, dan sekarang malam Jumat ini, kami menerima sebagai pemberian Tuhan berupa melon dan air buah melon dari surga”.

*) Syahril Syam adalah seorang berlisensi NLP dan certified Hypnotherapist. Beliau juga adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id

Telah di baca sebanyak: 345

Otak dan Perilaku

Selama ini, para ahli ilmu kejiwaan selalu ber-asumsi bahwa perilaku kita selalu ditentukan oleh pengaruh lingkungan. Adalah mashab behaviorisme yang pertama kali meng-klaim hal ini. Dan mashab yang lahir di negeri Paman Sam ini kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia, Bahkan teori pendidikan banyak mengadopsi ajaran dari mashab ini. Salah satu tokoh utamanya, John Watson, bahkan pernah sesumbar bahwa ia bisa membentuk perilaku anak sedemikian rupa sesuai dengan keinginannya, cukup dengan mengubah-ngubah stimulus yang diberikan. Behaviorisme tidak peduli apakah Anda jahat atau baik, rasional atau emosional; menurut mereka, perilaku Anda bisa diubah dengan hanya mengubah lingkungan saja.
Bahkan Watson dan rekannya pernah melakukan sebuah eksperimen yang “sedikit gila”, hanya untuk membuktikan teorinya. Eksperimen ini bermula pada seorang anak kecil, dan diberikan seekor tikus putih kesayangannya. Watson menginginkan suatu perilaku rasa takut muncul pada anak tersebut. Dengan menciptakan suatu kondisi tertentu, diharapkan rasa takut itu muncul pada anak kecil tersebut. Saat Albert, nama anak kecil itu, mulai memegang tikus putih kesayangannya, Albert kemudian diberikan sebuah pukulan keras dan menyakitkan. Saat Albert ingin memegang tikus itu kembali, pukulan yang lebih keras melayang padanya. Akhirnya tercipta suatu kondisi stimuli yang diharapkan, yaitu munculnya rasa takut Albert terhadap tikus putih itu. Jangankan memegang tikus putih, saat melihat tikus putih, Albert berlari ketakutan.
Itulah suatu eksperimen penciptaan perilaku dengan menciptakan suatu kondisi stimulus tertentu. Walau mashab ini mendapat banyak kritikan dari mashab psikologi selanjutnya, satu hal umum yang masih tetap berlaku adalah bahwa perilaku kita senantiasa ditentukan oleh kejadian masa lalu, adanya tekanan tertentu, dan berbagai sebab-sebab psikologis lainnya.
Keyakinan ini terus bertahan hingga menjelang tahun 2000. Mari kita lihat kisah Andrew, seorang anak yang berusia 9 tahun. Suatu hari Andrew mendatangi klinik Dr. Amen, seorang pakar dan peneliti hubungan antara otak dan perilaku, dengan kasus kepribadian yang berubah. Dulu Andrew adalah anak yang periang dan aktif. Saat berkunjung ke klinik Dr. Amen, ia nampak tertekan, agresif, dan pernah melontarkan ancaman bunuh diri dan akan membunuh orang lain di hadapan ibunya. Andrew pernah membuat gambar tentang dirinya yang tergantung di sebuah pohon, dan gambar lain tentang dirinya yang lagi menembak anak-anak. Andrew pernah menyerang seorang anak perempuan tanpa alasan.
Dalam keluarga Andrew, tidak ditemukan adanya riwayat keluarga yang pernah mengalami gangguan jiwa serius. Orang tua Andrew pun adalah orang tua yang penuh kasih, peduli, dan ramah terhadap Andrew. Dr. Amen kala itu mengalami banyak kritikan dari para koleganya tentang bidang baru yang dirintisnya ini. Para ahli jiwa lainnya mengkrtitik Amen dengan kritikan pedas, “Maksud Anda, Anda bisa melihat penyakit jiwa?” Para peng-kritik penelitian Amen mengungkapkan bahwa adalah mustahil memahami perilaku dengan memerhatikan pola otak.
Namun kisah Andrew lain. Mari kita lanjutkan kisahnya.Saat mengingat kritikan tersebut, Dr. Amen sempat menduga-duga masalah Andrew ini dengan dugaan ala psikiater atau psikolog. Jangan-jangan Andrew ini cemburu karena ia hanya anak kedua, dan memiliki seorang kakak yang “sempurna”. Mungkin saja ada kekerasan yang pernah dilakukan oleh orang tua Andrew. Dan berbagai dugaan sebab psikologis lainnya. Namun ada satu hal yang menyadarkan lamunan sesaat Dr. Amen, yaitu bahwa secara normal, mustahil seorang anak berusia 9 tahun sudah memiliki pikiran ingin bunuh diri dan ingin membunuh orang lain, betapa pun beratnya beban psikologis untuk anak berusia 9 tahun.
Dr. Amen akhirnya melanjutkan risetnya terhadap Andrew. Dengan menggunakan SPECT (alat pencitraan otak) dan kemudian dilanjutkan dengan MRI, ditemukan bahwa pada otak lobus temporal kiri Andrew ternyata terdapat kista seukuran bola golf. Dan berdasarkan penelitian Amen, perilaku agresif berhubungan dengan adanya masalah pada lobus temporal kiri. Namun usaha Dr. Amen selanjutnya dalam menyembuhkan Andrew menemui beberapa hambatan klasik. Saat Andrew akan dirujuk ke dokter ahli bedah, para dokter ini selalu berkata bahwa perilaku agresif Andrew tidak berhubungan samasekali dengan kista di otaknya. Dan para dokter ini tidak menyarankan operasi sebelum tampak “gejala yang nyata”, yaitu berupa gejala epilepsi atau mengalami gangguan bicara.
Namun Dr. Amen terus berusaha mencari dokter bedah lainnya. Akhirnya ia menemukan seorang dokter bedah anak, Jorge Lazareff, yang bersedia melakukan operasi kista pada otak Andrew. Dan ternyata Lazareff pernah melakukan operasi kista di bagian lobus temporal kiri pada 3 orang anak, dimana ke-3 anak tersebut juga sebelumnya memperlihatkan perilaku agresif.
Dan apa yang terjadi kemudian terhadap Andrew? Pasca siuman dari operasi, Andrew tersenyum kepada ibunya (sebuah senyuman yang baru lagi muncul sejak setahun terakhir). Perilaku agresif Andrew hilang, dan ia telah kembali menjadi seorang anak yang manis seperti saat usianya belum menginjak 7 tahun. Apa yang dilakukan oleh Dr. Amen ini membuktikan satu hal penting, seperti yang dikatakannya, “Sikap tidak ramah, tidak suka bekerja keras, tidak ceria, gelisah, tidak patuh atau jahat terkadang bukan karena seseorang menginginkannya, melainkan karena ada sesuatu yang salah dengan otak. Sesuatu yang dapat diperbaiki.”

*) Syahril Syam adalah seorang berlisensi NLP dan certified Hypnotherapist. Beliau juga adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id

Telah di baca sebanyak: 458

Latihan Mental yang Menyembuhkan

Suatu hari saya men-terapi seorang perempuan yang berusia sekitar 61 tahun. Ibu tersebut mengeluhkan masalah pada perutnya. Setelah melalui pemeriksaan medis, dokter mengatakan bahwa ibu tersebut mengalami masalah pada kandungannya. Ibu tersebut mengalami turun kandungan. Istilah turun kandungan adalah sebuah istilah yang sering dipakai dalam masyarakat kita. Dalam dunia medis disebut prolapsus uteri, hal yang dimaksud adalah rahim mengalami penurunan akibat otot-otot penyanggah rahim telah menjadi lemah. Hal ini biasanya terjadi pada perempuan yang sudah menopause atau pada perempuan yang sering melahirkan, atau yang suka bekerja berat.

Namun bukan hal itu yang akan kita bahas lebih lanjut. Ibu tersebut datang kepada saya dan bertanya apakah hipnoterapi bisa membantu perbaikan pada kandungannya tersebut? Saya pun menjawab, insyaAllah bisa. Maka ibu itu pun masuk ke kondisi pikiran yang rileks. Kondisi pikiran yang saya maksud adalah kondisi pikiran yang mendekati kondisi tidur, namun bukan tidur. Kondisi pikiran yang rileks ini mirip dengan kondisi saat kita mengalami mimpi saat tidur. Berbeda dengan tidur, dimana kesadaran kita samasekali terputus dengan realitas eksternal, kondisi pikiran yang rileks adalah kondisi dimana kesadarn kita masih aktif, sehingga klien yang di hipnosis masih mendengar panduan yang diberikan oleh terapis.

Setelah melalui sesi terapi sekitar 45 menit, Alhamdulillah proses terapi berjalan dengan baik. Saat selesai, saya bertanya kepada ibu tersebut, “Apakah ibu tadi merasakan sesuatu di perut ibu?. Ibu itu pun menjawab, “Iya. Saya merasakan ada yang bergerak pada perut saya, dan saya merasakan kondisi perut yang sekarang sangat nyaman”. Dan berdasarkan hasil pemeriksaan kembali, memang benar, kondisi rahim ibu tersebut telah kembali ke posisi normal.

Apa yang terjadi selama sesi terapi itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita melihat penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para pakar ahli syaraf berkenan dengan pikiran dan otak. Penelitian Jeffrey M. Schwartz menemukan bahwa para penderita OCD (Obsessive compulsive disorder), suatu kondisi dimana pikiran di bombardir oleh berbagai pikiran-pikiran yang mengganggu, mengesalkan, dan tidak diinginkan (obsesi), untuk kemudian melahirkan suatu perilaku ritualistik (kompulsi), seperti mencuci tangan yang terlalu sering, memeriksa kunci pintu yang terlalu sering, memeriksa kompor terlalu sering, atau perilaku ritualistik yang terjadi berulang-ulang karena adanya desakan tanpa jelas, dapat disembuhkan dengan latihan mental. Para penderita OCD tersebut di scan otak mereka dan ditemukan bahwa otak bagian korteks frontalis orbital dan korteks striatum mengalami aktifitas yang terlalu berlebihan. Bagian ini terlalu membombardir seluruh bagian otak dengan perasaan-perasaan bahwa ada sesuatu yang salah.

Saat para penderita OCD diberi latihan mental dan kemampuan re-learning tentang perasaan-perasaan mereka, maka beberapa waktu kemudian para penderita OCD ini sembuh. Dan saat otak mereka dilihat kembali, ditemukan bahwa aktifitas pada bagian korteks frontalis orbital menurun drastis ketimbang sebelum terapi. Hasil ini tentu saja membuktikan bahwa suatu latihan mental yang tepat, dapat merubah kimiawi otak yang rusak, dan pada gilirannya mengubah diri kita. Apa yang dilakukan oleh Schwartz adalah penelitian pertama yang menunjukkan bahwa terapi kognitif-perilaku dapat mengubah otak kita. Schwartz kemudian berkata, “Penelitian ini membuktikan bahwa upaya yang dengan disertai kemauan keras dan kesadaran penuh dapat mengubah fungsi otak, dan bahwa perubahan otak yang diarahkan oleh diri sendiri ini merupakan kenyataan murni.” Sukses dan bahagia selalu untuk Anda!

*) Syahril Syam adalah seorang berlisensi NLP dan certified Hypnotherapist. Beliau juga adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id

Telah di baca sebanyak: 454

PERHATIKANLAH!

Saat berbicara tentang otak, maka telah banyak hal yang diketahui. Namun masih lebih banyak lagi yang belum diketahui tentangnya. Sungguh menarik saat mengetahui sebuah penelitian yang luar biasa tentang otak dan bagaimana kita merubah otak dan pada akhirnya merubah diri kita.

Dalam Journal of Neuroscience, terdapat sebuah penelitian tentang bagaimana otak berubah. Memang benar bahwa telah banyak ilmuwan yang meneliti tentang kemampuan otak untuk berubah, yang biasa disebut neuroplastisitas. Namun, yang begitu menarik perhatian saya adalah kemampuan mem-fokus-kan perhatian ternyata mampu membuat perubahan dan hasil yang cepat pada otak.

Ada beberapa monyet yang dibagi menjadi dua kelompok. Pada monyet-monyet tersebut dipasangi alat pada jemari mereka. Sebuah alat yang berfungsi untuk mengetuk jemari monyet tersebut sebanyak seratus menit per hari selama enam minggu. Saat jari-jari mereka juga bergerak, monyet-monyet ini juga mendengarkan suara melalui headphone.

Kedua kelompok monyet ini diberikan stimulus yang sama pada jari dan telinga mereka. Satu-satunya yang membedakan adalah, pada kelompok pertama, monyet-monyet dilatih untuk fokus pada jari mereka. Saat para monyet mampu merasakan adanya perubahan irama pada musik yang didengar, mereka harus mem-fokus-kan perubahan yang terjadi pada jari mereka. Sedangkan pada kelompok kedua, para monyet dilatih untuk memperhatikan perbedaan yang terjadi pada suara yang mereka dengar. Jika mereka berhasil melakukannya, maka para ilmuwan akan memberikan hadiah berupa jus kepada mereka.

Apa yang terjadi? Saat para ilmuwan memperhatikan otak mereka pada enam minggu kemudian. Pada kelompok monyet pertama yang mengarahkan fokus mereka pada jari ternyata mengalami perubahan pada otak mereka, tepatnya pada bagian korteks somatosensorik. Kelompok monyet pertama mendapat stimulus yang tiba-tiba selama enam minggu pada jari mereka. Aduh maaf! Karena kedua kelompok monyet mendapat stimulus yang sama, maka kelompok pertama yang fokus pada stimulus yang tiba-tiba selama enam minggu pada jari-jari mereka, memperlihatkan perubahan pada area otak yang mem-proses stimulus pada jari.

Dan pada kelompok kedua. Walau mereka mendapat stimulus yang sama dengan kelompok pertama, otak mereka ternyata tidak memperlihatkan samasekali perubahan pada area korteks somatosensorik mereka. Karena kelompok monyet ini dilatih untuk fokus pada suara/auditori. Perubahan pada otak mereka justru terjadi pada bagian korteks auditori meningkat, padahal pada jari mereka pun mendapat stimulus yang sama dengan kelompok monyet pertama.

Wow…saya sungguh takjub dengan penelitian ini. Jim Rohn pernah berkata, “Jika Anda fokus pada satu bidang yang sama selama 5 tahun, maka Anda akan menjadi orang yang sangat ahli pada bidang tersebut”. Kenapa? Karena Anda memberikan perhatian yang sungguh besar pada bidang yang Anda minati tersebut.

Pentingnya memberikan perhatian yang utuh mampu mem-percepat proses perubahan di otak. Ini tentunya memberikan banyak pelajaraan bagi kita, agar bersungguh-sungguh pada suatu hal positif yang akan kita kerjakan. Oleh sebab itu, melatih kemampuan fokus kita, tentu akan sangat membantu perubahan menuju hal yang positif yang kita inginkan. Sukses dan bahagia selalu untuk Anda!

*) Syahril Syam adalah seorang berlisensi NLP dan certified Hypnotherapist. Beliau juga adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id

Telah di baca sebanyak: 387

Membangun Kepercayaan Diri

Pada suatu akhir pekan, seorang pria bernama Malcolm, bertempat tinggal di Vancouver, mengajak tunangannya berjalan-jalan melewati hutan utara British Colombia. Entah bagaimana mereka terjebak diantara seekor beruang dan anak-anaknya. Induk beruang itu, karena ingin melindungi anak-anaknya, menarik dan mencengkram tunangan Malcolm. Tinggi badan Malcolm hanya sekitar 157 cm, sedangkan beruang itu sangat besar. Namun, dia mempunyai keberanian dan berhasil membebaskan tunangannya. Kemudian, induk beruang menangkap Malcolm dan mulai meremukkan setiap tulang pokok di tubuhnya. Induk beruang mengakhiri serangan dengan menancapkan cakarnya pada wajah Malcolm dan mencakar lurus hingga ke kepala bagian belakang.

Ajaib, ternyata Malcolm tetap hidup. Selama delapan tahun dia berulang-ulang menjalani operasi pemulihan. Selama itu, para dokter telah melakukan semua bedah kosmetik yang mungkin bisa mereka lakukan. Namun, semua itu tidak cukup menolong Malcolm dan Malcolm memandang dirinya sebagai si buruk rupa. Dia tidak ingin lagi tampil di hadapan umum.

Oleh karena itu, pada suatu hari Malcolm naik dengan kursi rodanya ke atap lantai sepuluh gedung pusat rehabilitasi. Ketika sedang bersiap-siap untuk mendorong tubuhnya melintasi batas bangunan, ayahnya muncul. Sebelumnya, sang ayah mendengar bisikan hatinya yang menyuruh dia untuk menemui anaknya. Pada waktu yang tepat, sang ayah muncul di puncak tangga dan berkata, “Malcolm, tunggu sebentar.” Mendengar suara ayahnya, Malcolm membalikkan badan di atas kursi rodanya.

Ayahnya berkata, “Malcolm, setiap manusia memiliki bekas luka di suatu tempat yang tersembunyi di dalam dirinya. Rata-rata mereka menyembunyikannya dengan senyuman, kosmetik, dan pakaian indah. Kebetulan kau harus memakai bekas luka itu di bagian luar. Namun, kita semua sama, Anakku. Kita sama-sama punya luka.” Malcolm tidak lagi mampu melompat dari atap gedung itu.

Tidak lama kemudian, seorang teman membawakan beberapa rekaman kaset mengenai motivasi. Pada salah satu kaset, dia menyimak kisah Paul Jeffers, yang kehilangan pendengarannya pada usai 42 tahun dan berhasil menjadi salah satu wiraniaga terkenal di dunia. Malcolm mendengar saat Paul berkata, “Halangan diberikan kepada orang-orang biasa agar mereka menjadi luar biasa.”

Malcolm berkata pada dirinya sendiri, “Itu kan saya. Saya luar biasa!”

Malcolm harus melawan rasa takut ditolak karena fisiknya kini cacat.

Dia bangun setiap hari dengan kesadaran bahwa selalu ada kemungkinan (untuk ditolak), namun dia tetap melangkah maju sedikit demi sedikit. Malcolm memutuskan untuk bekerja sebagai wiraniaga asuransi – suatu pekerjaan yang akan menghadapkan dia pada penolakan berkali-kali setiap hari. Dia memutuskan untuk menjadikan kekurangannya yang utama sebagai modal.

Dia memasang foto diri pada kartu bisnisnya, dan ketika dia memberikannya kepada orang lain, dia akan berkata, “Saya buruk rupa di luar, tetapi ganteng di dalam jika saja Anda punya kesempatan untuk mengenal saya.” Setahun kemudian, Malcolm menjadi agen asuransi nomor satu di Vancouver.

Saya memaparkan kisah nyata di atas, sebagai gambaran bahwa masalah kita yang sesungguhnya bukanlah berada di luar diri kita, namun di dalam diri kita sendiri. Kenapa? Dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People, Stephen R. Covey menuturkan, “Jika kami ingin mengubah sebuah situasi, kami harus mengubah diri kami terlebih dahulu. Dan untuk mengubah diri kami secara efektif, kami lebih dahulu harus mengubah persepsi kami.”

Begitu pula halnya dengan kepercayaan diri Anda. Sebagai contoh, ketika Anda melakukan hubungan komunikasi dengan orang lain. Tidak benar anggapan orang bahwa makin sering melakukan komunikasi dengan orang lain, maka makin baik hubungan mereka. Yang menjadi soal bukanlah berapa kali komunikasi dilakukan, tetapi bagaimana komunikasi itu dilakukan. Salah satu faktor utama dalam membangun komunikasi dengan orang lain adalah PERCAYA.

Bila saya percaya kepada Anda, bila perilaku Anda dapat saya duga, bila saya yakin Anda tidak akan mengkhianati atau merugikan saya, maka saya akan lebih banyak membuka diri saya kepada Anda. Relevansi dari kepercayaan ini adalah Anda akan MENERIMA. Menerima adalah kemampuan berhubungan dengan orang lain tanpa menilai dan tanpa berusaha mengendalikan.

Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa, dalam membangun sebuah hubungan dengan orang lain pun, Anda harus terlebih dahulu mempercayai diri Anda terlebih dahulu. Karena ketidakpercayaan terhadap diri sendiri akan berakibat pada ketidakmampuan Anda menerima diri Anda apa adanya. Anda akan selalu merasa tidak gagah/cantik, selalu merasa minder karena tidak PD (percaya diri), dan lain-lain. Dan ketika Anda susah untuk menerima diri Anda apa adanya, maka akan terasa sulit untuk berhubungan dan membangun kepercayaan dengan orang lain.

Seperti kata Covey di atas, pada akhirnya kepercayaan diri itu dibangun dengan merubah persepsi Anda sendiri. Bagaimana Anda memandang diri Anda sendiri? Apa penilaian Anda terhadap diri Anda sendiri? Membenahi persepsi (cara pandang) Anda terhadap diri Anda sendiri, akan membangun sebuah kepercayaan diri yang matang. Dengan kata lain, Anda akan memiliki harga diri yang lebih baik. Seperti kata Steven J. Stein, “Kita bisa meningkatkan kecerdasan emosional dengan mengubah keyakinan yang bersifat merusak serta menggantinya dengan keyakinan yang bersifat membangun.”

*) Syahril Syam adalah seorang berlisensi NLP dan certified Hypnotherapist. Beliau juga adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id

Telah di baca sebanyak: 392

Temukan Makna Kehidupan di Balik Kekecewaan

Belasan tahun yang lalu, saya dan seorang kawan mengendarai sebuah sepeda motor menuju ke suatu daerah di luar kota Makassar. Motor yang kami kendarai adalah motor dengan jenis mesin 2 tak. Saat itu saya memegang kemudi motor tersebut. Di saat kami tengah asyik menikmati perjalanan, dan di saat rumah-rumah penduduk sudah mulai jarang terlihat di sepanjang perjalanan, tiba-tiba kami dikejutkan dengan menyalanya sebuah lampu indikator berwarna merah yang terdapat di panel instrument.

Kami tahu bahwa lampu indikator berwarna merah tersebut menandakan bahwa oli samping motor yang kami kendarai sebentar lagi akan habis. Dan itu berarti kami hanya memiliki dua pilihan. Pertama, tidak peduli atau bahkan marah-marah serta menyesal menggunakan motor 2 tak, atau kedua, mulai berdoa dan mengundurkan kecepatan motor serta berharap-harap cemas, semoga kami segera menemukan stasiun pengisian bahan bakar atau paling tidak penduduk setempat yang menjual bensin sekaligus oli samping. Jika pilihan pertama yang kami ambil, maka kamilah yang akan menyesal kemudian, juga akan menjadi sangat kerepotan dengan dengan keadaan tersebut. Karena jika sampai oli samping motor tersebut betul-betul habis, maka bukan hanya mesin motornya yang rusak, kami pun akan begitu kerepotan melanjutkan perjalanan, terlebih lagi rumah-rumah penduduk sudah mulai jarang terlihat.

Waktu itu, saya sempat panik, kawan saya pun sempat panik, karena kami tahu persis apa yang akan terjadi kepada mesin motor jika sampai oli sampingnya habis total. Jadi, kami pun mengambil langkah kedua. Kami mulai berdoa dalam hati, mulai mengurangi kecepatan motor, dan berharap-harap cemas agar segera menemukan penjual oli samping. Beruntunglah waktu itu, sekitar 15-20 menit perjalanan, kami menemukan penduduk setempat yang menjual bensin sekaligus oli samping. Kami segera membelinya, dan akhirnya perjalanan kami pun lancar kembali.

Perjalanan di kehidupan ini pun kurang lebih sama dengan perjalanan kami di atas. Allah swt sudah merancang diri kita laksana sebuah “mesin” yang tangguh dalam mengarungi perjalanan kehidupan ini. Tentunya manusia tidak sama dengan mesin motor, oleh sebab itu kata “mesin” saya beri tanda kutip. Namun prinsip kerja emosi kita memiliki kemiripan dengan panel instrument pada kendaraan bermotor. Sistem emosi kita tidak memberikan sinyal kepada kita berupa kata-kata, tapi memberikan sinyal peringatan kepada kita melalui emosi-emosi yang kita rasakan. Dalam tulisan ini, salah satu sinyal emosi yang sering muncul kepada kita adalah KECEWA. Apa sih maksud munculnya perasaan kecewa ini pada kita? Inilah yang akan kita bahas pada tulisan kali ini.

Saya percaya, Anda pernah merasa kecewa. Jika Anda sama sekali tidak pernah merasa kecewa berarti sistem emosi Anda kemungkinan besar rusak. Anda ibarat mayat hidup yang berjalan tanpa adanya emosi. Padahal, kehidupan ini justru penuh warna, karena adanya sistem emosi pada diri kita. Kadang-kadang kita kecewa, eh … kadang-kadang kita bahagia. Inilah warna-warna kehidupan. Bisa Anda bayangkan jika Anda tidak memiliki emosi sama sekali. Anda tentu tidak bisa merasakan kekecewaan sekaligus juga tidak bisa merasakan kebahagiaan. Dalam penelitian dibidang neurosains, orang-orang yang sistem emosinya rusak, merupakan orang-orang yang hidup tanpa makna dan warna kehidupan. Beberapa orang kemudian menjadi psikopat kelas kakap.

Nah, perasaan kecewa yang muncul seperti lampu indikator berwarna merah yang ada pada penel instrument motor yang kami kendarai tadi. Emosi kecewa sesungguhnya merupakan signal bahwa ada sesuatu di dalam pikiran dan hati kita yang salah dan berjalan tidak sebagaimana mestinya. Itulah sebabnya muncul perasaan kecewa. Lebih tepatnya, perasaan kecewa muncul karena ada kesenjangan antara harapan kita dan kenyataan hidup yang tengah kita jalani. Ketika perasaan kecewa ini muncul, maka Anda pun hanya memiliki dua pilihan. Pertama, marah-marah dengan keadaan dan orang-orang di sekitar Anda, atau kedua, belajar menemukan makna kehidupan ini. Jika langkah pertama yang Anda ambil, maka seperti mesin motor, pikiran dan hati Anda pun akan semakin rusak (dalam bahasa agama, memiliki hati yang kotor). Tapi jika Anda membuka diri dan belajar menemukan makna, maka pikiran dan hati Anda pun akan semakin jernih, dan Anda akan semakin mudah dan menikmati mengarungi kehidupan ini hingga akhir hayat memanggil.

Agar lebih menarik, maka mari kita lihat kerja emosi kecewa ini di dalam otak kita. Kita akan membahas hasil-hasil penelitian di bidang neurosains. Bagian otak yang bernama prefrontal cortex adalah bagian otak yang selalu men-scan setiap detik-detik kehidupan kita. Bagian otak ini letaknya dibalik dahi Anda. Bagian ini ibarat mata ketiga Anda yang selalu memantau setiap detik kehidupan Anda. Seperti yang kita ketahui, otak kita bekerja dengan cara menciptakan hubungan-hubungan antar sel otak (antar neuron). Hubungan antar neuron ini tercipta dengan bantuan sejenis zat kimia yang disebut neurotransmitter, atau zat kimia yang berfungsi menyampaikan pesan dari satu syaraf ke syaraf lainnya. Salah satu neurotransmitter di dalam otak kita adalah dopamin. Neurotransmitter dopamin ini merupakan neurohormon yang berperan mengatur emosi-emosi kita; suatu senyawa molekul yang menciptakan perasaan-perasaan kita.

Jika dopamin diproduksi dalam jumlah yang banyak, maka Anda akan merasa senang dan bahagia. Akan tetapi jika jumlah dopamin berkurang di dalam otak Anda, maka Anda akan merasa sedih dan kecewa. Nah, bagaimana sih kerja neuron-neuron dopamin ini? Mari kita lihat penelitian yang dilakukan oleh Wolfram Schultz dari Universitas Cambridge. Tanpa sengaja Schultz, menemukan kerja neuron dopamin ini pada eksperimen pemberian hadiah kepada kera-kera percobaannya. Dalam penelitiannya, Schultz membunyikan suatu suara keras, menunggu beberapa detik, dan kemudian memberikan beberapa tetes jus apel ke mulut seekor kera. Awalnya, neuron dopamin ini bergerak ketika tetes-tetes jus apel tersebut diberikan. Namun, hanya dengan beberapa kali percobaan saja, kera-kera itu menunjukkan aktivatas neuron dopamin yang menarik. Hanya cukup dengan membunyikan suara keras saja, neuron-neuron dopamin yang sama akan mulai bergerak, bukan lagi bergerak di saat mendapatkan hadiah berupa tetes-tetes jus apel.

Dalam penelitiannya, Schultz melihat pola kerja yang sangat menarik pada neuron dopamin kera-kera tersebut. Cara kerja neuron dopamin lebih mirip kepada aktivitas mem-prediksi hadiah ketimbang benar-benar mendapatkan hadiah tersebut. Menariknya lagi, kera-kera yang diberi hadiah berupa makanan tanpa membunyikan suara keras sebelumnya, menunjukkan aktivitas neuron dopamin yang mulai bergerak sesaat sebelum mereka betul-betul mendapatkan makanan tersebut. Dengan kata lain, neuron dopamin mereka bekerja dan mulai memprediksi – bahwa mereka akan mendapatkan makanan sebentar lagi – sebelum mereka betul-betul mendapatkan makanan. Cara kerja sistem ini menyangkut EKSPEKTASI (harapan), dan membuat pola berdasarkan pengalaman: jika ini, maka itu. Jika bel dibunyikan, maka mereka mem-prediksi bahwa sebentar lagi akan segera mendapatkan makanan. Dan jika prediksi kera-kera tersebut benar, maka sejumlah besar dopamin akan keluar dan hal ini akan menimbulkan perasaan senang dan membahagiakan.

Namun ketika prediksi kera-kera tersebut keliru (kera-kera tersebut mendengar suara keras, tapi dalam penantian, kera-kera tersebut tidak mendapatkan sama sekali tetes-tetes jus), maka jumlah gerakan-gerakan neuron dopaminnya akan menurun. Dan hal ini akan menyebabkan jumlah dopamin berkurang, dan akan melahirkan kesedihan dan kekecewaan. Dengan kata lain, telah terjadi salah prediksi. Neuron-neuron dopamin mendapatkan sinyal salah prediksi.

Setelah melalui serangkaian pengalaman yang begitu banyak, maka kera-kera ini pada akhirnya mahir melakukan prediksi dengan tepat. Dengan kata lain, neuron-neuron dopamin mereka telah membuat pola-pola prediksi yang baru dan akurat, setelah membandingkan serangkaian prediksi yang benar dan prediksi yang keliru. Dan pola-pola neuron dopamin ini terjadi pada level bawah sadar. Artinya, terjadi tanpa si kera menyadarinya. Pada akhirnya, kera-kera ini mengetahui, bahwa jika situasinya berjalan sempurna, maka neuron-neuron dopamin akan bergerak dan memberikan sensasi kesenangan, dan akhirnya mereka akan mendapatkan hadiah. Namun, jika situasinya tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka sel-sel otak ini langsung mengirimkan sinyal salah prediksi, dan berhenti mengeluarkan dopamin. Hal ini akan menimbulkan suatu perasaan sedih dan kecewa, atau mungkin juga suatu kecemasan.

Nah, bagaimana dengan kehidupan ini? Setiap kali Anda membuat kesalahan atau menjumpai sesuatu yang baru, neuron-neuron dopamin sibuk mengubah diri mereka. Sel-sel otak ini juga mengukur kesenjangan antara harapan dan hasil. Mereka belajar dari kesalahan-kesalahan mereka sendiri untuk meningkatkan performa mereka; kegagalan akhirnya diubah menjadi keberhasilan. Karena pada manusia ada pilihan hidup, maka tentunya hal ini akan terjadi jika Anda mau belajar dan membuka diri terhadap berbagai perubahan dalam hidup.

Para master dalam bidang tertentu bekerja berdasarkan prinsip kerja neuron dopamin ini. Garry Kasparov, grand master catur, menjadi sangat ahli dalam bermain catur karena dia selalu menonton kembali pertandingan-pertandingan yang pernah dilaluinya. Dia menonton untuk kemudian mencari-cari kesalahan yang ia buat ketika bermain catur. Hal ini selalu membuat dia belajar dan memperbaiki langkah-langkah catur yang mumpuni. Di dalam otak Garry Kasparov, yang terjadi ketika ia menonton ulang pertandingannya adalah neuron-neuron dopamin kemudian membuat pola-pola prediksi baru, agar menciptakan suatu pola prediksi langkah catur yang benar dan akurat.

Neuron-neuron dopamin secara otomatis mendeteksi pola-pola stimulus. Mereka menyerap semua data yang tak dapat kita tangkap secara sadar. Kemudian, sesudah merevisi prediksi-prediksi tentang dunia nyata, mereka menerjemahkan prediksi-prediksi ini menjadi emosi-emosi. Kegagalan, kesalahan, kekecewaan, bersifat mendidik. Latihan yang tekun akan menghasilkan intuisi yang cerdas. Dengan kata lain, semakin banyak kegagalan dan kekecewaan yang menimpa Anda, dan Anda secara seksama mempelajarinya, maka Anda akan semakin AHLI. Karena perasaan-perasaan negatif dan menyakitkan yang Anda rasakan ketika berbuat kesalahan, justru membuat otak Anda me-REVISI model-modelnya. Dengan kata lain, sebelum berhasil, neuron-neuron dopamin harus gagal berkali-kali.

Coba Anda perhatikan para sales terbaik. Mereka adalah orang-orang yang kenyang makan asam garam komunikasi dengan orang lain. Jika kita memperhatikan para sales terbaik itu, mereka adalah orang-orang yang dengan mudahnya membangun keakraban dengan orang lain, sebelum pada akhirnya berhasil menciptakan sebuah transaksi yang menguntungkan. Nah, bagaimana caranya mereka menjadi sales terbaik? Sudah pasti dengan cara bertemu dengan orang-orang baru setiap hari. Mungkin pada awalnya mereka rada kaku dalam berkomunikasi dengan orang-orang yang baru mereka kenal. Awalnya mereka kecewa karena prediksi komunikasi mereka keliru. Tapi setelah melalui serangkaian pengalaman bertemu dengan orang-orang baru, maka neuron-neuron dopamin mereka mulai mahir menciptakan pola-pola prediksi secara akurat, dan menghasilkan komunikasi yang akrab. Tentunya berakhir dengan penjualan yang sukses.

Yang perlu diingat adalah bahwa neuron dopamin kita akan bekerja dengan baik, jika kita mau belajar dan membuka diri terhadap berbagai perubahan yang mungkin kita alami. Garry Kasparov tidak akan mungkin menjadi grand master catur, jika ia larut dalam kekecewaan yang dirasakannya. Atau sales terbaik tidak akan mungkin berhasil meningkatkan penjualannya, jika selalu larut dalam kecewa ketika bertemu orang-orang baru dan “gagal” menciptakan suasana akrab.

Jadi ketika Anda kecewa, maka pada dasarnya emosi ini hadir untuk memberitahu kepada Anda bahwa terdapat kesenjangan antara harapan Anda dan kenyataan yang diterima. Dan emosi ini memberitahu kepada Anda untuk segera belajar dan membuka diri terhadap kenyataan hidup. Bukan dengan marah-marah dan larut dalam kekecewaan yang semakin pahit.

Jika kita melihat ini lebih luas lagi, maka ternyata kehidupan ini sudah dirancang sedemikian rupa, agar fase-fase kehidupan kita ini di selingi dengan beberapa kekecewaan, yang merupakan sebuah signal bagi kita bahwa jalan yang kita pilih sudah tepat, hanya saja kita perlu fleksibel dalam menyikapi kehidupan. Sewaktu workshop, saya sering memberi contoh kehidupan pernikahan.

Jika libido masih dalam kadar full, maka prediksi-prediksi (harapan) kita terhadap pasangan selalu tepat, dan ini akan melahirkan kesenangan dan kebahagiaan. Namun biasanya, ketika libido sudah mulai tersalurkan, maka biasanya prediksi-prediksi (harapan) kita terhadap pasangan mulai tidak tepat. Maka akan muncullah serangkaian kekecewaan. Suami mulai merasa kecewa terhadap istrinya, dan istrinya pun mulai kecewa terhadap suaminya. Jika perasaan kecewa berusaha untuk dihindari, maka Anda pasti akan semakin larut dalam kekecewaan, dan semakin menyalahkan keadaan dan pasangan Anda. Dalam kondisi tertentu, Anda mulai merasa bahwa jalan kehidupan yang Anda tempuh mulai salah. Dan karena Anda merasa jalan hidup Anda mulai keliru, maka Anda cenderung membuat jalan kehidupan yang baru, dengan harapan Anda akan berhenti merasa kecewa. Tapi pertanyaannya adalah: Apakah ketika Anda membuat jalan baru kehidupan, Anda tidak akan kecewa lagi? Jawabannya sudah pasti TIDAK. Karena kecewa itu terjadi ketika neuron dopamin Anda salah prediksi, dan karena kehidupan ini merupakan perjalanan yang panjang dan belum diketahui ujungnya, maka sudah pasti akan selalu ada gap antara harapan Anda dan kenyataan hidup yang Anda lalui.

Jadi bagaimana seharusnya? Ingatlah selalu bahwa emosi kecewa adalah sebuah sinyal yang dikirimkan agar Anda merasakannya. Dan ketika Anda merasakan kecewa, maka percayalah, ada gap antara harapan Anda dan kenyataan yang Anda lalui. Ada gap antara harapan Anda terhadap pasangan dan kenyataan yang Anda terima. Karena kehidupan ini sudah dirancang oleh-Nya agar kita menjadi AHLI MANUSIA (menuju kesempurnaan), maka langkah pertama adalah akuilah perasaan kecewa itu karena itu berarti Anda sudah berada dijalan yang benar. Kemudian belajarlah menciptakan pola-pola hubungan baru dengan pasangan Anda, dan terimalah suasana perubahan itu, terimalah kenyataan hidup Anda. Berhentilah menyalahkan keadaan dan orang-orang di sekeliling Anda.

Begitu juga bagi Anda yang salah prediksi terhadap seorang pria/wanita dalam kehidupan Anda, atau salah prediksi tentang sahabat Anda, saudara Anda, bahkan orang tua Anda dan juga kehidupan ini, pilihan Anda yang terbaik adalah BELAJAR MENYIKAPI KEHIDUPAN INI. Bersikaplah dengan penuh toleransi terhadap orang lain dan kehidupan. Rasa kecewa adalah sebuah signal, bahwa Anda harus mulai lagi menata kehidupan Anda. Mencari “stasiun pengisian bahan bakar terdekat”, agar Anda bisa segera mengisi “oli” baru dalam kehidupan Anda, sehingga Anda akan bahagia dan menikamati perjalanan kehidupan ini. SUKSES DAN BAHAGIA SELALU UNTUK ANDA!

*) Syahril Syam adalah seorang berlisensi NLP dan certified Hypnotherapist. Beliau juga adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id

Telah di baca sebanyak: 851

Maafkan Diriku

Mendekati bulan ramadhan ini, dapat kita lihat ada semacam tradisi pada sebagian besar masyarakat untuk datang ke kuburan. Tentunya mereka datang untuk mendoakan keluarga mereka yang telah meninggal. Selain itu, dapat pula kita temukan suatu fenomena pemanfaatan teknologi, yaitu SMS yang dikirim ke kerabat dan handai taulan untuk saling maaf-memaafkan. Kadang sebagian manusia itu lucu juga. Karena biasanya SMS permohonan maaf itu dikirimkan ke keluarga dan sahabat yang belum tentu kita berbuat khilaf. Mungkin saja ada ke-khilafan yang tanpa disadari yang pernah kita lakukan. Tapi yang saya maksud lucu adalah, bagaimana dengan keluarga atau sahabat yang betul-betul memang ada sedikit perselisihan dan kemudian menjadi masalah besar? Apakah mereka-mereka itu juga sudah kita kirimkan SMS permintaan maaf, di saat ramadhan yang sebentar lagi tiba.

Saya sih ndak mau berbicara tentang manfaat dan mudharat ketika memberi dan meminta maaf atau tidak mau memaafkan sama sekali. Biarlah hal itu menjadi urusan para penceramah. Tentunya ada sangat banyak ayat Al-Qur’an dan riwayat-riwayat hadis yang berkenaan dengan kata “maaf”. Tapi kali ini saya ingin membahasnya dari sudut pandang teknologi pikiran.

Kenapa sih sulit sekali untuk memaafkan orang lain atau meminta maaf? Dari sudut pandang psiko-analisa, akan dikatakan bahwa kita sudah dari kecil diajarkan untuk merasa gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu. Sudah terlalu sering diajarkan bahwa meminta maaf akan menjatuhkan harga diri kita, apalagi jika kita merasa bahwa kita-lah yang benar dalam masalah tersebut.

Itu menurut psiko-analisa. Tapi, saya ingin membahasnya lebih kepada cara kerja pikiran kita. Penelitian dibidang neuro-sains semakin membuktikan bahwa “emosi” memegang peranan sangat penting dalam melakukan suatu tindakan tertentu. Emosi kita-lah yang menjadi motivator bagi kita untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Sebagai contoh, malas. Bukankah salah satu hal yang membuat kita cenderung menunda adalah karena setiap kali kita ingin melakukan action, selalu saja ada emosi tertentu yang membuat kita merasa enggan melakukan action, yang biasanya kita sebut sebagai malas. Tentunya bukan hanya malas, rajin juga merupakan sebuah istilah yang kita sebutkan ketika kita merasakan suatu emosi bahagia campur aduk dengan semangat tinggi untuk melakukan action.

Atau misalkan, di hadapan Anda sekarang ada remote TV dan batu sebesar genggaman tangan. Anda diminta untuk memilih salah satunya saja, untuk melakukan suatu action, yaitu melempar mangga yang letaknya di bagian atas sebuah pohon mangga. Anda pilih yang mana? Kebanyakan orang, tentu akan memilih sebuah batu sebesar genggaman tangan. Walaupun hal ini Anda lakukan tanpa Anda sadari, penelitian sudah membuktikan bahwa terdapat suatu dorongan emosi tertentu yang membuat Anda memilih batu dibandingkan remote TV untuk melempar mangga.

Nah, dorongan yang terjadi tanpa Anda sadari ini merupakan suatu dorongan “emosi” tertentu di dalam diri Anda. Dan “emosi” kita senantiasa mengikuti persepsi/keyakinan kita. Jika di level bawah sadar, tanpa Anda sadari, Anda memiliki keyakinan bahwa meminta maaf itu membuat harga diri kita jatuh, maka akan selalu ada sebuah dorongan “emosi” tertentu yang membuat Anda sama sekali enggan untuk memberi maaf, apalagi meminta maaf terlebih dahulu.

Walau mungkin secara rasional, Anda menginginkan suatu tindakan memaafkan, tapi entah bagaimana, selalu ada dorongan yang “irasional”, yang membuat Anda tidak mau memaafkan dirinya. Sebenarnya dorongan “irasional” di dalam hati Anda itu juga bersifat sangat rasional. Mari kita mengambil sebuah analogi komputer. Ketika asyik-asyiknya Anda menggunakan komputer Anda, eh … tiba-tiba komputer Anda secara otomatis melakukan proses shut down sendiri. Anda kemudian meng-ON-kan kembali komputernya. Dan terjadi lagi, sedang asyik-asyiknya Anda main game, tiba-tiba shut down kembali. Anda kemudian rada jengkel dan meminta tolong teman yang jago betulin komputer. Bukan hanya jago betulin, juga jago utak-atik program komputer (btw … ada teman saya yang jago betulin dan utak-atik komputer, tinggalnya di MU).

Setelah Anda bawa ke teman Anda. Dia mengatakan bahwa ternyata komputer Anda ter-infeksi virus bronthok. Teman Anda itu kemudian berkata lagi bahwa jika virus bronthoknya masih ada, maka komputer Anda akan selalu shut down sendiri ketika di-ON-kan. Kemudian dia menjelaskan bahwa virus adalah sejenis program yang melakukan sebuah sabotase pada program-program di komputer Anda. Untuk mengatasinya, maka harus dilakukan sebuah proses “mengubah” program virus tersebut, agar virusnya tidak bisa lagi melakukan proses intervensi terhadap berbagai program di komputer Anda. Kalau bahasa sederhanya sih, teman Anda akan menyuruh Anda menggunakan program anti virus yang terbaru agar virusnya lenyap.

Nah pembaca. Proses di level bawah sadar kita itu kayak analogi di atas. Selalu ada semacam “sabotase” yang selalu membuat kita bertindak “irasional” untuk tidak mau memberi maaf atau meminta maaf. Secara rasional kita tahu apa itu “maaf”, dan kita tahu pula bahwa meminta maaf itu baik dan jika tidak memaafkan itu tidak baik. Tapi … itu tadi … selalu ada dorongan “irasional” yang membuat kebanyakan dari kita sangat sulit untuk memaafkan atau meminta maaf.

Hal itu terjadi karena ada semacam program “virus” yang bercokol di level bawah sadar kita. Bukankah virus komputer pun selalu bekerja pada level under-program? Nah, dengan melakukan suatu modifikasi program pada “virus” mental, maka percayalah RASA SULIT DAN BERBAGAI RASA ENGGAN UNTUK MEMAAFKAN DAN MEMINTA MAAF itu pasti akan hilang, dan tergantikan dengan rasa ingin meminta maaf dan memberi maaf.

Wow … betapa indahnya hidup ini dengan meminta maaf dan memberi maaf atas semua khilaf yang mungkin pernah kita lakukan. MAAFKAN KAMI SEKELUARGA YA!

*) Syahril Syam adalah seorang berlisensi NLP dan certified Hypnotherapist. Beliau juga adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id

Telah di baca sebanyak: 288

Meta Model: The Power of NOW

Baru-baru ini saya sempat mengikuti kuliah umum yang dibawakan oleh seorang pakar komunikasi di Indonesia. Beliau memaparkan informasi mutakhir tentang komunikasi. Menjadi sangat menarik ketika beliau memulai pembahasan dengan mendefenisikan apa itu komunikasi. Menurut informasi mutakhir, komunikasi di defenisikan sebagai the process of making sense out of the world and sharing that sense with others through verbal and nonverbal messages. Menelik defenisi di atas, maka komunikasi atas sebuah proses pembuatan makna dari dunia di luar diri kita dan berbagi makna tersebut dengan orang lain secara verbal maupun nonverbal.

Dengan kata lain, we can not not communication. Stimulus apapun yang berasal dari luar diri kita akan membuat kita memberikan makna tertentu padanya. Ketika kita mencari makna dalam diri kita, maka kita melakukan sebuah pencarian data di dalam memori untuk bisa menalar stimulus yang kita terima. Istilah kerennya adalah Transderivational Search (TDS). Nah, ketika melakukan TDS ini, maka kita cenderung melakukan pelanggaran meta model.

Meta model adalah model pertama yang dikembangkan oleh Richard Bandler dan John Grinder berdasarkan pola-pola bahasa yang digunakan terapis Virginia Satir dan Fritz Perls. Yang diamati oleh mereka adalah tipe-tipe pernyataan tertentu yang ternyata mempunyai manfaat terapi. Dengan kata lain, orang bisa menjadi lebih sehat dan lebih baik hanya karena mendapat pertanyaan-pertanyaan tertentu.

Jadi ketika kita melakukan TDS pada diri kita, seringkali kebanyakan dari kita melakukan berbagai makna yang sifatnya abstrak dan melebihi batas waktu. Dengan kata lain cenderung melakukan pelanggaran meta model. Nah, dengan meta model kita bisa membantu diri kita untuk menemukan kembali informasi yang hilang, menghubungkan kembali ke pengalaman internal, dan menata kembali makna-makna yang telah kita buat, agar tentunya kita menjadi lebih sehat dan lebih baik.

Yang menjadi kian menarik adalah bahwa masalah yang kita hadapi bukan berarti bahwa dunia di luar diri kita yang memburuk, melainkan kita telah melakukan process of making sense out of the world. Kita telah melakukan proses membuat makna-makna internal yang sifatnya cenderung abstrak dan melebihi batas waktu. “Kamu tidak bisa lagi dipercaya”, “Saya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi dirimu” adalah berbagai contoh-contoh pembuatan makna yang kebanyakan orang lakukan ketika menghadapi stimulus/peristiwa tertentu.

“Kamu tidak bisa lagi dipercaya”. Benarkah demikian? Salah satu unsur dari meta model adalah distorsi. Yaitu sebuah proses menyederhanakan pengalaman tertentu, padahal kita belum tentu memiliki keseluruhan informasi. Kebanyakan orang melakukan kesimpulan yang tiba-tiba yang tidak dijamin ketepatannya. Pernyataan “Kamu tidak bisa lagi dipercaya” adalah sebuah kesimpulan yang tiba-tiba yang tidak ada jaminan kebenarannya. Karena betulkan kita telah mendapat keseluruhan informasi bahwa memang dari sejak lahir hingga saat ini, orang tersebut memang tidak bisa dipercaya. Terus, apakah hingga masa depannya nanti memang tidak bisa dipercaya. Ataukah hanya sebuah kesalahan tertentu yang dilakukan, tapi kita terlalu dalam mengambil kesimpulan.

“Saya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi dirimu”. Benarkah sikap orang itu secara keseluruhan seperti yang kita gambarkan (maknai) sehingga kita harus berkata “Saya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi dirimu”. Ataukah kita hanya bingung sejenak menghadapi peristiwa tertentu, namun akhirnya hubungan ini akan menjadi semakin mesra.

Penting untuk diingat, bahwa karena kita cenderung melakukan sebuah proses makna yang melanggar meta model, maka makin mudah dipahami bahwa kita selalu dan selalu mempunyai pilihan dalam hidup. Selalu ada jalan dibalik setiap kesulitan. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. QS 94:5-6”.

Di karenakan kecenderungan orang sering melakukan pelanggaran meta model dan selalu melebihi batas waktu, maka sangat penting untuk hidup di saat ini, di hari ini. Kita sebaiknya memandang seseorang itu berdasarkan konteks waktunya. “Oh, dia melakukan kekhilafan itu kemarin saja”. Dengan kata lain, setiap kesalahan yang mungkin dilakukan oleh seseorang pasti berdasarkan konteks waktu yang melingkupinya. Karena disaat lain pasti ia telah melakukan kebaikan yang lain. Oleh sebab itu, kemampuan melihat seseorang berdasarkan konteks waktunya membuat kita akan menjadi lebih tenang di saat ini, di hari ini.

Anak saya sering berkata kepada saya di waktu pagi, “Hari ini hari yang indah, ayah!” Saya menjawab, “Ya, betul nak. Hari ini memang hari yang indah.” Dan jika kita simak pernyataan anak saya di atas, ternyata setiap hari adalah hari yang indah. Bukankah ketika kita bisa hidup di hari esoknya nanti, maka hari tersebut pasti akan menjadi hari ini. Nah, pada akhirnya, betapa mudah hidup ini untuk dijalani. Iya kan?

Hiduplah selalu hari ini!

*) Syahril Syam adalah seorang berlisensi NLP dan certified Hypnotherapist. Beliau juga adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id

Telah di baca sebanyak: 585

Next Page »

Top