training motivasi – pelatihan menulis – training for trainer – publik speaking – andrias harefaNews Feedtraining motivasi – pelatihan menulis – training for trainer – publik speaking – andrias harefaComments Subscribe to training motivasi – pelatihan menulis – training for trainer – publik speaking – andrias harefaSitemap

Kunci Sukses Theodore Roosevelt


Pernah menjadi wakil presiden ketika presidennya William McKinley, Theodore Roosevelt meraih karier tertinggi dan menjadi presiden Amerika ke-26. Presiden yang dua kali menduduki jabatan puncak di negeri adidaya itu pernah berkata, “The most important single ingredient in the formula of success is knowing how to get along with people.”

Itu ucapan luar biasa, dari orang yang luar biasa, yang membuat saya tercengang. Mencengangkan bahwa kemampuan bergaul dengan orang lain dia sebut sebagai “unsur tunggal yang paling penting bagi kesuksesan kita”.

Mencengangkan, karena tadinya saya mengira bahwa yang menentukan kesuksesan kita adalah hal-hal seperti penguasaan keahlian teknis spesialisasi, tekad sekeras baja, dan lain-lain yang di antaranya adalah kemampuan bergaul dengan orang, plus integritas. Tapi, setelah saya renungkan, benar juga. Keahlian teknis spesialisasi dan tekad pun tak terlalu berguna kalau tidak disertai oleh kemampuan tinggi dalam pergaulan dengan sesama.

Kalau benar bahwa tingkat kesuksesan kita berbanding lurus dengan nilai, atau manfaat, atau kebaikan, yang kita sajikan kepada sesama, jelaslah bahwa faktor sesama itu menjadi amat penting posisinya. Keahlian teknis spesialisasi hanya akan bermakna sebesar-besarnya kalau itu memberi manfaat kepada semakin besar jumlah orang yang menerimanya. Semakin besar jumlah sesama itu, berarti semakin besar kesuksesan kita. Dan semakin besarnya jumlah orang lain itu dengan sendirinya dimungkinkan hanya kalau kita memang pandai bergaul dengan mereka.

Lebih jauh merenungkan, kemampuan bergaul dengan orang lain itu ujung-ujungnya juga berarti kepemimpinan pribadi dalam pergaulan, keahlian berkomunikasi, dan tingkat keandalan dalam hal kepercayaan. Artinya, kalau pergaulannya memang mendalam dan langgeng – yang berarti bakal menjamin kelanggengan kesuksesan – dalam “kemampuan bergaul dengan orang itu” diandaikan adanya integritas personal. Integritas personal ini bisa menciptakan faktor kali yang akan memperbesar reputasi – dan dengan demikian juga kesuksesan kita – karena orang-orang yang kena dampak dari integritas kita yang baik akan menjadi corong yang mewartakan nama baik kita kepada teman-teman mereka, yang barangkali tidak kita kenal, dan tidak akan terhubung dengan kita seandainya tidak ada mereka.

Roosevelt memang menyebut “knowing how to get along”, tahu cara bergaul. Tapi, “tahu” di situ rupanya dia maksudkan tidak terbatas pada pengetahuan teoretis, melainkan pengetahuan yang diamalkan, yang dipraktikkan menjadi pengalaman. Jadi “tahu” dalam ucapan itu menyentuh dimensi eksperiensial, bahkan eksistensial. Bukan sekadar olah otak, tapi praktik hidup yang didasarkan di atas etika. Jadi, ilmu menyatu dalam laku.

Adanya etika yang diandaikan ini memberi kedalaman pada kemampuan bergaul yang sering diungkapkan sebagai people skill, atau keahlian berurusan dengan orang lain. Sikap, pola laku dan pola pikir etis yang membuat pribadi penyandangnya punya integritas tinggi menjadikan people skill benar-benar merupakan ekspresi kecanggihan penguasaan teknik pergaulan sekaligus ketulusan dan kemuliaan watak. Dengan ini, jelas bahwa pergaulan itu akan menyenangkan kedua belah pihak dan karenanya langgeng, dan itulah yang menyebabkan kesuksesan.

Sebaliknya, tanpa dasar etik itu, people skill hanya menjadi sebentuk kepura-puraan. Menyenangkan untuk pergaulan sesaat, tetapi dalam jangka panjang akan mengecewakan, karena orang akan segera tahu betapa penerapan keahlian bergaul itu tak lebih daripada topeng palsu yang bersifat manipulatif, atau jangan-jangan bahkan bersifat eksploitatif.

Jadi, tanpa etika, people skill jatuh menjadi sekadar etiket yang tak memiliki dasar kuat di kedalaman, dan sukses yang dibangun oleh etiket tanpa etika akan hancur berantakan.

Merenungkan perkara ini, saya menjadi yakin bahwa akhirnya people skill hanya akan benar-benar menjamin kesuksesan kita kalau diandaikan di dalamnya ada self skill, kepiawaian berurusan dengan diri sendiri. Kepiawaian ini tak lain adalah kemampuan kita untuk mengelola sikap, emosi, pikiran dan perilaku pribadi kita, yang tolok ukur prestasinya tidak kita gantungkan pada pendapat orang, tetapi pada nilai-nilai objektif kemanfaatan, kemuliaan, kejujuran [bahkan terhadap diri sendiri], kebenaran, kebaikan, cinta dan keadilan.

Self skill inilah yang ada di balik efektivitas “kepandaian bergaul dengan orang” dalam memunculkan kesuksesan kita. Self skill inilah yang menciptakan integritas dan kehormatan kita, yang tidak sekadar menjadi pelicin pergaulan kita dengan sesama, tetapi memberi dasar-dasar kelanggengannya.

Tanpa ini, pergaulan akan berantakan, karena tanpa itu sesungguhnya kita telah kehilangan dasar-dasar kokoh eksistensi kita, yaitu integritas dan kehormatan kita.

Merenungkan itu, saya teringat akan William Shakespeare. Pujangga Inggris yang lahir pada tanggal 26 April 1564 dan peninggal pada tanggal 23 April 1616 ini menulis sekitar 38 drama, 154 sonata, dan banyak puisi yang telah diterjemahkan ke dalam hampir semua bahasa besar dunia. Banyak ucapannya yang sampai kini mengilhami orang. Salah satunya, “If I lose mine honor, I lose myself.” Bila aku kehilangan kehormatanku, aku kehilangan diriku. Dan kalau situasi ini sudah terjadi, kecanggihan people skill kita akan tumpul efektivitasnya. Orang akan tahu bahwa kita cuma badut yang sedang acting, tanpa ketulusan. Jauh kenyataan dari penampilan.

*) Wandi S Brata, Direktur Eksekutif PT Gramedia Pustaka Utama, wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 268

Menungangi Tragika


Anda ingin lebih kreatif dan tampil impresif? Salah satu kiatnya adalah tunggangi tragika. Daripada tragika yang biasa-biasa saja, akan lebih hebat Anda bila menunggangi tragika dari sesuatu yang memang hebat, luar biasa.

Aneh sekali, Kamus Besar Bahasa Indonesia terlengkap karya Pusat Bahasa pun tak memuat kata “tragika”. Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko juga tidak. Kita hanya punya “tragedi”, yaitu gaya sastra dengan warna utama kesedihan. Kata sifat yang kita punya adalah “tragis”, menyedihkan.

Kata tragika merupakan turunan dari bahasa Latin, tragicus, kata sifat yang artinya menyedihkan, membikin duka. Jadi tragika adalah hal-hal yang menyedihkan. Tragika adalah kejadian atau keadaan, boleh juga nasib atau fakta runyam, suatu kemalangan atau keterpurukan yang mengenaskan.

Banyak kejadian tragis yang tak terlalu dibutuhkan kecerdasan kita untuk segera menemukannya. Sebut saja peristiwa bencana atau kecelakaan. Sebut saja itu tragika yang langsung kasat mata. Kita bisa menunggangi tragika jenis ini, dan bisa menjadi lebih kreatif kalau kita berpikir dan berusaha memahami banyak pelajaran yang terkandung di dalamnya.

Selain itu, ada jenis tragika yang tak dengan sendirinya kasat mata, karena tragika jenis ini mengendap di balik kehebatan sesuatu. Jenis ini hanya muncul setelah diungkit dari kedalaman, lewat proses refleksi. Karena itu, kenyataan bahwa Anda dapat memunculkannya itu sendiri sudah membuat Anda impresif. Dengan itu ketahuan betapa Anda reflektif.

Mengasah kreativitas dengan menunggangi tragika bisa kita lakukan dengan cara membiasakan diri menemukan sesuatu yang tragis di dalam sesuatu yang biasa, bahkan juga dalam sesuatu yang luar biasa dan amat dijunjung tinggi. Kemampuan kita untuk menemukan tragika itu akan memberi kita kemudahan untuk bersikap lebih bijak terhadapnya, karena kita menjadi paham akan keterbatasan sesuatu yang hebat itu, bahkan keburukannya yang mengenaskan.

Ada banyak sekali tragika. Ada tragika dalam kebiasaan kita, karena dia memudahkan sekaligus menyulitkan. Di dalam kerangkanya kita begitu spontan bergerak, tetapi di seberang batas-batasnya kita sulit bergerak karena belenggunya. Di dalam lingkupnya kita berani; di seberang batasnya kita takut. Dia kita bentuk, tetapi begitu jadi, dia membentuk kita. Dia kita ciptakan, untuk kemudian menciptakan kita. Karena itu, orang sukses adalah orang yang memiliki kebiasaan yang membawa orang ke kesuksesan. Sebaliknya pecundang adalah orang yang terus mengikuti kebiasaannya sebagai pecundang.

Ada tragika di dalam pengalaman. Dia membentangkan peta dunia yang kita ketahui yang memudahkan kita bergerak di dalam batas-batasnya. Pada saat yang sama dia juga membelenggu kita untuk beranjak dan menerobos kesempitannya, betapa luas pun dia. Di dalam lingkupnya kita bebas dan spontan bergerak dengan keyakinan, tetapi di seberang batasnya kita jadi peragu dan ketakutan. Kita mengumpulkannya, tetapi begitu terkumpul jadilah dia khasanah yang membuat kita tak mudah bergerak untuk meninggalkan kungkungannya.

Ada tragika di dalam pengetahuan. Ia membebaskan sekaligus membelenggu kita. Ia seperti pagar tembok yang kita bangun. Di dalamnya kita bebas bergerak dengan aman, tetapi persis di situ pula kita terpenjara. Isi pengetahuan kita cari; bangun pengetahuan kita bentuk, tetapi setelah terkumpul dan terbentuk dia mengisi dan membentuk kita, menentukan perilaku dan pilihan-pilihan kita, dalam batas-batasnya.

Ada tragika di dalam asumsi. Dia memudahkan kita menarik berbagai kesimpulan dan konsekuensi, tetapi itu pula penjara bagi kita, karena keabsahan kesimpulan kita hanya sebatas perspektif yang dia sediakan. Jelas sekali keterbatasannya begitu kita memaknainya dalam dan dari perspektif yang lebih luas. Darinya tak akan kita bisa menyimpulkan sesuatu yang tidak ia kandung.

Ada tragika di dalam fokus, karena dia memudahkan, tetapi dia memenjara kita dalam kesempitannya.

Ada tragika di dalam prioritas. Dia memudahkan pencapaiannya, merapikan pengaturan waktu dan mengefektifkan semua sumber daya kita, tetapi ya hanya ke dalam keterbatasannya semua yang kita miliki dan seluruh kedirian kita terarah, dan kita kehilangan keluasan tanpa batas yang sebenarnya tersedia untuk kita jelajahi.

Ada tragika di dalam pilihan. Dia memberi kita sesuatu, sekaligus merampas kita dari semua yang lain. Inilah yang membuat kita takut dan ragu-ragu untuk memilih dari antara yang baik-baik, yang tak bisa kita renggut semua bersamaan. Keraguan itu bisa berlama-lama sehingga berkali-kali terjadi bahwa sesungguhnya kita telah memilih tanpa memilih, karena kita telah memutuskan dengan tidak mengambil keputusan, dan pilihan serta keputusan kita itu merenggut kita dari kekayaan kemungkinan.

Ada tragika dalam kesadaran kita akan tragika, tapi saya bahagia sekali dengan adanya tragika yang satu ini. Gara-gara kesadaran itu kita akan lebih berani menggunakan kebebasan kita untuk beranjak mengatasi tragika itu, walau keberanjakan kita darinya hanya akan memasukkan kita ke dalam tragika berikutnya. Itulah tragika hidup, kita mengatasi perangkap hanya untuk masuk lagi ke dalam perangkap baru. Apa boleh buat, kita memang tidak mahakuasa, tidak mahatahu, dan tidak maha-maha lainnya, tetapi barangkali itu pula indahnya, karena dengan kesadaran itu kita bisa beranjak untuk lebih kuasa, lebih tahu, dan lebih apa-apa lagi itu.

Beberapa tragika itu menunjukkan betapa kita adalah makhluk terpenjara. Dengan ribuan buku yang Anda baca dan dengan tumpukan pengalaman yang telah Anda refleksikan, Anda hanya beranjak dari satu penjara ke penjara berikutnya… hanya lebih lebar, hanya lebih luas, hanya lebih enak barangkali… tapi esensinya tetap penjara.

Tapi justru karena lebih lebar penjara berikut itu, kata “hanya” barangkali sepantasnya tidak usah kita gunakan. Justru di situlah indahnya, karena sesungguhnya kita adalah orang-orang bebas yang bahkan bisa memilih tragika kita. Sama-sama penjara, kalau lebih nyaman, lebih luas, lebih tinggi, lebih dalam, lebih bahagia… ya, saya pilih itu. Kalau kita memilih kepicikan dan kesempitan, ya memang tragis tak ketulungan. Kalau kita tak memiliki ketinggian, keluasan dan kedalaman di tengah lautan dokumen rekaman pengalaman orang yang memberi kita ilmu yang tersaji dalam bebagai buku, itulah tragika tikus yang mati kelaparan di lumbung keju. * * *

*) Wandi S. Brata, Direktur Gramedia Pustaka Utama. Dapat dihubungi langsung di wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 187

Menunggangi Paradoks


Anda ingin lebih kreatif dan tampil impresif? Kalau cuma mau impresif, mintalah gendong Rupert Murdoch, raja media dunia, News Corporation, yang pada tahun 2008 saja konon pendapatannya US$ 33 miliar. Kalau gamang dengan itu, atau malah ribet, tunggangi saja kekuatan paradoks, maka Anda akan mendapat keduanya.

Kedahsyatan paradoks terletak pada kesan pertamanya yang seakan-akan kontradiktif, tapi sesungguhnya berjalan seiring. Kalau Anda bisa menungganginya, dahsyat Anda.

Karena hakikatnya yang “terkesan kontradiktif padahal nyatanya tidak” itu, paradoks tidak langsung kasat mata. Itu pula sebabnya, paradoks biasanya hanya kita dijumpai di kedalaman pengalaman yang telah direfleksikan. Karena itu, paradoks banyak sekali ditemukan di ranah kebijaksanaan. Dalam khasanah kebijaksanaan itu, pengetahuan mengenai hal-hal yang bersifat paradoksal biasanya naik ke level wisdom. Fokus tatapan dan refleksi Anda ke arah itu akan mengasah Anda menjadi lebih kreatif, atau lebih cerdas, atau lebih “dalam dan bijak”, atau malah ketiga-tiganya.

Karena itu, kalau mau jadi kreatif dan tampil impresif saya ajak Anda untuk berpikir paradoksal. Maksud saya, kembangkan suatu pola pikir yang secara spontan melihat suatu hal atau perkara dari perspektif sebaliknya, lalu memunculkan hal yang cuma kelihatannya bertentangan dengannya, padahal sesungguhnya saling mendukung.

Analogi sederhana untuk dua hal yang bersifat paradoksal adalah bagian atas pohon dan bagian bawahnya yang berada di dalam tanah. Semakin tinggi menjulang dan melebar bagian atasnya, semakin menghujam dalam dan melebar pula akarnya. Yang satu naik, yang satunya turun, tetapi tidak ada pertentangan di antara kedua bagian itu. Keduanya saling mengandaikan dan saling mendukung, bahkan berkembang beriringan.

Paradoks tidak mudah ditemukan, karena tidak semua yang hal kontradiktif bersifat paradoksal. Karena itu, kemampuan kita untuk berpikir terbalik dan menemukan kontradiksi belum tentu membawa kita sampai pada penemuan terhadap hal-hal yang paradoksal. Kendati demikian, kebiasaan kita untuk menggunakan perspektif ini akan membuat kita lebih kreatif dan peka terhadap keberadaannya.

Sekadar menunjuk contoh. Peduli dengan nasib anaknya, ibu Yohanes dan Yakobus minta kepada Isa untuk menempatkan dua anaknya itu di sisi Isa di kerajan kejayaannya. Mendengar itu, para murid Isa yang lain marah. Dari konteks itulah Isa mengucapkan paradoks yang amat terkenal, “Barangsiapa ingin menjadi yang terbesar di antara kamu, hendaknya ia menjadi pelayan kalian.” Personal leadership bagi Isa bukan ngedangkrang duduk bersila tumpang di keagungan singgasana, tetapi melayani. Dia memberi contoh ekstrem dengan mencuci kaki para muridnya! Karena menghidupi paradoks besar, luar biasa besar Dia.

Di ranah logika, ada banyak paradoks, tetapi artinya lain dari yang kita definisikan di atas. R.M. Sainsbury dalam bukunya Paradoxes mengatakan bahwa bidang ini paradoks merupakan kesimpulan yang tidak dapat diterima, yang ditarik dari penalaran yang tampaknya dapat diterima, dari premis yang tampaknya juga dapat diterima. Perhatikan kata “tampaknya” itu. Artinya, nyatanya tidak. Mungkin lebih tepat dikatakan, paradoks di sini adalah sesuatu yang cuma kelihatan benar, tetapi tidak bisa dimengerti karena tak bisa dibenarkan.

Salah satu contoh yang banyak diketahui orang yang belajar logika adalah “Apa yang saya katakan ini tidak benar.” Contoh ini disebut “paradoks pembohong”. Bagaimana Anda mau mengerti? Kalau dia mengatakan sesuatu yang benar, apa yang dikatakan tidak benar. Kalau yang dikatakan itu salah, hasilnya justru benar. Jadi bagaimana?

Contoh lain adalah paradoks tukang cukur. Di suatu kawasan di daerah Bayat, Klaten, yang harus ditempuh lewat jalan berkelok jauh dari Kecamatan Bayat, dan hampir mencapai wilayah berbukit-bukit di selatan, tukang cukurnya mencukur semua penduduk dan hanya penduduk yang tidak mencukur dirinya sendiri. Siapa yang mencukur si tukang cukur itu? Bila dia sendiri, dia bukan tukang cukur yang dimaksud. Kalau bukan dia, dialah orangnya. Lalu bagaimana?

Itulah paradoks yang ditutupi dengan cerita yang sengaja dibikin rumit. Sesungguhnya sederhana pemecahannya. Cerita itu tak ada artinya dari sudut keberan logis karena ada pengandaian yang tak bisa diterima, yaitu “dia yang mencukur dirinya sendiri bila dan hanya bila dia tidak mencukur dirinya sendiri.” Jelas tidak ada tukang cukur yang begitu.

Nah, kedahsyatan Anda akan mengecoh orang kalau Anda menerapkan hal ini di kancah di mana kelugasan sama dengan ketololan. Kalau Anda suka politik yang slintat-slintut dan plintat plintut, dengan menunggangi paradoks jenis ini Anda pantas jadi juru bicara presiden di negara yang langka kejujuran.

*) Wandi S Brata, Direktur Gramedia Pustaka Utama. Dapat dihubungi langsung di wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 231

Menunggangi Kontradiksi


Anda ingin lebih kreatif dan tampil impresif? Tunggangi saja kekuatan kontradiksi, maka Anda akan mendapat keduanya.

Kedahsyatan kekuatan kontradiksi terletak pada pertentangannya. Kalau Anda bisa menungganginya, Anda juga akan dahsyat dan presentasi Anda pasti memikat.

Hakikat kontradiksi adalah perlawanan, dan sekurang-kurangnya ada dua jenis. Kontradiksi jenis pertama tidak terlalu mudah ditemukan, karena dia tidak langsung kasat mata, sebab kontradiksi ini biasanya ada di balik satu entitas. Selain itu, biasanya dia mengendap di kedalaman fakta-fakta, dan baru muncul serta kelihatan jelas setelah direfleksikan. Salah satu contohnya adalah “Nothing fails like success!” Untuk menunjuk contoh di dunia bisnis, misalnya, cukup Anda mengingat kasus Kodak yang saya sebut dalam tulisan berjudul Creative Destruction.

Kalau Anda ingin contoh dalam tataran alamiah, perhatikan benalu. Semakin subur dia, semakin dekat dia dengan kematiannya. Semakin sukses dia, sesungguhnya dia sedang mendulang kegagalannya sendiri yang amat fatal. Perhatikan, ketika benalu itu mencapai puncak kesuburannya, tersedot habis makanan pohon atau cabang pohon di tempat dia menempel, lalu matilah pohon atau cabang pohon itu, dan dengan itu mati pula si benalu.

Kekuatan kontradiksi jenis pertama ini terletak pada daya kejutnya yang begitu besar. Betapa tidak, di dalam sesuatu hal sudah ada kontradiksi dari hal tersebut. Karena tak langsung kasat mata – baik di hadapan sorot mata fisik maupun sorotan mata logika – fakta bahwa Anda bisa memunculkannya saja sudah merupakan kejutan yang impresif.

Karena itu, kalau ingin menjadi lebih kreatif, kembangkan pola pikir kontradiktif, yaitu biasakan melihat sesuatu dengan kepekaan untuk menemukan pertentangan di dalam dirinya. Dengan pola pikir seperti itu, kreativitas Anda akan melejit dan presentasi Anda akan dihargai setinggi langit.

Itu cara menjadi lebih kreatif dan impresif dengan menunggangi kontradiksi jenis pertama. Mari kita lihat prinsip penerapannya sehubungan dengan kontradiksi jenis kedua.

Kontradiksi jenis kedua adalah pertentangan yang dengan amat mudah kita temukan di bidang apa saja. Misalnya, terang – gelap, panas – dingin, besar – kecil, mulia – hina, naik – turun, membesar – menyusut, dst.

Karena kontradiksi jenis ini terserak di mana-mana, tak diperlukan kreativitas dan kecerdasan untuk bisa menemukannya. Cukup dengan mata dan telinga terbuka kontradiksi sudah terdeteksi. Kreativitas dan kecerdasan kita tak terasah hanya karena menemukan kontradiksi itu, tetapi karena upaya kita untuk menemukan makna baru dari kontradiksi itu dengan cara menghubungkannya dengan sesuatu yang lain.

Karena itu, kalau mau jadi kreatif dan tampil impresif dengan menggunakan kontradiksi jenis ini, caranya khas. Di sini tak cukup menunjuk kontradiksi, tapi kita harus menunggangi dan memanfaatkannya dengan cara menghubungkannya dengan sesuatu yang baru atau memberinya makna yang lebih dalam dari sekadar fakta pertentangannya. Mari kita lihat contohnya.

Saat peresmian Universitas Multimedia Nusantara, 2 Desember 2009, Menteri Pendidikan Prof. Dr. Muhammad Nuh, menyamakan manusia dengan bilangan. Manusia bermentalitas dan berjiwa kerdil – yang alih-alih menjadi bagian dari solusi malah menjadi beban yang merepotkan – ibarat bilangan negatif. Orang positif diwakili oleh bilangan positif. Bilangan nol menggambarkan orang yang tidak mendayagunakan potensinya untuk berkontribusi; ibaratnya tidur. Entah orangnya jahat atau baik, dermawan atau tamak serakah dan pelit, dia sama dengan nol kalau cuma tidur. Tapi tidur ini lebih baik daripada mengganggu. Karena itu dengan gaya suroboyoannya dia bilang, “Nek kon gak iso mbantu, yo ojo ngganggu!” Kalo kamu gak bisa bantu ya jangan ganggu. Tidur aja yang pules mungkin kamu udah dapet pahala daripada ngrepoti dan bikin orang lain lemes.

Menarik, Pak Menteri mengatakan bahwa angka satu menggambarkan orang yang komplit, walau belum sempurna dan masih harus terus diusahakan perkembangannya. Dengan itu, dia meneruskan, “Kalau nilai orang kurang dari satu, semakin tinggi pangkatnya, semakin kecil hasilnya. Kalau lebih dari satu, semakin besar pangkatnya, semakin besar pula hasilnya.”

Ucapan ini impresif dan mengusik hati untuk melakukan refleksi pribadi karena sekurang-kurangnya dua alasan. Pertama, tentu saja karena kontradiksi yang ditunjuk: “semakin tinggi dan mulia pangkatnya [jabatan, posisi structural, emblem berenteng di dada dan di pundak, tahta gemerlap dengan keagungan], semakin rendah dan buruk hasilnya [korupsi, tipu-tipu, kongkalingkong, ironi cicak-buaya, kehancuran kepercayaan masyarakat terhadap integritas dan maksud baik para pejabat publik, dst.].

Kedua, karena kreativitas Pak Menteri, di sini ada makna baru ketika kontradiksi pada fakta numerik dipakai untuk menggambarkan kontradiksi karakter manusia yang kebetulan sedang melanda kehidupan sosial-politik aktual. Kita dibuat meloncat dengan mudah dari nilai angka ke nilai moral. Kita dibuat paham tentang karakter dan konsekuensinya dengan penggambaran mengenai hitungan angka-angka.

Mulai hari ini, tunggangi kontradiksi, baik yang mudah ditemukan maupun yang sulit, maka kreativitas Anda akan melejit dan omongan Anda lebih menggigit. ***

*) Wandi S. Brata; Direktur Gramedia Pustaka Utama. Dapat dihubungi langsung di wandi@gramediapublishers.com

.:: Group of Book Publishing – Kompas Gramedia

Telah di baca sebanyak: 421

Elevator Rusak


Anda ingin lebih kreatif dan tampil impresif? Salah satu caranya, tunjukkan ucapan orang besar sebagai omong kosong. Kalau tak bisa melakukannya sendiri, gunakan pendapat orang besar yang lain untuk menihilkan pendapat orang besar pertama tadi. Dengan cara itu, Anda mendapatkan keduanya.

Gara-gara menunggangi gajah, singa pun tak akan mengusik Anda. Itulah dahsyatnya mbonceng orang besar. Tiba-tiba saja, Anda jadi ikut diperhitungkan sebagai besar. Lebih dahsyat lagi bila Anda bisa menunjukkan orang besar itu tidak terlalu besar-besar amat, dengan menyanggah ucapan atau pandangannya, misalnya. Mungkin karena itu, ada kenikmatan tertentu ketika kita melakukan pembangkangan terhadap orang besar. Apalagi kalau pembangkangan itu “rasional”, “nothing personal”, dan punya dasar kebenaran yang amat kuat.

Mari kita lihat contoh penerapan prinsip ini, dengan menunggangi Gajah Joe untuk menganulir pendapat Gajah Alexander.

Alkisah, setelah menaklukkan Persia, Alexander Agung, Jenderal Macedonia, menangis tersedu-sedu karena tak lagi melihat adanya dunia yang bisa dia taklukkan. Joe Girard, penjual mobil legendaris yang prestasinya belum tertandingi sampai kini, kontan menyanggah kisah itu, “Omong kosong! Tentu saja selalu ada lebih banyak dunia baru yang bisa ditaklukkan!”

Liburan di rumah Ibu, saya menemukan kembali buku yang pernah saya baca dua belas tahun yang lalu, rapih di antara ribuan buku yang entah diambili siapa kini tinggal sekitar seribu, semarak berjajar di rak. Terbit tahun 1997, judulnya Mastering Your Way to the Top, karya Joe Girard, yang ditulis bersama Robert Casemore. Gara-gara membaca lagi buku itu, saya terinspirasi untuk menulis artikel pendek ini.

Joe Girard kecil hidup di kawasan kumuh di Detroit, kota industri mobil terbesar di dunia. Pada umur sembilan tahun, dia mencari uang sakunya dengan menyemir sepatu di sebuah bar di kotanya. Dia punya foto berpigura yang menggambarkan itu. Entah siapa yang ngasih. Kiranya bukan karena dia pesan, sebab ada inkonsistensi di sini. Betapa tidak, untuk mengais receh, dia menjadi tukang semir. Jadi, mana sempat foto segala dia pikir?

Setelah dewasa dia mulai bekerja di beberapa bidang, termasuk di real estat, dan gagal.

Dia melihat dunia baru dan dia jajah. Dia mulai berkarya sebagai seorang penjual mobil pada tahun 1963, saat berumur 35 tahun. Bekalnya hanya sebual telepon, sebuah buku telepon, dan sebuah meja berdebu di sudut ruang kosong di salah satu dealer mobil. Dari awal yang amat sederhana itu, setelah tiga tahun menjalani profesinya, dia menjadi penjual mobil eceran nomor satu di dunia. Prestasinya terekam dalam Guiness Book of Records. Dia meroket ke puncak prestasi dunia yang sampai kini belum ada tandingannya.

Dari tahun 1966 sampai 1977, selama duabelas tahun, dia menjadi penjual mobil eceran nomor satu di seluruh dunia. Pada saat berhenti dari karier ini, ketika berumur 49 tahun, dia telah berhasil menjual 13.001 mobil. Semuanya secara eceran, bukan partai besar. Kadang-kadang dia berhasil menjual 170 mobil dalam sebulan. Pada tahun 1973 saja, dia berhasil menjual 1.425 mobil, semuanya kepada pembeli perorangan.

Dari sana dia melihat dunia baru lagi yang perlu dia jelajahi. Dari penjual menjadi pembicara internasional. Itu perjalanan Joe Girard, yang lebih nikmat dia hayati karena dengan cara itu dia bisa berbagi. Itulah dunia baru yang dia taklukkan. Setelah sendiri sukses besar sebagai penjual, kiat suksesnya pasti menjadi barang dagangan yang banyak diminati. Jadilah dia penceramah berbayar amat tinggi. Pendengarnya adalah marketing executives dari berbagai penjuru negeri. Panggungnya ada di Amerika Serikat dan Kanada, Australia dan Selandia Baru, Eropa, Amerika Tengah, Malaysia dan bahkan Indonesia.

Tak disebutkan dalam bukunya, tapi saya tak heran kalau dia juga jadi pembicara favorit di Afrika dan India. Singapura mungkin bisa saya pastikan ada di daftar, karena para pembicara top dunia biasanya menaruh gula di situ untuk mengundang semut dari negara-negara sekitarnya. Oleh para jagoan dunia, Singapura dianggap paling aman dan strategis untuk menyelenggarakan seminar maupun workshop internasional yang mengundang orang-orang dari penjuru Asia yang rela berinvestasi untuk pengembangan diri.

Perjalanan dari penjual menjadi pembicara internasional itu ditempuh sembari menjadi penulis buku. Selain buku yang sudah saya sebut, dia juga telah menulis bestseller dunia berjudul How to Sell Anything to Anybody, How to Close Every Sale, dan How to Sell Yourself.

Tung Desem Waringin motivator dan marketer spektakuler di Indonesia saat ini punya pesan yang pantas kita perhatikan. Penulis bestseller Financial Revolution dan Marketing Revolution itu mengatakan, “Kalau mau sukses, belajarlah dari orang-orang yang terbaik di dunia di bidangnya.” Kalau Anda ingin sukses sebagai marketer atau salesman, belajarlah dari Joe Girard. Uang yang Anda keluarkan untuk membeli buku-bukunya tak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan wawasan yang akan jadi modal kesuksesan Anda.

Sesungguhnya, bukan hanya kesuksesan sebagai marketer atau salesman yang akan kita pelajari dari empat buku besar Joe Girard itu, melainkan juga sukses hidup pada umumnya. Ada prinsip umum yang mendasari sukses di segala bidang. Karena itu, berangkat dari marketing atau salesmanship pun kita akan sampai ke bidang lain juga. Lebih dari itu, buku yang saya sebut pertama, Mastering Your Way to the Top, secara jelas memberi kita wawasan dan kiat untuk mencapai sukses hidup itu, dan bukan sekadar menjadi penjual.

Buku itu diramu untuk memudahkan kita untuk mencapai puncak gunung impian kita dan tetap mampu bertahan di sana. Tapi sejak awal, Joe Girard mengingatkan kita untuk tidak sekali-kali mengharapkan hal itu terjadi dalam semalam. Ini memerlukan persiapan, pengetahuan, kemampuan untuk menentukan tujuan, penilaian yang bijak, kegigihan, dan pengembangan diri terus menerus.

Sikap mbeling Joe Girard dia nyatakan ketika menulis begini, “Kalau itu sepertinya terlalu banyak menuntut, letakkan saja buku ini, atau pinjamkan kepada seorang teman Anda, atau berikan saja kepada seseorang untuk ganjal pintu!”

Sebaliknya, kalau Anda mengira bahwa itu tidak terlalu banyak menuntut, dia juga tak rela rupanya. Kalau itu yang terjadi, “Selamat tinggal!” katanya. “Ketahuilah: langkah-langkah penting yang saya kuasai, dan yang bisa Anda kuasai pula, bisa membawa Anda ke mana pun Anda akan menuju, dengan rasa hormat dan kepuasan yang besar akan apa yang Anda peroleh.”

Pendek kata, tak perlu takut terhadap prosesnya, tapi juga jangan remehkan seakan segalanya akan serba gampang. Perlu persiapan mental sejak awal.

Banyak orang tidak sukses karena tidak tahu caranya. Joe Girard telah menuliskan caranya dalam buku-bukunya. Terlalu panjang kalau harus ditulis di sini. Lagi pula, tujuan saya juga hanya memprovokasi Anda agar mulai membaca warisan orang-orang besar dunia, untuk memfasilitasi Anda agar menjadi orang yang lebih kreatif dan impresif, demi kesuksesan Anda.

Tak ada jalan pintas untuk itu. Salah satu langkah awalnya adalah dengan mempelajari buku-buku bermutu. Langkah-langkah lainnya harus kita lakukan sendiri. Karena itu, kutipan Girard kiranya perlu menutup tulisan ini, “Kepada orang yang ingin mencapai puncak tanpa mau melakukan langkah-langkah yang penting untuk bisa sampai ke sana, telah saya persiapkan peringatan ini: Anda harus mendaki ke puncak selangkah demi selangkah, karena elevatornya rusak!” ***

*) Wandi S Brata, Direktur Gramedia. Dapat dihubungi langsung di wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 293

Arsitektur Surga


Anda ingin lebih kreatif dan tampil impresif? Berpikirlah nyleneh, maka Anda akan mendapat keduanya.

Kedahsyatan berpikir nyleneh terletak pada daya kejutnya. Setelah itu, tergantung mau diteruskan ke mana dan seperti apa. Ada yang menggelutinya dengan serius dan mendapatkan kebijaksanaan karenanya. Tapi, ada pula yang hanya terperangkap pada kenylenehan itu dan tak mendapat apa-apa.

Berpikir nyleneh ini bisa kita terapkan di bidang apa pun, tapi paling mudah kita lakukan terhadap hal-hal yang terkait dengan agama. Kenapa? Karena di sana memang ada banyak hal yang aneh. Kerena keanehannya itu, kalau kita menggunakan akal sehat kita, dengan mudah kita menemukan suatu ketidak-masuk-akalan dalam suatu praktik keagamaan. Kalau kita tunjukkan keanehan itu, muncul konsekuensi tertentu. Pertama, orang terprovokasi untuk berefleksi dengan lebih serius terhadap praktek yang selama ini dijalani, dan menjadi lebih bijak serta mendalam karenanya. Kedua, orang akan tetap pada kebiasaan mereka dan menganggap kita orang aneh yang cuma suka mengusik.

Saya memang suka mengusik, seperti pernah terjadi di suatu hari. Hari itu hari kerja. Juga hari suci bagi umat kristiani. Beberapa karyawan menghadap saya, “Mas, kami minta ijin keluar, mau ke gereja sekarang.” Kami memang biasa memanggil mas dan mbak di antara kami.

“Lho, emangnya ada apa?”
“Gimana sih Mas Wandi ini?! Ini kan hari Kenaikan?”

“Hah, kenaikan apa?”
“Aduh, gimana sih Mas Wandi?!! Ya kenaikan Tuhan Yesus ke surga!”

“Lho, kalau dia naik ke surga, lantas ngapain kalian mau ke gereja. Mau nemui siapa kalian di sana?”

Ha ha ha… ini provokasi yang kaya sekali sebenarnya, tapi kalau hanya dianggap sebagai sesuatu yang nyleneh dan tidak ditindaklanjuti, ya tak akan menghasilkan kedalaman apa pun.

Masih terkait dengan surga, ketika Ayah meninggal, banyak orang yang mendoakan semoga beliau diterima di sisi Allah. Saya tak tahu apakah reaksi Ayah tertawa geli atau cemberut tak setuju, karena saya pernah memprovokasi beliau beberapa tahun sebelum meninggalnya.

“Pak, tahu nggak surga itu seperti apa?”
“Kamu serius nggak sih dengan pertanyaanmu ini?”

“Lho, emangnya kapan aku nggak serius? Bahkan kalau nggak serius pun aku serius banget dengan ketidakseriusanku ha haha… Jadi, tahu nggak?”

“Lha kalau Gusti Allah itu tan biso kinoyo opo, tak bisa digambarkan seperti apa, mestinya kediamannya juga tidak bisa kan?”

“Siapa bilang?! Aku bisa menduga dan membayangkannya. Bentuk bangunannya seperti pipa pralon puanjaaang buanget! Pintunya ada empat. Dua pintu besar ada di ujung-ujung pipa pralon tadi. Dua pintu kicil-kecil ada di tengah-tengahnya, cuma kayak lobang bor di tengah pralon tersebut, karena yang lewat di tengah hanya amat sangat sedikit sekali!”

“Ngaco kamu.”

“Lho, Gusti Allah itu mahamurah kan?! Karena kemurahanNya Beliau pasti memenuhi permintaan banyak orang yang meminta dengan tulus. Karena semua orang mati didoakan agar diterima di sisiNya, Gusti Allah menciptakan surga yang bentuknya seperti pipa pralon puanjaang agar Beliau bisa berada di tengah dan semua orang yang minta-minta atau diminta-mintakan tadi bisa ditempatkan di sisi kanan dan kiriNya.”

“Sontoloyo kamu!”

“Makanya, nanti jangan minta diterima di sisiNya. Kalau dituruti, Bapak akan berada jauh sekali dari Gusti Allah. Minta aja di belakangNya, pasti bisa deket banget denganNya, persis di belakangNya, karena tak ada orang yang minta ditempatkan di situ. Jangan minta di depan, nanti kalau ngantuk ketahuan.”

“Untung kamu batal jadi pastor!”

“Dan, satu hal lagi, Pak. Kalau memuji Dia, pujilah sekali saja sehari. Itu pun untukku sudah keterlaluan. Kalau bersyukur, bersyukurlah sekali saja untuk sesuatu yang Bapak syukuri. Setiap kali Bapak mengulang-ulang, itu memuakkan. Coba, bagaimana rasanya kalau aku memuji Bapak sebagai orang yang baik 50 kali dalam setengah jam? Muak kan? Mungkin Bapak malah menganggap aku sinting atau sama sekali tak serius. Jadi, jangan mengulang-ulang! Dan yang lebih penting, jangan pernah meminta. Katakan saja Bapak perlu sesuatu, sekali saja bilangnya, lalu diam seribu bahasa!”

“Gundulmu! Junjungan kita kan mengajarkan ‘Mintalah, maka kamu akan diberi!’ Kenapa kamu bilang jangan meminta?”

“Banyak sekali orang yang sebenarnya malas, dan menganggap Gusti Allah itu mesin otomat. Minta, minta dan minta… kayak pencet tombol ajaib lalu berharap yang diminta datang. Di dunia ini ada lebih dari 3 miliar orang. Kalau sehari mereka minta-minta pada Gusti Allah sekali saja, Beliau pasti pusing! Kalau Bapak juga ikutan seperti mereka, Bapak tidak memiliki keunggulan komparatif sama sekali, tidak punya daya saing apa pun. Bapak malah ikut-ikutan ngrepoti. Nah, kiat paling dahsyat agar diberi berkat oleh Allah adalah justru dengan tidak memintanya sama sekali! Gusti akan tahu, Bapak kok tak pernah minta-minta… kok lain sama sekali dari orang-orang itu… nah… karena itu Bapak akan lebih diperhatikan. Beliau mungkin akan bilang sama Malaekat Gabriel, “Hei Gabie, coba lihat Sirun itu… coba perhatikan, dia gak pernah minta apa-apa dan gak ganggu ketenanganku sama sekali… beda sama orang-orang… Dia cuma memuji dan bersyukur… juga tidak menjilat-jilat dengan mengulang-ulanginya… Perhatikan dia, penuhi kebutuhannya. Jangan sampai kesrakat!’ Nah, justru dengan tidak meminta itulah Bapak akan mendapat anugerah yang memang Bapak perlukan!”

Ayah mengulang komentarnya, “Sontoloyo.” Tapi, saya tahu, renungannya bergerak bebas ke banyak arah mulai hari itu.

Akhir tahun ini kami akan memperingati seribu hari meninggalnya. Saya tak akan mendoakannya agar RIP, requiescat in pace, semoga beristirahat di dalam kedamaian. Bukan. Bukan itu harapan dan keyakinannya. Karena itu, saya mengucapkan, “Selamat menjalani hidup, bekerja dan menikmati segala prosesnya di dunia barumu, Pak. Kalau diskusi-diskusi kita ada artinya, dan Bapak mau ngasih semacam sanggahan atau konfirmasi, kutunggu inspirasimu dalam mimpi.”

Disclaimer: Pesan utama artikel ini adalah ajakan menjadi kreatif dengan cara berpikir nyleneh. Maksudnya, biasakan mendekati sesuatu dengan perspektif dan cara berpikir yang tidak biasa. Dengan cara itu akan muncul banyak hal yang tak biasa dimengerti orang. Bahwa ajakan itu mengambil contoh yang menyentuh agama, itu cuma koinsidensi yang amat saya sengaja. Sebelum menganggap serius artikel ini, konsultasilah sama guru rohani Anda. Tolong sampaikan ini kepadanya, siapa tahu malah dia yang terprovokasi. Ha ha ha… ***

*) Wandi S Brata. Direktur Gramedia, dapat dihubungi langsung di wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 272

Menunggangi Ironi


Anda ingin lebih kreatif dan tampil impresif? Kalau cuma mau impresif, kendarai Ferrari. Kalau itu tak cukup dan malah ribet, tunggangi saja kekuatan ironi, maka Anda akan mendapat keduanya.

Kedahsyatan kekuatan ironi terletak pada negativitasnya. Kalau Anda bisa menungganginya, Anda juga akan dianggap dahsyat.

Terhadap nuansa negatif ironi sekurang-kurangnya kita dapat melakukan dua hal. Pertama, menonjolkan negativitas itu dengan mengontraskan perkaranya. Kedua, mengungkapkan ironi untuk sesuatu yang positif, atau memulasnya sehingga memiliki konsekuensi yang bernuansa positif.

Cara pertama adalah cara yang paling lazim, banyak diketahui dan banyak dipakai. Cara ini paling mudah dilakukan dengan menunjuk kontras pertentangan antara yang seharusnya dan yang senyatanya, atau pertentangan antara yang biasanya dan kekecualiannya. Ketika bicara mengenai keadilan, misalnya, akan impresif Anda kalau bisa menunjuk lembaga atau pihak yang paling diharapkan bisa menegakkan hukum dan keadilan ternyata dalam praktiknya malah menginjak-injak hukum dan keadilan itu. Drama cicak vs buaya lama jadi berita karena kekuatan negativitas ironi di dalamnya.

Cara kedua tak banyak diketahui orang, padahal lebih dahsyat. Caranya adalah dengan memanfaatkan kekuatan negatif ironi untuk sesuatu yang positif. Dengan cara ini Anda tidak hanya akan dipersepsi sebagai orang yang piawai bicara, tapi juga cerdas dan kreatif. Mari kita lihat contohnya.

Dalam misa perkawinan anak seorang teman mantan bos perusahaan rokok ternama, sang pastor menanyai mempelai.

“Mempelai berdua, saya punya pertanyaan yang boleh kalian jawab, boleh juga tidak. Tapi, kalau boleh saya tanya, mempelai pria, seberapa sih besarnya cintamu terhadap calon istrimu?”

“Mungkin cinta saya…” ucap mempelai pria belum kelar.

“Kami tak berharap mendengarkan jawaban ‘mungkin’…” potong sang pastor.

“Sebesar cinta saya terhadap diri sendiri, Romo” kata sang mempelai pria.

“Hmm… Kalau kamu, seberapa besar cintamu terhadap calon suamimu?”

“Tak terukur, Romo. Cinta saya terhadapnya tak bisa diukur.” Kata mempelai wanita.

“Hmm… gitu ya? Ya, itu kalian… Bagaimanapun, kami semua yang hadir di sini cuma menyaksikan … “ Sang pastur berhenti sejenak. [Ini juga salah satu kiat bicara impresif… memanfaatkan kekuatan jeda. Gara-gara jeda itu, saya kira orang bertanya-tanya, pastor akan memuji jawaban seperti itu atau tidak ya?]

“Boleh saya usul sesuatu?” Sang pastor menunggu sebentar, lalu melanjutkan, “Bagaimana kalau cinta kalian sebesar kuku di ruas jati-jari kalian?” Jeda lagi, [dan mungkin orang bertanya-tanya mengenai apa maksudnya.]

“Besarnya, kalian tahu,” lanjutnya, “tapi yang jelas, setiap kali terpotong tak sengaja, dipotong dengan sengaja, atau terlepas, kuku itu tumbuh lagi. Begitulah mestinya cinta kalian satu sama lain.”

“Hmm… impresif” gumam saya dalam hati. Mencintai kekasih sebesar mencintai diri sendiri, kita sudah sering mendengarnya. Cinta tak terukur kedengaran amat biasa, familier, tapi tak memberi gambaran apa-apa. Mungkin karena sudah begitu lazim diucapkan, jawaban kedua mempelai itu tak lagi mengesankan. Kedengarannya kodian, kalau bukannya malah latah.

Usul sang pastor amat impresif karena beberapa alasan. Pertama, tentu karena kita tak banyak mendengarnya, bahkan mungkin baru mendengarnya pertama kali itu, sehingga terasa sebagai sesuatu yang baru. Dengan analogi kuku, saya sendiri baru mendengar ini, tapi saya tak terlalu terkejut karena pernah mendengar orang menganalogikannya dengan rambut.

Kedua, kuku di ruas jari tangan kita tak bisa dibilang besar. Karena itu, amat jelas ada semacam ironi ketika besarnya kuku yang relatif kecil itu dipakai untuk menjawab pertanyaan yang menanyakan sebesar apa cinta kita terhadap kekasih. Ironi juga bahwa cinta kepada kekasih – yang mestinya besar dan penting – dibandingkan dengan kuku yang begitu kecil, simpel dan sepintas lalu malah kurang penting [kecuali bagi pesolek]. Hebatnya, biasanya ironi itu bernuansa negatif, tapi di sini ironi tersebut memiliki efek positif. Di tengah jaman, ketika orang bisa begitu menggebu karena cinta, tapi kehidupan keluarganya begitu kusut layu atau malah bubar sebelum perkawinan mereka berumur sewindu, jawaban seperti itu menyiratkan kerendahan hati orang yang tak suka mengobral janji. Tak tahulah seberapa besar atau kecil, tapi – dan itu adalah kekuatan ketiga kenapa gambaran ini impresif – cinta itu tumbuh. Setiap saat.

Jadi, alasan ketiga, dalam jawaban itu ada dinamisme. Ada kerendahan hati dalam optimisme. Ada janji kesetiaan yang diungkapkan dengan amat pruden, hati-hati dan bersahaja. Dalam ungkapan “mencintai kekasih sebesar mencintai diri sendiri” dan “cinta tak terukur” ada nuansa rayuan dan omongan gombal. Omong besar di depan, tak tahulah nanti di belakang. Dengan kuku ini tidak.

Kalau bicara Anda di sana-sini memunculkan hal-hal seperti ini, saya jamin, pendengar Anda tak hanya tak akan ngantuk, tapi juga tercerahkan.

*) Wandi S. Brata. Direktur Gramedia Pustaka Utama. Dapat dihubungi langsung di wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 188

Menerobos Belenggu Asumsi


Anda ingin lebih kreatif? Salah satu kiatnya, pertanyakan asumsi yang menjadi landasan proses berpikir Anda, lalu buang asumsi yang tidak relevan, atau segera ubah asumsi Anda.

Kita hidup dengan banyak sekali berasumsi. Dengan kata lain, kita mengandaikan banyak sekali hal. Asumsi inilah yang kemudian melandasi proses berpikir kita, perilaku dan sikap kita terhadap segala pernik kehidupan.

Karena itu, ada tragika di dalam asumsi. Dia sekaligus memfasilitasi dan membatasi kita. Dia membebaskan sekaligus membelenggu kita. Dia memberanikan kita sekaligus membuat kita takut. Dia memberi kita keyakinan sekaligus membuat kita ragu.

Kenapa begitu? Karena asumsi selalu menggariskan batas-batas. Di dalam kerangka batas-batasnya kita yakin, berani, mudah, bebas bergerak. Sebaliknya, persis di luar garis batas itu kita ragu, takut, sulit, terbelenggu. Kalau asumsinya begitu kuat, batas dan belenggunya biasanya juga kuat.

Saya yakin banyak di antara pembaca yang sudah mengetahui cara memecahkan soal ini: Ada sembilan titik, diatur sedemikian rupa sehingga kalau dihubungkan akan membentuk empat persegi panjang atau bujur sangkar sempurna. Perintahnya: hubungkan semua titik itu dengan garis lurus dengan ketentuan setiap titik hanya boleh dilewati sekali, dan garis lurusnya tidak lebih dari 4 potong.

Gambarnya:

Melihat sembilan titik ini, kebanyakan dari kita biasanya akan langsung membayangkan empat persegi panjang atau bujur sangkar. Percobaan yang dilakukan membuktikan bahwa dengan membayangkan empat persegi panjang atau bujur sangkar itu, banyak orang lalu mencoba-coba menarik garis dalam batas-batas empat persegi panjang atau bujur sangkar tersebut. Dengan kata lain, begitu membayangkan empat persegi panjang atau bujur sangkar, banyak orang yang berasumsi bahwa solusi masalahnya ada dalam kotak persegi panjang atau bujur sangkar tersebut, padahal sesungguhnya perintahnya sama sekali tidak menenetukan apa-apa mengenai hal itu.

Itulah yang kita maksud dengan asumsi yang tidak relevan. Kalau asumsi yang tidak relevan itu kita buang, kebebasan kita langsung melebar, sehingga kita berani melangkah keluar dari kotak empat persegi panjang atau bujur sangkar, dan menemukan solusinya. Inilah yang mendasari ucapan bahwa orang-orang kreatif adalah orang-orang yang berpikir di luar kotak.

Dengan melihat bahwa medan luas di luar batas-batas empat persegi panjang atau bujur sangkar tersebut sebagai medan kebabasan kita, kita akan berani menerobos batas-batas yang sebenarnya cuma ciptaan pikiran kita sendiri. Akibatnya, inilah hasilnya. Segitiga ABC dan DEF adalah cerminan jiwa-jiwa petualang dan pemberani yang menghasilkan kreativitas.

Tidak hanya itu. Sesungguhnya kita bisa menarik hanya satu garis lurus. [Anda mungkin mikir, “Iya, satu garis lurus dengan spidol yang besuuaaarr sekali… atau dengan kuas lebar.” Itu juga solusi, tapi yang saya maksud bukan itu, melainkan garis setipis yang kita pakai di atas. Coba cari…]

(Disclaimer: Ini bukan ide asli saya. Saya membacanya dari buku psikologi yang bicara tentang persepsi, kalau tak salah tahun 1988… tapi saya sudah lupa judulnya… kalau nanti tulisan ini saya bukukan, semoga saya masih bisa menemukan kembali buku tsb agar bisa menyebut penggagas awalnya. Atau anda mau membantu? Terimakasih sebelumnya)

*) Wandi S Brata. Direktur Eksekutif PT Gramedia Pustaka Utama; wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 302

Mundur Terus Pantang Maju


Anda ingin lebih kreatif? Salah satu kiatnya, berpikirlah terbalik. Dengan kata lain, melawan arus untuk menemukan kekecualian.

Anda masih ingat isi tulisan berjudul, “Untung Ada Orang Gila”? Di situ saya puji dengan penuh syukur beberapa tokoh yang dianggap gila oleh masyarakat mereka, karena pada orang-orang seperti merekalah kemajuan dunia ini tergantung. Untuk artikel ini, saya ingin berefleksi mengenai cara berpikir mereka. Salah satunya adalah cara berpikir terbalik.

Salah seorang yang disebut dalam artikel itu adalah Colombus. Tokoh ini tidak hanya mencuatkan kekaguman dan rasa syukur saya atas kegilaan dan keberaniannya, tapi juga menunjukkan kekuatan cara berpikir terbalik. Tak percaya bahwa dunia ini berbentuk piring yang dikelilingi jurang tanpa dasar, Columbus nekad berlayar ke barat untuk menuju tempat yang dari kawasannya terletak di timur. Kegilaannya membawanya sampai ke Amerika! [Maaf, saya tak mau mengatakan “menemukan”, tapi “ketemu” (kalau bukannya terdampar di) Amerika.]

Dari pelayaran Colombus nyatalah bahwa melawan arah yang menjadi tatapan kebanyakan orang bisa sungguh mencerahkan. Karena itu, judul di atas saya pilih karena begitu sering kita mendengar orang menasihati kita agar berani maju terus pantang mundur. Faktanya, kita bisa menunjuk banyak kekecualian yang menegaskan bahwa mundur terus pantang maju juga bisa membawa kita sampai ke tujuan yang kita mau.

Dalam keseharian ada beberapa hal yang menuntut kita untuk mundur. Anda pernah mengamati orang menanam padi? Di situlah prinsip mundur terus pantang maju diterapkan. Para petani mundur saat menanam padi agar tanamannya tidak terinjak. Hal yang sama juga berlaku ketika para petani menanam bibit mereka yang jarak tanamnya amat rapat. Kedelai, misalnya. Di sini, kesuksesan terjamin bukan dengan maju, tetapi dengan mundur.

Dalam ranah motivasi dan keinginan untuk mencapai kesuksesan, mundur terus pantang maju juga berlaku. Dengan mundur terus pantang maju Anda juga bisa mencetak rekor. Kalau bagi banyak orang rekor merupakan salah satu penanda kesuksesan, jelaslah bahwa mundur terus pantang maju bisa amat efektif membawa kita sampai ke sana.

Ada beberapa contoh. Misal, dalam rangka HUT yang ke-19, Kaltim Post mengadakan kegiatan jalan mundur menempuh jarak 1919 meter oleh 19 orang. Kegiatan ini memecahkan rekor MURI [muri-rekor.blogspot.com].

Kalau Kaltim Post mundur untuk memecahkan rekor, saya baca di www.masjidkotabogor.com Hermawan ketua KAMMI Daerah Bogor dalam orasinya mendesak pemerintah RI agar mencabut dukungannya terhadap resolusi 1747 tentang penghentian pengayaan uranium yang dijatuhkan PBB kepada Iran. Orasi itu dilanjutkan dengan unjuk rasa KAMMI dan berjalan mundur dari Tugu Kujang menuju depan Istana Bogor.

Saya membaca artikel di: www.jurnalbogor.com, 25 Desember 2008. Di situ diceritakan aksi Wakil Ketua Cabang Pemuda Pancamarga Kabupaten Ciamis, Imam Ahmad Sholihin. Tergerak untuk melestarikan permainan asli Indonesia, yakni egrang, ia jalan dengan egrangnya, mundur dari Ciamis menuju Jakarta. Konsistensinya luar biasa, karena bahkan ketika baru sampai di Cibinong ia sudah menjalani niatnya itu selama 47 hari.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa mundur terus pantang maju bisa menjadi sarana dan praktik yang amat ampuh untuk mencapai tujuan yang Anda canangkan. Tak hanya itu, karena sifatnya yang kontras dengan kebiasaan banyak orang, perspektif dan praktiknya bisa amat mencengangkan. Siapa yang tak terkesima oleh gerak gaya Michael Jackson yang kelihatannya melangkah maju tetapi sesungguhnya mundur itu? Itu pun menurut saya adalah rekor prima, yang bisa membius semua fans Jacko di seluruh pelosok dunia.

Satu lagi, mundur terus pantang maju dapat membuat Anda lebih cerdas dan waspada! Soalnya, berjalan mundur ternyata juga amat bermanfaat untuk menajamkan pikiran. Konon, berjalan maju membuat tubuh dan mental kita berada pada kondisi siap “meraih sesuatu”, sedangkan berjalan mundur membuat tubuh dan mental kita lebih siap untuk “menghindari sesuatu”. Psychological Science edisi Mei 2009 memuat studi Severine Koch Ph.D dan para koleganya dari Departemen Psikologi Sosial dan Budaya di Radboud University Nijmegen, Belanda. Hasil studi itu menyatakan bahwa dalam kondisi menghindar [dan dalam riset ini berarti berjalan mundur], tubuh dan pikiran kita konon menjadi lebih waspada, lebih cepat memobilisasi sumber-sumber kreativitas dan kapasitas kognisi. Sederhananya, jalan mundur mengaktifkan seluruh organ dan kemampuan mental kita sehingga kita menjadi lebih peka, lebih cerdas dan waspada.

PS:
1. Mulai hari ini, banyaklah jalan mundur [dan sebagai disclaimer, tolong risikonya Anda hadapi juga. Saya tak mau tanggung jawab kalau gara-gara jalan mundur itu Anda celaka, karena jalan raya kita memang seperti medan rebutan yang kadang amat brutal.]

2. Saya ingin tanya pada para pembaca. Mundur terus pantang maju yang kita bicarakan ini kan bermakna harfiah. Bagaimana jadinya, kalau mundur itu dalam arti metaforis/analogis? Apa masih bisa mencapai sukses dengan “mundur metaforis” itu? Apakah kita bisa sukses kalau kita terus menghindar dari sasaran yang kita mau? Kalau Anda di departemen marketing, apakah Anda akan sukses kalau alih-alih mencapai target, Anda malah tekor melulu karena sale selalu lebih rendah daripada biaya promosi Anda?

*) Wandi S Brata. Dapat dihubungi langsung di wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 368

Kiat Menang Debat

Anda sering ketemu atau dipojokkan dengan data yang memporakporandakan pandangan Anda? Jangan mudah menyerah bertekuk lutut di bawah argumentasi. Ada dua hal yang sekurang-kurangnya bisa Anda lakukan: menggangsir fondasinya dari bawah, atau memenggalnya dari atas.

Ketika masih menjadi pecandu rokok, saya beralih dari Gudang Garam Merah ke beberapa rokok sampai akhirnya puas menemukan rokok yang benar-benar menjadi kesukaan saya: Ji Sam Soe Premium yang merupakan sortiran kelas wahid dan setiap batangnya dikemas dengan tabung plastik transparan [kini saya tak lihat lagi versi itu dan diganti dengan kemasan kertas grenjeng setiap batangnya]. Pada saat itu, berkali-kali orang menasihati saya untuk berhenti merokok. Mereka berusaha meyakinkan saya antara lain dengan menyebutkan hasil penelitian bahwa setiap batang rokok meningkatkan kemungkinan kena kanker paru-paru dan mengurangi hidup kita 5 menit.

Ada dua alasan kenapa argumentasi seperti itu saya abaikan. Pertama alasan emosional. Bagi saya, dan mungkin bagi banyak orang, argumentasi itu tak punya sentuhan emosi. Kita biasanya baru tersentuh secara emosional dan kemudian mau berubah untuk meninggalkan rokok ketika memang sudah terkena asma atau kanker paru-paru, atau merasakan derita orang yang kita cintai kena kanker ganas itu. Inilah keajaiban manusia: sering kali sesuatu belum akan disikapi dengan semestinya ketika akibat buruk dari sesuatu itu belum begitu dekat di depan hidung, atau mengenainya.

Alasan kedua adalah alasan rasional. Pendeknya: untuk saya yang pecandu rokok, mudah sekali menemukan bahwa secara rasional pun argumentasi itu tidak meyakinkan, atau memang saya buat tidak meyakinkan [karena saya memang belum mau meninggalkan kenyamanan rokok itu].

Kalau ada orang yang menakut-nakuti saya dengan pernyataan “setiap batang rokok mengurangi umur kita 5 menit”, saya tumbangkan argumentasi itu dengan dua cara. Cara pertama, menggangsir fondasi argumen dari bawah. Dengan kata lain, menyelam di kedalaman pra-andaian argumentasi, untuk menunjukkan bahwa kalaupun benar data itu, penerapannya terbatas hanya pada kasus yang menjadi sampel penelitiannya.

Mudah sekali menempuh jalan ini. Hampir semua kesimpulan hasil penelitian dengan rumus seperti di atas memiliki keterbatasan. Misalnya, keterbatasn sampel, keterbatasan konteks di mana sampel diambil. Dalam hal penelitian mengenai rokok, sampelnya adalah orang, dan orang itu unik. Setiap orang punya konteks, kebiasaan, dan mindset tertentu yang semuanya menentukan banyak hal, termasuk kesehatan. Jadi, ada keterbatasan kebiasaan dan mindset yang kebetulan dimiliki oleh sampel. Karena itu, kesimpulan riset seperti itu selalu dikemukakan dengan mengandaikan adanya sesutu yang diterima. Apa yang diandaikan? Anda semua begitu akrab mengenai istilahnya kalau pernah belajar ekonomi. Hukum-hukum ekonomi selalu dinyatakan dengan ceteris paribus, yang secara harfiah berarti “dengan yang lain-lain [diandaikan] sama.” Misalnya, “Kalau produksi turun, harga naik, ceteris paribus.” Artinya, kalau produksi turun, berarti barangnya berkurang dari biasanya, maka harganya naik, kalau yang lain-lain sama. Sesungguhnya, pengandaian ceteris paribus ini bukan hanya berlaku dalam ilmu ekonomi, tapi dalam semua ilmu sosial dan buaanyak sekali konteks.

Karena itu, ketika Anda ditakut-takuti dengan “setiap batang rokok mengurangi umur kita 5 menit”, sesungguhnya ada potongan kalimat yang tidak diucapkan. Kalau diucapkan, bunyi lengkapnya kira-kira: “Ada penelitian terhadap sejumlah sampel, dan dari sampel itu ada kesimpulan bahwa setiap batang rokok mengurangi 5 menit dari hidup para sampel tersebut. Konsekuensinya, kalau Anda juga merokok, setiap batang rokok kemungkinan besar akan mengurangi hidup Anda sebanyak 5 menit, dengan pengandaian bahwa yang lain-lain yang menjadi konteks dan berlaku pada sampel itu juga persis menjadi konteks dan berlaku pada Anda.”

Nah, langsung kelihatan bolongnya. Pertama, seberapa besar pun “kemungkinan besar itu” bisa saja itu tidak terjadi pada Anda. Kedua, mana mungkin Anda sama persis dalam segala hal dengan semua sampel itu? Pola pikir dan keyakinan-keyakinan Anda, baik yang bersifat religius maupun yang tidak, jelas tidak sama. Konteks hidup dan kebiasaan Anda barangkali juga tidak sama persis. Banyak hal lain lagi yang jelas tidak sama. Dengan kata lain, Anda berada dalam konteks ceteris [hal-hal lain] yang jelas-jelas non paribus [tidak sama]. Karena itu, sah sekali kalau Anda bilang, “Kalaupun riset itu benar, itu tidak akan atau tidak harus berlaku persis bagi saya!”

Cara kedua menang debat adalah dengan terbang mengatasi argumentasi untuk menumbangkannya. Mari kita lihat caranya.

Kalau ada yang mengajukan argumentasi seperti di atas, saya mengiyakan.

“Entah benar, entah salah risert itu, saya setuju denganmu. Ngrokok itu buruk dan mungkin saja meningkatkan kemungkinan kena kanker dan mengurangi umur kita 5 menit setiap batangnya” kata saya.

“Lho, kalo gitu, kenapa kamu tetap klepas klepus ngebul kayak knalpot?!”

“Yang tak kamu tahu” sahut saya, “adalah adanya riset lain yang mengatakan bahwa setiap kali kamu puas dan bahagia melakukan sesuatu, kamu tambah umur 8 menit! Karena itulah aku serius jadi perokok, mengambil rokok kretek yang paling top dan paling enak, sehingga waktu ngrokok aku benar-benar puas dan bahagia. Umurku kurang 5 menit karena rokok, tapi tambah 8 menit karena puas dan bahagia… jadi aku dapet tambahan 3 menit dari setiap batang rokok!”

Nah, mati kutu lawan bicara itu!

Karena argumentasinya sudah Anda buat tidak relevan, sisakan lobang keluar untuk menyelamatkan mukanya. Segera alihkan pembicaraan ke topik lain. Atau, ketawa aja terbahak-bahak ha ha ha…

Dan… Sst.… ini di antara kita aja ya… Anda mungkin akan tanya, “Emangnya ada riset lain yang bilang begitu, Pak?”

Lho, emangnya saya mengatakan bahwa ada riset lain yang bilang begitu? Saya kan cuma bilang “Yang tak kamu tahu adalah adanya riset lain yang mengatakan bahwa setiap kali kamu puas dan bahagia melakukan sesuatu, kamu tambah umur 8 menit!” Kalau Anda mau tahu, sesungguhnya saya juga tak tahu apakah ada riset seperti itu. Tapi, kan jadi rahasia umum bahwa kepuasan dan kebahagiaan menjadikan hidup ini jauh lebih ringan, menggairahkan dan karena itu bisa tambah panjang?! Perkara tambahannya 8 atau 15 menit, ya suka-suka kita. Kalau argumentasi ilmiah saja berdiri di atas pengandaikan ceteris paribus, padahal faktanya kemungkinan besar justru ceteris non paribus, adilnya kita mesti juga boleh mengandaikan sesuatu dong… ha ha ha… * * *

*) Wandi S Brata; Direktur Eksekutif PT Gramedia Pustaka Utama; wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 883

Next Page »

Top