training motivasi – pelatihan menulis – training for trainer – publik speaking – andrias harefaNews Feedtraining motivasi – pelatihan menulis – training for trainer – publik speaking – andrias harefaComments Subscribe to training motivasi – pelatihan menulis – training for trainer – publik speaking – andrias harefaSitemap

Jennie S. Bev: Segala Sesuatu Itu Mudah, Tergantung Mindset Anda

Jennie S. Bev dikenal sebagai salah satu penulis, pengusaha, dan pengajar yang sukses berkarir di Amerika Serikat. Ia menjadi salah satu anak bangsa yang berhasil menaklukkan kerasnya medan persaingan di ranah global. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini sekarang mantap berkarir di Kalifornia, Amerika Serikat. Sejumlah perusahaan dot.com sedang dia garap dan besarkan, dan sejumlah bisnis offline lainnya juga tengah dalam masa inkubasi. Ia juga aktif menulis di
berbagai media di Indonesia, Singapura, Amerika, Kanada, Inggris, Perancis, dan Jerman. Lebih dari 900 artikel dalam bahasa Inggris telah dia tulis, dan tak kurang dari 64 buku dalam bahasa Inggris sudah dia
terbitkan. Hebatnya, itu semua dia kerjakan di tengah-tengah kesibukannya mengurus bisnis dan masa-masa merampungkan studi doktoralnya.

Belakangan, profilnya banyak menghiasi sejumlah media massa lokal seperti majalah Fit, Femina, Bisnis Kita, Intisari, Chic, dll. Sebelumnya, Jennie juga sudah beberapa kali tampil di media massa internasional seperti Entrepreneur, Teen, People, Dong, Home Business, Canadian Business, Audrey, The Independent, dan San Fransisco Chronicle. Dan pada September 2006 lalu, Jennie merilis buku pertamanya dalam bahasa Indonesia yang berjudul Rahasia Sukses Terbesar. Buku motivasi tersebut mendapat sambutan cukup hangat di Indonesia dan masuk kategori buku laris.

Banyak sekali yang ingin Jennie lakukan, raih, dan berikan kepada sesama, bangsa, dan dunia. Begitulah yang tergambar dalam setiap tulisan maupun wawancara-wawancara yang dia berikan. Orang akan mudah melihat betapa kuatnya karakter Jennie hanya melalui tulisan-tulisan maupun wawancaranya. Ia termasuk sosok yang—berulang-ulang dan tanpa bosan-bosannya—meneriakkan supaya kita, sebagai sebuah bangsa, berani menjadi bangsa yang dignified, sebuah bangsa yang punya “harga diri kesatriaan”. Begitulah istilah dia. Dan tampaknya, anjuran Jennie itu akan semakin berkumandang dan banyak didengar oleh khalayak.

Berikut adalah wawancara Jojo Raharjo, seorang penulis lepas, dengan Jennie S. Bev yang dihadirkan khusus untuk pengunjung setia Pembelajar.com.

Jennie, bisa Anda ceritakan, bagaimana kisah Anda meninggalkan Indonesia untuk memutuskan merantau ke Amerika Serikat?
Setelah lulus FHUI tahun 1994, saya berangkat dulu ke UC Berkeley, tepatnya di tahun 1995, kemudian sempat kuliah di beberapa institusi lainnya. Mungkin ini bersumber dari isi hati saya yang selalu mencari
dan gelisah.

Saat itu keberangkatan saya dibarengi dengan kekhawatiran akan kakek saya yang sedang menderita colon cancer (kanker usus besar), maka tidak lama kemudian saya memutuskan kembali dan menemani kakek saya sampai beliau meninggal. Pada 1997 saya memutuskan menikah dengan Beni Bevlyadi, suami saya sekarang. Setahun kemudian dengan keadaan ekonomi Indonesia yang morat-marit (krismon), saya bertekat untuk memperbaiki kehidupan dengan memutuskan merantau.
Amerika Serikat menjadi tujuan karena saya sudah kenal negeri ini cukup lama. Juga dengan kemampuan bahasa Inggris lisan dan tulisan yang lumayan, lebih mudah bagi saya untuk survive di sana dibandingkan dengan di Jerman, misalnya.

Read more

Telah di baca sebanyak: 1335

Eni Kusuma: Belajar adalah Hak Saya!

Profesi sebagai pembantu rumah tangga atau TKW di negeri orang, sering dipandang sebelah mata. Sekalipun, mereka adalah penyumbang devisa negara yang tidak bisa disepelekan jumlahnya. Mereka punya peran untuk keluarga maupun bangsanya, walau penghargaan maupun perlindungan terhadap mereka sangatlah minim. Tak heran jika yang sering kita dengar adalah kisah-kisah pilu tentang tidak berdayanya para TKW ini.

Namun, Eni Kusuma, membalikkan semua pandangan tersebut. Enam tahun menjalani profesi sebagai pembantu rumah tangga di Hong Kong, Eni berhasil pulang dengan membawa sesuatu. Bukan harta yang berlimpah, tetapi sebuah hasil proses pembelajaran yang sangat menakjubkan. Di tengah-tengah kesibukannya sebagai pembantu rumah tangga, ia berhasil mengasah bakat menulisnya dan bergaul dengan komunitas yang lebih luas melalui internet.

Lulusan sebuah SMA di Banyuwangi, Jawa Timur, ini pun aktif di sejumlah mailing list penulisan. Di sana keterampilannya berkembang pesat dan ia mulai bergaul dengan sejumlah penulis sukses. Artikel-artikelnya pun tersebar dan semakin diapresiasi oleh khalayak. Sejumlah artikel motivasinya juga berhasil dimuat di situs motivasi dan pengembangan diri terpopuler, Pembelajar.com. Dari situlah akhirnya pada April ini Eni berhasil meluncurkan sebuah buku motivasi berjudul Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007).

Di Indonesia atau bahkan dunia, mungkin Anda Luar Biasa!!! adalah buku motivasi pertama yang ditulis oleh seorang pembantu rumah tangga. Dan, tak tanggung-tanggung, buku ini juga dikomentari oleh tak kurang dari 27 penulis, motivator, tokoh, atau aktivis yang punya nama. Mungkin, semua ini merupakan bentuk apresiasi atas semangat dan kemauan belajar penulisnya yang benar-benar menyentuh hati.

Eni yang kini berusia 30 tahun, terus belajar mengasah kemampuan menulisnya. Ia juga mulai membagikan semangatnya melalui forum-forum seminar, diskusi, serta talk show di radio-radio. Sasaran yang sedang dia bidik adalah seminar di berbagai kampus untuk menyemangati para mahasiswa atau generasi muda umumnya. Berikut adalah wawancara Edy Zaqeus dari Pembelajar.com dengan Eni Kusuma melalui email akhir Maret 2007 lalu.

Read more

Telah di baca sebanyak: 439

Andrea Hirata: Menulis untuk Menggerakkan

Kehadiran Andrea Hirata Seman, penulis novel debutan Laskar Pelangi (Bentang, 2005) tampaknya cukup memberi warna jagad sastra dan pernovelan di Indonesia. Novel yang bercerita tentang kehidupan sekitar sepuluh anak-anak dalam memperjuangkan sekolahnya itu seolah memberi setitik kesegaran di tengah-tengah dahaganya pembaca terhadap karya-karya bermutu. Banyak orang memuji novel memoar tersebut karena jalinan ceritanya yang memang begitu sekaligus penuh muatan nilai moral. “Menyentuh…” kata Garin Nugroho. “Mengharukan…” kata Korrie layun Rampan. “Menarik…” komentar Sapardi Djoko Damono. “Kemelaratan yang indah…” tulis Tempo. ”Novel tentang dunia anak-anak yang mencuri perhatian…” puji Gatra.

Andrea mengaku heran juga dengan sambutan publik yang begitu antusias atas novelnya yang sudah mengalami cetak ulang ke-3 dalam waktu tujuh bulan tersebut. Untuk ukuran novel “serius”, angka penjualan ini tentu menempatkannya dalam deretan buku best seller. Padahal, mungkin novel itu tidak akan pernah sampai ke tangan pembaca jika tidak ada seorang temannya yang diam-diam mengirimkan memoarnya tersebut ke sebuah penerbit. Tak heran jika novel Andrea ini dibilang “beruntung” oleh sebagian kalangan.

Namun, tak adil jika kelarisan novel bujangan kelahiran Belitong 24 Oktober ini, disebut hanya karena faktor beginner’s luck. Pujian dari sejumlah kalangan di atas sudah menjadi bukti bahwa novel ini benar-benar membekas di benak pembaca. Sebagai hadiahnya, buku ini ramai diperbimcangkan, diresensi, diulas di berbagai milis, dan akhirnya laris di pasar. Keseriusan Andrea dalam proses penulisan juga patut diperhatikan. Bagi pegawai PT Telkom Bandung yang alumnus (S-2) Sheffield Hallam University, Inggris dan Universite de Paris Sorbonne, ini menulis punya tujuan mulia. “Penulis yang sukses bagi saya adalah penulis yang mampu menggerakkan pembacanya untuk melakukan hal-hal yang luhur setelah membaca bukunya,” kata Andrea dalam wawancara tertulisnya dengan Edy Zaqeus dari Pembelajar.com. Berikut petikannya:

Sejumlah pembaca Laskar Pelangi mengaku novel ini menyegarkan sekaligus mengharukan. Ide apa yang melatarbelakangi penulisan novel ini?
Buku Laskar Pelangi (LP) pada awalnya bukan untuk diterbitkan. Niat saya untuk menulis buku ini sudah ada sejak saya kelas 3 SD, ketika saya demikian terkesan pada jerih payah kedua guru SD saya Ibu Muslimah dan Bapak Harfan Effendi, serta 10 sahabat masa kecil saya, yang disebut Kelompok “Laskar Pelangi”. Buku LP saya tulis sebagai ucapan terimakasih daan penghargaan kepada guru dan sahabat-sahabat saya itu. Seorang teman, tidak sengaja menemukan draft buku itu di kamr kos saya, dan diam-diam mengirimkannya pada penerbit. Sampai hari ini saya masih heran ternyata buku LP masih merupakan buku laris, dan telah dicetak tiga kali dalam waktu tujuh bulan. LP adalah novel pertama saya.

Read more

Telah di baca sebanyak: 532

Safir Senduk: Sepuluh Kiat Sukses Penulis Best Seller

Dalam dunia perencanaan keuangan, nama Safir Senduk sangatlah dikenal. Barangkali, dialah orang pertama yang mempopulerkan istilah perencanaan keuangan. Bahkan mungkin, dia pula yang pertama kali berani mendeklarasikan diri sebagai seorang perencana keuangan profesional. Dan Safir memang cukup berhasil di lapangan jasa profesional yang terbilang masih merupakan barang baru bagi publik Tanah Air itu.

Namun, sukses pendiri Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk & Rekan ini (berdiri 1998), tidak sebatas pada bidang konsultasi keuangan. Lebih dari itu, Safir juga dikenal sebagai kolomnis di berbagai media massa dan penulis buku-buku perencanaan keuangan praktis. Bahkan dua buku terakhir yang dia tulis—Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya? dan Buka Usaha Nggak Kaya, Percuma!—disambut antusias oleh khalayak sehingga telah mengukuhkan dirinya sebagai seorang penulis buku best seller. Yang pertama terbit Desember 2005 dan hingga sekarang sudah laku sekitar 30.000 eksemplar. Sementara buku kedua yang terbit akhir Juni 2006 lalu kini sudah terjual hingga 13.000 eksemplar! Untuk buku-buku kategori nonfiksi, maka angka-angka penjualan sebesar ini jelas lumayan sekali.

Hingga sekarang, tak kurang sudah delapan buku dihasilkan oleh Safir. Rata-rata karyanya disambut baik oleh pasar. Awalnya, alumnus STIE IBMI Jakarta dan belajar ilmu perencanaan keuangan keluarga secara otodidak ini mengaku menulis untuk mendongkrak brand layanan jasa konsultansi yang didirikannya. Namun, belakangan setelah dia merasa brand-nya cukup kuat, Safir mengaku lebih suka menulis karena idealisme, yaitu untuk berbagi pengetahuan dan mendidik masyarakat soal kemelekan finansial.

“Bila seorang penulis menulis untuk idealisme—untuk memberikan sesuatu berupa edukasi kepada pembaca—ini berarti dia sudah mencapai level tertinggi dalam menulis,” kata Safir kepada Edy Zaqeus dari Pembelajar.com. Berikut petikan wawancara dengan Safir Senduk menyangkut proses kreatif dan berbagai kiat kepenulisan:

Secara garis besar, apa gagasan utama buku terbaru Anda?
Gagasan utamanya, seorang pengusaha tetap perlu tahu bagaimana cara yang baik mengelola uangnya. Ini agar mereka bisa jadi kaya dan sejahtera. Caranya, dengan memisahkan keuangan usaha dan keuangan pribadi, mengendalikan pemasukan dan pengeluaran, memiliki proteksi, memiliki investasi lain selain usaha, dan melakukan analisa sebelum membuka usaha baru.

Mengapa tergerak untuk menulis tema ini?
Karena saya melihat anggapan yang terjadi selama ini di masyarakat, bahwa untuk menjadi kaya dan sejahtera hanya bisa dicapai dengan membuka usaha. Padahal, membuka usaha tidak otomatis bikin kita kaya dan sejahtera. Karena, untuk jadi kaya dan sejahtera sangat bergantung pada bagaimana kita mengelola uang yang kita dapat dari pekerjaan atau dari usaha kita.

Apa benar bahwa tak sedikit pengusaha yang kurang memahami cara pengelolaan uang yang baik?
Wah, benar itu! Ada banyak pengusaha yang walaupun menguasai bagaimana cara berbisnis, tapi mereka sama sekali buta tentang bagaimana mengelola dan mengembangkan uang mereka. Akhirnya, satu-satunya sumber pendapatan mereka adalah hanya dari usaha. Tapi, investasi mereka di tempat lain nggak ada. Atau kalaupun ada, hasilnya memble.

Sejauh ini, bagaimana tanggapan pasar?
Alhamdulillah baik. Saya bersyukur masyarakat bisa menerima buku ini. Ketika berencana menulis buku ini, beberapa orang di penerbit saya bilang bahwa buku ini tidak akan selaris buku saya sebelumnya Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya?. Alasannya, mayoritas masyarakat Indonesia—terutama di perkotaan sebagai pembaca buku terbesar—adalah karyawan. Bukan wiraswasta. Tetapi menurut saya, apa pun topik buku itu, selama kita bisa mengemas, melakukan program promosi dan pemasaran yang baik, buku itu pasti akan laku. Itu terbukti! Selama Juli 2006 kemarin, buku ini menempati peringkat ketiga untuk kategori Buku Panduan—dimuat di Kompas 19 Juli 2006—bersamaan dengan buku saya sebelumnya yang menduduki peringkat kelima. Punya dua judul buku yang muncul bersamaan dalam daftar buku laris adalah satu pencapaian yang buat saya tidak bisa digantikan dengan uang berapapun jumlahnya.

Anda terbilang sebagai praktisi dan penulis buku perencanaan keuangan yang produktif. Dari mana dapat ide penulisan buku-buku tersebut?
Saya adalah seorang praktisi perencana keuangan. Ide-ide topik saya dapatkan dari banyak bergaul dengan klien, peserta di seminar maupun membaca di media massa. Di situ saya mencoba membuka mata dan telinga tentang apa yang sebenarnya menjadi anggapan di masyarakat tentang suatu hal. Dan—kalau memang ada argumennya—saya coba untuk membantahnya. Di buku Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya? misalnya. Muncul dari pengamatan saya terhadap adanya anggapan bahwa kalau terus jadi karyawan akan sulit kaya. Dengan menulis buku yang sifatnya berlawanan dengan anggapan masyarakat, biasanya akan jadi lebih mudah untuk menarik perhatian pasar.

Punya pengalaman yang unik terkait dengan buku yang Anda tulis?
Buku Buka Usaha Nggak Kaya? Percuma…! sempat mau saya kasih judul “Buka Usaha Belum Tentu Bikin Kaya…”. Judul itu sudah ada di pikiran saya selama berbulan-bulan sebelum akhirnya penerbit saya dengan santainya bilang: “Kalau bisa judulnya yang lebih positif lagi deh…”. Hmm, kecewa sekali saya. Ya, iyalah! Judul itu sudah lama ada di kepala saya. Eh… penerbitnya nggak suka. Ya sudah, akhirnya ganti dengan judul yang sekarang. Dan, buku ini saya buat dengan penuh perjuangan. Gimana nggak penuh perjuangan? Nyari waktunya itu yang susah. Seminggu bisa 3-4 kali seminar. Belum lagi ngomong di radio. Nulis di media massa. Karena itu saya selalu menetapkan deadline di buku agenda saya, bahwa bab ini harus selesai di tanggal sekian, dan bab itu harus selesai di tanggal sekian. Ngikutinnya? Berat sekali. Tapi alhamdulillah bisa.

Di antara buku-buku yang Anda tulis, buku mana saja yang paling bagus penjualannya?
Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya? terbit Desember 2005. Sudah laku sekitar 30.000 eksemplar sampai saat ini. Disusul Buka Usaha Nggak Kaya? Percuma…! yang terbit akhir Juni 2006. Sampai saat ini laku 13.000 eksemplar!

Dari mana Anda belajar menulis dulu?
Otodidak. Ada turunannya juga kali. Dulu almarhum ibu saya rajin sekali membaca. Apa pun juga dia baca. Buku apalagi. Setiap kali selesai membaca buku, beliau suka menulis kesimpulannya di atas kertas. Selain itu, karena ayah saya bekerja di sebuah bank milik pemerintah dan memegang posisi pimpinan, ibu saya aktif di Dharma Wanita-nya. Otomatis ibu saya harus sering kasih pidato di depan ibu-ibu Dharma Wanita lainnya. Sebelum memberi pidato, ibu saya menyiapkan pidatonya dengan menuliskannya terlebih dulu. Jadi, mungkin ada turunannya juga.

Jadi karena turunan dan bukan latihan…?
Tapi menurut saya, yang paling penting dalam belajar menulis adalah praktik, praktik, dan praktik. Jujur saja, dulu tulisan-tulisan pertama saya di sebuah majalah, kalau saya baca lagi sekarang, aduh jeleknya…! Nggak teratur, nggak runtut, dan seringkali bahasanya terlalu susah. Tapi, dengan terus mengulang dan mengulang, kita akan bisa menemukan bentuk sendiri dalam menulis. Menurut saya, menulis adalah salah satu bentuk komunikasi dalam mempengaruhi orang lain agar orang mengikuti cara berpikir kita.

Kalau ilmu perencanaan keuangan, dari mana Anda belajar?
Belajar sendiri. Selama empat tahun saya seperti kuliah sendiri dengan belajar dari berbagai macam buku yang saya beli dari dalam maupun luar negeri. Jangan salah, belajar otodidak itu justru seringkali malah lebih susah daripada belajar dengan mentor. Karena, proses otodidak biasanya harus melalui trial and error yang cukup banyak. Sementara belajar melalui mentor seringkali sudah lebih enak karena nggak perlu banyak mengalami error-nya. Jadi, beruntunglah mereka yang sekarang belajar perencanaan keuangan karena sudah ada mentornya.

Anda termasuk praktisi yang berhasil mem-brand diri sebagai seorang financial planner melalui tulisan. Apa memang sejak awal Anda memaksudkan tulisan untuk tujuan ini?
Jujur, iya. Ceritanya, ketika tahun 1998 saya membuka Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk & Rekan, saya pikir orang otomatis akan datang dan menjadi klien. Dengan pasang plang, pasang kartu nama, orang akan otomatis jadi klien. Eh, tunggu punya tunggu, kok klien nggak datang-datang. Mulailah saya melakukan pemasaran dengan melakukan cold call. Telepon prospek. Setiap pagi saya telepon sekitar sepuluh prospek. Dari sepuluh orang yang saya telepon, sekitar tiga sampai empat orang yang mau ketemu. Lalu, sekitar satu dari delapan orang yang saya temui akhirnya menjadi klien. Itu terus yang saya lakukan setiap hari.

Terus saya pikir, supaya saya nggak terus menerus telepon, saya coba melakukan promosi jangka panjang supaya nanti oranglah yang datang ke saya, bukan saya yang mencari mereka. Akhirnya, saya mulai menulis. Tulisan pertama saya muncul di majalah Tiara tahun 1998 dalam bentuk rubrik yang namanya Tips Uang. Dan seterusnya. Disusul dengan tulisan di majalah-majalah lain. Akhirnya betul, lama-lama orang jadi tahu nama saya, dan merekalah yang akhirnya datang ke saya. Jadi, ya sejak awal menulis, tujuan saya memang untuk branding.
Tapi jujur, ketika brand itu sudah didapat sejak beberapa tahun lalu, tujuan saya menulis berubah yaitu untuk idealisme. Orang Indonesia harus mendapatkan edukasi tentang bagaimana cara yang baik dalam mengelola keuangan. Saya pikir, sah-sah saja kita menulis untuk tujuan bisnis, yaitu untuk branding. Tapi, saya pikir menulis untuk idealisme berupa edukasi akan jauh lebih mulia. Saya bukan orang suci. Tapi, dengan menulis untuk tujuan idealisme, saya pikir itu akan lebih fair buat pembaca. Karena, si penulis akan jadi lebih tulus dan netral dalam menulis, bukan karena ingin menjual atau memasarkan dirinya sendiri.

Anda setuju bahwa tulisan atau buku merupakan cara ampuh untuk menciptakan personal brand?
Setuju banget! Ada banyak buktinya. Tentu saja, buku dan artikel di media massa punya kekuatan dan kelemahannya sendiri-sendiri. Artikel di media massa mungkin bisa menjangkau lebih banyak pembaca, tapi umurnya lebih pendek. Ketika saya menulis di sebuah tabloid mingguan dengan topik Kiat Mempersiapkan Masa Pensiun misalnya, memang banyak yang baca dan suka dengan topik itu. Tapi, umurnya cuma seminggu karena minggu depannya tabloid itu sudah terbit lagi yang baru. Untung saya nulisnya tiap minggu. Sementara kalau buku, pembacanya mungkin tidak sebanyak pembaca artikel di media massa. Tapi umurnya lebih panjang. Bisa beberapa bulan, sebelum akhirnya ada judul buku lain lagi yang menarik perhatian pembaca.
Tapi begini, sebuah tulisan bisa menciptakan personal brand tertentu. Asal, menurut saya, tulisan itu memiliki konsep yang betul-betul bisa diterima oleh pembaca. Dan, yang paling penting, tulisan itu menarik. Jangan lupa, konsisten pada satu topik. Saya pernah melihat ada orang yang—mungkin karena pinter banget—menulis tentang perencanaan keuangan, tapi juga menulis tentang bisnis dan ekonomi. Secara topik mungkin dia menguasai. Tapi secara marketing, itu bunuh diri. Jadi, dalam menulis, cobalah konsisten. Saya—biarpun bisa main golf misalnya—nggak akan mau nulis tentang golf, sampai kapan pun, karena itu bisa berbahaya bagi positioning saya.

Bagaimana dengan potensi pasar buku keuangan populer dan kewirausahaan sekarang ini?
Saya percaya bahwa topik buku apa pun—termasuk buku keuangan populer dan wirausaha—kalau dipasarkan dengan baik, tetap bisa laku. Jujur saja, sekarang ada banyak sekali buku keuangan populer dan kewirausahaan yang nggak laku di pasar. Kenapa? Macam-macam! Mungkin karena topiknya terlalu akademis. Mungkin karena bahasanya terlalu teoritis, dan sebagainya. Kalau reputasi pengarang? Eit…, jangan salah! Siapa nama pengarang nggak ngejamin bukunya bisa laku, lho. Jujur saja, bukan berarti nama saya Safir Senduk maka saya bisa sembarangan bikin buku perencanaan keuangan. Buku saya bisa laku lebih karena adanya pemilihan topik, kemasan, dan proses promosi yang panjang. Bukan karena nama saya Safir Senduk. Jadi, semua orang punya kesempatan yang sama untuk bikin buku perencanaan keuangan yang laku.

Ada kiat-kiat supaya berhasil nembus pasar?
Saya kasih kiatnya ya. Pertama, jangan melulu berkutat di topik-topik yang sudah basi. Contoh: “Kalau Mau Kaya? Buka Usaha Dong…!”. Waduh, itu basi banget! Udah berulang-ulang kali dibahas orang. Lewatin saja topik begitu.

Kedua, sesuaikan gaya bahasa dengan pasar yang ingin dituju. Lha, kalau bukunya adalah buku populer, jangan pakai gaya bahasa yang teoritis. Nanti orang cepet ngantuk.
Ketiga, nggak usah terlalu tebal. Kalau bukunya buku populer, biasanya orang nggak begitu suka kalau tebal.
Keempat, minta testimoni untuk ditaruh di belakang buku. Cuma kalau pakai testimoni, kalau bukunya buku populer, nggak usahlah minta testimoni dari orang-orang yang buat sebagian orang ‘ketinggian’. Contoh, saya pernah melihat buku keuangan populer, tapi testimoninya dari orang DPR-lah, menteri inilah, rektor itulah, dan sebagainya. Ketinggian! Nanti orang takut untuk baca.

Kelima, jangan hanya kenalkan diri lewat buku. Miliki juga channel distribusi lain seperti menulis artikel di media massa. Miliki website, kalau perlu dengan nama domain sendiri. Miliki juga nama email dengan domain sendiri, bukan yang gratisan kayak yahoo atau hotmail.
Keenam, selalu konsisten pada tema penulisan yang sama. Kalau nulis tentang perencanaan keuangan, ya sudah nulis perencanaan keuangan aja. Supaya ntar orang gampang kenalnya.
Ketujuh, jangan malu-malu untuk menunjukkan diri. Banyak pengarang yang tidak suka menonjolkan dirinya, tapi lebih suka menonjolkan bukunya. Nggak apa-apa juga. Tapi nanti bukunya nggak akan selaku kalau ia juga mau menunjukkan diri secara personal.

Kedelapan, jalin hubungan baik dengan toko buku. Datang ke toko buku, kenalkan diri dengan Supervisor Penjualan. Jalin juga hubungan baik dengan Divisi Promosi di penerbit.

Sembilan, jangan sombong ketika bersosialisasi dengan orang lain. Ini mungkin klise. Tapi banyak orang yang tidak akan membeli buku kita kalau secara personal dia tidak suka dengan kita. Sayangnya, saya banyak melihat pengarang buku-buku keuangan populer dan wirausaha yang seringkali membuat gap sosial dengan orang lain. Mereka hanya mau bergaul dengan orang yang dia pikir selevel, seperti sesama pengarang, pejabat, dsb. Padahal, laku tidaknya buku kita, lebih banyak karena berasal dari mereka yang memang bukan punya profesi seperti kita.

Sepuluh, terus belajar, terutama dari orang-orang Indonesia sendiri. Tempat untuk belajar ada banyak sekali, salah satunya adalah di seminar. Tapi jangan salah, banyak pengarang buku keuangan populer dan wirausaha yang gengsi kalau hadir di seminar dengan pembicara orang Indonesia, tapi mau hadir kalau pembicaranya adalah orang asing, bahkan kalau nama orang asing itu belum pernah terdengar sebelumnya. Kita ini terlalu luar negeri minded. Apa-apa yang dari luar negeri itu dianggap baik. Padahal, kalau kita mau belajar dari sesama orang Indonesia, kita akan dapat ide-ide baru dan segar yang justru lebih membumi. Belajar juga dari milis-milis. Salah satunya adalah milis PenulisBestSeller@yahoogroups.com.

Penulis buku yang Anda kagumi atau mempengaruhi Anda?
Dulu waktu kecil, jelas Arswendo Atmowiloto. Gayanya yang ‘langsung-langsung’ sangat mempengaruhi saya. Sekarang, untuk buku keuangan populer dan wirausaha serta motivasi, pengarang yang dulu pertama kali saya kagumi ketika membacanya adalah Andrias Harefa. Biarpun—mungkin karena dia sangat pintar—kadang-kadang dia nggak terlalu to the point dalam menyampaikan pemikirannya. Tapi ada sesuatu dalam tulisan-tulisannya yang membuat saya selalu terinspirasi. Paulus Winarto juga oke. Keunggulannya pada cara menyampaikan ‘pengalamannya’ dalam setiap poin.

Untuk buku perencanaan keuangan, Antony Japari menurut saya cukup baik. Tulisannya semakin matang. Saya banyak belajar dari beliau, terutama tentang perencanaan keuangan. Masbukhin Pradhana, gaya bahasanya sudah cukup populer untuk orang yang baru pertama kali menulis buku. Dia akan jadi bintang di masa mendatang, asalkan dipasarkan dengan benar. Untuk buku pemasaran populer, saya suka Hermawan Kartajaya. Bukunya Marketing in Venus sangat luar biasa. Saya juga suka Edy Zaqeus, terutama bukunya yang berjudul Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller. Kekuatan dia saya pikir ada pada buku-buku yang bertopik tentang penulisan, bukan yang lain.

Untuk cerpen, saya suka Ade Kumalasari. Bahasa dia di cerpen seringkali sangat to the point dibanding ketika di novel. Saya juga suka cara dia menutup ending pada setiap tulisan-tulisannya. Setahu saya, ending-ending seperti itu menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Dia akan jadi sangat terkenal di masa mendatang sebagai pengarang mumpuni asal dia terus produktif. Pengarang asing? Stephen Covey. Cuma karena mungkin buku itu ditujukan buat HRD perusahaan, buku itu jadi tampil lebih ‘rumit’. Seharusnya bisa dibuat lebih populer lagi. Robert Kiyosaki, biarpun saya nggak terlalu setuju sama isinya, tapi gaya bahasanya populer. Terbukti dari banyak orang yang terbawa pada alur pikirannya.

Definisi penulis sukses menurut Anda?
Gampang. Penulis sukses adalah penulis yang bisa mengkomunikasikan ide-idenya kepada pembaca, dan pembaca bisa menerima ide-ide tersebut tanpa merasa dipengaruhi. Seorang penulis sukses saran saya sebaiknya tidak hanya menulis untuk branding. Tapi untuk idealisme. Penulis yang menulis dengan maksud untuk bisnis, menurut saya hanya akan terjebak pada persaingan yang tidak sehat dengan sesama penulis lain yang menulis topik yang sama. Tetapi, bila seorang penulis menulis untuk idealisme, untuk memberikan sesuatu berupa edukasi kepada pembaca, ini berarti dia sudah mencapai level tertinggi dalam menulis, yaitu memberikan sesuatu untuk masyarakat.

Ok, thanks. Sukses selalu….
Sama-sama. Pesan saya, kunci menulis itu sederhana saja: menulis, menulis, dan menulis lagi. Praktik, praktik, dan praktik lagi. Karena semua orang bisa menulis.(ez)

Telah di baca sebanyak: 1951

Dewi Lestari (Dee): Tulisan Saya Harus Mencerdaskan

Ternyata Dewi Lestari atau Dee memiliki keprihatinan yang sama dengan sejumlah pekerja seni dan kalangan penggerak kreatifitas, bahwa di negeri ini sedang tumbuh suasana ‘tidak toleran’. Ada sebagian kelompok atau orang yang suka memaksakan kehendak, pikiran, pendapat, dan keyakinannya. Akibatnya, orang lain atau siapa saja yang tidak sependapat dengan kehendak dan pikiran kelompok tersebut, sepertinya harus segera ‘ditundukkan’ atau ‘dipaksa’ mengikuti kemauan mereka.

“Saya agak khawatir dengan adanya kelompok-kelompok ekstremis yang memaksakan nilai tertentu dalam kerangka berekspresi. Kalau dibiarkan bisa membawa kesenian Indonesia terpuruk mundur, bahkan bisa membentuk karakter masyarakat yang tidak lagi kondusif untuk berkesenian,” tegas Dewi kepada Pembelajar.com.

Dalam serial novel Supernova-nya maupun esai-esainya, Dee memang dikenal memiliki ketajaman berpikir dan beranalisis. Ada nuansa pendobrakan, anti kemapanan, kegelisahan dan pencarian hal-hal yang sangat substantif sifatnya. Dee memang suka berfilsafat, seperti yang dia perlihatkan dalam karya terbarunya berjudul Filosofi Kopi (True Books & Gagas Media, 2006). Dalam buku yang berisi esai dan cerita pendek ini ia seperti hendak menggoda pembacanya supaya tidak sekadar memandang segala sesuatu seperti di permukaannya saja.

Dalam Filosofi Kopi, kembali Dee yang kelahiran Bandung, 20 Januari 1976, ini mengajak kita untuk berpikir lebih menjorok ke ranah substantif. Istri dari penyanyi kenamaan Marcell ini juga mengajak pembacanya untuk jadi cerdas. Seperti yang dia ungkapkan sendiri, “Tulisan saya harus bisa mencerdaskan dan mengusik keingintahuan orang untuk belajar lebih banyak lagi.” Tak heran jika karya-karya best seller-nya banyak dipuji kritikus sastra serta beberapa kali masuk dalam nominasi Katulistiwa Literary Award, sebuah penghargaan bergengsi di bidang sastra.

Kepada Edy Zaqeus dari Pembelajar.com, Dee mengungkap proses kreatif di balik karya terbarunya, Filosofi Kopi. Ia juga mengungkap soal arti sukses dalam dunia kepenulisan dan pentingnya branding bagi seorang penulis, motivasi menulis, cara memperlakukan ide, termasuk keprihatinannya terhadap panggung kreatifitas di negeri kita akhir-akhir ini. Berikut petikannya:

Kalau diungkap dalam kalimat-kalimat sederhana, Filosofi Kopi itu buku tentang apa?
Filosofi Kopi pada dasarnya adalah kumpulan cerita yang saya kumpulkan dalam kurun waktu 10 tahun. Jadi isinya bermacam-macam. Setelah selesai mengompilasi barulah saya menyimpulkan sendiri bahwa benang merah cerita-cerita dalam buku ini adalah kisah tentang cinta yang bertransformasi, dari sekadar kumpulan emosi menjadi sebuah jatidiri.

Mengapa memilih judul Filosofi Kopi?
Filosofi Kopi saya pilih karena catchy saja. Asosiasinya ke suasana orang mengobrol, berfilsafat kecil-kecilan, sambil ngopi-ngopi sore. Dan pada momen seperti itu, kisah apa saja bisa jadi bahan obrolan. Jadi, judul tersebut memiliki ruang tafsir yang luas dan bisa memayungi cerita-cerita lain.

Hal baru apa yang ditawarkan?
Membuat kumpulan cerpen merupakan hal baru bagi saya, karena sebelumnya saya dikenal sebagai novelis, dan orang mengetahui saya selalu dari kerangka Supernova. Jadi bagi saya, maupun pembaca saya, buku ini bisa jadi refreshment. Sekalian menguak sisi-sisi dari Dewi Lestari yang belum diketahui. Formatnya yang beragam bisa juga jadi hal baru. Dalam Filosofi Kopi, ada prosa-prosa pendek juga. Jadi nggak selalu dalam bentuk cerpen sekalipun judulnya adalah kumpulan cerita. Variasi format ini saya dapat dari buku kumpulan cerita penulis favorit saya, Ana Castillo. Gara-gara baca bukunya saya jadi terinspirasi untuk membuat kumpulan cerita. Selama ini, soalnya saya terpentok soal format. Saya kalau bikin sesuatu susah patuh pada batasan format. Bikin cerpen suka kepanjangan. Bikin puisi yang keprosa-prosaan. Atau prosa yang kepuisi-puisian, dsb.

Yang melatarbelakangi penulisan buku ini?
Pertama, untuk mengisi jeda waktu. Berhubung saya masih belum kelar menuntaskan Supernova Partikel. Selain itu juga untuk refreshing. Setelah saya bongkar-bongkar dokumen di komputer, saya menemukan banyak karya saya yang belum ‘keluar rumah’. Saya selalu mengibaratkan karya itu seperti anak. Supaya anak tumbuh sehat, dia harus keluar rumah, jangan dikurung terus, kenalan sama orang banyak. Nah, jadi ini kesempatan juga bagi karya-karya saya yang selama ini masih tersekap di komputer untuk berkenalan dengan publik.

Dari mana saja ide penulisannya?
Dari mana-mana. Ada dari kecoak, dari kopi, dari orang yang obsesi mencari Herman, kisah cinta sendiri, kisah cinta orang lain, dsb. Semua penulis itu pasti seorang pengamat juga. Dan saya semata-mata menuliskan apa yang saya amati dari hidup.

Masih ada benang merahnya dengan novel-novel terdahulu?
Secara tema nggak ada. Benang merahnya adalah sama-sama ditulis oleh Dewi Lestari. Hehehe….

Apa buku ini menyiratkan Dee “yang baru” saat ini?
Dibilang baru juga enggak ya, karena kumpulan cerita ini hasil dari sejak tahun 1995. Jadi justru memberikan gambaran Dewi yang dulu. Karya yang bisa dibilang baru, yakni 2003-2005 hanya ada tiga judul.

Ok, berapa lama buku ini dipersiapkan?
Saya melakukan penyuntingan ulang atas manuskrip yang lama, dan itu kira-kira empat bulan.

Apa hambatan yang paling sering ditemui?
Hambatannya justru dimulai begitu naskahnya jadi. Jadi hal-hal teknislah. Produksi, promosi, distribusi, dll. Cukup alot juga cari penerbit yang bisa diajak join-production, sampai akhirnya saya memutuskan untuk kerja sama dengan Gagas Media. Karena itu kan masalah trust, chemistry, dan kecocokan dalam bekerja, dll. Sampai sekarang pun masih proses sama-sama menjajaki. Saya juga orang yang perfeksionis masalah produksi, jadi sampai sekarang pun masih terus menyempurnakan kualitas kertas, cetak, dll.

Punya waktu-waktu paling cocok untuk menulis?
Malam sampai pagi hari. Pokoknya setelah semua tugas ‘duniawi’ selesai dan setelah semua orang tidur. Nggak mungkin menulis kalau HP masih krang-kring, atau harus main sama anak, dsb.

Bagaimana cara mengatasi problem kemacetan menulis?
Saya sih membiarkan saja writer’s block itu hilang dengan sendirinya. Dalam arti nggak usah dipaksa atau jadi frustrasi kalau lagi mandek. Justru saya memanfaatkan momen-momen seperti itu untuk istirahat. Menulis itu kan menguras stamina mental dan batin. Jadi kalau ada mandek justru kita bisa penyegaran. Tulisannya jangan dipikirin dulu, pikirin yang lain-lain aja. Kalau ide itu kuat, pasti akan kembali dan bertahan. Kalo ide itu nggak kuat, pasti gugur dan kita harus cari lagi. Jadi konsep ‘survival of the fittest’ itu juga berlaku untuk masalah ide, menurut saya.

Siapa penulis-penulis yang paling menginspirasi karya Anda?
Saya sempat terpengaruh sekali oleh Sapardi Djoko Damono. Saya juga suka tema kontemporer yang ditawarkan Seno Gumira Ajidarma. Dan saya mengagumi gaya menulis Ayu Utami dan kepiawaiannya dalam mengolah bahasa.

Hal apa saja yang paling memotivasimu untuk terus menulis?
Menulis bagi saya adalah kebutuhan, ya. Jadi theurapetic sifatnya. Untuk menjadi manusia seimbang ya saya harus menulis. Memang untuk beberapa karya, seperti Supernova, saya punya misi khusus. Tapi tanpa itu semua, saya pasti terus menulis, karena butuh.

Dee, novel-novel Anda laris sekali di pasaran. Selain faktor isi, tampaknya sosok Dee sebagai selebritis juga berpengaruh?
Pada awalnya pasti berpengaruh. Karena saya sudah jadi penyanyi lebih dulu, otomatis saya adalah bagian dari media hiburan. Jadi ketika saya menulis buku akhirnya mendapat liputan dari media hiburan, dan ini tidak didapatkan oleh semua penulis. Tapi pada akhirnya sih isi tulisan yang paling menentukan laku atau tidaknya sebuah buku. Kalau hanya faktor sensasi pasti tidak akan bertahan lama, karena orang beli buku kan karena isi. Mungkin apa yang saya tulis adalah sesuatu yang bisa ‘relate’ dengan orang banyak.

Seberapa penting sih peran branding bagi seorang penulis?
Dengan gaya marketing dan tren pasar yang mengedepankan image seperti sekarang, branding memang jadi penting. Tidak lantas jadi segala-galanya, tapi bisa sangat menunjang kalau memang pas. Penulis sih pada dasarnya akan selalu kembali ke kualitas dan isi tulisannya. Jadi branding itu semata-mata strategi di level superfisial saja. Ada baiknya penulis itu tahu cara memposisikan diri dan memainkan image-nya, karena sekarang untuk bisa mempromosikan buku kita bisa kolaborasi brand dengan produk-produk komersial. Dan untuk bisa seperti itu, pihak sponsor pasti akan tanya dulu branding kita seperti apa, selaras atau enggak dengan produknya, dsb.

Anda pernah di puncak popularitas saat Supernova meledak di pasaran. Apakah Anda memaknainya sebagai sebuah kesuksesan bagi seorang penulis?
Salah satu parameter kesuksesan penulis memang ada di kuantitas penjualan bukunya. Tapi menurut saya banyak aspek lain. Bagi saya lebih bermakna ketika tulisan saya bisa menyentuh orang lain, atau mengubah hidup seseorang. Jadi kesuksesan itu individual sifatnya. Hanya kalau dilihat dari perspektif industri perbukuan sajalah kesuksesan itu sama dengan laku atau tidaknya buku di pasar.

Penulis, sama seperti pegiat kreatifitas lainnya, membutuhkan ruang kebebasan yang seluas-luasnya. Bagaimana pandangan Dee terkait kondisi kebebasan berekspresi dalam masyarakat kita belakangan ini?
Saya agak khawatir dengan adanya kelompok-kelompok ekstremis yang memaksakan nilai tertentu dalam kerangka berekspresi. Kalau dibiarkan bisa membawa kesenian Indonesia terpuruk mundur, bahkan bisa membentuk karakter masyarakat yang tidak lagi kondusif untuk berkesenian. Saya percaya kok masyarakat sesungguhnya lebih pintar dari yang diduga. Jadi mereka sendiri punya mekanisme sendiri untuk memilah mana yang baik dan tidak. Tapi sayangnya, sebagian masyarakat yang ‘kurang pintar’ sedang mendapat angin segar karena lemahnya regulasi pemerintah. Jadi seolah-olah seluruh masyarakat Indonesia itu begitu bodohnya dan tak berakal budi sampai segala objek yang berkenaan dengan panca indera itu harus diatur. Pendekatan ini sungguh salah dan tidak dewasa. Pengendalian itu dari pikiran, bukan lantas objeknya yang dikendalikan.

Harapan Dee?
Saya hanya berharap bangsa ini bisa semakin open-minded, semakin cerdas, dan semakin bijaksana, terutama masalah lingkungan. Moga-moga karya-karya saya bisa menyumbang sedikit kontribusi, karena prinsip saya dalam menulis adalah tulisan saya harus bisa mencerdaskan dan mengusik keingintahuan orang untuk belajar lebih banyak lagi.

Karya-karya apa lagi yang sedang dan hendak digarap saat ini?
Saya sedang menggarap Supernova Partikel. Masih dalam fase riset. Selain itu juga akan ada proyek ganda buku-musik, tapi mungkin baru dimulai akhir tahun ini.[ez]

Foto: Majalah Lisa.
Telah di baca sebanyak: 384

Top