training motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaNews Feedtraining motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaComments Subscribe to training motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaSitemap

CARNEGIE-BUFFETT

Warren Buffett. Siapa yang tak kenal nama ini. Sedikitnya, tiap orangyang membaca berita-berita ekonomi, atau pemain di bursa saham seluruh dunia, mengenal nama ini dengan baik. Bukan hanya mengenal, tetapi juga mencoba meniru sepak terjangnya, belajar darinya, atau bahkan ingin menjadi seperti Buffett.

Selama bertahun-tahun nama Buffett tercantum sebagai salah satu dari orang terkaya di dunia, bergantian dengan Bill Gates. Dalam biografi berjudul The Snowball yang ditulis Alice Schroeder tahun 2008 (diterjemahkan oleh penerbit Elexmedia, 2010, setebal lebih dari 1352 halaman), disebutkan jumlah kekayaan pribadinya pernah melebihi 60 miliar dolar Amerika, sekitar Rp 540 triliun. (Jika harta Buffett dibagikan kepada 30 juta penduduk miskin di Indonesia, maka masing-masing orang akan kebagian 2.000 dolar Amerika, kurang lebih Rp 18 juta).

Nama besar Buffett inilah yang membuat saya langsung duduk menonton tayangan mini biografinya di sebuah saluran tivi berbayar belum lama ini. Sayang saya hanya sempat melihat tayangan 15 menitan terakhir. Namun, ada satu hal yang menggelitik pikiran saya ketika Buffett bicara tentang sertifikat yang dipajang di kantornya.

Ia mengatakan bahwa tidak satu pun ijazah pendidikan formalnya yang tertempel di dinding tempatnya bekerja. Tetapi sertifikat dari Dale Carnegie Training ada. Ketika ditanya mengapa begitu, ia menjawab singkat, “Pelatihan Dale Carnegie mengubah hidup saya”.

Sebagai mantan instruktur senior berlisensi Dale Carnegie Training, saya menduga bahwa program pelatihan yang mengubah hidup Warren Buffett itu adalah Effective Speaking and Human Relations(ESHR). Program ini merupakan satu dari dua program yang memang dirancang langsung oleh Dale Carnegie (1888-1955) lewat proses panjang yang mengagumkan. Diujicoba dan dilatihkan untuk umum sejak 1912, pelatihan yang awalnya bernama Public Speaking for Businessmen ini memang fenomenal, sehingga “penganut”ajaran Carnegie disebut Carnegian. (Bisa ditambahkan bahwa Mochtar Riady, pendiri kelompok Lippo; Jonathan L. Parapak, Direktur Utama PT Indosat pada masa Orde Baru, dan Cacuk Sudarijanto, yang pernah menjabat sebagai Direktur Telkom, adalah alumni Dale Carnegie Training tahun 70-an akhir).

Apa inti pokok ajaran Carnegie, yang berhasil menginspirasi dan mengubah hidup banyak orang, termasuk orang sekaliber Buffett?

Jawabannya bisa ditemukan dalam dua karya klasik: How To Win Friends and Influence People (terbitan 1936) danHow To Stop Worrying and Start Living (1948). Kedua bukubest-seller sepanjang masa itu yang ditulis oleh Dale Carnegie berdasarkan catatan yang amat cermat dari kesaksian peserta pelatihannya selama puluhan tahun, ditambah sejumlah referensi. Gaya penulisannya populer, sehingga sangat nikmat dibaca.

Dalam How to Win, Carnegie secara cerdas merumuskan 30 cara atau teknik untuk menjadi pribadi yang disukai, rekan kerja yang menyenangkan, dan pemimpin yang efektif. Ke-30 teknik human relations itu bisa dibedakan dalam tiga kategori.

Kategori pertama untuk mendapatkan teman, yang memuat 9 cara agar mudah disenangi orang lain. Mulai dari anjuran menghindari kebiasaan menyalahkan, mengomeli, dan mengkritik; berikan penghargaan kepada orang lain; beri dorongan untuk maju; berikan perhatian yang tulus ikhlas; tersenyumlah; sebutkan nama lawan bicara; jadilah pendengar yang baik; bicarakan hal yang diminati orang lain; sampai buatlah orang merasa sebagai very important person (VIP).

Kategori kedua untuk mendapatkan kerja sama antusias dari rekan kerja, berisi 12 cara. Mulai dari anjuran untuk menghindari debat kusir; hormatilah pendapat orang lain; kalau salah akui dengan simpatik; mulailah dengan ramah; upayakan respons ya, ya, dan ya; biarkan orang lain berbicara lebih banyak; buat orang merasa bahwa itu idenya; cobalah melihat dari sudut pandang orang lain; tunjukkan simpati para ide orang lain; imbau dengan motivasi agung dan mulia; dramatisir ide-ide Anda; sampai berilah tantangan untuk maju.

Dan kategori ketiga, berisi 9 cara menjalankan peran sebagai pemimpin yang menghargai manusia. Mulai dengan penghargaan yang jujur; beritahu kesalahan orang secara tidak langsung; akui kesalahan sendiri sebelum mengkritik orang; ajukan pertanyaan sebagai ganti perintah langsung; selamatkan muka orang; pujilah kemajuan sekecil apa pun; beri reputasi tinggi untuk dicapai; buatlah kesalahan tampak mudah diperbaiki; sampai buatlah orang lain senang melaksanakan ide Anda.

Dalam How To Stop Worrying, Carnegie juga menawarkan 30 tehnik mengatasi kecemasan dan kekhawatiran yang tak perlu. Mulai dari fakta-fakta fundamental yang perlu diketahui tentang kesedihan hati; teknik dasar menganalisis kesedihan hati; bagaimana menghancurkan kebiasaan bersedih hati; tujuh cara mengembangkan sikap mental agar hidup tenteram bahagia; cara paling sempurna untuk tak bersedih; cara menghadapi kritik orang; enam cara agar jangan lekas lelah; mencari pekerjaan yang membuat Anda bahagia; mengurangi kekhawatiran karena masalah keuangan; dan
seterusnya.

Jadi, ajaran Dale Carnegie bertumpu sedikitnya pada lima pilar utama. Pertama, jadilah kawan yang menyenangkan. Kedua, jadilah rekan kerja yang antusias. Ketiga, jadilah pemimpin yang efektif. Keempat, kuasailah cara mengatasi ketakutan, kekhawatiran, kecemasan atau kesedihan hati. Dan akhirnya, jadilah pembicara yang baik.

Buffett mendapatkan manfaat besar yang mengubah hidupnya dari ajaran tersebut. Anda?

*) Andrias Harefa, WTS adalah writer: 38 Best-selling Books; Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com; Twitter @aharefa


Telah di baca sebanyak: 36

Disengsarakan Spekulan Minyak?

INVESTASI alternatif dengan janji untung besar, siapa yang tidak tertarik?

Suatu sore, di satu kafe di sekitar Pancoran, saya bertemu dengan seorang pejabat yang minta bantuan saya terkait dengan rencananya untuk menulis buku. Namun ternyata itu bukan pertemuan “bilateral” antara saya dengan pejabat tersebut, melainkan pertemuan “multilateral”. Setelah sekitar satu jam kami bebicara, datang dua perempuan cantik yang juga janji bertemu dengan sang pejabat.

“Sebentar lagi saya akan ada tamu lain, tolong Mas Her jangan pergi, nanti saya akan minta Mas Her memberi pertimbangan,” kata pejabat tersebut.

Tamu tersebut ya dua perempuan cantik itu.

Setelah berbasa-basi sejenak kedua perempuan itu mulai menawarkan investasi yang menurut mereka sangat menjanjikan. “Bapak boleh pilih, mau investasi di komoditas atau forex… dijamin untung karena ditangani oleh orang yang berpengalaman di bidangnya.” Kedua perempuan itu mulai memberi kesaksian sambil berbisik “ini rahasia lho…” bahwa pejabat A artis B dan pengusaha C adalah para nasabah perusahaannya yang menangguk untung besar. Keduanya, secara bergantian namun terasa agresif, berusaha menjelaskan bagaimana mungkin investasi itu menguntungkan.

“Ada yang untung lebih dari 100 persen dalam sebulan,” kata yang satu.

Sang pejabat mulai senyum-senyum, sesekali melirik saya (tapi lebih banyak memandang kedua perempuan yang menggoda dengan matanya).

“Wah, saya nggak ngerti mbak… Ini Mas Her, konsultan keuangan saya. Kita dengar saja dia bilang apa… saya ikut saja.”

Saya merasa seperti disambar geledek, karena ditempatkan pada posisi yang tidak mengenakkan. Akhirnya saya sekadar bercerita bagaimana saya juga telah sering mendapatkan tawaran serupa, dan bagaimana saya menolak. Kedua perempuan itu berbalik mencoba meyakinkan saya dengan manis. Namun air muka keduanya berubah ketika saya mengatakan, “Saya tidak mau karena bagi saya ini investasi spekulatif.”

“Ini bukan spekulatif mas… bisa dihitung. Fund manager kami tidak main-main. Mereka memakai perhitungan yang matang…” dan seterusnya.

Rupanya kata “spekulatif” yang saya maksud tidak ditangkap, dan ini menyengat mereka. Yang saya maksud dengan spekulatif adalah bahwa investasi ini tidak memiliki underlying assets. Investasi rumah berarti ada rumah yang dibeli. Begitu juga investasi tanah, emas atau bahkan juga valas sejauh dalam arti kita benar-benar membeli lembar uang (banknote) atau menabung dalam valas. Dalam istilah ekonomi, investasi tersebut memiliki underlying asset. Investasi pada saham pun masih ber-underlying asset. Kita memang membeli kertas, tetapi di balik kertas itu ada aset perusahaan yang menerbitkan saham tersebut.

Tetapi dalam perdagangan berjangka tidak ada aset yang dipertukarkan.

“Maksudnya tidak ada transaksi emas atau minyak yang riil?” Sang pejabat, yang bidangnya adalah kemasyarakatan, ikut bertanya.

“Tidak ada,” saya berkata. Saya melanjutkan bahwa para pemilik uang datang ke bursa yang disebut bursa berjangka bukan untuk dagang minyak, emas atau komoditas yang lain. Mereka datang ke bursa berjangka dengan tujuan untuk mencari untung dari pergerakan harga komoditas itu. “Kedua Mbak ini juga tidak mengajak Bapak untuk dagang emas atau minyak, tapi untuk cari untung dari pergerakan harga emas, minyak atau nilai tukar mata uang (valas).”

“Jadi tidak spekulatif kan? Bisa dihitung, kan?” kata seorang dari kedua perempuan cantik itu.

Saya memutuskan untuk menghentikan “penjelasan” saya di depan keduanya karena saya tidak mau menghalangi usahanya untuk bekerja. Dan untunglah sang pejabat cukup bijak dengan mengatakan dia bisa dihubungi lagi seminggu dari waktu pertemuan itu.

Tetapi setelah kedua orang itu pergi sang pejabat masih penasaran. Dia bertanya, bagaimana mungkin ada pasar tanpa ada aset yang ditransaksikan.

“Begini Pak. Katakan saja saya produsen karet. Bapak punya pabrik ban. Bapak setiap minggu beli karet dari saya. Bulan ini produksi karet lagi bagus, harganya katakan saja 100 dolar satu ton. Misalnya kita tahu enam bulan lagi produksi karet bakal susah. Kita sama-sama tahu harga akan naik, bukan? Nah, kita bikin kontrak. Enam bulan yang akan datang Bapak akan beli karet dari saya dengan harga 120 dolar per ton. Apakah ini mungkin terjadi?”

“Mungkin saja. Tapi harga riil enam bulan mendatang bisa cuma 110 atau bisa 140, kan?”

“Itu dia,” kata saya. “Kalau enam bulan mendatang harganya 110, berarti bapak rugi 10 saya untung 10. Sebaliknya kalau harga pasar 140, saya untung 20 Bapak rugi 20, bukan?”

Saya melanjutkan, “Tetapi untuk bisa bertransaksi seperti itu saya tidak harus menjadi petani karet dan Bapak tidak harus menjadi produsen ban. Tapi kita tetap bisa membuat perjanjian jual beli persis seperti di atas, bukan? Gampang saja. Kalau harga pasarnya nanti 110 berarti Bapak bayar saya 10, kalau harga pasarnya 140 saya bayar Bapak 20.”

“Jadi kalau mau modalnya bukan 120, tapi masing-masing 10 atau 20 cukup dong?” kata Pak Pejabat.

“Persis. Ini namanya bermain margin, Pak.”

“Jadi yang bertransaksi emas dan minyak itu bisa jadi orang-orang yang tidak ada kaitannya dengan produksi dan penggunaan emas atau minyak?”

“Lebih banyak yang seperti Bapak sebutkan. Di dunia ini ada ribuan atau jutaan orang seperti kedua tamu Bapak tadi. Apakah mereka semua mengajak orang-orang seperti Bapak menjadi produsen minyak atau membeli minyak? Tidak. Mereka mengajak orang-orang seperti Bapak untuk memanfaatkan pergerakan harga minyak.”

“Bertaruh dong?”

* * *

SAYA KEMBALI teringat peristiwa di atas beberapa pekan lalu ketika melihat foto di halaman satu Harian Kontan. Foto itu menunjukkan dua orang laki-laki tertawa lepas sambil mengepalkan kedua tinjunya. Caption foto menyebutkan bahwa mereka berdua adalah para investor bursa berjangka yang tertawa puas karena harga minyak terus bergerak naik.

Dalam beberapa bulan terakhir harga minyak terus merangkak naik, dan ini menjadi sumber kesengsaraan begitu banyak orang. Sama seperti ketika krisis ekonomi melanda Indonesia dan beberapa negara Asia tahun 1997/98, banyak pihak menuduh bahwa ini adalah ulah para spekulan. Negara-negara pengekspor minyak (OPEC) mengatakan produksi minyak dunia cukup untuk memenuhi kebutuhan. Jadi kalau harga naik, maka menurut mereka itu karena ulah para spekulan.

Pertanyaannya, mungkinkah para spekulan ikut menentukan harga? Bisa saja, minimal secara tidak langsung, melalui pembentukan sentimen dan ekspektasi (yang berperan besar pada harga). Saya bisa salah, tapi paling tidak India beberapa waktu lalu menutup bursa berjangka-nya dengan alasan harga yang dibentuk oleh bursa berjangka tersebut sudah sangat tidak sesuai dengan keadaan pasar.

*) Her Suharyanto; her@jurutulis.com; www.jurutulis.com

Telah di baca sebanyak: 18

Supaya Pede Berbicara di Depan Umum


Pada tulisan sebelumnya sudah digaris bawahi bahwa untuk menjadi pede kita harus mampu melihat diri sendiri apa adanya, harus bijak memosisikan diri sendiri maupun orang lain, dan mampu menerjemahkan lingkungan sewajarnya. Kemampuan kita melihat diri sendiri secara manusiawi akan menempatkan diri kita maupun orang lain serta lingkungan ke dalam porsi yang benar. Hal tersebut akan melandasi kita supaya bisa pede dengan wajar, tanpa dibuat-buat. Namun, pede secara umum (in general situation) tidak menjamin akan pede pula saat harus berbicara di depan umum (public speaking). Mengapa demikian? Karena adanya unsur gangguan fisik dan gangguan mental dalam berbicara di depan umum.

Keadaan tidak pede saat berbicara didepan umum akan mengundang gangguan fisik maupun gangguan mental. Gangguan fisik dapat berupa tiba-tiba merasa gatal, gemetar, jantung berdebar keras, berkeringat yang tidak wajar, tangan dingin, suara parau bahkan tidak keluar, tenggorokan kering, kaki rasanya lemas, perut mulas, dan selalu ingin buang air kecil. Gangguan fisik ini kalau tidak berhasil kita atasi akan semakin membuat kita down, semakin tidak pede.
Gangguan fisik harus kita atasi secara fisik pula. Caranya adalah dengan mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Ini tidak harus dilakukan di ruang tempat kita berbicara, tetapi bisa dilakukan di luar gedung. Selanjutnya adalah kita harus mencoba tersenyum saat menarik napas maupun menghembuskan napas, sembari mengendurkan syaraf yang tegang. Saat kita tersenyum, syaraf akan terpancing untuk mengendur. Lakukan beberapa kali sampai kita merasa relaks.

Teknik lain untuk mengatasi gangguan fisik adalah dengan cara memberikan kejutan pada tubuh kita. Ini bisa kita lakukan dengan melompat yang tinggi kalau perlu sambil berteriak keras, saling menggenggam erat antara tangan kanan dan tangan kiri, atau membuat gerakan ekstrim yang membuat seolah badan kita tersengat. Malu dong melakukan gerakan kejutan di depan umum? Jangan khawatir. Ini ada triknya. Kita justru bisa mengajak peserta (audience) untuk melakukan bersama sama kita. Pernahkah Anda menjumpai pembicara yang mengajak peserta berjingkrak-jingkrak bersama sambil berteriak? Nah, ini adalah salah satu cara supaya kita memiliki kesempatan untuk menciptakan kejutan bagi fisik kita. Dengan cara ini peserta maupun pembicara menjadi lebih relaks.

Gangguan lain yang akan muncul saat kita tidak pede untuk berbicara di depan umum adalah gangguan mental. Gangguan mental muncul dalam bentuk perasaan khawatir secara berlebihan, grogi, minder, merasa akan diterkam oleh peserta, merasa disepelekan, merasa kecil, merasa bodoh, merasa kurang siap, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Gangguan mental ini juga harus kita atasi dengan menggunakan pendekatan mental pula.

Salah satu teknik yang bisa kita gunakan untuk mengatasi gangguan mental adalah dengan membuat keputusan kepada diri sendiri untuk tidak khawatir, tidak grogi, tidak minder, dan sebagainya. Perintahkan diri sendiri untuk tidak khawatir. Katakan dalam hati dengan lembut pada diri sendiri bahwa kita tidak perlu khawatir karena situasi akan membaik dan memihak pada kita. “Don’t worry, you will be fine.” Katakan berulang-ulang. Hipnosis diri sendiri. Kondisikan hati kita akan menerima saran baik dari kita sendiri. Lakukan lagi sampai kita merasa lebih baik.

Gangguan mental dapat pula kita atasi dengan cara melakukan reposisi pada diri sendiri maupun orang lain. Caranya adalah dengan memberikan posisi yang serba positif kepada peserta. Posisikan peserta sebagai pemaaf, orang yang menyenangkan, penuh pengertian, dan akan memberikan perhatian pada acara ini. Cara ini akan efektif karena saat kita grogi misalnya, karena ada peserta yang lebih tinggi pangkatnya atau lebih hebat gelarnya, adalah posisi yang kita pilih untuk diri sendiri. Saat itu kita memosisikan sebagai lebih rendah maka mereka menjadi tampak lebih tinggi.
Di sini perlu kearifan untuk menempatkan segala sesuatu pada porsi yang semestinya. Apa sih salahnya kalau ada peserta yang memiliki gelar lebih hebat dari pada pembicara? Apa pula salah pembicara kalau pangkatnya lebih rendah dari pada peserta? Posisikan diri sendiri maupun orang lain pada porsi yang wajar, maka kita akan mampu mengatasi gangguan mental.
Teknik lain untuk mengatasi gangguan mental adalah dengan cara yang disebut unfreezing, atau mencairkan kebekuan. Ini bisa kita lakukan dengan cara melakukan komunikasi awal dengan peserta. Kita bisa menanyakan sesuatu yang ringan-ringan saja yang untuk menjawab mereka tidak perlu berpikir keras. Misalnya kita menanyakan, “Siapa yang hadir di sini yang ingin kaya?” Mintalah mereka mengangkat tangan apabila ingin kaya. Pertanyaan seperti ini tentunya memiliki jawaban pasti karena semua orang ingin kaya. Tetapi, dengan kita tanyakan kepada peserta kita memiliki kesempatan untuk berinteraksi. Interaksi ini akan mencairkan suasana sehingga gangguan mental bisa kita atasi. Tentu saja pertanyaan yang kita ajukan harus ada hubungannya dengan topik yang akan kita sampaikan.

Kalau kita sedang berbicara tentang kesehatan kita bisa menanyakan “Siapa di antara yang hadir di sini yang ingin sehat?”
Haruskah unfreezing dilakukan dengan bertanya? Tidak. Kita bisa juga melakukan unfreezing dengan menyapa peserta yang kita kenal, memuji baju yang dikenakan salah satu atau beberapa peserta, menyampaikan kata-kata bijak yang sesuai topik, dan kemudian menanyakan kepada peserta setuju atau tidak dengan kata-kata bijak tersebut. Atau cara-cara lain, yang penting kita bisa membuka interaksi dengan peserta agar kebekuan bisa cair.

Unfreezing bisa juga dilakukan dengan bertanya kepada peserta suatu pertanyaan yang sudah kita atur jawabannya. Misalnya, apabila ditanya apa kabar, mereka harus menjawab “luar biasa”, “fantastik”, “super”, dan jawaban lain yang membangkitkan semangat.

Ada pula yang mengatasi gangguan mental dengan cara humor, yaitu dengan memberikan sentuhan jenaka bagi peserta yang membuat kita grogi. Cara ini bukan berarti kita harus melucu, tetapi kita membayangkan mereka dalam posisi lucu sehingga kita bisa tertawa dalam hati. Misalnya, peserta yang matanya besar kita bayangkan bahwa matanya lebih besar lagi, lebih bulat, seperti mata Bagong, tokoh pewayangan yang selalu melucu. Peserta yang berjenggot kita bayangkan seperti seekor kambing, dan seterusnya.

Ini memang butuh kreativitas. Membayangkan wajah jelek dan lucu tidaklah mudah. Dalam training public speaking, untuk mendapatkan gambaran tentang wajah jelek dan lucu saya sering minta kepada peserta untuk berekspresi yang sejelek mungkin dan kemudian selucu mungkin. Peserta lain mengamati sehingga peserta memiliki inventory bayangan wajah jelek dan lucu. Inventory ini akan berguna dikemudian hari saat mereka harus mendapatkan sisi lucu dari peserta. Tertarik untuk mencoba? Silakan. Asyik juga cara ini.[ap](bersambung)

* Agung Praptapa adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga Direktur AP Consulting, yang memberikan jasa konsultasi bisnis dan training di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Kolumnis tetap di andaluarbiasa.com. Tulisan ini untuk mendukung training “Empowering Your Confidence in Public Speaking”. Website: www.praptapa.com, pos-el: praptapa[at]yahoo[dot]com.

Telah di baca sebanyak: 42

Tidak Menunda Berbuat Baik


Berbuat baik kepada siapapun dan apapun di dunia ini mendatangkan kedamaian dan kebahagiaan ke dalam hati. “Your own soul is nourished when you are kind; it is destroyed when you are cruel. – hatimu akan berbunga ketika Anda berbaik hati; tetapi kebahagiaan itu akan lenyap ketika Anda berbuat jahat,” kata King Solomon. Sebaliknya, kejahatan hanya mendatangkan kecemasan, kesedihan dan rasa tidak nyaman lainnya.
Berikut ini kisah tentang seorang pria peruh baya yang cukup sukses berbisnis bahan-bahan kebutuhan pokok. Setiap hari ia selalu mendapatkan omset penjualan sangat besar. Tetapi ia mempunyai sifat sombong, menang sendiri dan tidak segan mencelakai orang lain jika berselisih paham atau bersaing dagang dengannya. Hal itu membuat pria tersebut ditakuti sekaligus dibenci orang.
Suatu saat ia mendatangi seorang peramal untuk menerka seberapa besar keberuntungan yang akan ia peroleh di tahun-tahun berikutnya. Tetapi peramal tersebut justru mengungkapkan bahwa pria itu tidak akan dapat bertahan hidup lebih dari 47 tahun. Pria yang saat itu berusia 44 tahun sangat kesal mendengar ramalan itu, lalu pergi begitu saja.

Tetapi dalam perjalanan pulang ia terus terngiang semua kata-kata yang dilontarkan oleh sang peramal. Ia menjadi tidak tenang, lalu mencoba menemui beberapa peramal lain yang tak kalah masyhur pada saat itu. Berbagai bentuk tehnik ramalan, mulai dari membaca garis tangan, fengsui, baguo, bazhi (ramalan waktu lahir), semuanya mengisyaratkan bahwa usia pria itu tak akan lebih dari 47 tahun.

Meskipun sedih, ia berusaha menerima ‘kenyataan’ bahwa sisa hidupnya hanya 3 tahun lagi. Ia mulai bersiap-siap menjelang ‘kematian’. Berbagai bentuk kebaikan ia laksanakan, berharap dapat membawa amal baik sebanyak mungkin jika harus meninggal dalam waktu 3 tahun mendatang.

Sejak saat itu ia rajin beramal, membantu orang miskin di sekitar rumahnya. Ia juga tidak segan membagikan harta bendanya untuk membantu teman-teman maupun kerabat jauh yang membutuhkan bantuan. Hampir semua orang yang pernah mengenal dirinya dulu merasa heran sekaligus senang atas perubahan drastis sikapnya itu.

Masa berlalu dan usia pria itu sudah menginjak 47 tahun. Pria tersebut sudah dikenal sangat baik dan pemurah. Sedangkan bisnisnya sudah jauh lebih besar dibandingkan 3 tahun yang lalu. Anehnya sampai usianya merangkak masuk ke tahun 50, ramalan dari para peramal kesohor itu tak satupun terbukti.

“Baiknya kamu datangi peramal-peramal itu. Obrak-abrik saja isi rumah mereka, karena mereka semua sudah berbohong padamu,” celetuk sahabat karibnya bernada kesal.

“Ah, tidak perlu itu. Justru aku harus berterima kasih. Karena semua ramalan itu sudah membuatku lebih baik. Badanku terasa lebih segar, bisnisku lebih maju, pikiranku lebih ringan, dan sangat banyak orang yang baik padaku dibandingkan 3 tahun yang lalu. Hidupku lebih bahagia sekarang,” ucap pria itu tenang.

Inti pesan dalam kisah itu mengajak kita berbuat baik kepada siapapun, apapun dan kapanpun. Lakukan kebaikan sesegera mungkin, selagi kita mampu. Berikut beberapa hal mengapa kita sebaiknya tidak menunda untuk berbuat baik.

Kita tidak pernah dapat menebak apa yang akan terjadi 1 jam lagi, 2 jam lagi, dan seterusnya. “You and I can never do a kindness too soon, for we never know how soon it will be too late. – Saya dan Anda tak pernah dapat melakukan kebaikan terlalu cepat, karena kita tak pernah tahu bagaimana ukuran terlalu cepat atau terlambat,” Ralph Waldo Emerson.

Jangan menunda bila Anda ingin berbuat baik, karena tanpa kita sadari penundaan itu membuat kita kehilangan kesempatan. Di masa datang sangat banyak kemungkinan terjadi, misalnya Anda sudah tidak sanggup melakukannya karena sakit, tua, bangkrut, dan lain sebagainya. Kapan lagi kita dapat menikmati kebahagiaan dan kedamaian itu, jika kita tidak berbuat kebaikan sedari sekarang?

Kesempatan hidup kita sangat terbatas, sedangkan tanggung jawab yang harus kita kerjakan sangatlah banyak. Tak seorangpun mengetahui kapan kontrak hidup dengan Tuhan YME akan berakhir. Jika benar-benar habis masa kontrak usia kita tentu kesempatan untuk berbuat baik juga sudah hilang. Oleh sebab itu, segera gunakan kesempatan yang Anda miliki untuk berbuat baik dan jangan pernah menundanya lagi.

Selain itu, tak satupun manusia di dunia ini yang sempurna. Semua manusia tidak luput dari dosa dan kesalahan, entah yang kita sadari atau tidak. Selayaknya kita mengimbangi dosa dan kesalahan tersebut dengan perbuatan positif. Kalau kita tidak segera berbuat baik, bisa jadi kita kembali melakukan kealpaan lagi atau justru terjerembab dalam lingkaran kesalahan.

Berbuat kebaikan dengan penuh kesungguhan pasti menarik kebaikan pula kedalam kehidupan kita. Samuel Johnson mengatakan, “Kindness is in our power, even when fondness is not. – Kebaikan adalah kekuatan kita, sedangkan kesenangan itu bukan.”

Dalam kisah di atas dikatakan bahwa pria paruh baya tersebut merasa badannya lebih sehat, hati lebih tentram, dan bisnisnya berkembang pesat setelah ia mengisi hari-harinya dengan perbuatan baik saja. Sangat banyak manfaat lainnya dari perbuatan baik kita. Semakin cepat kita memulai berbuat kebaikan, semakin cepat pula kita rasakan semua manfaat tersebut.

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller.
Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com.


Telah di baca sebanyak: 32

Bahaya “Berpikir” Positif


Ide menulis artikel ini muncul saat saya berbincang dengan rekan saya, Ariesandi Setyono, saat mengevaluasi mekanisme pikiran. Kami mengevaluasi pengalaman hidup kami berdasarkan berbagai buku positif yang telah kami baca. Diskusi berjalan seru, sangat inspiring dan mind challenging.

Jujur saya akui bahwa tidak mudah untuk bisa benar-benar menjadi seorang pengamat atas belief system dan proses pikiran kami. Kami harus melepaskan keterikatan dan kemelekatan terhadap berbagai informasi dan konsep yang telah kami terima selama ini, yang kami yakini sebagai hal yang benar. Bill Gould, mentor kami selalu berpesan, ”You have to challenge everything, including your own belief system or assumptions. That’s the key to quantum leap in personal growth and consciousness expansion”.

Salah satu topik yang kita bahas dengan intens adalah mengapa berpikir positif justru semakin memperburuk kinerja seseorang. Topik ini menjadi materi yang menarik untuk didiskusikan karena kami sendiri telah mengalami efek negatip dari “berpikir” positif.

Benar. Anda tidak salah baca. Kami mengalami efek negatip dari ”berpikir” positif. Namun tolong jangan protes dulu. Saya menempatkan kata berpikir dalam tanda kutip. Apa maksudnya?

Sering kali kita merasa yakin, diyakinkan, atau asal percaya bahwa kita harus berpikir positif. Menurut berbagai buku dan motivator atau trainer berpikir positif baik bagi diri kita. Yang jarang diungkapkan adalah bahwa berpikir positif itu harus benar-benar tulus dan holistik.

Yang saya maksudkan dengan holistik adalah baik pikiran sadar maupun bawah sadar keduanya saling setuju, sinkron, kongruen dalam berpikir positif.

Ambil contoh orang yang menetapkan suatu target penjualan. Misalnya target bulan ini adalah 50% lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Pikiran sadar kita ”percaya”, lebih tepatnya dipaksa untuk percaya, bahwa kita mampu mencapai target ini. Kita melakukan afirmasi setiap hari, menempel kata-kata positif di berbagai tempat, dan melakukan visualisasi. Apa yang terjadi?

Ternyata ada bagian dari diri kita yang menolak hal ini karena kenaikan target dianggap terlalu tinggi sehingga dirasa tidak mungkin bisa dicapai. Akibatnya kita tidak berhasil mencapai target ini. Namun kita tetap ”percaya” dan ”positive thinking” bahwa kita dapat mencapai apapun asal kita yakin. Bukankah ini yang diajarkan di hampir semua buku positif dan berbagai seminar motivasi?

Lalu apa yang kita lakukan? Kata orang, ”Kegagalan adalah sukses yang tertunda”, ”Tidak penting berapa kali kita jatuh yang penting adalah kita bangkit setiap kali kita jatuh”, ”Tidak ada namanya kegagalan, yang ada adalah hasil yang tidak kita inginkan”, dan masih banyak lagi kata-kata mutiara berkenaan dengan kegagalan. So….? Keep trying….. pokoke maju tak gentar, pantang menyerah.

Setelah dua bulan, tiga bulan, empat bulan, dan kita masih belum berhasil mencapai goal kita maka kita mulai merasa nggak enak. Tapi kita tetap berusaha berpikir positif. Why? Karena memang begitulah yang kita baca di buku-buku positif.

Lalu, mengapa ”berpikir” positif justru akan sangat berbahaya bagi diri kita? Pada kasus di atas, yang terjadi sebenarnya adalah kita, secara tidak sadar, telah mengedukasi pikiran bawah sadar bahwa kita sebenarnya memang tidak kompeten alias gagal. Lho, kok bisa begitu ? Lha, buktinya kita sudah berkali-kali tidak berhasil mencapai target. Pikiran sadar kita dapat kita paksa untuk berpikir positif. Namun pikiran bawah sadar kita tidak bisa kita bohongi. Setiap kali kita gagal mencapai goal maka pikiran bawah sadar diedukasi dengan suatu pelajaran negatip, ”Ternyata memang saya nggak bisa mencapai goal ini”. Dengan mengalami kegagalan beruntun maka efek repetisi terjadi (ingat prinsip pemrograman pikiran). Dan kita, secara bawah sadar, semakin percaya bahwa kita memang tidak mampu.

Kalau anda tidak percaya apa yang saya jelaskan coba anda rasakan perasaan anda saat saya berkata, ”Set Goal”. Bagaimana perasaan anda saat anda melakukan Goal Setting. Apakah yang muncul perasaan positif atau negatip?

Dari pengalaman saya, kata ”goal setting” ternyata mempunyai konotasi negatip. Mengapa ? Karena kata ini mengingatkan kita akan kegagalan kita. Banyak kawan saya yang secara jujur berkata, ”Sekarang kalau saya diminta set goal maka perasaan saya langsung menolak. Ada perasaan nggak enak di hati saya. Nggak tahu kenapa bisa seperti ini”.

Sebenarnya jawabannya sederhana. Goal karena terlalu sering tidak berhasil dicapai akhirnya mempunyai konotasi negatip. Kita secara bawah sadar menghubungkan/meng-anchor kata goal setting dengan perasaan gagal. Jadi setiap kali kita mendengar kata ”goal setting” maka yang muncul adalah memori atau pengalaman kita saat gagal (berkali-kali) dalam mencapai goal kita.

Jadi, semakin seseorang berusaha untuk positif maka semakin negatip ia jadinya. Mengapa bisa begini? Karena memori manusia bersifat holographic sehingga mempunyai kemampuan/sifat cross referenced. Artinya, tidak ada memori yang berdiri sendiri. Semuanya saling terkait. Saat kita berusaha positif maka pada saat yang sama pula kita mengaktifkan memori negatip, di bawah sadar. Semakin kita berusaha positif maka semakin kuat efek negatip. Hal ini jarang disadari dan dimengerti orang.

Seorang kawan yang bergerak di bidang marketing, satu minggu setelah menerapkan konsep keselarasan pikiran positif (sadar dan bawah sadar) mampu meningkatkan penghasilan 3 (tiga) kali lipat dibandingkan sebelumnya. Dan yang lebih hebat lagi ia tidak usah kerja keras untuk mencapai hal ini. Kesannya adalah semua sudah ada yang mengatur.

Satu hal yang perlu anda ketahui yaitu kawan saya ini adalah orang yang selalu berusaha berpikir positif, telah membaca sangat banyak buku positif, menghadiri berbagai seminar di dalam negeri dan di luar negeri. Ia malah telah bertemu dengan dua orang top. Seorang di bidang motivasi dan seorang lagi adalah penulis buku keberhasilan finansial yang sangat terkenal. Sudah tentu ia membayar sangat mahal untuk bisa menghadiri seminar-seminar ini. Apalagi seminarnya dilakukan di Singapore.

Namun apa yang terjadi? Semakin ia berusaha positif maka semakin dalam ia terperosok ke dalam perangkap berpikir negatip. Kawan saya ini protes keras saat pertama kali mendengar tentang ”Bahaya Berpikir Positif”. Baginya statement ini nggak masuk akal. Namun setelah berdiskusi cukup panjang kawan saya akhirnya bisa memahami maksud saya.

Lalu bagaimana cara berpikir positif yang benar-benar positif? Ya itu tadi. Pikiran sadar dan bawah sadar harus selaras. Yang harus menjadi landasan pijak adalah apa yang ada di pikiran bawah sadar. Jadi, untuk benar-benar mampu berpikir positif yang positif maka pikiran positif itu harus berawal di pikiran bawah sadar. Bila ini berhasil kita lakukan maka efeknya akan sangat luar biasa. Kita akan dapat dengan sangat mudah mencapai target yang kita inginkan.

Anda pasti bertanya, ”Ok, kalau begitu bagaimana caranya?” Ada banyak cara untuk bisa menyelaraskan pikiran sadar dan bawah sadar, untuk bisa membuatnya kongruen. Kita bisa menggunakan NLP, Hypnotherapy (ada sangat banyak teknik), SMC, Visualisasi, Mind Reprogramming dengan bantuan guided imagery, menggunakan musik/audio dengan muatan frekwensi khusus, atau teknik lainnya. Akan sangat panjang dan teknis bila saya jelaskan dalam artikel ini.

* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan ?, dan Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication. Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com.


Telah di baca sebanyak: 50

Mangkuk Berlubang


Alkisah, suatu hari di sebuah negeri. Seorang raja yang terkenal dengan kesombongan dan keserakahannya, beserta para pengiringnya, berpapasan dengan seorang paman berpakaian lusuh layaknya seorang pengemis. Paman itu bergegas membungkuk hormat dan sang raja yang pagi itu sedang berbaik hati menyapanya, “Paman, apa yang hendak Paman minta?”
Si paman menjawab, “Yang Mulia bertanya kepada saya? Yang saya minta belum tentu Yang Mulia mampu mengabulkan.”

Dengan suara lantang sang raja berseru, “Sebutkan saja permintaanmu, tentu saja rajamu ini mampu memberi!”

Si paman menjawab tenang dan senyum, “Yang Mulia. Mohon maaf, jangan sembarang mengumbar janji dan perkataan.”

“Apapun juga, aku pasti mampu. Memang kamu meragukan? Rajamu ini adalah orang terkaya di seantero negeri.” Dengan suara lantang, sang raja berseru.

Si paman itu mengeluarkan dan menyodorkan mangkuknya, “Paduka.. tolong isi ini.”

Raja menjadi geram. Segera, ia memerintahkan bendaharanya untuk mengisi penuh mangkuk dengan emas! Anehnya, emas yang diberikan bendahara tidak dapat mengisi penuh mangkuk. Bahkan tambahan berupa perhiasan berharga dan lain-lain habis dilahap mangkuk si paman. Ketika dicermati, mangkuk itu seolah tanpa dasar dan berlubang.

Sang raja terjatuh lunglai. Dia menyadari, sebagian besar hartanya telah lenyap ditelan mangkuk tak berdasar itu. Sambil terbata-bata, Raja bertanya, “Wahai paman, tolong jelaskan! Terbuat dari apakah mangkuk itu?”

“Ampun Baginda Raja junjungan hamba. Mangkuk itu terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Sibuk menimbun harta kekayaan, tidak terpuaskan dengan yang apa telah dimiliki. Bukan hanya serakah pada harta benda semata, tapi juga kekuasaan. Bahkan rela mengorbankan hati nurani demi memuaskan nafsu duniawi.”

Raja yang sadar dari kesalahannya bertanya lagi, “Adakah cara untuk dapat menutup alas mangkuk itu agar manusia tidak serakah dan mengenal arti kepuasan?”

“Tentu ada, yaitu rasa syukur akan apapun yang telah dimiliki dan dinikmati. Jika pandai bersyukur, alam semesta akan menambah berkat pada kita dan hidup kita pasti lebih sejahtera dan bermanfaat, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi sesama dan alam semesta. Pada saat itu, Baginda akan menjadi seorang Raja yang bijaksana, dicintai oleh rakyatnya dan dikenang sepanjang masa karena kebaikan Baginda. Dan bukan karena raja yang hanya menumpuk kekayaan bagi dirinya sendiri.”

Dengan nada kelegaan, sang Raja berkata: “Terima kasih paman. Sungguh nasihat yang sangat bijak. Terima kasih sekali lagi.”

Netter yang luar biasa,

Punya keinginan, punya mimpi, punya target adalah hal yang wajar di kehidupan ini. Mampu menikmati setiap proses perjuangan adalah bagian dari rasa syukur.

Mampu bersyukur dan puas diri dengan segala yang telah kita miliki akan menyadarkan kita untuk terus belajar dan saling berbagi. Dengan berbagi, hidup akan lebih berarti. Dengan berbagi, hidup pasti akan lebih berbahagia.

Salam sukses, Luar Biasa!
Andrie Wongso


Telah di baca sebanyak: 33

Sukses

“Hen, menurutmu apa sih definisi dari sukses itu?”

Itulah sebuah pertanyaan singkat dari rekan kerjaku beberapa waktu yang lalu. Sebuah pertanyaan yang kelihatan sepele. Namun, justru karena ke-sepele-annya itu, pertanyaan tersebut sanggup membuat keningku berkerut dan otakku berputar mempertanyakan: iya yah, apa sih ukuran sukses menurutku … Belum sempat aku merangkai sebuah jawaban, rekanku bertanya lagi. “Trus, menurutmu sekarang kamu sudah sukses atau belum?”

Sukses. Apakah pengertian dari sukses itu? Iseng saya buka dictionary online, terpampanglah pengertian dari sukses itu. Mau tahu apa kata orang-orang seberang tentang sukses? Nih … baca sendiri yah :)

suc·cess (sak-sĕs’) pronunciation
n. (1) The achievement of something desired, planned, or attempted; (2) The gaining of fame or prosperity; (3) The extent of such gain; (4) a level of social status; (5) the opposite of failure.

Hmm … tidaklah penting apa kata mereka-mereka tentang sukses. Kalau kita kembalikan kepada orang kita, sukses selalu diartikan dengan dua hal. Apakah itu? Yap … materi dan jabatan. Tidak percaya? Coba deh lihat di sekeliling kita.

Saat seseorang ketahuan punya tabungan atau deposito atau simpanan duit dalam jumlah digit yang banyak, pasti deh terdengar celutukan: ‘wah … si dia udah sukses yah sekarang’. Apalagi kalau kita tahu si ‘orang berduit ‘ tersebut tiap bulan bolak-balik belanja atau jalan-jalan ke luar negeri, makin kencang deh gosipan kita hehe …

Contoh lainnya. Saat kita melihat tetangga kita tiba-tiba pindah rumah ke salah satu perumahan yang super-duper elit, maka secara sadar atau tidak akan keluar komentar: ‘wiuhhh … hebat yah tetangga sebelah kita, sudah sukses besar rupanya …” Pendapat yang sama akan terdengar juga waktu kita melihat garasi tetangga kita tiba-tiba ada isinya atau isinya berubah menjadi merek lain yang lebih keren. Atau saat main ke rumah teman, set sofanya baru, TV-nya berubah menjadi model flat dengan ukuran inch-nya gede, ruang tamu serasa berada di kutub karena hembusan AC anyar, dan banyak lagi hal-hal kecil lainnya yang dapat menjadi indikator bahwa dia sudah sukses.

Semua contoh di atas berbicara tentang materi. Kalau jabatan? Kayaknya udah pada tahu semua deh. Tampilan necis, jas mengkilap, dasi licin, sepatu kinclong, ditambah selembar kartu nama dengan tulisan jabatan/titel yang hebat, maka konotasi pertama yang muncul adalah: sukses. Setuju khan? Jadi tidak salah dong kalau dikatakan dewasa ini materi dan jabatan begitu dikejar dan diagung-agungkan orang.

Dan apakah efek sampingnya? Orang-orang jadi gila kerja, mati-matian memaksimalkan waktu seolah-olah satu hari 24 jam itu tidaklah cukup. Mengejar karir setinggi-tingginya dengan harapan semakin tinggi jenjang karirnya, semakin besar pula materi yang bisa di dapat. Ambil program studi sebanyak-banyaknya, dengan impian semakin banyak titel yang mengekor di belakang namanya, semakin banyak juga rezeki yang mengekor hidupnya juga. Bahkan yang ekstrim, ada yang memanfaatkan fasilitas KKN demi status ‘sukses’ tersebut.

Apakah salah mereka-mereka yang berprinsip demikian?

Hmm … Aku bukan tipe orang yang menyepelekan kerja keras. Tidak! Malah sebaliknya, aku setuju sekali dengan kerja keras, karena melalui kerja keraslah kita bisa bertahan, bertarung dan menjadi pemenang dalam dunia yang super-kompetisi ini. Tapi bagaimanakah porsi kerja keras tersebut, itulah yang kadang aku pertanyakan.

Aku juga bukan orang yang memandang rendah jenjang karir. Kalau mau jujur, aku juga pengen mempunyai jabatan yang tinggi pula. Khan enak berjabatan tinggi. Datang dan pulang kantor bisa seenaknya, dapat banyak tunjangan, punya anakbuah yang siap diprintah sana printah sini, tak ketinggalan tiap bulan rekening pribadi bertambah drastis. Asyik khan :)

Jangan pernah juga menuduh bahwa aku orangnya anti pendidikan. Menurutku pendidikan itu sangat bagus, malah kalau bisa kejar dan capailah dia setinggi bintang di langit. Pendidikan itu bagus sekali sebagai bekal yang sangat berharga untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan melangkah maju dalam meraih kesuksesan.

Kalau begitu, kenapa ada kesan aku mengatakan orang-orang yang berprinsip demikian salah?

Keseimbangan. Itulah yang aku harapkan ada dalam hidupku. Bolehlah aku kerja keras, tapi janganlah gara-gara itu, aku lantas menelantarkan kesehatan tubuhku. Jangan demi menggapai karir tinggi, aku mengabaikan waktu dan perhatianku pada keluarga. Demikian pula karena alasan pendidikan, aku kehilangan sentuhan dan singgungan dengan lingkungan dan sesama.

Banyak contoh yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana sebuah keluarga retak hanya karena ambisi untuk sukses secara material. Ku dengar juga berita perceraian karena perselingkuhan akibat impian mendapatkan karir tinggi dengan cara pintas. Kubaca juga banyak eksekutif muda yang harus terikat dengan konsumsi vitamin atau obat kesehatan karena terlalu forsir dalam bekerja. Tak ketinggalan banyak juga yang akhirnya ketar-ketir saat ingat usia mereka sudah bertambah, tapi belum juga ada pendamping sah dalam mengarungi kehidupan ini.

Jadi kalau ukuran sukses seperti itu yang harus digapai, aku menyerah deh. Lebih baik tidak sukses, tapi secara fisik dan jiwa tetap bugar dan bahagia.

* * *

Kembali ke pertanyaan awal, apakah definisi sukses menurutku? Aku hanya bisa bertutur: setiap pagi bisa bangun, bernafas, beraktivitas secara positif, melakukan hal yang berguna, kumpul dan main dengan keluarga, malam hari tidur dengan nyenyak … itulah sukses menurutku.

So … terlalu rumitkah mauku itu?

*) penulis dapat dihubungi langsung di bun.hendri@gmail.com

Telah di baca sebanyak: 41

PERHATIKANLAH!

Saat berbicara tentang otak, maka telah banyak hal yang diketahui. Namun masih lebih banyak lagi yang belum diketahui tentangnya. Sungguh menarik saat mengetahui sebuah penelitian yang luar biasa tentang otak dan bagaimana kita merubah otak dan pada akhirnya merubah diri kita.

Dalam Journal of Neuroscience, terdapat sebuah penelitian tentang bagaimana otak berubah. Memang benar bahwa telah banyak ilmuwan yang meneliti tentang kemampuan otak untuk berubah, yang biasa disebut neuroplastisitas. Namun, yang begitu menarik perhatian saya adalah kemampuan mem-fokus-kan perhatian ternyata mampu membuat perubahan dan hasil yang cepat pada otak.

Ada beberapa monyet yang dibagi menjadi dua kelompok. Pada monyet-monyet tersebut dipasangi alat pada jemari mereka. Sebuah alat yang berfungsi untuk mengetuk jemari monyet tersebut sebanyak seratus menit per hari selama enam minggu. Saat jari-jari mereka juga bergerak, monyet-monyet ini juga mendengarkan suara melalui headphone.

Kedua kelompok monyet ini diberikan stimulus yang sama pada jari dan telinga mereka. Satu-satunya yang membedakan adalah, pada kelompok pertama, monyet-monyet dilatih untuk fokus pada jari mereka. Saat para monyet mampu merasakan adanya perubahan irama pada musik yang didengar, mereka harus mem-fokus-kan perubahan yang terjadi pada jari mereka. Sedangkan pada kelompok kedua, para monyet dilatih untuk memperhatikan perbedaan yang terjadi pada suara yang mereka dengar. Jika mereka berhasil melakukannya, maka para ilmuwan akan memberikan hadiah berupa jus kepada mereka.

Apa yang terjadi? Saat para ilmuwan memperhatikan otak mereka pada enam minggu kemudian. Pada kelompok monyet pertama yang mengarahkan fokus mereka pada jari ternyata mengalami perubahan pada otak mereka, tepatnya pada bagian korteks somatosensorik. Kelompok monyet pertama mendapat stimulus yang tiba-tiba selama enam minggu pada jari mereka. Aduh maaf! Karena kedua kelompok monyet mendapat stimulus yang sama, maka kelompok pertama yang fokus pada stimulus yang tiba-tiba selama enam minggu pada jari-jari mereka, memperlihatkan perubahan pada area otak yang mem-proses stimulus pada jari.

Dan pada kelompok kedua. Walau mereka mendapat stimulus yang sama dengan kelompok pertama, otak mereka ternyata tidak memperlihatkan samasekali perubahan pada area korteks somatosensorik mereka. Karena kelompok monyet ini dilatih untuk fokus pada suara/auditori. Perubahan pada otak mereka justru terjadi pada bagian korteks auditori meningkat, padahal pada jari mereka pun mendapat stimulus yang sama dengan kelompok monyet pertama.

Wow…saya sungguh takjub dengan penelitian ini. Jim Rohn pernah berkata, “Jika Anda fokus pada satu bidang yang sama selama 5 tahun, maka Anda akan menjadi orang yang sangat ahli pada bidang tersebut”. Kenapa? Karena Anda memberikan perhatian yang sungguh besar pada bidang yang Anda minati tersebut.

Pentingnya memberikan perhatian yang utuh mampu mem-percepat proses perubahan di otak. Ini tentunya memberikan banyak pelajaraan bagi kita, agar bersungguh-sungguh pada suatu hal positif yang akan kita kerjakan. Oleh sebab itu, melatih kemampuan fokus kita, tentu akan sangat membantu perubahan menuju hal yang positif yang kita inginkan. Sukses dan bahagia selalu untuk Anda!

*) Syahril Syam adalah seorang berlisensi NLP dan certified Hypnotherapist. Beliau juga adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id

Telah di baca sebanyak: 4

Menerima dan Mengubah Kegagalan Menjadi Peluang Emas

“Success is the proper utilization of failure.” Unknown

Kegagalan merupakan bagian proses dari proses kehidupan yang tidak dapat kita hindari. Kita akan kehilangan lebih banyak energi ketika mencoba lari dari kenyataan telah mengalami kegagalan. Menerima kegagalan dan mencari hikmah atau peluang emas di balik kegagalan ini akan jauh lebih baik. Setidaknya ada 7 alasan mengapa kita sebaiknya menerima kegagalan :

1. Kegagalan memberi kita kesadaran telah melakukan kesalahan. Dari kesalahan itulah kita dapat memperoleh pengalaman emosional serta lebih banyak ilmu untuk melakukan terobosan-terobosan revolusioner atau menciptakan ladang usaha yang potensial.

2. Kegagalan membuat kita lebih kuat. Pada awal mengalami kegagalan memang keadaan kita menjadi berantakan. Tetapi situasi tersebut dapat kita jadikan motivasi untuk tumbuh lebih kuat dari sebelumnya. Itulah mengapa kegagalan dapat memperkokoh karakter seseorang.

3. Kegagalan menginspirasi dan membakar semangat kita. Jadikanlah kegagalan sebagai bahan bakar untuk lebih fokus dan bekerja lebih keras dari sebelumnya. Michael Jordan pernah dikeluarkan dari tim basket di sekolahnya. “It was good because it made me know what disappointment felt like. And I knew that I didn’t want to have that feeling ever again.– Itu bagus karena membuat saya merasakan bagaimana rasanya kecewa, dan saya tak ingin merasakan hal yang sama (kekecewaan),” katanya pada Chicago Tribune. Hal inilah yang menyebabkan etos kerjanya tinggi, sehingga mengangkat reputasinya menjadi pebasket legendaris di dunia.

4. Kegagalan menjadikan sikap seseorang menjadi lebih lembut dan berempati kepada sesama. Ada seorang selebritis bernama Terry Fox, pada tahun 1980 ia mendonasikan uang USD 1 juta untuk penelitian kanker. Uang tersebut ia kumpulkan dari honor olah raga lari sejauh 3.339 mil, sebelum akhirnya ia meninggal dunia karena kanker.

5. Kegagalan membangun keberanian. Jika Anda mampu melihat kegagalan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan, maka Anda akan mampu menerima segala kemungkinan dan dengan mudah Anda berani mengambil resiko lebih banyak.

6. Kegagalan merupakan salah satu jalan yang akan membawa kita pada kesempatan atau peluang yang lebih bagus. Ada seorang mantan pegawai yang telah di-PHK 10 kali selama bekerja 12 tahun. Kegagalan tersebut telah membuatnya menguasai ilmu untuk bertahan dari bermacam tantangan dan kepekaannya semakin tinggi sehinga ia pintar mengantisipasi jika keadaan memburuk. Kemampuan itulah yang membuatnya diterima di sebuah perusahaan lain yang lebih besar dan ia mencapai karir yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

7. Kegagalan menjadikan kesuksesan yang tercapai terasa lebih manis. Kita cenderung lebih menghargai sebuah kemenangan setelah mencicipi kekalahan.

Sebenarnya masih banyak lagi manfaat yang dapat kita capai dengan menerima kegagalan sebagai bagian penting dari proses kehidupan. Kegagalan dapat kita ubah menjadi peluang baru yang lebih potensial dan tak pernah terpikirkan sebelumnya. Lalu langkah apa saja yang dapat kita lakukan agar kegagalan itu menjadi peluang emas?

1. Pertama adalah menerima kegagalan, tetapi menolak menyerah dengan tetap memelihara semangat juang. Lalu bergegas mengidentifikasi kesalahan, dan menganalisa penyebabnya.

2. Ketika Anda berhasil mengidentifikasi kesalahan dan penyebabnya, maka segeralah lakukan perbaikan. Jika diperlukan kembangkanlah sistim baru agar kesalahan serupa tidak terulang kembali. Belajarlah dari kesalahan dan tidak mengulanginya lagi. Einstein mengatakan, “Insanity is doing the same thing over & over again & expecting different result. – Suatu kebodohan jika kita melakukan hal yang sama berulang-ulang tetapi kita menginginkan hasil yang berbeda.”

3. Segera melakukan tindakan dan menjadikan setiap situasi sebagai kesempatan kedua yang potensial. Tindakan cepat akan sangat membantu Anda menghindari kerugian yang lebih besar.

4. Fokuslah pada hasil dan tetaplah bersemangat, dan jangan lagi menengok ke belakang atau surut langkah karena kendala yang akan menghadang.

5. Berani mengambil resiko, dan menganggapnya sebagai bagian dari ekplorasi. Keberanian mengambil resiko memungkinkan Anda untuk terus berkembang.

6. Yang terakhir adalah menikmati setiap proses yang dialami, entah senang, sedih, menemui kemudahan atau kesulitan, mendapati situasi memburuk atau membaik dan lain sebagainya. Ketika kita benar-benar berhasil mewujudkan impian kedalam kenyataan, tentu itu akan menjadi saat yang paling membahagiakan dari serangkaian proses yang Anda jalani.

Sebenarnya realitas hidup ini sangat menarik, karena disaat gagal sekalipun ternyata masih ada peluang emas. Oleh sebab itu, pandanglah setiap halangan, tantangan, kesedihan, kesulitan ataupun penolakan sebagai sebuah kesempatan untuk menciptakan peluang emas yang baru. Itulah sikap yang harus kita kembangkan agar Anda dapat dengan mudah bangkit dari kegagalan dan memungkinkan kita semua menikmati kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup ini.

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller.Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com

Telah di baca sebanyak: 13

Direct vs Indirect Suggestion

Dalam dunia hipnosis dan hipnoterapi kita mengenal dua jenis sugesti yaitu yang bersifat langsung (direct) dan yang bersifat tidak langsung (indirect). Ada banyak artikel yang telah ditulis oleh para pakar hipnoterapi mengenai kedua jenis sugesti ini. Ada yang sangat menekankan pentingnya direct suggestion dan ada pula yang menyatakan bahwa indirect suggestion jauh lebih andal dan efektif. Mana yang benar? Masing-masing dengan argumentasi yang juga sama kuat dan meyakinkan.

Artikel ini tidak bertujuan untuk memihak pada salah satu pandangan namun lebih bertujuan menjelaskan sugesti dari perspektif teori dan cara kerja pikiran sehingga praktisi hipnoterapi mengerti cara menggunakan sugesti dengan benar sesuai dengan kondisi, situasi, dan kebutuhan klien.

Dalam dunia hipnoterapi terdapat dua aliran atau mazhab yaitu yang berasal dari pantai timur (east coast) dan pantai barat (west coast) Amerika. Kedua mazhab ini berbeda dalam penekanan teknik terapi yang digunakan.

Mazhab pantai timur lebih menekankan penggunakan sugesti dalam melakukan terapi (suggestive hypnotherapy). Sedangkan mazhab pantai barat menggunakan hypnoanalysis procedure yang melibatkan banyak teknik yang lebih kompleks.

Indirect suggestion adalah sugesti yang umumnya diberikan pada klien dalam kondisi sadar normal atau light trance. Indirect suggestion menjadi sangat populer berkat teknik yang digunakan Milton H. Erickson dalam menangani berbagai kliennya. Teknik ini selanjutnya dikembangkan oleh Richard Bandler, John Grinder, Jay Halley, dan Ernest Rossi.

Menurut Bandler dan Grinder direct suggestion lebih ditujukan untuk pikiran sadar. Contohnya: “Tutup mata anda” (ini adalah bentuk perintah langsung), “Anda dapat menutup mata anda sekarang” (ini adalah bentuk sugesti positif), “Anda tidak bisa menutup mata anda, bukan?” (modal operator;negative inquiry). Setiap kalimat mempunyai struktur yang berbeda namun dengan tujuan akhir yang sama yaitu meminta klien menutup mata.

Salah satu kelemahan penggunaan direct suggestion yaitu dapat menimbulkan atau meningkatkan resistensi klien terhadap sugesti yang diberikan.
Ada banyak faktor yang menimbulkan resistensi dalam diri klien, antara lain:
1.Klien datang ke terapis bukan atas keinginannya sendiri.
2.Klien (merasa) punya otoritas lebih tinggi dibanding terapis.
3.Klien tidak percaya sama terapis.
4.Klien tidak suka dengan terapis.
5.Klien merasa malu atau kurang nyaman.
6.Klien punya persepsi yang salah mengenai hipnosis / hipnoterapi.
7.Klien mendapat keuntungan dengan masalah yang ia alami (secondary gain)

Indirect suggestion digunakan dengan alasan utama yaitu untuk menghindari dan atau mengatasi resistensi. Misalnya, untuk meminta klien menutup mata, bukannya langsung memberikan perintah, “Tutup mata anda”, hipnoterapis menyusun kalimat sugestinya menjadi, “Klien yang baik memulai proses terapi dengan menarik napas panjang dan dalam beberapa kali dan selanjutnya merilekskan dan menutup mata mereka (generalisasi)”, atau “Mata anda sudah menjalankan tugasnya dengan baik hingga saat ini. Apakah anda tidak merasa mata anda lelah karena terus bekerja? Berilah waktu mata anda istirahat sebentar”. Setiap kalimat mempunyai struktur yang berbeda namun dengan tujuan akhir yang sama yaitu meminta klien menutup mata.

Berikut adalah contoh kalimat yang digunakan hipnoterapis untuk mengarahkan klien menutup mata dan memulai proses relaksasi yang dalam, menggunakan direct suggestion, “Anda mulai merasa kelopak mata anda menjadi berat dan semakin berat dan anda tidak bisa menahan untuk menutup mata. Anda masuk ke dalam kondisi rileksasi yang semakin dalam sambil tetap duduk dalam posisi tubuh tegak dan nyaman dan tetap mampu mendengar suara saya…..”

Kalimat yang sama bila disusun dalam bentuk indirect suggestion akan menjadi, “Jika anda menginginkan dan mengijinkan, anda dapat membayangkan diri anda merasa nyaman…sangat nyaman sehingga merasa mengantuk sambil anda terus mendengar suara saya… mengijinkan mata anda untuk tetap terbuka sambil anda masuk dalam kondisi tidur yang dalam… atau mengijinkan diri anda untuk secara lembut menutup mata anda”

Indirect suggestion tampak lebih lembut dan tidak terlalu bersifat memerintah. Dengan demikian klien merasa lebih punya kendali atas apa yang akan terjadi.

Indirect suggestion selain bisa berupa kalimat sugesti singkat seperti contoh di atas juga bisa menggunakan metafora dengan tujuan mengarahkan pikiran klien untuk mendapatkan solusi atas suatu masalah.

Berikut adalah contoh penggunaan metafora. Misalnya ada klien yang mengalami ejakulasi dini. Metafora yang dapat digunakan adalah metafora menikmati makanan. Dalam metafora ini klien diminta dengan sengaja makan dengan perlahan, menikmati setiap suap makanan, setiap jenis makanan, sungguh-sungguh memperhatikan, merasakan, dan menikmati aroma dan rasa makanan yang ia makan.

Hal ini tentunya sangat berbeda dengan penggunaan direct suggestion yang mungkin dapat membuat klien merasa risih atau malu. Melalui metafora ini pikiran klien selanjutnya dapat menyimpulkan apa yang perlu dilakukan dan dengan demikian membantu klien mengatasi masalahnya sendiri sambil menghindari perasaan malu atau tidak nyaman.

Dalam berbagai artikel mengenai indirect suggestion yang pernah saya baca umumnya lebih menekankan atau merujuk pada semantik/pilihan kata dan struktur bahasa sebagai kunci keberhasilan sugesti. Untuk bisa melakukan, lebih tepatnya, menyusun indirect suggestion yang powerful, maka seorang hipnoterapis dituntut untuk mempunyai kemampuan linguistik yang tinggi.

Bagaimana cara kerja indirect suggestion sehingga mampu mempengaruhi seseorang dan memberikan perubahan positif seperti yang diharapkan?
Ada banyak faktor penting lainnya yang juga sangat menentukan kekuatan pengaruh indirect suggestion selain pilihan kata dan struktur bahasa. Faktor ini juga sangat mempengaruhi kekuatan direct suggestion dan justru jauh lebih penting dari sugesti itu sendiri.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Abraham Mehrebian (1968) dan Bob Birdwhistel (1970) mengenai efek dan pengaruh komunikasi tatap muka sampai pada simpulan yang kurang lebih sama. Temuan mereka menyatakan bahwa efektivitas komunikasi dipengaruhi oleh tiga hal yaitu:
1.Verbal (pilihan kata) = 7%
2.Intonasi = 38%
3.Bahasa Tubuh = 55%

Dalam riset ini tampak jelas bahwa dalam berkomunikasi dengan orang lain pengaruh kata-kata (semantik dan tentunya termasuk struktur bahasa) hanya 7%, intonasi suara memberi pengaruh 38%, dan pengaruh terbesar adalah bahasa tubuh, yaitu sebesar 55%. Dari hasil penelitian ini tampak jelas bahwa mayoritas komunikasi dilakukan secara nonverbal. Dengan demikian bila kita berkomunikasi dengan orang lain, untuk bisa memberikan pengaruh maksimal, maka kita harus mengucapkan kata-kata dengan intonasi suara yang tepat dan bahasa tubuh yang kongruen mendukung. Hal ini akan memberikan pengaruh signifikan hingga 93%.

Dalam konteks terapi, yang masuk dalam kategori komunikasi nonverbal, elaborasi dari aspek intonasi dan bahasa tubuh, adalah ekspresi wajah, tonalitas dan volume suara, gesture, timing, kontak mata, kontak fisik seperti jabat tangan, usia, penampilan fisik termasuk kondisi kesehatan atau level energi, pakaian, aksesoris, kondisi mood dan ekspektasi baik dari klien maupun dari terapis.

Selanjutnya direct atau indirect sugggestion, secara tidak langsung namun cukup signifikan, juga dipengaruhi oleh warna, kebersihan, temperatur, aroma, kondisi dan kualitas gedung klinik atau ruang terapi, ruang terima tamu, fasilitas gedung, fungsi, style, kualitas mebel yang digunakan, dan noise level saat sugesti diberikan.

Mehrebian dan Birdwhistel bukan pakar hipnosis atau hipnoterapis. Dengan demikian riset mereka dilakukan dengan melihat interaksi komunikasi dalam kondisi pikiran sadar.

Untuk bisa mengerti cara kerja direct/indirect suggestion maka kita perlu mengerti cara kerja pikiran. Saya tidak akan membahas terlalu detil mengenai mekanisme pikiran karena sudah banyak saya bahas di artikel saya lainnya.

Manusia mempunyai tiga jenis pikiran: pikiran sadar (conscious mind), pikiran bawah sadar (subconscious mind), dan pikiran nirsadar (unconscious mind). Untuk bisa melakukan perubahan maka sugesti yang hipnoterapis berikan pada klien harus bisa masuk, diterima, dimengerti, dan dilaksanakan sepenuhnya oleh pikiran bawah sadar klien.

Proses perjalanan sugesti masuk ke pikiran bawah sadar tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Ada proses dan tahapan yang harus dilalui. Pertama, sugesti ini akan masuk ke pikiran sadar. Selanjutnya sugesti harus melewati critical factor yang berperan sebagai penjaga pintu yang menghubungkan pikiran sadar dan bawah sadar. Bila sugesti berhasil menembus dan melewati critical factor maka sugesti ini akan masuk ke pikiran bawah sadar.

Kendala yang umumnya dihadapi hipnoterapis adalah sulitnya menembus critical factor karena sugesti lebih sering diberikan dalam kondisi sadar normal atau light trance. Dalam kondisi ini pikiran sadar masih sangat aktif dan critical factor bekerja dengan kekuatan penuh.

Critical factor terdiri atas dua bagian. Sebagian berada di wilayah pikiran sadar dan sebagian lagi di wilayah pikiran bawah sadar.

Tugas critical factor yang berada di wilayah pikiran sadar adalah untuk memastikan informasi (baca: sugesti) yang akan masuk ke pikiran bawah sadar bersifat konsisten dengan data yang telah ada di pikiran bawah sadar. Bila data yang akan masuk ternyata berbeda maka dengan serta merta data baru ini akan ditolak. Hal ini bertujuan untuk melindungi keutuhan dan konsistensi keabsahan data di pikiran bawah sadar, yang sebenarnya akhirnya juga demi kepentingan dan kebaikan klien.

Sedangkan tugas critical factor yang berada di wilayah pikiran bawah sadar adalah untuk memastikan empat hal. Pertama, sugesti yang diterima bila dilaksanakan tidak akan berakibat negatif bagi keselamatan (hidup) klien. Kedua, sugesti ini bila dilaksanakan tidak melanggar nilai moral dan agama yang diyakini oleh klien. Ketiga, sugesti ini benar menurut data yang telah tersimpan di pikiran bawah sadar. Dan keempat, sugesti ini masuk akal (klien).

Indirect suggestion bertujuan untuk mengatasi resistensi dengan cara mengecoh, membingungkan, menyibukkan, atau membuat lengah pikiran sadar, dengan memikirkan “makna” dari sugesti yang diberikan, sehingga critical factor dapat ditembus dan sugesti bisa masuk ke pikiran bawah sadar.
Apakah ada cara lain untuk menembus critical factor selain dengan cara yang digunakan dalam indirect suggestion?

Selain cara di atas dalam dunia hipnoterapi dikenal lima cara untuk menembus critical factor yaitu dengan menggunakan otoritas, emosi, repetisi, identifikasi, dan relaksasi pikiran (kondisi hipnosis).

Berbeda dengan indirect suggestion yang telah dijelaskan di atas direct suggestion, sesuai namanya, adalah sugesti yang bersifat langsung, apa adanya, tanpa basa basi. Jika hipnoterapis ingin klien menutup mata maka ia akan berkata, atau lebih tepatnya memberi perintah kepada klien, “Tutup mata anda.”

Agar direct suggestion menjadi lebih efektif maka hipnoterapis perlu benar-benar memperhatikan resistensi. Sedapat mungkin resistensi klien diatasi sebelum sugesti diberikan. Untuk itu, hipnoterapis yang benar-benar cakap dan berpengalaman, akan menggunakan sebanyak mungkin cara untuk menembus critical factor.

Hipnoterapis harus mampu membangun otoritas di mata klien. Semakin tinggi otoritas hipnoterapis menurut persepsi klien akan semakin baik. Selanjutnya hipnoterapis menggunakan emosi klien untuk menyiapkan pikiran bawah sadar klien agar mendukung klien untuk berubah. Kalimat yang digunakan untuk sugesti sebaiknya juga melibatkan emosi klien, baik yang positif maupun yang negatif. Hipnoterapis bisa melakukan repetisi dalam membaca direct suggestion agar sugesti tertanam lebih kuat di pikiran bawah sadar. Hipnoterapis juga bisa membantu klien melakukan identifikasi kelompok. Dan terakhir semuanya akan menjadi sangat mudah dan jauh lebih efektif dan efisien bila dilakukan dalam kondisi relaksasi pikiran/hipnosis yang (sangat) dalam.

Mengapa jauh lebih efektif dan efisien bila dilakukan dalam kondisi relaksasi pikiran/hipnosis yang (sangat) dalam?

Sugesti Dalam Kondisi Hipnosis Yang Dalam

Sifat dan hukum pikiran yang berlaku saat seseorang berada dalam kondisi hipnosis yang dalam sangat berbeda dengan saat ia dalam kondisi sadar normal atau light trance.

Dalam kondisi relaksasi pikiran/hipnosis yang dalam pikiran sadar dan critical factor menjadi nonaktif. Dengan demikian sugesti yang diberikan tidak akan mendapat hambatan untuk bisa masuk ke pikiran bawah sadar.

Dari pengalaman saya menangani klien, saat dalam kondisi hipnosis yang dalam indirect suggestion atau metafora menjadi kurang efektif dan seringkali justru kontraproduktif.

Hukum pikiran menyatakan bahwa semakin dalam kondisi hipnosis maka sugesti harus semakin direct. Hal ini disebabkan karena pikiran bawah sadar seseorang sifatnya menyerupai anak berusia delapan tahun. Sudah tentu bila kita berkomunikasi dengan anak usia delapan tahun untuk mendapatkan hasil maksimal kita perlu menggunakan bahasa yang gamblang, jelas, dan langsung. Justru bila bahasa yang digunakan bersifat tidak langsung atau “berputar-putar” maka anak menjadi bingung.

Hal penting lainnya yang harus benar-benar diperhatikan hipnoterapis yaitu dalam kondisi hipnosis yang dalam yang berlaku adalah trance logic bukan conscious logic.

Jadi, mana yang lebih efektif? Direct atau indirect suggestion?

Ini bergantung pada situasi dan kondisi. Semua sama efektifnya bila hipnoterapis mampu menggunakannya dengan tepat dan bijak.

Hipnoterapi telah berkembang sangat pesat. Sugesti, baik yang direct atau indirect, hanyalah salah satu dari sekian banyak teknik yang ada dalam dunia hipnoterapi. Masih ada banyak teknik lain yang lebih kompleks dan lebih powerful. Dalam kurun waktu paruh ketiga dari abad ke 20, berbagai teori dan teknik yang digunakan dalam dunia hipnoterapi mendapat pengaruh dari pemikiran, insight, dan temuan dari LeCron, Watkins, Kroger, Elman, Weitzenhoffer, Cheeck, Boyne, Crasilneck, Wolpe, Wolberg, dan Hilgard.

Banyak teknik intervensi klinis yang digunakan hipnoterapis saat ini prosedurnya jauh lebih kompleks daripada sekedar memberikan sugesti.

Berikut adalah beberapa contoh teknik terapi yang dikembangkan oleh masing-masing pakar dan memberikan kontribusi dan pengaruh yang luar biasa bagi dunia hipnoteapi:
- 1940an Elman dengan hypnoanalisys
- 1950an beragam penggunaan metode ideomotor yang pertama kali dikembangkan oleh LeCron
- 1950an teknik desensitisasi yang dikembangkan oleh Wolpe
- 1960an strategi emotional clearing yang komprehensif, termasuk integrasi Gestalt dan modalitas lainnya ke dalam hipnoterapi yang dilakukan oleh Boyne.

Selain itu perkembangan teknik hipnoterapi juga mendapat pengaruh dari literatur penting seperti yang ditulis oleh Kroger, Clinical and Experimental Hypnosis (1963), dan Cheeck dan LeCron Clinical Hypnotherapy (1968), masing-masing menekankan pentingnya mencari, menemukan, dan memproses akar masalah yang mendasari suatu masalah dengan menggunakan teknik eksplorasi interaktif, regresi, intervensi berorientasi pemahaman baru dan kebijaksanaan.

Teknik hipnoterapi seperti age regression, Ideomotor Technique, Gestalt, Ego Personality Therapy, Inner Child Work, Forgiveness Therapy, dan teknik-teknik terapi berbasis NLP seperti Visual Squash, Swish Pattern, Fast Phobia Cure, Power Trigger, Reverse Trigger, Six Step Reframing, dan Collapsing Anchor semuanya bersifat direct.

~ Adi W. Gunawan adalah Indonesia Leading Expert in Mind Technology yang telah menulis 15 buku best seller. Adi dapat dihubungi di www.quantum-hypnosis.com, www.adiwgunawan.com.

Telah di baca sebanyak: 16

Next Page »

Top