Edy Suhardono

Cerdas, Cerlang (yang) Pedas


Kepolosan anak kadang muncul sebagai pemikiran murni tanpa terdistorsi motif menang-kalah sebagaimana kita yang mengaku dewasa.

Sore itu, di ruang konsultasi saya hadir pasangan suami-isteri, Pak Deddy Kartana dan Bu Normalia, orangtua Bagas Dewantara, anak berusia 5 tahun. Mereka meminta konsultasi tentang hasil pemetaan Multiple Intelligences Bagas yang, menurut mereka, sungguh di luar bayangan. Selama ini keduanya menganggap, Bagas rendah pada kecerdasan Logika Matematika, Interpersonal, dan Intrapersonal; padahal data menunjukkan, selain Bagas memadai pada keempat kecerdasan lainnya −Spasial, Kinestetik, Musik, dan Logika Bahasa− ia justru sangat menonjol pada ketiga kecerdasan.

“Semula kami hampir tak percaya begitu membaca hasil asesmen Bagas. Pasalnya, Bagas kami kenali tak pernah menunjukkan ketertarikan pada dunia angka, tidak terlalu banyak bicara bahkan cenderung pendiam,” tutur Pak Deddy mengawali sesi. “Satu hal yang mungkin lepas dari perhatian kami, Bagas sering menunjukkan keanehan,” lanjut Pak Deddy. Ia terdiam sesaat, terkesan sedang mengingat suatu kejadian dan kebingungan menentukan dari mana ia harus memulai kalimat berikutnya.

“Keanehan? Maksud Pak Deddy?” saya berusaha membantunya merangkai ingatan.

Pak Deddy menatap Bu Normalia, isterinya, seolah meminta ijin menceritakan kejadian yang mereka alami tentang ‘keanehan’ Bagas, anak semata wayang mereka. Bu Normalia mengedipkan matanya dengan anggukan kecil sebagai isyarat mengiakan. Kemudian dengan gaya seorang story-teller Pak Deddy menuturkan salah satu kejadian aneh bersama Bagas.

Keanehan
Suatu petang sekitar pukul tujuh, Pak Deddy pulang kantor. Kali ini, kepulangannya jauh lebih lambat dibandingkan hari biasa, di mana ia sudah berada di rumah sebelum pukul setengah enam. Saat itu ia benar-benar dalam kondisi keletihan akibat stres selama di jalan kemacetan. Mood-nya cenderung naik dan suhu emosinya rentan muntah amarah. Begitu membuka pintu masuk rumahnya, terlihat olehnya Bagas sudah berdiri di depannya, memasang wajah penuh selidik.

“Pa, bolehkan aku menanyakan sesuatu?” Bagas membuka pembicaraan.
“Tentu saja boleh, nak. Tentang apa itu?”, Pak Deddy menunjukkan keingintahuannya.

“Sebenarnya apa saja sih, yang Papa kerjakan selama berjam-jam di kantor?”
“Itu bukan urusanmu. Kenapa kau tanyakan soal itu, Bagas?” suara Pak Deddy meninggi, menunjukkan bahwa ia sedang dibimbing oleh kemarahannya.

“Aku hanya mau tahu. Katakan, Pa, apa saja yang Papa kerjakan selama berjam-jam di kantor?”
“Kalau kau memang mau tahu, ketahuilah, Papamu melakukan apa pun untuk mendapatkan bayaran seratus ribu per jam agar dapat menanggung hidupmu dan Mamamu.” Katanya tandas dan dengan intonasi tinggi.

“Oh..” mata Bagas terbelalak sebentar sembari menundukkan wajahnya. “Pa, kalau begitu, bolehkan aku pinjam dari Papa lima puluh ribu saja?”
Pak Deddy tak dapat menyembunyikan kegusarannya, “Bagas, jika alasan pertanyaanmu tadi CUMA ITU, kau dapat meminjam uang untuk membeli mainan bodoh atau barang tak bermanfaat lainnya; segera masuk ke kamarmu dan tidur. Renungkan, betapa kau hanya memikirkan diri sendiri. Kau tidak paham bagaimana Papamu ini bekerja keras setiap hari hanya, dan hanya, untuk sebuah perilaku kekanak-kanakan macam yang baru saja kau lakukan.”

Menundukkan kepalanya, Bagas ngeloyor berjalan pelan menuju kamarnya tanpa menoleh apalagi bertatapan dengan pandang mata ayahnya yang berkilat penuh amarah. Ia langsung menutup pintu kamarnya.

Pak Deddy menghela nafas panjang, duduk di kursi di dekatnya, dan saling meremaskan jari-jemari tangannya hingga kedengaran suara gemeretak mirip suara keratan tikus. Ia sungguh kesal dan kaget atas pertanyaan Bagas. Apakah pertanyaan tak beperasaan itu hanya berujung dengan proposal pinjam uang?

Sambil masih saling meremaskan kedua telapak tangannya, tanpa sempat melepas sepatu, Pak Deddy memejamkan matanya. Normalia, isterinya, mendekatinya tanpa sepatah katapun dan dengan pelan memijit tengkuk dan lengan suaminya. Emosi Pak Deddy berangsur mereda. Rasionya memulih. Ia mempertanyakan, mungkin Bagas benar-benar membutuhkan uang sejumlah lima puluh ribu itu; lagi pula, bukankah selama ini, selain kepada ibunya, ia tak pernah meminta uang kepadanya. Pak Deddy tepiskan tangan isterinya yang sedang memijit tengkuknya, beranjak berdiri, menuju depan pintu kamar Bagas, dan mengetuknya pelan dengan sudut jari telunjuknya.

“Kau sudah tertidur, Nak?” tanyanya.
“Belum, Pa. Aku masih melek,” jawab Bagas.

“Terpikir oleh Papamu, alangkah sulitnya memaksa diri tidur lebih awal dari biasanya. Dan Papamu sudah kehilangan waktu tak melihatmu seharian tadi, padahal Papamu melakukan semua demi kau. Ambilah lima puluh ribu yang kau minta tadi, Nak.”

Bagas membuka pintu kamarnya, berdiri tegap dengan mata riang senyum dan pekik kegembiraan. “Ohhh, terima kasih, Pa!”

Tiba-tiba ia menggeliatkan badan sembari menguap, menghambur ke arah kasur tempat tidur, menggerayangkan tangannya ke bawah bantal, dan mengeluarkan segenggam uang kertas. Ayahnya jadi tahu, ternyata Bagas sudah punya sejumlah uang. Bagas menghitung uang dalam genggamannya. Tanpa kata ia tatap mata ayahnya.

“Kenapa kau masih menginginkan uang. Bukankah kau sudah memilikinya?” Pak Deddy bertanya pelan bergumam.
“Sebab sebelumnya uangku tak cukup, tetapi sekarang jadi cukup,” jawab Bagas. “Jadi, Pa, sekarang aku punya seratus ribu. Bolehkah aku membeli satu jam dari waktu Papa? Bukankah besok hari Jumat? Pulanglah Papa lebih awal. Akan kuajak Papa makan malam di Bebek Goreng Palupi.”

Pak Deddy tak dapat menahan rasa harunya. Tanpa terasa pipinya berlinang air mata. Ia mendekap Bagas, dan membisikkan permintaan maafnya.

Kecerdasan
Belajar dari cerita Pak Deddy, cukupkah kita sekadar mengklaim bahwa sudah melakukan KERJA KERAS? Fakta bahwa waktu-waktu kita berhamburan lepas dari kuasa jari-jemari tangan kita untuk memanfaatkannya bersama pribadi-pribadi pusat kepedulian kita meyakinkan, betapa di satu sisi, kita sangat berhasil menghitung berapa ribu rupiah harga setiap jam kerja kita; tapi, di sisi lain, kita gagal menemukan makna di balik seratus ribu dari setiap jam kerja guna berbagi dengan orang yang kita sayangi.

Editor kawakan Amerika, Elbert Hubbard pernah menulis, “Di saat-saat sulit, kita gampang mengeluh, menunda, khawatir; dan ini semua tidak mengubah apa pun, kecuali kita mau melakukan KERJA CERDAS. Artinya, membatasi imajinasi kita hanya pada KERJA KERAS membuat kita letih, mati rasa, disorientasi, frustrasi bahkan mentally down; lantaran kita kehilangan focal concern, pusat kepedulian, PER-HATI-AN, dan CINTA.

Bagas, anak kecil pasangan Deddy-Normalia, adalah sosok fenomenal yang cerdas Logika Matematika, Interpersonal, dan Intrapersonal. Ia tidak hanya mampu berhitung angka, tetapi bernas menghitung hidup; tak hanya berlaku selfish mengurusi diri sendiri, tetapi piawai dan mumpuni menyentuhkan daya kasih sayang; tak mudah terkooptasi ke dalam kepatuhan buta terhadap kebenaran generik yang terkemas dalam dentum amarah dan otoritas ayahnya, tetapi secara cerlang-pedas memilih dan memilahkan kebutuhan batinnya.

Anda dan saya perlu berkesadaran, andai kita dipanggil Sang Pencipta besok pagi, perusahaan di mana kita bekerja akan dengan mudah mencari pengganti dalam hitungan hari. Tetapi, ingat, keluarga dan kawan-kawan yang kita tinggalkan mungkin akan merasa kehilangan sebagian bahkan keseluruhan hidup mereka. Kita perlu bekerja dan bertindak cerdas, sebab kecemerlangan kadang harus ditempuh dengan kesediaan merasakan pedasnya pernyataan dan kenyataan saat ini.

*) Edy Suhardono, adalah Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, Edisi Maret 2009.

Telah di baca sebanyak: 1315
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *