Artikel Writing Class for Teens

Clarissa dengan Verile-nya


Oleh: Clarissa Julia Scolastica, Alumni batch I
Semua mata tertuju pada Clarissa, gadis yang datang dengan potongan mini dress kuning dan abu-abu. Sore itu, ia datang ke sebuah pantai terkenal di Jakarta dengan teman-temannya. Gadis berambut panjang itu berjalan dengan percaya diri menyusuri pantai. Mencari-cari spot untuk tempat foto sesi buku tahunan sekolahnya. Ia melepas sepatu sendalnya dan berjalan mengikuti arah garis pantai.

Butiran pasir seakan menerobos ke sela-sela jemari kakinya dan suara ombak seakan berdecak kagum karena penampilannya sore ini. Matahari menyinari wajahnya yang bersih. Tidak ada jerawat! Itu lah yang kadang-kadang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan besar dari teman-temannya. “Wajah lo bersih banget. Sabun cuci muka apa sih yang lo pakai?” Bunyi dan nada pertanyaan itu masih lekat di benak gadis bertubuh mungil ini. Ombak yang memijat kakinya berpadu dengan kesunyian disekitarnya menenggelamkan gadis itu dalam lamunannya. Teringat dia saat minggu lalu timbul jerawat di dagunya.

“AHHH! APA INI?!” Teriak Clarissa lantang setelah melakukan kebiasaannya di pagi hari. Kebanyakan remaja perempuan saat bangun tidur langsung mengecek blackberry-nya, berbeda dengan gadis yang satu ini. Dia lebih dulu dan akan selalu lebih dulu mengecek keadaan wajahnya.

Pagi itu, Clarissa sangat kaget melihat ada bintik kecil berwarna merah di dagunya. Ia kembali mengecek apakah itu jerawat yang singgah di wajah putihnya. Berkali-kali ia melihat kearah cermin besar dengan frame berwarna hitam pekat yang berada di sudut kamarnya sambil memandang refleksi dirinya sendiri. Perasaannya saat itu sangatlah ‘campur aduk’, antara girang karena minggu depan saat yang ia tunggu-tunggu akan datang yaitu foto buku tahunan. Ada juga perasaan sedih karena adanya jerawat itu tandanya ia kurang bisa menjaga kulit wajahnya. Dan juga perasaan takut akan penampilannya yang pasti akan terlihat jelek saat foto buku tahunan. Gadis yang serba perfeksionis itu pun buru-buru keluar kamarnya dan berlari menuju ruang makan untuk mencari mamanya.

“Loh Clar,.ada apa? Tumben pagi begini kamu kelihatan gundah” tanya sang mama yang sedang menyantap roti bakar isi cokelat.
“Ma.. ini ma.. ini.. jerawat ya??! Aduuhh..padahal minggu depan kan aku mau foto buku tahunan,” rengek gadis itu.
“Ya ampun Clar.. cuma itu? Tenang aja sayang, nanti mama antar kamu ke supermarket dan kita beli sabun cuci muka untuk kamu, oke?” ajak mama yang kala itu sedang memakai daster berwarna hijau dengan motif batik khas Jogja “Nah… sekarang, kamu makan dulu, ini mama beli lontong sayur kesukaan kamu.” Tanpa basa basi Clarissa langsung menyantap lontong sayur yang sedari tadi memang disiapkan untuknya. Boleh dikata, aroma lontong sayur yang membangkitkan selera itu mengundang Clarissa untuk segera menyantap makanannya.

“Apa aku kurang merawat wajahku?” tanya Clarissa dalam hati sambil meminum segelas gemuk teh hangat. Setelah memuaskan perutnya, ia buru-buru mandi dan mengajak mamanya ke supermarket terdekat yang berada tepat di depan perumahannya.
Sesampainya di supermarket, pintu kaca otomatis langsung menyambutnya. Didalam, Clarissa langsung saja mencari lemari tempat penjualan sabun cuci muka. Ia menyusuri lemari pendingin tempat dipajangnya buah. Walaupun ia adalah penggemar berat buah, sekarang ia sedang tidak tertarik dengan merahnya apel, segarnya buah jeruk, ataupun manisnya buah salak. Ia berkonsentrasi mencari letak deretan tempat dijualnya sabun cuci muka. Matanya tajam memandang setiap sudut supermarket dengan cat dinding warna putih itu. Dengan langkah pasti, ia melangkah tepat di belakang mama dan menuju ke deretan lemari paling ujung. Tempat biasanya ia membeli keperluan mandi. Di deretan itu banyak sekali sabun cuci muka yang ditawarkan. “Menurut mama, aku beli yang mana?” tanya Clarissa yang kebingungan. “Beli yang ini aja nih..” kata mama sambil memegang sebuah produk sabun cuci muka bermerek Verile Acne Care Facial Wash, “Ini bagus lho…,anak nya teman mama ada yang pakai sabun ini. Dan hasilnya luar biasa.,mukanya lansung bersih berseri hanya dalam waktu beberapa hari saja”jelas mamanya. “Oke ma!” jawab Clarissa dengan semangat. Sejurus kemudian, ia pun langsung pergi menuju kasir bersama mamanya. Setelah membayar, ia langsung pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, ia pergi ke kamarnya dan langsung membaca vitamin yang ada dikandung sabun cuci muka Verille. “Wah..!Verille ternyata mengandung ekstrak Tea Tree Oil yang setauku tanaman khas Australia. Sabun ini juga mengandung Triclosan dan vitamin E yang bermanfaat untuk menjaga kesegaran dan keremajaan kulit. Keren banget!” Seru Clarissa dalam hati sambil memegang botol sabun cuci muka barunya itu.

Setelah satu minggu Clarissa memakai sabun cuci muka Verile, ternyata jerawat di dagunya mengering dan menghilang. Perasaan Clarissa sangat senang karena tak perlu lagi bersedih memikirkan jerawatnya juga ia dapat tampil cantik saat foto buku tahunan nanti. “Yang sekarang perlu aku lakukan ialah menjaga kulit muka ku dan terus memakai Verille Acne Care Facial Wash agar tidak jerawatan.” Bisik Clarissa dalam hati.
“Clar…”panggil salah seorang teman Clarissa sambil menepuk punggungnya. Temannya seketika itu juga membuyarkan lamunannya..

“Eh iya… Ada apa?” tanya Clarissa agak terkejut.
“Wajah lo hari ini bersih banget.,pakai sabun cuci muka apa? O ya, ngomong-ngomong, gue lagi jerawatan nih! Menurut lo gimana cara menghilangkannya?” tanya temannya.
“Jerawat? cuek aja kan ada Verile!” jawab Clarissa dengan semangat. Akhirnya sesi foto buku tahunan berjalan dengan lancar karena ada Verile.

* Artikel ini meraih penghargaan pemenang juara 2 lomba artikel yang diselenggarakan Majalah GoGirl bekerjasama dengan Acnes bulan Agustus 2012.
Clarissa dapat dihubungi di:
E-Mail:clarissajulia@rocketmail.com; FB: Clarissa Julia Scolastica Tiranda; Twitter: @clrsaa


Telah di baca sebanyak: 5219
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *