Kolom Alumni

Competency Kali Leverage

Oleh: Eko Supriyatno

Dalam suatu Kesempatan mengisi seminar Entrepreneurship di Suku Dinas (SUDIN) Jakarta beberapa waktu yang lalu, kebetulan semua pesertanya adalah guru dan kepala sekolah. Alhamdulillah kebanyakan peserta sangat antusias mengikuti acara tersebut. Buat mereka hal ini adalah sesuatu yang baru. Sengaja memang, saya bawakan tidak terlampau teoritik agar para peserta tidak mudah jenuh mengikutinya. Bahkan dalam beberapa kesempatan saya iringi dengan celetukan-celetukan ringan. Seperti, ketika saya mengucapkan salam kepada para peserta:”Assalammualaikum” dan peserta hanya sebagian kecil saja yang menjawab. Maklum karena acaranya kebetulan mendapat giliran pagi hari, mungkin masih agak ngantuk. Lantas saya katakan pada peserta: “ciri-ciri orang SU-SES adalah kalau menjawab salam tidak semangat”. Peserta malah bingung. Kok jawab salam tidak semangat malah dianggap sukses. Rupanya para peserta salah mendengar yang saya katakan. Lalu, saya sampaikan pada mereka bahwa bukan sukses tetapi su-ses dan kepanjangan dari SU-SES itu adalah susah sukses. Kontan saja para peserta tertawa terbahak-bahak. Mungkin dalam benak mereka berkata: “ada-ada saja”.

Jika kita tengok data, terlihat fakta bahwa di Indonesia 83,1% sarjana S1 hanya menjadi karyawan dan hanya 5,8% menjadi pengusaha. Jumlah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2007 tercatat sebanyak 10,01 juta orang dan terus bertambah sampai tahun 2008. Kata Ciputra seorang pengusaha properti ternama, harusnya dengan jumlah 220 juta, Indonesia butuh 4,4 juta entrepreuner (saat ini masih sekitar 400.000). Hemat kata, Indonesia kekurangan sekitar 4 juta pengusaha baru.

Sayang seribu sayang, pendidikan entrepreneur di negri ini masih berkutat pada hal-hal yang bersifat normatif. Masih seneng utak-atik hal-hal yang bersifat teoritis ansich. Lebih repotnya lagi kebanyakan yang mengajar di sekolah atau perguruan tinggi adalah pengajar yang tidak memiliki ketrampilan praktis berwirausaha alias bukan pebisnis. Alhasil, wajarlah selepas sekolah SMA atau sarjana, rata-rata pola pikir yang terbentuk adalah bagaimana mencari pekerjaan. Bukan menjadi pebisnis ulung.

Pada fase ini, saya ingin mengatakan bahwa pendidikan di negri yang kita cintai ini belum mampu mendorong lulusan SMA, SMK dan lulusan Perguruan Tinggi untuk menjadi wirausahawan atau saudagar. Kalaupun ada jumlahnya sangatlah kecil sekali. Padahal Dirjen Dikti menganggarkan 1 (satu) persen dari dana pendidikan yang telah disediakan pemerintah untuk pendidikan kewirausahaan dan anggarannya diajukan dalam APBN tahun 2009.

Bukti konkret dari yang saya utarakan di atas adalah, ketika saya meminta para peserta tunjuk tangan bagi yang sudah mempunyai usaha. Ternyata hanya 5 (lima) orang saja dari sekitar 200 hingga 300 orang peserta. Ini berarti hanya sekitar 2 – 4 persennya. Jadi, selama ini guru mengajarkan sesuatu yang tidak nyata alias text books. Sehingga, muridnya pun hanya mengenal pendidikan kewirausahaan dan bukan ketrampilan dan sikap mental kewirausahaan. Padahal yang sangat dibutuhkan justru ketrampilan dan sikap mental tersebut. Ini tidak berarti menihilkan peran pendidikan kewirausahaan.

Untungnya peran perguruan tinggi yang terkesan agak terlambat ini diambil oleh pendidikan non formal seperti Entrepreuner University, Entrepreneur College, Oase dan belakangan LP3I dengan LP3I Entrepreneur Center. Lembaga-lembaga inilah yang meski perannya belumlah signifikan ternyata cukup mampu melahirkan beberapa pengusaha baru.

Pada akhir sesi yang menyisakan 30 menit, saya memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya. Ternyata sangat banyak yang hendak bertanya, sehingga oleh moderator dibatasi sekitar 5 pertanyaan saja. Dan dari kelima pertanyaan tadi ada satu pertanyaan klasik yang menarik perhatian saya, yaitu bagaimana caranya mengembangkan dan membesarkan usaha. Meskipun agak ‘kuno’ saya tetap terkesan dengan pertanyaan ini. Sebab, siapa sich yang tidak mau bisnisnya membesar. Iya nggak?

Saya jawab singkat pada si penanya: “competency x leverage”. Kompetensi adalah kumpulan atau dimensi-dimensi yang terdiri dari skill, knowledge, self concept, self character, motif, dan value. Saya katakan padanya: “ Saya yakin Bapak memiliki skill dan knowledge yang bagus di bidang yang bapak geluti sekarang ini”. Ia mengangguk tanda setuju. Saya anggap pula bahwa si bapak ini mempunyai dimensi-dimensi selain skill dan knowledge. Namun apakah itu semua cukup? Saya tegaskan, “sama sekali tidak”. Kenapa demikian? Karena kompetensi yang dimaksudkan tersebut barulah unsur internal saja. Dan kalaulah mau dihitung-hitung dengan konsep probabilitas. Katakanlah kira-kira maksimal hanya 50% saja. Coba bayangkan kalau si pemilik bisnis hanya memiliki pengetahuan dan ketrampilan, dan hanya sedikit punya konsep diri, motif maupun value. Maka yang terjadi kompetensi nilainya bukanlah 50%, tetapi kurang dari itu. Berarti sisanya yang 50% adalah Leverage. Apa itu leverage?

Gampangnya leverage adalah daya ungkit atau dalam istilah marketing yakni co-branding. Saya menyebutnya sebagai ilmu ‘nempel’. Bagaimana supaya kita punya daya ungkit yang besar. Mau tidak mau sebelum kita bisa nempel sama orang atau bisnis lain, maka mesti punya kompetensi dulu. Calon mitra kita akan melihat terlebih dahulu kompetensi apa yang kita miliki. Sebagai contoh, pada waktu saya menjabat sebagai Business Manager (assistant to GM) di PT. Wicaksana ada sebuah perusahan minyak goreng dari Medan (baca: Brand Sania yang kini masih beredar) yang ingin mendistribusikan produknya melalui Wicaksana. Mereka tahu bahwa mereka tidak akan mampu melakukan sendiri, mengingat mereka belum banyak pengalaman soal jalur-jalur distribusi yang efisien dan efektif. Setahu saya tidak sampai lima tahun ketika perusahaan ini sudah cukup paham lika-liku distribusi mereka mendistribusikannya sendiri. Nyatanya hingga hari ini minyak Goreng Sania masih beredar di pasaran. Inilah bukti konkret kehebatan leverage. Contoh lain adalah, betapa Bank Muamalat Indonesia (BMI) saat ini tumbuh pesat. Kenapa mereka bisa sedemikian cepat? Tidak lain dan tidak bukan, sebabnya adalah mereka mampu menggandeng PT. POS Indonesia sebagai jalur distribusi BMI. Ini yang namanya mantap dan sehat.

Kedua contoh di atas saya utarakan pada si penanya, lalu saya tegaskan bahwa supaya usaha berkembang maka leverage menjadi jalan yang sangat baik supaya bisnis Anda bisa melesat bak anak panah. Lagi-lagi dia mengangguk penuh senyum plus keyakinan tanda setuju dan yakin bahwa usahanya bisa berkembang dan membesar. Yang tidak boleh dilupakan formula di atas adalah faktor kali. Berbeda dengan penjumlahan, faktor kali ini peningkatannya sangat signifikan. Sebagai contoh 2 X 6 sama dengan 12, berbeda kalu 2 + 6 jumlahnya hanya 8. Jadi jelaslah sudah bahwa variabel kompetensi jika dikalikan dengan variable leverage hasilnya pasti dahsyat. Kalau mau bukti coba saja!!!

*) Penulis adalah Master Terapi Bisnis, Kolumnis dan Trainer berbagai pelatihan. Alumni “Cara Cerdas Menulis Buku Best-Seller” Batch IX. Alumnus PPM. Email: eko_supriyatno2007@yahoo.co.id atau eko@terapibisnis.com Website: www.terapibisnis.com

Telah di baca sebanyak: 1105
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *