Wandi S Brata

Creative Destruction


William R. Patterson, penulis bestseller berjudul The Baron Son, mengatakan, “Knowledge opens the door to many opportunities – pengetahuan membuka pintu ke berbagai kesempatan.” Saya jadi bertanya-tanya, adakah penanda utama abad ini yang perlu kita ketahui agar kita bisa menghadapinya dengan sebaik-baiknya?

Memikirkan hal ini saya ingat buku suntingan Rowan Gibson. Judulnya Rethinking The Future. Buku itu terbit setahun sebelum tutup abad yang lalu, jadi sudah berumur satu dasawarsa, tetapi banyak hal yang masih amat relevan.

Dalam buku itu disajikan beberapa tema yang amat inspiratif bagi kita sebagai individu, maupun sebagai representasi dari suatu lembaga, entah bisnis, kemasyarakatan, maupun pemerintahan. Di situ ada tokoh seperti Charles Handy dan Stephen Covey yang memikirkan kembali mengenai prinsip-prinsip dasar kita. Ada pula Michael Porter, CK Prahalad, Gary Hamel yang memikirkan ulang mengenai kompetisi. Ada Michael Hammer, Eli Goldblatt dan Peter Senge yang memikirkan kembali mengenai kemampuan kontrol kita di tengah kompleksitas. Ada mahaguru kepemimpinan Warren Bennis dan John Kotter yang berpikir ulang mengenai kepemimpinan. Selanjutnya ada Al Ries, Jack Trout, dan Philip Kotler yang memikirkan ulang mengenai pasar. Dan tak ketinggalan pentolan futurolog John Naisbitt, Lester Thurow, serta Kevin Kelly yang bicara mengenai tren dunia modern.

Para pemikir terkenal di dunia itu menggambarkan dunia kita di abad ke-21 ini dengan kata kunci diskontinuitas. Karena pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi, terutama teknologi informasi, perkembangan dunia kita ini tidak linear-kontinu, tetapi diskontinu, patah-patah.

Untuk mengambil hikmah dari karya itu, saya telah merefleksikan fakta-fakta itu dalam buku saya, BO WERO, Tips mBeling untuk Menyiasati Hidup. Tapi, untuk lebih mencermati kenyataan itu, saya mencari-cari dan akhirnya mendapat pintu masuk untuk lebih memahaminya. Ternyata, selain perkembangan teknologi informasi, ada kekuatan dahsyat yang disebut creative destruction.

Istilah ini diciptakan oleh ekonom dan ilmuwan politik kawakan Joseph Schumpeter (1883 – 1950). Dia terpicu memikirkan hal itu saat menyaksikan proses yang sudah mulai ada di jamannya, tetapi semakin menjadi-jadi di era kita ini. Intinya, inovasi terjadi sedemikian rupa, sehingga hal-hal menjadi cepat kedaluwarsa, atau malah sengaja dibikin menjadi cepat kedaluwarsa, dan digantikan dengan yang baru, dengan konsekuensi yang merambah ke mana-mana.

Sekadar untuk menyebut, di tahun 1987-an orang tampil bangga dengan pager menempel di pinggangnya. Ke mana teknologi itu kini berada?

Generasi saya terpaksa menunggu berhari-hari kalau bukannya berminggu untuk mendapatkan balasan setelah menulis surat cinta. Dan setelah tiba, surat yang sama itu kami baca berkali-kali di waktu sela antara kirim dan menerima balasan surat berikutnya. Siapa kini yang masih tertarik untuk mengirim surat seperti itu, atau kartu pos dari luar negeri, kecuali para pecinta filateli? Pengalaman generasi saya seperti itu tentu tak dimiliki oleh remaja masa kini, yang bisa mengekspresikan perasaan mereka dengan sms, dan dalam hitungan detik atau menit sudah mendapat balasan. Bahkan bisa langsung saling berbicara dengan hp di genggaman mereka.

Kurang dari satu dasawarsa setelah Thomas Alfa Edison menemukan lampu pijar, George Eastman (12 Juli 1854 – 14 Maret 1932) mematenkan kamera Kodak pada 4 September 1888. Setelah itu Kodak malang melintang di industri perekaman gambar dan merevolusi gambar bergerak berbasis film gulung. Sebelum nasibnya digulung, selama sekian dasawarsa perusahaan ini menguasai 60% pangsa pasar dunia. Iklan Kodak menggambarkan anak-anak yang tersenyum riang, tetapi tak seorang eksekutifnya bisa tersenyum ketika datang era kamera digital yang memporakporandakan dasar-dasar keberadaannya. Creative destruction berakibat fatal bagi perusahaan ini. Sekitar dua dasawarsa yang lalu, perusahaan ini memiliki 150.000 karyawan. Gara-gara terjangan kamera digital itu, 80% karyawannya dirumahkan, dan kini jumlahnya tinggal 30.000. Seorang wartawan bisnis mengomentari Kodak, “Mereka punya kecerdasan untuk mengubah sebuah industri, tapi kepercayaan diri mereka yang berlebihan menyebabkan mereka merasa yakin bahwa evolusi berhenti dengan inovasi mereka.”

Sesungguhnya, kritik semestinya tidak perlu senyinyir itu. Kenyataannya, Kodak jugalah yang menemukan kamera digital. Hanya saja, ketika mulai mengintrodusir produk itu, para fotografer memrotes produk baru itu sebagai kurang memuaskan. Padahal, mungkin bukan karena kelemahan produk baru itu perkaranya, tapi kebiasaan para fotografer profesional dengan alat lama dan tak mau berubah dengan yang baru. Dengan kamera digital itu ternyata produk bisa dibuat jauh lebih masal, dan nonprofesional pun mudah mengoperasikananya.

Dari sini saya belajar bahwa ternyata mendengarkan dan mengikuti pendapat para profesional kadang justru menyebabkan kita terpental! Kebenaran pandangan mereka harus kita tempatkan dalam konteks. Kalau konteksnya berubah, kita harus berani mengatakan bahwa pandangan mereka tinggal pantas dilempar ke kotak sampah.

Berikutnya, industri yang telah menghadapi moment of truthnya adalah media cetak. Di Industri ini, dua kekuatan menjadi penyebabnya. Yang pertama kesadaran akan lingkungan yang melihat bahwa produk berbasis kertas amat menguras sumberdaya alam. Yang kedua adalah perkembangan teknologi informasi. Seattle Post Intelligencer yang sudah berumur 146 tahun harus mengakhiri edisi cetaknya pada tanggal 17 Maret 2009. Setahun sebelumnya Christian Science Monitor yang sudah berumur 100 tahun menutup edisi cetaknya dan hanya terbit secara online. Dan buku cetak tinggal menunggu detik-detik terakhirnya. Memang, selagi informasi masih dibutuhkan, informasi itu pasti masih akan menemukan wahananya. Buku dan koran mungkin tidak akan hilang, hanya going digital.

Di industri otomotif, creative destruction tak kalah maraknya. Begitu produsen meluncurkan mobil baru, di balik layar tim riset dan pengembangannya sudah mengembangkan produk-produk baru yang siap merangsek pasar.

Di dunia fashion, creative destruction barangkali tak harus distimulasi oleh perkembangan teknologi. Di negara empat musim, creative destruction dilakukan karena dorongan pertumbuhan bisnis dan instink manusia untuk tampil bergengsi. Mode ditentukan berdasarkan musim. Ganti musim, ganti fashion tend, dan orang yang tak mengikuti langsung merasa malu. Orang akan ikut karena gengsi, atau agar tidak disebut ketinggalan jaman. Psikologi sosial dimanfaatkan sebaik mungkin oleh orang-orang periklanan untuk menciptakan “manusia ombyokan”, yaitu manusia-manusia yang mendasarkan rasa berharga mereka dengan identifikasi diri terhadap gerombolan. Sasarannya jelas: semakin besar gerombolan manusia yang preferensi atau pola-pola pilihannya bisa diprediksi akan menyajikan pangsa pasar yang besar.

Dalam dunia yang ditandai dengan diskontinuitas ini, hal-hal tidak sekadar “dikembangkan menjadi lebih baik”, tetapi “diganti oleh yang lebih baik”. Selain contoh di atas, perhatikanlah bank. Transaksi dengan tatap muka menjadi kedaluwarsa karena perkawinan sistem perbankan dan teknologi informasi.

Dalam konteks seperti itu diperlukan cara pikir baru, cara pandang baru, cara bertindak dan menangani hal-hal secara baru, dengan segala aturan mainnya tidak sekadar dikembangkan menjadi lebih baik, tetapi diganti dengan yang baru.

Karena itu, salah satu kunci sukses dalam konteks seperti itu adalah bukan sekadar “menjadi lebih baik”, tetapi “menjadi lain.” Menjadi lebih baik tidak cukup, karena perbaikannya masih terjadi dalam paradigma lama; sedangkan menjadi lain berarti memakai paradigma baru dan menyesuaikan cara bertindak dengan tuntutan baru itu.

Dalam konteks seperti itu, sejarah keberhasilan dengan segala praktek yang mendasari keberhasilan itu tidak dengan sendirinya merupakan jaminan bagi keberhasilan di hari esok. Kiat sukses kemarin tidak dengan sendirinya menjamin sukses ke depan. Keberadaan kita yang kokoh sekarang, tidak bisa begitu saja dapat kita andalkan bagi eksistensi kita besok.

Kalau kenyataan memang demikian, ada konsekuensi luar biasa bagi pembelajaran kita. Inilah konsekuensi itu: sejalan dengan berlalunya waktu, kita mengumpulkan pengetahuan dan kebijaksanaan. Tragisnya, pengetahuan dan kebijaksanaan yang terkumpul itu, yang kemarin amat membantu kesuksesan kita, justru bisa menjadi racun yang mematikan bagi keberadaan kita sekarang. Dengan kata lain, bersikukuh dengan pengetahuan masa lalu justru merupakan cara cepat untuk hancur. Bersikukuh dengan cara bertindak masa lalu adalah proses yang pasti untuk menceburkan diri ke jurang kebangkrutan.

Kalau dunia memang ditandai oleh diskontinuitas, itu berarti kita selalu menghadapi situasi revolusioner, yang jangka waktu setiap tema revolusinya bisa amat pendek, dan terus semakin pendek. Dengan pikiran seperti ini, kita tak akan heran kalau blackberry yang lagi mewabah akhir-akhir ini akan segera disusul oleh sesuatu yang lain lagi.

Kalau memang itu penanda utama zaman kita, konsekuensinya jelas. Secara individual maupun institusional, keberadaan kita akan amat tergantung pada dua hal: pertama, kemampuan adaptasi pada situasi revolusioner seperti itu, dan kedua, kemampuan menangkap dan memanfaatkan berbagai peluang yang tercipta dari revolusi tersebut. Dan itu sudah terbukti. Setiap tahun kita melihat banyak perusahaan yang terdepak dari Fortune 500 dan diganti oleh pemain baru. Perhatikan saja majalah-majalah bisnis ternama yang melaporkan daftar sekian orang terkaya di dunia yang terlempar dari daftar dan digantikan oleh orang-orang baru.

Karena itu, kita perlu terus-menerus memberdaya diri, agar peka melihat gejala-gejala perubahan dan siap menangkap peluang yang tercipta olehnya. Kita perlu terus menerus memperkaya diri dengan wawasan baru agar tidak cepat menjadi orang yang kedaluwarsa. Kita perlu mencari cara-cara baru agar masih tetap berkontribusi dan bukannya menjadi beban bagi umat manusia.

Itulah urusan learning, unlearning, dan relearning. Itulah urusan pembelajaran, sekaligus melepaskan diri dari kungkungan pengetahuan kita, untuk lebih peka terhadap penyingkapan hal-hal yang belum diketahui.

Proses itu pasti akan terfasilitasi kalau kita membiasakan diri berada dalam pertukaran ide. Salah satu sarananya yang paling kuat untuk itu adalah dengan membaca buku bermutu yang memungkinkan kita semua memperluas wawasan, membangun visi dan menyegarkan diri agar selalu up-dated dengan perkembangan zaman.

*) Wandi S Brata; Direktur Eksekutif PT Gramedia Pustaka Utama; wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 2195
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *