Kolom Alumni

D-Day: Perhelatan Massal Demokrasi


Oleh: Fita Irnani

Kamis lalu (9 April 2009), perhelatan massal demokrasi serentak dilakukan di seluruh Indonesia. Pagi pukul 6.30 menit, saya dan suami bersiap menuju TPS guna menyuarakan hak pilih kami. Lokasi TPS tempat kami terdaftar dalam DPT tidak begitu jauh dari rumah, hanya berjarak sekitar 30 meter. Jarak yang memungkinkan kami mendengar jelas panggilan petugas pemilu melalui pengeras suara, menghimbau warga untuk segera menuju TPS.

Rupanya hari masih pagi, masih ada waktu untuk ‘serangan fajar’, fikir saya. Segera saya menghubungi kediaman bapak-ibu saya di Semarang. “Gimana? sudah siap nyontreng?” tanya saya ketika hubungan SLJJ tersambung dengan Icha, adik bungsu saya. “Bingung mbak, ada dua partai jagoan, tapi gak usah milih ajah deh, bingung. Ini aku baru saja mau bilangin ibu, gak usah ke TPS” jawab adik saya. Tampaknya adik saya mulai tertarik dengan ‘pilihan’ lain di hatinya.

“Kalau berharap perubahan, jangan sia-siakan hak suara kamu”, jelas saya, melancarkan ‘serangan’ mempengaruhi pilihannya. “Tapi mana yang baik?” tanyanya ketika dia terbentur pada dua calon incarannya. Saya geli mendengarnya, mau memilih jagoannya kok tanya pada saya, lah wong dua-duanya bukan pilihan saya, hehehe (maaf, Icha keceplosan membocorkan dua partai pilihannya).

Saya berikan sedikit masukan kepada Icha, supaya kembali ke visi misi masing-masing partai, jika sesuai dengan nurani, ya silahkan menuju TPS lalu contreng. Terakhir saya mengingatkan adik saya, untuk mendampingi bapak dan Ibu ke TPS. “Bapak sudah dari tadi ke TPS, mbak, sibuk jadi panitia”, ujarnya. Kami berdua tertawa membayangkan ayah kami diusianya yang tidak lagi muda, sibuk membagikan kertas suara. Demikian ‘serangan fajar” antar kota antar propinsi versi saya.

Suasana di TPS, pagi itu mulai ‘hidup’, sebagian warga tampak di bilik suara, sebagian duduk mengantri dan sebagian yang lain berdiri mencermati satu persatu nama caleg yang terpampang pada papan triplek, yang berfungsi juga sebagai dinding setinggi dada, di sisi depan ‘saung’ TPS. TPS di kompleks perumahan kami, dilokasikan pada lapangan basket sebelah musholla. Tidak besar memang, bahkan terbilang sederhana. Kursi antrian tidak lebih dari 15 buah, tenda plafon terpasang hanya menaungi meja panitia dan saksi, sementara bilik suara pun dibuat tidak kalah sederhananya. Namun demikian tidak mengurangi suasana ‘pesta’ Kamis kemarin.

Kami memilih berdiri dalam antrian bersama sahabat-sahabat kami, mengobrol sambil menunggu antrian. Acara penyontrengan termanfaatkan juga untuk memperpanjang silaturrahmi di TPS, maklum acara ‘ngumpul’ warga memang agak sulit dilakukan di hari kerja.

Tidak menunggu lama, tiba giliran kami menuju bilik suara. Sesuai prediksi, saya agak terganggu dengan ukuran kertas suara, yang bahkan lebih besar dari ukuran meja di bilik suara. Ditambah lagi jejeran puluhan partai berikut nama-nama caleg yang asing bagi saya. Beruntung dari awal saya sudah memantapkan hati, menentukan satu partai pilihan, jadi tidak terasa sulit untuk menyontreng dengan mengabaikan partai lainnya.

Ada cerita lucu ketika saya dihadapkan pada lembar kertas suara untuk pemilihan DPD, diluar dugaan, nama partai ternyata tidak melekat pada nama calon. Agak kalang kabut dan butuh waktu lebih, untuk mencermati satu persatu nama-nama disana. Hampir saja saya ‘nyontek jawaban’ dari suami saya, yang kebetulan berada di bilik sebelah, namun urung tatkala petugas sigap mengawasi jalannya penyontrengan. Akhirnya, karena kebulatan pilihan berangkat dari ikatan kesetiaan yang kuat antara saya terhadap partai tertentu, jujur, khusus yang ini saya menjadi terkesan ‘asal contreng’.

Dari media elektronik yang seolah berlomba mewartakan perkembangan episode pemilu, dibeberkan fakta bahwa kekisruhan tak luput mewarnai jalannya pemilu kali ini. Tidak sedikit warga yang dengan antusias mendatangi TPS terpaksa menjadi ‘golput’ karena namanya tidak terdaftar dalam DPT, undangan contreng yang tak kunjung datang hingga hari-H pelaksanaan pemilu, penundaan penyontrengan karena kartu suara tertukar dengan dapil lainnya, penghitungan ulang suara karena terjadi selisih hitung antara petugas dan saksi, pembatalan contreng susulan untuk masyarakat Papua yang berdomisilli di Yogya, tidak tersedianya TPS dibeberapa rumah sakit yang menyebabkan aspirasi mereka menguap sia-sia, dan ntah apa lagi yang lain.

Jelas, kinerja KPU yang seperti ini akan menuai sorotan tajam dari masyarakat, terutama dari partai besar yang kalah dalam pemilu. Sejuta harapan ditumpukan dalam pemilu kali ini untuk perbaikan tingkat kehidupan lima tahun mendatang, tentunya masyarakat juga berharap proses jalannya pemilu berjalan lancar dan sukses tanpa diwarnai kekisruhan. Tidak sekedar permintaan maaf saja yang diperlukan atas kesemrawutan yang terjadi, namun juga diperlukan perubahan kinerja dan sistem pengaturan yang baik untuk pemilu persiden mendatang.

Quick Count masih terus bergulir, namun peta kemenangan pemilu sudah mulai terbaca. Saat ini gerakan “sowan” antar pemimpin partai juga sudah mulai dilakukan, ntah sekedar menganalisa perolehan suara, menganalisa kekisruhan selama pemilu, atau penjajagan kemungkinan koalisi. Disisi lain, pemenang selayaknya juga tidak perlu larut dengan kegembiraan yang berlebihan, mengingat akan ada beban berat yang disandang berupa amanah dari rakyat.

Sejuta harapan disandarkan pada pundak wakil terpilih. Siapapun wakil rakyat yang nantinya melenggang ke Senayan adalah benar-benar pribadi yang takut Tuhan, wakil yang piawai sebagai pemimpin, penyalur aspirasi rakyat, pengayom masyarakat, seperti tertulis dalam penggalan lirik lagu Iwan Fals berikut ini :

Di hati dan lidahmu kami berharap,
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang,
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam

Di kantong safarimu kami titipkan,
Masa depan kami dan negeri ini,
Dari Sabang… sampai Merauke

Semoga perubahan benar-benar mewarnai kehidupan kita lima tahun mendatang. Jakarta tidak macet lagi, banjir teratasi, jalanan mulus tanpa lubang, pendidikan gratis yang ditunjang oleh buku-buku pelajaran gratis, keadilan ditegakkan, keamanan terjamin, tidak ada lagi preman dan anak terlantar berkeliaran di jalanan, kesejahteraan wong cilik diperhatikan, jaminan yang layak untuk kesehatan, dan yang pasti praktek korupsi dikikis habis, jangan sampai kabar wakil rakyat yang menjadi bulan-bulanan KPK, kembali menyambangi telinga kita. Benarkah mimpi kita akan terwujud ?, atau akan selamanya menjadi mimpi ?

*) Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Alumnus workshop Writer Schoolen “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai HR Executive pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui e-mail: acho_fit@yahoo.co.id

Telah di baca sebanyak: 1041
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *