Andrias Harefa

DBLA

Dream big, berpikir besar. Itulah ramuan klasik warisan tokoh-tokoh kaliber dunia. Karena hidup hanya sekali, bermimpilah yang besar. Gantungkanlah cita-citanya setinggi bintang di langit. Kalau pada zaman baheula anak-anak Indonesia yang bermimpi besar menyusun cita-cita menjadi dokter atau insinyur, maka di zaman sekarang mestinya impian anak-anak itu jauh lebih maju.

Misalnya, menjadi dokter yang punya rumah sakit di seluruh ibu kota propinsi. Atau menjadi insinyur yang membangun jembatan Jawa-Sumatera sekaligus pemilik tambang-tambang emas, tembaga, batubara dan sebagainya, yang sekarang masih banyak dikuasai orang asing. Atau menjadi penemu sistem pemberantasan korupsi yang efektif menciptakan budaya kerja baru dalam kurun waktu satu dekade. Menjadi penemu sistem pendidikan nasional yang bebas gangguan kepentingan politik sesaat juga sebuah impian besar yang perlu digagas anak-anak muda negeri ini. Atau menemukan cara cerdas untuk memberantas tuntas makelar kasus bidang hukum yang telah lama menganiaya rasa keadilan masyarakat sampai babak belur tak karuan hari-hari ini.

Dream big, berpikir besar. Itu anjuran yang sangat masuk akal. Sebab, otak kita harus digunakan untuk berpikir, dan berpikir kecil atau berpikir besar toh keduanya memanfaatkan otak yang sama. Jadi, mengapa ragu memilih untuk berpikir besar?

Masalahnya, kalau anjuran berpikir besar ini terus menerus dikumandangkan, maka pertanyaannya apakah persoalan ini begitu sulit dilakukan hingga dari zaman ke zaman ada saja sekelompok orang yang diuntungkan hanya dengan menjual, berceramah, dan berseminar soal konsep berpikir dan bermimpi besar?

Ternyata benar. Ya, benar. Berpikir besar itu sulit karena kita hidup dalam lingkungan dimana banyak orang tidak melakukannya. Lihat orangtua kita. Pikiran besar macam apa yang dicontohkannya? Lihat pengajar di sekolah kita. Mimpi besar apa yang diteladankannya? Lihat rohaniawan dan ulama di sekitar kita, iman besar macam apa yang hidup dalam diri mereka? Lihat tetangga kiri dan kanan. Lihat kawan-kawan sepergaulan. Lihat isi media cetak dan tayangan media elektronik yang setiap hari mengepung kita. Lihat apa yang ditawarkan oleh content provider dari berbagai program telepon seluler, internet, dan sebagainya. Bagaimana? Apakah kita banyak menemukan orang-orang yang berpikir besar, yang punya cita-cita dan ambisi besar, yang hidupnya didedikasikan untuk merealisasikan sesuatu yang besar? Apakah kita mudah menemukan tayangan dan berita media yang berbicara tentang visi besar, atau lebih sering menampilkan keributan dan silang pendapat dari otak-otak kecil dengan bahasa-bahasa primitif yang menghina akal sehat?

Dream big, berpikir besar. Hal ini juga sulit kalau kita tidak membangun keyakinan, tidak menumbuhkan believe di wilayah subconscious level (pikiran bawah sadar). Bagaimana kita bisa memikirkan hal yang besar kalau kita tidak bisa meyakini bahwa hal itu mungkin dicapai dengan usaha yang gigih. Berpikir besar akan jadi persoalan jika gudang memori dan keyakinan kita telah dipenuhi oleh program-program pikiran yang cetek, dangkal, bahkan negatif, hasil dari “indoktrinasi” orangtua, pengajar, dan lingkungan yang membesarkan kita. Berpikir besar memerlukan energi ekstra luar biasa, kalau para pemimpin di lembaga eksekutif, yudikatif, dan legislatif memberikan contoh-contoh yang tak senonoh dengan saling menggerogoti satu sama lain.

Dream big, berpikir besar. Bagaimana pun sulitnya, kebiasaan berpikir besar tetap bisa dibangun ulang—dalam usia berapa pun dan kondisi bagaimana pun—kalau kita menggunakan kemampuan manusiawi kita, yakni kebebasan memilih dan kecerdasan untuk belajar kembali (re-learning). Ya, belajar kembali. Selalu ada harapan bagi siapa saja yang percaya pada kekuatan pembelajaran. Sebab hakikat pembelajaran adalah mind programming, pemograman pikiran sadar maupun bawah sadar. Dan bila kita telah paham bahwa program masa silam itu keliru, maka yang perlu dilakukan adalah belajar kembali, melakukan re-programming pikiran, termasuk dan terutama pada subconscious level (yang memang tidak bisa cepat).

Lalu, apa tanda bahwa proses re-learning alias re-programming itu sudah berhasil kita lakukan? Mungkin ini, kita menjadi bersemangat untuk berpikir besar; kita menjadi yakin bahwa selalu ada harapan untuk meningkatkan kualitas hidup; kita percaya bahwa ada peluang bagi Indonesia untuk bangkit dalam jangka menengah dan panjang; dan kita melihat tindakan-tindakan praktis yang perlu dilakukan untuk memulai; kita sadar kita bisa memulai segala sesuatunya dari yang kecil, yang biasa, tetapi bertekad bulat melakukannya sampai berhasil, sampai bisa, sampai titik darah penghabisan; kita menjadi berani melakukan apapun yang diperlukan walau tanpa pemberitaan media, tanpa puji dan puja, karena kita berharap terutama pada Yang Maha Kuasa saja.

Jadi, resep sukses kali ini bertumpu pada empat kata kunci: Dream big (berpikir besar), Believe (bangun keyakinan, perasaan), Learning (kehendak untuk melakukan re-programming), dan Action (bertindak selaras, mulai dari yang kecil). Kalau disingkat jadi DBLA seperti judul di atas. Silahkan dicoba dan kalau sukses berlanjut, berbagilah kepada sesama. Mantap!

*) Andrias Harefa WTS. Penulis 38 Buku Best-Seller. Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 Tahun. Pendiri www.pembelajar.com. Profil lengkap bisa diakses di www.andriasharefa.com

Telah di baca sebanyak: 1281
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *