Her Suharyanto

DEMAM INVESTASI DINAR IRAK (2)

17 Maret 2008 – 04:31 (Her Suharyanto)   Diposting oleh: Editor

(Rate: 7.00 / 1 votes)

Tulisan dengan judul yang sama, yang muncul pertama pada November 2007, mendapatkan sambutan beragam dari pembaca. Ada yang berterimakasih, dan ada pula yang tidak setuju. Pada kesempatan ini saya ingin berkomentar mengenai dua hal. Yang pertama adalah munculnya sejumlah e-mail yang kurang lebih mengatakan, “Kalau Anda tidak setuju pada investasi dinar Irak, tidak usah ribut. Biarkan orang lain mencari rezekinya sendiri.” Yang kedua sejumlah e-mail yang menyoal salah satu alasan untuk tidak membeli dinar Irak, yakni bahwa kemungkinan sulitnya menjual mata uang itu kelak. Atas alasan ini ada e-mail yang mengatakan, “Kok pusing amat. Kalau investasi kita bagus, kita bisa bawa dinar kita ke Timur Tengah atau langsung ke Irak dan menjualnya di sana.”

Tentang yang pertama, saya mohon maaf. Saya menulis jauh dari niat untuk menghalangi rezeki orang. Tetapi lepas dari itu mari kita berpikir dengan cara ini. Apa sih dampak dari tulisan saya? Ada beberapa jenis respon. Ada yang mengatakan, “Mas, saya perhatikan warning Anda. Tapi saya tetap jalan terus dengan sikap yang lebih hati-hati.” Ada teman penulis yang mengatakan, “Saya minta istri saya baca tulisan Anda sebelum dia memutuskan untuk beli dinar. Paling tidak kalau dia beli, dia tahu juga risikonya.” Tetapi memang ada juga yang mengatakan, “Semula saya rajin belanja sejuta dua juta rupiah. Tapi membaca tulisan Anda saya merasa cukup. Kalaupun ternyata dinar menguat saya tidak menyesal karena saya sudah punya.”

Kepada para pembaca yang merasa keberatan atas tulisan itu saya punya jawabannya. Sebagian sudah saya kirimkan langsung kepada yang bertanya. Jawaban saya pada intinya begini: Kalau tulisan saya telah mematahkan semangat beberapa orang untuk membeli dinar Irak, apakah itu akan merugikan mereka yang tetap semangat? Sama sekali tidak. Bukankah kita sedang berbicara mengenai pasar?

Begini. Kalau sebelumnya ada seribu orang yang antusias membeli dinar, dan setelah membaca tulisan saya dan 500 di antaranya mundur, apakah itu merugikan 500 yang masih antusias? Tentu saja tidak. Sebab di sini hukum pasar berlaku. Kalau semula permintaan 1.000 dan sekarang tinggal 500, maka 500 orang yang tetap semangat itu berpeluang untuk mendapatkan dinar dengan harga yang lebih murah, bukan? Mengapa? Sederhana saja, karena permintaan turun. Jadi tulisan saya sama sekali tidak merugikan mereka yang tetap semangat.

Tidak hanya sampai di situ. Kalau suatu saat nanti dinar benar-benar menguat seperti yang diprediksi, bukankah mereka yang semangat tadi juga lebih beruntung? Jawabannya jelas sekali: Ya. Sebab, pada saat “musim jual” nanti, jumlah penjualnya semakin sedikit. Dan arti ekonominya hanya satu: Harga barang yang kita tawarkan akan lebih tinggi karena pembali tetap dan penjual tidak banyak.

Jadi tulisan saya kiranya tidak akan merugikan.

Yang kedua, mungkinkah kelak, ketika dinar sudah membaik seperti yang “dijanjikan”, kita menjual mata uang itu di negeri asalnya, Irak? Tentu saja tidak ada masalah kalau yang datang ke Irak atau Timur Tengah hanya 100 orang. Katakan saja benar bahwa dinar akan terapresiasi kembali ke angka tiga dollar AS per dinar. Kalau dari seratus orang itu masing-masing punya sepuluh ribu dinar, maka 100 orang itu akan datang ke Timur Tengah membawa satu juta dinar dengan maksud yang sama yakni membawa keluar tiga juta dollar AS dari Irak. Tetapi, kalau menimbang demam yang ada sekarang (ini bukan demam Indonesia, tapi demam dunia), apakah hanya 100 orang yang punya kepentingan? Apakah masing-masing orang hanya punya sepuluh ribu?

Menurut Anda, berapa orang di seluruh dunia yang sekarang sudah membeli dinar Irak? Sepuluh ribu? Duapuluh ribu? Mari kita ambil perkiraan bahwa yang membeli hanya 10.000 orang. Berapa dinar yang sudah di tangan mereka? Bagaimana kalau kita asumsikan rata-rata mereka memegang satu juta dinar? Ini asumsi yang tidak aneh karena saat ini dengan seribu dollar AS atau sekitar sembilan juta rupiah kita bisa mendapatkan lebih dari sejuta dinar. Kalau asumsi ini benar, berapa jumlah dinar Irak yang sekarang berada di tangan para “investor”? Sepuluh miliar, bukan? Apakah kita yakin hanya sejumlah itu? Saya yakin justru jauh lebih besar dari itu. Jangan salah, ada begitu banyak orang Indonesia yang benar-benar agresif. Seorang teman berkata, pamannya menanamkan lebih dari dua miliar rupiah untuk membeli dinar. Jadi, angka sepuluh miliar dinar yang berada di luar Irak sungguh angka yang kecil.

Tapi, katakan saja benar bahwa dinar yang sekarang berada di luar Irak jumlahnya hanya sebesar itu. Kalau dinar kemudian terapresiasi sampai ke tingkat sebelum Saddam Hussein jatuh, yakni tiga dollar AS per dinar, berarti total nilainya akan menjadi 30 miliar dollar AS, bukan?

Untuk mereka yang sudah terlanjur bertekad untuk menjual kembali dinarnya ke Irak, hal ini perlu dipikirkan. Pertanyaannya, siapa yang harus menyediakan 30 miliar dollar AS itu? Dalam sistem moneter yang harus menyediakan adalah bank sentral Irak. Normalnya kalau terjadi permintaan dollar AS yang tinggi dengan menggunakan uang lokal, maka bank sentral akan mengeluarkan dollar AS dari cadangan devisanya. Yakinkah kita bahwa bank sentral Irak rela mengeluarkan 30 milliar dollar AS dari pundi-pundinya untuk orang luar?

Seberapa besar uang 30 miliar dollar AS itu? Dalam rupiah angka itu setara dengan Rp270 triliun, bisa dipakai untuk membeli empat bank sekelas Bank Mandiri. Yang pasti, cadangan devisa Irak sampai akhir 2007 lalu tercatat hanya sebesar US$21 miliar. Sebagai pembanding, Indonesia yang sudah lebih dari 60 tahun merdeka hanya punya cadangan US$56 miliar. Dari mana cadangan devisa diperoleh? Dari surplus perdagangan internasional.

Soalnya begini. Mudahkah bagi Irak untuk mengumpulkan cadangan devisa? Benar bahwa Irak adalah negara yang kaya akan minyak. Tapi jangan salah, Irak perlu banyak mengimpor untuk membangun kembali negaranya yang hancur lebur oleh perang. Jadi, negeri itu akan mengumpulkan cadangan devisanya sedikit demi sedikit. Kalau ini yang terjadi, apakah bank sentralnya kemudian akan dengan mudahnya mengeluarkan kembali dollarnya untuk membeli dinarnya dari para “investor” asing itu?[her]

* Her Suharyanto adalah seorang editor ekonomi, trainer penulisan, dan penggiat Agenda-18. Ia dapat dihubungi melalui email: her_suharyanto@hotmail.com.

Telah di baca sebanyak: 924
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *