Emmy Liana Dewi

Dicari: Sekolah yang Mengajarkan Teknik Mengelola Stress


Apa yang akan Anda lakukan apabila anak Anda yang duduk di bangku sebuah SLTP tidak berani berangkat ke sekolah karena takut di’palak’ oleh salah seorang teman di kelasnya? Datang ke sekolah dan melabrak anak tersebutkah? Atau melapor ke guru Bimbingan dan Konselingkah?

Akhir-akhir ini kita sering dibuat terperangah membaca berita mengenai penganiayaan siswa yang dilakukan oleh teman-temannya di beberapa institusi pendidikan dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Alasannya bermacam-macam: ada yang tersinggung karena perkataan seseorang, ada yang mau menunjukkan senioritas, ada yang karena sedang depresi atau tertekan, maupun karena tradisi turun temurun. .

Masih segar di ingatan kita, bagaimana negara kita geger membaca peristiwa meninggalnya seorang mahasiswa sebuah institusi pendidikan setingkat Perguruan Tinggi karena dianiaya oleh seniornya. Atau di sebuah SD di Jakarta seorang siswa yang takut pergi ke sekolah karena takut dianiaya oleh teman sekolahnya yang lebih muda usianya. Yang membuat geger di seluruh dunia adalah penembakan brutal di sebuah universitas ternama di Amerika Serikat oleh seorang mahasiswa yang menewaskan puluhan temannya. Bagaimana bisa kekerasan marak di institusi pendidikan yang seharusnya memberikan pendidikan bagi para siswanya untuk menjadi orang yang berguna bagi keluarga, masyarakat, dan negara?

Kompas pernah beberapa kali memuat berita penganiayaan seorang siswa. Misalnya di Juwana (Kekerasan: Geng Itu Dibentuk Ketika Mereka Masih Kelas III SMP…, Kompas, Senin 23 Juni 2008 yang dilakukan oleh geng murid perempuan!). Kasus kekerasan ini atau dalam bahasa Inggrisnya disebut ‘bullying’, marak terjadi di banyak institusi pendidikan, hanya saja tidak sampai terkuak dan ditulis menjadi berita yang mengagetkan para pendidik dan orang tua. Sebagai seorang pendidik yang sekaligus orangtua dari dua anak yang sudah dewasa, ijinkanlah saya mengemukakan pendapat saya dalam kasus kekerasan yang terjadi di sekolah.

Semua orang tahu bahwa sekolah adalah tempat di mana anak-anak kita mendapat pendidikan formal oleh guru-guru serta staf pendidik lainnya. Sekolah-sekolah favorit atau sekolah berbintang mematok harga mahal pada calon siswa di sekolah-sekolah tersebut, dan para orangtua berlomba-lomba berani merogoh kantungnya untuk membayar mahal agar anaknya diterima di sekolah favorit atau sekolah berbintang tersebut. Pertanyaan saya adalah, apakah ada sekolah favorit dan mahal menjamin tidak akan terjadi kekerasan pada siswanya yang dilakukan oleh sesama siswa yang menempuh ilmu bersama? Sepengetahuan saya, di sekolah favorit atau sekolah yang kurang favorit, tidak ada yang mengajarkan keterampilan dalam mengelola stress atau dalam menghadapi stress, depresi dan trauma.

Selama ini, pelajaran Agama dan budi pekerti, matematika, dan ilmu pasti lainnya sangat diagung-agungkan di sekolah. Siswa takut mendapat nilai merah untuk pelajaran Agama karena takut tinggal kelas. Pelajaran Agama akhirnya menjadi hafalan saja dan bukan penerapan nilai-nilai ajaran. Yang dikejar para siswa maupun para guru adalah nilai-nilai angka di rapornya, terutama bila sedang menghadapi UN. Soal palak-memalak jadi terlupakan oleh yang berwewenang di sekolah. Yang penting nilai tinggi dan naik kelas atau lulus. Sekolahpun lupa menyediakan guru yang mampu membantu para siswa yang sedang stress karena dipalak siswa lainnya ataupun siswa yang merasa tertekan di rumah yang akhirnya memalak siswa lain untuk pelampiasan luka hatinya yang terjadi di rumah yang lagi kacau balau.

Sebuah sekolah akan dikategorikan sebagai sekolah yang baik bila menyediakan Guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP) atau konselor yang selalu siap memberi ‘nasihat’ apabila ada siswa yang bermasalah. Namun tidak ada satu sekolahpun yang menyediakan seorang guru untuk mengajarkan teknik-teknik untuk relaksasi, melepas stress, depresi, dan trauma langsung pada saat siswa membutuhannya. Padahal untuk membuat para siswa relaks dan tidak tertekan, mereka perlu belajar ilmu keterampilan untuk mengatasi ketegangan dan beban mental mereka, bukan nasihat-nasihat yang dianggap para siswanya membosankan, teoritis, dan abstrak.

Sementara tu, para siswa dijejali banyak macam tugas dan mata pelajaran, terutama menjelang akhir tahun, yang menyebabkan baik para siswa, orang tua, bahkan guru, menjadi stress berat. Stress bisa memicu turunnya kesehatan, semangat belajar, kesedihan, bahkan kemarahan dan frustrasi yang kalau meledak bisa menjadi kasus ‘pemalakan’ dan kekerasan (terhadap yang lebih lemah untuk menyalurkan rasa frustrasinya). Alangkah bijaksananya, apabila sekolah-sekolah juga mengadakan akivitas yang menunjang faktor terbentuknya suasana yang lebih relaks dan mengurangi beban mental siswa. Bagaimana para siswa bisa belajar pernafasan untuk mengurangi ketegangan mental, beberapa gerakan khusus untuk mengusir kejenuhan atau meredakan emosi yang sedang gonjang-ganjing, atau permainan yang bisa mengubah rasa tertekan siswa (dan gurunya) menjadi tertawa lepas.

Saya melihat suatu kebutuhan pada sekolah-sekolah untuk memiliki seorang konselor yang mampu mengajarkan teknik relaksasi kepada setiap siswa di sekolah, jadi bukan hanya seorang konselor yang pandai menasihati murid saja. Tentu saja diharapkan teknik-teknik yang diajarkan sangat mudah diingat dan dipraktikkan siswa dari tingkat TK sampai SLTA, yang bisa dipraktikkan setiap hari oleh para siswa maupun para guru di dalam kelas dalam waktu yang singkat, katakanlah lima menit pada waktu awal pelajaran atau kapanpun dibutuhkan. Dalam mempraktikkannya, cara membawakannya dibuat menyenangkan sehingga para siswa tidak merasa sedang mempraktikkan sebuah teknik relaksasi akan tetapi lebih seperti sedang bermain.

Pengalaman saya ketika melatih teknik relaksasi di beberapa sekolah di beberapa daerah, dan penduduk akar bawah di beberapa kampung, tingkat relaksasi peserta meningkat dan mengalami perbaikan kualitas tidur maupun kesehatan yang sebelumnya terganggu karena mengalami stress kronis. Mereka juga mengatakan merasa lebih tenang dan sakit kepala malahan hilang. Pada para wanita usia menjelang menopause yang melakukan teknik relaksasi mengalami pengurangan tingkat gangguan yang terjadi akibat penurunan kadar hormon estrogen. Beberapa peserta yang mengalami konstipasi karena stress kronis, setelah kembali relaks mempunyai jadwal yang teratur untuk BAB. Teknik yang mereka pelajari adalah gabungan dari teknik pernafasan, pijatan, gerak badan, visualisasi, dan akupresur yang sangat mudah dilakukan di manapun dan tanpa alat serta tanpa biaya.

Saya pikir, alangkah baiknya apabila para pendidik mau belajar teknik relaksasi yang nantinya bisa diajarkan di dalam kelas kepada para siswa. Dimulai dari para pendidiknya dulu, barulah ditularkan kepada para siswa. Apabila seorang guru mengajar dengan tersenyum dan rileks, maka para murid akan belajar dengan tersenyum dan rileks pula. Guru adalah seseorang yang mengangkat anak didiknya dari lembah ketidaktahuan dan kegelapan ke tempat yang lebih tinggi dengan pengetahuan dan kebijaksanaan, serta tempat yang lebih terang. Di situlah seorang guru berfungsi dengan sempurna. Mengajar dengan hati nurani membutuhkan jiwa yang tenang dan pikiran yang rileks.

Saya yakin, apabila sekolah-sekolah menyediakan guru-guru yang memulai lima menit pertama di pagi hari dengan satu teknik relaksasi, maka kekerasan yang tejadi di sekolah bisa dihindari. Sekolah bukan lagi menjadi salah satu sumber stress yang bisa mencetuskan kekerasan yang terjadi pada para siswanya, tetapi sekolah akan menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi anak-anak kita untuk menuntut ilmu untuk menunjang masa depan yang gemilang.

Mari kita sebagai pendidik serta orangtua ikut memikirkan masa depan generasi penerus bangsa kita.

*) Emmy Liana Dewi, Alumnus Workshop “Cara Cerdas Menulis Buku Best-Seller”. Ibu Rumah tangga, pemerhati masalah pendidikan, dan kesehatan holistik ini dapat dihubungi langsung di esuhendro@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 2057
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *