Adi W Gunawan

Direct vs Indirect Suggestion


Dalam dunia hipnosis dan hipnoterapi kita mengenal dua jenis sugesti yaitu yang bersifat langsung (direct) dan yang bersifat tidak langsung (indirect). Ada banyak artikel yang telah ditulis oleh para pakar hipnoterapi mengenai kedua jenis sugesti ini.

Ada yang sangat menekankan pentingnya direct suggestion dan ada pula yang menyatakan bahwa indirect suggestion jauh lebih andal dan efektif. Mana yang benar? Masing-masing dengan argumentasi yang juga sama kuat dan meyakinkan.

Artikel ini tidak bertujuan untuk memihak pada salah satu pandangan namun lebih bertujuan menjelaskan sugesti dari perspektif teori dan cara kerja pikiran sehingga praktisi hipnoterapi mengerti cara menggunakan sugesti dengan benar sesuai dengan kondisi, situasi, dan kebutuhan klien.

Dalam dunia hipnoterapi terdapat dua aliran atau mazhab yaitu yang berasal dari pantai timur (east coast) dan pantai barat (west coast) Amerika. Kedua mazhab ini berbeda dalam penekanan teknik terapi yang digunakan.

Mazhab pantai timur lebih menekankan penggunakan sugesti dalam melakukan terapi (suggestive hypnotherapy). Sedangkan mazhab pantai barat menggunakan hypnoanalysis procedure yang melibatkan banyak teknik yang lebih kompleks.

Indirect suggestion adalah sugesti yang umumnya diberikan pada klien dalam kondisi sadar normal atau light trance. Indirect suggestion menjadi sangat populer berkat teknik yang digunakan Milton H. Erickson dalam menangani berbagai kliennya. Teknik ini selanjutnya dikembangkan oleh Richard Bandler, John Grinder, Jay Halley, dan Ernest Rossi.

Menurut Bandler dan Grinder direct suggestion lebih ditujukan untuk pikiran sadar. Contohnya: “Tutup mata anda” (ini adalah bentuk perintah langsung), “Anda dapat menutup mata anda sekarang” (ini adalah bentuk sugesti positif), “Anda tidak bisa menutup mata anda, bukan?” (modal operator;negative inquiry). Setiap kalimat mempunyai struktur yang berbeda namun dengan tujuan akhir yang sama yaitu meminta klien menutup mata.

Salah satu kelemahan penggunaan direct suggestion yaitu dapat menimbulkan atau meningkatkan resistensi klien terhadap sugesti yang diberikan.

Ada banyak faktor yang menimbulkan resistensi dalam diri klien, antara lain:
1.Klien datang ke terapis bukan atas keinginannya sendiri.
2.Klien (merasa) punya otoritas lebih tinggi dibanding terapis.
3.Klien tidak percaya sama terapis.
4.Klien tidak suka dengan terapis.
5.Klien merasa malu atau kurang nyaman.
6.Klien punya persepsi yang salah mengenai hipnosis / hipnoterapi.
7.Klien mendapat keuntungan dengan masalah yang ia alami (secondary gain)

Indirect suggestion digunakan dengan alasan utama yaitu untuk menghindari dan atau mengatasi resistensi. Misalnya, untuk meminta klien menutup mata, bukannya langsung memberikan perintah, “Tutup mata anda”, hipnoterapis menyusun kalimat sugestinya menjadi, “Klien yang baik memulai proses terapi dengan menarik napas panjang dan dalam beberapa kali dan selanjutnya merilekskan dan menutup mata mereka (generalisasi)”, atau “Mata anda sudah menjalankan tugasnya dengan baik hingga saat ini. Apakah anda tidak merasa mata anda lelah karena terus bekerja? Berilah waktu mata anda istirahat sebentar”. Setiap kalimat mempunyai struktur yang berbeda namun dengan tujuan akhir yang sama yaitu meminta klien menutup mata.

Berikut adalah contoh kalimat yang digunakan hipnoterapis untuk mengarahkan klien menutup mata dan memulai proses relaksasi yang dalam, menggunakan direct suggestion, “Anda mulai merasa kelopak mata anda menjadi berat dan semakin berat dan anda tidak bisa menahan untuk menutup mata. Anda masuk ke dalam kondisi rileksasi yang semakin dalam sambil tetap duduk dalam posisi tubuh tegak dan nyaman dan tetap mampu mendengar suara saya…..”

Kalimat yang sama bila disusun dalam bentuk indirect suggestion akan menjadi, “Jika anda menginginkan dan mengijinkan, anda dapat membayangkan diri anda merasa nyaman…sangat nyaman sehingga merasa mengantuk sambil anda terus mendengar suara saya… mengijinkan mata anda untuk tetap terbuka sambil anda masuk dalam kondisi tidur yang dalam… atau mengijinkan diri anda untuk secara lembut menutup mata anda”

Indirect suggestion tampak lebih lembut dan tidak terlalu bersifat memerintah. Dengan demikian klien merasa lebih punya kendali atas apa yang akan terjadi.

Indirect suggestion selain bisa berupa kalimat sugesti singkat seperti contoh di atas juga bisa menggunakan metafora dengan tujuan mengarahkan pikiran klien untuk mendapatkan solusi atas suatu masalah.

Berikut adalah contoh penggunaan metafora. Misalnya ada klien yang mengalami ejakulasi dini. Metafora yang dapat digunakan adalah metafora menikmati makanan. Dalam metafora ini klien diminta dengan sengaja makan dengan perlahan, menikmati setiap suap makanan, setiap jenis makanan, sungguh-sungguh memperhatikan, merasakan, dan menikmati aroma dan rasa makanan yang ia makan.

Hal ini tentunya sangat berbeda dengan penggunaan direct suggestion yang mungkin dapat membuat klien merasa risih atau malu. Melalui metafora ini pikiran klien selanjutnya dapat menyimpulkan apa yang perlu dilakukan dan dengan demikian membantu klien mengatasi masalahnya sendiri sambil menghindari perasaan malu atau tidak nyaman.

Dalam berbagai artikel mengenai indirect suggestion yang pernah saya baca umumnya lebih menekankan atau merujuk pada semantik/pilihan kata dan struktur bahasa sebagai kunci keberhasilan sugesti. Untuk bisa melakukan, lebih tepatnya, menyusun indirect suggestion yang powerful, maka seorang hipnoterapis dituntut untuk mempunyai kemampuan linguistik yang tinggi.

Bagaimana cara kerja indirect suggestion sehingga mampu mempengaruhi seseorang dan memberikan perubahan positif seperti yang diharapkan?

Ada banyak faktor penting lainnya yang juga sangat menentukan kekuatan pengaruh indirect suggestion selain pilihan kata dan struktur bahasa. Faktor ini juga sangat mempengaruhi kekuatan direct suggestion dan justru jauh lebih penting dari sugesti itu sendiri.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Abraham Mehrebian (1968) dan Bob Birdwhistel (1970) mengenai efek dan pengaruh komunikasi tatap muka sampai pada simpulan yang kurang lebih sama. Temuan mereka menyatakan bahwa efektivitas komunikasi dipengaruhi oleh tiga hal yaitu:

1.Verbal (pilihan kata) = 7%
2.Intonasi = 38%
3.Bahasa Tubuh = 55%

Dalam riset ini tampak jelas bahwa dalam berkomunikasi dengan orang lain pengaruh kata-kata (semantik dan tentunya termasuk struktur bahasa) hanya 7%, intonasi suara memberi pengaruh 38%, dan pengaruh terbesar adalah bahasa tubuh, yaitu sebesar 55%. Dari hasil penelitian ini tampak jelas bahwa mayoritas komunikasi dilakukan secara nonverbal. Dengan demikian bila kita berkomunikasi dengan orang lain, untuk bisa memberikan pengaruh maksimal, maka kita harus mengucapkan kata-kata dengan intonasi suara yang tepat dan bahasa tubuh yang kongruen mendukung. Hal ini akan memberikan pengaruh signifikan hingga 93%.

Dalam konteks terapi, yang masuk dalam kategori komunikasi nonverbal, elaborasi dari aspek intonasi dan bahasa tubuh, adalah ekspresi wajah, tonalitas dan volume suara, gesture, timing, kontak mata, kontak fisik seperti jabat tangan, usia, penampilan fisik termasuk kondisi kesehatan atau level energi, pakaian, aksesoris, kondisi mood dan ekspektasi baik dari klien maupun dari terapis.

Selanjutnya direct atau indirect sugggestion, secara tidak langsung namun cukup signifikan, juga dipengaruhi oleh warna, kebersihan, temperatur, aroma, kondisi dan kualitas gedung klinik atau ruang terapi, ruang terima tamu, fasilitas gedung, fungsi, style, kualitas mebel yang digunakan, dan noise level saat sugesti diberikan.

Mehrebian dan Birdwhistel bukan pakar hipnosis atau hipnoterapis. Dengan demikian riset mereka dilakukan dengan melihat interaksi komunikasi dalam kondisi pikiran sadar.

Untuk bisa mengerti cara kerja direct/indirect suggestion maka kita perlu mengerti cara kerja pikiran. Saya tidak akan membahas terlalu detil mengenai mekanisme pikiran karena sudah banyak saya bahas di artikel saya lainnya.

Manusia mempunyai tiga jenis pikiran: pikiran sadar (conscious mind), pikiran bawah sadar (subconscious mind), dan pikiran nirsadar (unconscious mind). Untuk bisa melakukan perubahan maka sugesti yang hipnoterapis berikan pada klien harus bisa masuk, diterima, dimengerti, dan dilaksanakan sepenuhnya oleh pikiran bawah sadar klien.

Proses perjalanan sugesti masuk ke pikiran bawah sadar tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Ada proses dan tahapan yang harus dilalui. Pertama, sugesti ini akan masuk ke pikiran sadar. Selanjutnya sugesti harus melewati critical factor yang berperan sebagai penjaga pintu yang menghubungkan pikiran sadar dan bawah sadar. Bila sugesti berhasil menembus dan melewati critical factor maka sugesti ini akan masuk ke pikiran bawah sadar.

Kendala yang umumnya dihadapi hipnoterapis adalah sulitnya menembus critical factor karena sugesti lebih sering diberikan dalam kondisi sadar normal atau light trance. Dalam kondisi ini pikiran sadar masih sangat aktif dan critical factor bekerja dengan kekuatan penuh.

Critical factor terdiri atas dua bagian. Sebagian berada di wilayah pikiran sadar dan sebagian lagi di wilayah pikiran bawah sadar.

Tugas critical factor yang berada di wilayah pikiran sadar adalah untuk memastikan informasi (baca: sugesti) yang akan masuk ke pikiran bawah sadar bersifat konsisten dengan data yang telah ada di pikiran bawah sadar. Bila data yang akan masuk ternyata berbeda maka dengan serta merta data baru ini akan ditolak. Hal ini bertujuan untuk melindungi keutuhan dan konsistensi keabsahan data di pikiran bawah sadar, yang sebenarnya akhirnya juga demi kepentingan dan kebaikan klien.

Sedangkan tugas critical factor yang berada di wilayah pikiran bawah sadar adalah untuk memastikan empat hal. Pertama, sugesti yang diterima bila dilaksanakan tidak akan berakibat negatif bagi keselamatan (hidup) klien. Kedua, sugesti ini bila dilaksanakan tidak melanggar nilai moral dan agama yang diyakini oleh klien. Ketiga, sugesti ini benar menurut data yang telah tersimpan di pikiran bawah sadar. Dan keempat, sugesti ini masuk akal (klien).

Indirect suggestion bertujuan untuk mengatasi resistensi dengan cara mengecoh, membingungkan, menyibukkan, atau membuat lengah pikiran sadar, dengan memikirkan “makna” dari sugesti yang diberikan, sehingga critical factor dapat ditembus dan sugesti bisa masuk ke pikiran bawah sadar.

Apakah ada cara lain untuk menembus critical factor selain dengan cara yang digunakan dalam indirect suggestion?

Selain cara di atas dalam dunia hipnoterapi dikenal lima cara untuk menembus critical factor yaitu dengan menggunakan otoritas, emosi, repetisi, identifikasi, dan relaksasi pikiran (kondisi hipnosis).

Berbeda dengan indirect suggestion yang telah dijelaskan di atas direct suggestion, sesuai namanya, adalah sugesti yang bersifat langsung, apa adanya, tanpa basa basi. Jika hipnoterapis ingin klien menutup mata maka ia akan berkata, atau lebih tepatnya memberi perintah kepada klien, “Tutup mata anda.”

Agar direct suggestion menjadi lebih efektif maka hipnoterapis perlu benar-benar memperhatikan resistensi. Sedapat mungkin resistensi klien diatasi sebelum sugesti diberikan. Untuk itu, hipnoterapis yang benar-benar cakap dan berpengalaman, akan menggunakan sebanyak mungkin cara untuk menembus critical factor.

Hipnoterapis harus mampu membangun otoritas di mata klien. Semakin tinggi otoritas hipnoterapis menurut persepsi klien akan semakin baik. Selanjutnya hipnoterapis menggunakan emosi klien untuk menyiapkan pikiran bawah sadar klien agar mendukung klien untuk berubah. Kalimat yang digunakan untuk sugesti sebaiknya juga melibatkan emosi klien, baik yang positif maupun yang negatif. Hipnoterapis bisa melakukan repetisi dalam membaca direct suggestion agar sugesti tertanam lebih kuat di pikiran bawah sadar. Hipnoterapis juga bisa membantu klien melakukan identifikasi kelompok. Dan terakhir semuanya akan menjadi sangat mudah dan jauh lebih efektif dan efisien bila dilakukan dalam kondisi relaksasi pikiran/hipnosis yang (sangat) dalam.

Mengapa jauh lebih efektif dan efisien bila dilakukan dalam kondisi relaksasi pikiran/hipnosis yang (sangat) dalam?

Sugesti Dalam Kondisi Hipnosis Yang Dalam

Sifat dan hukum pikiran yang berlaku saat seseorang berada dalam kondisi hipnosis yang dalam sangat berbeda dengan saat ia dalam kondisi sadar normal atau light trance.

Dalam kondisi relaksasi pikiran/hipnosis yang dalam pikiran sadar dan critical factor menjadi nonaktif. Dengan demikian sugesti yang diberikan tidak akan mendapat hambatan untuk bisa masuk ke pikiran bawah sadar.

Dari pengalaman saya menangani klien, saat dalam kondisi hipnosis yang dalam indirect suggestion atau metafora menjadi kurang efektif dan seringkali justru kontraproduktif.

Hukum pikiran menyatakan bahwa semakin dalam kondisi hipnosis maka sugesti harus semakin direct. Hal ini disebabkan karena pikiran bawah sadar seseorang sifatnya menyerupai anak berusia delapan tahun. Sudah tentu bila kita berkomunikasi dengan anak usia delapan tahun untuk mendapatkan

hasil maksimal kita perlu menggunakan bahasa yang gamblang, jelas, dan langsung. Justru bila bahasa yang digunakan bersifat tidak langsung atau “berputar-putar” maka anak menjadi bingung.

Hal penting lainnya yang harus benar-benar diperhatikan hipnoterapis yaitu dalam kondisi hipnosis yang dalam yang berlaku adalah trance logic bukan conscious logic.

Jadi, mana yang lebih efektif? Direct atau indirect suggestion?

Ini bergantung pada situasi dan kondisi. Semua sama efektifnya bila hipnoterapis mampu menggunakannya dengan tepat dan bijak.

Hipnoterapi telah berkembang sangat pesat. Sugesti, baik yang direct atau indirect, hanyalah salah satu dari sekian banyak teknik yang ada dalam dunia hipnoterapi. Masih ada banyak teknik lain yang lebih kompleks dan lebih powerful. Dalam kurun waktu paruh ketiga dari abad ke 20, berbagai teori dan teknik yang digunakan dalam dunia hipnoterapi mendapat pengaruh dari pemikiran, insight, dan temuan dari LeCron, Watkins, Kroger, Elman, Weitzenhoffer, Cheeck, Boyne, Crasilneck, Wolpe, Wolberg, dan Hilgard.

Banyak teknik intervensi klinis yang digunakan hipnoterapis saat ini prosedurnya jauh lebih kompleks daripada sekedar memberikan sugesti.

Berikut adalah beberapa contoh teknik terapi yang dikembangkan oleh masing-masing pakar dan memberikan kontribusi dan pengaruh yang luar biasa bagi dunia hipnoteapi:

– 1940an Elman dengan hypnoanalisys
– 1950an beragam penggunaan metode ideomotor yang pertama kali dikembangkan oleh LeCron
– 1950an teknik desensitisasi yang dikembangkan oleh Wolpe
– 1960an strategi emotional clearing yang komprehensif, termasuk integrasi Gestalt dan modalitas lainnya ke dalam hipnoterapi yang dilakukan oleh Boyne.

Selain itu perkembangan teknik hipnoterapi juga mendapat pengaruh dari literatur penting seperti yang ditulis oleh Kroger, Clinical and Experimental Hypnosis (1963), dan Cheeck dan LeCron, Clinical Hypnotherapy (1968), masing-masing menekankan pentingnya mencari, menemukan, dan memproses akar masalah yang mendasari suatu masalah dengan menggunakan teknik eksplorasi interaktif, regresi, intervensi berorientasi pemahaman baru dan kebijaksanaan.

Teknik hipnoterapi seperti age regression, Ideomotor Technique, Gestalt, Ego Personality Therapy, Inner Child Work, Forgiveness Therapy, dan teknik-teknik terapi berbasis NLP seperti Visual Squash, Swish Pattern, Fast Phobia Cure, Power Trigger, Reverse Trigger, Six Step Reframing, dan Collapsing Anchor semuanya bersifat direct, sangat sulit atau tidak bisa dilakukan bila menggunakan indirect suggestion.

* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan ?, dan Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication. Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com.


Telah di baca sebanyak: 2552
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *