Kolom Bersama

Don’t Judge a Book by It’s Cover

Case-1:
Tugas utamaku adalah mengantar jemput bos kemanapun dia pergi. Karena itulah aku sering mengendarai mobil mewah milik bos, kadang berdua dengan bos namun tidak jarang sendirian. Kejadian seperti ini sudah sangat sering, yaitu tatkala aku disuruh untuk menjemput bos dari sebuah pertemuan di sebuah hotel bintang lima di Jakarta.

Seperti biasa, meluncurlah aku dengan segera ke sana. Memasuki gerbang hotel, selalu aku mendapati pemandangan yang luar biasa. Mata kepalaku sendiri melihat bagaimana para satpam dan petugas parkir berebutan menarik perhatianku. Ada-ada saja ulah mereka, dari sekedar memberikan hormat, beramah-tamah, bahkan banyak yang berlomba-lomba menyapaku dengan panggilan agung: BOS. Dalam hati aku hanya bisa tersenyum geli saja. Belum tahu mereka bahwa mobil ini bukan punyaku.

Namun kejadian seperti ini sering juga terjadi. Entah alasan tertentu, secara mendadak aku disuruh untuk mengantarkan sesuatu ke bos. Lokasinya juga di hotel. Untuk mengejar waktu, aku pun naik motor bututku, karena lebih fleksibel, cepat, dan bisa menyiasati kemacetan. Di sini sebuah pemandangan yang sangat ironi aku dapatkan. Memasuki gerbang hotel, jangan pernah berharap akan mendapatkan perlakuan istimewa yang sama sewaktu naik mobil. Jangankan disapa, dilirik pun tidak. Bahkan aku sering diminta putar lewat pintu belakang untuk parkir.

Case-2:
Aku adalah seorang wanita biasa, hidup di lingkungan sederhana, dan tentunya penampilanku standar-standar saja. Layaknya impian dan harapan teman-teman sebayaku, aku juga mempunyai asa yang sama untuk sekali-kali menikmati kemewahan dan indahnya diperlakukan istimewa.

Mimpiku sepertinya terjawab kala suatu hari seorang pria mengajakku untuk menemaninya makan malam di sebuah restoran eksklusif seraya ketemu klien bisnisnya. Wah … ajakan tersebut langsung aku sambut dengan antusias. Akalku mengatakan, selangkah lagi impianku akan tercapai. Namun ada satu kendala, aku tidak mempunyai pakaian yang layak untuk dipakai. Aku pun menceritakannya kepada pria tersebut, dan untungnya dia mengerti kondisiku. Atas kebaikan hatinya dia pun memberikan sejumlah uang kepadaku untuk berbelanja.

Butik X adalah tempat yang sudah lama aku incar untuk berbelanja di sana. Selama ini aku hanya bisa melihatnya saja dari luar. Yah … aku mengerti kondisiku. Namun hari ini aku punya uang, jadi bukankah ini sebuah kesempatan istimewa bagiku untuk mampir dan berbelanja di sana?

Dengan penuh rasa percaya diri aku menginjakkan kakiku ke sana. Dan .. segera mataku takjub dan terpikat melihat gaun-gaun indah yang terpampang di sana. Mulailah aku melihat-lihat. Namun tidak sampai 5 menit aku tenggelam dalam keasyikkanku, seorang pramuniaga dengan pandangan aneh dan curiga mendekati.

Aku berpikir dia datang untuk membantuku mencarikan gaun spesial untuk malam itu, maka aku pun bertanya: maaf, yang ini berapa harganya.
Tapi … tahu jawaban apa yang aku dapat? Ini harganya mahal … sangat mahal.

Aku menjawab: mahalnya itu seberapa?
Dijawabnya kembali: pokoknya mahal sekali.

Tertegun aku mendengarnya. Tapi aku tidak diam begitu saja. Aku pun berkata: mungkin benar harganya mahal, tapi aku punya uang untuk membelinya.

Dan sebuah pernyataan yang menyinggung perasaanku membuat aku tidak tahan untuk keluar: Maaf, butik kami tidak cocok untuk orang seperti Anda. Ini butik eksklusif, ternama, dan hanya layak dikunjungi oleh golongan tertentu. Silakan keluar sebelum kehadiran Anda menganggu kenyamanan tamu kami yang lain.

Saat aku pulang dengan simbahan air mata dan menceritakan semuanya kepada pria yang mengajakku dinner, diapun marah dan tersinggung. Beruntung dia mempunyai kolega, dan dia merekomendasikan diriku untuk ke sana. Ibarat panas setahun yang terhapus oleh hujan sehari, demikianlah perasaanku ketika sampai ke sana. Aku diperlakukan dengan baik, penampilanku diubah, dan dalam sekejap aku bertransformasi dari wanita biasa menjadi wanita berkelas.

Ketika aku melewati butik tempat aku ditolak, timbul rasa isengku untuk melihat reaksi mereka. Aku pun masuk, dan … ajaib sekali. Dengan segera mereka mendatangiku, menyapa dengan ramah, memberi hormat, dan dengan segala kata-kata manis berusaha untuk menahanku supaya berbelanja di sana. Namun karena rasa sakit hatiku masih ada, aku pun bertanya: apakah Anda masih ingat aku?

Mereka menggeleng. Dan dengan penuh kemenangan aku menjawab: akulah wanita biasa yang kalian tolak kemarin.

Dengan lega, akupun keluar … meninggalkan mereka hanya bisa melonggo tak bersuara.

Case-3:
Aku hanyalah seorang pria kebanyakan. Kesukaanku adalah berpenampilan sederhana. Kalau jalan-jalan ke mal, seringnya pakai kaos, kadang berkerah kadang tidak dan dipadu celana casual dengan alas kaki sandal biasa. Apakah karena aku tidak sanggup berpenampilan eksklusif? Bukan, aku bisa saja. Namun semuanya itu sengaja aku aku lakukan hanya karena satu alasan saja: agar aku bisa jalan-jalan dan belanja dengan nyamanan.

Aku sering geli melihat sebagian orang yang tampilannya super luks: rambut tertata licin entah menghabiskan berapa gram foam atau minyak rambut, memakai kemeja yang kancingnya dibuka satu, di lehernya terpampang seuntai kalung sebesar rantai, serta bersepatu mengkilap. Pokoknya khas profesional muda yang berhasil. Kegelianku bertambah saat melihat mereka harus menolak tawaran-tawaran dari pramuniaga yang berseliweran di mal. Dari tawaran kartu kredit, kursi yang katanya bisa pijat sendiri, brosur pameran, alat penghemat listrik, dan beraneka promosi lainnya.

Bandingkan diriku yang berpenampilan seadanya, sangat jarang aku disodorin barang-barang semacam itu. Namun aku tidak merasa rendah diri, tidak pernah merasa dicuekin, malah aku menikmatinya karena aku bisa dengan bebas berlenggang ria semauku.

Pernah suatu hari, karena mendesak banget aku harus mampir ke supermarket di sebuah mal. Waktu itu aku baru dari sebuah acara formal, sehingga penampilanku boleh dikatakan agak berkelas. Karena berpikir efisiensi waktu, aku pun langsung meluncur ke sana. Dan … aku benar-benar merasa gerah dengan mereka-mereka yang mengeroyokku. Bukannya aku meremehkan mereka, bahkan kadang aku salut dengan perjuangan mereka untuk merintis karir. Tapi karena waktuku tidak banyak, ditambah rasa capek karena seharian beraktivitas, maka kehadiran mereka aku rasakan sebagai gangguan atas kenyamananku berbelanja.

Dan aku bertanya-tanya, kenapa di tempat yang sama sewaktu aku berpenampilan biasa aku tidak pernah diserbu, sedangkan saat aku berpenampilan sedikit wah langsung dikeroyok? Hmm … akal sehatku semakin memahami, bahwa penampilan sudah menjadi tolak ukur bagi sebagian orang untuk melihat status seseorang.

* * *

Don’t Judge a Book by It’s Cover. Begitulah case pertama yang aku dapatkan sewaktu perjalanan 2 hari kemarin ke puncak. Sopir kantor menceritakannya sampai detail begitu kala aku menanyakan suka-duka menjadi seorang sopir. “Wah … ternyata begitu yah, perlakuan yang berbeda-beda terhadap orang. Naik mobil mewah dipanggil Bos, sedangkan naik motor butut, tidak dianggap sama sekali,” katanya dengan polos.

Aku hanya bisa berkomentar pendek: beginilah dunia ini melihat sekelilingnya. Namun berbagai pertanyaan berputar di pikiranku yang membuatku tidak habis pikir: sedemikian jauhkah orang melihat atribut sebagai sebuah status? Kenapa penampilan luar kadang dijadikan sebagai kiblat akan keberadaan dan bentuk perlakuan terhadap seseorang? Benarkah seseorang dengan penampilan necis selalu dipandang dibandingkan dengan orang yang penampilannya biasa-biasa saja?

Don’t Judge a Book by It’s Cover. Kala tenggelam dalam perenunganku, entah dari mana selembar adegan dalam film Pretty Woman dengan Julia Roberts dan Richard Gere hadir begitu saja. Aku mencoba menarasi ulang agedan tersebut berdasarkan imajinasiku menjadi case-2, yang ingin menyampaikan bahwa sudah separah itulah sekeliling melihat kita dalam sebungkus penampilan. Dan aku memang geram waktu melihat mata-mata yang langsung jelalatan kala mendapati seseorang dengan penampilan metereng, tetapi tatapan sinis diarahkan kepada seseorang yang berpenampilan sederhana. Namun aku tidak kuasa untuk menahan dan mengubahnya. Yang bisa aku lakukan hanyalah diam seribu bahasa.

Don’t Judge a Book by It’s Cover. Itulah pengalaman pribadiku dalam case-3. Dan aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa lagi, dan mengapa semua itu terjadi. Yang dapat aku lakukan hanyalah mengelus dada, dan berharap semoga suatu hari kelak semuanya itu berlalu seiring berhembusnya angin malam. Aku tidak mungkin bertanya lagi pada alam, soalnya konon dia udah pindah hehehe … dan biarlah lirik Ebiet G. Ade dalam lagunya Berita Kepada Kawan menginspirasi diriku untuk bertanya juga kepada rumput yang bergoyang.

Tapi dari kesemuanya, tidak fair aku memukul rata bahwa semua orang bersikap seperti itu. Aku masih percaya tindakan seperti itu hanyalah tindakan segelintir orang saja. Banyak dari mereka-mereka yang masih jernih mata hatinya, dan mereka benar-benar tulus dalam berperilaku. Dan aku yakin mereka juga mengenal ini: tidak pernah menghakimi seseorang berdasarkan bungkusnya saja …

*) penulis dapat dihubungi langsung di bun.hendri@gmail.com

Telah di baca sebanyak: 2068
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *