Dua Tuna Netra yang Berbahagia
May 3, 2010 by admin
Filed under Artikel Writing School
Mengamati hiruk pikuk kehidupan manusia seringkali menimbulkan inspirasi tentang makna hidup yang sesungguhnya dan pelajaran berharga tentang arti sebuah kehidupan. Bahwa makna hidup yang sebenarnya dapat Anda raih ketika Anda bisa memberi sesuatu yang barmanfaat bagi orang lain dan berefek pada terciptanya kebahagiaan bagi orang lain maupun diri sendiri. Tidak harus berupa materi, akan tetapi juga bisa berupa senyuman, ilmu pengetahuan, pertolongan, kasih sayang, ketulusan, dan lain-lain.
Dalam perjalanan naik kereta api ke Jakarta, sengaja saya singgah di rumah seorang sahabat di Bekasi. Beliau adalah teman satu profesi yang kebetulan ditempatkan bekerja di Bekasi. Saya berjalan mondar mandir di pintu keluar stasiun Bekasi, menunggu jemputan dari sahabat saya yang tidak kunjung datang. Panas sang Surya menambah perasaan gundah.
Di antara sekian banyak anak manusia dengan berbagai maksud dan tujuan masing-masing, saya melihat seorang tuna netra berjalan tertatih-tatih menuju pintu keluar stasiun. Tongkat yang ada ditangannya sesekali menyentuh orang-orang yang berada di sekitarnya. Wajahnya terlihat hitam mengkilat terkena peluh di pipinya. Di tempat yang cukup strategis akhirnya dia memutuskan untuk duduk menadahkan rejeki yang ditebarkan oleh Tuhan lewat tangan-tangan para dermawan yang lewat di depannya. Setelah beberapa saat wajahnya terlihat gelisah karena belum ada seorangpun yang memberinya uang.
Dari lorong ratusan manusia yang lalu lalang berjalan keluar masuk stasiun, satu lagi seorang yang membawa tongkat berjalan tertatih-tatih. Dia berjalan pelan menyusuri sela-sela lalu lalang manusia. Tongkat di tangannya juga beberapa kali menyentuh orang-orang di sekitarnya. Saat posisi dia mendekati si tuna netra yang dari tadi duduk sambil menadahkan tangan, tongkatnya juga menyentuhnya. Kali ini sentuhannya agak keras dan cukup megagetkan si tuna netra yang duduk. Dengan gerakan reflek tongkat tersebut diraihnya erat-erat. Namun seketika disadari bahwa dia pastilah temannya.
“Had, bagaimana? Ramai ngga?”
“Wah sepi dun.” Demikian sepenggal percakapan yang saya dengar dari mereka.
Saya tidak merasa penting untuk menangkap pembicaraan mereka lebih jauh. Ada satu pembelajaran yang bermanfaat bagi saya yaitu makna akan sebuah persahabatan atau persaudaraan. Saya menangkap ada rona kebahagiaan dari wajah mereka. Saya yakin Anda juga pernah mengalami hal yang relatif sama. Bertemu dengan seorang sahabat, dalam situasi tertentu dimana Anda dan sahabat Anda saling bisa merasakan kebahagiaan dari pertemuan tadi.
Momen-momen yang serupa dengan fenomena diatas sebenarnya seringkali memberi pelajaran berharga tentang hakekat kebahagiaan sejati. Kita hendaknya pandai memetik makna dari momen diatas. Dalam pandangan ilmu psikologi, kebahagiaan hidup sejati adalah kesejahteraan jiwa atau kesejahteraan psikis (psikological well-being) yang dapat diterima oleh semua orang. Artinya, memiliki kesejahteraan jiwa yang dapat digambarkan dengan seberapa positif seseorang menghayati dan menjalani fungsi-fungsi psikologisnya dalam hidup, memiliki hubungan yang baik dengan orang lain, serta bagaimana seseorang bisa memberikan makna bagi orang lain. Untuk bisa memperoleh poin-poin di atas tentunya dapat dilakukan dengan membangun persahabatan dengan orang lain. Menghormati, menghargai, dan menganggap penting orang lain.
Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Sejelek-jelek manusia adalah manusia yang keberadaannya di dunia seperti tidak ada. (***)
*) Supandi. Alumni Workshop menulis buku Best-Seller ini merupakan Guru SMP Negeri 2 Binangun, Cilacap. Dapat dihubungi langsung di supandi_mm@yahoo.com













Well said. Ditunggu karya lainnya yg spectakuler
Tulisan Pak Pandi mengingatkan saya untuk selalu bersyukur dan berbahagia, walaupun bagaimanapun keadaan kita. Sang tunanetrapun tersenyum dengan tulus. Mengapa kita tidak?
Betul pak Agung, kadang kita lupa untuk bersyukur atas nikmat dari Tuhan yg tiada terhingga.
Salam sukses
Mba Sri : trim ksh, minta doanya.
bahagianya aku bisa membaca pengalaman 2 dari para penululis. tks.
Terimakasih atas tulisan yang menggugah rasa bersyukur. Bahwa bahagia asalnya dari dalam hati sendiri, bukan kelengkapan tubuh maupun kekayaan materi….
Mba Emmy : Dengan banyak bersyukur maka Tuhan akan menambah nikmat kepada kita. Untuk itu ketika kebahagiaan itu terusik maka sebaiknya kita tundukkan kepala kita, bahwa ternyata masih banyak saudara2 kita yg tidak lebih baik tingkat keberuntungannya dibanding kita.
Salam sukses
Betul….betul….., I have complained that I don’t have new shoes when I met a man without feet.
PAk, itu salah satu dari sekian pengemis tuna netra di stasiun Bekasi. Ada juga sepasang pengemis, yang perempuan cacat kalinya dan yang laki2 buta matanya. Mereka saling sinergi mencari nafkah bersama dalam kereta dg cara mengemis. Kalau turun dari kereta si Buta menggendong si lumpuh. Begitu saya lihat tiap hari ketika saya masih setia menggunakan jasa kereta api yang selalu sesak.
alhamdulillaah….today i m happy….i can read ur writing….
@Mas Suryono : Terima kasih Anda telah berkunjung ke web ini dan membaca tulisan saya. Salam kenal.
@Mba Emy Titik : Kita Kadang begitu,..lupa bersyukur atas kesempurnaan fisik yang kita miliki. Marilah kita berusaha menjadi manusia yg pandai bersyukur.
@Mba Ana : Iya mba, sy kita suka merasa iba melihatnya. Salam.
@Mba Eko : terima kasih atas kunjungannya. Semoga tulisan tsb bermanfaat.
Thanks,Mr Pandi.
Mengingatkan keluarga istriku, jg ada pasangan tuna netra tinggal di semarang yg buka jasa pijat dg beberapa temannya yg senasib.aq kagum 5 mrk(meski br dengar critanya aj).
Mk sy sangat bersyukur atas smoa yg tlh dilimpahkan kpd q…
Mas Jonet, justru kepada orang2 yg cacat secara fisik biasanya diberikan kelebihan oleh Tuhan YME.
Terima kasih atas kunjungannya.
Pak, luar biasa…..