Kolom Alumni

Dua Tuna Netra yang Berbahagia

Oleh: Supandi

Mengamati hiruk pikuk kehidupan manusia seringkali menimbulkan inspirasi tentang makna hidup yang sesungguhnya dan pelajaran berharga tentang arti sebuah kehidupan. Bahwa makna hidup yang sebenarnya dapat Anda raih ketika Anda bisa memberi sesuatu yang barmanfaat bagi orang lain dan berefek pada terciptanya kebahagiaan bagi orang lain maupun diri sendiri. Tidak harus berupa materi, akan tetapi juga bisa berupa senyuman, ilmu pengetahuan, pertolongan, kasih sayang, ketulusan, dan lain-lain.

Dalam perjalanan naik kereta api ke Jakarta, sengaja saya singgah di rumah seorang sahabat di Bekasi. Beliau adalah teman satu profesi yang kebetulan ditempatkan bekerja di Bekasi. Saya berjalan mondar mandir di pintu keluar stasiun Bekasi, menunggu jemputan dari sahabat saya yang tidak kunjung datang. Panas sang Surya menambah perasaan gundah.

Di antara sekian banyak anak manusia dengan berbagai maksud dan tujuan masing-masing, saya melihat seorang tuna netra berjalan tertatih-tatih menuju pintu keluar stasiun. Tongkat yang ada ditangannya sesekali menyentuh orang-orang yang berada di sekitarnya. Wajahnya terlihat hitam mengkilat terkena peluh di pipinya. Di tempat yang cukup strategis akhirnya dia memutuskan untuk duduk menadahkan rejeki yang ditebarkan oleh Tuhan lewat tangan-tangan para dermawan yang lewat di depannya. Setelah beberapa saat wajahnya terlihat gelisah karena belum ada seorangpun yang memberinya uang.

Dari lorong ratusan manusia yang lalu lalang berjalan keluar masuk stasiun, satu lagi seorang yang membawa tongkat berjalan tertatih-tatih. Dia berjalan pelan menyusuri sela-sela lalu lalang manusia. Tongkat di tangannya juga beberapa kali menyentuh orang-orang di sekitarnya. Saat posisi dia mendekati si tuna netra yang dari tadi duduk sambil menadahkan tangan, tongkatnya juga menyentuhnya. Kali ini sentuhannya agak keras dan cukup megagetkan si tuna netra yang duduk. Dengan gerakan reflek tongkat tersebut diraihnya erat-erat. Namun seketika disadari bahwa dia pastilah temannya.

“Had, bagaimana? Ramai ngga?”
“Wah sepi dun.” Demikian sepenggal percakapan yang saya dengar dari mereka.

Saya tidak merasa penting untuk menangkap pembicaraan mereka lebih jauh. Ada satu pembelajaran yang bermanfaat bagi saya yaitu makna akan sebuah persahabatan atau persaudaraan. Saya menangkap ada rona kebahagiaan dari wajah mereka. Saya yakin Anda juga pernah mengalami hal yang relatif sama. Bertemu dengan seorang sahabat, dalam situasi tertentu dimana Anda dan sahabat Anda saling bisa merasakan kebahagiaan dari pertemuan tadi.

Momen-momen yang serupa dengan fenomena diatas sebenarnya seringkali memberi pelajaran berharga tentang hakekat kebahagiaan sejati. Kita hendaknya pandai memetik makna dari momen diatas. Dalam pandangan ilmu psikologi, kebahagiaan hidup sejati adalah kesejahteraan jiwa atau kesejahteraan psikis (psikological well-being) yang dapat diterima oleh semua orang. Artinya, memiliki kesejahteraan jiwa yang dapat digambarkan dengan seberapa positif seseorang menghayati dan menjalani fungsi-fungsi psikologisnya dalam hidup, memiliki hubungan yang baik dengan orang lain, serta bagaimana seseorang bisa memberikan makna bagi orang lain. Untuk bisa memperoleh poin-poin di atas tentunya dapat dilakukan dengan membangun persahabatan dengan orang lain. Menghormati, menghargai, dan menganggap penting orang lain.

Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Sejelek-jelek manusia adalah manusia yang keberadaannya di dunia seperti tidak ada. (***)

*) Supandi. Alumni Workshop menulis buku Best-Seller ini merupakan Guru SMP Negeri 2 Binangun, Cilacap. Dapat dihubungi langsung di supandi_mm@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 2697
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *