Wandi S Brata

Elevator Rusak


Anda ingin lebih kreatif dan tampil impresif? Salah satu caranya, tunjukkan ucapan orang besar sebagai omong kosong. Kalau tak bisa melakukannya sendiri, gunakan pendapat orang besar yang lain untuk menihilkan pendapat orang besar pertama tadi. Dengan cara itu, Anda mendapatkan keduanya.

Gara-gara menunggangi gajah, singa pun tak akan mengusik Anda. Itulah dahsyatnya mbonceng orang besar. Tiba-tiba saja, Anda jadi ikut diperhitungkan sebagai besar. Lebih dahsyat lagi bila Anda bisa menunjukkan orang besar itu tidak terlalu besar-besar amat, dengan menyanggah ucapan atau pandangannya, misalnya. Mungkin karena itu, ada kenikmatan tertentu ketika kita melakukan pembangkangan terhadap orang besar. Apalagi kalau pembangkangan itu “rasional”, “nothing personal”, dan punya dasar kebenaran yang amat kuat.

Mari kita lihat contoh penerapan prinsip ini, dengan menunggangi Gajah Joe untuk menganulir pendapat Gajah Alexander.

Alkisah, setelah menaklukkan Persia, Alexander Agung, Jenderal Macedonia, menangis tersedu-sedu karena tak lagi melihat adanya dunia yang bisa dia taklukkan. Joe Girard, penjual mobil legendaris yang prestasinya belum tertandingi sampai kini, kontan menyanggah kisah itu, “Omong kosong! Tentu saja selalu ada lebih banyak dunia baru yang bisa ditaklukkan!”

Liburan di rumah Ibu, saya menemukan kembali buku yang pernah saya baca dua belas tahun yang lalu, rapih di antara ribuan buku yang entah diambili siapa kini tinggal sekitar seribu, semarak berjajar di rak. Terbit tahun 1997, judulnya Mastering Your Way to the Top, karya Joe Girard, yang ditulis bersama Robert Casemore. Gara-gara membaca lagi buku itu, saya terinspirasi untuk menulis artikel pendek ini.

Joe Girard kecil hidup di kawasan kumuh di Detroit, kota industri mobil terbesar di dunia. Pada umur sembilan tahun, dia mencari uang sakunya dengan menyemir sepatu di sebuah bar di kotanya. Dia punya foto berpigura yang menggambarkan itu. Entah siapa yang ngasih. Kiranya bukan karena dia pesan, sebab ada inkonsistensi di sini. Betapa tidak, untuk mengais receh, dia menjadi tukang semir. Jadi, mana sempat foto segala dia pikir?

Setelah dewasa dia mulai bekerja di beberapa bidang, termasuk di real estat, dan gagal.

Dia melihat dunia baru dan dia jajah. Dia mulai berkarya sebagai seorang penjual mobil pada tahun 1963, saat berumur 35 tahun. Bekalnya hanya sebual telepon, sebuah buku telepon, dan sebuah meja berdebu di sudut ruang kosong di salah satu dealer mobil. Dari awal yang amat sederhana itu, setelah tiga tahun menjalani profesinya, dia menjadi penjual mobil eceran nomor satu di dunia. Prestasinya terekam dalam Guiness Book of Records. Dia meroket ke puncak prestasi dunia yang sampai kini belum ada tandingannya.

Dari tahun 1966 sampai 1977, selama duabelas tahun, dia menjadi penjual mobil eceran nomor satu di seluruh dunia. Pada saat berhenti dari karier ini, ketika berumur 49 tahun, dia telah berhasil menjual 13.001 mobil. Semuanya secara eceran, bukan partai besar. Kadang-kadang dia berhasil menjual 170 mobil dalam sebulan. Pada tahun 1973 saja, dia berhasil menjual 1.425 mobil, semuanya kepada pembeli perorangan.

Dari sana dia melihat dunia baru lagi yang perlu dia jelajahi. Dari penjual menjadi pembicara internasional. Itu perjalanan Joe Girard, yang lebih nikmat dia hayati karena dengan cara itu dia bisa berbagi. Itulah dunia baru yang dia taklukkan. Setelah sendiri sukses besar sebagai penjual, kiat suksesnya pasti menjadi barang dagangan yang banyak diminati. Jadilah dia penceramah berbayar amat tinggi. Pendengarnya adalah marketing executives dari berbagai penjuru negeri. Panggungnya ada di Amerika Serikat dan Kanada, Australia dan Selandia Baru, Eropa, Amerika Tengah, Malaysia dan bahkan Indonesia.

Tak disebutkan dalam bukunya, tapi saya tak heran kalau dia juga jadi pembicara favorit di Afrika dan India. Singapura mungkin bisa saya pastikan ada di daftar, karena para pembicara top dunia biasanya menaruh gula di situ untuk mengundang semut dari negara-negara sekitarnya. Oleh para jagoan dunia, Singapura dianggap paling aman dan strategis untuk menyelenggarakan seminar maupun workshop internasional yang mengundang orang-orang dari penjuru Asia yang rela berinvestasi untuk pengembangan diri.

Perjalanan dari penjual menjadi pembicara internasional itu ditempuh sembari menjadi penulis buku. Selain buku yang sudah saya sebut, dia juga telah menulis bestseller dunia berjudul How to Sell Anything to Anybody, How to Close Every Sale, dan How to Sell Yourself.

Tung Desem Waringin motivator dan marketer spektakuler di Indonesia saat ini punya pesan yang pantas kita perhatikan. Penulis bestseller Financial Revolution dan Marketing Revolution itu mengatakan, “Kalau mau sukses, belajarlah dari orang-orang yang terbaik di dunia di bidangnya.” Kalau Anda ingin sukses sebagai marketer atau salesman, belajarlah dari Joe Girard. Uang yang Anda keluarkan untuk membeli buku-bukunya tak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan wawasan yang akan jadi modal kesuksesan Anda.

Sesungguhnya, bukan hanya kesuksesan sebagai marketer atau salesman yang akan kita pelajari dari empat buku besar Joe Girard itu, melainkan juga sukses hidup pada umumnya. Ada prinsip umum yang mendasari sukses di segala bidang. Karena itu, berangkat dari marketing atau salesmanship pun kita akan sampai ke bidang lain juga. Lebih dari itu, buku yang saya sebut pertama, Mastering Your Way to the Top, secara jelas memberi kita wawasan dan kiat untuk mencapai sukses hidup itu, dan bukan sekadar menjadi penjual.

Buku itu diramu untuk memudahkan kita untuk mencapai puncak gunung impian kita dan tetap mampu bertahan di sana. Tapi sejak awal, Joe Girard mengingatkan kita untuk tidak sekali-kali mengharapkan hal itu terjadi dalam semalam. Ini memerlukan persiapan, pengetahuan, kemampuan untuk menentukan tujuan, penilaian yang bijak, kegigihan, dan pengembangan diri terus menerus.

Sikap mbeling Joe Girard dia nyatakan ketika menulis begini, “Kalau itu sepertinya terlalu banyak menuntut, letakkan saja buku ini, atau pinjamkan kepada seorang teman Anda, atau berikan saja kepada seseorang untuk ganjal pintu!”

Sebaliknya, kalau Anda mengira bahwa itu tidak terlalu banyak menuntut, dia juga tak rela rupanya. Kalau itu yang terjadi, “Selamat tinggal!” katanya. “Ketahuilah: langkah-langkah penting yang saya kuasai, dan yang bisa Anda kuasai pula, bisa membawa Anda ke mana pun Anda akan menuju, dengan rasa hormat dan kepuasan yang besar akan apa yang Anda peroleh.”

Pendek kata, tak perlu takut terhadap prosesnya, tapi juga jangan remehkan seakan segalanya akan serba gampang. Perlu persiapan mental sejak awal.

Banyak orang tidak sukses karena tidak tahu caranya. Joe Girard telah menuliskan caranya dalam buku-bukunya. Terlalu panjang kalau harus ditulis di sini. Lagi pula, tujuan saya juga hanya memprovokasi Anda agar mulai membaca warisan orang-orang besar dunia, untuk memfasilitasi Anda agar menjadi orang yang lebih kreatif dan impresif, demi kesuksesan Anda.

Tak ada jalan pintas untuk itu. Salah satu langkah awalnya adalah dengan mempelajari buku-buku bermutu. Langkah-langkah lainnya harus kita lakukan sendiri. Karena itu, kutipan Girard kiranya perlu menutup tulisan ini, “Kepada orang yang ingin mencapai puncak tanpa mau melakukan langkah-langkah yang penting untuk bisa sampai ke sana, telah saya persiapkan peringatan ini: Anda harus mendaki ke puncak selangkah demi selangkah, karena elevatornya rusak!” ***

*) Wandi S Brata, Direktur Gramedia. Dapat dihubungi langsung di wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 3106
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *