Kolom Bersama

Essay untuk Pejabat Trias Politika

Tok….tok….tok….Hai para pengelola negeri, ijinkanlah kami rakyatmu mengetuk pintu hati nuranimu. Mohon dibukakan barang sedikit agar kalian melihat kenyataan hidup yang dialami rakyatmu ini. Kini kami menjerit karena harga-harga pangan melejit. Kami harus berencana lebih teliti sebelum membeli daging sapi atau daging ayam atau bahkan sekedar telor ayam karena harganya melambung. Di beberapa tempat, kenaikan hingga dua kali lipat mungkin kalian anggap biasa. Tapi bagi kami, bagaimana bisa meningkatkan gizi anak-anak kami?

Seperti biasa, setiap menjelang lebaran harga naik seolah tanpa kontrol. Kejadian yang merupakan suatu keniscayaan di setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri. Hukum pasarkah yang berlaku? Dimanakah peranmu, hai, para pengelola negeri? Mengapa kalian bergeming saja melihat kejadian yang selalu berulang itu? Bukankah kalian berkuasa, bahkan berkewajiban, melindungi kami rakyatmu dari hisapan pasar yang bersifat rakus? Apakah kalian terlalu sibuk memikirkan partai, kelompok, kepentingan kalian sendiri sehingga lupa akan amanah yang kami berikan padamu untuk mengelola negeri ini berikut kehidupan kami? Lebih memilih membereskan kekacauan di dalam kelompok kalian sendiri dibanding keresahan yang dialami rakyatmu?

Kamipun tidak habis pikir, negeri yang dianugerahi Sang Pencipta dengan bentangan pantai terpanjang ini harus impor garam? Kamipun bingung, dengan lahan yang sedemikian luas mengapa kelapa, teh, kopi dan cabai mesti didatangkan dari negara tetangga? Kami juga masih tidak mengerti, daging sapi, daging ayam dan telur pun harus diimpor? Apakah ada dari kalian para pengelola negeri ini yang diuntungkan dengan adanya bisnis imporisasi produk-produk itu? Ataukah kalian beralasan karena produksi dalam negeri tidak mencukupi sehingga harus bertransaksi dengan dollar? Seandainya alasan itu benar, sekali lagi seandainya benar, mengapa bukannya kalian memberdayakan kami supaya bisa bertani dan beternak dengan lebih efektif sehingga kebutuhan dalam negeri bisa tercukupi?

Semoga ketukan kami kalian dengar, hai, pengelola negeri. Janganlah kau ubah sifat utamamu sebagai pengelola menjadi penguasa, budak nafsu kuasa, yang cenderung mencaplok segala demi keuntungan diri.

Tok…tok…tok….Hai para wakil rakyat, perkenankan kami rakyat yang kalian wakili mengetuk pintu lubuk hatimu. Kalian disebut wakil rakyat yang terhormat, maka sudilah mendengarkan keluh kesah kami supaya tetap menjadi terhormat di mata kami. Kami sering bertanya-tanya, apakah bangsa ini menderita kepribadian ganda atau yang lebih terkenal disebut schizophrenia? Bagaimana tidak, bangsa yang menempatkan cita-cita mulia, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai salah satu pilar konstitusi, namun tidak ada keseriusan menggarap pendidikan. Bagaimana bisa mencerdaskan generasi muda negeri ini jika mereka harus bersesakan di ruang sempit untuk belajar karena ruang kelas mereka sudah tak beratap? Sesak batin kami ketika menunggu hingga 5 tahun namun tidak juga ada perbaikan bagi sekolah kami di Kediri? (kompas.com 26 Mei 2011). Semakin menyesakkan ketika menyadari ada lebih dari dua ratus ribu ruang kelas yang rusak (kompas.com 30 Maret 2011).

Dimanakah peranmu, hai, wakil rakyat yang terhormat untuk mewujudkan cita-cita luhur pendiri bangsa itu? Bukankah dengan fungsi legislasi kalian dapat membuat undang-undang yang bisa menetukan arah pendidikan negeri ini? Bukankah dengan fungsi anggaran kalian bisa ikut menentukan seberapa besar perhatian negeri ini pada pendidikan? Bukankah dengan fungsi pengawasan kalian dapat menjaga jalannya proses pendidikan agar tetap berjalan di rel yang benar?

Dada ini makin sesak dengan kenyataan adanya bau busuk yang terhembus keluar dari tingkah polah kalian. Anggaran pendidikan yang minim masih saja kalian tilep. Dana yang mestinya bisa membuat gedung sekolah berdiri kokoh, kalian sunat. Hasilnya, spesifikasi bangunan pun tersunatkan. Alih-alih bisa bertahan puluhan tahun, belum genap dua tahun atap sudah ambruk. Bagaimana kecerdasan bangsa bisa terwujud jika tilep menilep dan sunat menyunat uang negara masih kalian lakukan. Sungguh, mafia anggaran dalam kelompok kalian ternyata tidak kalah kejamnya dengan mafioso dari negeri seberang.

Semoga ketukan kami kalian dengar, hai, wakil rakyat yang (masihkah) terhormat. Jangan jadikan diri kalian menjadi budak partai politik yang melupakan kami rakyat yang kalian wakili.

Tok…tok…tok…Hai kalian yang duduk di singgasana di balik meja hijau menegakkan hukum di negeri ini, perbolehkan kami rakyat kecil mengetuk pintu kalbumu. Benar, kami memang rakyat kecil. Tidak punya kuasa. Tidak punya modal. Tidak punya pengaruh. Namun, kami yakin bahwa hukum di negeri ini berlaku bagi siapapun dengan adil. Bahkan dewi keadilan menegakkan keadilan dengan mata tertutup supaya lebih menggunakan mati hati. Hukum berlaku untuk siapa saja. Kami percaya dan mengamininya.

Tetapi, apa yang kami percayai itu seringkali tidak sesuai dengan kenyataan. Kami, rakyat kecil, banyak merasakan ketidakadilan. Kalian tegas terhadap kami, tapi lembek pada penguasa politik maupun ekonomi. Kalian tidak ragu menghukum pencuri ayam, namun untuk mengetukkan palu pada koruptor rasanya berat. Ketika kami berlawanan secara hukum dengan mereka yang berkasta tinggi, baik itu dari sisi kuasa ataupun ekonomi, kekalahan menjadi suatu keniscayaan bagi kami. Hanya mengelus dada dan menahan napas untuk meredam kejengkelan yang bisa kami lakukan.

Sang Dewi Keadilan, yang dengan mata tertutup menggenggam pedang dan neraca, mungkin kalian modifikasi demi kepentingan kalian sendiri. Penutup mata yang membuatnya tidak pandang bulu mungkin kalian ganti dengan yang transparan, yang membuat mata silau akan kuasa dan harta. Pedang yang digenggam sengaja hanya diasah bagian bawah, sehingga tajam bagi kami, tumpul bagi kaum elit. Neraca mungkin sengaja tidak dikalibrasi yang membuatnya akan selalu tidak seimbang, lebih condong pada yang berdompet tebal dan berkuasa. Mantra ‘hukum bagi semua’ kini tinggal mantra.
Semoga ketukan kami kalian dengar, hai, pemegang palu keadilan. Jangan jadikan diri kalian budak kuasa dan uang. Jadilah penegak keadilan bagi semua.

Masih banyak sebenarnya keluh kesah yang akan kami sampaikan. Masih banyak hal melenceng yang kami lihat dan yang akibatnya kami rasakan. Kepada siapa lagi kami mengadu kalau tidak kepada kalian pemegang kuasa di eksekutif, legislatif dan yudikatif? Namun kami tidak langsung mendobrak pintu nurani kalian dengan berondongan keluhan. Kami coba dengan ketukan pelan. Kami lontarkan jerit hati dengan lembut. Kami percaya, nurani kalian masih peka.

*) YB Riyanto. Alumni Writer Schoolen ini dapat dihubungi langsung di y.briyanto@gmail.com

Telah di baca sebanyak: 1411
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *