Pitoyo Amrih

Facebook: Belajar dari para Raksasa Dunia Maya (bag 3)


Seri Membangun Bisnis Dunia Maya (32)

Rata-rata anak muda, diawal-awal masa kuliah, bila dia menghadapi sebuah masalah, masalah keuangan, diputus pacar, tidak lulus ujian dan sebagainya, biasanya mereka melakukan hal-hal yang agak radikal untuk melampiaskan kekesalannya. Ada yang berbau positif misal dengan siang malam melakukan hasrat hobi dan kesenangannya tanpa kenal waktu, kenal lelah, atau peduli pada tetangga. Saya pernah kenal seorang teman yang ketika dia tidak lulus sebuah mata kuliah melampiaskan dengan bermain gitar semalaman genjrang-genjreng membuat bising satu RT.

Tapi amat disayangkan, banyak juga diantara para pemuda mahasiswa itu melampiaskan kekecewaan dengan hal yang jelas-jelas negatif, dengan cara merusak. Baik merusak diri sendiri maupun merusak hal-hal yang seharusnya di pelihara dengan baik. Ada yang membenamkan diri dengan minuman keras merusak otak mereka. Ada yang membuat onar kesana-kemari meresahkan banyak orang. Konon katanya, sebagian besar para pemuda mahasiswa yang sering demo terpampang di televisi, masalah utamanya sebenarnya bukan pada aspirasi apa yang mereka sampaikan, tapi lebih kepada ungkapan rasa kecewa tanpa kendali yang baik, yang bisa berbuntut anarki dan pengrusakan-pengrusakan.

Dan anda mungkin akan tersenyum kecut bila membaca kisah sukses Mark Zuckenberg dengan Facebook-nya. Karena semua itu berawal dari rasa frustasi dan kecewanya saat di tinggal pacar di awal-awal musim kuliahnya dulu! Nah!

Istilah Facebook, awal mulanya tidak muncul dengan sendirinya sebagai kata-kata karangan Zuckenberg sendiri. Itu adalah sebuah istilah. Di Amerika sono, ada sebuah kebiasaan lokal di beberapa kampus, para mahasiswa baru dibuatkan semacam lembaran profil mengenai data diri mereka lengkap. Setiap mahasiswa punya profil sendiri, kemudian kumpulan profil sekian banyak semua mahasiswa baru itu, dibendel menjadi sebuah buku tebal, dan dibagikan ke semua mahasiswa universitas tersebut. Bendelan buku profil inilah yang diberi judul “face book”. Karena memang diberi judul demikian di halaman mukanya, semua latah demikian, mengikuti ide yang pertama kali konon terjadi di sebuah sekolah akademi bernama Phillip Exeter Academy, yang ketika itu menjadi tempat yang menjelang tahun 2000-an, pertama kali memiliki kebiasaan menerbitkan buku diberi judul ‘face book’ setiap tahunnya yang berisi profil lengkap semua mahasiswa baru.

Kira-kira mulai tahun 2003-an, Harvard University, membuat fungsi ‘face book’ tadi tapi dalam bentuk software yang ditanam di jaringan Local Area Network dan hanya bisa di akses secara internal. Tampilan muka ‘face book’ versi softcopy ini berisi profil seluruh mahasiswa dan kompilasi foto-foto yang bisa di-upload, di-update dan di-akses siapa pun secara internal di lingkungan universitas. Karena merupakan sebuah laman resmi sebuah universitas, maka profile-name yang tertera pun nama sebenarnya, profile-picture juga gambar sebenarnya dari sang empunya nama, juga semua informasi ter-up-load merupakan informasi yang memang apa adanya.

Nah, menurut ceritanya, di suatu malam di bulan Oktober 2003, Zuckenberg sang Facebook.com founders, yang ketika itu masih di tingkat pertama kuliah di Harvard University, ketiban sial diputus pacarnya. Malam itu juga dia nge-blog semalaman melampiaskan kekesalannya. Dan kemampuannya dalam hal membobol jaringan orang lain pun, malam itu seakan mendapat stimulus, sehingga semalaman dia duduk di depan layar melakukan keisengan, membobol jaringan Harvard, men-download ID semua mahasiswa secara ilegal, dan kemudian meng-upload-nya di internet ruang publik, dengan nama Facemash. Sekaligus di malam itu juga dia melakukan modifikasi tampilan profile itu sehingga setiap orang bisa menuliskan komentar pada setiap profile serta upload foto-foto tambahan secara bebas. Mungkin sebagai pelampiasan agar dia bisa marah-marah dengan seseorang secara diam-diam lewat profil-nya.

Rupanya sejarah terukir malam itu. Hanya dalam waktu empat jam sejak Facemash mengudara di dunia maya, tercatat ada 450 visitor entah dari mana, dan lebih dari duapuluh ribu foto terup-load malam itu oleh entah siapa. Hanya dalam beberapa hari muncul ratusan ID-ID baru karena Zuckenberg juga me-modifikasi fungsinya sehingga memungkinkan setiap orang –khususnya mahasiswa, karena saat itu begitu heboh beritanya di kalangan mahasiswa di Amerika- untuk membuat profil-profil baru. Dan karena profil yang terdahulu memperlihatkan nama asli serta foto profil dengan gambar foto diri sebenarnya, maka para follower baru itu pun ikut terbawa dengan membuat profil nama asli dan foto jujur.

Selama beberapa minggu setelah itu, Zuckenberg harus menghadapi masalah hukum atas apa yang dilakukannya. Harvard menuntutnya dengan bermacam pelanggaran, pembobolan, pencurian data, pembajakan software. Facemash pun di tutup. Tapi pengalaman berharga itu rupanya telah menginspirasi Zuckenberg.

Menjalani masa skorsing akibat apa yang dilakukannya, mulai January, 2004, dia justru mulai membuat script website sendiri mengambil ide ala Facemash dengan penyempurnaan-penyempurnaan. Dia pun menyampaikan gagasannya kepada teman-teman sekamarnya di asrama. Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes. Mereka pun menciptakan mimpi bersama mereka ingin membuat semacam buku angkatan “face book” yang tidak hanya di sebuah lingkup universitas, tapi terpampang di jaringan publik, dengan fungsi-fungsi interaktif yang tentunya tidak mungkin bisa dilakukan bila hanya dalam bentuk bendel print-out. Mereka daftarkan pertama kali dengan nama thefacebook.com, kemudian melakukan publikasi kepada teman-teman mereka sehingga menjadi sebuah functioned-engine yang berfungsi sebagai social networking.

Ketika itu sudah nge-top social-network yang terkenal semacam friendster, myspace dan sebagainya yang lebih banyak memakai nama alias dan foto avatar. Dan pilihan nama ‘facebook’ itu cukup mengena. Karena semua mahasiswa akan langsung terbawa pikiran mereka kepada bendel data profil yang seharusnya memuat profil secara jujur, nama aslinya, dan foto asli mereka. Dan hanya dalam waktu duapuluh empat jam, terdaftar lebih dari sepuluh ribu member, dan menampilkan nama, foto, serta informasi tentang mereka apa adanya.

Sejak itu bagai bola salju bergulir. Semua orang tidak hanya mahasiswa menjadi member thefacebook.com yang kemudian diubah menjadi facebook.com agar lebih mudah diingat. Pelajar, para profesional, ibu rumahtangga, politikus, semua dengan sukarela menjadi member, dan meng-upload nama, foto, serta informasi mereka apa adanya. Dan inilah yang sampai saat ini menjadi kekuatan facebook dibanding social network lainnya. Orang akan dengan mudah menemukan teman lama mereka, keluarga yang sudah lama terpisah. Para penggemar public-figure dengan mudah bertegur sapa dengan idolanya.

Sampai sekarang tercatat lebih dari delapan ratus juta member terdaftar, lebih dari puluhan juta visit setiap harinya, bergerak antara urutan dua dan tiga berdasarkan rangking jumlah visit yang di-index Alexa.com. Berganti-ganti berkejaran dengan posisi Yahoo!. Tak heran para raksasa dunia usaha ini pun melirik dan menggelontorkan share kepemilikan atas facebook.com walaupun sampai sekarang, Mark Zuckenberg dan kawan-kawannya masih belum merubah status perusahaan ini sebagai usaha private. Perusahaan besar semacam Paypal, Microsoft dan beberapa individu bilionare dari berbagai negara bahkan sampai Asia seperti Hongkong dan Malaysia.

Setiap orang pastilah pernah mengalami kekecewaan-kekecewaan. Saya hanya mencoba bermimpi, alih-alih para adik-adik mahasiswa kita yang senang melampiaskan kekecewaan dengan cara-cara anarki, mengapa tidak mencoba melampiaskan kekecewaan dengan melakukan sesuatu yang mungkin dalam beberapa tahun bisa mendatangkan keuntungkan, syukur-syukur bermanfaat bagi banyak orang. Anda mungkin boleh skeptis, tapi yang jelas, Zuckenberg telah membuktikan bahwa hal itu bisa menjadi tidak hanya sekedar mimpi…

*) Pitoyo Amrih. www.pitoyo.com – home improvement; bersama memberdayakan diri dan keluarga

Telah di baca sebanyak: 1432
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *