Surya Rachmannuh

Fakta Sosial di Sekitar Kita

Terkadang kita terlena dengan aktivitas kita sehingga tidak menyadari adanya fakta-fakta sosial yang terjadi di sekitar kita, baik yang sudah terjadi tanpa kita sadari kehadirannya atau terkadang dapat berupa sebuah kejadian yang dulu dianggap tabu sekarang berubah menjadi sebuah acara reality show yang dikemas sedemikan rupa sehingga persepsi kitalah yang menjadi penentu akhirnya.

Cerita ini dimulai selepas beraktivitas dan beberapa hal lainnya di hari Rabu, 6 Januari 2010 sekitar jam 22 malam, saya menyaksikan sebuah tayangan televisi yang berjudul “Masihkan kau mencintaiku” yang membahas tentang seorang bapak yang berusia 40an dengan memakai topeng yang berwarna putih dengan para pendukungnya yang memakai topeng juga yang berada di sebelah kanan terdiri dari para adik dan adik iparnya sebanyak 4 orang melawan kubu disebelah kirinya dengan jumlah yang sama yakni 4 orang yang tidak lain dan tidak bukan adalah istri, satu anak laki-laki, satu anak perempuan dan ibu mertuanya sendiri.

Topik pembahasannya adalah apakah pantas istrinya yang setia mendampingi bapak tersebut selama 26 tahun itu serta melahirkan dua orang anak buah cinta kasih mereka itu diceraikan, dengan penyebab klasiknya adalah karena sudah tidak ada rasa cinta lagi, hubungan suami istri hanya sebagai sebuah kewajiban saja, dengan status kemapanannya dan situasi serta kondisi mendesak sebagai alasan utamanya, bapak itu bersikukuh untuk menceraikan istrinya dan ternyata sudah memiliki wanita idaman lainnya.

Saya mengikuti acara itu dengan seksama dan saya melihat serta merasakan betapa para panelis perempuan yang terdiri dari psikolog, mantan bintang film, pemerhati perempuan mencoba menyadarkan bapak itu dari segi moral, agama dan sudut pandang lainnya tentang arti pentingnya sebuah keluarga namun mengalami kegagalan dan sebagai puncak acaranya, ditampilkanlah seorang wanita yang memang telah berselingkuh dengan bapak itu sekian lama, terbukti atas pertanyaan salah satu panelis yang menanyakan apakah wanita selingkuh itu telah mengetahui resiko dari hasil perbuatannya dan wanita itu mengaku bahwa dia sudah memperhitungkan resiko perbuatannya sebelum tindakan perselingkuhan itu dilakukan.

Setelah melewati beberapa perdebatan sengit antara pihak keluarga dengan bapak beserta wanita selingkuhan yang digandengnya, dan penyataan terakhir dari anak bapak tersebut sangat mengejutkan karena dia menuding bapaknya telah mengidap penyakit HIV / AIDS berdasarkan pemeriksaan kesehatan bapaknya seminggu yang lalu ditempat klinik temannya. Bapak itu mencoba mengelak dan mungin itu berupa rekayasa, namun pernyataan itu membuat wanitan selingkuhan itu shock, seakan tidak percaya akan apa yang terjadi, dia langsung lari masuk ke belakang panggung, diikuti oleh para pesertanya dan meninggalkan sebuah akhir cerita drama keluarga yang tragis.

Para mitra pembelajar yang terhormat, ijinkan saya membahas hal tersebut diatas dari sudut pandang kepemimpinan. Pertama-tama kita ingat kembali kepada prinsip yang bersifat universal dan abadi. Salah satu dari prinsip itu adalah prinsip Tanam Tuai, yaitu apa yang ditanam orang, itu pula yang akan dituainya. Lepas dari seberapa jauh kesahihan dari reality show diatas, bapak itu langsung mendapatkan ganjaran berupa penyakit AIDS akibat perbuatannya, serta bapak itu telah gagal untuk menjadi pemimpin dan imam bagi keluarganya sendiri.

Jika lingkungan dijadikan alasan, alangkah naifnya dia sehingga dengan begitu mudah menyalahkan faktor diluar dirinya sendiri, bukan sebaliknya dia melakukan introspeksi dan mengambil peran serta tanggung jawab pemimpin sepenuhnya dengan cara kembali kepada keluarga, apalagi dengan sisa waktu yang sedikit karena penyakit AIDS yang dideritanya, lebih terlambat daripada tidak sama sekali.

Dari prinsip pertumbuhan dan perkembangan, secara psikologis bapak itu baru sampai tingkat remaja, dimana masih mencari jati diri, coba-coba, kurang bertanggung jawab yang ingin mencoba segala sesuatu tanpa memikirkan konsekuensinya di masa yang akan datang. Dari segi usia, bapak tersebut seharusnya sudah menjadi teladan bagi generasi muda, bukan sebaliknya, memberikan contoh yang tidak patut untuk ditiru dengan cara mengingkari janji pernikahan, selingkuh dan menceraikan istri serta merusak hubungan antara ayah dan anak-anak. Maka benarlah ungkapan yang mengatakan bahwa menjadi tua itu pasti sedangkan menjadi dewasa adalah masalah pilihan dan pilihan itu 101% berada ditangan kita.

Sebagai penutup dari sharing kita kali ini, saya pun berharap agar kita masing-masing dapat mengintrospeksi diri kita masing-masing agar kita mampu mengendalikan diri kita sendiri dengan baik, tidak peduli seberapa keras tekanan lingkungan yang diberikan dunia kepada kita, sepanjang kita kuat didalam diri, menentukan pilihan dan keputusan dengan benar serta mempertanggung jawabkan konsekuensi yang mungkin timbul diluar kendali kita maka kita akan bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang kuat sehingga anda mampu menjadi tuan atas diri anda sendiri, menjadi pemimpin atas keluarga anda dan bisa bersama membangun bangsa.

Happy Leadership

*) Surya Rachmannuh, penulis kolom tetap di www.pembelajar.com ini adalah praktisi training dalam bidang pelayanan prima, personal effectiveness, problem solving and decision making, pelatihan Leadership dan Management lainnya. Certified Lead Auditor dan Webmaster ini dapat dihubungi di Hp : 0819 3210 5388 atau www.webiddesign.com, surya.rachmannuh@yahoo.co.id, suryarachmannuh.blogspot.com

Telah di baca sebanyak: 1984
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *