Artikel Terbaru

Faktor Langit


Hal berikut ini diriwayatkan oleh Yani Tan. Ceritanya kemudian tersebar lewat media sosial, dan sampai juga kepada saya. Tak ada informasi mengenai siapa Yani Tan, kecuali bahwa ia merupakan salah satu dari sejumlah orang yang lolos dari bencana terorisme serangan atas World Trade Center (WTC) di New York City, 11 September 2001. Saya mencari namanya di mesin pencari, namun tak menemukan profil yang terkait dengan WTC.
Bagaimana Yani Tan yang berkantor di gedung WTC itu bisa selamat? Jawabnya adalah: sebuah sepatu baru. Ia memakai sepatu baru pagi itu dan berangkat kerja dengan bersemangat. Tetapi sebelum sampai di kantor, sepatu itu menyebabkan luka di tumitnya. Ia memutuskan berhenti di sebuah toko obat untuk membeli plester. Itulah hal yang menunda kehadirannya di bangunan yang runtuh di hari naas itu. Sebuah luka di tumit telah menyelamatkan nyawanya.

Dan itu bukan cerita satu-satunya. Dalam sebuah pertemuan yang mengundang sejumlah orang yang selamat dari peristiwa keji tersebut, ditemukan berbagai kesaksian menarik. Ada kepala keamanan perusahaan yang selamat pada hari itu karena mengantar anaknya hari pertama masuk taman kanak-kanak. Karyawan lain masih hidup karena hari itu adalah gilirannya membawa kue untuk murid di kelas anaknya. Seorang wanita terlambat datang karena jam wekernya tak berbunyi tepat waktu. Seorang karyawan selamat karena ketinggalan bus. Karyawan yang lain menumpahkan makanan di bajunya, sehingga perlu waktu untuk berganti pakaian. Ada pula pekerja yang sudah siap berangkat, namun masuk kembali ke dalam rumah untuk mengangkat telepon yang berdering. Lalu, karyawan yang lain tak mendapatkan taxi untuk ke kantor.

Kisah-kisah tersebut mengerucut pada sebuah kesimpulan: mereka selamat bukan karena ada keajaiban atau peristiwa spektakuler; bukan karena ada ramalan orang sakti yang bisa meneropong masa depan; mereka selamat karena peristiwa-peristiwa kecil yang sederhana dan remeh temeh; kejadian-kejadian sepele yang kadang menjengkelkan.

Yani Tan kemudian memaknai pengalamannya itu dengan berkata, ”Sekarang, jika saya terjebak dalam kemacetan lalu lintas, ketinggalan lift, harus masuk ke rumah lagi untuk menjawab telepon dan semua hal kecil yang mengganggu, saya sangat memahami, bahwa Allah benar-benar menginginkan saya berada di sini untuk saat ini”. Wow!

Pesona refleksi Yani Tan terletak pada misteri penyelenggaraan ilahi. Ia mengakui bahwa sesungguhnya, ia—dan juga mereka yang terselamatkan dari peristiwa spektakuler itu—tidak memiliki kiat sukses agar selamat dari malapetaka. Ia hanya mengalami anugerah Tuhan, yang menggunakan sepatu baru untuk melukai tumitnya dan menggerakkan hatinya untuk mampir ke sebuah toko obat untuk membeli plester. Peristiwa yang bagi sebagian orang disebut “kebetulan” itu ia maknai sebagai campur tangan Tuhan dalam hidupnya. Itu bukan sesuatu yang dia inginkan, melainkan hal yang Tuhan inginkan.

Yani Tan tidak selamat karena ia memimpikan atau punya target yang jelas dalam pikirannya. Ia tidak selamat karena punya komitmen dan disiplin kuat yang membuatnya lolos dari maut. Ia tidak selamat karena bekerja lebih keras dari orang lain yang tewas dalam peristiwa itu. Ia tidak selamat karena mampu berpikir kreatif dan inovatif. Tidak. Ia selamat karena “pengaturan langit”, bukan hasil usaha, pengetahuan, atau sikap hidupnya yang positif.

Belajar dari Yani Tan, saya kemudian memeriksa faktor-faktor apa yang telah menyelamatkan hidup saya dari kehancuran. Dan saya menemukan, ternyata memang cukup banyak “hal-hal kecil” yang awalnya nampak sepele dan tak menyenangkan, yang kemudian mengarahkan hidup saya hingga sampai pada kondisi saat ini.

Sebuah acara bertajuk Student Revival Meeting di Aula STT Duta Wacana, tahun 1981, membelokkan arah hidup saya. Sebuah retreat Persekutuan Siswa Kristen Yogyakarta, April 1983, mengubah pilihan studi saya di UGM. Sebuah pertemuan pimpinan organisasi mahasiswa di Puncak, Jawa Barat, tahun 1985, kelak membuka peluang karier profesional saya sebagai trainer berlisensi Dale Carnegie. Sebuah pelatihan jurnalistik di Kaliurang, Yogyakarta, tahun 1986, membekali saya dengan keterampilan yang membuat saya selalu mendapatkan pekerjaan tanpa pernah melamar pekerjaan. Semua itu, dan berbagai peristiwa lainnya, adalah peristiwa-peristiwa kecil yang tak saya pahami sepenuhnya. Semua terjadi begitu saja. Semua diatur oleh “faktor langit”, sesuatu yang di luar diri saya.

Apakah saya tak punya impian besar? Tentu ada. Apakah saya tidak memiliki komitmen untuk bekerja keras? Saya bekerja keras dan tekun dalam menghadapi berbagai kesulitan. Saya juga selalu berusaha menghasilkan karya tulis ilmiah atau pun populer sejak masih di kampus dulu. Saya serius dan bersungguh-sungguh dalam mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab saya, sebab percaya man jadda wajada, siapa bersungguh-sungguh akan berhasil. Saya membuat target-target tertentu untuk dicapai. Pendek kata, saya melakukan sejumlah hal untuk meraih impian saya dalam rangka memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan klien-klien yang saya layani.

Masalahnya, Yani Tan membuat saya berpikir bahwa apapun keberhasilan yang saya raih boleh jadi bukan hasil usaha saya, melainkan sebuah anugerah Tuhan semata. Artinya, ia ingin mengatakan bahwa “faktor saya” boleh jadi cukup penting, tetapi bukan yang terpenting. Usaha-usaha saya mungkin saja memengaruhi keberhasilan saya, tetapi bukan faktor yang menentukan. Yang terpenting dan menentukan itu adalah “faktor langit”.

Bagi orang seperti Yani Tan, keselamatan dirinya dan keberhasilan hidupnya tidaklah pertama-tama ditentukan oleh keinginannya, melainkan oleh keinginan “langit”. Karena itu ia tidak pantas untuk menonjolkan kehebatan dirinya, tetapi sudah selayaknya bersyukur dan memuliakan Sang Penciptanya.

Apakah Yani Tan seorang motivator? Jika ya, mungkin itulah yang disebut Theocentric Motivator.

* ANDRIAS HAREFA
Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun
Writer: 38 Best-selling Books
Beralamat di www.andriasharefa.com– Twitter @aharefa


Telah di baca sebanyak: 1911
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *