<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>training motivasi - pelatihan menulis - training for trainer - publik speaking - andrias harefa</title>
	<atom:link href="http://www.pembelajar.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.pembelajar.com</link>
	<description>info: 021-460 5757</description>
	<lastBuildDate>Thu, 16 May 2013 07:59:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>P + E = GT</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/p-e-gt</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/p-e-gt#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 May 2013 07:54:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Andrias Harefa]]></category>
		<category><![CDATA[P + E = GT]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman Adalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=5543</guid>
		<description><![CDATA[Kita, manusia, adalah mahluk yang senang memperbaiki diri. Dan selalu ada bidang kehidupan kita yang memang perlu diperbaiki dari waktu ke waktu. Coba perhatikan delapan bidang kehidupan berikut ini : o Karier dan bisnis o Keuangan keluarga o Keluarga dan kerabat o Kompetensi dan keterampilan o Kesenangan atau hobi o Kesehatan tubuh o Kepedulian sosial [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<hr />
<p><a href="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2010/05/andrias-harefa2.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-2540" title="andrias-harefa2" alt="" src="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2010/05/andrias-harefa2.gif" width="57" height="75" /></a> Kita, manusia, adalah mahluk yang senang memperbaiki diri. Dan selalu ada bidang kehidupan kita yang memang perlu diperbaiki dari waktu ke waktu.</p>
<p>Coba perhatikan delapan bidang kehidupan berikut ini :<br />
o Karier dan bisnis<br />
o Keuangan keluarga<br />
o Keluarga dan kerabat<br />
o Kompetensi dan keterampilan<br />
o Kesenangan atau hobi<br />
o Kesehatan tubuh<br />
o Kepedulian sosial<br />
o Kerohanian</p>
<p>Bidang kehidupan manakah yang paling banyak kita beri waktu dan kita perhatikan dalam, katakanlah, 3 tahun terakhir? Berikanlah tanda centang di depannya.<br />
Lalu, bidang kehidupan manakah yang paling sering kita abaikan dan tidak kita perhatikan karena kesibukan melakukan hal-hal lainnya? Berikan juga tanda centang di depannya.</p>
<p>Ketika dua pertanyaan ini saya ajukan kepada lebih dari 240 peserta program pelatihan High Impact Supervisory di sebuah bank terkemuka, sepanjang semester pertama tahun ini, maka nampaklah sebuah pola. Peserta yang terdiri dari 10 angkatan (kelas) itu umumnya mengaku memberikan waktu-waktu terbaik mereka untuk memikirkan dan mengembangkan karier-bisnis, kompetensi-keterampilan, keluarga-kerabat, dan keuangan keluarga. Sementara soal-soal kerohanian, kesehatan tubuh, kepedulian sosial, dan kesenangan-hobi adalah bidang-bidang kehidupan yang paling sering diabaikan, sampai kemudian (kecuali) muncul persoalan yang memaksa mereka memberikan perhatian atas hal itu.</p>
<p>Kesehatan, misalnya, sering dianggap taken for granted sampai mereka diingatkan oleh dokter berdasarkan hasil general check-up. Kolesterol tinggi, gula dalam darah, tekanan darah tinggi, dan asam urat adalah beberapa keluhan yang kemudian memaksa mereka untuk lebih memperhatikan makanan, menambah waktu berolah raga, menenangkan pikiran dengan melakukan hobi-kesenangan.</p>
<p>Ada juga yang bermasalah dalam hubungan keluarga. Sebagai pasangan yang sama-sama bekerja, berangkat pagi dan pulang malam, soal pengasuhan anak balita menjadi tantangan yang tidak mudah di atasi. Jika istri tidak bekerja, penghasilan suami tidak mencukupi. Belum lagi kenyataan bahwa untuk sebagian pasangan, karier dan penghasilan istri lebih tinggi ketimbang suami. Dilematis, bukan?</p>
<p>Yang menarik adalah soal keuangan keluarga. Meski sebagian besar peserta mengaku memberikan perhatian dan memikirkan hal ini dengan sungguh-sungguh, namun kenyataannya tidak banyak kemajuan yang mereka alami sepanjang 3 tahun terakhir. Dengan menggunakan daftar periksa kesehatan finansial yang sederhana, mereka langsung disadarkan bahwa permasalahannya adalah dalam mengelola arus uang (cash-flow) keluarga. Pilihan gaya hidup yang konsumtif telah menyedot penghasilan mereka tanpa sempat disadari. Penggunaan kartu kredit yang serampangan, menimbulkan sejumlah persoalan rumit di belakang hari.</p>
<p>Kita, manusia, adalah mahluk yang senang memperbaiki diri. Dalam proses perbaikan itu seharusnya kita belajar dari pengalaman. Jika pengalaman menunjukkan bahwa kita perlu memberi waktu ekstra untuk meningkatkan kesehatan, maka berilah waktu untuk itu. Jika pengalaman menunjukkan bahwa gaya hidup konsumtif telah menjebak kita dalam tagihan tanpa henti, maka segeralah mengurangi gaya agar kelak tetap bisa hidup. Jika pengalaman menunjukkan bahwa hubungan kita dengan pasangan hidup makin tidak harmonis, maka berilah waktu untuk memperbaikinya dengan menggunakan sistem skala prioritas hidup; bahkan jangan sungkan mencari pertolongan profesional di bidang tersebut.<br />
Pengalaman adalah guru terbaik. Begitu sering dikatakan orang. Benarkah?</p>
<p>Survei sederhana yang saya paparkan di atas menunjukkan bahwa pernyataan “pengalaman adalah guru terbaik” merupakan pernyataan yang tidak lengkap. Pengalaman memang membuat orang menjadi paham dan mengerti apa yang dilakukannya memiliki konsekuensi yang harus dihadapinya di kemudian hari. Pengalaman memang memberikan pelajaran berharga yang tidak bisa digantikan oleh informasi dari buku-buku teks yang bagaimana pun baiknya. Pengalaman juga tidak bisa digantikan oleh ceramah-ceramah atau kotbah dari para pembicara publik yang paling cerdas sekalipun.</p>
<p>Tetapi, orang yang pernah mengalami kesulitan dalam soal keuangan, belum tentu akan beres menata keuangannya di masa depan. Orang yang berpengalaman dalam kegagalan bisnis, belum tentu akan menjadi pebisnis yang handal di kemudian hari. Orang yang mengalami sakit penyakit, belum tentu akan menjadi lebih sehat di waktu mendatang. Sebab masalahnya bukan pada soal “pengalaman” itu sendiri, melainkan apakah pengalaman itu “dievaluasi” dengan tepat.</p>
<p>Kita, manusia, adalah mahluk yang senang memperbaiki diri. Untuk perbaikan ke depan, kita bisa mengubah pernyataan “pengalaman adalah guru terbaik” menjadi lebih baik, lebih lengkap, yakni “pengalaman yang dievaluasi adalah guru terbaik”. Pengalaman yang tidak dievaluasi, tidak diperas saripatinya, tidak diambil hikmahnya, tidak mengajarkan apa-apa kepada kita.<br />
Jadi, jika sukses dan bahagia merupakan tujuan yang ingin dikejar, maka ingatlah rumus P + E = GT (baca: Pengalaman + Evaluasi = Guru Terbaik).</p>
<p>*ANDRIAS HAREFA<br />
Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun<br />
Writer: 38 Best-selling Books<br />
Beralamat di www.andriasharefa.com– Twitter @aharefa</p>
<hr />
Telah di baca sebanyak: 66]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/p-e-gt/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merajut Impian</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/merajut-impian</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/merajut-impian#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 May 2013 09:16:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Andrew Ho]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Kolomnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=5539</guid>
		<description><![CDATA[“A man&#8217;s dreams are an index to his greatness. – Impian-impian seseorang adalah daftar prestasinya.” Zadok Rabinowits Seluruh kemudahan dan keindahan hidup di dunia ini berawal dari impian. Kekuatan impian mampu membuat manusia melewati kesulitan dan meraih harapan masa depan. Sebab impian mampu berperan sebagai penyemangat jiwa dan sumber inspirasi untuk mengubah kehidupan. Karena impian, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><b>“<i>A man&#8217;s dreams are an index to his greatness. – Impian-impian seseorang adalah daftar prestasinya.”</i></b><b></b></p>
<p align="center"><b>Zadok Rabinowits</b><b></b></p>
<p><a href="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2009/02/andrew-ho1.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-1118" title="andrew-ho1" alt="" src="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2009/02/andrew-ho1.gif" width="57" height="75" /></a>Seluruh kemudahan dan keindahan hidup di dunia ini berawal dari impian. Kekuatan impian mampu membuat manusia melewati kesulitan dan meraih harapan masa depan. Sebab impian mampu berperan sebagai penyemangat jiwa dan sumber inspirasi untuk mengubah kehidupan.</p>
<p>Karena impian, orang-orang hebat diantaranya Henry Ford, Thomas Edison, Napoleon Hill, Dale Carnegie, Norman Vincent Peale, Albert Einstein and Martin Luther King, mampu mengarahkan fokus mereka dan memiliki pola hidup yang baik. Kekuatan impian membuat mereka tahan menghadapi banyak kendala maupun kegagalan. Karenanya mereka berhasil melahirkan karya-karya luar biasa di berbagai bidang.</p>
<p>Ternyata impian juga dapat memperpanjang usia. Dr. Patricia Boyle, neuropsikologis dari Rush Alzheimer Disease Center, Chicago, AS, mengungkapkan hal itu. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa impian membantu sistem dalam tubuh manusia berfungsi lebih baik, sehingga tubuh lebih kuat melawan penyakit dan menjaga kesehatan psikologi.</p>
<p>Namun dibalik manfaat impian yang begitu besar pasti ada kendala yang harus kita hadapi. Di negara kita misalnya, kendala itu dapat berupa minimnya pendidikan, kemiskinan, iklim ekonomi yang kurang baik, lokasi tak terjangkau, dan masih banyak lagi. Seringkali, kendala-kendala tersebut membuat kita takut memperjuangkan impian agar menjadi kenyataan.</p>
<p>Tahun lalu (2008) saya menyaksikan sebuah film yang diangkat dari karya Andrea Hirata berjudul <b>Laskar Pelangi</b>. Film tersebut berkisah tentang bagaimana masyarakat pinggiran yang mempunyai banyak keterbatasan begitu gigih berusaha menggapai impian. Tokoh dalam film tersebut begitu sempurna memberi pesan bahwa keterbatasan itu tak akan pernah menjadi penghalang untuk menggapai impian. Film tersebut sangat laris, konon ditonton oleh 4,2 juta penonton termasuk Presiden SBY, dan ini menunjukkan bahwa bangsa kita memiliki impian yang menggelora walaupun tak terlihat.</p>
<p>Begitu besar kekuatan dan manfaat impian, sebab tak ada impian yang tidak mungkin diwujudkan. Karenanya jangan pernah takut bermimpi, terlebih membuat impian-impian juga gratis alias tidak dipungut biaya dan tidak dilarang. Namun ada beberapa hal berikut ini yang harus dipahami agar mampu merajut asa menjadi kenyataan yang indah.</p>
<p>Pertama yang harus diperhatikan adalah memahami apa yang Anda impikan. Dengan begitu, Anda akan dapat memvisualisasikan impian tersebut sampai impian tersebut benar-benar menguasai pikiran bawah sadar. Tahap ini sangat penting, sebab pikiran bawah sadar memiliki kekuatan yang luar biasa, diantaranya menginstruksikan pikiran sadar dan tubuh untuk melakukan tindakan-tindakan realisasi impian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain itu, tulislah impian ideal Anda pada selembar kertas secara terperinci dan sejujur mungkin. Harvey Mackay mengatakan, “<i>Pale ink is more important than a retentive memory. – Tinta yang pudar itu lebih penting dibandingkan dengan ingatan.”</i> Sebab deskripsi tersebut akan sangat bermanfaat untuk mendapatkan sedikit motivasi, lebih fokus pada tanggung jawab, dan juga berfungsi sebagai peta untuk mengembangan strategi pencapaian.</p>
<p>Sementara itu Anda juga harus yakin bahwa impian Anda pasti terwujud. Orang-orang sukses di dunia mampu meraih impian mereka sebab mereka yakin sehingga tak pernah bosan berusaha sekalipun gagal puluhan bahkan ribuan kali. Keyakinan akan membuat Anda tetap antusias, kreatif, dan aktif melakukan tindakan-tindakan untuk mewujudkan impian.</p>
<p>Keberhasilan merajut impian juga sangat bergantung pada seberapa besar komitmen Anda untuk meningkatkan kemampuan atau keahlian tertentu sesuai bidang yang ditekuni, misalnya; kuliner, kerajinan, pertanian, pendidikan dan lain sebagainya. “<i>Formal education will make you a living but self-education will make you a fortune. – </i><i>Pendidikan formal akan memberi sebuah kehidupan, namun mendidik diri sendiri akan memberi Anda keberuntungan,” </i>kata Jim Rohn. Sebab ilmu pengetahuan atau keterampilan akan membuat Anda lebih kreatif menciptakan terobosan-terobosan baru atau mengembangkan strategi efektif untuk mencapai impian.</p>
<p>Tanpa usaha yang sungguh-sungguh tak mungkin terjadi perkembangan positif. Oleh sebab itu, lakukanlah langkah-langkah untuk merealisasikan impian dengan lebih fokus dan intensif. Sebab hanya dengan kekuatan intensitas maka impian itu akan menjadi kenyataan.</p>
<p>Impian adalah syarat penting untuk meraih sukses, dan tak ada yang lebih indah selain mampu merangkainya menjadi kenyataan. Victor Hugo mengatakan, “<i>There is nothing like a dream to create the future. – Tak ada yang mampu menyamai (kehebatan) impian untuk menciptakan masa depan.”</i> Semoga apa yang saya uraikan di atas membuat Anda segera membuat daftar impian, atau tidak mengabaikan impian, dan cepat-cepat melakukan sesuatu agar menjadi tuan atas nasib Anda sendiri!</p>
<p><i>*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku bestseller.</i></p>
<p><i>Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com</i></p>
Telah di baca sebanyak: 179]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/merajut-impian/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Faktor Langit</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/faktor-langit</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/faktor-langit#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Apr 2013 08:08:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=5532</guid>
		<description><![CDATA[Hal berikut ini diriwayatkan oleh Yani Tan. Ceritanya kemudian tersebar lewat media sosial, dan sampai juga kepada saya. Tak ada informasi mengenai siapa Yani Tan, kecuali bahwa ia merupakan salah satu dari sejumlah orang yang lolos dari bencana terorisme serangan atas World Trade Center (WTC) di New York City, 11 September 2001. Saya mencari namanya [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<hr />
<p><a href="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2010/05/andrias-harefa2.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-2540" title="andrias-harefa2" alt="" src="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2010/05/andrias-harefa2.gif" width="57" height="75" /></a> Hal berikut ini diriwayatkan oleh Yani Tan. Ceritanya kemudian tersebar lewat media sosial, dan sampai juga kepada saya. Tak ada informasi mengenai siapa Yani Tan, kecuali bahwa ia merupakan salah satu dari sejumlah orang yang lolos dari bencana terorisme serangan atas World Trade Center (WTC) di New York City, 11 September 2001. Saya mencari namanya di mesin pencari, namun tak menemukan profil yang terkait dengan WTC.<br />
Bagaimana Yani Tan yang berkantor di gedung WTC itu bisa selamat? Jawabnya adalah: sebuah sepatu baru. Ia memakai sepatu baru pagi itu dan berangkat kerja dengan bersemangat. Tetapi sebelum sampai di kantor, sepatu itu menyebabkan luka di tumitnya. Ia memutuskan berhenti di sebuah toko obat untuk membeli plester. Itulah hal yang menunda kehadirannya di bangunan yang runtuh di hari naas itu. Sebuah luka di tumit telah menyelamatkan nyawanya.</p>
<p>Dan itu bukan cerita satu-satunya. Dalam sebuah pertemuan yang mengundang sejumlah orang yang selamat dari peristiwa keji tersebut, ditemukan berbagai kesaksian menarik. Ada kepala keamanan perusahaan yang selamat pada hari itu karena mengantar anaknya hari pertama masuk taman kanak-kanak. Karyawan lain masih hidup karena hari itu adalah gilirannya membawa kue untuk murid di kelas anaknya. Seorang wanita terlambat datang karena jam wekernya tak berbunyi tepat waktu. Seorang karyawan selamat karena ketinggalan bus. Karyawan yang lain menumpahkan makanan di bajunya, sehingga perlu waktu untuk berganti pakaian. Ada pula pekerja yang sudah siap berangkat, namun masuk kembali ke dalam rumah untuk mengangkat telepon yang berdering. Lalu, karyawan yang lain tak mendapatkan taxi untuk ke kantor.</p>
<p>Kisah-kisah tersebut mengerucut pada sebuah kesimpulan: mereka selamat bukan karena ada keajaiban atau peristiwa spektakuler; bukan karena ada ramalan orang sakti yang bisa meneropong masa depan; mereka selamat karena peristiwa-peristiwa kecil yang sederhana dan remeh temeh; kejadian-kejadian sepele yang kadang menjengkelkan.</p>
<p>Yani Tan kemudian memaknai pengalamannya itu dengan berkata, ”Sekarang, jika saya terjebak dalam kemacetan lalu lintas, ketinggalan lift, harus masuk ke rumah lagi untuk menjawab telepon dan semua hal kecil yang mengganggu, saya sangat memahami, bahwa Allah benar-benar menginginkan saya berada di sini untuk saat ini”. Wow!</p>
<p>Pesona refleksi Yani Tan terletak pada misteri penyelenggaraan ilahi. Ia mengakui bahwa sesungguhnya, ia—dan juga mereka yang terselamatkan dari peristiwa spektakuler itu—tidak memiliki kiat sukses agar selamat dari malapetaka. Ia hanya mengalami anugerah Tuhan, yang menggunakan sepatu baru untuk melukai tumitnya dan menggerakkan hatinya untuk mampir ke sebuah toko obat untuk membeli plester. Peristiwa yang bagi sebagian orang disebut “kebetulan” itu ia maknai sebagai campur tangan Tuhan dalam hidupnya. Itu bukan sesuatu yang dia inginkan, melainkan hal yang Tuhan inginkan.</p>
<p>Yani Tan tidak selamat karena ia memimpikan atau punya target yang jelas dalam pikirannya. Ia tidak selamat karena punya komitmen dan disiplin kuat yang membuatnya lolos dari maut. Ia tidak selamat karena bekerja lebih keras dari orang lain yang tewas dalam peristiwa itu. Ia tidak selamat karena mampu berpikir kreatif dan inovatif. Tidak. Ia selamat karena “pengaturan langit”, bukan hasil usaha, pengetahuan, atau sikap hidupnya yang positif.</p>
<p>Belajar dari Yani Tan, saya kemudian memeriksa faktor-faktor apa yang telah menyelamatkan hidup saya dari kehancuran. Dan saya menemukan, ternyata memang cukup banyak “hal-hal kecil” yang awalnya nampak sepele dan tak menyenangkan, yang kemudian mengarahkan hidup saya hingga sampai pada kondisi saat ini.</p>
<p>Sebuah acara bertajuk Student Revival Meeting di Aula STT Duta Wacana, tahun 1981, membelokkan arah hidup saya. Sebuah retreat Persekutuan Siswa Kristen Yogyakarta, April 1983, mengubah pilihan studi saya di UGM. Sebuah pertemuan pimpinan organisasi mahasiswa di Puncak, Jawa Barat, tahun 1985, kelak membuka peluang karier profesional saya sebagai trainer berlisensi Dale Carnegie. Sebuah pelatihan jurnalistik di Kaliurang, Yogyakarta, tahun 1986, membekali saya dengan keterampilan yang membuat saya selalu mendapatkan pekerjaan tanpa pernah melamar pekerjaan. Semua itu, dan berbagai peristiwa lainnya, adalah peristiwa-peristiwa kecil yang tak saya pahami sepenuhnya. Semua terjadi begitu saja. Semua diatur oleh “faktor langit”, sesuatu yang di luar diri saya.</p>
<p>Apakah saya tak punya impian besar? Tentu ada. Apakah saya tidak memiliki komitmen untuk bekerja keras? Saya bekerja keras dan tekun dalam menghadapi berbagai kesulitan. Saya juga selalu berusaha menghasilkan karya tulis ilmiah atau pun populer sejak masih di kampus dulu. Saya serius dan bersungguh-sungguh dalam mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab saya, sebab percaya man jadda wajada, siapa bersungguh-sungguh akan berhasil. Saya membuat target-target tertentu untuk dicapai. Pendek kata, saya melakukan sejumlah hal untuk meraih impian saya dalam rangka memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan klien-klien yang saya layani.</p>
<p>Masalahnya, Yani Tan membuat saya berpikir bahwa apapun keberhasilan yang saya raih boleh jadi bukan hasil usaha saya, melainkan sebuah anugerah Tuhan semata. Artinya, ia ingin mengatakan bahwa “faktor saya” boleh jadi cukup penting, tetapi bukan yang terpenting. Usaha-usaha saya mungkin saja memengaruhi keberhasilan saya, tetapi bukan faktor yang menentukan. Yang terpenting dan menentukan itu adalah “faktor langit”.</p>
<p>Bagi orang seperti Yani Tan, keselamatan dirinya dan keberhasilan hidupnya tidaklah pertama-tama ditentukan oleh keinginannya, melainkan oleh keinginan “langit”. Karena itu ia tidak pantas untuk menonjolkan kehebatan dirinya, tetapi sudah selayaknya bersyukur dan memuliakan Sang Penciptanya.</p>
<p>Apakah Yani Tan seorang motivator? Jika ya, mungkin itulah yang disebut Theocentric Motivator.</p>
<p>* ANDRIAS HAREFA<br />
Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun<br />
Writer: 38 Best-selling Books<br />
Beralamat di www.andriasharefa.com– Twitter @aharefa</p>
<hr />
Telah di baca sebanyak: 210]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/faktor-langit/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Speak Up!</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/speak-up</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/speak-up#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 06:39:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=5512</guid>
		<description><![CDATA[Speak Up and Be Counted! Berbicaralah agar diperhitungkan! Itulah nama program pelatihan yang belum lama ini saya luncurkan ke pasar pelatihan di Indonesia. Dan respons pasar luar biasa. Peserta yang hadir di kelas saya tak hanya orang Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi. Sebagian datang dari Bandung. Sebagian lagi datang dari Pontianak. Bahkan ada yang datang dari Timika, Papua, khusus [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<hr />
<p><a href="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2010/05/andrias-harefa2.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-2540" title="andrias-harefa2" alt="" src="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2010/05/andrias-harefa2.gif" width="57" height="75" /></a>Speak Up and Be Counted! Berbicaralah agar diperhitungkan! Itulah nama program pelatihan yang belum lama ini saya luncurkan ke pasar pelatihan di Indonesia. Dan respons pasar luar biasa. Peserta yang hadir di kelas saya tak hanya orang Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi. Sebagian datang dari Bandung. Sebagian lagi datang dari Pontianak. Bahkan ada yang datang dari Timika, Papua, khusus untuk mengikuti program pelatihan tersebut.</p>
<p>Latar belakang peserta sungguh beragam. Ada yang datang dari industri pertambangan, industri media, dunia pendidikan tinggi, perusahaan makanan dan minuman, angkutan dan pengiriman barang, dan sebagainya. Rentang usianya pun tak seragam, antara 20 hingga 50 tahun. Jabatannya dari staf, supervisor, manajer, sampai direktur.<br />
Variasi peserta yang ikut program Speak Up memang sudah saya perhitungkan. Sebab saya paham betul program semacam ini merupakan kebutuhan fundamental dalam hidup dan pekerjaan. Ini kebutuhan generik. Semua orang ingin menjadi sosok yang diperhitungkan. Tak ada orang yang senang disepelekan dan dianggap rendah.</p>
<p>Masalahnya, jika orang ingin dirinya diperhitungkan, maka ia harus mencari jawaban yang tepat atas sebuah pertanyaan mendasar: kecakapan strategis apa yang perlu saya kuasai agar saya diperhitungkan?<br />
Pertanyaan sejenis pernah dijawab oleh dua orang peneliti luar biasa. Yang pertama adalah pakar kebijakan pendidikan Richard J. Murnane dari Harvard Kennedy School; dan Frank Levy, pakar ekonomi urban dari Massachusetts Institute of Technology. Mereka mengkaji jenis kecakapan yang kian dibutuhkan dan tak dibutuhkan dalam dunia kerja abad ke-21.</p>
<p>(Iwan Pranoto; Kompas 16 Juni 2012; hlm.7)<br />
Berdasarkan hasil penelitian selama hampir 30 tahun (1969-1998), mereka mengungkapkan bahwa kecakapan memecahkan masalah yang tak rutin dan kecakapan berkomunikasi kompleks semakin dibutuhkan. Pada saat komputer serta teknologi informasi semakin berdaya, banyak masalah rutin dapat dipecahkan oleh mesin. Sebaliknya, manusia justru semakin dibutuhkan pada pemecahan masalah tidak rutin. Juga semakin dibutuhkan kecakapan komunikasi yang kompleks seperti kecakapan seorang manajer memotivasi anak buahnya.</p>
<p>Kecakapan berkomunikasi yang kompleks, itulah fokus utama pelatihan Speak Up and Be Counted. Bagaimana memulai percakapan dengan orang baru?; bagaimana memulai pembicaraan dengan bos besar pemilik konglomerasi tertentu, sementara Anda staf baru di salah satu anak perusahaannya?; bagaimana menyampaikan pendapat yang tegas secara santun?; bagaimana memotivasi orang dengan perkataan?; bagaimana menggunakan intonasi dan bahasa tubuh yang mendukung kata-kata terucap?; bagaimana menjadi pembicara yang fleksibel?; bagaimana melakukan presentasi dan memberikan coaching kepada bawahan?; bagaimana menyelipkan humor atau joke dalam berbicara?; bagaimana memberi petunjuk teknis dengan efektif?; bagaimana mengekspresikan diri kita yang terbaik saat berbicara? Itulah sejumlah pokok materi yang dilatihkan—sekali lagi dilatihkan, bukan sekadar dibicarakan atau diceramahkan—agar peserta menguasai kecakapan tersebut untuk dirinya.<br />
Mengapa kecakapan berkomunikasi kompleks ini penting?</p>
<p>Pertama, seperti yang dikatakan Stephen R. Covey, kemampuan berkomunikasi adalah keterampilan terpenting dalam hidup dan pekerjaan. Masalahnya, kemampuan ini tidak diperoleh begitu saja tanpa adanya pelatihan yang baik dan berkesinambungan. Ceramah dan nasihat tidak banyak membantu mengembangkan kecakapan komunikasi, sebab suatu kemampuan hanya bisa dikembangkan lewat praktik yang terbimbing dan dilakukan berulang-ulang dalam jumlah yang memadai sampai melekat menjadi kecakapan.</p>
<p>Kedua, karena kerugian yang disebabkan oleh ketidakcakapan berkomunikasi ini sangat besar di setiap organisasi. Bentuknya bisa berupa kesalahpahaman, konflik yang tak perlu, suasana kerja yang buruk, motivasi kerja yang rendah, tidak tercapainya target dan penurunan produktivitas yang drastis, dan sebagainya. Inefisiensi kerja yang mengemuka dalam berbagai program pemerintah pun, dapat ditelusuri berakar pada kurangnya kecakapan berkomunikasi di antara para pejabat terkait. Ini masih terkait kecakapan komunikasi personal dan belum sampai ke komunikasi massa, yang tentu lebih kompleks lagi.<br />
Ketiga, kecakapan komunikasi kompleks adalah kompetensi yang memicu tumbuhnya rasa percaya diri yang sehat (healthy self-esteem and self-confidence), sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk bertindak berani dalam mengejar target-target tertentu. Dengan lain perkataan, ketidakpercayaan diri menguat jika kemampuan berkomunikasi menurun. Dan pekerja yang tidak percaya diri akan menjadi beban (biaya) bagi perusahaan. Ia akan menghindar dari tugas-tugas yang menantang, sehingga perusahaan kekurangan orang-orang yang bisa diandalkan dan diperhitungkan.</p>
<p>Seperti Iwan Pranoto, Guru Besar ITB, yang menyatakan keprihatinannya atas praktik pendidikan kita yang tak mendukung penguasaan kecakapan memecahkan masalah tak rutin dan kecakapan komunikasi kompleks, saya pun gelisah atas produk pendidikan formal yang tak cakap berkomunikasi di dunia kerja. Itu sebabnya saya ciptakan program ini. Dan karena saya berkiprah di jalur pelatihan korporat, maka program ini saya tawarkan sebagai pelatihan dasar wajib untuk setiap pekerja yang ingin atau perlu diperhitungkan.<br />
Speak Up and Be Counted! Berbicaralah agar diperhitungkan! Salam proaktif.</p>
<p>* ANDRIAS HAREFA STW<br />
Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun<br />
Writer: 38 Best-selling Books<br />
Beralamat di www.andriasharefa.com– Twitter @ aharefa</p>
<hr />
Telah di baca sebanyak: 383]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/speak-up/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beruntung</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/beruntung</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/beruntung#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 06:37:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=5513</guid>
		<description><![CDATA[Zulkifli dilahirkan di Palembang tahun 1956. Cita-citanya menjadi insinyur. Ia ingin masuk ITB. Untuk itu, kelas tiga SMA ia pindah dari Palembang ke Bandung. Menurut pikirannya, lulusan SMA dari Bandung akan lebih besar peluangnya masuk ITB ketimbang lulusan SMA dari Palembang. Terbukti ia lolos masuk ITB (langkah yang kemudian diikuti dua adiknya) dan jadi insinyur [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<hr />
<p>Zulkifli dilahirkan di Palembang tahun 1956. Cita-citanya menjadi insinyur. Ia ingin masuk ITB. Untuk itu, kelas tiga SMA ia pindah dari Palembang ke Bandung. Menurut pikirannya, lulusan SMA dari Bandung akan lebih besar peluangnya masuk ITB ketimbang lulusan SMA dari Palembang. Terbukti ia lolos masuk ITB (langkah yang kemudian diikuti dua adiknya) dan jadi insinyur sipil lulusan perguruan tinggi kesohor itu.</p>
<p>Tahun 1980 ia menapaki kariernya sebagai insinyur sipil di Wiratman and Associates dan kemudian ke perusahaan lainnya. Dalam karier sebagai insinyur itu ia dan timnya pernah dikirim ke Jerman untuk mendesain pabrik metanol milik Pertamina yang akan dibuat di Pulau Bunyu dekat Tarakan, Kalimantan Timur. Namun tugasnya kemudian bukan hanya mendesain. Ia ditugaskan untuk membangun pabrik itu dan bermukim di Pulau Bunyu.<br />
Ketika bertugas di Pulau Bunyu itu, Zulkifli muda sering merasa kurang aktivitas. Lalu ia membaca iklan Lembaga PPM di koran, yang menawarkan kursus jarak jauh dengan sistem moduler. Ia pun mengambil kursus untuk modul Cara Membaca Laporan Keuangan. Sebagai insinyur, kalau ia juga bisa membaca laporan keuangan tentu akan memberi nilai tambah, pikirnya.</p>
<p>Keinginan untuk bisa bekerja kembali di Jakarta membuatnya rajin membaca iklan lowongan di koran nasional. Ketika sebuah bank pemerintah mencari seorang insinyur berpengalaman untuk mensupervisi bangunan yang dibiayai oleh bank tersebut, maka lamaran pun dilayangkannya. Waktu tes, ia ditanya sedikit soal laporan keuangan. Bekal kursus jarak jauh ketika di Pulau Bunyu itu menolongnya memberikan jawaban. Maka, di tahun 1988, masuklah ia ke Bank Pembangunan Indonesia, Bapindo.<br />
Mengawasi bangunan-bangunan yang dibiayai Bapindo hanya bebersapa bulan saja ia lakukan. Manajemen Bapindo merasa tugasnya terlalu ringan. Maka tanpa sempat dibekali dengan pelatihan yang memadai, ia langsung saja ditugaskan sebagai Account Officer. Ia hanya diberi sejumlah buku untuk dipelajari secara otodidak. Saat itu ia belajar membuat nota analisa untuk perkreditan dan sebagainya.</p>
<p>Awal 1990-an, ada peluang untuk studi lanjut keluar negeri yang dibuka bagi pegawai Bapindo. Ia mendaftar dan ikut tes, namun gagal karena tes TOEFL-nya jelek. Maka sejak itu setiap pagi ia mendengarkan kaset TOEFL di mobil dalam perjalanan ke kantor. Kesempatan tes berikutnya, TOEFL-nya masuk peringkat tinggi, sehingga ia dan tujuh temannya berhasil mengalahkan puluhan peminat lainnya. Maka berangkatlah ia ke Amerika.<br />
Tahun 1994 pulanglah Zulkifli dengan tambahan gelar MBA dalam bidang Keuangan dari Washington University. “Karena saya insinyur dan MBA, maka saya mulai lebih diperhitungkan dalam pekerjaan,” katanya dalam sebuah kesempatan. Ia memang menjadi Kepala Cabang Bapindo di Jambi tahun 1998.<br />
Arus gelombang reformasi, yang membuat Presiden Soeharto mundur dari jabatannya, juga berdampak ke dunia perbankan. Bank-bank pemerintah pun kalang-kabut kinerjanya. Empat bank pemerintah, Bapindo, BBD, Exim, dan BDN, mengalami proses merger di tahun 1999, menjadi Bank Mandiri. Dalam proses tersebut setiap pegawai dari bank legacy diberi dua opsi: ambil paket pensiun, atau ikut tes untuk setiap jabatan yang diinginkan. Posisi lama tidak dipedulikan lagi. Seorang Kepala Divisi dari BBD/Exim yang ingin bergabung dengan Bank Mandiri, misalnya, harus ikut psikotes, tes ini dan itu, wawancara, dan menunggu pengumuman. Kalau tidak lolos tes, maka ia bisa ikut tes untuk posisi di bawahnya. Begitu seterusnya.</p>
<p>Dalam situasi tak menentu di usia awal 40-an itulah Zulkifli membuat keputusan untuk balik lagi ke Jakarta. “Saya tidak memikirkan opsi pensiun. Ngapain saya pensiun di usia seperti itu? Saya pikir di saat ada permasalahan selalu ada peluang. Itu pegangan dalam hidup saya. Dan waktu itu saya ambil posisi di kantor pusat. Walau saya bisa tes untuk posisi kepala cabang, tapi saya pilih untuk tes di kantor pusat. Pikiran saya satu, saat keadaan tak menentu kita harus di kantor pusat. Dengan begitu kita dekat dengan pengambil keputusan. Kalau kita jelek kita dilihat, tapi kalau kita bagus akan ada kesempatan,” terangnya dalam suatu wawancara.<br />
Pemikiran Zulkifli itu ternyata membawanya kepada berbagai peluang karier berikutnya. Namanya kemudian sudah mulai tercantum sebagai salah satu Direktur Bank Mandiri di tahun 2003. Ia menangani Distribution Network, Commercial Banking, mengawasi Bank Syariah Mandiri, dan sempat pula menjadi Direktur Technology and Operations selama beberapa bulan. Puncaknya, Juli 2010 Zulkifli Zaini dipercaya menggantikan Agus Martowardojo menjadi President Director and Chief Executive Officer Bank Mandiri.</p>
<p>Ketika ditanya apakah ia pernah punya target untuk menjadi Direktur Utama Bank Mandiri? “Saya tidak mencari posisi. Saya selalu bekerja simple sekali. Saya hanya bekerja untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh pemberi tugas lebih baik dari yang diharapkan si pemberi tugas. Jadi, kalau ada tugas yang diberikan untuk dua minggu, saya coba selesaikan dalam seminggu. Kalau saya diminta capai target 100, saya akan capai 130. Sewaktu jadi account officer di Bapindo, kawan-kawan saya pegang 10-an account, saya bisa menangani 30-40 account. Itu sebabnya kepada anak-anak ODP (Officer Development Program) di Bank Mandiri, saya berpesan yang penting itu tiga hal. Pertama, jaga integritas, jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Kalau tidak jujur nanti susah sendiri. Kedua, jangan setengah-setengah dalam bekerja. Kalau bisa jadi nomor satu ngapain jadi nomor dua. Ketiga, biasakan menyelesaikan tugas lebih baik dari harapan si pemberi tugas. Kalau ini diperhatikan, insyaallah kariermu ada yang memikirkan,” jelasnya.</p>
<p>Boleh dikatakan bahwa Zulkifli adalah orang yang beruntung. Tak banyak anak negeri ini yang bisa sampai pada posisi dimana ia berada. Dan ia menjadi beruntung karena sejumlah hal, di antaranya karena ia berpikir (pindah dari Palembang ke Bandung agar lebih besar kemungkinan masuk ITB; pindah dari Jambi ke Kantor Pusat, agar lebih dekat dengan pengambil keputusan); ia belajar (ambil kursus cara membaca laporan keuangan; perbaiki TOEFL untuk studi lanjut meraih MBA); dan ia bertindak (menyelesaikan tugas lebih baik dari harapan pemberi tugas; jangan setengah-setengah).<br />
Bukankah itu semacam formula keberuntungan?</p>
<p>* ANDRIAS HAREFA STW<br />
Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun<br />
Writer: 38 Best-selling Books<br />
Beralamat di www.andriasharefa.com– Twitter @ aharefa</p>
<hr />
Telah di baca sebanyak: 334]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/beruntung/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PICTURES PAINT A THOUSAND WORDS</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/pictures-paint-a-thousand-words</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/pictures-paint-a-thousand-words#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2013 08:21:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Inspiratif]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=5503</guid>
		<description><![CDATA[Dulu selagi saya kecil sampai remaja, saya suka bingung melihat mama menangis tiap kali membuka-buka album foto lama kami. Banyak hal lucu yang kami tertawakan, sambil saling tunjuk, memperlihatkan foto-foto kami sewaktu kecil. Tapi tawanya mama juga selalu sambil menangis dan itu membuat saya bingung. “Kenapa sih, orang lucu kok, malah nangis,” begitu selalu pikir [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<hr />
<p><a href="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2013/01/hotma-abigail-article.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-5507" title="hotma-abigail-article" src="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2013/01/hotma-abigail-article.jpg" alt="" width="57" height="75" /></a>Dulu selagi saya kecil sampai remaja, saya suka bingung melihat mama menangis tiap kali membuka-buka album foto lama kami. Banyak hal lucu yang kami tertawakan, sambil saling tunjuk, memperlihatkan foto-foto kami sewaktu kecil. Tapi tawanya mama juga selalu sambil menangis dan itu membuat saya bingung. “Kenapa sih, orang lucu kok, malah nangis,” begitu selalu pikir saya. Sekarang, setelah menjadi ibu, ternyata saya pun kadangkala spontan berkaca-kaca atau hampir menangis tiap kali melihat foto-foto lama.</p>
<p>Foto ternyata menyimpan banyak cerita. Lihat saja ketika saya melihat foto anak-anak ketika mereka kecil atau ketika hari pertama mereka bersekolah. Saya ingat ketika melepas mereka hari itu, betapa berkecamuknya perasaan saya menyaksikan mereka harus belajar berjalan sendiri ke ruang kelas, melakukan banyak hal diluar pengawasan saya, bahkan tanpa saya. Pertanyaan seperti “…akankah mereka bisa melakukan banyak hal tanpa bantuan saya?” atau “…dia masih terlalu kecil untuk dilepas sendirian…” selalu menghantui pikiran saya pada saat-saat seperti itu. Foto si sulung dengan adiknya yang masih bayi mengingatkan saya akan perasaan sedih saya, melihat si kakak yang duduk sendirian di taman karena saya sedang sibuk mengurusi adiknya yang baru lahir. Melihat foto ulang tahun anak saya yang ke-5 mengingatkan saya akan kekesalan dan kekecewaan saya karena ayahnya belum juga muncul dari kantor padahal sebentar lagi acara tiup lilin dimulai. Atau lihat saja ketika saya melihat foto saya sewaktu kecil bersama kakak dan adik saya. Semua memori yang tersimpan seperti terurai lagi satu per satu, tidak terbendung.</p>
<p>Teringat ketika kami main sepeda sama-sama, bertengkar, main hujan, berlibur, makan sate tiap akhir minggu, dan seterusnya. Ditambah lagi dengan perasaan sentimentil seperti, ah… sekarang situasinya tidak bisa seperti itu lagi. Kami masing-masing sudah punya kehidupan sendiri-sendiri. Walaupun kami tentu menyimpan dalam hati masing-masing, kalau kasih antar saudara mestinya tak lekang oleh waktu, walaupun kami jarang bertemu atau menghabiskan waktu sesering dulu kala. Tentu banyak hal yg juga mama pikirkan ketika melihat foto-foto lama album keluarga kami.</p>
<p>Tak heran mama selalu berkomentar mengingatkan peristiwa ini dan itu ketika melihat satu foto, sambil sesekali menyeka hidung dan matanya. Seiring dengan usianya yang terus bertambah, menyaksikan masing-masing kami bertumbuh besar, mungkin juga sesekali beliau berpikir , “…duh… dulu kamu lucu sekali waktu kecil… sekarang sudah besar sudah bisa kurang ajar!” heheheeee…. Bisa jadi saya akan berpikir yang sama di masa nanti, ketika anak-anak sudah beranjak dewasa dan tidak membutuhkan saya lagi seperti saat ini. Hmmm… Saya jadi mengerti kenapa mama suka menangis ketika melihat foto-foto lama kami. I think we all know… that a picture paints a thousand words…</p>
<p>*Penulis dapat di jumpai di: www.hotmaabigail.wordpress.com</p>
<hr />
Telah di baca sebanyak: 7305]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/pictures-paint-a-thousand-words/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Layanan In House</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/layanan-in-house</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/layanan-in-house#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jan 2013 10:02:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Layanan In House Training]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=5497</guid>
		<description><![CDATA[Telah di baca sebanyak: 171]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[Telah di baca sebanyak: 171]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/layanan-in-house/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Program Saturday Class</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/program-saturday-class</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/program-saturday-class#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jan 2013 10:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program Saturday Class]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=5495</guid>
		<description><![CDATA[Telah di baca sebanyak: 211]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[Telah di baca sebanyak: 211]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/program-saturday-class/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Program Pelatihan &#124; Training Writing School</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/program-pelatihan-training-writing-school</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/program-pelatihan-training-writing-school#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jan 2013 09:57:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program Writing School]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=5493</guid>
		<description><![CDATA[Telah di baca sebanyak: 208]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[Telah di baca sebanyak: 208]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/program-pelatihan-training-writing-school/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Program Proaktif Organizer</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/program-pelatihan-training-proaktif-organizer</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/program-pelatihan-training-proaktif-organizer#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jan 2013 09:50:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program Proaktif Organizer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=5487</guid>
		<description><![CDATA[Telah di baca sebanyak: 243]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[Telah di baca sebanyak: 243]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/program-pelatihan-training-proaktif-organizer/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
