<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>training motivasi - pelatihan menulis - training for trainers - pembicara publik - founder: andrias harefa</title>
	<atom:link href="http://www.pembelajar.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.pembelajar.com</link>
	<description>info: 021-460 5757</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 04:10:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Masa Depan Anak dalam ‘Mindset’ Orang Tua</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/masa-depan-anak-dalam-mindset-orang-tua</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/masa-depan-anak-dalam-mindset-orang-tua#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 03:47:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Writing School]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=4844</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Supandi, s.pd. Mm “Sikap hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh prinsip hidup yang dianutnya” Masih melekat di dalam pikiran saya sebuah keyakinan yang begitu hebat yang pernah dilontarkan oleh ibu saya empat puluhan tahun yang lalu. Sebuah keyakinan yang mengobarkan energi positif terhadap diri beliau yang kemudian saya rekam dalam pikiran bawah sadar saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="border: none;" src="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2012/05/fresh-icon.gif" alt="" /><a href="http://pembelajar.com/wp-content/uploads/2010/05/supandi.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-2526" title="supandi" src="http://pembelajar.com/wp-content/uploads/2010/05/supandi.gif" alt="" width="57" height="75" /></a> Oleh : Supandi, s.pd. Mm</p>
<p>“Sikap hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh prinsip hidup yang dianutnya”</p>
<p>Masih melekat di dalam pikiran saya sebuah keyakinan yang begitu hebat yang pernah dilontarkan oleh ibu saya empat puluhan tahun yang lalu. Sebuah keyakinan yang mengobarkan energi positif terhadap diri beliau yang kemudian saya rekam dalam pikiran bawah sadar saya sebagai salah satu warisan yang sangat berharga, sekaligus sebagai ilmu dari sekolah kehidupan.</p>
<p>Salah satu nasihat yang mengandung makna dan keyakinan yang sangat dalam yang pernah beliau sampaikan kepada kami kurang lebihnya berbunyi demikian, “Pokoke kowe kabeh kudu pada sekolah. Senajan wong tuamu wong sing ora duwe, tapi Gusti Allah sugih. Aku yakin kowe kabeh bisa sekolah. Aku ora kepengin anak-anakku ngemben pada sengsara uripe”. Yang artinya, pokoknya kamu semua harus tetap sekolah. Walaupun orang tuamu orang yang tidak punya, tetapi Allah SWT Maha Kaya sehingga saya yakin kalian semua bisa sekolah. Saya tidak ingin anak-anakku hidup sengsara.</p>
<p>Tentunya bentuk keyakinan di atas beliau lontarkan tidak didorong oleh sekadar komitmen tanpa dasar. Ada semacam emosi positif yang membakar tekad di dalam dirinya. Tekad yang terhimpun di dalam pikiran super (super mind) melalui sebuah proses perpaduan antara beberapa unsur kepentingan; seperti rasa kasih sayang kepada anak, rasa ingin membahagiakan anak, dan keinginan agar anak-anaknya hidup sukses. Unsur-unsur kepentingan tersebut kemudian bereaksi dengan nilai-nilai spiritual sehingga tersimpul dalam sebuah keyakinan.</p>
<p>Keyakinan merupakan keadaan pikiran yang bisa dirangsang atau diciptakan oleh perintah peneguhan secara terus menerus sampai meresap ke dalam pikiran bawah sadar. Keyakinan adalah sebuah keadaan pikiran yang bisa dikembangkan sesuai dengan kemauan kita, melalui cara pengulangan perintah kepada pikiran bawah sadar dengan segenap perasaan emosi positif, sehingga pikiran bawah sadar akan menerimanya, dan digunakan sebagai landasan tindakan untuk menjadikannya sebuah kenyataan (Wuryanano: 2004).</p>
<p>Keyakinan akan memberikan kehidupan, kekuatan, dan tindakan kepada impuls pemikiran kita. Keyakinan akan memberikan kekuatan untuk mengubah getaran pemikiran biasa, dari pikiran manusia yang serba terbatas menjadi suatu padanan spiritual yang bersifat tanpa batas.</p>
<p>Pemikiran spiritual tanpa batas muncul ketika terjadi dominasi suara Tuhan yang melekat di hati seseorang. Adapun suara Tuhan dihasilkan dari hasil meditasi melalui pengamalan-pengamalan yang berkaitan dengan proses pendekatan diri kepadaNya. Proses yang mengarah kepada upaya pendekatan diri kepada Tuhan itulah yang akan membentuk keyakinan seseorang. Pada gilirannya keyakinan tersebut akan berjalan sinergis dengan prinsip hidup.</p>
<p>Contoh yang saya ilustrasikan tentang keyakinan dan prinsip hidup ibu saya di atas merupakan salah satu dari sekian banyak prinsip hidup dan keyakinan yang dimiliki oleh orang-orang pada umumnya, termasuk mungkin diri Anda.</p>
<p>Ada satu sisi yang sangat penting Anda sikapi dalam memegang teguh prinsip hidup Anda yaitu visi hidup yang didasarkan atas prinsip-prinsip kebenaran. Dengan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) yang Anda miliki, Anda harus bisa menentukan prinsip hidup yang sesuai dengan fitrah manusia; yaitu fitrah kebenaran, fitrah yang didukung penuh oleh ridlo Tuhan yang bisa membawa diri dan keluarga menuju ke arah kebahagiaan hakiki, serta memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Prinsip hidup semacam ini harus menjadi pijakan dasar untuk menentukan kebijakan dalam menentukan sikap hidup.</p>
<p>Prinsip hidup yang bersumber dari sesuatu yang tidak fitrah umumnya akan berakhir dengan kegagalan—baik kegagalan lahiriah maupun kegagalan batiniah. Dunia telah membuktikan bahwa prinsip hidup yang bertentangan dengan suara hati, terbukti hanya mengakibatkan kesengsaraan atau bahkan kehancuran. Terlebih di jaman modern sekarang ini. The power of visi hidup, prinsip hidup, dan sikap hidup yang didasarkan pada nilai spiritual harus benar-benar dipegang teguh demi untuk mencapai tujuan hidup jangka panjang.</p>
<p>Mengarahkan masa depan anak merupakan salah satu bentuk pencapaian tujuan jangka panjang. Bagaimana bentuk masa depan anak di masa yang akan datang sangat dipengaruhi oleh visi, prinsip, dan sikap hidup orang tuanya. Orang tua harus jeli dalam menyeting masa depan anak. Hindari cara-cara yang dewasa ini sering menjangkiti kehidupan manusia-manusia modern yaitu adanya kecenderungan manusia tertarik kepada hal-hal yang serba instan. Ingin memeroleh kekayaan dengan cepat, ingin meraih popularitas dengan cepat, meraih kekuasaan dengan mudah dan cepat, dan lain sebagainya.</p>
<p>Apabila konsep ini diperkenalkan dan dipertontonkan kepada anak dalam usahanya meraih masa depan, maka akan berakibat pada pembentukan pribadi yang rapuh. Mereka akan hidup tanpa digerakkan oleh visi hidup yang agung yang berorientasi pada nilai-nilai spiritual bagi kehidupan yang jauh ke depan. Mereka bagaikan akan mengarungi lautan luas tetapi tidak mengenal ke mana seharusnya perahu diarahkan. Mereka nantinya tidak memiliki daya atau powerless dalam bekerja dan tidak memiliki semangat juang yang tinggi dalam berusaha.</p>
<p>Fenomena di atas tentu pada saatnya nanti akan menjadi sebuah realita yang tidak kita harapkan. Semua orang tua sudah barang tentu mendambakan anak-anaknya tumbuh menjadi manusia yang tangguh, sholeh/sholehah, memiliki prinsip-prinsip kebenaran yang kokoh, serta sukses dunia akhirat. Jalan menuju masa depan atau cita-cita anak terbuka lebar. Walaupun kerapkali terhalang oleh tembok yang begitu kuat, namun dengan keyakinan dan langkah pasti tembok-tembok tersebut akan bisa kita lewati.[sup]</p>
<p>* Supandi, S.Pd. MM di Cilacap, 10 Agustus 1965. Alumnus Universitas Alamat Muhammadiyah, Purworejo 2002 (S-1) dan Magister Manajemen Unsoed, Purwokerto 2007 (S-2) mengajar sebagai guru di SMP Negeri 2 Binangun. Pemilik moto hidup “Lakukan perubahan!” ini tinggal di Puri Mujur 163, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Ia sendiri sudah memiliki minat dan kegemaran menulis sejak masih SMP. Saat ini, Supandi sedang menyusun sebuah buku motivasi. Ia dapat dihubungi melalui telepon: 0282-494921, Hp: 081391274742, atau pos-el: supandi_mm[at]yahoo[dot]com.</p>
Telah di baca sebanyak: 53]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/masa-depan-anak-dalam-mindset-orang-tua/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahan Bakar Pekerjaan Anda</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/bahan-bakar-pekerjaan-anda</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/bahan-bakar-pekerjaan-anda#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 03:43:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Writing School]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=4840</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Andrew Abdi Setiawan Apa yang membuat seseorang rela bekerja dalam situasi yang sulit, penuh risiko, bahkan terkadang tidak menguntungkan bagi dirinya? Apa yang membuat seseorang tahan banting ketika harus menghadapi tantangan pekerjaan yang maha berat? Itu bukan lagi soal bakat, itu bukan lagi soal talenta, tapi soal gairah! Gairah lebih penting dibandingkan suatu program [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<hr />
<p><img style="border: none;" src="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2012/05/fresh-icon.gif" alt="" /><a href="http://pembelajar.com/wp-content/uploads/2010/05/andrew-abdi-setiawan.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-2569" title="andrew-abdi-setiawan" src="http://pembelajar.com/wp-content/uploads/2010/05/andrew-abdi-setiawan.gif" alt="" width="57" height="75" /></a> Oleh: Andrew Abdi Setiawan</p>
<p>Apa yang membuat seseorang rela bekerja dalam situasi yang sulit, penuh risiko, bahkan terkadang tidak menguntungkan bagi dirinya? Apa yang membuat seseorang tahan banting ketika harus menghadapi tantangan pekerjaan yang maha berat? Itu bukan lagi soal bakat, itu bukan lagi soal talenta, tapi soal gairah! Gairah lebih penting dibandingkan suatu program atau agenda pekerjaan. Gairah menciptakan dan memelihara api semangat untuk bekerja. Dengan kata lain, gairah adalah bahan bakar pekerjaan Anda, dan saya pula!</p>
<p>Apa itu gairah? Apakah gairah adalah keinginan? Masih belum pas! Gairah adalah keinginan yang AMAT BESAR! Izinkan saya menggambarkannya sebagai berikut: Satu kali seorang pemuda yang sombong datang kepada filsuf Socrates. Dengan wajah menyeringai ia berkata, “Socrates yang mulia, aku datang kepadamu untuk mendapatkan pengetahuan.”</p>
<p>Karena melihat kesombongannya, Socrates menuntunnya ke dalam air laut setinggi pinggang. Ia bertanya, “Katakan sekali lagi, apa yang kamu inginkan?”</p>
<p>“Pengetahuan,” jawab pemuda itu.</p>
<p>Ia lalu mencengkram pemuda tadi dan menenggelamkannya selama 30 detik. “Apa yang engkau inginkan?” tanya Socrates.</p>
<p>“Pengetahuan!” jawab pemuda itu sambil terbatuk-batuk.</p>
<p>Socrates kembali menenggelamkannya, kali ini lebih lama. Sewaktu pemuda tersebut muncul di atas air, Socrates bertanya, “Apa yang kamu inginkan?”</p>
<p>“Pengetahuan,” kata pemuda itu sambil menarik napas sebelum ia ditenggelamkan lagi.</p>
<p>Untuk terakhir kalinya, Socrates kembali menenggelamkannya dan lebih lama lagi waktunya. “Apa yang kamu inginkan?” Socrates bertanya saat pemuda itu muncul di atas air lagi.</p>
<p>Dengan batuk-batuk dan megap-megap, ia menjawab, “Udara . . . udara! Aku membutuhkan udara!”</p>
<p>Lantas Socrates berkata kepadanya, “Jika kamu menginginkan pengetahuan seperti kamu membutuhkan udara, maka kamu akan mendapatkan pengetahuan itu.”</p>
<p>Gairah adalah keinginan yang AMAT BESAR sebesar kebutuhan kita untuk menghirup udara setiap saatnya.</p>
<p>Seorang penulis dan editor, Norman Cousins, berkata, “Kematian bukanlah kerugian terbesar dalam hidup. Kerugian terbesar adalah apa yang mati dalam diri kita sementara kita masih hidup.” Tanpa gairah, maka pekerjaan kita akan bersifat rutinitas dan ritualitas. Amat membosankan! Tanpa gairah, maka pekerjaan kita akan mati terlebih dahulu sebelum kita mati. Amat ironis!</p>
<p>Bagaimana caranya membangkitkan dan memelihara gairah dalam bekerja? Renungkan ini, masalah apakah yang ada di tempat usaha/kantor yang paling membuat Anda prihatin? Apa dampaknya bila masalah tersebut dibiarkan terus-menerus? Kemudian, bayangkan dan rasakan bila Anda bisa menjadi salah satu alat yang dipakai Tuhan untuk menjawab masalah tersebut. Be available untuk membawa solusinya. Yang terakhir, senantiasalah bergaul dengan rekan-rekan yang memiliki keprihatinan yang sama. Mengapa? Sederhana, yaitu agar gairah bekerja Anda, khusus dalam menyelesaikan suatu masalah tetap terpelihara. Selamat bergairah![aas]</p>
<p>* Andrew Abdi Setiawan, seorang rohaniwan di kota Surakarta. Ia sedang menggeluti pelayanannya sebagai seorang WTC—writer, trainer/teacher, counselor. Tulisan “Mitos-mitos Hidup Lajang” tadi merupakan salah satu cuplikan dari sebuah buku saku yang segera diterbitkan oleh Penerbit Kanisius dalam waktu dekat. Selain itu, lewat Penerbit Kanisius, ia sudah menerbitkan buku tentang spiritualitas Kristen dalam Lebat tetapi Tak Berbuah. Untuk berhubungan lebih lanjut, silakan kirim pos-el ke: becomingwtc[at]gmail[dot]com.</p>
<hr />
Telah di baca sebanyak: 34]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/bahan-bakar-pekerjaan-anda/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjalani Peran sebagai Ibu Rumah Tangga sebagai Pilihan Hidup</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/menjalani-peran-sebagai-ibu-rumah-tangga-sebagai-pilihan-hidup</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/menjalani-peran-sebagai-ibu-rumah-tangga-sebagai-pilihan-hidup#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 03:35:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Writing School]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=4833</guid>
		<description><![CDATA[Seorang mahasiswi yang telah menyelesaikan studinya dan menikah, sempat curhat via fasilitas chatting di situs jejaring sosial facebook. Ia mengeluh karena capek-capek menjalani kuliah dan menyelesaikan S1-nya tetapi menjadi percuma dan sia-sia belaka. Karena ia hanya menjadi seorang ibu rumah tangga saja. Baginya seakan-akan ilmu dan pengetahuan yang telah susah payah diraihnya selama lebih kurang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<hr />
<p><img style="border: none;" src="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2012/05/fresh-icon.gif" alt="" /><a href="http://pembelajar.com/wp-content/uploads/2010/05/tanenji-sagma.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-2566" title="tanenji-sagma" src="http://pembelajar.com/wp-content/uploads/2010/05/tanenji-sagma.gif" alt="" width="57" height="75" /></a><br />
Seorang mahasiswi yang telah menyelesaikan studinya dan menikah, sempat curhat via fasilitas chatting di situs jejaring sosial facebook. Ia mengeluh karena capek-capek menjalani kuliah dan menyelesaikan S1-nya tetapi menjadi percuma dan sia-sia belaka. Karena ia hanya menjadi seorang ibu rumah tangga saja. Baginya seakan-akan ilmu dan pengetahuan yang telah susah payah diraihnya selama lebih kurang 4 tahun menjadi sia-sia. Perasaannya memuncak seolah-olah dunia seperti mau kiamat.</p>
<p>Banyak di antara kita dibesarkan dalam sebuah keluarga tradisional ala pedesaan di tengah pola kehidupan yang agraris. Hidup normal di antara keluarga inti yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dan anak-anak sebagai anggota keluarga. Seorang ayah bekerja dengan pergi ke kantor, sedangkan yang lainnya ke sawah, atau ke pasar, atau tempat lainnya dalam mencari nafkah. Sedangkan ibunya mengurusi rumah dan segala atributnya—mulai dari menyiapkan makanan, merapihkan rumah, membayar tagihan-tagihan, dan seabrek kegiatan domestik lainnya.</p>
<p>Tata keluarga yang demikian memungkinkan terjadinya bias gender karena menganggap bahwa yang berhak keluar rumah untuk sekadar mengaktualisasikan diri adalah pria. Sedangkan wanita dunianya adalah hanya sekitar dapur, sumur, dan maaf kasur.</p>
<p>Mind set yang demikian masih mendarah daging dalam sebagian pemikiran orang-orang yang hidup di alam modern ini. Walaupun jaman telah meng-global, tetapi ada saja yang mengkungkung diri dengan pemikiran tersebut.</p>
<p>Seiring dengan perkembangan kehidupan, tingkat melek huruf dan lama bersekolah penduduk berjenis kelamin perempuan semakin meningkat. Dunia kerja tidak lagi didominasi oleh pria. Bahkan dalam pekerjaan yang cenderung secara tradisional merupakan wilayah laki-laki telah terjamah oleh pelaku yang berjenis kelamin perempuan, seperti supir, dll.</p>
<p>Laki-Laki Penanggung Jawab Pencari Nafkah</p>
<p>Secara normal dan didukung oleh banyak doktrin keagamaan sebenarnya laki-laki-lah yang memiliki tanggung jawab dalam mencari nafkah untuk bekal melangsungkan kehidupan sebuah keluarga.</p>
<p>Untuk itu beberapa keluarga memprioritaskan anak laki-laki dalam mendapatkan kesempatan meraih pendidikan terbaik guna menyiapkan diri mereka menjadi calon kepala rumah tangga. Dari sinilah wacana pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) mendapatkan tempat dalam pembahasaannya.</p>
<p>Seandainya toh ada wanita yang bekerja maka bukan merupakan tanggung jawabnya dalam mencari nafkah. Tetapi hanya sebagai tambahan penghasilan bagi keluarganya karena didukung oleh pihak laki-laki atau sang suami. Walaupun tidak dipungkiri banyak yang penghasilannya lebih besar wanita dari pada laki-laki karena berbagai hal, seperti ruang lingkup pekerjaannya, latar belakang pendidikan dan pengalaman, dan banyak hal lainnya. Hal ini biasanya kalau tidak dikelola secara fair dalam hubungan antara suami isteri akan menjadi kerikil dalam hubungan harmonis antara mereka. Hal tersebut mengakibatkan banyak pasangan yang sebelumnya sama-sama bekerja akan memutuskan untuk salah satu saja yang bekerja. Dan hampir dipastikan yang terkalahkan adalah pihak si isteri. Hal ini bisa terjadi karena adanya kekhawatiran dominasi laki-laki menjadi runtuh. Penghormatan terhadap kepala rumah tangga terancam gara-gara wanita berpenghasilan mandiri.</p>
<p>Menjadi Wanita Pekerja</p>
<p>Wanita boleh bekerja menjalani aktifitas sehari-hari di luar rumah sesuai dengan perjanjian dengan sang suami. Pada dasarnya apabila suami tidak mengijinkan, beberapa doktrin keagamaan cenderung melarangnya apabila wanita tetap melakukannya ia dianggap tidak menghormati keputusan suaminya. Bila diijinkan ada baiknya wanita tetap pada koridor, bahwa pencari nafkah utama adalah pria, sedangkan ia hanya sebagai tambahan. Sehinggan sang suami tidak merasa direndahkan eksistensinya.</p>
<p>Konsekuensi dari seorang ibu bekerja adalah meninggalkan anak dalam waktu yang lumayan lama. Anak lalu diasuh oleh seorang baby sitter atau pembantu rumah tangga. Kalau seorang wanita menjadi guru masih lumayan, banyak waktu tersisa yang dapat dijalaninya dengan si buah hati. Bagaimana dengan para wanita pekerja kantoran yang berangkat pagi dan pulang ke rumah menjelang malam?</p>
<p>Pada dasarnya saya sepakat dengan wanita yang memilih untuk tetap bekerja di luar rumah setelah menikah. Bahkan saya cenderung mewajibkan para wanita itu dapat bekerja. Hal ini dikarenakan bila sang suami sudah tiada, maka ia akan mengandalkan siapa lagi dalam mendapatkan penghasilan yang memadai untuk melangsungkan kehidupannya? Tunjangan pensiun yang tidak seberapa itu? Belas kasih dari keluarga besar? Uluran tangan dari negara? Boro-boro, iya enggak?[]</p>
<p>Menjadi Ibu Rumah Tangga sebagai Pilihan Hidup</p>
<p>Life is all about choice. Hidup itu bicara tentang pilihan. Menjadi ibu rumah tangga bisa menjadi semacam pilihan tanpa paksaan bagi sebagian besar wanita dalam sebuah keluarga. Ia—sebagaimana digambarkan oleh sebuah iklan televisi—adalah ahli akuntansi terbaik dalam sebuah keluarga. Seorang ibu dapat menjadi guru les bagi anak-anaknya yang dapat mengalahkan guru formal yang sudah terkategori profesional sekalipun. Ia adalah koki terbaik yang pernah ada. Ia adalah house keeper andalan yang setia dengan pekerjaannya. Ia adalah ojek terbaik dalam antar jemput anak sekolah, hehe…</p>
<p>Kehidupan yang rutin itu di mana saja dan kapan saja tetap mempunyai potensi yang dapat membuat kondisi seseorang mengalami kebosanan. Termasuk menjadi ibu rumah tangga, dimana kehidupannya yang dihadapi itu-itu saja sepanjang hidupnya. Apabila mau diuangkan (baca: dihargai secara professional) sebenarnya ibu rumah tangga adalah profesi tak ternilai penghargaannya. Agar tidak menjadi bosan/jenuh seorang ibu rumah tangga bisa mengaktualisasikan dirinya dalam banyak hal. Dunia arisan, dunia majelis taklim, dan dunia sosial lainnya sebenarnya memungkinkan kehidupan seorang ibu rumah tangga dapat lebih berwarna. Bahkan dapat melebihi warna pelangi terindah yang pernah ada dalam sejarah umat manusia. Untuk itu bersiap-siaplah ia keluar dari zona kenyamanan (comfort zone).</p>
<p>Banyak aktifitas yang dapat dijalani, baik profit maupun non-profit. Ia dapat menjadi penulis freelance. Ia juga dapat menjalani peran sebagai guru les bagi anak-anak tetangga kanan-kiri yang kurang mampu secara ekonomi secara gratis atau free of charge. Waktu luangnya bisa dimanfaatkan dengan mendesain buku-buku cerita. Ia juga bisa menuliskan pengalaman hidupnya sebagaimana pernah dikatakan oleh penulis novel laris JK Rowling. Tulislah apa yang Anda ketahui, ucapkan, lakukan, dan rasakan.</p>
<p>Lagian perasaan tersisih, perasaan melihat orang lain lebih bahagia dari dirinya adalah karena cuma saling memandang. Dalam istilah bahasa Jawa disebut sebagai sawang sinawang. Siapa bilang menjadi ibu rumah tangga itu kampungan? Siapa bilang menjadi ibu rumah tangga kurang berpengalaman? Siapa bilang menjadi wanita sebagai pekerja kantoran itu berarti hebat? Jaminan menjadi langsung kaya raya? Ya, coba kita wawancarai atau survei sebagian dari teman atau tetangga yang menjalani aktifitas seperti itu. Apakah ia dapat menjamin bahwa dirinya bahagia? Bukankah kebahagiaan itu bersifat abstrak? Bukankah kebahagiaan itu bicara soal hati? Soal bagaimana seni dalam memberikan sebagian dari yang kita miliki untuk orang lain? Karena bagaimana pun kebahagiaan itu ada dan tanpa syarat. Karena kebahagiaan itu pilihan. Termasuk menjalani peran menjadi ibu rumah tangga. Bukankah begitu kawan? Wallahu a’lam[tan]</p>
<p>* Tanenji adalah seorang Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan beberapa perguruan tinggi swasta di Bogor, Depok, dan Jakarta-Timur, dapat dihubungi melaui email: tanenji@yahoo.com atau ponsel 0812 876 3133. Beberapa artikel lepasnya tentang secuil dinamika kehidupan dapat diakses di www.andaluarbiasa.com/tag/tanenji.</p>
<hr />
Telah di baca sebanyak: 27]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/menjalani-peran-sebagai-ibu-rumah-tangga-sebagai-pilihan-hidup/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CARNEGIE-BUFFETT</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/carnegie-buffett</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/carnegie-buffett#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 08:56:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=4828</guid>
		<description><![CDATA[Warren Buffett. Siapa yang tak kenal nama ini. Sedikitnya, tiap orangyang membaca berita-berita ekonomi, atau pemain di bursa saham seluruh dunia, mengenal nama ini dengan baik. Bukan hanya mengenal, tetapi juga mencoba meniru sepak terjangnya, belajar darinya, atau bahkan ingin menjadi seperti Buffett. Selama bertahun-tahun nama Buffett tercantum sebagai salah satu dari orang terkaya di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2010/05/andrias-harefa2.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-2540" title="andrias-harefa2" src="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2010/05/andrias-harefa2.gif" alt="" width="57" height="75" /></a>Warren Buffett. Siapa yang tak kenal nama ini. Sedikitnya, tiap orangyang membaca berita-berita ekonomi, atau pemain di bursa saham seluruh dunia, mengenal nama ini dengan baik. Bukan hanya mengenal, tetapi juga mencoba meniru sepak terjangnya, belajar darinya, atau bahkan ingin menjadi seperti Buffett.</p>
<p>Selama bertahun-tahun nama Buffett tercantum sebagai salah satu dari orang terkaya di dunia, bergantian dengan Bill Gates. Dalam biografi berjudul The Snowball yang ditulis Alice Schroeder tahun 2008 (diterjemahkan oleh penerbit Elexmedia, 2010, setebal lebih dari 1352 halaman), disebutkan jumlah kekayaan pribadinya pernah melebihi 60 miliar dolar Amerika, sekitar Rp 540 triliun. (Jika harta Buffett dibagikan kepada 30 juta penduduk miskin di Indonesia, maka masing-masing orang akan kebagian 2.000 dolar Amerika, kurang lebih Rp 18 juta).</p>
<p>Nama besar Buffett inilah yang membuat saya langsung duduk menonton tayangan mini biografinya di sebuah saluran tivi berbayar belum lama ini. Sayang saya hanya sempat melihat tayangan 15 menitan terakhir. Namun, ada satu hal yang menggelitik pikiran saya ketika Buffett bicara tentang sertifikat yang dipajang di kantornya.</p>
<p>Ia mengatakan bahwa tidak satu pun ijazah pendidikan formalnya yang tertempel di dinding tempatnya bekerja. Tetapi sertifikat dari Dale Carnegie Training ada. Ketika ditanya mengapa begitu, ia menjawab singkat, “Pelatihan Dale Carnegie mengubah hidup saya”.</p>
<p>Sebagai mantan instruktur senior berlisensi Dale Carnegie Training, saya menduga bahwa program pelatihan yang mengubah hidup Warren Buffett itu adalah Effective Speaking and Human Relations(ESHR). Program ini merupakan satu dari dua program yang memang dirancang langsung oleh Dale Carnegie (1888-1955) lewat proses panjang yang mengagumkan. Diujicoba dan dilatihkan untuk umum sejak 1912, pelatihan yang awalnya bernama Public Speaking for Businessmen ini memang fenomenal, sehingga “penganut”ajaran Carnegie disebut Carnegian. (Bisa ditambahkan bahwa Mochtar Riady, pendiri kelompok Lippo; Jonathan L. Parapak, Direktur Utama PT Indosat pada masa Orde Baru, dan Cacuk Sudarijanto, yang pernah menjabat sebagai Direktur Telkom, adalah alumni Dale Carnegie Training tahun 70-an akhir).</p>
<p>Apa inti pokok ajaran Carnegie, yang berhasil menginspirasi dan mengubah hidup banyak orang, termasuk orang sekaliber Buffett?</p>
<p>Jawabannya bisa ditemukan dalam dua karya klasik: How To Win Friends and Influence People (terbitan 1936) danHow To Stop Worrying and Start Living (1948). Kedua bukubest-seller sepanjang masa itu yang ditulis oleh Dale Carnegie berdasarkan catatan yang amat cermat dari kesaksian peserta pelatihannya selama puluhan tahun, ditambah sejumlah referensi. Gaya penulisannya populer, sehingga sangat nikmat dibaca.</p>
<p>Dalam How to Win, Carnegie secara cerdas merumuskan 30 cara atau teknik untuk menjadi pribadi yang disukai, rekan kerja yang menyenangkan, dan pemimpin yang efektif. Ke-30 teknik human relations itu bisa dibedakan dalam tiga kategori.</p>
<p>Kategori pertama untuk mendapatkan teman, yang memuat 9 cara agar mudah disenangi orang lain. Mulai dari anjuran menghindari kebiasaan menyalahkan, mengomeli, dan mengkritik; berikan penghargaan kepada orang lain; beri dorongan untuk maju; berikan perhatian yang tulus ikhlas; tersenyumlah; sebutkan nama lawan bicara; jadilah pendengar yang baik; bicarakan hal yang diminati orang lain; sampai buatlah orang merasa sebagai very important person (VIP).</p>
<p>Kategori kedua untuk mendapatkan kerja sama antusias dari rekan kerja, berisi 12 cara. Mulai dari anjuran untuk menghindari debat kusir; hormatilah pendapat orang lain; kalau salah akui dengan simpatik; mulailah dengan ramah; upayakan respons ya, ya, dan ya; biarkan orang lain berbicara lebih banyak; buat orang merasa bahwa itu idenya; cobalah melihat dari sudut pandang orang lain; tunjukkan simpati para ide orang lain; imbau dengan motivasi agung dan mulia; dramatisir ide-ide Anda; sampai berilah tantangan untuk maju.</p>
<p>Dan kategori ketiga, berisi 9 cara menjalankan peran sebagai pemimpin yang menghargai manusia. Mulai dengan penghargaan yang jujur; beritahu kesalahan orang secara tidak langsung; akui kesalahan sendiri sebelum mengkritik orang; ajukan pertanyaan sebagai ganti perintah langsung; selamatkan muka orang; pujilah kemajuan sekecil apa pun; beri reputasi tinggi untuk dicapai; buatlah kesalahan tampak mudah diperbaiki; sampai buatlah orang lain senang melaksanakan ide Anda.</p>
<p>Dalam How To Stop Worrying, Carnegie juga menawarkan 30 tehnik mengatasi kecemasan dan kekhawatiran yang tak perlu. Mulai dari fakta-fakta fundamental yang perlu diketahui tentang kesedihan hati; teknik dasar menganalisis kesedihan hati; bagaimana menghancurkan kebiasaan bersedih hati; tujuh cara mengembangkan sikap mental agar hidup tenteram bahagia; cara paling sempurna untuk tak bersedih; cara menghadapi kritik orang; enam cara agar jangan lekas lelah; mencari pekerjaan yang membuat Anda bahagia; mengurangi kekhawatiran karena masalah keuangan; dan<br />
seterusnya.</p>
<p>Jadi, ajaran Dale Carnegie bertumpu sedikitnya pada lima pilar utama. Pertama, jadilah kawan yang menyenangkan. Kedua, jadilah rekan kerja yang antusias. Ketiga, jadilah pemimpin yang efektif. Keempat, kuasailah cara mengatasi ketakutan, kekhawatiran, kecemasan atau kesedihan hati. Dan akhirnya, jadilah pembicara yang baik.</p>
<p>Buffett mendapatkan manfaat besar yang mengubah hidupnya dari ajaran tersebut. Anda?</p>
<p>*) Andrias Harefa, WTS adalah writer: 38 Best-selling Books; Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com; Twitter @aharefa</p>
<hr />
Telah di baca sebanyak: 36]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/carnegie-buffett/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Disengsarakan Spekulan Minyak?</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/disengsarakan-spekulan-minyak</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/disengsarakan-spekulan-minyak#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 08:50:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=4824</guid>
		<description><![CDATA[INVESTASI alternatif dengan janji untung besar, siapa yang tidak tertarik? Suatu sore, di satu kafe di sekitar Pancoran, saya bertemu dengan seorang pejabat yang minta bantuan saya terkait dengan rencananya untuk menulis buku. Namun ternyata itu bukan pertemuan “bilateral” antara saya dengan pejabat tersebut, melainkan pertemuan “multilateral”. Setelah sekitar satu jam kami bebicara, datang dua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2011/11/her-suharyanto.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-4807" title="her-suharyanto" src="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2011/11/her-suharyanto.gif" alt="" width="57" height="75" /></a>INVESTASI alternatif dengan janji untung besar, siapa yang tidak tertarik?</p>
<p>Suatu sore, di satu kafe di sekitar Pancoran, saya bertemu dengan seorang pejabat yang minta bantuan saya terkait dengan rencananya untuk menulis buku. Namun ternyata itu bukan pertemuan “bilateral” antara saya dengan pejabat tersebut, melainkan pertemuan “multilateral”. Setelah sekitar satu jam kami bebicara, datang dua perempuan cantik yang juga janji bertemu dengan sang pejabat.</p>
<p>“Sebentar lagi saya akan ada tamu lain, tolong Mas Her jangan pergi, nanti saya akan minta Mas Her memberi pertimbangan,” kata pejabat tersebut.</p>
<p>Tamu tersebut ya dua perempuan cantik itu.</p>
<p>Setelah berbasa-basi sejenak kedua perempuan itu mulai menawarkan investasi yang menurut mereka sangat menjanjikan. “Bapak boleh pilih, mau investasi di komoditas atau forex… dijamin untung karena ditangani oleh orang yang berpengalaman di bidangnya.” Kedua perempuan itu mulai memberi kesaksian sambil berbisik “ini rahasia lho…” bahwa pejabat A artis B dan pengusaha C adalah para nasabah perusahaannya yang menangguk untung besar. Keduanya, secara bergantian namun terasa agresif, berusaha menjelaskan bagaimana mungkin investasi itu menguntungkan.</p>
<p>“Ada yang untung lebih dari 100 persen dalam sebulan,” kata yang satu.</p>
<p>Sang pejabat mulai senyum-senyum, sesekali melirik saya (tapi lebih banyak memandang kedua perempuan yang menggoda dengan matanya).</p>
<p>“Wah, saya nggak ngerti mbak… Ini Mas Her, konsultan keuangan saya. Kita dengar saja dia bilang apa… saya ikut saja.”</p>
<p>Saya merasa seperti disambar geledek, karena ditempatkan pada posisi yang tidak mengenakkan. Akhirnya saya sekadar bercerita bagaimana saya juga telah sering mendapatkan tawaran serupa, dan bagaimana saya menolak. Kedua perempuan itu berbalik mencoba meyakinkan saya dengan manis. Namun air muka keduanya berubah ketika saya mengatakan, “Saya tidak mau karena bagi saya ini investasi spekulatif.”</p>
<p>“Ini bukan spekulatif mas… bisa dihitung. Fund manager kami tidak main-main. Mereka memakai perhitungan yang matang…” dan seterusnya.</p>
<p>Rupanya kata “spekulatif” yang saya maksud tidak ditangkap, dan ini menyengat mereka. Yang saya maksud dengan spekulatif adalah bahwa investasi ini tidak memiliki underlying assets. Investasi rumah berarti ada rumah yang dibeli. Begitu juga investasi tanah, emas atau bahkan juga valas sejauh dalam arti kita benar-benar membeli lembar uang (banknote) atau menabung dalam valas. Dalam istilah ekonomi, investasi tersebut memiliki underlying asset. Investasi pada saham pun masih ber-underlying asset. Kita memang membeli kertas, tetapi di balik kertas itu ada aset perusahaan yang menerbitkan saham tersebut.</p>
<p>Tetapi dalam perdagangan berjangka tidak ada aset yang dipertukarkan.</p>
<p>“Maksudnya tidak ada transaksi emas atau minyak yang riil?” Sang pejabat, yang bidangnya adalah kemasyarakatan, ikut bertanya.</p>
<p>“Tidak ada,” saya berkata. Saya melanjutkan bahwa para pemilik uang datang ke bursa yang disebut bursa berjangka bukan untuk dagang minyak, emas atau komoditas yang lain. Mereka datang ke bursa berjangka dengan tujuan untuk mencari untung dari pergerakan harga komoditas itu. “Kedua Mbak ini juga tidak mengajak Bapak untuk dagang emas atau minyak, tapi untuk cari untung dari pergerakan harga emas, minyak atau nilai tukar mata uang (valas).”</p>
<p>“Jadi tidak spekulatif kan? Bisa dihitung, kan?” kata seorang dari kedua perempuan cantik itu.</p>
<p>Saya memutuskan untuk menghentikan “penjelasan” saya di depan keduanya karena saya tidak mau menghalangi usahanya untuk bekerja. Dan untunglah sang pejabat cukup bijak dengan mengatakan dia bisa dihubungi lagi seminggu dari waktu pertemuan itu.</p>
<p>Tetapi setelah kedua orang itu pergi sang pejabat masih penasaran. Dia bertanya, bagaimana mungkin ada pasar tanpa ada aset yang ditransaksikan.</p>
<p>“Begini Pak. Katakan saja saya produsen karet. Bapak punya pabrik ban. Bapak setiap minggu beli karet dari saya. Bulan ini produksi karet lagi bagus, harganya katakan saja 100 dolar satu ton. Misalnya kita tahu enam bulan lagi produksi karet bakal susah. Kita sama-sama tahu harga akan naik, bukan? Nah, kita bikin kontrak. Enam bulan yang akan datang Bapak akan beli karet dari saya dengan harga 120 dolar per ton. Apakah ini mungkin terjadi?”</p>
<p>“Mungkin saja. Tapi harga riil enam bulan mendatang bisa cuma 110 atau bisa 140, kan?”</p>
<p>“Itu dia,” kata saya. “Kalau enam bulan mendatang harganya 110, berarti bapak rugi 10 saya untung 10. Sebaliknya kalau harga pasar 140, saya untung 20 Bapak rugi 20, bukan?”</p>
<p>Saya melanjutkan, “Tetapi untuk bisa bertransaksi seperti itu saya tidak harus menjadi petani karet dan Bapak tidak harus menjadi produsen ban. Tapi kita tetap bisa membuat perjanjian jual beli persis seperti di atas, bukan? Gampang saja. Kalau harga pasarnya nanti 110 berarti Bapak bayar saya 10, kalau harga pasarnya 140 saya bayar Bapak 20.”</p>
<p>“Jadi kalau mau modalnya bukan 120, tapi masing-masing 10 atau 20 cukup dong?” kata Pak Pejabat.</p>
<p>“Persis. Ini namanya bermain margin, Pak.”</p>
<p>“Jadi yang bertransaksi emas dan minyak itu bisa jadi orang-orang yang tidak ada kaitannya dengan produksi dan penggunaan emas atau minyak?”</p>
<p>“Lebih banyak yang seperti Bapak sebutkan. Di dunia ini ada ribuan atau jutaan orang seperti kedua tamu Bapak tadi. Apakah mereka semua mengajak orang-orang seperti Bapak menjadi produsen minyak atau membeli minyak? Tidak. Mereka mengajak orang-orang seperti Bapak untuk memanfaatkan pergerakan harga minyak.”</p>
<p>“Bertaruh dong?”</p>
<p>* * *</p>
<p>SAYA KEMBALI teringat peristiwa di atas beberapa pekan lalu ketika melihat foto di halaman satu Harian Kontan. Foto itu menunjukkan dua orang laki-laki tertawa lepas sambil mengepalkan kedua tinjunya. Caption foto menyebutkan bahwa mereka berdua adalah para investor bursa berjangka yang tertawa puas karena harga minyak terus bergerak naik.</p>
<p>Dalam beberapa bulan terakhir harga minyak terus merangkak naik, dan ini menjadi sumber kesengsaraan begitu banyak orang. Sama seperti ketika krisis ekonomi melanda Indonesia dan beberapa negara Asia tahun 1997/98, banyak pihak menuduh bahwa ini adalah ulah para spekulan. Negara-negara pengekspor minyak (OPEC) mengatakan produksi minyak dunia cukup untuk memenuhi kebutuhan. Jadi kalau harga naik, maka menurut mereka itu karena ulah para spekulan.</p>
<p>Pertanyaannya, mungkinkah para spekulan ikut menentukan harga? Bisa saja, minimal secara tidak langsung, melalui pembentukan sentimen dan ekspektasi (yang berperan besar pada harga). Saya bisa salah, tapi paling tidak India beberapa waktu lalu menutup bursa berjangka-nya dengan alasan harga yang dibentuk oleh bursa berjangka tersebut sudah sangat tidak sesuai dengan keadaan pasar.</p>
<p>*) Her Suharyanto; her@jurutulis.com; www.jurutulis.com</p>
Telah di baca sebanyak: 18]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/disengsarakan-spekulan-minyak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Supaya Pede Berbicara di Depan Umum</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/supaya-pede-berbicara-di-depan-umum</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/supaya-pede-berbicara-di-depan-umum#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 08:44:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=4819</guid>
		<description><![CDATA[Pada tulisan sebelumnya sudah digaris bawahi bahwa untuk menjadi pede kita harus mampu melihat diri sendiri apa adanya, harus bijak memosisikan diri sendiri maupun orang lain, dan mampu menerjemahkan lingkungan sewajarnya. Kemampuan kita melihat diri sendiri secara manusiawi akan menempatkan diri kita maupun orang lain serta lingkungan ke dalam porsi yang benar. Hal tersebut akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<hr />
<p><a href="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2011/12/dirga.png"><img class="alignleft size-full wp-image-4588" title="dirga" src="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2011/12/dirga.png" alt="" width="57" height="75" /></a>Pada tulisan sebelumnya sudah digaris bawahi bahwa untuk menjadi pede kita harus mampu melihat diri sendiri apa adanya, harus bijak memosisikan diri sendiri maupun orang lain, dan mampu menerjemahkan lingkungan sewajarnya. Kemampuan kita melihat diri sendiri secara manusiawi akan menempatkan diri kita maupun orang lain serta lingkungan ke dalam porsi yang benar. Hal tersebut akan melandasi kita supaya bisa pede dengan wajar, tanpa dibuat-buat. Namun, pede secara umum (in general situation) tidak menjamin akan pede pula saat harus berbicara di depan umum (public speaking). Mengapa demikian? Karena adanya unsur gangguan fisik dan gangguan mental dalam berbicara di depan umum.</p>
<p>Keadaan tidak pede saat berbicara didepan umum akan mengundang gangguan fisik maupun gangguan mental. Gangguan fisik dapat berupa tiba-tiba merasa gatal, gemetar, jantung berdebar keras, berkeringat yang tidak wajar, tangan dingin, suara parau bahkan tidak keluar, tenggorokan kering, kaki rasanya lemas, perut mulas, dan selalu ingin buang air kecil. Gangguan fisik ini kalau tidak berhasil kita atasi akan semakin membuat kita down, semakin tidak pede.<br />
Gangguan fisik harus kita atasi secara fisik pula. Caranya adalah dengan mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Ini tidak harus dilakukan di ruang tempat kita berbicara, tetapi bisa dilakukan di luar gedung. Selanjutnya adalah kita harus mencoba tersenyum saat menarik napas maupun menghembuskan napas, sembari mengendurkan syaraf yang tegang. Saat kita tersenyum, syaraf akan terpancing untuk mengendur. Lakukan beberapa kali sampai kita merasa relaks.</p>
<p>Teknik lain untuk mengatasi gangguan fisik adalah dengan cara memberikan kejutan pada tubuh kita. Ini bisa kita lakukan dengan melompat yang tinggi kalau perlu sambil berteriak keras, saling menggenggam erat antara tangan kanan dan tangan kiri, atau membuat gerakan ekstrim yang membuat seolah badan kita tersengat. Malu dong melakukan gerakan kejutan di depan umum? Jangan khawatir. Ini ada triknya. Kita justru bisa mengajak peserta (audience) untuk melakukan bersama sama kita. Pernahkah Anda menjumpai pembicara yang mengajak peserta berjingkrak-jingkrak bersama sambil berteriak? Nah, ini adalah salah satu cara supaya kita memiliki kesempatan untuk menciptakan kejutan bagi fisik kita. Dengan cara ini peserta maupun pembicara menjadi lebih relaks.</p>
<p>Gangguan lain yang akan muncul saat kita tidak pede untuk berbicara di depan umum adalah gangguan mental. Gangguan mental muncul dalam bentuk perasaan khawatir secara berlebihan, grogi, minder, merasa akan diterkam oleh peserta, merasa disepelekan, merasa kecil, merasa bodoh, merasa kurang siap, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Gangguan mental ini juga harus kita atasi dengan menggunakan pendekatan mental pula.</p>
<p>Salah satu teknik yang bisa kita gunakan untuk mengatasi gangguan mental adalah dengan membuat keputusan kepada diri sendiri untuk tidak khawatir, tidak grogi, tidak minder, dan sebagainya. Perintahkan diri sendiri untuk tidak khawatir. Katakan dalam hati dengan lembut pada diri sendiri bahwa kita tidak perlu khawatir karena situasi akan membaik dan memihak pada kita. “Don’t worry, you will be fine.” Katakan berulang-ulang. Hipnosis diri sendiri. Kondisikan hati kita akan menerima saran baik dari kita sendiri. Lakukan lagi sampai kita merasa lebih baik.</p>
<p>Gangguan mental dapat pula kita atasi dengan cara melakukan reposisi pada diri sendiri maupun orang lain. Caranya adalah dengan memberikan posisi yang serba positif kepada peserta. Posisikan peserta sebagai pemaaf, orang yang menyenangkan, penuh pengertian, dan akan memberikan perhatian pada acara ini. Cara ini akan efektif karena saat kita grogi misalnya, karena ada peserta yang lebih tinggi pangkatnya atau lebih hebat gelarnya, adalah posisi yang kita pilih untuk diri sendiri. Saat itu kita memosisikan sebagai lebih rendah maka mereka menjadi tampak lebih tinggi.<br />
Di sini perlu kearifan untuk menempatkan segala sesuatu pada porsi yang semestinya. Apa sih salahnya kalau ada peserta yang memiliki gelar lebih hebat dari pada pembicara? Apa pula salah pembicara kalau pangkatnya lebih rendah dari pada peserta? Posisikan diri sendiri maupun orang lain pada porsi yang wajar, maka kita akan mampu mengatasi gangguan mental.<br />
Teknik lain untuk mengatasi gangguan mental adalah dengan cara yang disebut unfreezing, atau mencairkan kebekuan. Ini bisa kita lakukan dengan cara melakukan komunikasi awal dengan peserta. Kita bisa menanyakan sesuatu yang ringan-ringan saja yang untuk menjawab mereka tidak perlu berpikir keras. Misalnya kita menanyakan, “Siapa yang hadir di sini yang ingin kaya?” Mintalah mereka mengangkat tangan apabila ingin kaya. Pertanyaan seperti ini tentunya memiliki jawaban pasti karena semua orang ingin kaya. Tetapi, dengan kita tanyakan kepada peserta kita memiliki kesempatan untuk berinteraksi. Interaksi ini akan mencairkan suasana sehingga gangguan mental bisa kita atasi. Tentu saja pertanyaan yang kita ajukan harus ada hubungannya dengan topik yang akan kita sampaikan.</p>
<p>Kalau kita sedang berbicara tentang kesehatan kita bisa menanyakan “Siapa di antara yang hadir di sini yang ingin sehat?”<br />
Haruskah unfreezing dilakukan dengan bertanya? Tidak. Kita bisa juga melakukan unfreezing dengan menyapa peserta yang kita kenal, memuji baju yang dikenakan salah satu atau beberapa peserta, menyampaikan kata-kata bijak yang sesuai topik, dan kemudian menanyakan kepada peserta setuju atau tidak dengan kata-kata bijak tersebut. Atau cara-cara lain, yang penting kita bisa membuka interaksi dengan peserta agar kebekuan bisa cair.</p>
<p>Unfreezing bisa juga dilakukan dengan bertanya kepada peserta suatu pertanyaan yang sudah kita atur jawabannya. Misalnya, apabila ditanya apa kabar, mereka harus menjawab “luar biasa”, “fantastik”, “super”, dan jawaban lain yang membangkitkan semangat.</p>
<p>Ada pula yang mengatasi gangguan mental dengan cara humor, yaitu dengan memberikan sentuhan jenaka bagi peserta yang membuat kita grogi. Cara ini bukan berarti kita harus melucu, tetapi kita membayangkan mereka dalam posisi lucu sehingga kita bisa tertawa dalam hati. Misalnya, peserta yang matanya besar kita bayangkan bahwa matanya lebih besar lagi, lebih bulat, seperti mata Bagong, tokoh pewayangan yang selalu melucu. Peserta yang berjenggot kita bayangkan seperti seekor kambing, dan seterusnya.</p>
<p>Ini memang butuh kreativitas. Membayangkan wajah jelek dan lucu tidaklah mudah. Dalam training public speaking, untuk mendapatkan gambaran tentang wajah jelek dan lucu saya sering minta kepada peserta untuk berekspresi yang sejelek mungkin dan kemudian selucu mungkin. Peserta lain mengamati sehingga peserta memiliki inventory bayangan wajah jelek dan lucu. Inventory ini akan berguna dikemudian hari saat mereka harus mendapatkan sisi lucu dari peserta. Tertarik untuk mencoba? Silakan. Asyik juga cara ini.[ap](bersambung)</p>
<p>* Agung Praptapa adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga Direktur AP Consulting, yang memberikan jasa konsultasi bisnis dan training di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Kolumnis tetap di andaluarbiasa.com. Tulisan ini untuk mendukung training “Empowering Your Confidence in Public Speaking”. Website: www.praptapa.com, pos-el: praptapa[at]yahoo[dot]com.</p>
Telah di baca sebanyak: 42]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/supaya-pede-berbicara-di-depan-umum/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Menunda Berbuat Baik</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/tidak-menunda-berbuat-baik-2</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/tidak-menunda-berbuat-baik-2#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 08:37:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=4815</guid>
		<description><![CDATA[Berbuat baik kepada siapapun dan apapun di dunia ini mendatangkan kedamaian dan kebahagiaan ke dalam hati. “Your own soul is nourished when you are kind; it is destroyed when you are cruel. – hatimu akan berbunga ketika Anda berbaik hati; tetapi kebahagiaan itu akan lenyap ketika Anda berbuat jahat,” kata King Solomon. Sebaliknya, kejahatan hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<hr />
<p><a href="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2009/02/andrew-ho1.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-1118" title="andrew-ho1" src="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2009/02/andrew-ho1.gif" alt="" width="57" height="75" /></a>Berbuat baik kepada siapapun dan apapun di dunia ini mendatangkan kedamaian dan kebahagiaan ke dalam hati. “Your own soul is nourished when you are kind; it is destroyed when you are cruel. – hatimu akan berbunga ketika Anda berbaik hati; tetapi kebahagiaan itu akan lenyap ketika Anda berbuat jahat,” kata King Solomon. Sebaliknya, kejahatan hanya mendatangkan kecemasan, kesedihan dan rasa tidak nyaman lainnya.<br />
Berikut ini kisah tentang seorang pria peruh baya yang cukup sukses berbisnis bahan-bahan kebutuhan pokok. Setiap hari ia selalu mendapatkan omset penjualan sangat besar. Tetapi ia mempunyai sifat sombong, menang sendiri dan tidak segan mencelakai orang lain jika berselisih paham atau bersaing dagang dengannya. Hal itu membuat pria tersebut ditakuti sekaligus dibenci orang.<br />
Suatu saat ia mendatangi seorang peramal untuk menerka seberapa besar keberuntungan yang akan ia peroleh di tahun-tahun berikutnya. Tetapi peramal tersebut justru mengungkapkan bahwa pria itu tidak akan dapat bertahan hidup lebih dari 47 tahun. Pria yang saat itu berusia 44 tahun sangat kesal mendengar ramalan itu, lalu pergi begitu saja.</p>
<p>Tetapi dalam perjalanan pulang ia terus terngiang semua kata-kata yang dilontarkan oleh sang peramal. Ia menjadi tidak tenang, lalu mencoba menemui beberapa peramal lain yang tak kalah masyhur pada saat itu. Berbagai bentuk tehnik ramalan, mulai dari membaca garis tangan, fengsui, baguo, bazhi (ramalan waktu lahir), semuanya mengisyaratkan bahwa usia pria itu tak akan lebih dari 47 tahun.</p>
<p>Meskipun sedih, ia berusaha menerima ‘kenyataan’ bahwa sisa hidupnya hanya 3 tahun lagi. Ia mulai bersiap-siap menjelang ‘kematian’. Berbagai bentuk kebaikan ia laksanakan, berharap dapat membawa amal baik sebanyak mungkin jika harus meninggal dalam waktu 3 tahun mendatang.</p>
<p>Sejak saat itu ia rajin beramal, membantu orang miskin di sekitar rumahnya. Ia juga tidak segan membagikan harta bendanya untuk membantu teman-teman maupun kerabat jauh yang membutuhkan bantuan. Hampir semua orang yang pernah mengenal dirinya dulu merasa heran sekaligus senang atas perubahan drastis sikapnya itu.</p>
<p>Masa berlalu dan usia pria itu sudah menginjak 47 tahun. Pria tersebut sudah dikenal sangat baik dan pemurah. Sedangkan bisnisnya sudah jauh lebih besar dibandingkan 3 tahun yang lalu. Anehnya sampai usianya merangkak masuk ke tahun 50, ramalan dari para peramal kesohor itu tak satupun terbukti.</p>
<p>“Baiknya kamu datangi peramal-peramal itu. Obrak-abrik saja isi rumah mereka, karena mereka semua sudah berbohong padamu,” celetuk sahabat karibnya bernada kesal.</p>
<p>“Ah, tidak perlu itu. Justru aku harus berterima kasih. Karena semua ramalan itu sudah membuatku lebih baik. Badanku terasa lebih segar, bisnisku lebih maju, pikiranku lebih ringan, dan sangat banyak orang yang baik padaku dibandingkan 3 tahun yang lalu. Hidupku lebih bahagia sekarang,” ucap pria itu tenang.</p>
<p>Inti pesan dalam kisah itu mengajak kita berbuat baik kepada siapapun, apapun dan kapanpun. Lakukan kebaikan sesegera mungkin, selagi kita mampu. Berikut beberapa hal mengapa kita sebaiknya tidak menunda untuk berbuat baik.</p>
<p>Kita tidak pernah dapat menebak apa yang akan terjadi 1 jam lagi, 2 jam lagi, dan seterusnya. “You and I can never do a kindness too soon, for we never know how soon it will be too late. – Saya dan Anda tak pernah dapat melakukan kebaikan terlalu cepat, karena kita tak pernah tahu bagaimana ukuran terlalu cepat atau terlambat,” Ralph Waldo Emerson.</p>
<p>Jangan menunda bila Anda ingin berbuat baik, karena tanpa kita sadari penundaan itu membuat kita kehilangan kesempatan. Di masa datang sangat banyak kemungkinan terjadi, misalnya Anda sudah tidak sanggup melakukannya karena sakit, tua, bangkrut, dan lain sebagainya. Kapan lagi kita dapat menikmati kebahagiaan dan kedamaian itu, jika kita tidak berbuat kebaikan sedari sekarang?</p>
<p>Kesempatan hidup kita sangat terbatas, sedangkan tanggung jawab yang harus kita kerjakan sangatlah banyak. Tak seorangpun mengetahui kapan kontrak hidup dengan Tuhan YME akan berakhir. Jika benar-benar habis masa kontrak usia kita tentu kesempatan untuk berbuat baik juga sudah hilang. Oleh sebab itu, segera gunakan kesempatan yang Anda miliki untuk berbuat baik dan jangan pernah menundanya lagi.</p>
<p>Selain itu, tak satupun manusia di dunia ini yang sempurna. Semua manusia tidak luput dari dosa dan kesalahan, entah yang kita sadari atau tidak. Selayaknya kita mengimbangi dosa dan kesalahan tersebut dengan perbuatan positif. Kalau kita tidak segera berbuat baik, bisa jadi kita kembali melakukan kealpaan lagi atau justru terjerembab dalam lingkaran kesalahan.</p>
<p>Berbuat kebaikan dengan penuh kesungguhan pasti menarik kebaikan pula kedalam kehidupan kita. Samuel Johnson mengatakan, “Kindness is in our power, even when fondness is not. – Kebaikan adalah kekuatan kita, sedangkan kesenangan itu bukan.”</p>
<p>Dalam kisah di atas dikatakan bahwa pria paruh baya tersebut merasa badannya lebih sehat, hati lebih tentram, dan bisnisnya berkembang pesat setelah ia mengisi hari-harinya dengan perbuatan baik saja. Sangat banyak manfaat lainnya dari perbuatan baik kita. Semakin cepat kita memulai berbuat kebaikan, semakin cepat pula kita rasakan semua manfaat tersebut.</p>
<p><em>*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller.<br />
Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com.</em></p>
<hr />
Telah di baca sebanyak: 30]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/tidak-menunda-berbuat-baik-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahaya “Berpikir” Positif</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/bahaya-berpikir-positif</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/bahaya-berpikir-positif#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 08:32:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=4810</guid>
		<description><![CDATA[Ide menulis artikel ini muncul saat saya berbincang dengan rekan saya, Ariesandi Setyono, saat mengevaluasi mekanisme pikiran. Kami mengevaluasi pengalaman hidup kami berdasarkan berbagai buku positif yang telah kami baca. Diskusi berjalan seru, sangat inspiring dan mind challenging. Jujur saya akui bahwa tidak mudah untuk bisa benar-benar menjadi seorang pengamat atas belief system dan proses [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<hr />
<p><a href="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2009/02/adi-w-gunawan1.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-1112" title="adi-w-gunawan1" src="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2009/02/adi-w-gunawan1.gif" alt="" width="57" height="75" /></a>Ide menulis artikel ini muncul saat saya berbincang dengan rekan saya, Ariesandi Setyono, saat mengevaluasi mekanisme pikiran. Kami mengevaluasi pengalaman hidup kami berdasarkan berbagai buku positif yang telah kami baca. Diskusi berjalan seru, sangat inspiring dan mind challenging.</p>
<p>Jujur saya akui bahwa tidak mudah untuk bisa benar-benar menjadi seorang pengamat atas belief system dan proses pikiran kami. Kami harus melepaskan keterikatan dan kemelekatan terhadap berbagai informasi dan konsep yang telah kami terima selama ini, yang kami yakini sebagai hal yang benar. Bill Gould, mentor kami selalu berpesan, ”You have to challenge everything, including your own belief system or assumptions. That’s the key to quantum leap in personal growth and consciousness expansion”.</p>
<p>Salah satu topik yang kita bahas dengan intens adalah mengapa berpikir positif justru semakin memperburuk kinerja seseorang. Topik ini menjadi materi yang menarik untuk didiskusikan karena kami sendiri telah mengalami efek negatip dari “berpikir” positif.</p>
<p>Benar. Anda tidak salah baca. Kami mengalami efek negatip dari ”berpikir” positif. Namun tolong jangan protes dulu. Saya menempatkan kata berpikir dalam tanda kutip. Apa maksudnya?</p>
<p>Sering kali kita merasa yakin, diyakinkan, atau asal percaya bahwa kita harus berpikir positif. Menurut berbagai buku dan motivator atau trainer berpikir positif baik bagi diri kita. Yang jarang diungkapkan adalah bahwa berpikir positif itu harus benar-benar tulus dan holistik.</p>
<p>Yang saya maksudkan dengan holistik adalah baik pikiran sadar maupun bawah sadar keduanya saling setuju, sinkron, kongruen dalam berpikir positif.</p>
<p>Ambil contoh orang yang menetapkan suatu target penjualan. Misalnya target bulan ini adalah 50% lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Pikiran sadar kita ”percaya”, lebih tepatnya dipaksa untuk percaya, bahwa kita mampu mencapai target ini. Kita melakukan afirmasi setiap hari, menempel kata-kata positif di berbagai tempat, dan melakukan visualisasi. Apa yang terjadi?</p>
<p>Ternyata ada bagian dari diri kita yang menolak hal ini karena kenaikan target dianggap terlalu tinggi sehingga dirasa tidak mungkin bisa dicapai. Akibatnya kita tidak berhasil mencapai target ini. Namun kita tetap ”percaya” dan ”positive thinking” bahwa kita dapat mencapai apapun asal kita yakin. Bukankah ini yang diajarkan di hampir semua buku positif dan berbagai seminar motivasi?</p>
<p>Lalu apa yang kita lakukan? Kata orang, ”Kegagalan adalah sukses yang tertunda”, ”Tidak penting berapa kali kita jatuh yang penting adalah kita bangkit setiap kali kita jatuh”, ”Tidak ada namanya kegagalan, yang ada adalah hasil yang tidak kita inginkan”, dan masih banyak lagi kata-kata mutiara berkenaan dengan kegagalan. So….? Keep trying….. pokoke maju tak gentar, pantang menyerah.</p>
<p>Setelah dua bulan, tiga bulan, empat bulan, dan kita masih belum berhasil mencapai goal kita maka kita mulai merasa nggak enak. Tapi kita tetap berusaha berpikir positif. Why? Karena memang begitulah yang kita baca di buku-buku positif.</p>
<p>Lalu, mengapa ”berpikir” positif justru akan sangat berbahaya bagi diri kita? Pada kasus di atas, yang terjadi sebenarnya adalah kita, secara tidak sadar, telah mengedukasi pikiran bawah sadar bahwa kita sebenarnya memang tidak kompeten alias gagal. Lho, kok bisa begitu ? Lha, buktinya kita sudah berkali-kali tidak berhasil mencapai target. Pikiran sadar kita dapat kita paksa untuk berpikir positif. Namun pikiran bawah sadar kita tidak bisa kita bohongi. Setiap kali kita gagal mencapai goal maka pikiran bawah sadar diedukasi dengan suatu pelajaran negatip, ”Ternyata memang saya nggak bisa mencapai goal ini”. Dengan mengalami kegagalan beruntun maka efek repetisi terjadi (ingat prinsip pemrograman pikiran). Dan kita, secara bawah sadar, semakin percaya bahwa kita memang tidak mampu.</p>
<p>Kalau anda tidak percaya apa yang saya jelaskan coba anda rasakan perasaan anda saat saya berkata, ”Set Goal”. Bagaimana perasaan anda saat anda melakukan Goal Setting. Apakah yang muncul perasaan positif atau negatip?</p>
<p>Dari pengalaman saya, kata ”goal setting” ternyata mempunyai konotasi negatip. Mengapa ? Karena kata ini mengingatkan kita akan kegagalan kita. Banyak kawan saya yang secara jujur berkata, ”Sekarang kalau saya diminta set goal maka perasaan saya langsung menolak. Ada perasaan nggak enak di hati saya. Nggak tahu kenapa bisa seperti ini”.</p>
<p>Sebenarnya jawabannya sederhana. Goal karena terlalu sering tidak berhasil dicapai akhirnya mempunyai konotasi negatip. Kita secara bawah sadar menghubungkan/meng-anchor kata goal setting dengan perasaan gagal. Jadi setiap kali kita mendengar kata ”goal setting” maka yang muncul adalah memori atau pengalaman kita saat gagal (berkali-kali) dalam mencapai goal kita.</p>
<p>Jadi, semakin seseorang berusaha untuk positif maka semakin negatip ia jadinya. Mengapa bisa begini? Karena memori manusia bersifat holographic sehingga mempunyai kemampuan/sifat cross referenced. Artinya, tidak ada memori yang berdiri sendiri. Semuanya saling terkait. Saat kita berusaha positif maka pada saat yang sama pula kita mengaktifkan memori negatip, di bawah sadar. Semakin kita berusaha positif maka semakin kuat efek negatip. Hal ini jarang disadari dan dimengerti orang.</p>
<p>Seorang kawan yang bergerak di bidang marketing, satu minggu setelah menerapkan konsep keselarasan pikiran positif (sadar dan bawah sadar) mampu meningkatkan penghasilan 3 (tiga) kali lipat dibandingkan sebelumnya. Dan yang lebih hebat lagi ia tidak usah kerja keras untuk mencapai hal ini. Kesannya adalah semua sudah ada yang mengatur.</p>
<p>Satu hal yang perlu anda ketahui yaitu kawan saya ini adalah orang yang selalu berusaha berpikir positif, telah membaca sangat banyak buku positif, menghadiri berbagai seminar di dalam negeri dan di luar negeri. Ia malah telah bertemu dengan dua orang top. Seorang di bidang motivasi dan seorang lagi adalah penulis buku keberhasilan finansial yang sangat terkenal. Sudah tentu ia membayar sangat mahal untuk bisa menghadiri seminar-seminar ini. Apalagi seminarnya dilakukan di Singapore.</p>
<p>Namun apa yang terjadi? Semakin ia berusaha positif maka semakin dalam ia terperosok ke dalam perangkap berpikir negatip. Kawan saya ini protes keras saat pertama kali mendengar tentang ”Bahaya Berpikir Positif”. Baginya statement ini nggak masuk akal. Namun setelah berdiskusi cukup panjang kawan saya akhirnya bisa memahami maksud saya.</p>
<p>Lalu bagaimana cara berpikir positif yang benar-benar positif? Ya itu tadi. Pikiran sadar dan bawah sadar harus selaras. Yang harus menjadi landasan pijak adalah apa yang ada di pikiran bawah sadar. Jadi, untuk benar-benar mampu berpikir positif yang positif maka pikiran positif itu harus berawal di pikiran bawah sadar. Bila ini berhasil kita lakukan maka efeknya akan sangat luar biasa. Kita akan dapat dengan sangat mudah mencapai target yang kita inginkan.</p>
<p>Anda pasti bertanya, ”Ok, kalau begitu bagaimana caranya?” Ada banyak cara untuk bisa menyelaraskan pikiran sadar dan bawah sadar, untuk bisa membuatnya kongruen. Kita bisa menggunakan NLP, Hypnotherapy (ada sangat banyak teknik), SMC, Visualisasi, Mind Reprogramming dengan bantuan guided imagery, menggunakan musik/audio dengan muatan frekwensi khusus, atau teknik lainnya. Akan sangat panjang dan teknis bila saya jelaskan dalam artikel ini.</p>
<p>* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan ?, dan Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication. Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com.</p>
<hr />
Telah di baca sebanyak: 50]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/bahaya-berpikir-positif/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mangkuk Berlubang</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/mangkuk-berlubang</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/mangkuk-berlubang#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 08:15:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=4795</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah, suatu hari di sebuah negeri. Seorang raja yang terkenal dengan kesombongan dan keserakahannya, beserta para pengiringnya, berpapasan dengan seorang paman berpakaian lusuh layaknya seorang pengemis. Paman itu bergegas membungkuk hormat dan sang raja yang pagi itu sedang berbaik hati menyapanya, &#8220;Paman, apa yang hendak Paman minta?&#8221; Si paman menjawab, &#8220;Yang Mulia bertanya kepada saya? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<hr />
<p><a href="http://pembelajar.com/wp-content/uploads/2009/02/andrie-wongso1.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-1120" title="andrie-wongso1" src="http://pembelajar.com/wp-content/uploads/2009/02/andrie-wongso1.gif" alt="" width="57" height="75" /></a>Alkisah, suatu hari di sebuah negeri. Seorang raja yang terkenal dengan kesombongan dan keserakahannya, beserta para pengiringnya, berpapasan dengan seorang paman berpakaian lusuh layaknya seorang pengemis. Paman itu bergegas membungkuk hormat dan sang raja yang pagi itu sedang berbaik hati menyapanya, &#8220;Paman, apa yang hendak Paman minta?&#8221;<br />
Si paman menjawab, &#8220;Yang Mulia bertanya kepada saya? Yang saya minta belum tentu Yang Mulia mampu mengabulkan.&#8221;</p>
<p>Dengan suara lantang sang raja berseru, &#8220;Sebutkan saja permintaanmu, tentu saja rajamu ini mampu memberi!&#8221;</p>
<p>Si paman menjawab tenang dan senyum, &#8220;Yang Mulia. Mohon maaf, jangan sembarang mengumbar janji dan perkataan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apapun juga, aku pasti mampu. Memang kamu meragukan? Rajamu ini adalah orang terkaya di seantero negeri.&#8221; Dengan suara lantang, sang raja berseru.</p>
<p>Si paman itu mengeluarkan dan menyodorkan mangkuknya, &#8220;Paduka.. tolong isi ini.&#8221;</p>
<p>Raja menjadi geram. Segera, ia memerintahkan bendaharanya untuk mengisi penuh mangkuk dengan emas! Anehnya, emas yang diberikan bendahara tidak dapat mengisi penuh mangkuk. Bahkan tambahan berupa perhiasan berharga dan lain-lain habis dilahap mangkuk si paman. Ketika dicermati, mangkuk itu seolah tanpa dasar dan berlubang.</p>
<p>Sang raja terjatuh lunglai. Dia menyadari, sebagian besar hartanya telah lenyap ditelan mangkuk tak berdasar itu. Sambil terbata-bata, Raja bertanya, &#8220;Wahai paman, tolong jelaskan! Terbuat dari apakah mangkuk itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ampun Baginda Raja junjungan hamba. Mangkuk itu terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Sibuk menimbun harta kekayaan, tidak terpuaskan dengan yang apa telah dimiliki. Bukan hanya serakah pada harta benda semata, tapi juga kekuasaan. Bahkan rela mengorbankan hati nurani demi memuaskan nafsu duniawi.&#8221;</p>
<p>Raja yang sadar dari kesalahannya bertanya lagi, &#8220;Adakah cara untuk dapat menutup alas mangkuk itu agar manusia tidak serakah dan mengenal arti kepuasan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu ada, yaitu rasa syukur akan apapun yang telah dimiliki dan dinikmati. Jika pandai bersyukur, alam semesta akan menambah berkat pada kita dan hidup kita pasti lebih sejahtera dan bermanfaat, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi sesama dan alam semesta. Pada saat itu, Baginda akan menjadi seorang Raja yang bijaksana, dicintai oleh rakyatnya dan dikenang sepanjang masa karena kebaikan Baginda. Dan bukan karena raja yang hanya menumpuk kekayaan bagi dirinya sendiri.&#8221;</p>
<p>Dengan nada kelegaan, sang Raja berkata: &#8220;Terima kasih paman. Sungguh nasihat yang sangat bijak. Terima kasih sekali lagi.&#8221;</p>
<p>Netter yang luar biasa,</p>
<p>Punya keinginan, punya mimpi, punya target adalah hal yang wajar di kehidupan ini. Mampu menikmati setiap proses perjuangan adalah bagian dari rasa syukur.</p>
<p>Mampu bersyukur dan puas diri dengan segala yang telah kita miliki akan menyadarkan kita untuk terus belajar dan saling berbagi. Dengan berbagi, hidup akan lebih berarti. Dengan berbagi, hidup pasti akan lebih berbahagia.</p>
<p>Salam sukses, Luar Biasa!<br />
Andrie Wongso</p>
<hr />
Telah di baca sebanyak: 33]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/mangkuk-berlubang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Anya</title>
		<link>http://www.pembelajar.com/tips-anya</link>
		<comments>http://www.pembelajar.com/tips-anya#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 07:20:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Andrias Harefa]]></category>
		<category><![CDATA[Kolomnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pembelajar.com/?p=4776</guid>
		<description><![CDATA[Dulu ia sering tampil di layar kaca. Maklum saja. Tiga kata yang paling banyak digunakan untuk menggambarkan pekerjaannya adalah: model, pemain sinetron, presenter. Tingginya sedang saja, sekitar 160-an sentimeter. Wajah yang bulat telur membuatnya enak dipandang. Apalagi gerak bola matanya acap dinamis. Gadis Tiara Sunsilk (2002), Duta Keluarga Berencana dari BKKBN (2007), Duta Koperasi dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2010/05/andrias-harefa2.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-2540" title="andrias-harefa2" src="http://www.pembelajar.com/wp-content/uploads/2010/05/andrias-harefa2.gif" alt="" width="57" height="75" /></a><em></em>Dulu ia sering tampil di layar kaca. Maklum saja. Tiga kata yang paling banyak digunakan untuk menggambarkan pekerjaannya adalah: model, pemain sinetron, presenter. Tingginya sedang saja, sekitar 160-an sentimeter. Wajah yang bulat telur membuatnya enak dipandang. Apalagi gerak bola matanya acap dinamis. Gadis Tiara Sunsilk (2002), Duta Keluarga Berencana dari BKKBN (2007), Duta Koperasi dan UKM (2010), dan Duta Diabetes Anak (2011) adalah sebagian dari prestasi yang pernah diraihnya. Anak bungsu dari Budhi Wibhawa dan Titien Tjasmo ini diberi nama Anya Dwinovita Pahlawanti, karena lahir di Jakarta saat peringatan Hari Pahlawan, 10 November 1982.</p>
<p>Kini frekuensi penampilannya di layar kaca relatif berkurang, kecuali untuk peran sebagai presenter yang memang dinikmatinya. Dunia persinetronan sudah ia tinggalkan sejak 2006, entah karena apa. Ke mana waktu dan pikirannya teralih?<br />
“Jadwal yang saya utamakan adalah jadwal presenter atau MC atau tugas Duta saya karena untuk melakukan pekerjaan tersebut saya wajib hadir secara fisik. Setelah itu jadwal dari bisnis saya, karena secara fisik bisa saya wakilkan, sedangkan pemikiran dan keputusan-keputusan bisa melalui e-mail, telepon, BBM, dan teknologi lainnya uang sudah tersedia untuk mempermudah hidup kita. Lalu, barulah ‘me time’, termasuk untuk keluarga dan kegiatan pribadi saya,” paparnya di Kompas Kita, 27 Maret silam.</p>
<p>Anya Dwinov memang sudah mengalami transformasi. Hasratnya yang menggebu untuk mandiri secara finansial, telah membawanya ke dunia bisnis. Saat ini ia sudah memiliki tiga restoran di Jakarta dan Bali, serta sebuah usaha di bidang jasa perjalanan. Hotel kategori small luxury merupakan impian berikutnya, sebab “Saya ingin memiliki hotel kecil di mana saya bisa tinggal di sana sehingga sesekali bisa menyapa dan bersosialisasi dengan tamu sendiri”.</p>
<p>Usahanya di bidang restoran bekerja sama dengan karibnya sesama selebriti, Olga Lydia. Menurut Anya, memilih mitra kerja sangatlah penting untuk mengurangi berbagai risiko dalam berbisnis. Karena itu ia menyarankan, “Pilihlah mitra kerja yang ritme kerja dan pemikirannya sejalan. Pemilihannya dapat dimulai dari kawan yang sudah Anda kenal lama dan dekat. Meski pun tidak selalu menjamin, minimal kita sudah mengurangi risiko terkejut oleh cara berpikir dan ritme kerja orang yang baru kita kenal.” Sebuah nasihat yang bernas. Buktinya, Anya mengaku belum pernah mengalami kerugian dalam berbisnis.</p>
<p>Anya tidak saja punya tips dalam soal memilih mitra bisnis, tetapi juga dalam menabung. Ia menganjurkan langkah praktis agar uang beranak pinak, terutama untuk karyawan alias orang gajian. “Buka rekening di bank yang sama dengan rekening penerimaan gaji, tetapi jangan ambil fasilitas ATM, m-banking, e-banking, atau fasilitas apapun yang mempermudah uang itu keluar dari rekening tersebut. Setiap bulan begitu terima gaji, langsung transfer sekian persennya, bisa 10-30 persen, ke rekening celengan tersebut,” ujarnya.</p>
<p>Anya pernah mengaku suka membeli perhiasan, sebab katanya, “Saya termasuk orang yang kuno, jadi lebih nyaman berinvestasi pada hal-hal yang bisa saya pegang dan awasi sendiri. Hal-hal seperti investasi di saham, reksadana, dan sebagainya, bukan hal yang memikat saya saat ini. Jadi saya lebih nyaman menaruh uang di usaha yang bisa saya kelola dan jalankan sendiri, atau properti, atau di tabungan saja.”<br />
Mengetahui bahwa Anya belum pernah rugi dalam berbisnis, pikiran saya langsung melayang pada kearifan yang dimuat buku The Tao of Warren Buffett (2006). Dikatakan disana, “Peraturan No.1: Jangan rugi. Peraturan No. 2: Jangan pernah lupa peraturan No.1.” Sebab rahasia terbesar untuk menjadi kaya adalah membuat uang berlipat ganda, dan semakin besar jumlah yang dimiliki di awal akan semakin baik.</p>
<p>Misalnya, $ 100,000 yang dilipatgandakan sebesar 15% selama 20 tahun akan berkembang menjadi$ 1,636,653, sehingga memberi Anda keuntungan $ 1,536,653. Namun, jika Anda kehilangan $ 90,000 dari modal Anda dan hanya dapat menginvestasikan $ 10,000 maka investasi Anda hanya akan menjadi $ 163,665 pada tahun ke dua puluh, dengan keuntungan $ 153,665 saja. Ini jelas angka yang jauh lebih kecil. Semakin besar kerugian Anda, semakin besar dampaknya terhadap kemampuan Anda untuk mendapatkan uang di masa mendatang. Inilah yang tidak pernah dilupakan Warren Buffett. Ini juga alasan dia tetap mengendarai mobil VW Beetle yang kuno, lama setelah dia menjadi multijutawan.<br />
Warren Buffett, yang namanya selalu masuk dalam tiga orang terkaya di dunia itu, juga pernah mengatakan bahwa “Anda tidak dapat membuat kesepakatan yang baik dengan orang yang buruk”. Sebab orang buruk tetaplah orang yang buruk, dan mereka tidak akan memberi Anda kesepakatan yang baik.</p>
<p>Hal ini terkait dengan soal memilih mitra bisnis. Menurut Buffett, dunia ini memiliki cukup banyak orang yang baik dan jujur yang berhubungan bisnis dengan orang yang tidak jujur. Itu merupakan kebodohan. Bahkan jika Anda meragukan kejujuran seseorang, dengan bertanya di batin, “Apakah orang ini dapat dipercaya?” maka sebaiknya Anda mencari orang lain saja untuk berhubungan bisnis. Anda tidak ingin meragukan, apakah parasut Anda akan terbuka, ketika Anda akan segera melompat dari pesawat, bukan? Demikian juga Anda sebaiknya tidak meragukan integritas seseorang yang dengannya Anda akan melompat untuk memulai sebuah bisnis. Jika Anda tidak mempercayai mereka sekarang, Anda tidak akan dapat mempercayai mereka di kemudian hari. Jadi mengapa harus memulai hubungan bisnis bersamanya?<br />
Sampai di sini, saya temukan Anya memiliki kedekatan pola pikir dengan Warren Buffet. Pertama dalam soal memandang kerugian. Dan kedua dalam soal memilih mitra bisnis. Ini membuat saya bertanya-tanya, akankah orang seperti Anya masuk daftar orang-orang terkaya di Indonesia pada dua puluh tahun ke depan?<br />
Bagaimana pendapat Anda? Salam proaktif.<br />
___________________<br />
ANDRIAS HAREFA, WTS adalah writer: 38 Best-selling Books; Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com; Twitter @aharefa</p>
Telah di baca sebanyak: 89]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pembelajar.com/tips-anya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

