Her Suharyanto

FUTURE TRADING, LEVERAGE FACTOR… AH, APA LAGI…

02 April 2007 – 16:54 (Her Suharyanto)   Diposting oleh: Editor

(Rate: 9.00 / 1 votes)
Seri Artikel News for Wealth

Seorang pembaca, Pak Randi Temat, menulis surat berisi pertanyaan untuk saya. Karena pertanyaan itu menyangkut hal yang mungkin berguna untuk pembaca lain, maka saya putuskan untuk memuat jawaban saya di media ini. Dengan satu paragraf pengantar, Pak Randi mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini:

1. Dalam Future Trading sering saya dapati tentang Leverage Factor atau daya ungkit. Terus terang saya masih agak bingung dengan hal ini. Tolong kiranya Bapak bisa menjelaskan saya tentang hal ini.

2. Kalo kita membeli saham/valas, kita mempunyai kemungkinan capital gain atau capital loss . Pertanyaan saya: Apakah Leverage factor itu yang menyebabkan kita mengalami capital loss hingga benar-bangkrut bangkrut.

3. Adakah Instrumen Investasi yang memungkinkan kita tidak mengalami capital loss hingga bangkrut? Jadi ya layaknya instrumen konvensional seperti investasi pada tanah misalnya?

4. Saya ingin memberi andil bagi perekonomian bangsa ini. Adakah instrumen trading yang bisa membuat saya melakukan itu? Kalau saya melakukan valas trading dollar/rupiah, apakah ini akan membantu menguatkan rupiah? Saya ingin melakukan trading yang melemahkan dollar sehingga rupiah menguat.

5. Kalau di Marketiva.com itu kita berperan sebagai trader langsung atau hanya sebagai investor (pihak marketiva yang menjadi brokernya)?

6. Adakah buku Bapak yang mengulas tentang trading ini. Kalau ada, boleh saya tahu judulnya?

Pertama saya perlu saya kemukakan kembali bahwa latar belakang saya adalah jurnalis. Dengan demikian pengetahuan saya secara umum berdasarkan riset ditambah sedikit pengalaman, sekadar untuk membedakan dengan jawaban para pakar dan para akademisi di bidang ini. Tentu saja ini juga berarti bahwa masukan dari para pakar akan disambut dengan senang hati.

Dua pertanyaan pertama mesti dijawab sekaligus. Leverage factor (daya ungkit) adalah istilah yang muncul dari ilmu fisika. Mungkin kita tidak bisa mengungkit sebuah batu seberat 100 kg dengan pengungkit sepanjang satu meter. Tetapi kalau pengungkit itu diperpanjang menjadi tiga meter, kita akan bisa mengungkit batu tersebut. Akan lebih ringan lagi kalau tongkat pengungkut diperpanjang menjadi lima atau sepuluh meter. Artinya, dengan kondisi tertentu tenaga yang lebih kecil bisa dipakai untuk mengungkit atau mengangkat beban yang lebih berat.

Istilah ini juga berlaku dalam bidang investasi. Dengan kondisi tertentu, dana yang lebih kecil bisa dimanfaatkan untuk investasi setara dengan uang yang jauh lebih besar. Dengan uang satu juta rupiah, orang bisa berinvestasi dengan “daya investasi” atau “peluang laba” sama seperti investasi sebesar duapuluh juta rupiah. Ini berarti leverage factor-nya sebesar 20 kali.

Dalam perbankan kita juga mengenal istilah daya ungkit ini. Tapi sesuai pertanyaan, kita pusatkan perhatian pada perdagangan berjangka, khususnya valuta asing. Daya ungkit akan efektif pada kondisi tertentu. Dalam future trading, kondisi tertentu itu adalah margin trading. Ini memerlukan sedikit penjelasan.

Dalam future trading, kita tidak memperdagangkan barang, tetapi memperdagangkan kontrak. Kita tidak membeli dollar atau yen, tetapi kita membeli kontrak transaksi. Misalnya hari ini nilai tukar dollar AS adalah Rp9.000 per dollar. Kalau saya yakin bahwa besok dollar akan menguat, saya bisa menyepakati (deal) kontrak menjual sebesar US$1000. Kalau besok nilai tukar dollar sungguh naik, mestinya saya menyerahkan uang US$1000 dan mitra transaski saya menyerahkan Rp9,2 juta. Tetapi agar penyerahan ini tidak terjadi, maka kontrak bisa diputus. Caranya, pembeli cukup menyerahkan uang sebesar selisih (margin) antara harga kemarin dengan harga sekarang. Dalam kasus ini saya menerima Rp200.000. Dalam kasus dollar melemah, misalnya menjadi Rp8.700, maka saya yang harus membayar selisihnya, Rp300.000.

Untuk kasus pertama saya untung karena menjual pada saat harga menguat dan mitra saya merugi karena membeli pada kondisi yang sama. Untuk kasus kedua, mitra saya untung karena menjual pada saat harga turun dan saya merugi karena pada saat itu justru melakukan transaksi beli. Karena itu dalam pasar berjangka (future) orang bisa menangguk untung baik ketika harga komoditas (termasuk valuta) naik atau turun. Jadi ada empat kondisi yang mungkin:

• Kalau kita melakukan kontrak beli dan harga naik, maka kita merugi
• Kalau kita melakukan kontrak beli dan harga turun, maka kita untung
• Kalau kita melakukan kontrak jual dan harga naik, maka kita untung
• Kalau kita melakukan kontrak jual dan harga turun, maka kita rugi.

Sekali lagi ini adalah pasar berjangka. Transaksi beli berarti kita deal untuk membeli pada saat hari kontrak. Transaksi jual berarti kita deal untuk menjual pada hari kontrak. Di sinilah daya ungkit (leverage factor) itu muncul. Untuk melakukan transaksi senilai US$1000, saya tidak perlu punya uang sebesar Rp9 juta. Saya cukup mendepositkan sejumlah dana yang akan dicadangkan untuk membayar margin pada akhir kontrak. Dalam contoh di atas ada dua contoh margin, yaitu Rp200.000 (untuk saya ketika saya untung) dan Rp300.000 (saya bayar kepada mitra transaksi, saya rugi).

Di sinilah pertanyaan kedua bisa dijawab: apakah leverage factor bisa menyebabkan total loss? Kalau dalam contoh di atas mitra saya hanya memiliki deposit Rp200.000, dia akan mengalami total loss. Kalau deposit saya Rp300.000 dan yang terjadi adalah contoh kedua, saya juga akan mengalami total loss. Bangkrut. Tapi ini sesuai dengan hukum investasi, bukan? Semakin besar potensi untung, semakin besar risiko dan sebaliknya.

Anti Bangkrut?
Adakah instrumen investasi yang anti bangkrut? Dalam cara pandang pesimistis jawabannya: tidak ada. Tapi dalam cara pandang yang optimis, jawabannya: ada. Kok bisa? Misalnya saja obligasi pemerintah. Ini adalah instrumen investasi yang sangat terjamin, karena jaminannya adalah pemerintah satu negara. Selama pemerintah ada, maka investasi atas obligasi itu terjamin. Dana yang kita tanamkan akan kembali berikut dengan hasil investasinya. Tapi orang yang pesimis bisa saja ngomong: memangnya pemerintah tidak bisa bubar?

Maka marilah kita melihatnya dengan sudut pandang yang optimis. Dalam sudut pandang ini banyak kok, instrumen yang cukup aman. Obligasi pemerintah, yang kini juga tersedia dalam ukuran ritel, sudah tersedia. Kalau kita membeli obligasi ini pada pasar perdana, dana kita akan aman sampai dengan jatuh tempo, dan kita masih akan mendapatkan keuntungan bunga (yang dalam kasus terakhir sangat bagus). Tapi kalau kita menjual obligasi itu sebelum jatuh tempo, bisa jadi harga obligasi itu turun. Misalnya saja dalam penjualan perdana obligasi pemerintah dilepas dengan bunga 9,5%. Tetapi lima bulan kemudian bunga di pasar naik menjadi 13%. Maka banyak orang yang rela melelas obligasinya, mungkin dengan harga 98% dari harga nominal, supaya bisa menanamkannya pada deposito misalnya. Sebaliknya kalau bunga di pasar turun jadi 4%, misalnya, harga obligasi itu akan naik di pasar sekunder. Misalnya, orang rela membeli obligasi kita dengan harga 102,5% dari harga nominal. Tetapi kalau kita mau menahan obligasi itu sampai jatuh tempo, dana kita akan aman.

Di samping itu sekarang sudah ada produk reksadana terjamin (guaranteed fund). Jaminannya adalah bahwa dana yang kita tanamkan tidak akan kurang dari investasi awal kita. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) sudah mengeluarkan aturan mengenai hal ini, dan sudah ada beberapa manajer investasi yang mengeluarkan produk reksadana seperti ini. Tetapi kembali lagi, semakin aman invetasi Anda, biasanya semakin kecil potensi labanya.

Apakah dengan melakukan trading valas kita bisa memperkuat atau memperlemah rupiah? Saya memilih jawaban ini. Begitu satu barang atau jasa dijadikan komoditas dalam satu pasar, maka kekuatan dan hukum pasarlah yang akan bermain di sana. Ketika permintaan naik maka harga naik dan sebaliknya. Tetapi pasar bisa diakali atau dieksploitasi. Permintaan maupun penawaran bisa dipermainkan (kita sedang berbicara mengenai pasar riil, pasar langsung, atau pasar spot). Orang bisa menutup keran impor supaya terjadi kelangkaan bawang putih, sehingga harga barang itu naik, misalnya. Orang bisa juga, dengan modal yang kuat, memborong dollar dengan rupiah sehingga dollar menguat, dan seterusnya.

Maka, kalau ingin ikut menjaga perekonomian (pertanyaan 4), sebaiknya kita memperlakukan setiap barang dan jasa sesuai dengan kodrat alamiah barang dan jasa itu. Mata uang adalah alat tukar. Ketika uang sudah jadi komoditas, maka kekuatan dan hukum pasar (yang bisa manipulatif) yang jadi pengendali. Dan kalau kita ikut dalam transaksi demi untung rugi atas valas itu, berarti kita melibatkan diri dalam mekanisme pasar, atau bisa jadi menambah distorsi atas pasar valas itu. Tentu saja ini berbeda dengan pembelian valas untuk mengimpor barang, untuk bekal perjalanan keluar negeri, atau untuk kebutuhan transaksi lainnya.

Bagaimana kalau Anda ikut trading valas dalam perdagangan berjangka? Apakah akan memperkuat atau memperlemah rupiah? Di sisi ini tidak ada pengaruhnya. Sebab yang kita lakukan sebenarnya adalah spekulasi, sekadar main tebak ke mana arah nilai tukar. Di sana tidak ada delivery barang, termasuk valas (undeliverable). Para pemain bursa komoditas adalah para spekulan sejati. Mereka bukan pedagang CPO, atau Kapas, atau minyak mentah, tetapi pemilik modal yang ingin menikmati keuntungan dari fluktuasi harga di pasar riil.

Dua pertanyaan terakhir jawabnya singkat: Marketiva.com menyelenggarakan kedua sistem yang Anda sebut. Artinya, kita semua boleh melakukan trading langsung di sana, tetapi bisa juga kita titip investasi di sana. Apakah ada buku saya mengenai hal ini? Maaf, belum ada Pak. Doakan saja buku itu bisa segera saya selesaikan secepatnya.[hs]

* Her Suharyanto dapat dihubungi di her_suharyanto@hotmail.com.

Telah di baca sebanyak: 4751
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *