Eni Kusuma

Gagasan yang Meyakinkan Dalam Tulisan


“Setiap gagasan baru yang masuk ke dalam otak, dianggap sebagai kebenaran, sebelum bertentangan dengan pikiran yang berlawanan dengannya.”

~ Prof. Walter Dill Scott, Presiden Northwestern University.

Jika kita bisa menanamkan suatu gagasan ke dalam otak seseorang maka ia akan percaya, asal kita bisa mengusir gagasan-gagasan lain dari dalam otaknya. Seperti halnya sebuah gagasan dari Edy Zaqeus tentang “Menulis buku bestseller itu mudah,” maka kita akan percaya, sebelum ada gagasan lain yang bertentangan masuk ke dalam otak kita.

Inilah yang dinamakan saran atau sugesti. Salah satu senjata paling ampuh yang bisa digunakan oleh seorang penulis. Dan juga senjata paling kuat di dalam percakapan di seluruh dunia.

Mungkin ini agak bertentangan dengan ajaran Aristoteles bahwa manusia adalah makhluk logis dan yang menggunakan pikirannya, dan bertindak menurut akal sehatnya. Nyatanya, jika menyangkut orang banyak, perbuatan-perbuatan yang bersumberkan logika semata-mata adalah sangat jarang.

Tentu hal ini bisa menjawab pertanyaan dari beberapa kasus yang merebak di masyarakat kita, yaitu: “Mengapa ada saja pengikut-pengikut dari suatu aliran-aliran sesat, dan mengapa mereka percaya jika seseorang mengklaim dirinya adalah seorang nabi, rasul atau malaikat sekalipun tanpa perlu minta bukti atau kebenaran tentang gagasan-gagasan itu?

Mereka menerima segala sesuatu itu tidak karena hal-hal tersebut sudah dibuktikan, akan tetapi karena saran atau sugesti yang tertanam dalam pikirannya, sehingga mereka mempercayainya. Memang dibutuhkan kecerdasan, pengalaman-pengalaman dan pengetahuan untuk bisa meragukan sesuatu atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang cerdas dari keterangan-keterangan yang demikian bodohnya.

Sama halnya dengan berjuta-juta orang di India yang yakin bahwa air sungai Gangga itu keramat, ular adalah dewa-dewa yang menyamar, makan bistik sama dengan makan orang karena mereka menganggap sapi adalah binatang suci.

Kita boleh saja mentertawakan mereka. Akan tetapi perbuatan-perbuatan kita juga cenderung karena sugesti. Adalah lebih mudah untuk percaya daripada untuk ragu-ragu. Kenapa hal ini tidak kita kita manfaatkan dalam teknik penulisan? Kita bisa memberikan suatu gagasan yang baik dan benar tentunya, yang mendorong atau mensugesti orang untuk sukses dan bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. Tentu saja gagasan-gagasan yang diusulkan disertai dengan keterangan-keterangan, alasan-alasan, dan contoh-contoh yang ada sebagai pembuktiannya. Dan kita bisa menggiring para pembaca untuk percaya dan yakin sebelum melakukan tindakan. Misalnya saya yang percaya dan kemudian bertindak dengan menulis buku antara lain karena sugesti dari Edy Zaqeus yang mengatakan bahwa “menulis buku best seller itu, mudah.”

Ini berbeda dengan sugesti atau saran yang lahir dari suatu iklan atau teknik dari suatu penjualan yang tak perlu didasari bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang kuat. Kita mulai percaya kepada mutu dan harga suatu barang, karena kita tak pernah mendengar apa-apa selain itu. Atau tidak pernah menyelidiki dengan percobaan-percobaan atau melakukan perbandingan-perbandingan antara merk yang satu dengan merk lainnya. Misalnya iklan yang menyatakan bahwa supermarket “x”, barang yang dijual lebih murah dengan diskon 50% + 20% dengan mutu terjamin. Hampir dari kita mempercayai berdasarkan prasangka saja. Hal yang pertama bekerja adalah perasa terhadap sugesti. Ini sama halnya dengan kita menyatakan kepada seorang anak kecil, bahwa kuntilanak berada di pohon kamboja. Demikian juga jika kita ataupun orang lain mensugesti kita “bodoh” maka kita cenderung mempercayainya begitu saja. Alangkah ruginya. Dan akan sangat menguntungkan jika kita mensugesti diri kita “pandai”. Ini bukan berarti sombong, tetapi akan menjadi suatu semangat yang akan membuat kita seperti yang disugestikan.

Dan ini telah dimanfaatkan oleh para pemilik toko, restoran-restoran, maupun perusahaan-perusahaan yang diurus baik-baik. Sebagian besar tindakan-tindakan kita dipengaruhi oleh sugesti-sugesti kecil dari orang lain yang secara sadar atau tidak, didesakkannya kepada kita. Contoh, pada suatu hari saya dihubungi oleh seorang agen asuransi melalui telepon. Orang itu begitu berpengalaman dalam mengajukan pertanyaan pada saya. Pertanyaannya adalah: “Saya ingin menjelaskan tentang asuransi ini kepada Anda. Saya bisa bertemu dengan Anda hari Selasa atau Kamis?” Orang itu menganggap bahwa tak ada masalah apakah saya bersedia atau tidak untuk membuat janji bertemu. Ia memusatkan seluruh perhatiannya kepada saat ketika ia harus mendapatkan janji untuk bertemu. Dengan demikian ia tidak memberi peluang munculnya gagasan-gagasan yang lain. Sehingga saya mudah berkata;” Baiklah, hari Selasa.” Meskipun rencana semula saya enggan untuk membuat janji bertemu.

Lain halnya, misalnya orang tersebut bertanya dengan pertanyaan: “Saya ingin menjelaskan tentang asuransi ini kepada Anda, apakah saya bisa bertemu dengan Anda?” Jika ini yang diajukan , maka saya akan terlibat pro dan kontra dalam hati saya dan mungkin keputusan saya lebih dulu menang, sehingga keputusan saya adalah menolak untuk bertemu. Untuk itu sebaiknya kita menyusun pertanyaan sedemikian rupa sehingga jawaban “ya” menguntungkan kita. Karena secara sadar atau tidak orang lebih suka menjawab “ya” kepada setiap pertanyaan.

Dengan demikian jelaslah, bahwa setiap gagasan yang masuk ke dalam otak hampir selalu diterima. Apalagi jika diikuti dengan keterangan-keterangan, alasan-alasan, bukti-bukti, serta contoh-contoh yang kongkrit. Sehingga tak ada tempat untuk gagasan-gagasan yang bertentangan dan sedikit peluang untuk dikritik. Oleh karena itu kita tidak perlu ragu-ragu untuk menuliskan gagasan-gagasan kita kepada para pembaca.

Kita bisa mensugesti melalui tulisan-tulisan. Tetapi tentu saja kita harus yakin sepenuhnya apa yang kita sampaikan itu. Jika hanya separuh yakin, maka kita tak bisa menyampaikannya dengan penuh semangat. Bahkan sebagus apa pun kalimat-kalimat dan contoh-contoh yang dikumpulkan, tentu akan menjadi tidak begitu hidup. Semangat dan keyakinan kita yang tersampaikan melalui tulisan akan dirasakan juga oleh para pembaca.

Jika gagasan-gagasan kita bertentangan dengan gagasan orang lain yang sudah diyakini oleh banyak orang, kita juga bisa mengemukakan gagasan kita yang baru dengan berbagai alasan-alasan, contoh-contoh dan lain-lain. Jika apa yang kita utarakan itu terdapat persamaan dengan apa yang dipercayai oleh mereka, maka ini akan membuat mereka lebih mudah menerima gagasan kjita. Selain itu, hal ini dapat menghindarkan gagasan-gagasan yang saling bertentangan yang sudah pasti akan saling berbentrokan.

Jika saya kurang setuju dengan gagasan penulis lain, biasanya saya membuat persamaan-persamaan dengan gagasan penulis tersebut, sebelum saya mengemukakan gagasan-gagasan saya yang baru. Hal ini agar tidak menimbulkan kesan melawannya. Jika saya melawannya, maka akan terjadi perbantahan yang tidak ada habis-habisnya.

Misalnya, saya tidak setuju dengan gagasan yang mengatakan bahwa sebutan “babu” hendaknya ditiadakan. Saya pun membuat persamaan dengan mengatakan alasan kenapa mereka keberatan dengan sebutan itu. Sehingga alasan mereka pun dapat dimaklumi dan dapat diterima. Setelah itu saya memasukkan gagasan saya yang baru dengan mengatakan bahwa kita sebagai pembantu rumah tangga hendaknya tidak perlu ambil pusing dengan sebutan tersebut. Malahan kita justru bangga akan makna yang terkandung di dalamnya. Saya mengemukakannya dengan berbagai penjelasan, alasan-alasan, dan lain-lain. (Baca “Anda Luar Biasa”, Fivestar Publishing, 2007, hal.144).

Akan tetapi jika misalnya saya mulai dengan membantah atau melawan: “Yang keberatan disebut “babu” adalah orang yang gengsi, dan bla-bla-bla. Maka sudah pasti akan terjadi perbantahan yang sengit yang tak pernah usai. Bagaimanapun juga gagasan yang saling bertentangan sudah pasti akan saling berbenturan.

Jadi, utarakan persamaan-persamaannya jika gagasan sudah diyakini oleh banyak orang, sehingga gagasan kita lebih mudah diterima.

* Eni Kusuma adalah mantan TKW di Hongkong, penulis buku laris “Anda Luar Biasa!!!”, dan kini menjadi motivator. Ia dapat dihubungi di: ek_virgeus@yahoo.co.id.

Telah di baca sebanyak: 1772
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *