Rab A. Broto

Gempa GT Lalu Apa?

Kasus pegawai pajak golongan 3A Gayus Tambunan (GT) yang diledakkan Jenderal Susno Duadji mengharu biru Tanah Air. Semua pembicaraan dua minggu belakangan ini terfokus pada harta yang sudah dikumpulkan dan sepak terjang anak muda yang jadi ujung tombak jaringan koruptor. Dramanya  tambah heboh karena GT sempat melenggang ke Negeri Singa dan setelah ditemui satgas anti-mafia hukum dan baru diburu kemudian.

Dugaan sebagian orang semula kisah ini akan berakhir dengan kepergiannya ke negeri tetangga yang terkenal sebagai suaka para koruptor itu. Tapi ternyata perkembangan tak terduga terjadi lewat tindakan cepat pihak Direktorat Imigrasi yang mau mencabut paspor GT.  Selain juga tindakan yang lumayan serentak di berbagai instansi lain seperti Mabes Kepolisian, Ditjen Pajak, MA, dan Kejaksaan Agung.

Kisah GT buron dibumbui cerita dua anggota satgas menemukan sang buron dengan berkat Tuhan di foodcourt Lucky Plaza yang kemudian membujuk GT pulang. Begitu pula adegan bak reality show wawancara di dalam kabin pesawat yang diabadikan kamera sejumlah stasiun TV dan ditayangkan segera saat GT dijemput sang jenderal polisi–yang kini  menggantikan Susno–dan personil satgas anti-mafia  hukum saat membawanya kembali ke Indonesia.

Disebut perkembangan tak terduga karena dalam kasus korupsi sebelumnya, bahkan mereka yang sudah jelas divonis penjara oleh pengadilan bisa langsung raib entah ke mana. Biasanya baru beberapa waktu kemudian diketahui sang tervonis sudah kongkow dengan aman dan nyaman di negeri kecil nan makmur dan tak punya perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Pemerintah cukup layak mendapatkan apresiasi dengan langkah lumayan sigap ini.

Dalam perkembangan terakhir seorang jenderal yang Kapolda Lampung juga dilolosi jabatannya untuk mempermudah pemeriksaan. Tampaknya sejauh ini pertempuran demi pertempuran terkesan dimenangkan oleh para pencari kebenaran yang berpihak kepada logika umum orang ramai. Tapi masih tersisa pertanyaan di benak sebagian khalayak sampai di titik mana mafia pajak itu akan diusut dan dibongkar karena hambatan yang jelas: makin mendaki makin sulit.

Teorinya boleh saja makan bubur dari pinggir atau bisa juga seperti ikan salmon yang berjuang menghulu saat menuruti instink demi keberlangsungan spesiesnya. Tapi bagaimana bila di di tengah piring itu bukan bubur lembek yang mendingin melainkan kawah membara yang mengeluarkan lava atau dalam kasus ikan salmon nyaris selalu berakhir tragis karena menuntut pengorbanan jiwa?

Pertarungan di jajaran para bintang–dan tentu saja terkait dengan elit yang masih berkuasa–lamat-lamat terasa dan terdengar. Patokannya jelas istilah seperti melanggar kode etik atau tim independen kepolisian. Juga status terperiksa yang menurut pakar dan pejuang hukum Adnan Buyung Nasution tak ada dalam kitab hukum apapun yang berlaku di negeri ini. Yang ada sebagai saksi atau sebagai tersangka.

Alasan polisi yang mengiringi pencopotan jabatan juga patut dipertanyakan karena ada yang diperiksa akan terhambat tugasnya dan ada yang tidak. Mestinya siapapun diperlakukan sama alias tidak diskriminatif bila menaati asas semua orang kedudukannya sama di depan hukum. Jadi sekali lagi masalahnya jelas tidak mudah karena korupsi ini sudah menjalar dan mengakar, khususnya yang melibatkan sebagian aparat birokrasi.

Meskipun juga berbagai pihak dan Susno sendiri mengatakan masih ada sutradara atau dalang atau master mind yang peran–dan pasti kekuasaannya–jauh di atas GT yang secara logika sekadar jadi semacam koordinator di lapangan. Yang juga sering dimentahkan dengan upaya melokalisir hanya pada komplotan GT yang kini sudah didampingi Buyung Nasution sebagai pembela hukumnya.

Jadi berbagai upaya, ibaratnya jurus demi jurus di khazanah persilatan, tampaknya akan terus dilakukan untuk menghambat bahkan menyetop pengembangan dan pengusutan kasusnya agar tidak semakin meluas dan naik ke atas. Berkaca pada kasus besar sebelumnya seperti Cicak vs Buaya dan Bank Century yang belum tuntas, jelas perlu tekad, konsistensi, kepemimpinan, bahkan langkah tanpa toleransi dari pemegang kekuasaan tertinggi negeri ini yaitu presiden.

Bila tidak memang sungguh menyedihkan karena seperti biasa kasus yang begitu hingar-bingar di masa-masa awal setelah meledak–dan seolah kehebohannya akan memberikan perbaikan berarti, lambat-laun hilang bagai terbawa angin. Dan benar-benar tidak ada bekasnya yang nyata kecuali tertulis di halaman berita koran atau rekaman stasiun TV dan radio yang lalu hanya tersimpang rapi di ruang arsip. Tak ada perubahan yang bisa dirasakan langsung oleh khalayak

Yang jelas masih banyak lika-liku yang akan terjadi untuk membuktikan ungkapan salah satu anggota DPR yang mengatakan di talkshow TV One pagi ini bahwa bangsa tidak boleh kalah dan negara mestinya lebih berkuasa daripada mafia hukum. Juga bahwa bangsa ini sudah tidak masanya lagi main-main dan semua upaya pembongkaran terkait kasus  mafia pajak yang melibatkan GT dan sudah terbukti ada ujungnya

Jadi letupan kasus GT ibarat gempa besar yang sesekali mengguncang dan memakan banyak korban. Tapi kalau gempa membawa ikutan yang menunjang berlangsungnya siklus kehidupan karena juga menjadi bukti pergerakan kulit bumi yang begitu dinamis, kasus GT hanya menunjukkan betapa bebalnya bangsa ini dalam mengelola kekayaannya dan menyelenggarakan kehidupan bersama yang mestinya semakin beradab dan menyejahterakan.

Rab A. Broto, konsultan pengembangan SDM, penulis buku, dan mantan wartawan ekonomi bisa dihubungi di 0812 854 7255 atau e-mail: nauram@yahoo.com.

Telah di baca sebanyak: 1650
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *