Kolom Alumni

God Bless: Sebuah Cermin

Oleh: Wiji Suprayogi

God Bless, grup rock tua tanah air. Di balik berbagai kontroversi yang menyertainya, kumpulan individu bernama God Bless, ternyata telah menanamkan akar yang begitu kuat dalam hati begitu banyak orang. Tertangkapnya Achmad Albar beberapa bulan lalu sebagai salah satu pentolannya mengejutkan banyak orang. Membuat berbagai komentar bermunculan. Ada komentar yang sumbang, ada pula yang mendukung dan membela sang vokalis tadi. Saya melihat hal itu sebagai bagian dari betapa mengakarnya apa yang telah dihasilkan kumpulan orang kreatif ini dalam hidup banyak orang.

Entah bagaimana kualitas tiap orang meresapi peristiwa itu, saya melihatnya sebagai sebuah pengakuan akan eksistensi God Bless dalam lingkaran budaya populer di Indonesia. Di sisi lain hal itu memperlihatkan juga eskistensi media massa di tanah air tercinta.

Saya sendiri penggemar God Bless dan merasa ada bagian dari mereka yang berpengaruh dalam hidp saya, terutama oleh lirik-lirik lagu mereka yang bagi saya sangat mengena dan humanis. Ada gejolak muda, nasehat, tapi juga paradoks di dalamnya. Dulu saya menganggap lucu lirik-lirik tersebut. Lama kelamaan saya melihat ada kemilau kebenaran di sana—jika adan ingin mencari lirik lagu mereka silahkan cari dinternet,walau tidak sebanyak dokumen Iwan Fals, tapi cukup mudah untuk dicari. Atau saran saya, beli album mereka he..he…

Tapi di luar itu saya juga mendengar kabar-kabar miring mengenai cara hidup para personilnya. Saya memperolehnya dari teman-teman yang biasa ngeband di SMA dulu dan beberapa orang yang hidupnya dianggap dekat-dekat dengan kenakalan. Media massa yang saya baca seingat saya malah memposisikan mereka sebagai musisi yang bersih dan berkomitmen. Bahkan ada yang menceritakan kalau ada personilnya yang sampai berjualan mebel untuk hidup dan tetap berkomitmen di God Bless–sayang saya lupa nama majalahnya.

Olahan media memposisikan mereka sebagi legenda hidup. Legenda yang menjadi contoh dan panutan. Jadi ketika ada kejadian salah satu anggotanya keluar dari grup ini maka media menjadi heboh dan orang-orang memerlukan kambing hitam agar mereka bisa menerima keadaan yang terjadi. Tanpa konfirmasi yang jelas dari personilnya dan jawaban yang serba diplomatis dari mereka maka mitos itu menjadi sebuah opini liar yang bisa di lemparkan ke mana saja. Teori bermunculan dan mitos itu menjadi sebuah legenda hidup yang terus bergulir menempelkan sejuta beban spiritual di pundak para personel dan mereka yang tergabung dalam lingkaran ini.

Media, citra, dan mitos memang dibutuhkan di dalam pasar dunia populer. Dari sinilah digerakkan entah sadar atau tidak sadar berbagai keinginan dan opini mengenai kumpulan orang kreatif ini. Juga berbagai kepercayaan mengenai mereka.

Kasus terakhir yang menimpa vokalis grup ini—ditangkap karena kasus narkoba—menjadi mengejutkan karena mitos itu menjadi kacau balau oleh aura jahat yang juga dilabelkan masyarakat kepada para pengguna narkoba. Pokoknya mereka yang over dosis adalah setan dan jahat—ingat lagu setan morphin jadinya. Padahal siapakah yang lebih jahat jika dibandingkan dengan koruptor yang tetap terkenal dan melenggang memimpin kita? Di satu sisi para korban narkoba sebenarnya adalah korban yang perlu pertolongan bukan malah di jebloskan ke dalam kubangan yang lebih memperdalam kehancuran mereka–soalnya saya melihat di beberapa kebudayaan bukan jahat mengkonsumsi barang yang katanya laknat itu. Tapi jelas saya tegaskan saya anti narkoba…he…he…dan sebel juga sama yang menggunakannya secara tidak benar.

Kembali ke pokok persoalan, God Bless, dari refleksi saya di atas saya sepertinya melihat masyarakat kita mungkin belum terbiasa dengan klarifikasi. Mitos dalam media menjadi kebenaran yang justru membingungkan. Didalam dirinya mitos itu seringkali tidak mengandung kebenaran tapi diklaim benar oleh pembawa beritanya dan para pengikutnya. Padahal dalam media itu berbagai mitos itu beredar dengan judul yang sangat jelas: GOSIP. Dan dalam masyarakat kita gosip adalah suatu yang menjadi darah dalam keseharian–di kuliah saya lebih suka menggosipkan paper teman dibelakang si empunya paper daripada klarifikasi dalam diskusi di kelas. Eh pas diskusi malah bertengkar…he..he…

Akhirnya seperti judul album mereka…God Bless adalah cermin hidup yang bisa kita gunakan untuk belajar mengenai kehidupan dan budaya populer…cermin siapa diri kita yang juga terjerat mitos dan berbagai kemunafikan…tapi bukan untuk menghujat atau mencari kambing hitam.

Mari bercermin…

*) Wiji Suprayogi, Penulis buku Mendidik Anak Menjadi Pengusaha. Alumni Writer Schoolen “Menulis Buku Best-Seller” ini dapat dihubungi langsung di wijisuprayogi@gmail.com

Telah di baca sebanyak: 1669
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *