Kolom Bersama

Hadapi dengan Senyuman

Oleh: Pratama Puji

Senyuman adalah pahala, senyuman adalah pencair suasana, dan senyuman adalah pembawa ketenangan jiwa. Namun di jaman sekarang, kok susah sekali menemukan orang yang selalu tersenyum lepas. Mudah kita temui, orang-orang dengan wajah cemberut, menggerutu, dan pemarah. Apakah kondisi bangsa, kondisi keluarga, kondisi lingkungan dan kondisi masyarakat sekitar yang membuat kita jadi sulit untuk tersenyum dan lebih sering marah-marah? Tidak adil rasanya kalau kita selalu menyalahkan keadaan, tanpa membawa solusi terbaik.

Padahal ketika orang tersenyum, aura positif akan muncul. Sebuah amarah bisa cair seketika ketika kita mampu menyikapinya dengan senyuman. Ketika kita berkenalan dengan orang lain, senyuman adalah kunci untuk membuka pintu berkomunikasi. Senyuman merupakan tanda bagi orang yang bahagia dan bersyukur dalam hidupnya.

Saya mempunyai kenalan seorang tukang becak di perumahan. Pak Urip namanya. Orangnya sangat ramah, usianya sekitar 40 tahun. Walaupun tidak muda lagi, dia nampak gesit dan jarang menunjukkan raut muka lelah, yang sering saya lihat justru senyuman yang tersungging. Ketika orang berpapasan dengannya dia tersenyum, ketika ada orang perumahan yang meminta tolong, dia siap dan membantu dengan semaksimal mungkin. Pernah suatu ketika Pak Urip diminta untuk membantu keluarga kami membersihkan gudang. Dengan cekatan, dia mengerjakan perintah dengan baik. Ketika menyapu, mengangkut barang dan mengepel lantai semuanya diiringi dengan penuh senyuman, walaupun keringat bercucuran. Pak Urip memang orang yang berdedikasi tinggi. Jarang saya menemukan orang yang ikhlas seperti Pak Urip.

Alhamdulillah kalau kita masih diberikan kesempatan untuk bisa tersenyum, karena banyak orang yang memilih untuk cemberut, mengeluh dan marah-marah ketika menghadapi suatu masalah. Hadapi dengan senyuman, itulah kuncinya. Sayang rasanya kalau setiap hari kita menyiram benih negatif ke dalam pikiran dan tubuh kita, lebih baik kita menyiram benih-benih positif ke dalam kehidupan kita setiap harinya. Semua yang terjadi dalam kehidupan kita tergantung bagaimana kita menyikapinya. Semua kendali, baik emosi, marah, senang, gembira, dan susah ada di tangan kita masing-masing.

Dalam sebuah buku yang saya pernah baca, disebutkan hasil studi penelitian di AS yang menunjukkan bahwa pria bertemperamen keras lebih berpeluang mengalami sakit jantung dini dibanding pria yang lebih kalem. Hal ini disebabkan karena ketika kita marah, tubuh akan meningkatkan pelepasan katekolamin, bahan yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah, meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Studi yang melibatkan lebih dari seribu responden pria ini menyebutkan bahwa pria yang selalu berada dalam situasi penuh tekanan dengan perasaan marah dan mudah tersinggung akan mengalami peningkatan risiko gangguan jantung sampai tiga kali lipat sebelum berusia 55 tahun. Akibat lain yang timbul adalah mengundang peningkatan risiko stroke.

Dengan melihat hasil penelitian diatas, bisa memberikan masukan bagi kita untuk memilih apakah kita ingin menjadi seorang yang penuh amarah ataukah menjadi seorang yang penuh senyuman dalam menghadapi beban dan tantangan hidup. Seberat apapun tantangan yang kita hadapi, pasti ada solusinya dan solusi akan lahir dari pikiran-pikiran positif yang senantiasa hadir setiap hari. Salam Sukses.

*) Pratama Puji Widiyanto adalah Alumni S1 Ekonomi Jurusan Akuntansi dari UNSOED Purwokerto. Hobinya berorganisasi, sepakbola, membaca, menulis, silaturahmi dan ”belajar” dari pengalaman hidup sehari-hari. Sewaktu kuliah pernah mendapat amanah sebagai Ketua Umum HMJA FE UNSOED 2008/2009. Saat ini bekerja di Instansi Pemerintah Kotamadya Pekalongan dan berwirausaha batik. Contact Person : pratamapuji.widiyanto@gmail.com – 085 6260 4580.

Telah di baca sebanyak: 1485
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *