Kolom Alumni

Hidup dalam Tujuan

Oleh: Andrew Abdi Setiawan

Selepas pertemuan ibadah doa setiap hari Selasa dan Kamis, ada sebuah tradisi yang biasa dilakukan rekan-rekan, yaitu makan pagi bersama. Sembari keluar ruangan ibadah, kami mulai saling bertanya, “Ayo makan.” Dan tak lama kemudian seseorang akan bertanya, “Mau makan di mana?”

Pertanyaan orang itu baru terasa penting ketika di dalam mobil kami diperhadapkan pada persimpangan jalan. Tak pelak lagi rekan yang mengemudi akan bertanya, “Ini mau makan di mana jadinya? Mau tetap jalan lurus, belok kiri atau belok kanan nih?” Bukan hanya yang mengemudi, kami pun bingung menentukan arahnya. Perdebatan kecil pun terjadilah. Ada yang berkata, “Kita belok kiri saja dulu.” Ada pula yang berkata, “Lho jangan ke situ, lurus saja dulu, di sana lebih banyak tempat makan.” Pergi tanpa tujuan yang jelas tentu tidaklah efektif.

Ini baru soal makan. Bagaimana jadinya bila hidup kitalah yang berjalan tanpa tujuan? Wow mengerikan. Mengapa mengerikan? Coba kita uraikan apa akibat dari hidup yang tanpa tujuan: Pertama, kehilangan motivasi. Tujuan adalah dasar permulaan dari motivasi. Orang yang mengalami depresi biasanya sulit untuk menentukan tujuan hidupnya. Jangankan tujuan hidup secara global, agenda untuk hari ini atau esok saja belum tentu ia miliki. Lalu apa akibatnya? Semangat/motivasi semakin redup hingga akhirnya ia mengurung dan menarik diri dari pergaulan serta kegiatan sehari-hari.

Kedua, kehilangan arti. Hidup tanpa tujuan berarti hidup tanpa pencapaian. Hidup tanpa pencapaian berarti hidup tanpa arti. Kehidupan tanpa tujuan akan membuat kita menjalani kehidupan ini secara berputar-putar, tidak efektif dan tidak efisien. Banyak tenaga, waktu, pikiran, harta, akan terbuang percuma. Dan akhirnya, kita berhenti kelelahan dan berkata, “Kenapa ya aku harus menjalani ini dan itu selama ini?” Ketika pertanyaan seperti demikian muncul, maka kita telah kehilangan arti hidup.

Ketiga, kehilangan ketahanan hidup. Ketika akhirnya Thomas Alva Edison berhasil menemukan baterai yang ringan dan tahan lama, dia telah melewati 50.000 kali percobaan dan bekerja selama 20 tahun. Tak heran kalau ada yang bertanya, “Mr. Edison, Anda telah gagal 50.000 kali, lalu apa yang membuat Anda yakin bahwa akhirnya Anda akan berhasil?” Secara spontan Edison langsung menjawab, “Berhasil? Bukan hanya berhasil, saya telah mendapatkan banyak hasil. Kini saya tahu 50.000 hal yang tidak berfungsi!” Menurut saya, tujuan untuk membuat baterai ringan dan tahan lamalah yang membuat Thomas Alva Edison terus bertahan dalam 50.000 percobaannya selama 20 tahun. Tanpa tujuan hidup, hati kita akan lebih mudah hancur ketika menghadapi badai masalah.

Sekarang apa yang menjadi tujuan dalam hidup kita? Pernahkah kita merenungkan, apa yang Tuhan ingin kita lakukan dalam tiga kategori besar dalam kehidupan kita, yaitu personal, horizontal, dan vertikal? Kategori personal mencakup antara lain: pendidikan, karir, pengembangan diri, perawatan diri, dan seterusnya. Kategori horizontal mencakup antara lain: hubungan kita dengan orangtua, saudara, karyawan, rekan seiman, dan sebagainya. Dan kategori vertikal mencakup antara lain: disiplin berdoa, beribadah, berpuasa, membaca dan merenungkan firman Tuhan, dan lain-lain.

Berhentilah sejenak dan renungkan apa tujuan yang perlu kita capai dalam ketiga kategori besar tadi. Sebagai langkah awalnya, apa pun yang terlintas dalam benak kita, segeralah ditulis, tak peduli seberapa gilanya ide tersebut. Daftarkan sebanyak mungkin. Oh ya, jangan lupa pula untuk “kembali” ke masa kecil. Ungkapkan kembali mimpi-mimpi kita yang pernah ada semasa kecil. Setelah selesai, berdoalah, bertanyalah kepada Tuhan, hal-hal manakah yang perlu dicapai terlebih dahulu dalam hidup kita saat ini. Mau?

* Andrew Abdi Setiawan adalah seorang rohaniwan yang berdomisili di kota Surakarta. Saat ini ia sedang menggeluti panggilannya sebagai seorang WTC—writer, trainer, counselor dalam bidang pengembangan diri, pranikah, pernikahan dan keluarga. Salah satu buku yang telah diterbitkannya adalah Ya Tuhan, Mengapa Kau Ambil Dia dariku? Penghiburan bagi Orang Berduka (Gramedia, 2009). Untuk kontak lebih lanjut, silakan kirim pos-el ke: andrew_setiawan80@yahoo.com.sg

Telah di baca sebanyak: 1750
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *