Wandi S Brata

How Jokeable Are You?


Tawa adalah penurun stres. Semua orang tahu itu. Tapi, tahukah Anda bahwa tawa juga merupakan obat mujarab bagi bermacam penyakit, termasuk penyakit besar kepala, dan bahkan bisa jadi tolok ukur kedewasaan kita?

Anda pernah mendengar nama Norman Cousins? Saya menulis kisah tentang orang ini dalam buku saya BO WERO, Tips mBeling untuk Menyiasati Hidup. Dia bukan seorang dokter, tetapi dari pengalamannya sendiri ia mempelajari proses penyembuhan yang memberi inspirasi luar biasa bagi dunia medis.

Dalam bukunya, Anatomy of an Illness, Norman Cousins menceritakan bagaimana dia tinggal menunggu akhir hanyatnya karena penyakit mematikan yang disandangnya. Tetapi ia tidak menyerah. Dibangunnya pikiran-pikiran dan sikap positif terhadap diri dan kehidupannya, yang membuahkan harapan untuk sembuh. Setiap hari, dia memutar video dagelan, dan dengan itu dia mau melewatkan hari-harinya dengan penuh tawa.

Langkah sederhana itu membuahkan keajaiban. Dengan video banyolan itu dia menjadi relaks, lalu bisa tidur. Kemajuan sederhana ini menghasilkan spiral perkembangan yang dahsyat: pikiran dan sikap terhadap diri dan hidupnya semakin positif, sehingga ia menjadi jauh lebih relaks lagi, dan tidur pun menjadi semakin pulas dan panjang… Hidup jadi damai, kecemasan lenyap, dan akhirnya: tubuhnya menyembukan dirinya sendiri.

Pengalaman inilah yang kemudian dia tulis. Dia juga banyak berceramah mengenai pemanfaatan kekuatan pikiran dan tawa dalam penyembuhan. Karena inspirasi luar biasanya itu, UCLA Medical School menunjuk dia sebagai penceramah di sekolah medis yang bergengsi itu.

Saya kutip William A. Cohens, Ph.D., yang dalam bukunya The New Art of the Leader menceritakan bagaimana Cousins memandang badan kita. “Ada apotek serba ada di dalam tubuh kita,” katanya dalam salah satu ceramahnya di UCLA. “Tubuh anda memiliki stok obat-obatan paling mujarab di dunia, untuk menyembuhkan segala macam penyakit. Tetapi, kita hanya dapat mendapatkan obat-obatan itu dengan pikiran dan sikap positif serta rasa humor.”

Dalam artikelnya yang berjudul “Laughter”, Zig Ziglar, motivator asal Amerika dan penulis 27 buku, mengatakan, “Next to love, laughter has been described as the second-most powerful emotion we can express.” Setelah cinta, tawa adalah emosi paling kuat kedua. Ia memerinci bahwa konon tawa itu setara dengan joging, bukan joging fisik, tetapi joging emosional, mental dan spiritual.

Tawa memproduksi zat-zat kimiawi di otak yang diyakini menimbulkan efek mengenakkan, menenteramkan, meringankan. Karena itu, kita tidak bisa sekaligus tertawa tekekeh-kekeh sambil sedih. Tak mungkin tertawa terbahak-bahak ketika sedang marah-marah. Tawa itu mengendorkan, maka tak mungkin kita terkekeh dan tetap tegang atau stres.

Tokoh ini menyebut bahwa tawa adalah anugerah istimewa dari Allah bagi umat manusia. Konon tawa bisa menghindarkan orang dari berbuat kejahatan dan menghindarkan perang. Tawa adalah perekat hubungan.

Bagi saya, tawa seperti kekaguman pada keindahan yang terpampang di depan mata. Kekaguman pada keindahan itu dapat dibagikan kepada begitu banyak orang tanpa berkurang. Dalam hal tawa, dia tak hanya tak berkurang, tapi malah semakin besar dan menjadi-jadi, karena tawa itu mudah menular sifatnya. Di kantor, kami pernah mempraktikan hal ini. Karena kami menerbitkan buku Madan Kataria, Laught of No Reason, kami tak ingin ketinggalan untuk mencobanya. Orang yang mengawali benar-benar tertawa tanpa alasan. Yang lain terpicu karena lucu… masak tak ada apa-apa kok ketawa. Tak selang lama, semua tertawa terpingkal-pingkal… sampai lebih dari seperempat jam dan sulit dihentikan.

Terkekeh, walau tanpa alasan, sungguh melegakan. Cuma saya tak mau melakukannya terlalu sering, nanti dikira sinting, walau sebenarnya saya juga tak perlu khawatir karenanya, sebab yang mengira itu mungkin saja lebih tak waras daripada saya, ha ha ha….

Anand Krishna, seorang guru meditasi yang telah menulis lebih dari 110 buku sejak tahun 1997, memiliki terapi tawa, dan cara meditasi dengan didahului oleh tawa. Saya pernah mengikuti salah satu sesi terapi tawanya sekadar untuk tahu. Saya dengar darinya, setiap dua minggu sekali, pada hari Minggu jam 6 – 7 pagi, terkadang ada sampai 3.000 – 5.000 orang terpingkal-pingkal tertawa bersama kayak orang gila di Monas, Jakarta. Hal yang sama terjadi di Jogja dengan peserta sekitar 500 orang. Sedangkan di Denpasar kadang diikuti oleh sekitar 800 – 1.200 orang. Pria wanita, tua muda dari berbagai latar belakang agama, suku, profesi, aliran politik, tertawa terkekeh selama satu jam bak orang tak waras, tapi keluar dari situ semuanya merasa plong dan lebih waras.

Ternyata tidak hanya itu kekuatan tawa. Tawa bahkan menjadi semacam tolok ukur kedewasaan kita.

Robin Sharma, penulis bestseller The Monk Who Sold His Ferrari, menegaskah hal itu. Dalam bukunya The Greatness Guide, buku kedua, dia mengatakan, “The best among us don’t take themselves too seriously. They do their best and then let go, letting life do the rest.” Yang terbaik di antara kita, menurutnya, tak terlalu serius menganggap diri mereka. Mereka melakukan yang terbaik, lalu melupakannya, dan membiarkan kehidupan melakukan selebihnya. Alasan dia, karena kehidupan ini memiliki kecerdasannya sendiri.

Saya paham yang dia maksudkan. Pengalaman banyak orang mengkonfirmasi kenyataan itu. Karena itu, yang penting kita telah memberikan kontribusi yang kita usahakan sebaik-baiknya, dan selebihnya biarlah kehidupan sendiri yang mengembangkan dan menggelindingkannya. Kehidupan memiliki waktunya sendiri untuk menanggapi kontribusi kita. Kadang segera. Kadang menunggu lama. Kalau waktunya belum tiba, sebesar apa pun upaya yang sudah kita investasikan tampaknya sia-sia. Kalau sudah waktunya, kadang kontribusi seupil menggelinding seperti bola salju dahsyat, dengan efek tak terduga. Masalahnya kita tak tahu kapan waktu itu, sehingga paling bijak kalau selalu mengusahakannya yang terbaik, sekarang.

Berkenaan dengan itu saya lihat paradoks luar biasa yang dipahami dan dihidupi oleh orang-orang yang terbaik di antara kita. Paradoks itu tercermin dengan jelas lewat kata-kata Robih Sharma, “No one will take you seriously, if you take yourself too seriously.” Orang justru tak akan memandang Anda dengan kekaguman ketika Anda terlalu sadar diri dan merasa diri orang penting sehingga mudah tersinggung ketika tak ada yang menyanjung.

Jangan salah sangka, orang-orang terbaik itu tetap serius dengan apa yang mereka kerjakan. Penghargaan itu cuma komplimen tambahan, yang sebagai manusia biasa tentu tetap saja diharapkan, tetapi bila tak ada pun mereka juga tetap tegak berdiri sebagai orang-orang yang percaya diri. Orang-orang terbaik itu akan menjadi pihak pertama yang bisa dan siap menertawakan diri mereka sendiri kalaupun dengan segala keseriusan itu mereka ternyata membikin kekonyolan. Dan inilah paradoks luar biasa berikutnya: Kalau kita menjadi orang pertama yang paling siap menertawakan diri sendiri, sungguh, kita hanya meninggalkan sedikit ruang untuk bisa ditertawakan orang.

Karena itu, pertanyaan Robin Sharma yang menjadi judul tulisan ini, “How Jokeable Are You?” saya teruskan dan saya rinci menjadi sekurang-kurangnya tiga pertanyaan yang perlu kita jawab sendiri-sendiri.

Pertama, sejauh mana Anda mudah dibikin atau diajak tertawa? Semakin mudah, semakin baik.

Kedua, sejauh mana Anda siap dan kuat ditertawakan? Semakin siap dan kuat, semakin baik.

Ketiga, sejauh mana Anda siap menertawakan diri sendiri? Semakin siap, semakin baik.

Konon, kehidupan ini tak pernah dimaksudkan sebagai cobaan berat, apalagi siksaan. Robin Sharma mengatakan, “It was meant to be pure joy. So, be jokeable. Yes, go for world class. But blend that drive with a sense of amusement and festivity.” Kehidupan ini dimaksudkan sebagai suka cita. Karena itu, mudahlah tertawa dan bisa menertawakan diri sendiri. Raihlah prestasi kelas satu di dunia, tapi sertai dorongan itu dengan keceriaan, rasa humor dan jiwa yang selalu siap merayakan kehidupan.

Bagaimana menurut Anda?

*) Wandi S Brata, Direktur Eksekutif PT Gramedia Pustaka Utama. Bisa dihubungi langsung di wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 1707
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *