Emmy Liana Dewi

Hubungan ‘Makanan’ Dengan Keselarasan Tubuh Dan Jiwa (Ayurveda Bagian 3)

A hariyate iti ahara:
Segala yang memasuki tubuh kita dikategorikan sebagai makanan.

Ada beberapa pertanyaan yang menggelitik hubungan seputar asupan makanan dan minuman dengan emosi. ’Kenapa makanan pedas kurang baik bagi proses pengajaran di kelas?’ Atau:’Kenapa murid-murid sekarang banyak yang memalak temanya atau gelisah di kelas setelah jam istirahat selesai?’. Atau, ”Anak saya sehabis minum minuman kaleng merek Anu pasti hyper dan nervous, deh… Sampai-sampa pegang gelas juga meleset…”

Pada beberapa tulisan yang terdahuluyang telah diterbitkan pada bulan Desember 2009 dan Januari,2010 saya menulis tentang konsep hidup sehat ala Ayurveda serta mengenali karakter tubuh, maka kali ini saya akan menulis tentang hubungan makanan dengan keseimbangan tubuh dan faktor kejiwaan. Makanan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam menyelaraskan pikiran dan emosi kita. Makanan sangat mempengaruhi keadaan mental kita. Contohnya, untuk sebagian orang begitu minum alkohol seteguk atau minum kopi setengah cangkir maka mereka langsung gemetar, pikiran sulit diajak kompromi, dan tidak bisa mengambil keputusan dengan baik. Bahkan mengendarai mobil pun tidak berani. Ada lagi yang setelah makan makanan yang pedas, menjadi lemas dan mengantuk. Nah coba bayangkan kalau dia seorang operator alat berat atau seorang guru yang harus menerangkan pelajaran penting di depan kelas…. Belum lagi ada anak-anak yang begitu minum minuman bersoda yang kaya gula dan zat tambahan lainnya menjadi hiperaktif dan tidak bisa konsentrasi di dalam kelas, bahkan mereka cenderung mengganggu teman atau malahan memalak teman-temannya.

Pikiran adalah mitra tubuh dalam memperoleh dan mengelola kesehatan. Pikiran dan tubuh tidak bisa terpisahkan dan berdiri sendiri-sendiri. Pikiran dan tubuh saling mempengaruhi dan saling melengkapi kesehatan dan kebahagiaan pada diri kita. Kita bisa disebut sehat apabila memenuhi kriteria: sehat secara fisiologis, sehat secara psikologis, dan terakhir sehat secara spiritual. Dalam bukunya yang berjudul ‘Eternal Health, The Essence of Ayurveda’, dr. Partap Chauhan membagi keadaan psikologis kita menjadi 3 bagian yang disebut triguna, yaitu satvic, rajasic, dan tamasic.
• Tipe satvic mempunyai ciri: Memiliki disiplin diri yang tinggi, menyukaii ketertiban dan keteraturan, pembersih, mempunyai memori yang tajam, mencintai kedamaian, tenang pembawaannya, tinggi keasadaran akan kesehatan, mandiri, berkelakuan baik, dan memiliki keinginan maju dan belajar seumur hidup serta mempunya kesadaran nilai spiritual yang tinggi.
• Tipe rajasic memiliki ciri: Dinamis, enerjik, dan cenderung dominan, ambisius, temperamental, memiliki kecerdasan yang juga cukup tinggi, mengejar kenikmatan duniawai (makanan enak, seks, suka pesta dan barang bermerek,), memiliki motivasi yang sangat tinggi dalam mengejar kekayaan dan kedudukan, cenderung popular dan suka menonjolkan diri, cenderung mudah terganggu serta gampang bosan.
• Tipe tamasic mempunyai ciri: Cenderung acuh tak acuh, malas, tidak peduli dengan sesama, memori lemah, keras kepala, tidak disiplin, kurang memperhatikan pengembangan diri, kurang memiliki motivasi yang kuat untuk maju, tidak mempunyai tujuan, kurang memegang nilai moral, dan cenderung melakukan tindak ekerasan.

Dalam kehidupan, setiap orang memiliki ketiga unsur tersebut, hanyalah penekanan unsur yang mana yang lebih dominan. Sehingga selain tipe satvic, rajasis, dan tamasic, ada unsur penggabungan satvic-rajasic, satvic-tamasic, rajasic – tamasic, dan satvic-rajasic-tamasic. Salah satu faktor penting yang mempengaruhi kesehatan psikologis kita adalah ‘makanan’ yang masuk ke dalam tubuh kita. Dalam Ayurveda, atau ilmu kesehatan kuno India, konsep ‘mind balance’ bisa diperoleh dengan mengatur pola diet, yaitu ‘makanan’ yang melalui disantapan melalui mulut, serta menjaga kualitas hidup yang sehat melalui ‘makanan’ yang masuk ke dalam tubuh melalui organ lainnya atau disebut juga santapan pikiran.

Santapan tubuh:
Makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh sangat berkaitan dengan kesehatan psikologis Anda, dan sangat berpengaruh terhadap keadaan emosi, pikiran, dan tindakan Anda. Baik yang pengaruh jangka pendek, misalnya: zat pewarna dan perasa tambahan, cabai, alkohol, kafein, gula, maupun yang berpengaruh jangka panjang, misalnya: lemak tak jenuh, makanan yang diproses, garam. Saya mempunyai pengalaman yang menarik ketika mengajar di sebuah sekolah Internasional. Pada hari Valentine dan Haloween, saat anak-anak mendapatkan permen, minuman soda, dan kek berlebihan, maka guru-guru banyak yang mengeluh bahwa murid-murid mereka di kelas lebih ‘lasak’/hyper, suka berteriak, dan ada yang ‘moody’, ada yang suka mengganggu serta sulit berkonsentrasi. Gula dan lemak serta ‘junk food’ membuat keadaan psikologis murid-murid berubah dalam waktu singkat. Nah, apabila anak Anda tiba-tiba lasak, cobalah untuk memperhatikan makanan apa saja yang baru saja di santapnya. Siapa tahu, Anda perlu mengurangi pasokan makanan yang mengandung gula banyak atau zat tambahan lainnya yang terlalu banyak.

Atau apabila Anda mengalami insomnia (gangguan tidur), kecemasan, tingkat keasaman tubuh menaik, cobalah untuk meneliti apakah Anda terlalu banyak minum teh atau kopi akhir-akhir ini? Atau Anda sering merasa lemas dan mengantuk sehabis makan? Cobalah teliti apakah Anda terlalu banyak menyantap lauk yang terlalu pedas, karena cabai bisa membuat energy Anda berkurang, lemas, dan mengantuk. Apabila suami/istri Anda akhir-akhir ini mudah marah, cobalah Anda meneliti apakah makanan yang disantapnya banyak mengandung garam atau lemak tak jenuh. Dengan meneliti makanan dan hubungannya dengan mental, maka Anda bisa meningkatkan kualitas mental keluarga Anda dengan mengatur makanan-makanan yang lebih sehat dan yang akan membentuk keadaan psikologis lebih ke arah satvic.

Apabila kesehatan psikologis kita sedang dalam keadaan kurang seimbang, atau sedang menjurus ke rajasic – tamasic, maka salah satu cara jitu untuk mengatasinya adalah dengan meneliti lalu mengubah pola makan kita. Dengan mengurangi makanan-makanan yang mempunyai stimulan terhadap emosi kita (misal kopi, teh, alkohol, bumbu yang merangsang, gula, lemak tak jenuh) dan dengan menambah pasokan makanan yang menyehatkan baik fisik kita maupun makanan yang baik untuk pikiran kita.

Anda bisa mengikuti tips seperti yang ditulis di bawah ini untuk meningkatkan kualitas hidup Anda:
• Meningkatkan pasokan makanan utuh (tidak diolah) misalnya buah segar dan sayuran, menambah asupan biji-bijian, padi-padian, salads, teh herbal, jus segar, air putih, kacang-kacangan (yang tidak digoreng), madu, dan susu. Makanan sehat ini akan mempengaruhi mental secara positif, atau dimasukkan dalam kelompok ‘satvic’.
• Mengurangi makanan yang diproses, difermentasi, diawetkan (kalengan, di asap, di asinkan), dibekukan, yang dipanggang maupun yang digoreng, atau yang dimasak terlalu lama.
• Mengurangi makanan yang terlalu banyak ditambah zat tambahan (pewarna, perasa, pengawet) serta yang mengandung terlalu banyak bumbu maupun gula.
• Mengurangi asupan daging atau hewan lainnya, obat maupun makanan dan minuman yang memberi stimulan, misalnya alkohol, kafein, nikotin.

Santapan pikiran:
Stres adalah bagian dalam kehidupan kita. Bahkan stres adalah ‘makanan sehari-hari’ yang biasa disantap para penduduk urban yang sibuk dengan hirup pikuk lalu lintas maupun deadline dan target. Stres juga dialami oleh penduduk di desa dalam menghadapi beban kehidupan yang keras. Kemiskinan yang telah berada sejak sebelum dilahirkan telah membentuk trauma sosial yang tidak terhindarkan oleh hidup mereka. Stres adalah pengalaman yang bersifat subyektif, tentang bagaimana sikap pikiran menginterprestasikan stimulus dan tanggapan tubuh atas stimulus yang ditangkap oleh pikiran. Bisa jadi penyebab stres yang sama, akan berdampak berbeda tergantung bagaimana masing masing individu memberi tanggapan dalam menghadapi stres tersebut. Secara umum, stres akan mempengaruhi keadaan fisiologis seseorang misalnya detak jantung yang meningkat, kualitas tidur terganggu, produksi keringat berlebih, hormon kortisol meningkat yang menyebabkan otot menjadi tegang dan bahkan terasa nyeri, keasaman di lambung meningkat, libido meningkat atau sebaliknya menurun; sistem reproduksi terganggu yang bisa menyebabkan infertilitas dan juga impotensi, yang kesehatan secara umum gejala stress ini akan mempengaruhi kesehatan kita.

Cara seseorang dalam menghadapi stres menentukan kualitas kehidupan dan mental orang tersebut. Pada sebagian orang menghadapi stres dengan alkohol, merokok, mengasup zat-zat yang memberi stimulan atau sebaliknya mengasup obat sedatif, clubbing, olah raga.. Sebaliknya ada yang menghadapi stres dengan ketenangan, misalnya meditasi, mendengarkan musik yang lembut, melakukan olah raga yang menyelaraskan tubuh dan pikiran (yoga, taichi,), menekuni hobi, membaca buku yang memberikan pencerahan, memberi waktu yang lebih kualitas kepada keluarga.

Ada juga yang acuh tak acuh dan tidak melakukan apapun untuk menghadapi stres yang dikemudian hari bisa membuat emosi mereka meledak-ledak atau malahan paranoid. Bahkan tidak mustahil ada yang cenderung ‘maniak’ melakukan kekerasan pada saat stres melewati ambang ‘kekuatan mental’ mereka. Kita sering membaca surat kabar bahwa ada penembakan masal, pemalakan yang dilakukan oleh murid SD sampai perguruan tinggi terhadap temannya yang lebih lemah, kekerasan dalam rumah tangga, sampai memutilasi korban. Semua itu adalah contoh dari keadaan psikologis seseorang setelah sekian lama ‘menyantap’ makanan yang mempengaruhi emosi dan pikiran mereka tanpa berusaha menyelaraskan diri., sehingga pada waktu tertentu ‘memuntahkan’ emosi mereka pada saat ambang pertahanan mereka jebol. Apapun yang masuk ke dalam tubuh kita tetaplah disebut makanan. Jadi stres yang masuk ke dalam kehidupan kita juga merupakan bagian dari ‘santapan kehidupan’ kita. Boleh dikatakan bahwa stres individu selain merugikan pribadi masing-masing akan juga merugikan lingkungan sosialnya.

Penelitian ilmiah yang diadakan terhadap masalah stres, menyatakan bahwa stres memberi kontribusi yang besar terhadap masalah tekanan darah tinggi, naiknya kolestrol, serta masalah penyakit yang berhubungan dengan jantung Selain itu stres mengakibatkan turunnya daya imun tubuh serta meningkatkan kadar kortisol, sehingga tubuh mudah terserang masalah peradangan. Dan stres juga salah satu yang mengakibatkan masalah diabetes (www.lifepositive.com). Journal of the American Medical Association meneliti bahwa kemarahan dan emosi yang tidak terkendali bisa merusak kesehatan arteri pada generasi muda. Sehingga kita sering menemukan orang mudapun sudah terkena penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah.

Filosofi Ayurveda adalah memberikan keselarasan antara tubuh dan pikiran dengan menyantap makanan yang bersifat satvic, mengendalikan emosi dan pikiran lebih tenang, melakukan aktivitas olah raga yang meningkatkan pasokan oksigen dan kadar endorfin, menjalin hubungan dengan diri sendiri dan sesama dengan lebih baik dengan jalan memiliki kehidupan spiritual yang sehat. Apabila akhir-akhir ini Anda membaca atau mendengar bahwa meditasi merupakan salah satu unsur makanan yang sangat sehat bagi mental kita, tidak ada salahnya Anda mulai belajar dan mempraktikkan meditasi. Karena meditasi dianggap sebagai ‘santapan sehat bagi mental’ yang mampu menyelaraskan tubuh dan pikiran. Keadaan yang harmonis antara pikiran dan tubuh tidak hanya memberi manfaat bagi diri Anda sendiri, akan tetapi juga memberi manfaat yang sangat positif bagi dunia.

Dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai kualitas kehidupan yang lebih sehat, kita membutuhkan kedua jenis makanan yang mampu sekaligus menyehatkan tubuh serta memberi efek psikologis yang lebih bersifat satvic. Sehingga ketiga unsur kesehatan kita, yakni fisiologis, psikologis, dan spiritual menjadi lebih maksimal terpenuhi.

(Emmy Liana Dewi, Ibu Rumah Tangga, pemerhati dan praktisi kesehatan holistik ini bisa dihubungi langsung di esuhendro@yahoo.com)

Telah di baca sebanyak: 6908
admin
Admin Pembelajar.

One thought on “Hubungan ‘Makanan’ Dengan Keselarasan Tubuh Dan Jiwa (Ayurveda Bagian 3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *