Training Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaNews FeedTraining Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaComments Subscribe to Training Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaSitemap

Hypnotic Dream Restructuring

July 17, 2012 by  
Filed under Adi W Gunawan, Kolomnis


“Aduh kasihan ya si Budi. Tadi malam masih sehat. Pagi ini bangun tidur lumpuh karena kena stroke” ujar Anto.

“Tapi yang aneh, barusan saya dapat kabar dari istrinya, Budi sudah di-MRI dan CT Scan. Kata dokter hasil scanning-nya bagus. Tidak ada yang bermasalah dengan otak atau saraf Budi. Dokter menyimpulkan Budi tidak kena stroke” jelas Mia.

“Kalau bukan stroke lalu kena apa ya dia? Tubuhnya lemah sekali dan lumpuh, tidak bisa digerakkan” tanya Anto penasaran.

Pembaca, pernahkah anda mendengar perbincangan serupa dengan yang saya tulis di atas? Atau anda sendiri pernah mengalaminya. Hasil pemeriksaan medis menyatakan tubuh fisik anda sehat namun anda (merasa) sakit. Inilah yang disebut dengan penyakit psikosomatis.

Secara khusus saya membahas hal ini di buku saya yang segera terbit di penghujung bulan Juni, The Miracle of MindBody Medicine: How to Use Your Mind for Better Health. Hasil riset yang kami lakukan di Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology menemukan bahwa ada 15 (lima belas) faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami penyakit psikosomatis.

Salah satunya adalah mimpi. Anda mungkin bertanya, “Lho, kok bisa mimpi membuat orang sakit?” Untuk mendapat jawabannya anda perlu membaca keseluruhan artikel ini. Sebelum menjelaskan mengenai Hypnotic Dream Restructuring Technique saya akan jelaskan sekilas mengenai mimpi.

Ada dua jenis tidur yaitu tidur REM (rapid eye movement) dan tidur non-REM (non-rapid eye movement). Masing-masing dengan karakteristik yang berbeda pada aspek fisik, saraf, dan psikologis. American Academy of Sleep Medicine (AASM) selanjutnya membagi NREM menjadi tiga tahap yaitu N1, N2, dan N3. N3 disebut dengan tidur delta (delta sleep) atau slow-wave sleep (SWS).

Tidur REM pada manusia dewasa meliputi 20-25% dari total waktu tidur. Mimpi yang biasanya kita ingat, setelah bangun tidur, adalah mimpi yang terjadi di tahap ini. Literatur mengenai mimpi pada umumnya menyatakan bahwa mimpi tidak terjadi di tahap tidur non-REM.

Namun riset yang dilakukan Rechstaffen, Verdone, dan Wheaton, dan juga riset oleh Foulkes menyatakan pada saat tidur non-REM ada muncul banyak bentuk pikiran.

Pengkajian mendalam terhadap berbagai laporan yang dipublikasi sejak tahun 1956, yang berasal dari berbagai laboratorium yang khusus meneliti mengenai mimpi, sampai pada satu kesimpulan bahwa mimpi mempunyai dua komponen:
1.Aliran bentuk pikiran yang normal.
2.Bentuk-bentuk pikiran yang intens.

Mimpi yang kita ingat, saat bangun tidur, adalah komponen pertama yaitu aliran bentuk pikiran yang normal. Bentuk pikiran ini tidak mengganggu atau menimbulkan masalah. Namun lain halnya dengan bentuk pikiran yang intens.

Bentuk pikiran intens yang muncul saat fase tidur non-REM sulit atau tidak dapat diingat namun berpengaruh sangat kuat baik terhadap pikiran maupun tubuh kita, setelah kita bangun tidur.

Mengapa bentuk-bentuk pikiran yang intens berpengaruh sangat kuat pada diri kita?

Hal ini dapat terjadi karena pola gelombang otak saat fase tidur non-REM, khususnya pada tahap tiga dan empat, yang diukur di laboratorium mimpi, serupa dengan pola gelombang otak saat seseorang dalam kondisi hipnosis yang dalam (deep trance / profound somnambulism). Dengan demikian bentuk pikiran yang muncul pada fase ini berlaku seperti sugesti pascahipnosis yang diberikan saat seseorang dalam kondisi hipnosis yang dalam.

Klien dengan masalah emosi atau fisik sering merasa bahwa sesuatu terjadi di malam sebelumnya. Mereka hanya mampu mengingat sebagian kecil mimpi yang menurut mereka tidak penting. Namun hasil penggalian mendalam di pikiran bawah sadar menemukan bahwa gangguan emosi atau fisik mulai terjadi setelah munculnya bentuk pikiran yang intens yang justru tidak mereka ingat.

Walaupun bentuk pikiran intens tidak dapat diingat namun dengan menggunakan teknik uncovering khusus bentuk pikiran ini dapat diakses dan diingat kembali sehingga dapat diproses. Begitu bentuk pikiran ini berhasil diproses maka pengaruhnya hilang dengan sendirinya dan klien sembuh.

Hypnotic Dream Restructuring Technique

Hingga saat ini kami telah berhasil mengembangkan dan menyempurnakan dua jenis teknik memproses mimpi. Teknik pertama adalah untuk identifikasi dan menemukan mimpi (bentuk-bentuk pikiran yang intens) yang menimbulkan masalah pada diri klien dan dilanjutkan teknik restrukturisasi yang bertujuan menetralisir kekuatan dan pengaruh mimpi.

Teknik ini membutuhkan kedalaman hipnosis yang spesifik yang dikombinasikan dengan teknik uncovering khusus seperti projective techniques, projection into the future, somato-auto response, retrograde dan chronological search, untuk menemukan bentuk-bentuk pikiran yang intens.

Teknik kedua, menggabungkan antara kondisi hipnosis dan teknik Gestalt yang dikembangkan Frederick “Fritz” Perls, digunakan bila klien dapat mengingat mimpi atau mengalami mimpi berulang dalam kurun waktu tertentu di mana mimpi ini selalu dalam satu pola atau tema tertentu.

Untuk memproses mimpi jenis ini lebih mudah karena klien dapat mengingat dengan jelas mimpinya. Walau dibilang mudah namun sebenarnya teknik kedua ini, dari pengalaman kami, bisa berkembang dan melibatkan banyak teknik lainnya seperti Affect Bridge, Ego Personality Therapy, rescripting, dan juga forgiveness. Mimpi adalah salah satu dari lima cara yang digunakan pikiran bawah sadar untuk berkomunikasi dengan pikiran sadar.

Ada yang mengalami mimpi berulang selama beberapa hari. Ada yang mengalami mimpi yang sama atau dengan tema yang sama selama beberapa minggu atau bulan. Salah seorang rekan saya bahkan mengalami mimpi yang sama atau serupa selama hampir dua puluh tahun.

Informasi yang disampaikan oleh pikiran bawah sadar dalam bentuk mimpi merupakan manifestasi dari salah satu sifat pikiran bawah sadar, yang kami temukan dari hasil riset, yaitu pikiran bawah sadar sangat menyadari pentingnya resolusi trauma namun ia bukan problem solver.

Dengan memberitahu adanya masalah melalui mimpi, pikiran bawah sadar berharap kita tanggap dan merespon dengan mencari tahu apa makna dari mimpi atau pesan itu dan segera menyelesaikan apapun masalah yang tersimpan di pikiran bawah sadar.

* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan ?, dan Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication. Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com.


Telah di baca sebanyak: 1023

Rating This Post

Comments

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





Top