Kolom Alumni

IBARAT TUBUH YANG TERBERKATI

05 Januari 2009 – 09:05   (Diposting oleh: Hendri Bun)

Oleh: Herry Prasetyo SALAH satu bentuk anugerah yang perlu kita syukuri adalah pekerjaan. Kita diberi kesempatan untuk berkarya dan mengembangkan diri di suatu perusahaan, sambil menerima rezeki dalam bentuk materi. Anugerah yang luar biasa, bukan? Oleh sebab itu, sudah menjadi hal yang wajar pula bila kemudian kita perlu memberikan cinta dalam pekerjaan yang kita geluti. Kerja yang penuh cinta itu pun perlu kita kelola seperti kita mengelola tubuh kita yang juga diberkati dengan fungsi dan tugas masing-masing.

Ya, dalam bekerja, kita bersama orang lain yang juga ingin memberi makna cinta dalam kerja, memiliki tugas masing-masing. Kita memiliki fungsi masing-masing ibarat tubuh kita yang terdiri dari beberapa anggota; ada kepala, tangan, kaki, mata, dan lain-lain. Fungsi masing-masing anggota tubuh tidak bisa dipertukarkan, misalnya mata untuk melihat, kaki untuk berjalan, tidak mungkin dibalik mata untuk berjalan dan kaki untuk melihat.

Demikian pun dalam suatu pekerjaan. Jika masing-masing bagian berfungsi dengan baik, maka sungguh indah kehidupan di kantor Anda. Setiap pribadi bekerja sesuai dengan keahliannya dan sebaiknya tidak saling ingin menguasai. Bekerjalah sesuai dengan porsi dan keahlian kita. Jangan terpancing pula ingin memecahkan setiap masalah seorang diri. Jangan terlena ingin dianggap mampu mengerjakan segala-galanya seorang diri agar dianggap hebat. Jangan pula tercetus keinginan membantu setiap bidang yang dikerjakan orang lain tanpa melihat dan mencermati berapa porsi yang tepat untuk suatu bantuan. Bukankah obat juga akan lebih bermanfaat bila sesuai dosis yang tepat?

Rasa sok mampu dan merasa bahwa bagian lain tidak berdaya lebih baik dihilangkan. Ibarat tubuh yang kompak, setiap gerakan anggotanya akan selaras dan berirama. Masing-masing anggota tubuh tidak bisa saling serobot. Tuhan telah menciptakan sedemikian rupa hingga fungsi dan kegunaannya tidak bisa saling mengganggu. Di lingkungan pekerjaan pun seharusnya kita demikian. Berkembang bersama-sama, mengalami kesulitan bersama-sama, mewujudkan impian bersama-sama, namun dengan menyadari perbedaan fungsi itu. Perbedaan yang melahirkan pemahaman yang luar biasa antarbagian yang sedang berkarya.

Memberdayakan Kemampuan
Agar keberhasilan dan rasa syukur itu semakin bermakna, kita perlu memberdayakan kemampuan. Ibarat tubuh yang harus terus digerakkan, dilatih, digunakan, demikian pun kita perlu mengelola anugerah kemampuan yang ada di dalam diri. Dengan demikian, kita tidak menjadi beban orang lain; kita tidak berlangganan dalam hal meminta pertolongan karena kemampuan kita setengah-setengah. Percayalah bahwa kita memiliki daya, punya kekuatan untuk meningkatkan kemampuan atau keahlian, yang akan menopang setiap karya terbaik yang kita hasilkan.

Nah, kalau toh bagian lain di kantor Anda meminta bantuan karena Anda dianggap mampu, lihatlah bentuk pertolongan itu. Jangan mengerjakan tugas pokoknya karena rekan Anda diberi kepercayaan untuk mengerjakan tugas pokok mereka sendiri. Bantuan Anda sekadar bantuan-dukungan sehingga tugas pokok rekan Anda berjalan dengan baik. Kaki bisa membantu mata tapi bukan dalam hal melihat; kaki membantu mata untuk mendekatkan tubuh berjalan ke arah objek yang dilihat. Seandainya mata bisa melihat, tapi kaki tidak bisa berjalan, maka tidak sempurnalah tujuan, tubuh tidak bisa mendekat ke objek yang dilihat dan mata tidak mungkin membantu kaki dalam hal berjalan.

Begitulah ibarat tubuh yang terberkati, demikian pula pekerjaan yang kita geluti setiap hari harus berada dalam deskripsi yang jelas. Kita tidak mungkin menjalankan segala-galanya seorang diri. Kita diberi kesempatan untuk bekerja di bidang kita dan orang lain pun diberi karunia yang sama sesuai dengan bidang tugasnya. Tugas dan tanggung jawab kita adalah memberi makna setiap pekerjaan yang dikaruniakan kepada kita, mencintainya sepenuh hati, dan mengembangkannya bersama tim kerja. Cinta akan menular kepada setiap pribadi yang berproses di dalamnya dengan porsi yang tepat, dengan saling menghargai dan memberi kesempatan kepada setiap orang bertumbuh dan bersyukur.

Nikmat keberhasilan pun akan dirasakan bersama. Kebahagiaan karena kelak berhasil mengalahkan tantangan akan memberikan energi baru. Sentuhan Ilahi terhadap setiap insan yang penuh syukur pun menjadi benar-benar terwujud dalam karya dan setiap bentuk pertolongan kepada sesama.

HERRY PRASETYO lahir di Yogyakarta, 28 Januari 1973. Lulusan Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini kini berprofesi sebagai penyunting di Harian Sinar Harapan, Jakarta. Hobinya menulis dituangkannya dalam beberapa artikel dan buku, terutama yang bersentuhan dengan motivasi dan pengembangan diri. Artikel-artikelnya pernah dimuat di Tabloid Nova dan kemudian dikumpulkan menjadi buku pertamanya berjudul Langkah Mudah untuk Sukses Berkarier (Penerbit Elex Media Komputindo). Herry kemudian menulis buku-buku berikutnya, di antaranya Begini Harusnya Karyawan (Penerbit Elex Media Komputindo), Pribadi yang Menyenangkan (Penerbit Bhuana Ilmu Populer-BIP), All About Inner Beauty (Penerbit Gramedia Pustaka Utama), Smart Plus (Penerbit Gradien), dan Kiat Karyawan Jago Lobi (Penerbit Sketsa Inti Media, Jakarta). Apabila Anda ingin memberikan masukan atau kritik, silakan layangkan ke alamat email herry_penulis@yahoo.com.

Telah di baca sebanyak: 1154
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *