Artikel Terbaru

Ingin dan Bisa Belajar


julia-napitupuluSampai sekarang saya masih berkeyakinan bahwa kemampuan terpenting yang perlu kita miliki adalah kemampuan belajar. Hidup adalah sebuah perjalanan. Dan untuk membuat perjalanan ini bisa bergulir dan penuh makna (bukan asal jalan) adalah kemampuan belajar si Individunya.

Suatu hari di meja kerja saya, saya mendapati kenyataan yang mencengangkan. Dari sekian banyak kasus konseling yang saya tangani, beberapa kasus tidak mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dikarenakan hal yang sama: individu yang bersangkutan tidak memiliki kemampuan belajar. Si suami menuntut supaya istrinya berubah, si anak menyalahkan pola asuh orang tuanya, si atasan mempertanyakan budaya organisasinya yang sudah terlanjur rusak karena praktek korupsi, dan fenomena ‘menuntut pihak luar tapi tidak melakukan apa-apa’ lainnya. Menurut saya fenomena ini juga adalah bagian dari ketidakmampuan belajar seseorang, karena daya introspeksi juga tercakup dalam kemampuan belajar seseorang. Lama-lama akhirnya saya berpikir, mungkin mereka datang ke ruang konseling saya tidak didasari niat betul-betul ingin ada perubahan, tapi hanya ingin dapat tempat curhat yang aman saja.

Contoh kasus di tempat kerja misalnya. Ini kasus yang sesungguhnya pemecahannya sangat teknis. Bukan termasuk kasus yang berat, tapi jika yang bersangkutan tidak memiliki kemampuan belajar yang baik, hal teknis sekalipun akan berakibat terhadap kurang lancarnya perjalanan hidup seseorang.

Sebut saja Bima yang bertugas di departemen IT. Gagasannya selalu brillian tapi karena tidak terbiasa mengemukakan pendapatnya di depan audiens, idenya tidak kelihatan cemerlang saat ia mempresentasikannya di depan pimpinan. Bahasa yang digunakan adalah ‘bahasa planet penuh jargon IT’, belum apa-apa target user Bima sudah menganggap idenya sulit dan tidak applicable. “Duh, saya orangnya memang ga bisa ngomong sih dari dulu”, begitu selalu pungkasnya.

Lalu pertanyaannya, sudah tahu tidak bisa ‘ngomong’, mengapa tidak belajar? Apakah Bima tidak ingin bisa ngomong di depan orang?Atau dalam istilah kompetensi: meningkatkan daya komunikasi persuasi. Akhirnya perjalanan karir Bima kurang bergulir dan hanya mentok di pembuatan ide-ide saja. Giliran ketika hendak di-gol-kan, terhambat oleh ketrampilan komunikasinya.

Bukankah sering sekali kita menemukan kasus-kasusseperti demikian?

Bima gagal mengenali kebutuhan belajarnya. Ia bahkan memiliki paradigma yang salah mengenai ketrampilan. Mana ada ketrampilan yang tidak bisa dipelajari? Atau bisa juga, tanpa disadarinya Bima takut mempelajari sesuatu. Padahal kemampuan untuk mengenali kebutuhan belajar adalah bagian dari kemampuan belajar yang terpenting.

Kemampuan belajar jauh lebih luas daripada sekedar seseorang yang cepat ngerti ketika diajari sesuatu. Seseorang yang memiliki kemampuan belajar yang baik akan dipenuhi dengan kegairahan belajar, daya introspeksi yang baik, kemauan menyerap sebanyak mungkin input, bisa melihat sesuatu dengan ‘mata’ yang berbeda, memiliki energi untuk berlatih dan terus memperbaiki.Intinya, seseorang yang memiliki keinginan untuk belajar dan yakin bahwa ia bisa mempelajari sesuatu. Sikap belajar yang positif ini akan membuat perjalanan hidup seseorang menjadi bergulir penuh makna, karena percaya bahwa semua hal, bahkan setiap kesalahan adalah pijakan berharga menuju tangga belajar berikutnya. Bukankah hidup adalah serangkaian dari proses memaknai setiap kesalahan?

Kembali kepada kisah Bima, dalam perjalanan kita tidak jarang kita menemukan seseorang seperti Bima.Seseorang yang sesungguhnya memiliki kemampuan untuk mencapai tujuan perjalanannya, tapi ia sendiri tidak tahu apa yang salah dengan dirinya sehingga macet di tengah jalan. Ia mungkin menyalahkan mobilnya yang sudah tua, rute perjalanan yang berliku-liku, teman seperjalanan yang tidak asik, padahal kunci jawabannya ada pada dirinya sendiri.

Pada titik ini individu tersebut membutuhkan orang lain yang mampu menjadi ‘mata telinga’nya. Seseorang yang mampu membantu Bima untuk menelisik ke dalam dirinya, mengenali kekuatan dan target belajarnya, serta memompa spirit belajarnya. Seseorang yang lebih dulu memahami ‘peta pembelajaran’ Bima dan membuat Bima mampu melihat peta dirinya dengan cara pandang yang lebih utuh dan positif.

“Life’s best coaches are those who believe in you and your potensial, sometimes even before you do”
(Lorii Myers, The Fit Mind-Fit Body Strategy Book)

Dalam konteks organisasi, seseorang yang mampu mendorong individu untuk memiliki kemampuan belajar yang baik, kita sebut sebagai Coach. Dan proses pembelajarannya sendiri dinamakan Coaching.

Seorang Coach bukan berarti ia bisa ‘ngajarin’ sesuatu ke timnya, tapi lebih dari itu ia mampu menumbuhkan hasrat belajar tim kerjanya, hingga mencapai kinerja terbaik yang mampu diraih. Singkat kata, seorang Coach mampu membuat seseorang jadi kepingin belajar dan bisa belajar.

Tidakkah dengan mengambil peran sebagai Coach, kita juga akan meningkatkan makna hidup kita?

Julia Napitupulu,
(Trainer, Psikolog & MC).


* Ikuti workshop “Coaching Journey” bersama Julia Napitupulu tanggal 11-12 Desember 2013.
Info lengkap Klik  www.trainer-school.com


 

Telah di baca sebanyak: 1672
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *