Kolom Alumni

Innovation or Die

Oleh: Eko Supriyatno

Beberapa hari yang lalu saya ketemu dengan petinggi sebuah perusahaan patungan (Joint Venture) antara Korea Selatan dan Jepang yang memproduksi plat baja. Dia memanggil saya untuk sharing mengenai sebuah pelatihan management skill for managers. Sebagai seorang ‘copang’ (cowok panggilan) alias trainer, saya mendengarkan dengan serius, apa sih kebutuhan calon klien. Dari pembicaraan tersebut, saya menangkap kesan kuat adanya kecemasan yang amat sangat soal krisis global. Ketika saya tanyakan. “memangnya dampak krisis buat perusahaan ini apa pak?”. Dengan sigap dia menjawab: “Wah luar biasa pak.” “Maksudnya, bisa bapak jelaskan,” saya mengejar. “Asal bapak tahu, uang yang kita gunakan ini adalah sisa tahun 2008”. Menurutnya, anggaran ini hanya mampu bertahan sampai bulan Juli. Karena permintaan dari buyer terbilang sangat sedikit. Bahkan saking minimnya, demand yang sudah MOU juga batal.

Ironisnya lagi, karena permintaan sudah deal, maka perusahaan (bagian produksi) dengan gagah berani mencari tenaga outsourcing sebanyak 50 orang. Tentu saja sudah teken kontrak untuk masa kerja waktu tertentu (PKWT). Akhirnya karena ada pembatalan dari pembeli, terpaksa tenaga outsourcing tersebut juga dibatalkan. Persoalannya tidak berhenti sampai disitu, Kenapa? karena perusahaan juga harus merogoh kocek untuk ngasih uang ‘sangu’.

Saya masih agak bingung soal korelasi antara krisis dengan pelatihan management skill. Lalu saya tanya: Pak, kenapa menurut bapak training ini penting? Katanya ketika membaca di berbagai media cetak dan elektronik ada sikitar 1600 karyawan GM yang dirumahkan. Dengan kemampuan bisnisnya yang tajam, Ia berkata pada dirinya: “Pasti perusahaan akan kena dampaknya.” Dan ternyata intuisi bisnisnya benar. Terbukti order sangat sepi dan bahkan ada pembatalan. Sayangnya, yang melihat soal ini hanya dia. Sehingga insight bisnisnya dipandang sebelah mata oleh yang lain.

Setelah diusut, barulah saya ngeh kenapa ia butuh pelatihan management skill. Karena pelatihan ini akan memberikan wawasan luas mengenai kaitan antara aspek bisnis dengan krisis. Ia mengganggap kemampuan manajemen yang up to date akan memberikan gambaran mengenai situasi krisis dan dampaknya pada perusahaan. Tujuan lainnya adalah justru karena krisis, maka investasi di bidang SDM menjadi sangat signifikan. Sehingga ketika krisis berakhir kompetensi SDM akan fit dengan lingkungan yang kompetitif.

Bicara soal krisis global yang mendera seluruh dunia termasuk Indonesia, sebenarnya bisa dimaknai dalam dua dimensi. Gampangnya adalah dimensi positif dan dimensi negatif. Dimensi negatifnya, perusahaan akan melakukan efisiensi besar-besaran. Dan ini adalah jurus umum yang paling populer di seluruh dunia. Saya tidak menyalahkan jurus ini. Tetapi jurus ini menurut saya membuat semua ‘warga’ perusahaan rada kuatir. Kekuatiran ini berdampak pada matinya kreativitas. Apalagi bila semua orang dipaksa untuk hemat, hemat dan hemat. Padahal sudah berusaha keras untuk hemat.

Secara teoritis pendekatan efisiensi memang mengharuskan demikian. Inilah repotnya kalau bisnis masih bermain di ‘Red Ocean.’ Strateginya masih ngatak-ngutik pada peta kompetisi yang ketat. Berada pada Pasar dan Produk yang sudah ada. Alhasil, pastilah margin keuntungan akan tergerus. Bayangkan, ‘kue’ yang sama direbut oleh banyak pemain.

Secara positif krisis sejatinya dapat melahirkan inovator yang berani melakukan ‘gugatan’ terhadap eksistensi pasar. Dengan menggunakan matriks Ansoff, inovasi dapat dilakukan dengan jalan memetakan hubungan antara pasar dan produk. Strategi yang bisa dimanfaatkan adalah product development. Ini adalah strategi pengembangan produk baru di pasar yang sudah eksis. Caranya, produk diubah menjadi lebih kecil, lebih lebar, lebih tipis atau seperti apapun. Yang jelas inovasi tidak membatasi ruang gerak kreasi atas produk. Disini yang paling utama adalah efektivitas. Terutama pasar melihat sebagai sesuatu yang memiliki added value tinggi. Bisa lebih simple bentuknya, teknologinya, maupun layanannya. Inilah enaknya kalau bermain pada ‘Blue Ocean’. Mau coba?

Ringkas kata, Innovation or Die. Silahkan dipilih!!!

*) Eko Supriyatno adalah Master Terapi Bisnis, Kolumnis dan Trainer berbagai pelatihan. Alumnus Writer Schoolen workshop “Cara Cerdas Menulis Buku Best-Seller” Batch IX dan Alumnus PPM ini dapat dihubungi langsung di email: eko_supriyatno2007@yahoo.co.id atau eko@terapibisnis.com

Telah di baca sebanyak: 1006
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *