Pitoyo Amrih

Internet … Ancaman atau Kekuatan-kah? (Bag 1)

Terkadang, jarak antara ancaman (baca: Threat) dan kekuatan (baca: Strength) memang begitu tipis. Dan kita bisa melihatnya dari mana saja kaca mata akan kita tempatkan. Saya yakin anda sependapat dengan saya terutama bagi anda yang pernah mencoba memahami makna akan pemetaan SWOT (Strength-Weakness-Oportunity-Threat). Strength atau kekuatan, dan Weakness atau kelemahan, adalah sesuatu yang berada pada lingkup diri kita, apa yang ada pada lingkup lingkaran pengaruh kita, kalau saya boleh meminjam istilahnya Stephen Covey. Sedang Oportunity atau kesempatan, dan Threat atau ancaman, adalah sesuatu diluar sana, di luar diri kita yang bisa jadi akan memberi dampak ke kita, dampak baik akan memberi kita kesempatan, potensi dampak buruk adalah sebuah ancaman.

Saya tidak akan terlalu jauh bicara mengenai SWOT sendiri, karena saya yakin setiap orang bisa memetakan dan merenungi setiap SWOT bagi dirinya, dari sisi mana pun kita memandang. Apa yang saya sampaikan diatas mengenai jarak yang begitu dekat –sehingga terkadang kita susah membuat batas jelas diantaranya- antara ancaman dan kekuatan, adalah apa yang pertama kali muncul di benak saya akan maraknya pro dan kontra jejaring sosial di dunia maya. Ide pertama kali muncul menggema dan banyak dikenal anak muda melalui friendster.com. Diikuti kemudian oleh banyak pengekornya dengan ide unik yang ditawarkan, dengan segmen pasar dan member yang di-‘lebih kentara’-kan. MySpace.com, kemudian Goodreads.com pada jejaring penyuka buku, Flixter.com bagi para maniak film, Linkedin.com untuk –dimaksudkan- para profesional, dan banyak lagi lainnya, jejaring pertemanan yang mungkin hanya pada member terbatas, sampai yang menjangkau wilayah antar negara.

Ketika era gema pertemanan di friendster.com terdengar dimana-mana, sepertinya hal ini tidak begitu memberi ancaman bagi kita semua. Karena kalau ditelisik, ‘pasar’ atau member friendster kebanyakan adalah para remaja. Pelajar, atau paling pol mahasiswa. Mungkin satu dua ada juga para profesional, tapi rata-rata mereka menjadi malu sendiri ketika disadari bahwa yang mendominasi para friendster ternyata adalah para remaja dibawah usia tiga puluhan.

Tapi kali ini muncul era baru bagi function engine sejenis … Facebook.com! Dan gaungnya ternyata lebih hebat dari sekedar yang terjadi pada eranya friendster beberapa waktu lalu. Modul dan komponen pada Facebook lebih lengkap. Aplikasi yang terpasang disana lebih user-friendly, bahkan setiap member bisa membuat aplikasi sendiri. Dan yang lebih menarik, entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba dengan facebook.com ini, orang cenderung untuk menampilkan dirinya sendiri. Kalau dulu, tampil di jejaring dunia maya, orang-orang lebih suka memakai foto avatar, dan ungkapan yang disampaikan pun terkesan polesan. Di facebook, entah awalnya bagaimana, terasa lebih ‘ngeh’ kalau foto yang ditampilkan adalah foto diri yang sebenarnya, dan ada fasilitas wall di sana, di mana semua orang tiba-tiba menjadi jujur dan mudah untuk berbagi, bahkan kepada orang yang sama sekali belum pernah dijumpainya!

Kehebohan ini ditopang oleh berita-berita yang mengulas tentangnya di luar internet. Di TV, tak habis-habisnya orang bicara tentang facebook. Bahkan ada sebuah acara talkshow salah satu stasiun televisi, yang dihadiri nara sumber yang hampir semua adalah anggota dewan terhormat, dan sepanjang acara bicara tentang facebook! Belum lagi ulasan di koran, tabloid-tabloid, beberapa majalah. Membuat facebook semakin dikenal, orang yang belum bergabung menjadi merasa ketinggalan, mereka berbondong-bondong menjadi member-nya, dan berusaha merasa asik dengannya.

Hal inilah yang kemudian membuat sebagian khalayak menjadi merasa gerah karenanya. Sebuah budaya yang datang begitu tiba-tiba, gegap gempita, dan membuat sebagian dari kita tergopoh-gopoh dan sebagian lagi merasa curiga. Terjadi pada para bos dan pemilik perusahaan pada karyawan-karyawan mereka, terjadi pada para pengelola sekolah terhadap tenaga guru mereka, kecurigaan yang menjangkiti suami atau istri terhadap pasangan-pasangan mereka.

Menurut saya, facebook tetaplah facebook. Bagi Mark Zuckenberg sendiri, dipuja ataupun dicerca, dia tetap tersenyum, karena facebook baginya adalah sebuah tempat berkarya dan sumber penghasilan. Dan semua itu tetap berpulang kepada kita apakah kita akan melihatnya sebagai ancaman? Atau sebuah kekuatan? Yang menurut saya menjadi aneh dan berlebihan, ketika saya mendengar berita terbaru hari ini, bahwa ada sebuah pertemuan pengelola sebuah pondok pesantren di Jawa Timur yang sampai harus mengeluarkan fatwa haram kepada facebook!

Bagi sebuah pemilik perusahaan, karyawan –seharusnya- adalah sebuah kekuatan. Lalu ketika definisi itu saya perlebar, karyawan yang ber-facebook (menjadi member facebook), karena facebook itu bisa dimana saja, via notebook, mobile-phone, komputer terhubung di meja kerja, dan tidak mungkin setiap pengusaha harus menyediakan sumber daya untuk memelototi kerja karyawannya selama jam kantor, akankah sang karyawan ini –masih- menjadi kekuatan, atau mulai berubah menjadi ancaman? Dan lucunya, seperti terminologinya, kekuatan adalah sesuatu yang ada di dalam lingkup lingkaran pengaruh kita, sedang ancaman adalah sesuatu yang ada diluar sana –yang mungkin tidak bisa kendalikan-. Sang pengusaha akan tetap melihat sang karyawan –ber-facebook- sebagai kekuatannya, ketika mereka melihat si karyawan –masih- sebagai bagian dari dirinya. Dan akan mulai menganggapnya sebagai ancaman ketika justru melihat si karyawan sudah mulai berada di luar lingkup lingkaran pengaruhnya. Logika ini bisa dibalik dan sama keadaannya ketika karyawan yang merasa perlu –bukan karena ingin- menjadi member facebook, melihat bos mereka sebagai kekuatan –tetap berada dipihaknya-, atau sebagai ancaman –orang yang selalu mengawasi gerak-geriknya-.

Ini seperti ketika kita mendengar ada sebuah berita di Inggris, dimana seorang istri menggugat cerai suaminya, gara-gara, sang suami menghapus profile ‘married’ di account facebook-nya. Kita mungkin tidak bisa secara akurat menilai kejadian ini, karena kita tidak tahu persis kejadian sebenarnya dan bagaimana hubungan sang suami istri itu sebelum mereka memiliki account facebook. Sehingga, apakah ancaman itu memang muncul ketika mereka berfacebook ria, atau sebenarnya mereka sudah saling merasa terancam sebelumnya.

Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, facebook adalah facebook. Kita tidak bisa mengisolasi diri kita terhadap teknologi. Hanya tantangannya kemudian adalah, bagaimana sebuah kekuatan –potensi yang kita miliki- akan tetap menjadi kekuatan, dengan atau tanpa facebook. Dan bilasaja suatu saat kita menganggap pada sebuah sudut pandang tertentu, teknologi sebagai ancaman, maka justru tantangannya adalah bagaimana kita semakin memaksimalkan kekuatan -dari dalam lingkaran pengaruh- kita untuk bisa meminimalkan ancaman –dari luar diri kita-. Hmm, ..terdengar klasik memang, seperti teorinya SWOT, tapi memang begitulah esensinya.

Dan diantara berita miring itu, saya masih mendengar ada seorang karyawan yang dipercaya perusahaannya, dan sang karyawan begitu memegang teguh kepercayaan yang diberikan kepadanya. Dan yang terjadi adalah, sang karyawan sebagai member facebook, berupaya memaksimalkan segala aplikasi dan fasilitas di facebook untuk memajukan dan mempromosikan produk perusahaan tempatnya berkerja. Dia membentuk group yang memfasilitasi komunikasi para konsumennya, mendiskusikan kelebihan produknya, dan menerima komplain bilasaja ada konsumen yang kecewa. Dia memanfaatkan modul-modul advertising di facebook, yang bagi sebuah perusahaan besar, promosi banner di jejaring ratusan juta member itu, biaya pay-per-click yang ditawarkan seperti tak ada artinya. Dia juga membuat company profile di facebook sebagai representasi dari perusahaan tempatnya bekerja. Dan hebatnya, dia seolah selalu menjadi advertiser di setiap wall-nya, komentar-nya, foto-foto dan video yang di-uploadnya.

Guru-guru di sekolah anak saya, juga membentuk jejaring, yang setiap saat mereka selalu menyapa kita para orang tua, terkadang memberi masukan tentang bagaimana anak kita di sekolah. Sesekali juga pernah mengingatkan sekali lagi akan tugas-tugas yang harus dibawa anak-anak besok harinya di sekolah. Atau saya perhatikan, salah satu teman saya di facebook kebetulan adalah seorang dosen. Beliau begitu membuka diri terhadap para mahasiswa-nya dan dia memanfaatkan betul facebook sebagai media komunikasi dengan para mahasiswa-nya. Seolah dengan facebook mereka berusaha menambal lubang-lubang komunikasi mereka di kampus, yang terkadang terkendala oleh kekakuan budaya antara seorang dosen dengan mahasiswanya. Dari sisi pandang ini, saya melihat internet akan semakin memberi kekuatan kepada kita, tinimbang kecurigaan kita yang menganggapnya sebagai sebuah ancaman.

Cerita diatas adalah contoh bagaimana kita melihat internet dari sisi sosial budaya. Tentunya bila kita memandang internet sebagai salah satu ‘ladang’ kita bercocok tanam untuk membuka usaha, akan semakin besar tantangan buat kita untuk membuatnya sebagai bagian dari kekuatan. (bersambung)

* Pitoyo Amrih; www.pitoyo.com – home improvement, bersama memberdayakan diri dan keluarga

Telah di baca sebanyak: 1224
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *