Pitoyo Amrih

Internet… Ancaman atau Kekuatan-kah? (Bag 2)

Seri Membangun Bisnis Dunia Maya (28)

Kita semua prihatin, ketika sejarah kehidupan budaya kita diisi oleh sebuah kejadian yang sebetulnya lucu, lucu karena secara nalar pikiran kita harusnya kejadian ini hanyalah sebuah dongeng satir yang disangat-sangatkan. Tapi sekaligus mengharukan. Mengharukan karena kejadian yang menurut sangkaan orang hanya sebuah cerita ini, ternyata benar-benar terjadi di kehidupan kita. Seorang konsumen, bernama bu Prita, yang berkeluh kesah atas pelayanan jasa yang diterimanya,.. eh, dalam waktu yang super cepat, masuk tahanan! Mungkin beliau tidak akan segera masuk bui bilasaja keluh kesah itu ditulis di media cetak, atau mungkin ditulis di selebaran-selebaran, atau mungkin lewat cerita dari mulut ke mulut. Kebetulan keluh kesah itu ditulis lewat e-mail. Dan semakin aneh, ketika sebuah undang-undang yang memayungi kegiatan dunia maya, dan seharusnya menjamin keamanan setiap warga negara melakukan kegiatannya di internet, justru menjadi alat untuk menjerat, sehingga membuatnya segera masuk tahanan.

Dalam sebuah wawancara di televisi, sebuah ungkapan polos dan terlihat berkas trauma yang dalam, beliau menyampaikan bahwa sampai saat ini masih trauma untuk menulis e-mail, bahkan masih merasa takut berkomunikasi via internet.

Walaupun akhirnya secara kolektif, negara dalam hal ini, menyadari kesalahannya dan dengan segera melakukan koreksi, dan buru-buru memberikan pernyataan bahwa pihak jaksa penuntut adalah sebagai oknum yang bertindak kurang profesional. Tetap saja memberi kita kesimpulan sementara, bahwa bisa jadi sebagian abdi negara, yang seharusnya melayani masyarakat kita, ada yang masih melihat dan setuju bahwa internet bisa menjadi sebuah ancaman! Dan ini sebenarnya sekaligus menjadi cermin bagi budaya masyarakat kita semua bahwa memang benar, ada sebagian masyarakat kita yang melihat bahwa internet adalah sesuatu yang ada di luar sana dan menjadi ancaman, bukan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri kita dan menjadi kekuatan. Anda bisa tengok artikel saya sebelumnya agar bisa lebih mudah memahami apa yang saya maksud, meminjam istilah ancaman dan kekuatan dari teorinya SWOT.

Sekali lagi harus saya katakan, kalau boleh saya mencoba secara ekstrim menggambarkan internet ini. Internet yang semula hanya ‘sekedar’ sebuah tools, saat ini sudah menjadi budaya dan bagian dari kehidupan. Dan pertumbuhan pengguna internet, kalau kita coba menengok dan membandingkan dengan bagaimana telepon tersosialisasikan, atau faximile yang berevolusi, budaya pengguna dan pengakses dunia maya bagai air bah yang mempengaruhi orang begitu cepat.

Tentunya akan jadi aneh bila kita masih juga tetap menganggap internet adalah sebuah ancaman, sesuatu diluar sana yang bisa merusak kondisi equilibrium perikehidupan kita. Seperti sebuah analogi air bah, bila sang air bah datang dan segera pergi mungkin tetap kita akan melihatnya sebagai ancaman, tapi bilasaja air bah itu tetap datang dan selalu menggenangi kita, maka pilihan bagi kita adalah berusaha menggeser paradigma kita dan dengan segera membiasakan diri dengan adanya air bah, mencoba memahaminya, belajar darinya, hidup bersamanya, memanfaatkan apa yang bisa dimanfaatkan darinya, dan menjadikan itu bagian dari diri kita, yang menjadi kekuatan dalam membantu keseharian kita. Tapi rupanya sebagian dari kita masih tergagap-gagap akan apa yang terjadi. Ketika sebagian orang sudah menganggap air bah sudah menjadi keseharian mereka, sebagian dari kita tidak juga kunjung merubah paradigma, dan tetap melihat internet sebagai sebuah ancaman akan kemungkinan bencana.

Ini seperti pengalaman saya dengan salah satu teman saya, yang waktu itu sekitar delapan tahun lalu mencoba mengawali untuk belajar tentang apa itu internet, e-commerce, pembuatan website dan sebagainya. Dia kebetulan adalah seorang brick and mortar, pelaku usaha yang cukup lumayan menekuni bisnisnya di dunia nyata, dan ketika itu, tertarik untuk mulai melebarkan usahanya masuk ke dunia maya. Mencoba menjadi brick and click atas usahanya. Sementara waktu itu, pada saat yang sama, saya dan istri saya, mencoba mengawali usaha di internet sebagai pure-player.

Waktu itu, tidak seperti saat ini, penyedia layanan hosting masih hitungan jari dan hanya dikuasai oleh perusahaan besar. Pengurusan nama domain juga masih dilingkupi perasaan harap-harap cemas, apakah benar pembayaran domain lewat kartu kredit via internet kepada siapa entah dimana, akan benar-benar mendapatkan nama domain secara legal. Saya dan teman saya sama-sama belajar. Tanya sana tanya sini, browsing sana browsing sini. Sampailah kemudian, ketika itu kita harus belajar membuat sebuah website.

Tidak seperti sekarang, yang banyak ditawarkan CMS (Content Management System) jadi yang tinggal pakai dan sangat user friendly seperti Joomla, Mambo, phpNuke, dan sebagainya, saat itu benar-benar seperti hutan. Sepertinya semua orang masih mengembangkan. Yang populer saat itu adalah pembuatan website dengan Microsoft Frontpage yang sudah pasti banyak orang terkendala oleh masalah lisensi. Sementara yang bersifat open-source dengan php, saat itu, masih bak jamur yang berwujud spora tumbuh di sana sini, menayangkannya di internet, dan tak ada yang mengklaim bahwa apa yang mereka buat siap pakai dan bisa langsung dimanfaatkan. Yang kemudian orang lakukan adalah, ambil sana, ambil sini sebagian, di kompilasi, tambahi modul program php untuk fungsi tertentu, ambil dari tempat lain lagi, dijadikan satu, sisip sana sisip sini, demikian seterusnya, sehingga jadilah sebuah website, yang mungkin juga lengkap dengan content management, yang sifatnya belum universal dan hanya bisa digunakan dan dimanfaatkan oleh sang pencipta sendiri.

Dalam situasi seperti itu, saya dan teman saya coba kembangkan sendiri segala apa yang kita dapat. Tiba-tiba, di tengah jalan, dia berhenti, “..susah.., .. udah mentok..”, demikian katanya ketika itu suatu ketika, saat menghadapi masalah bug pada program buatannya. Sejak itu kami hampir tak pernah ketemu. Dan saat ini, lebih dari enam tahun kemudian, saya mendengar bahwa teman saya itu, masih merasa nyaman berada di brick and mortar. Walaupun saat ini, sudah banyak program pembuatan website yang mudah, atau mungkin bagi dia tidak susah untuk memperkerjakan lulusan internet programmer untuk menjadikan usahanya sebuah brick and click.

Memang, bagaimana pun, apakah sebuah usaha akan juga merambah ke dunia maya atau tidak, tetap merupakan sebuah pilihan. Orang boleh saja mempertahankan usahanya dan maju tanpa harus masuk ke ‘pergaulan’ dunia maya. Tapi,.. bahkan bagi orang yang tidak melebarkan networking-nya di dunia maya pun, tidak seharusnya menjadikan internet sebagai sebuah ancaman. Sehingga ketika suatu saat ada orang yang merasa perlu untuk masuk terhubung menjadi komunitas di dunia maya, saat itu pula dia seharusnya sudah mulai menggeser paradigma-nya untuk menjadikan internet sebagai sebuah kekuatan. Sesuatu yang menjadi bagian dari dirinya, dan siap untuk mendapatkan manfaat darinya.

Sekitar enam tahun lalu, teman saya yang saya ceritakan di atas, sang brick and mortar, saat itu merasa belum berhasil melihat internet sebagai sebuah kekuatan, walaupun masih mending dia tidak sepenuhnya melihat bahwa internet sebagai sebuah ancaman. Tapi yang membuat sedikit agak prihatin, adalah bahwa saat ini, enam tahun kemudian, ternyata masih ada orang yang melihat internet, tidak hanya internet sebagai sesuatu hal yang menjadi bagian dari kekuatan, tapi lebih menyedihkan lagi, melihat komunikasi dunia maya sebagai sebuah ancaman. Sehingga harus membuat bu Prita menjalani kehidupan di tahanan. Yang berdampak kepadanya saat ini, untuk sementara waktu, bahkan bu Prita juga harus melihat internet –juga- merupakan hal yang mengancam ketenangan kehidupannya.

Saya hanya ingin menyampaikan, daripada kita sibuk berfokus pada hal-hal yang mungkin memberi ancaman atas interaksi kita di dunia maya, mengapa tidak kita coba mencari hal-hal yang bisa dimanfaatkan dan menjadikan internet sebagai kekuatan kita. Tapi mungkin tetap saja belum cukup, atas apa yang saya lihat pada sebagian besar masyarakat pengguna internet di negara kita. Rata-rata mereka tidak melihat internet sebagai sebuah ancaman, tapi sekian lama berinteraksi di internet, tidak kunjung juga mencari hal yang bisa bermanfaat atas interaksinya di internet, sehingga dapat memberi kekuatan.. baik dalam rangka pemberdayaan diri mereka, ataupun perbaikan dari sisi sosial ekonominya..

* Pitoyo Amrih; www.pitoyo.com – home improvement – bersama memberdayakan diri dan keluarga

Telah di baca sebanyak: 1504
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *