Her Suharyanto

INVESTASI REKSADANA DENGAN STRATEGI “YOYO”

02 Oktober 2007 – 12:58 (Her Suharyanto)   Diposting oleh: Editor

(Rate: 8.00 / 1 votes)
Seri Artikel News for Wealth

Beberapa bulan silam istri saya tiba-tiba usul, “Mas kita jual saja reksadana kita sebagian… separuhnya misalnya…” Sejenak saya tidak percaya. Sebab selama ini istri saya adalah pengawal setia investasi yang memang kami rencanakan untuk pensiun.

“Mau untuk apa?” saya bertanya.

“Ambil untung saja. Nanti kalau harga unitnya turun, kita belikan lagi.”

Tuing… Ada banyak bintang berpendar di kepala saya. Ini adalah strategi memperbanyak jumlah unit reksadana tanpa memasukkan dana investasi baru sama sekali. Strategi ini memanfaatkan fluktuasi harga saham yang memang selalu mengalami perubahan, naik atau turun. Suatu saat ketika pasar sedang bagus maka harga saham secara rata-rata akan naik. Indikatornya adalah bahwa indeks harga saham terus bergerak naik. Di suatu saat yang lain pasar memburuk dan harga saham terus merosot.

Ketika istri saya mengajukan usul itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta memang sedang mencapai rekor tertingginya, di atas 2.400.

Untuk investasi reksadana kami memang hanya memilih reksadana saham. Alasannya sederhana saja, harga saham yang diluncurkan untuk pertama kalinya di sekitar tahun 90-an, sekarang harganya sudah berlipat-lipat. Jadi, boleh jadi harga saham selalu naik turun dalam jangka pendek. Tapi saya sendiri yakin dalam jangka panjang harga saham selalu naik.

Reksadana saham juga kami pilih karena skala investasi kami memang kecil. Kalau skala investasi kami cukup besar, mungkin kami akan memilih untuk langsung membeli saham dan menyimpannya untuk jangka panjang.

Sebelum memilih reksadana, kami memang juga melihat-lihat, apa saja isi reksadana yang akan kami beli. Anggap saja reksadana kami bernama Reksadana ABC. Saya memilih reksadana ini karena menurut saya isinya (waktu itu) oke. Ada saham perbankan yang diwakili BCA. Ada saham pertambangan yang diwakili Bumi Resources, ada saham industri yang diwakili Astra Internasional, ada saham telekomunikasi yang diwakili PT Telekomunikasi Indonesia, ada saham perkebunan yang diwakili Astra Agro Lestari. Seluruh sektor andalan terwakili, dan para wakilnya adalah perusahaan-perusahaan yang secara bisnis saya percayai.

Karena berisi “semua” industri secara merata, maka secara umum naik turunnya harga unit Reksadana ABC juga seiring dengan naik turunnya IHSG, indikator utama di BEJ. Kalau IHSG menguat, biasanya harga unit kami juga naik dan sebaliknya.

Selama ini kami memang menerapkan sudah “strategi Yoyo”, tetapi hanya ketika kami sedang bermaksud memasukkan investasi baru. Seperti pernah saya tulis sebelumnya, saya selalu memaksakan diri untuk membeli unit tambahan ketika IHSG berada lebih dari 200 poin di bawah rekor tertinggi sebelumnya. Kami melakukan itu dengan keyakinan bahwa suatu saat rekor itu akan terpecahkan lagi, dan indeks akan mencari rekor baru yang lebih tinggi lagi. Dan memang terbukti. Rekor lama selalu berhasil dipecahkan oleh rekor baru. Harga unit kami juga bergerak sangat bagus untuk ukuran “paper investment” yang relatif pasif (tidak setiap hari memelototi perkembangan harga per unit saham).

Nah, tiba-tiba saja istri saya mengusulkan menjual reksadana untuk ambil untung, dan uangnya nanti dipakai lagi untuk membeli unit baru ketika harga unitnya turun, seperti metode beli biasanya. Ini memang strategi umum bagi para pemain saham, tetapi jarang ada anjuran seperti ini untuk investasi reksadana. Rekomendasi yang paling umum adalah, taruh uang anda pada reksadana, dan biarkan sampai lima, 10, 15 atau 20 tahun mendatang.

Asumsi strategi ini sederhana saja. Ketika indeks atau harga unit reksadana sedang mencapai rekor terbaru dengan selisih yang cukup bagus dibanding rekor sebelumnya, jual saja katakan separuh dari unit yang kita miliki. Misalnya saya memiliki 1000 unit Reksadana ABC. Pada saat rekor tertinggi, saya bisa menjual 500 unit, tetapi uangnya tidak saya tarik. Uang tetap berada di rekening yang memang disiapkan untuk reksadana tersebut. Supaya bisa menjual sewaktu-waktu, kami sudah menandatangani form jual dan beli reksadana yang kami titipkan di bank. Ketika harga sudah mencapai target kami menelepon account officer langganan, “Pak, tolong jual reksadana saya sebanyak 500 unit.” Karena dia sudah memegang formulir yang sudah ditandatangani, dia bisa langsung menjual 500 unit yang kami pesan.

Maka berikutnya adalah justru menunggu harga saham turun. Ketika harga saham turun cukup signifikan, kembali kami menelepon sang account officer, “Pak tolong belikan Reksadana ABC, pakai saja semua uang yang ada di rekening.” Katakan saja dengan itu saya bisa membeli 600 unit baru. Jadi tanpa harus memasukkan dana baru, jumlah unit reksadana kami berkembang menjadi 1.100 unit, sementara harga per unitnya juga terus berkembang.[her]

* Her Suharyanto adalah penulis dan editor ekonomi. Ia dapat dihubungi di: her_suharyanto@hotmail.com.

Telah di baca sebanyak: 2266
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *