Wandi S Brata

Jadilah Bagian dari Solusi


Kita sering mendengar ucapan, “Kekuatan rantai ditentukan oleh mata rantai yang paling lemah.” Membawa metafor ini ke dalam tim, orang menyimpulkan, “Kekuatan tim kita ditentukan oleh anggota tim yang paling lemah!” Maafkan kekasaran saya, tapi itu benar-benar omong kosong; dan sebaiknya buang saja itu sampah!

Mengenai sambungan mata rantai, mudah dipahami gambaran dan logikanya. Kalau ada sekian banyak mata rantai yang masing-masing kuat menanggung beban satu ton disambung-sambung, tapi di antara sambungan itu ada mata rantai yang hanya kuat menanggung beban setengah ton, rangkaian mata rantai itu secara keseluruhan hanya akan kuat mengangkat beban setengah ton. Dengan beban satu ton, rantai itu akan putus, persis pada sambungan mata rantai yang memang hanya kuat mengangkat beban setengah ton.

Itu masuk akal. Juga mudah dipahami, karena pertemuan semua mata rantai yang sambung menyambung tersebut hanya merupakan pertemuan fisik yang sama sekali tidak memunculkan sinergi. Bahkan cara menyambungnya hingga membentuk rantai itu adalah sedemikian sehingga masing-masing mata rantai hanya menambah panjang, tapi juga sekaligus membebani dan tidak menambah kekuatan yang lain.

Sebaliknya, bila terjadi sinergi, pertemuan fisik di antara mata rantai itu akan menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Coba bayangkan skenario berikut ini. Ada sepuluh mata rantai. Sembilan di antaranya masing-masing kuat mengangkat beban satu ton, dan hanya satu di antaranya kuat dibebani setengah ton. Sambungan tidak dilakukan secara berentengan membentuk rantai, tapi disatukan seperti orang memakai gelang pada tangan yang sama. Karena besarnya sama, sambungan itu akan menyerupai tabung. Saya yakin, rentengan mata rantai yang menyerupai tabung itu kuat mengangkat paling tidak sembilan setengah ton. Kalau sambungan itu dilas, saya amat yakin dia akan bisa mengangkat belasan ton. Entah berapa persisnya, yang pasti akan kuat mengangkat lebih dari sembilan setengah ton, karena penyatuan dengan las itu akan menciptakan sinergi yang lebih hebat daripada sekadar diombyokkan bersama. Orang fisika akan bisa menentukan besaran kapasitasnya dengan lebih persis.

Dengan ini saya mau menyanggah petuah yang sering secara salah kaprah disampaikan dalam suatu meeting di kantor, atau dalam suatu training outbound. Pada kesempatan seperti itu sering dikatakan secara gegabah bahwa kekuatan tim kita ditentukan oleh anggota tim yang paling lemah. Andai salah kaprah itu benar, berarti tak akan Indonesia maju karena ada sekian banyak orang lemah di negara kita. Ada banyak yang lemah moral, sehingga korupsi kita tertinggi. Ada yang lemah fisik, ada yang lemah mental, ada yang lemah ekonomi, ada yang lemah politik; ada yang lemah karakter; ada yang lemah pendidikan, ada yang lemah jiwa di hadapan godaan syahwat, dan ada yang lemah entah apa lagi. Andai memang salah kaprah itu benar, pastilah kita sudah bubar. Tak akan ada harapan perbaikan, karena kekuatan kita akan ditentukan oleh yang lemah-lemah itu tadi. Tapi kenapa kita mau repot untuk terus berjuang ke arah yang lebih baik? Karena kita yakin bahwa masing-masing yang tidak sempurna ini, kalau mau, bisa menciptakan sinergi yang luar biasa untuk mengatasi persoalan kita.

Kumpulan orang tidak pernah terjadi hanya dalam tataran fisik belaka. Bahkan di antara orang-orang yang tidak saling kenal pun, tidak pernah ada kerumunan orang yang hanya bersifat kumpulan fisik semata. Ada emosi, sikap, karakter, ungkapan pikiran dan perilaku yang saling pengaruh, entah disadari atau tidak. Kekuatan kumpulan suporter bonek di stadion sepak bola tidak ditentukan oleh orang paling lemah di antara mereka.

Kalau kumpulan kacau tak berbentuk di antara orang-orang yang bahkan tak saling kenal saja bisa sehebat sebagaimana huru-hara yang sering terjadi ketika ada pertandingan sepak bola, apalagi tim. Di dalam tim yang bersinergi secara positif, orang-orang saling bisa menutupi kelemahan sesamanya. Akibatnya, mereka dapat menciptakan kekuatan dahsyat untuk meraih cita-cita bersama. Karena itu mereka menggambarkan sinergi positif sebagai 1 + 1 + 1 = 5, 10, 15 atau lebih, entah berapa.

Sebaliknya, kalau sinergi mereka payah, apalagi kalau negatif, orang-orang terbaik yang berkumpul di satu tim yang sama itu bisa saling cakar-cakaran, meniadakan kekuatan sesamanya, dan memperbesar kelemahan masing-masing, dengan hasil nol, kalau bukannya malah negatif. Artinya, kontra-produktif dari tujuan penciptaan tim itu.

Saya amat senang membaca The Greatness Guide, buku kedua, karya Robin Sharma. Refleksinya singkat-singkat tapi dalam dan inspiratif. Tapi kali ini saya tak setuju dengannya ketika dia katakan, “Your tim will never be greater than you are (even if you are not the team leader) … You set the standard to which you all can rise.” Keblinger! Anda memang mempengaruhi tim, tetapi tidak secara keseluruhan. Anda yang luar biasa tidak serta merta menentukan kehebatan tim Anda kalau sinergi di antara anggota payah. Sebaliknya, Anda yang payah tidak akan membuat tim parah kalau anggota lain bersinergi secara positif dan benar. Tim bisa jauh lebih dahsyat daripada masing-masing anggotanya secara individual. Bahkan, tim bisa lebih dahsyat daripada penjumlahan kekuatan anggota tim. Sebaliknya, tim dari orang-orang hebat bisa jauh lebih payah daripada orang per orangannya kalau anggota tim itu tidak saling dukung.

Oleh karena itu, ungkapan “Kamu menentukan standar setinggi apa timmu bisa mendaki” sebenarnya bukan pernyataan faktual, malainkan pernyataan yang mengandung imbuan moral personal. Imperatif moral itu kira-kira artinya begini: “Karena bagaimanapun kamu berpengaruh terhadap tim, kalau kamu ingin menciptakan tim yang hebat mulailah dengan dirimu sendiri dengan berpikir, bersikap, dan berperilaku benar demi cita-cita bersama. Jadilah bagian dari solusi dan bukannya menambah-nambah masalah dengan bikin ulah, yang cuma bikin semangat orang lain patah!”

Oleh karena itu, menggambarkan kekuatan tim sebagaimana kekuatan rantai, dan menyatakan kekuatan rantai ditentukan oleh mata rantai yang paling lemah mengandung bias yang tak ramah terhadap si lemah. Padahal persoalan utamanya bukan kuat lemahnya para anggota, melainkan bagaimana orang-orang di dalam tim itu bekerjasama secara sinergis. Selain itu, metafor rantai itu menciptakan ilusi bahwa kekuatan tim tidak akan pernah melebihi kekuatan salah satu anggotanya. Padahal kita tahu persis, pengalaman nyata justru menunjukkan sebaliknya.

Dengan demikian, alih-alih menggambarkan tim dengan metafora rantai, lebih baik kita menggambarkannya dengan analogi rombongan gajah. Kekuatan rombangan gajah itu tidak ditentukan oleh gajah yang paling lemah, tetapi oleh sinergi di antara gajah-gajah, baik yang kuat maupun yang lemah, untuk mencapai sasarannya, termasuk untuk melindungi gajah lemah dan menempatkannya di tengah. Dalam gerombolan seperti itu, rombongan singa pun tak berani mendekat untuk mengusik bayi gajah yang lemah.

Kalau tidak suka dengan gajah, silakan mengambil keong, dan ingatlah cerita rakyat yang mengisahkan kehebatan sinergi keong yang dalam lomba lari cepat bisa mengalahkan kancil yang sombong. Dari cerita itu saya tak suka dengan implikasi pembenaran atas kelicikan keong yang bohong, tapi itulah gambaran makluk yang berjalan beringsut itu bisa mengalahkan hewan yang bisa lari kencang melalui sinergi.***

*) Wandi S Brata; Direktur Eksekutif PT Gramedia Pustaka Utama; wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 1683
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *