Kolom Alumni

Jamu Tolak Miskin

Oleh: Tanenji
Sebelum membahas tentang judul di atas ada baiknya diekspos terlebih dahulu definisi atau penjelasan terminologis dari kata-kata yang bersatu menjadi judul tulisan ini.

Jamu menurut Wikipedia adalah sebutan untuk obat tradisional dari Indonesia. Belakangan populer dengan sebutan herba atau herbal. Jamu dibuat dari bahan-bahan alami, berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan dan kulit batang, buah. Ada juga menggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti empedu kambing atau tangkur buaya. Jamu biasanya terasa pahit sehingga perlu ditambah madu sebagai pemanis agar rasanya lebih dapat ditoleransi peminumnya. Di berbagai kota besar terdapat profesi penjual jamu gendong yang berkeliling menjajakan jamu sebagai minuman yang sehat dan menyegarkan. Selain itu jamu juga diproduksi di pabrik-pabrik jamu oleh perusahaan besar seperti Jamu Air Mancur, Nyonya Meneer atau Djamu Djago, dan dijual di berbagai toko obat dalam kemasan sachet. Jamu seperti ini harus dilarutkan dalam air panas terlebih dahulu sebelum diminum. Pada perkembangan selanjutnya jamu juga dijual dalam bentuk tablet, kaplet, dan kapsul.

Masih menurut Wikipedia, ketika disearch kata “miskin” malahan yang keluar adalah kata “kemiskinan”. Dalam kamus online tersebut dijelaskan bahwa arti kemiskinan adalah keadaan di mana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, dan air minum, hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup. Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Istilah “negara berkembang” biasanya digunakan untuk merujuk kepada negara-negara yang “miskin”.

Kemiskinan kemudian dapat dijelaskan dan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:
1. Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.

2. Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.

3. Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna “memadai” di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.

Demikian definisi dan penjelasan Wikipedia terhadap 2 kata utama pembentuk judul tulisan ini. Saya dalam keseharian sering mengonsumsi jamu, juga sering melihat fenomena kemiskinan di sekitar rumah tempat tinggal dan dalam perjalanan pergi pulang ke tempat kerja. Suatu kali saya bertanya pada seorang tukang jamu, apakah ada atau tersedia tidak jamu tolak miskin? Sang penjual pun menjawab, ”Kalau toh ada, sudah saya minum sendiri, mas!” Ya iyyalah…

Kata jamu tolak miskin agaknya merupakan parodi dari nama/judul sebuah jamu yang lumayan terkenal, jamu tolak angin. Kalau seseorang terkena masuk angin, maka yang bersangkutan dapat berusaha untuk mengobati dan menyembuhkannya salah satunya melalui usaha dan upaya dengan meminum jamu tolak angin tersebut. Sebagaimana mestinya dan biasanya setelah beberapa saat dikonsumsi, khasiat jamu pun mulai merasuk dan akhirnya si pesakitan sembuh dari derita masuk anginnya.

Nah, bagaimanakah dengan penyakit miskin? Miskin, ya kalau boleh dikategorikan sebagai penyakit, bukan sebagai sesuatu yang “taken for granted” (baca: takdir). Apakah ada jamu untuk mengobatinya? Jamu tolak miskin begitu? Saya yakin ada usaha dan upaya yang memungkinkan ke arah sana, yakni sebuah formula yang dapat mengatasinya. Formula yang dapat dikategorikan sebagai sebuah minuman atau ramuan tradisional berjudul jamu. Karena bagaimana pun miskin dan kemiskinan merupakan salah satu dari produk atau konstruksi pikiran. So pasti ada sebuah tips (baca: jamu) yang dapat dikonsumsi oleh orang yang menderita penyakit miskin (baca: orang miskin, baik dalam arti denotatif maupun konotatif).

Dalam kehidupan ini sebagaimana Allah, Tuhan Maha Penyayang, telah menciptakan semua hal atau aspek di dunia ini berpasang-pasangan. Pria-wanita, siang-malam, terang-gelap, hitam-putih, panjang-pendek, termasuk kaya-miskin, dan masih banyak lainnya. Untuk itu sepertinya kemiskinan tidak dapat dihapus dari perbendaharaan kata dalam ranah budaya manusia.

Ketika menyebut kata miskin maka akan dihadapkan pada kata-kata pembentuk istilah lainnya. Seperti miskin harta, miskin ilmu, miskin ide, miskin ornamen, miskin referensi, dan sebagainya. Terlepas dari itu semua, sebenarnya bila mau jujur, seseorang pasti akan melarikan kata miskin pada pengertian sempit yakni kekurangan harta benda/kekayaan. Ada beberapa tips agar kita bisa menolak kemiskinan atau paling tidak meminimalisasikan keberadaannya.

Pertama, ubah mind-set tentang miskin. Seseorang cenderung memandang orang lain yang lebih di atasnya dalam soal nasib, pekerjaan, harta, dan pernak-pernik duniawi lainnya sebagai simbol kekayaan. Ia tidak pernah melihat bahwa masih banyak orang yang lebih terpuruk dari pada dirinya. So, miskin itu soal paradigma, soal bagaimana kita mensyukuri nikmat yang telah dianugerahkan Tuhan kepada para manusia.

Akan tetapi bukan berarti bahwa seseorang harus pasrah terhadap keadaan yang menimpa/ atau membelenggunya. Kita harus tetap bekerja keras, cerdas, dan ikhlas guna mencapai taraf kehidupan yang lebih baik. Ikhtiar gitu lho!

Kedua, tidak mengandalkan orang lain dalam segala hal terutama nafkah lahir untuk bekal survival. Ya, seseorang harus menjadi orang yang merdeka, yang tidak mengandalkan kekayaan orang tuanya, atau keluarga besarnya. Ada cerita dari teman bahwa ada seorang pemuda yang sombong dan belagu. Ke mana-mana ia selalu membicarakan dan membanggakan nenek moyangnya yang mempunyai harta yang cukup untuk dikonsumsi oleh 7 turunan. Lalu teman saya menimpalinya “mengapa loe miskin, katanya nenek moyangnya kaya raya? Si pemuda sontak menjawab: ”Ya iyalah… Bagaimana gue kagak miskin, gue kan keturunan yang ke-8”. Hahaha. Duitnya habis pada keturunan ke-7.

Untuk hal ini seseorang harus mempunyai aktivitas ekonomis, sebuah kegiatan yang dapat mendatangkan rejeki sebagai bekal untuk membiayai hidupnya. Banyak kegiatan yang dapat disebut sebagai pekerjaan baik yang bergerak dalam bidang barang maupun jasa, baik produksi, maupun distribusi. Menjadi guru, dosen, tentara, polisi, pedagang, karyawan, juga politisi dapat dilakukan seseorang dalam kehidupannya. Termasuk menjadi penulis, pelatih, atau pembicara publik. Yang jelas lapangan kehidupan dan pekerjaan di era sekarang sangat terbuka lebar.

Ketiga, menabung. Berapapun penghasilan Anda, sisihkanlah untuk menabung baik untuk proteksi maupun investasi. Bila seseorang tangannya “gatal” maka ketika produk tabungannya berbentuk simpanan di bank hendaknya tidak menggunakan ATM ––pasti pembaca tidak tahu kepanjangannya kan? Authomatic Teller Machine, itu seh kepanjangan resmi dari sono-nya, Anjungan Tunai Mandiri, itu seh ilmu gothak-gathuk orang Indonesia biar pas hehehe… Tapi ada kepanjangan yang lebih seru lho! Yakni ATM = Ambil Tendiri Money-nya hehehe. Maksa.com––.

Ambilah produk tabungan plus asuransi tanpa kartu ATM, kalau bisa bank yang cabangnya berjauh-jauhan sehingga malas atau tidak tergoda untuk mengambil uang setiap saat. Dalam buku Siapa Bilang Menjadi Karyawan Tidak Bisa Kaya, Safir Senduk ––sang penulis, yang juga pakar perencanaan keuangan–– menyatakan bahwa menabung dengan celengan pun tidak ada masalah. Budaya celengan tidak hanya untuk anak kecil yang baru belajar menabung, tetapi orang dewasa pun tidak menjadi masalah apabila mengikuti jejaknya. Menabung dengan instrumen lain juga memungkinkan seperti dalam bentuk logam mulia: emas, perak, dan perunggu.

Keempat, bersedekah, atau dalam bahasa yang “keren” adalah memupuk jiwa filantropi. Bersedekah ini bukan hanya urusan ritual-spritual belaka lho. Banyak perusahaan yang menyisihkan sebagian keuntungannya untuk kegiatan amal/sosial. Apalagi bila kita mau berguru dengan ustad Yusuf Mansur dengan teori sedekahnya yang dapat menambah pundi-pundi rejeki kita.

Kelima, berdoa. Ya sepertinya tidak ada hubungan antara kemiskinan, kekayaan, dengan berdoa. Kata siapa? Pasti ada-lah. Iya enggak kawan? Masa seh Tuhan akan membiarkan hamba-Nya yang sudah re-mind set, bekerja keras-cerdas-ikhlas, mandiri, menabung, masih terpuruk juga? Minimal doa adalah bentuk curhat seorang hamba kepada Tuhan-Nya atas seluruh problematika hidup dan kehidupannya yang dijalaninya sehingga semacam ada perasaan plong atau kepuasan lahir-batin pasca kegiatan berdoa. Dengan sendirinya mental seseorang menjadi lebih sehat, dan lebih baik. Sehingga seluruh usaha dan upayanya juga membuahkan hasil yang memadai. Penuls yakin para pembaca ingin keceriaan, kebahagiaan, kesuksesan, dan rida Allah selalu menyertai dan menyelimuti kehidupannya. Siapa mau? Wallahu a’lam.

*) Tanenji, Dosen dan Sekretaris Laboratorium Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini dapat dihubungi langsung di tanenji@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 1995
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *