Rab A. Broto

JANGAN-JANGAN POSITIVE THINKING-LAH SUMBER MASALAHNYA

18 Juli 2008 – 10:56   (Diposting oleh: Editor)

Anda mungkin tak asing dengan Pygmalion. Dia adalah nama tokoh legenda Yunani yang katanya dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak ampuh pola berpikir positif. Dalam kisahnya Pygmalion–yang selalu berpikir positif itu–konon diberkahi para dewa yang salut: patung perempuan rupawan karyanya diberi nyawa dan lalu jadi istrinya.

Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga, dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Warna hidup tergantung dari warna kacamata yang kita pakai. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif. Pokoknya berpikirlah positif agar segala keinginan bisa sering terwujud.

Namun sebagian orang mengatakan: ”Hare gene terus berpikir positif. Gimana bisa?! Nggak ngeliat berita di koran dan TV apa? Gimana para anggota DPR satu per satu masuk bui. Bagaimana satu pengusaha diciduk aparat untuk mengimbangi penangkapan jaksa yang sebelumnya tertangkap tangan menerima duit suap. Juga bagaimana seorang pemeriksa pajak punya rekening berisi duit lima miliar rupiah.”

Sebagai penyemangat, secara individual bersikap positif sah-sah saja. Terserah masing-masing karena itu pilihan pribadi. Tapi secara pribadi pikiran sering terusik: sudah benarkah kita berpikir polisi yang minta disuap karena anaknya lagi sakit dan bukan menjebak dengan sengaja? Benarkah kita menganggap anggota DPR yang mengendap-endap mengambil koper uang fee di pintu Plaza Senayan itu perlu duit agar bisa lebih banyak beramal.

Benarkah ini… Benarkah itu… meskipun jelas yang dilakukan sudah melanggar pagar kepatutan. Bahkan, pelanggaran pidana yang telah menyeabkan jutaan anak terpaksa sekolah dengan fasilitas seadanya. Mungkin lebih dari itu tindak korupnya sudah menyebabkan banyak orang tewas karena dampak ikutannya. Entah karena gedung yang dibangun runtuh atau jembatan yang dibangun ambrol.

Tak tertarikah kita untuk menengok bahwa semua bencana sebenarnya disebabkan ulah manusia sendiri. Tepatnya ulah segelintir manusia yang mengutamakan keserakahannya untuk memenuhi keinginan kemaruknya akan uang dan kekuasaan. Ulah yang bukan didorong kebutuhan wajar manusiawi untuk hidup layak dan beradab. Hidup yang semestinya juga memberikan berkah bagi sesama dan bukan mengundang malapetaka.

Tegasnya sikap positif itulah yang mungkin justru menunjang berbagai tindak korupsi dan kolusi yang hanya menguntungkan segelintir orang. Semuanya atas biaya yang dikeluarkan orang lain, sejak yang hanya dilanggar haknya saat mengantri, hingga mereka yang benar-benar diputus hak hidup bahkan berakibat kematian, yang konyolnya tak jarang terjadi secara tanpa disengaja.

Tampaknya perlulah kita semua merenungkan berkali-kali sudah tepatkah sikap egoistis yang seakan tak hirau dengan kesejahteraan bagi individu yang mestinya bisa dilahirkan dari hidup bersama ini? Tepatkah sikap positif kita sepenuhnya menjadi dalih untuk tak hirau dengan berbagai centang perenang situasi dan kondisi hidup bersama?

Benarkah bahwa asal kita sudah kecipratan tak ada yang perlu dirisaukan. Bahkan bila ada suara sumbang yang mengusik tentang itu bersikap elegan sajalah seperti kata pepatah anjing menggonggong, kafilah berlalu. Bahkan kalau perlu si pengusik itu dibungkam total dan perlakukan seakan dia orang gila yang tak punya hak bersuara bahkan hak hidup.

Sudah tepatkah ”sikap cuek” asal perut–sendiri, keluarga, kelompok–tetap kenyang itu dipertahankan di tengah suasana tak tahu malu para koruptor yang tak jera-jeranya berlaku serong meski terancam disadap dan ditangkap basah. Cukup beradabkah kita bila malah menyalahkan para korban yang kita anggap terlalu lugu dan berseberangan dengan aspirasi pribadi kita yang mengagungkan sikap positif.

Memang bisa jadi itu hanya masalah mind game untuk menjalankan pilihan yang satu dan meninggalkan yang lain. Tapi jelas selalu berperilaku positif sebagaimana tuntutan untuk memenuhi kredo selalu bersikap positif dan berprasangka baik, dari sisi yang lain terlihat semakin tidak realistis. Bahkan menjurus pada penyangkalan tentang kebenaran dan bisa jadi malah dianggap sebagai realitas yang bisa memberi kebaikan.

Jadi betapa sudah terbalik-baliknya dunia. Yang benar disalahkan, dan yang salah dibenarkan. Semua dengan dalih yang sering dikemukakan betapa orang sebaiknya bisa terus bersikap positif dalam kondisi apa pun. Padahal dalih itu rawan dipelesetkan untuk sekalian memaksakan realitas internal tentang kondisi yang dihadapi sebagai hal yang benar secara absolut tanpa peduli kondisi objektifnya.

Simak dari sangkalan atas pembicaraan antar tersangka yang jaksa dan pengusaha dalam kasus penyuapan terkait penyidikan BLBI, bahwa apa pun yang dikatakan maknanya bisa dipersepsikan positif atau negatif. Para tersangka berkeras uang ratusan ribu dolar itu tak terkait dengan jabatan, tugas, dan kasus yang tengah ditangani. Serta sama sekali tak merugikan karena itu duit pribadi, meskipun jelas bahwa transaksi itu merugikan negara dan masyarakat.

Satu hal lagi betapa seakan kita, warga masyarakat yang lain, sudah dianggap buta-tuli-bisu yang sama sekali tak berhak menentukan bahwa tindak kianat yang terbongkar itu benar atau salah. Seolah hanya pendapat mereka yang sahih bahwa itu semata tindak pinjam meminjam terkait bisnis permata yang tak perlu dibesar-besarkan. Dan, pendapat para tersangka inilah yang benar seratus persen.

Mungkin benar kata seorang pakar bahwa mereka yang sukses sebenarnya tak ada bedanya dengan orang gila. Khususnya dalam hal anggapan bahwa realitas internal dalam dirinya adalah yang paling nyata dan dianggap sebagai kebenaran yang pantas melandasi segala tingkah lakunya. Pilihan sikap yang menjadi berlebihan saat bukti dan kondisi objektif dan norma bicara sebaliknya: yang benar adalah realitas eksternal.

Kesadaran yang mengukuhi realitas internal dan sangat subjektif ini berakibat kepekaan akan kebenaran—setidaknya secara normatif–kian tumpul. Pilihan yang makin menjerumuskan kewarasan seseorang ke dalam pusaran kebingungan yang makin menyeretnya meninggalkan realitas objektif. Pusaran yang membuat orang kebablasan untuk tak bisa lagi menyadari bahwa dirinya bisa salah dan terancam jadi gila beneran.[rab]

Telah di baca sebanyak: 1114
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *