Agoeng Widyatmoko

Jangan Percayai Informasi!


Alkisah, ada sebuah perlombaan di sebuah desa. Lomba khas 17 Agustusan itu salah satunya adalah panjat pinang. Tapi, ada yang istimewa sore itu. Pinangnya kali ini diolesi cairan yang sangat sangat licin, yang katanya, tak mungkin dipanjat. Karena itu, hadiah yang diberikan terhitung besar. Uang jutaan! Sang panitia berani memberikan hadiah sebesar itu karena merasa yakin tak ada yang bisa memanjat pinang tersebut.

Sampai sore, memang tak ada satu pun peserta yang berhasil. Berbagai cara ditempuh, seperti mengoleskan pasir ke tubuh, hingga mengoleskan lem superkuat untuk merekatkan diri pada pinang. Setelah hampir tak ada yang berhasil, serombongan orang datang untuk mencoba. Karena sejak pagi tak ada yang berhasil, maka orang-orang pun menyoraki rombongan tadi. “Hoiii… percuma kalian mencoba. Pasti gagal, pinangnya licin sekali…!”

Tapi, rombongan tersebut tetap bergeming. Mereka pun mulai mencoba dan mencoba lagi, pantang menyerah. Semakin dicoba, semakin lama mereka disoraki. “Sudaah…menyerah saja… percumaaa….” Tapi, mereka terus mencoba. Satu sama lain saling bahu membahu mengangkat rekannya. Begitu jatuh, mereka coba lagi. Dan… akhirnya, menjelang Magrib, yakni batas waktu panjat pinang yang diberikan panitia, salah satu dari mereka berhasil! Uang jutaan pun berhasil mereka dapatkan.

Maka, beramai-ramai mereka dielukan warga. Hingga, kemudian ada yang menanyakan resepnya, bagaimana mereka berhasil. “Hai, apa rahasia kalian sehingga bisa berhasil mencapai puncak?”

Saat ditanya mereka diam saja. Sampai beberapa kali, sehingga ada yang jengkel. “Kalian sombong sekali, dengar tidak sih! Kok ditanya diam saja?”

“Oh, sebentar. Maaf. Anda tanya apa? Sebentar, kami copot dulu kapas di telinga ini. Maaf, tadi tidak dengar karena telinga kami ganjal dengan kapas ini. Sebab, kalau kami tadi tidak pasang kapas ini, kami yakin pastilah banyak orang yang akan membuat kami ciut dan patah semangat. Sebab, kami tahu, makin banyak yang mengatakan informasi negatif pada kami, maka semangat kami untuk bisa sampai puncak bisa luntur. Nah, tadi apa pertanyaan Anda?” jawab ketua rombongan tersebut.

***

Kisah di atas memang hanyalah sebuah cerita fiksi. Tapi, memang senyatanya, kadang kala ketika kita menerima informasi, terutama yang bersifat negatif, hati ini bisa ciut tiba-tiba. Keberanian bisa hilang dan semangat pun kadang langsung luntur. Nah, jika sudah begini, haruskah kita memercayai informasi?

Saya pernah punya pengalaman ketika masuk ke sebuah tender proyek pemerintahan. Isunya, hmm…sangat menakutkan. Potong sana potong sini. Belum untuk ini dan itu. Intinya, kalau masuk ke proyek itu—dan menang—untung yang bisa didapat pun akan habis terkena potongan sana sini. Kalau Anda jadi saya, apa yang akan Anda lakukan?

Tapi, entah kenapa, saat itu saya memilih maju terus. Bayangan soal “ganasnya” potongan yang akan saya dapat dari proyek itu saya hilangkan. Toh, kalaupun memang begitu kenyataannya, setidaknya, saya sudah punya pengalaman nyata yang pasti akan bisa saya manfaatkan untuk langkah usaha saya selanjutnya. Intinya, saya tutup kuping. Semua informasi yang saya dapatkan tentang pekerjaan itu—yang negatif—saya “sulap” (baca: hilangkan) dari benak saya. Bagaimana selanjutnya yang terjadi? Biarlah saya biarkan Anda cari pengalaman sendiri. Karena bisa jadi informasi berdasar pengalaman yang saya dapatkan, akan berdampak negatif maupun positif.

Apa yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini sebenarnya adalah bagaimana kita menyikapi informasi yang diterima. Baik buruk, positif negatif, sebenarnya kita sendirilah yang memilihnya. Coba bayangkan bagaimana jika seorang Tirto Utomo mundur langkah hanya karena cibiran orang-orang yang mencemoohnya saat akan menerjuni bisnis air dalam kemasan. Barangkali, hari ini kita semua tidak akan mengenal Aqua sebagai merek minuman dalam kemasan sebagai merek unggulan.

Bayangkan pula seorang Steve Jobs jika ia menerima mentah-mentah soal vonis kematian yang akan segera menghampirinya. Barangkali, ia akan benar-benar meninggal sehingga Apple Computer dengan berbagai produknya, iMac, iPod, dan lainnya, tak kan ada hingga kini.

Kedua tokoh tadi, Tirto Utomo dengan Aquanya dan Steve Jobs dengan Apple Computer-nya memang berbeda kasus dalam menerima informasi. Yang satu informasi berupa cibiran kalau usahanya akan sia-sia belaka. Satunya lagi informasi soal kehidupan yang tinggal sesaat. Tapi, keduanya adalah informasi bermuatan negatif, yang jika dituruti dan diamini, maka tak kan ada sejarah Aqua dan Apple seperti saat ini. Nah!

Jadi, apakah yang harus kita lakukan dengan informasi yang selalu terngiang di sekitar kita? Betapa ribuan bahkan jutaan informasi dengan mudah kita dapatkan. Dari media elektronik maupun non elektronik, termasuk yang Anda baca kali ini. Apakah lantas harus diacuhkan sama sekali?

Semua itu sebenarnya perlu dikembalikan kepada diri kita masing-masing. Bagi Anda yang menjadi pengusaha, barangkali informasi seperti keruntuhan ekonomi dan krisis global yang melanda Amerika belakangan tentu harus pula diwaspadai. Turunnya nilai rupiah terhadap mata uang asing pun tentunya juga harus diketahui, terutama bila kita menjalani bisnis ekspor impor.

Saya pribadi, hingga kini masih sering baca surat kabar dan menonton televisi. Internet juga selalu menjadi sumber informasi terkini yang terus saya pantau. Tapi, semua itu memang kemudian saya pilah dan pilih, mana yang akan saya pakai sebagai berita untuk menentukan apa yang akan saya lakukan selanjutnya demi kelangsungan bisnis saya. Intinya, gali informasi bukan untuk ditakuti, tapi untuk dipahami dan dimengerti guna mendasari tindakan positif atas apapun yang kita lakukan.

Tips sederhana yang saya lakukan untuk menyaring semua informasi yang saya terima berikut, barangkali bisa menjadi bahan renungan bersama.
1. Gali informasi dari sudut pandang yang berbeda.
Saat mendapat informasi yang kurang menyenangkan, biasanya yang pertama saya lakukan adalah mengonfirmasi, benarkah berita tersebut? Kalau benar dan memang kurang menyenangkan, saya akan mencoba mencari makna dan hikmah di baliknya. Misalnya informasi seputar tender proyek pemerintah seperti pengalaman di atas. Saya memilih menggali lagi informasi yang mendalam. Dan, ternyata saya menemukan bahwa uang administrasi memang diperlukan, tapi bukan untuk menghalangi dan mengurangi rezeki, melainkan untuk mempermudah dan memperlancar proyek-proyek selanjutnya.

2. Terima informasi sebagai sumber pengetahuan saja.
Kalau memang informasi dirasa sebagai sebuah kepahitan, misalnya dengan kondisi naiknya bunga bank, jadikan hal itu sebagai sumber informasi saja. Misalnya, untuk sebuah proyek saya harus meminjam uang di bank Rp200 juta. Saat pinjam, saya diberi bunga 10%, tapi ketika krisis menghantam, bunganya naik jadi 15% per tahun, alias saya harus membayar cicilan plus bunga setahun Rp30 juta. Jika biasanya saya akan terkejut dan marah, saya lebih memilih fokus pada bagaimana usaha itu bisa memberikan hasil yang lebih maksimal di atas nilai uang dan bunga yang harus saya kembalikan. Memang, untuk melakukan hal ini perlu proses dan waktu, tapi pilihan untuk mencari sudut pandang yang berbeda dengan tidak terlalu memikirkan informasi “menyakitkan” tersebut memang bisa lebih membuat saya rileks dan akhirnya mendapat jalan keluar yang—kadang—tak terduga-duga.

3. Perkuat mental, lapangkan hati, dan bukalah pikiran, saat menerima informasi.
Informasi apapun, sebenarnya pasti akan ada gunanya, bahkan sepahit apapun itu. Sebab, pastilah ada makna di balik berita yang barangkali memang perlu kita gali terlebih dahulu. Karena itu, dengan berusaha memperkuat mental, melapangkan hati, dan membuka pikiran, kita akan terbiasa dengan apapun informasi yang diterima. Kalau baik, kita akan maksimalkan informasi sebagai modal untuk melakukan tindakan. Sebaliknya, kalau pun kurang baik, maka dengan bekal mental, pikiran, dan hati tersebut, kita akan bisa lebih menerima dan mengubahnya menjadi sebuah pelajaran positif yang juga akan berguna. Bukankah kita tahu rasa manis kalau ada pembanding berupa rasa pahit?

Jadi, masihkah Anda harus memercayai informasi?

Agoeng Widyatmoko, adalah penulis dan pebisnis di bidang jasa penulisan, iklan, dan event. Ia dapat dihubungi melalui email: agoeng.w@gmail.com atau SMS ke 0812 895 0818

Telah di baca sebanyak: 897
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *