Artikel Writing Class for Teens

Janjimu Nyata


Kecepatan langkahku mungkin bisa dibilang pantas mendapatkan rekor langkah tercepat saat ini. Tidak ada yang bisa menghentikan langkahku sampai ketujuannya. Dukungan dari hatiku yang menggebu-gebu ingin cepat-cepat tiba di warnet dekat rumahku, tidak sampai satu detik, aku sudah sampai.

Dengan senyum lebarku, tangan kananku sudah memegang erat mouse dan jari-jariku dengan lincah menari di atas keyboard. Aku sudah tiba di jaringan sosial Facebook yang sejak tadi menungguku. Baru kali ini aku bersemangat sekali melalukan hal bodoh seperti ini, begitu antusiasnya aku, sehingga terlihat seperti orang bodoh. Tidak masalah terlihat seperti orang bodoh, karena situasinya pun sangat mendukungku.

Ada satu pesan disana, aku senang sekali. Tapi kenapa rasa takut ini sangat besar sekali, aku takut untuk membukanya. Aku yang bersemangat sebelumnya, tiba-tiba tidak ada tenaga untuk membuka pesan yang masuk di facebookku. Benar sekali, apa susahnya aku buka pesan itu. Apapun yang aku baca nantinya, aku harus tetap semangat.

Mouse yang aku pegang terus melaju kearah pesan tersebut, dan klik, pesan sudah terbuka.

Dearest: Honey

Apa kabar sayang? Semoga baik selalu yaa ..

Ada hal penting yang mau gw kasih tau sama loe ..

Minggu depan gw bakal balik dan loe harus siap nunggu gw di bandara yaa ..

Cerita yang bakal gw kasih tau pastinya buat loe bahagia juga..

Oke sayang .. sampai ketemu minggu depan yaa!!

Muachh .. ^_^

Love

Dian

Menyebalkan dan sangat mengecewakan sekali. Aku kira pesan itu dari Ryan, ternyata dari sepupuku Dian. Ini aneh sekali, apa yang sedang aku lakukan? Aku benar-benar gila. Sampai separah itukah aku berharap pesanku segera dibalasnya. Aku memang menyukai Ryan, teman sekelasku. Dia sangat perduli sekali denganku dan bahkan baik sekali. Aku merasa seperti seorang putri yang sedang dilayani dengan seorang pangeran tampan seperti Ryan.

Padahal sudah dua hari ini sejak aku mengirim pesan padanya tentang perasaanku, belum juga pesanku dibalas. Aku takut sekali kalau nanti masa libur kali ini selesai dan aku harus kembali lagi ke sekolah dan bertemu dengan Ryan, mau taruh dimana mukaku ini. Pasti dia marah sekali denganku. Bodoh sekali, sampai menembaknya lewat Facebook segala. Pasti tidak lama lagi dia akan remove aku dari pertemanannya. Sudahlah, apapun yang terjadi aku harus bisa hadapi.

***

Hari ini Dian akan pulang dari liburannya ke Bali. Sudah Tiga jam aku menunggunya di Bandara, tapi belum juga aku lihat batang hidungnya.

“Dian kemana sih? Lama bangat, pokoknya lewat dari 30 menit, gue tinggal.” Bosan sekali menunggu sepupuku yang super bawel itu. Dia memang masalah sekali dalam mengatur waktu, tidak heran kalau dia sering terlambat. Tapi keterlambatannya kali ini sangat mengesalkan. Tidak bisa mengerti perasaan orang yang sedang menunggunya.

“ Honey .. !” seseorang memanggil namaku dari kejauhan. Teriakan itu berasal dari Dian yang dengan gesit melewati desakan orang-orang disekelilingnya. Melihatnya menarik koper besar yang ada ditangan kirinya, rasa kasihan untuk segera menolongnya saat itu aku lakukan. Aku segera menghampirinya dan membantunya menarik kopernya yang berwarna kuning norak itu

“ Lama bangat sih, hampir aja gue pergi tadi ninggalin loe!” jelasku kesal padanya.

“ Yee.. bukan salah gue dong, tuh pesawatnya ada perbaikan. Jadi penerbangannya di tunda”

“ Kasih tau gue dong klo gitu, biar gue ngga mati kehausan nunggu loe disini tau!”

“ Salah sendiri, kalau haus beli minuman dong. Jadi orang irit bangat sih..”

“ Yaelah, tau gini ngga gue jemput loe!” Tidak heran lagi dengan sikapnya yang tidak ingin disalahkan. Pokoknya dia selalu yang paling benar. Dian, anak tunggal yang manja dan egois. Sampai tiga tahun kedepan, dia akan tinggal serumah denganku dan sekolah di kelas yang sama dengaku.

Aku dan Dian banyak sekali perbedaannya. Tetapi sampai sekarang pun aku dan dian masih bisa bersahabat dengan baik. Padahal tiap harinya kami selalu bertengkar. Dian yang super bawel itu akan tidur sekamar denganku. Tidak masalah, asalkan dia tidak menggangguku saat nonton film kesukaanku saja.

Tidak terasa, libur kali ini akan segera berakhir besok. Semalaman aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan apa yang akan terjadi besok di sekolah. Aku akan bertemu Ryan disana dan menatap muka kesalnya padaku.

“ Kenapa dari tadi ngga bisa diam sih? Ganggu gue tidur bangat tau ngga.” Bentak Dian padaku, karena aku memang mengganggunya. Aku tidak bisa tenang di atas tempat tidur, selalu bergerak kekiri dan kekanan dan itu mengganggu Dian yang sedang tidur disampingku.

“ Maaf, gw ngga bisa tidur nih. Temenin gue melek dong.”

“ Enak aja, ya udah klo belom bisa tidur mending nonton aja gih, suaranya jangan keras-keras ya..” Dian memberi solusi yang masuk akal sekali. Aku segera turun dari tempat tidur dan menyalakan TV dengan remote di tanganku.

Untung saja ada film bagus yang di tayangankan, jadi pikiranku pun terpaku pada film yang aku tonton. Tidak terasa jam sudah pukul lima pagi, pantes saja Dian sudah bawel nyari kebutuhan yang akan dia bawa di hari pertamanya belajar disekolah barunya. Lelah sekali semalaman tidak bisa tidur, paginya harus kembali melakukan kegiatan seperti biasanya.

“ Dian, kalau nanti kamu kesulitan di sekolah barumu, minta tolong Honey aja yaa!” Ibuku membuka pembicaraan pagi ini saat kami sedang sarapan. Tentu saja aku akan membantunya di hari pertamanya, jahat sekali kalau aku biarkan Dian berkeliaran sendirian di sekolah, padahal tidak ada satupun yang dia kenal disana.

“ Tentu tante, aku akan baik-baik saja kok nanti di sekolah baruku, karena ada Honey yang selalu siap kapan pun aku butuhkan, iya kan honey” Dengan senyum liciknya dia semudah itu bicara.

“ Enak aja loe, emangnya gue bodyguard loe!” bentaku kesal padanya.

“ Bercanda kali .. Serius amat!” dengan tawa kecilnya, Dian pergi begitu saja. Tidak tahu sopan santun, biasanya Mamaku mengajarkan aku untuk merapikan kembali bekas makanku sendiri tiap kali aku makan, tapi melihat Dian yang pergi begitu saja meninggalkan piring kotor yang baru saja dia pakai untuk makan, buat aku merasa kesal sekali pagi ini dengannya. Kebiasaan yang buruk sekali, orangtua macam apa yang punya anak seperti itu.

***

Ini sulit dipercaya, baru saja dia melangkah masuk kesekolahku, dengan mudahnya dia mendapat teman baru. Dian memang hebat sekali dalam bergaul dan bertemu dengan orang-orang baru. Jujur, aku lemah sekali dalam hal itu. Kalau aku tunggu orang itu dulu yang ngajak aku bicara, baru aku bisa bicara dengan mereka.

“ Selamat pagi anak-anak!” seru Ibu Irna membuka kelas kami dengan suaranya yang lantang itu. Ibu Irna guru yang baik dan sangat mengerti sekali dengan perasaan murid-muridnya. Bisa dibilang dia itu guru gaul. Penampilannya pun tidak jauh seperti anak-anak muda jaman sekarang. Tidak terlihat tua sekali. Kalau Guru-guru yang lain, pakaian mereka terlihat mereka masih di jaman Presiden Soekarno.

“ Pagi Buuu ..!” Balas murid-murid dengan suara mereka yang tidak jauh dari suara Ibu Irna yang lantang itu.

“ Pagi ini kelas kita akan kedatangan murid pindahan. Silahkan perkenalkan nama dan Usia kamu.” Ibu Irna menyuruh Dian memperkenalkan dirinya di depan murid-muridnya yang lain. Tanpa sekali pun rasa malu atau gugup terpancar dari raut wajah Dian kali itu. Dia terlihat sudah bersahabat sekali dengan teman-teman barunya di kelasku.

“ Aku Dian. Umurku tidak jauh beda dari kalian walaupun ada yang beda setahun lebih tua dariku itu tidak masalah, aku akan bersahabat dengan kalian. Boleh kalian tebak umurku berapa?”

“ Aku tahu, pasti kamu 16 tahun kan!” Teriak Edi dari arah belakang, karena memang bangkunya terletak dipaling belakang sebelah kanan.

“ Kamu benar sekali. Aku memang baru 16 tahun dan aku suka sekali dengan olahraga renang. Aku beruntung sekali bisa sekolah yang memiliki kolam renang sebagus itu. Disekolahku dulu tidak ada kolam renangnya..

“ Oke Dian, sudah cukup perkenalannya. Silahkan duduk dibangkumu disebelah Ryan.” potong Ibu Irna. Untung saja Ibu Irna segera memotong perkenalannya, aku muak sekali lihat Dian didepan sana, dia berpura-pura seperti perempuan lembut yang masih polos. Memperkenalkan dirinya dengan suara yang dibuatnya lebih lembuh dan kalau tidak segera dipotong, jam kelasku akan diisi oleh ceritanya yang tidak penting itu.

***

Untung saja tadi Ryan tidak masuk sekolah karena kabarnya dia masih berada di tempat neneknya. Tapi tentu saja akan segera bertemu dengannya nanti. Apa yang sudah aku lakukan sih? Kenapa bisa bodoh bangat seperti ini. Menyatakan perasaan suka pada laki-laki lewat pesan di Facebook. Sama sekali tidak mencerminkan sesosok perempuan yang punya sopan santu dan punya keberanian.

“ Honey, kenapa tidak bisa fokus sama sekali sih? Apa yang sedang kamu pikirkan? Dari tadi kamu selalu salah ambil nada.” Bentak Pak Enda, guru Biolaku.

“ Maaf Pak, saja akan coba lagi.” Jelasku dengan wajah bersalah karena tidak fokus di kelas biolanya.

“ Mari kita mulai dari awal lagi, tolong fokus Honey,” Pinta Pak Enda padaku.

“ Baik pak.” Sulit dipercaya, aku yang suka sekali dengan Biola, tiba-tiba tidak fokus karena terus memikirkan Ryan. Sampai kapan ini semua berakhir, aku tidak ingin seperti ini terus. Aku ingin seperti dulu lagi, tidak harus sulit seperti ini. Tidak harus seperti orang bodoh, karena berharap banyak dengan sesuatu yang tidak semestinya aku harapkan.

“ Terima kasih Pak Martin untuk hari ini. Maaf kalau saya tidak fokus.” Aku pamitan setelah selesai latihan dan langsung pulang kerumah. Biasanya setelah latihan Biola, aku pergi ketempat sarah untuk memandikan kucingku yang aku titipkan disana. Dirumahku tidak diijikan untuk memelihara binatang. Mama dan Papaku sangat menentangnya, jadi aku titipkan saja dirumah sarah, adik kelasku itu.

***

Kepalaku tiba-tiba sakit sekali, aku jadi tidak bisa pergi ke sekolah. Ini bukan alasanku untuk tidak sekolah karena takut bertemu Ryan. Seharian di kamar membosankan sekali, ingin rasanya keluar tapi Mama melarangku. Seandainya aku pergi sekolah hari ini, apa yang terjadi ya? Rasa takut ini sungguh menyesakkan nafasku. Aku tidak bisa konsentrasi lagi karena memikirkannya terus.

Aku harus sekolah dan menemuinya. Aku akan minta maaf padanya dan menghentikan semuanya. Berhenti mencintainya dan tidak akan pernah mencoba hal bodoh seperti menyatakan cinta lewat pesan di Facebook. Aku harus bisa mengontrol hidupku ke yang lebih baik dan positif. Cinta bukan permainan, walaupun aku benar-benar menyukainya. Tetap semangat untuk mengakhirinya.

“ Honey, coba telpon Dian. Dia dimana sih, sudah malam belum juga pulang.” Suruh mama padaku agar aku cepat meneleponnya.

“ Baik Ma. Tuh anak emang bisanya nyusahin orang aja.” secepatnya aku mencari no Dian di ponselku dan menghubunginya.

“ Dimana? Mama nyariin loe tuh, cepet pulang. Ngga pake lama, bentar lagi makan malam..” Tegasku dan segerah mematikan ponselku.

Makan malam tanpa Dian memang sedikit berbeda. Dia belum juga datang, padahal aku sudah menyuruhnya untuk segera pulang.

“ Kamu sudah hubungi Dian?” tanya Mama saat makan malam.

“ Udah kok, aku menyuruhnya agar cepat pulang.” Jelasku pada Mama.

“ Kenapa belum pulang juga ya? Kemana dia?” Mama sangat khawatir sekali.

“ Tenang aja Ma, Dian pasti pulang kok. Dia juga kan bukan anak kecil lagi.”

“ Iya Mama tahu, tapikan orangtuanya sudah titipkan dia pada Mama. Kalau terjadi sesuatu pada Dian, bisa-bisa Mama di cap tidak bertanggungjawab lagi sama orangtua Dian. Mamakan tidak mau ..”

“ Ya udah sih, aku hubungi lagi dah. Awas ya nih anak kalau pulang, gw suruh tidur diluar. Lihat ajaa ..” kali ini kemarahanku pada Dian sudah meningkat. Tidak ada alasan lagi untuk memaafkannya. Mencoba menghubunginya beberapa kali, tetapi ponselnya tidak bisa dihubungi.

“ Aku pulang ..!” teriak Dian tanpa ada rasa bersalah.

“ Dian .. dari mana saja kamu. Lain kali kalau pulang malam kasih tahu tante dong .. biar tante ngga cemas kaya gini,” Tegas Mama memberi tahu Dian untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi yang sudah membuat Mama sangat khawatir sekali.

“ Tau loe.. buat orang khawatir aja. Cepet makan ..” kataku kesal.

“ Yee .. iyaa maaf! Maaf ya Tante, lain kali Dian ngga kaya gini.” dengan rasa bersalah, Dian langsung memeluk Mama dan pergi ke kamar tanpa makan malam dulu.

“ Ma, makanannya enak bangat. Makasih ya Ma, aku masuk kamar duluan.” dengan senyumku yang khas, menyipitkan kedua mataku dan melebarkan bibirku selebar mungkin, aku segera pergi ke kamar untuk beristirahat memulihkan staminaku kembali.

Mencuci muka dan menggosok gigiku sebelum tidur sudah menjadi kebiasaanku sejak kecil. Aku berbaring diatas tempat tidur dan perlahan menutup mataku menikmati malam yang menegangkan. Sebuah goncangan dan teriakan seseorang mengagetkanku.

“ Yeee … senangnyaa!!” Teriak Dian dengan suara nyaringnya yang tidak enak didengar itu.

“ Sialaannn .. kagetin gue aja loe! Pergi ngga dari tempat tidur gue ..” Usirku dengan marah sekali.

“ Iiihh, kenapa sih loe. Dari tadi sewot bangat sama gue. Namanya juga orang lagi seneng. Ganggu aja dehh ..” tungkas Dian sambil menjulurkan lidahnya meledekku.

“ Ganggu, loe yang ganggu gue!!” Marahku sekali lagi dan melempar guling kearah Dian disampingku.

“ Kasar bangat sih loe, sakit tau ..”

“ Biarin, supaya loe sadar kalau gue bener-bener marah kali ini.”

“ Tapi kan ngga harus kasar gitu”

“ Bodo amat.. lagian loe udah kelewatan.”

“ Ya udah sihh, maaf..”

“ Ngga gue maafin.” Segeraku baringkan tubuhku dan membelakanginya. Mencoba tidak memperdulikannya dan segera tidur.

“ Terserah mau seberapa marah loe sama gue, tapi kali ini gue ngga ada maksud untuk buat loe marah. Gue cuma lagi seneng bangat hari ini, karena ternyata gue satu sekolah dengan orang yang gue suka sewaktu gue di Bali. Dia cinta pertama gue, dan beruntung bangat bisa satu sekolah dan sekelas. Tuhan memang baik bangat sama gue .. Waktu itu gw pernah mau ceritain ini sama loe. Tapi loe udah tidur lelap di mobil. Sekali lagi gue Minta maaf yaa .. Beneran kok ngga ada maksud buat loe marah. Maaf ya Honey .. Good nite and have a nice dream.” Dian mengakhiri ceritanya dan segera tidur disampingku.

Dian baru saja kasih tahu kalau dia menemukan cinta pertamanya di Bali yang ternyata satu sekolah dan bahkan sekelas dengannya. Memang beruntung sekali dia, semoga saja pria itu bisa menerima cintanya.

Pagi ini Dian semangat sekali ingin cepat-cepat tiba di sekolah. Setiap harilah seperti itu, karena aku jadi tidak kesal selalu menunggunya. Di sepanjang perjalanan ke sekolah, yang aku pikirkan adalah bagaimana caranya aku meminta maaf pada Ryan. Nafasku kembali sesak dan kecepatan detak jantungku lebih dari biasanya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku dan aku benar-benar takut sekali. Tuhan tolong aku ..!

Langkahku sudah memasuki pintu gerbang sekolah dan sebuah kibasan angin yang aku rasakan dari kencangnya Dian berlari melewatiku, membuatku ingin berbuat sama sepertinya berlari sekencang mungkin namun berbeda tujuan. Tujuanku adalah berlari untuk bersembunyi dari Ryan.

Duduk diam di bangkuku sambil memandangi lampangan basket yang sudah dipenuhi dengan anak-anak tim basket membuatku merasa sedikit nyaman. Rasa takutku sedikit terurai karena permainan mereka dan semangat mereka. Bola basket yang masuk ke dalam ring memperkerjakan otaku untuk menghitung sudah berapa kali bola itu masuk kedalam ring.

“ Pagi Honey..!” Suara berat itu mengagetkanku. Saatku menoleh kearah suara itu berasal, aku semakin terkejut dan tubuhku tidak mampuku kendalikan lagi. Suaraku hilang begitu saja. Ryan berdiri didepanku dan tersenyum menyapaku. Tuhan.. tolong aku! Jangan biarkan orang didepanku menarikku dan memukuliku sampai berdarah. Buang jauh-jauh orang di depanku Tuhan.. aku mohon!

“ Kok terkejut gitu sih .. biasa aja kali!” Senyum Ryan membuatku merasa nyaman sekali berada di dekatnya. Aneh sekali, kenapa dia tidak marah sedikit pun denganku. Jangan-jangan dia belum baca pesanku. Semoga saja pesanku tidak terkirim karena kebetulan internetnya sedang error.

“ Oh iya, pagi juga Ryan! Apa kabar?”

“ Baik, mengenai itu, apakah kamu serius?” Wajah Ryan berubah menjadi lebih tegang dari sebelumnya. Tunggu? Mengenai apa? Apakah tentang pesan yang aku kirim? Tidakkk .. semoga saja mengenai hal lain .. Tapi apa ya?

“ Mengenai apa ya Ryan?” Tanyaku meminta penjelasan dari pertanyaannya barusan.

“ Oh, lupakan! Pertanyaanku mungkin salah ..” segera dia meninggalkanku dan duduk di bangkunya. Mataku mengarah padanya penuh rasa kecewa, aku sudah membuatnya seperti orang bodoh saja. Pandanganku beralih pada Dian yang datang ke dalam kelas dengan sedikit berlari pelan kearah Ryan dan jari telunjuknya menunjuk-nunjuk kearah Ryan dengan wajahnya yang terlihat lucu sekali memberi tahuku kalau cinta pertamanya adalah Ryan.

Dian langsung duduk disamping Ryan dan mengajaknya mengobrol. Mereka terlihat serasi sekali dan sudah saling mengenal satu sama lainnya. Melihat mereka begitu akrab, aku tidak berani menatap kearah mereka. Namun suara canda mereka membuatku sedih sekali.

Di tengah pelajaran, kepalaku terasa pusing sekali. Aku meminta ijin untuk pergi keruang kesehatan dan beristirahat disana. Tidak aku sangka, seseorang menawarkan dirinya untuk mengantarku keruang kesehatan. Yupz, benar sekali dia adalah Ryan!

“ Kamu tidak penasaran dengan pertanyaanku tadi pagi?” Akhirnya Ryan membuka pembicaraan kami dan membuat ruangan ini terasa tidak sesepi sebelumnya.

“ Tentu saja penasaran.. emang maksud dari pertanyaan kamu apa?”

“ Langsung saja yaa.. pesan yang kamu kirim lewat facebook, apa kamu serius?” ternyata harapanku tidak didengar Tuhan. Pesanku ternyata sudah di bacanya. Aku malu sekali, pasti wajahku sudah seperti kepiting rebus.

“ Benar, aku memang mengirimnya untuk kamu. Maafkan, karena sudah sangat lancang mengirim pesan bodoh seperti itu.” kata maafku padanya.

“ Tidak masalah, sebenarnya aku sudah membalas pesanmu dua hari yang lalu. Tetapi kamu belum juga membalasnya. Aku kira kamu hanya main-main saja!”

“ Benarkah? Aku memang belum buka facebook. Baiklah, aku akan segera membaca balasanmu. Maaf ya ..”

“ Tidak masalah .. oh ya, apapun yang kamu baca nanti!! Aku juga serius menulisnya..” wajah yang sedikit malu-malu itu diperlihatkannya padaku. Dia terlihat lucu sekali.

“ Memang apa yang kamu tulis?”

“ Aku tidak bisa memberi tahu kamu, nanti saja kamu baca sendiri!”

“ Baiklah .. sepulang dari sekolah aku akan segera membacanya.”

“ Aku harus kembali ke kelas..” Kata Ryan meminta ijin padaku.

“ Terima kasih karena sudah mengantarku..”

“ Tidak masalah, cepat sembuh yaa!” Senyum Ryan kali ini seperti sebuah magic cinta yang baru saja dia berikan padaku, belum lagi ciuman hangatnya yang mendarat di keningku. Dia terlihat tampan sekali dan benar-benar sesosok pria yang sempurna. Aku jadi suka sekali dengannya. Balasannya seperti apa ya? Apa yang dia tulis? Semoga saja tidak membuatku sedih seperti tadi pagi, melihatnya dekat sekali dengan Dian.

Sepulang dari sekolah aku berlari kencang ke warnet yang berada dekat sekolahku. Segera aku buka Facebook dan membuka pesan dari Ryan. Pesan yang aku baca tertulis seperti ini ..

Hi Honey.. maaf aku lama membalas pesanmu.

Aku terkejut sekali saat membaca pesan darimu.

Rasa senang campur aduk dengan pikiran-pikiran

yang membuatku tidak yakin dengan pesan

yang kamu kirim untuku membuatku ragu

untuk membalas suratmu

Aku juga ingin jujur sama kamu kalau

aku juga menyukaimu. Tapi aku takut menyatakan

cintaku karena aku pikir tidak mungkin kamu juga suka

samaku.

Karena kamu juga suka dengaku, setelah selesai

membaca pesanku ini berarti kita sudah jadian.

Kamu sudah menjadi pacarku dan aku janji

tidak membuatmu kecewa memiliki pria seperti aku dan selalu

ada didekatmu saat kamu membutuhkanku.

Maaf ya, seharunya aku yang terlebih dulu

menyatakan rasa sukaku padamu. Karena begitu

pengecutnya aku, jadi kamu yang duluan menyatakan perasaanmu.

Thanks karena sudah menyukaiku ..

Thanks karena sudah membuka hatimu untukku ..

Thanks karena sudah mau masuk kedalam kehidupanku..

Thanks untuk semuanya ..

Love you ..

Ryan

Pesan dari Ryan tidak akan aku buang begitu saja. Ini akan menjadi kenangan yang terindah. Sebuah surat indah yang aku dapat dari pacarku. Pacarku yang sangat aku cintai dan aku sayangi. Selamanya tidak akan ada yang bisa menggantikan sosok Ryan dimataku. Aku sadar bahwa sekarang ini dia hanya sesosok Ryan yang masih melekat di hatiku.

Walau pun kepergiannya waktu itu sangat menusuk hidupku. Tetapi dia sangat berharga di mataku. Aku sangat mencintainya, selamanya hanya dia yang aku cintai. Terakhir bersamanya saat di ruang kesehatan dan mendapatkan hadiah terindah darinya yaitu sebuah ciuman hangat di keningku, sungguh aku beruntung bisa mengenal dirinya dan mempunyai pacar seperti dia.

Ryan memang sudah bohong padaku, dia sudah mengingkari janjinya kalau dia akan selalu ada didekatku saat aku membutuhkannya. Namun kecelakaan waktu itu, sebuah bus metro mini yang menabrak mobilnya, membuatnya tidak lagi bisa berada didekatku dan aku mampu memaafkannya dan tetap mencintainya. Kepergiaan pun tidak disengaja, dan dia juga tidak menginginkannya.

“ Honey .. waktunya makan malam. Cepat, nanti keburu dingin.” panggil Mama menyuruhku segera Makan malam bersama.

“ Baik Ma .. “ Secepatnya aku pergi menghampiri Mama, Dian dan Papa yang sudah menungguku di meja makan. Sekarang giliranku berdoa untuk mengucap syukur karena diberikan Tuhan kesempatan sehingga kami masih bisa makan.

Untuk menjalani hidup ini dibutuhkan mental baja dan hati yang mau terus berjuang. Jangan cepat menyerah walaupun begitu banyak kejadihan atau hal-hal yang tidak bisa diduga datang dalam hidup kita. Kejadian yang begitu menyakitkan pun harus kita hadapai walaupun berat rasanya.

Tetap semangat jalani hidupmu. Semua yang kamu raih adalah untukmu dan untuk orang-orang yang kamu sayangi. Jangan mengecewakan mereka hanya karena kamu merasa Tuhan tidak adil dengan hidupmu karena begitu sering kamu bersedih.

Aku yakin bahwa Ryan pasti bangga mempunyai pacar sepertiku yang tidak terlalu lama terhanyut dalam kepergiannya. Yakin dan percaya dia sudah menepati janjinya untuk selalu berada didekatku. Sekarang pun aku yakin dia ada dekatku dan menjagaku. Ryan, kamu adalah pangeranku yang sempurna! Aku mencintaimu ..

* Jenny Lumalessil, Alumni Proaktif Zuper Camp batch I


Telah di baca sebanyak: 1136
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *