Artikel Writing Class for Teens

JUJUR ITU BAIK ;)


oleh Michelle Kezia, Alumni batch I

“Pagi di awal bulan itu gue terpaksa harus bangun dari tidur nyenyak gue karena ada mimpi aneh hinggap di kepala gue. Ya, hari itu adalah hari dimana gue harus pergi buat belajar menulis agar bisa jadi penulis yang hebat dan sukses. Yah, terpaksa deh biar ga telat, gue harus berusaha bangun pagi hari itu juga besoknya, soalnya tempat trainingnya jauh sih, dari ujung ke ujung.” Cerita Vivy panjang lebar kepada teman se-gengnya saat hari pertama memasuki kelas 9.
Ya, Vivy memang anak paling popular se-angkatannya. Anaknya cantik, manis, ramah, dan jago nge-dance. Kalau ditanya ke siswa siswi dan guru guru lainnya, pasti semuanya mengenali anak pintar itu. Vivy juga dikenal mempunyai geng bernama “Misterious Girl”. Geng itu terdiri dari 5 anak perempuan yang sama cantiknya dengan Vivy, mereka adalah Wenda, Meli, Anita, Brenda, dan pastinya ada Vivy juga di dalam geng itu. Setelah mendengarkan Vivy yang berceramah tentang pengalamannya saat liburan, teman-teman Vivy mulai penasaran, apa yang dilakukan dalam 2 hari itu.
“Belajar menulis ?? Nulis apa ??” Tanya Anita penuh penasaran.
“Yah, nulis cerpen, novel gitu dehh.”
“Oohh, gitu.. Enak ga belajarnya ?”
“Enak dongg, lagian gurunya baik-baik sihh, temen-temen barunya juga lucu-lucu.”
“Eeh, udah mau bell nih, masuk kelas yukk..” Ajak Wenda yang emang takut banget dihukum kalo telat
“Ayukk..”

***

“Anak-anak, gimana liburan kalian ?? Pastinya seru dong ??” Tanya Bu Susi, guru bahasa Indonesia.
“Seru bu..” Jawab 1 kelas serempak
“Nah, seperti tahun tahun lalu, ibu mau kalian tuliskan pengalaman liburan kalian tahun ini.”
Sekelas menjadi terasa sunyi, tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun, semuanya tampak sibuk menuliskan pengalaman mereka masing masing dalam sebuah buku ps.
“Waktunya selesai, sekarang ibu mau kalian bacakan pengalaman kalian masing-masing.”

Satu persatu anak-anak 9A pun maju bercerita tentang pegalaman selama liburan mereka. Rio, sang ketua tim basket bercerita tentang pengalamannya ke negeri singa, Mendi, ketua kelas 9A bercerita tentang saudaranya yang datang ke sini, masing-masing anak mempunyai cerita mereka masing-masing. Termasuk Vivy yang menceritakan tentang liburan kali ininya yang ia isi dengan pergi belajar menulis. Satu kelas tampak diam dan memerhatikan cerita Vivy. Vivy yang awalnya tidak bisa menulis dengan baik menjadi tulisan terbaik dalam kelasnya.
“Wah, kamu hebat Vivy, ibu akan buat tulisanmu dipajang di mading sekolah bulan depan” Bu Susi berbicara dengan senyum manisnya karena merasa bangga atas perubahan dalam Vivy.

Vivy yang mendengarkan perkataan Bu Susi hanya diam tercengang tidak menyangka bahwa tulisannya akan dipajang di mading sekolah bulan depan. Saking kagetnya, saat ia disuruh Bu Susi untuk kembali ke tempat duduknya, ia tidak menyadari hal itu.
“Wah Vy, lu hebat, cerita lu bagus.” Bisik Jesslyn teman sebangku Vivy setelah gadis cantik itu kembali
“Makasih.” Jawab wanita cantik itu dengan tersenyum puas.
Setelah mendengarkan cerita cerita lain dari teman temannya, waktu pelajaran bahasa Indonesia pun habis. Mendi segera menyiapkan kelas untuk memberi salam kepada Bu Susi dengan suara lantangnya.

***

“Gue ga nyangka, ternyata sekarang gue bisa nulis juga” Curhat Vivy kepada teman 1 gengnya yang kebetulan tahun ini pisah kelas dengannya.
“Iya, tadi Bu Susi muji muji lu loh di 9D.” Kata Wenda membanggakan Vivy
“Iya, di 9F juga Bu Susi ngomong gitu.” Brenda ikut-ikutan membanggakan Vivy
“Hah, iya !?” Tanya Vivy kaget dan panik tapi senang.
“Yoii..” Jawab teman-teman Vivy serentak.
“Tapi lu ceritaiin apa aja sih ? Gw jadi penasaran” Tanya Meli penuh penasaran
“Yah, gue cuman ceritaiin aja betapa senengnya gue ikut kelas menulis itu. Disana, gue jadi ketemu sama temen baru dan guru baru, mereka tuh ternyata punya kelebihan masing-masing dan mereka tuh istimewa.” Jawab Vivy singkat tapi padat berisi
“Tapi, gw akuin cerita lu bagus banget sih, gw bilang sih lu bakal kepilih jadi wakil sekolah kita buat lomba pidato tahun ini.” Wenda menjawab dengan penuh semangat
“Aah, lu bisa aja.” Jawab Vivy malu-malu.
“Tapi serius, gw yakin kok.”
“Yaudah dehh, apa kata lu.”
“Masuk kelas yok, udah mau bel nih.”
“Yokk.”

***

Beberapa bulan sesudah mereka memasuki kelas 9, sekarang waktunya pemilihan siswa-siswi yang akan mewakili sekolah dalam lomba pidato tahun ini.
“Siapa yang kira-kira akan terpilih tahun ini untuk mengikuti lomba pidato ?” Tanya ibu kepala sekolah membuat para siswa-siswi penasaran.

Semua anak-anak berharap dengan sama, mereka berharap bahwa merekalah yang akan dipilih dalam lomba pidato karena mereka berpikir bahwa mereka sudah memberikan yang terbaik selama 3 tahun. Bu Susi pun segera naik ke atas podium untuk mengumumkan siapa yang akan terpilih nanti untuk mewakili sekolah dalam lomba pidato. Semua siswa-siswi pun semakin deg-degan.

“Dan, yang akan terpilih mewakili sekolah tahun ini adalah……….” Terang Bu Susi sambil memotong bagian belakangnya supaya suasana menjadi semakin teggang.
“Vivy dari kelas 9A, selamat Vivy, ceritamu tentang pengalaman bagaimana kamu pergi belajar menulis berhasil menarik perhatian saya dan guru guru lainnya.” Lanjut Bu Susi dengan penuh semangat.
Sekarang, semua mata menuju kea rah Vivy, anak cantik itu hanya duduk manis tidak menyangka bahwa dirinya lah yang dipilih untuk mewakilkan sekolah dalam lomba pidato.
“Tuh kan Vy, apa gw bilang.” Bisik Wenda membubarkan lamunan Vivy.
“Hahh, barusan nama gue kan yang di sebut.” Tanya Vivy ragu.
“Iya, itu nama lu, hehe.” Wenda meyakinkan Vivy sambil tertawa.

***

Sesampainya di rumah, ia langsung memberi tahukan Kak Lala, yang sewaktu training menulis menjadi trainer Vivy dan teman teman lainnya.
“Kak Lala !!!!!!!! Aku dipilih jadi wakil sekolah buat pidato kali ini !!!” Vivy mengirimkan bbmnya kepada Kak Lala dengan perasaan bangga, kaget, senang bercampur jadi satu.
“Wah, selamat yah  kamu berhasil !” Jawab Kak Lala dengan bangga.
“Kak Lala mau dateng ke acara itu ??” Vivy bertanya penuh harap mengharapkan kakaknya itu datang ke acara pidatonya itu.
“Wah, kalau kakak bisa pasti kakak dateng.. kapan ??”
“Masih lama kok kak, ini kan baru bulan Januari, acaranya masih bulan July.”
“Tanggal ?? Soalnya bulan July kakak juga ada jadwal training.”
“Tanggal 12 kak.”
“Kayaknya kakak ga ada acara deh, kakak usahaiin dateng yah..”
“Iya kak, makasih kak.”
Selanjutnya Vivy loncat loncat di ranjang kamarnya sambil menjerit senang. Bibi dan mamanya pun bingung dan datang ke dalam kamarnya untuk memastikan bahwa Vivy baik baik saja.
“Vivy, kamu kenapa ?” Tanya mamanya penuh kebingungan.
“Vivy kepilih lomba pidato maa !!!”
“Wah, selamat yah non.” Kata bibi.
“Makasih bi..”
“Anak mama hebat yah, baru aja belajar menulis kemaren, udah bisa jadi wakil sekolah.”
“Hehe, iya dongg, Vivy gituu.”

***

“Vivy, tadi lu dipanggil sama Bu Susi tuh di ruang guru.” Sahut Anita kepada Vivy saat bertemu di lorong sekolah yang mulai terang disinari oleh bapak matahari di angkasa.
“Hah, ngapain ??” Tanya Vivy bingung.
“Mana gw tau, makanya sana, ditunggu loh.”
“Oke deh, thanks.”
Setelah Vivy meletakkan tasnya di kelas, ia segera menuju ke ruang guru untuk memenuhi panggilan Bu Susi.
“Misi bu, tadi ibu memanggil saya ?” Tanya Vivy sopan
“Iya.” Bu Susi menjawab dengan singkat
“Kalau boleh saya tau, kenapa yah bu ?”
“Saya cuma mau bilang, tulisan pidato kamu maksimal saya terima tanggal 12 Maret 2012 yah”
“Baik bu”

Vivy kembali ke dalam kelas menyusuri perpustakaan dan lab komputer. Saat tiba di kelas, dilihatnya kelas masih kosong. Hanya ada beberapa tas yang ditinggalkan siswa siswi 9A lainnya, sisanya belum datang. Karena ruang kelas yang sepi, Vivy menulis naskah pidatonya yang harus sesegera mungkin diberikan kepada Bu Susi. Kebetulan, Feliscia lewat di depan kelas 9A dan melihat Vivy sendirian. Feliscia juga melihat diatas meja terdapat kertas yang sedang Vivy gunakan untuk menampung naskah pidatonya. Feliscia yang sirik dengan Vivy pun berencana untuk mengambil naskah tersebut dan menggantinya dengan kata kata yang tidak seharusnya.

“Akhirnya, selesai juga, keluar aah.” Bicara anak pintar itu setelah menyelesaikan naskahnya.
Setelah Vivy keluar, Feliscia dengan wajah licknya segera masuk ke dalam kelas untuk mengambil naskah pidato Vivy. Ia segera menggantinya secepat mungkin, tetapi ketika Feliscia sedang melakukannya, Felix cowo paling culun dan jujur di sekolah melihat hal itu. Tetapi, Felix tidak tahu bahwa Feliscia sedang menjahili Vivy dan ia pun lewat begitu saja. Tidak ada saksi hidup di dalam kelas yang melihat Felicia melakukan hal itu, hanyalah tembok berwarna krem, papan absen para siswa, suhu ac 20 derajat, dan pintu besi yang menutup rapat. Tetapi Tuhan pasti tau apa yang Feliscia lakukan.
“Selesai juga, rasaiin lu Vy, pasti bakal dimarahin besar besaran sama Bu Susi.” Kata Feliscia pelan pelan sambil keluar dari 9A dengan muka tanpa dosa.
Vivy pun kembali ke dalam kelas dan mengambil naskah itu tanpa memeriksanya lagi. Dengan langkah kakinya, akhirnya kertas itu sampai di tangan Bu Susi juga. Setelah Bu Susi membacanya, Bu Susi marah besar karena dalam naskah itu Vivy menjelek-jelekkan nama sekolah.

***

“Apa-apaan ini Vy ? Kenapa kamu menjelek-jelekkan nama sekolah ?” Tanya Bu Susi marah
“Kenapa yah Bu ? Ada yang salah ?” Tanya Vivy dengan tenang karena ia merasa semuanya sudah benar.
“Ini, kamu baca saja !”
“Hah, kok bisa jadi begini !?”
“Ya mana saya tau, kamu yang kasih ke saya kok.”
Sekarang semua mata guru memperhatikan Vivy. Vivy yang melihat mata mata singa itu pun takut dan pelan-pelan mengeluarkan air mata.
“Ngapain nangis ? Kamu saya skors pokoknya dan kamu ga jadi ikut lomba pidato !”
Vivy yang mendengarkan kalimat maut itu pun hanya bisa menangis dan keluar dari ruang guru. Gadis malang itu tau bahwa melanjutkan debatnya dengan guru bahasa indonesianya itu tidak ada gunanya, malahan tambah menguras energinya, tetapi dalam hati kecil Vivy, ia merasa sangat sedih dan tertekan dan bertekat untuk menyelidiki siapa dalang dalam kejadian tersebut. Feliscia yang melihat hal itu pun merasa senang dan menunjukkan senyum liciknya. Felix yang tanpa sengaja mendengar percakapan tersebut pun kasihan dengan Vivy. Karena ia tau ini bukan salah Vivy, tetapi salah Feliscia, gadis licik yang telah mengganti kata kata dalam pidato itu.

Di rumah, Vivy terus terbayang dengan kalimat yang tadi keluar dari mulut Bu Susi, ia juga terbayangkan wajah-wajah guru yang mirip singa dan melihat Vivy bagaikan daging di tengah-tengah hutan. Ia juga sudah tidak keluar dari kamar selama 3 hari, mama dan papanya yang sedang sibuk bekerja di luar kota tidak mengetahui hal itu.
“Non, temen non dateng tuh !” Teriak bibi membuyarkan lamunan Vivy.
Vivy melihat dari jendela dan disana ada Wenda, Anita, Brenda, dan Meli sedang berdiri di tengah jalan penuh daun.
“Bukaiin aja bi, suruh naik ke kamar.” Jawab Vivy.
Wenda, Anita, Brenda, dan Meli pun kini bersama Vivy di dalam kamarnya. Terlihat kertas yang di remuk remuk bekas penampungan rasa kekesalan gadis manis itu berserakkan di lantai.
“Vy, gw tau kok bukan lu yang lakuin ini.” Brenda membuka percakapan.
“Iya, kita semua tetep support lu kok.” Lanjut Meli.
“Yah, tapi mau di apaiin lagi, Bu Susi ga percaya sama gue.” Jawab Vivy sedih.
“Pokoknya kita janji kita bakal nemuin siapa yang buat ginian.” Anita menjawab dengan yakin.
“Lu orang mau bantuin gue kan ?”
“Pastinya !” Jawab mereka serentak
Sekarang ke 5 sahabat karib itu pun saling berpelukkan. Kini, Vivy sudah bisa tertawa, walaupun tak selepas dulu. Waktu terasa begitu cepat, teman teman Vivy harus segera pulang ke rumah.
“Kita pulang dulu yah Vy, papayy !” Wenda berbicara tiba tiba.
“Iya, udah malem nih.” Brenda melanjutkan.
“Yaudah, bye.” Jawab Vivy singkat.

***

Di sekolah, ke 4 sahabat itu terus mencari informasi tentang naskah Vivy. Semua orang yang ditanya mereka mengatakan mereka tidak tahu. Ke 4 sahabat itu hampir putus asa.
“Eeh, kita kan belom nanya Felix.” Ujar Meli tiba tiba.
“Oh iya yah, dia kan paling jujur di sekolah.” Brenda menyahut.
Ke 4 sahabat itu pun pergi mencari Felix bersama-sama.
“Felix, lu tau naskah Vivy siapa yang ganti ?” Tanya Anita.
“Hmm, kemaren sih aku liat Feliscia di 9A, di mejanya Vivy, tapi aku gatau dia ngapaiin.”
“Terus apa lagi yang lu liat ?”
“Em, dia keluar dari kelas dengan muka puas dan kayaknya seneng gitu”
“Oke deh, makasih yahh.”
“Ya sama-sama.”
“Sekarang mendingan kita ke ruang guru deh, kita liat kertas yang waktu itu ada di Bu Susi.” Wenda mengeluarkan ide cemerlangnya itu.
“Yaudah, yokk.” Sahut Anita

***

“Misi bu, saya mau lihat tulisan Vivy kemarin boleh ? Soalnya saya ga yakin Vivy menuliskan begitu.” Meli memecah keheningan antara mereka.
“Iya, sebenernya saya juga ga yakin sih, nih.” Bu Susi membalas percakapan mereka.
“Loh, ini kan emang tulisannya Feliscia !!” Kata Brenda heboh.
“Kamu tau dari mana ?” Tanya Bu Susi heran
“Saya sering minjem catetan dia, dan tulisannya sama persis seperti ini.”
“Yaudah, saya percaya sama kamu, tapi tetep aja kita harus liat rekaman CCTV hari itu, kita gaboleh nuduh orang tanpa bukti.”

Mereka ber4 pun berjalan bersama dengan Bu Susi ke ruang CCTV. Terlihat di sana banyak sekali layar yang menyoroti kelas. Mereka membuka CCTV hari itu dan menemukan ada Feliscia disana dengan sibuk menyalin ulang hasil pidato Vivy.
“Oke, tolong kamu panggil Feliscia menghadap ibu sekarang.” Suruh Bu Susi dengan sedikit kesal.
“Baik bu.”
Mereka pun pergi ke kantin dan menemui Feliscia sedang makan disana.
“Feliscia, lu dipanggil sama Bu Susi tuh.” Kata Meli.
“Hah ?? Iya ??” Jawab Feliscia tidak percaya.
Dalam hati, ia berpikir bahwa ia akan dipilih menjadi pengganti Vivy dalam lomba pidato itu. Tetapi hal itu berbeda 180 derajat dengan apa yang dia bayangkan.
“Kamu kenapa ganti naskahnya Vivy ?” Tanya Bu Susi berusaha menahan marah.
“Hah, ga kok, ga kok bu, sa.. saya ga ganti.” Jawab Feliscia gugup.
“Terus ini apa ?” Bu Susi menunjukkan rekaman ulang CCTV.
“Iya bu, kemarin saya juga lihat Feliscia keluar dari kelas 9A, padahal dia kan gada urusan apa-apa.” Felix ikut menyerocos dalam percakapan ke 2 perempuan itu.
“Nah, tuh, temen kamu aja tau, sekarang mendingan kamu ngaku aja deh.”
“Maaf bu, memang saya yang menggantinya.”
“Sekarang, saya ga mau tau. Kamu harus minta maaf ke Vivy.”
Sepulang sekolah, Feliscia langsung menelpon Vivy untuk minta maaf dan mengatakan besok kehadiran Vivy ditunggu oleh Bu Susi di ruang guru. Vivy yang mendengar kata maaf pun iba dan memaafkan Feliscia.

***

“Maafkan saya bu.” Kata Vivy tiba tiba.
“Eeh kamu, gausah minta maaf, yang harusnya minta maaf tuh saya.” Balas Bu Susi
“Seharusnya saya tau, kamu gamungkin melakukan hal ini.” sambungnya
“Jadi, saya tunggu naskah kamu yah ! Inget, bentar lagi tanggal 12 Maret loh.”
Vivy pun segera kembali ke dalam kelas dan mengerjakan naskahnya lalu segera memberikannya ke Bu Susi. Dalam perjalanannya ke ruang guru, ia bertemu dengan Feliscia. Feliscia segera memeluk Vivy dan meminta maaf sebanyak-banyaknya.
“Maafin gue yah Vy..”
“Iya, gapapa kok.”
Beberapa bulan pun terlewati. Sekarang tanggal 5 July sudah di depan mata. Ya, 5 July adalah tepat satu tahunnya Vivy belajar tentang bagaimana cara menulis yang baik. Ia jadi teringat Kak Lala, sepulang sekolah ia langsung menanyakan kabar Kak Lala.
“Kak Lala, kakak bisa dateng kan tanggal 12 nanti ?” Tanya Vivy penuh harap.
“Bisa kokk..” Balas Kak Lala dengan cepat.
Vivy pun terus berlatih bersama Bu Susi dan guru-guru lainnya. Setelah mendapat undangan lomba, Vivy memberi tahu dimana tempat akan diselenggarakannya lomba pidato itu.

Beberapa hari sebelum lomba, Vivy mengecek akun facebooknya. Di temukan, dalam bulan itu tanggal 12, Kak Lala akan berulang tahun.
“Wah, tepat banget sama acara aku, aku harus memberikan yang terbaik.” Gumam Vivy dalam hati.
Tanggal 12 July pun tiba, Vivy dan Kak Lala pun bertemu di tempat lomba. Ternyata, Vivy sudah menyiapkan hadiah untuk Kak Lala.
“Ga kerasa yah, 1 tahun terlewati dan kamu udah jadi penulis hebat !” Puji Kak Lala.
“Makasih kakk, happy birthday anyway.”
“Thankyou.”

Lomba pun segera dimulai. Vivy mewakili sekolah dengan sangat baik. Juri pun tertarik dengan cara pidatonya yang khas. Pengumuman pun mulai dibacakan, hmm, Vivy semakin deg-degan dengan hasilnya.
“Juara 3 diraih oleh Mosses dari SMP Cinta Kasih, dimohon segera naik ke atas panggung” Kata MC yang membawakan acara tersebut.
“Dan, juara 2 diraih oleh Vinka dari SMPN 7 Bogor”
Inilah saat yang paling mendebarkan bagi Vivy, apakah dia akan meraih juara 1 atau malahan dia tidak akan meraih juara sama sekali.
“Marilah kita sambut, juara kita dari SMPK Boarding Schoolen, Vivy”
Saking kagetnya Vivy tidak menyangka ia akan meraih juara pertama, ia sampai sampai lupa untuk maju ke atas panggung.
“Vy, nama kamu disebut tuh, maju sana” Bisik Kak Lala
“Itu namaku yah barusan ?” Tanya Vivy tidak percaya
“Iyalahh”
Sekarang, Vivy mulai menuliskan cerpen dan dikirimkan ke media cetak. Hampir semua cerpen yang dikirimkannya dimuat dalam media cetak. Ia pun mulai mencoba menulis buku untuk di terbitkan. Setelah diberikan kepada media, media tersebut tertarik dengan cerita Vivy yang kaya akan pengetahuan dan moral. Vivy sangat bersyukur pernah mengikuti kelas dan menemui Kak Lala. Buku gadis cantik berambut panjang yang mulai di terbitkan itu terlihat oleh Kak Lala ketika sedang melihat lihat buku. Kak Lala bangga bukan main dengan Vivy.
Dalam kehidupan ini, hanya ada 2 jalan. Kamu mau menyerah sampai sana aja atau kamu mau berusaha untuk keluar dari masalah. Sekarang tinggal kalian yang menentukan. Apakah benang itu mau di luruskan kembali atau dibiarkan tetap kusut dan semakin kusut. Have a nice day 

-@michellekeziaa-


Telah di baca sebanyak: 3707
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *