Kaver

Jangan menilai isi sebuah buku dari kavernya saja. Begitu nasihat orang-orang yang melek buku. Sebab kaver sebuah buku bisa menipu. Ini setara dengan pesan kaum bijak, jangan menilai orang dari penampilan fisiknya semata. Penampilan fisik sering digunakan untuk menipu.

Nasihat itu sendiri lahir dari kenyataan bahwa kaver sebuah buku sangat besar pengaruhnya bagi peminat. Sama besar pengaruhnya dengan penampilan seseorang. Entah kita cenderung suka atau tidak suka, perasaan awal bisa muncul seketika, saat melihat penampilan seseorang atau kala melihat kaver buku. Respons itu spontan dan terkait dengan program bawah sadar, yang memiliki semacam program dasar mengenai apa yang kita sukai atau tidak sukai berdasarkan arsip mental masa silam.

Menjadi jelas bahwa kaver buku merupakan sesuatu yang sangat penting. Kaver buku bisa mengundang atau “mengusir” seseorang yang melihatnya. Ia bisa membuat buku diambil dari rak toko buku, atau dicuekin begitu saja alias tak dianggap ada.

Jujur saja, pada masa-masa awal menulis buku, saya tidak cerewet dalam soal kaver. Apa yang ditawarkan penerbit, saya terima dengan senang hati. Namun, setelah belasan dan puluhan buku saya beredar di masyarakat, saya makin menghargai pentingnya nilai sebuah kaver.

Wandi S. Brata, Direktur Gramedia Pustaka Utama yang pintar itu, pernah mengaku bahwa ada sebuah buku yang mereka terbitkan beberapa tahun silam, yang melonjak penjualannya secara luar biasa hanya karena kavernya diganti. Isinya masih sama persis titik komanya.

Jadi, kalau gagasan yang Anda tawarkan dalam sebuah buku sangat bagus, jangan lupa memastikan bahwa kavernya juga mencerminkan hal itu. Sebab jika isi ibarat otak manusia, maka kaver ibarat wajahnya. Anda bisa mengira-ira, manakah yang akan dipilih calon pembaca: otak cerdas dengan rupa buruk; otak bodoh dengan rupa menawan; otak bodoh dengan rupa buruk; atau otak cerdas dan wajah menawan.

Ayo pilih yang mana?

*) Andrias Harefa; Mindset Therapist, Penulis Lebih dari 35 Buku Best-Seller; Trainer Coach Berpengalaman Lebih dari 20 Tahun

Telah di baca sebanyak: 497

Comments

4 Responses to “Kaver”
  1. ernard says:

    saya dari papua. saya senang baca buku bapak yang semuanya best seler. memberikan inspirasi menarik bagi pecinta buku. terutama mereka yang belajar tulis. buku bpk Andy memberikan inspirasi pada saya.

    saya juga biasa mau tulis buku seperti bapak tapi kendala saya. saya tidak biasa fokus. bagaimana yang terbaik bagi say supaya bisa menulis buku.

    permulaan menulis apa yang harus ysaya lakukan.????

  2. Emmy Liana Dewi says:

    Betul, Pak Andrias. Makin kavernya menarik (coba ada foto wanita sexy dan cantik…, misalnya) makin banyak mata melihatnya dan ingin membaca isinya…. Sama seperti perumpamaan wajah oleh Pak Andrias. Kalau idak, kan produk kecantikan dan kegantengan tidak laris manis, yaaa….Jadi kaver buku juga butuh gincu dan bedak…:). Salam hormat.

  3. Kaver dan isi mestinya diposisikan sebagai dua hal yang saling menyempurnakan. Dengan mengilustrasikan kaver seperti wajah atau penampilan seseorang dan isi buku seperti otak, jelas bahwa kaver dan isi tidaklah berdiri sendiri terlepas satu dengan yang lain. Buku yang isinya bagus tapi dengan kaver asal-asalan, apalagi bila tidak mencerminkan isi, cenderung gagal mencapai tujuannya, yaitu untuk dibeli dan atau dibaca oleh para pembutuh buku. Selanjutnya, kaver yang bagus, memiliki nilai seni atau memprovokasi calon pembaca dan pembeli, sementara isinya dangkal, juga gagal mencapai tujuannya untuk memberi pencerahan, pemintaran para pembaca..

    Maka kalau Andrias bertanya mau pilih mana, apakah otak cerdas dengan rupa buruk atau otak bodoh dengan rupa menawan atau otak bodoh dengan rupa buruk; atau otak cerdas dan wajah menawan, maka pilihan yang dianjurkan sebaiknya adalah yang terakhir. Kaver bagus, mencerminkan isi dan memiliki nilai seni, dan isinya juga bermutu!

  4. Hahahaha….

    Mas Harefa memang jagoan dalam merangkai kata… Dalam pemasaran, tentu saja cover yang paling menentukan. Banyak clienku punya produk-produk makanan luar biasa enaknya. Tetapi karena packagingnya biasa-biasa saja.. Bahkan cenderung tidak mengundang selera. Akhirnya membuat produk-produk tersebut di hakimi di awal oleh pasar bahwa produk tersebut pasti tidak enak..

    Begitu packagingnya diganti dengan alumunium foil model makanan ringan yang ada di supermarket-supermarket. Penjualannya melonjak tajam sampai 6.300% hanya dalam waktu kurang dari 3 bulan. Padahal isi dan resepnya sama. Tetapi harga jualnya naik Rp 2.000,- per bungkusnya. Sementara penjualannya naik 63 kali lipat dari sebelumnya..

    Cover 100% sangat menentukan apakah ide yang kita tawarkan kepada pasar akan diterima atau tidak.. Begitu juga dengan buku..

    Salam

    Laksita Utama Suhud
    The Author Of “Start-Up Business Wizards”

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

Top