Kolomnis

“Kaya Tanpa (baca: tidak harus dengan) Harta”


Saya yakin hampir semua orang bila ditanya arti kata kaya, maka mereka akan mengubungkannya dengan hal-hal yang terkait dengan materi. Kaya berarti memiliki materi berlimpah lebih dari kebutuhan, kaya diartikan dengan memiliki rumah mewah, mobil lebih dari satu, Kaya berarti bisa memenuhi secara melimpah kebutuhan tersier-nya. Tapi benarkah demikian?

Sebuah semangat kearifan budaya Jawa mengatakan: “Sugih Tanpa Banda” yang berarti Kaya Tanpa Harta. Tentunya ungkapan ini akan menjadi sebuah paradoks bila dikembalikan dengan sebuah persepsi akan kaya bagi kebanyakan orang. Karena jelas, bagi sebagian besar orang, yang disebut kaya adalah ketika memiliki harta, oleh karena itu seseorang tanpa harta, terminologinya bukanlah kaya. Tapi benarkah begitu? Karena pertanyaan selanjutnya tentunya akan menantang kita, jangan-jangan kearifan budaya Jawa tadi sudah tidak lagi pas bagi perikehidupan masa kini.

Tapi justru itulah menariknya! Ketika kita justru mencoba membalik paradigma kita, jangan-jangan persepsi kita akan sebuah kekayaan, pelan tapi pasti menuju kepada definisi yang akan menjebak kita untuk lama kelamaan semakin membuat kita melihat sesuatu secara keliru. Karena bagi paradigma sebagian besar kita tentunya, akan membuat definisi sederhana, bahwa hidup sebaiknya kaya, ketika kaya berarti memiliki harta lebih, maka kesimpulan sederhananya adalah hidup untuk menumpuk harta berlebih agar bisa baik adalah lebih baik. Hmm,.. mengkhawatirkan memang..

Sehingga ada baiknya kita tetap berupaya mempertanyakan paradigma mainstream itu, berangkat dari pemahaman bahwa apa yang sudah direnungkan para budayawan sesepuh Jawa waktu itu adalah sesuatu yang seharusnya. Bahwa betul memang, hidup sebaiknya kaya, tapi kaya tidak selalu berimplikasi pada memiliki harta, nah! Sehingga kalimat sederhananya adalah Kaya Tanpa Harta,.. Sugih Tanpa Banda…

Kalau sifat kaya tidak selalu berkonotasi kepada kepemilikan harta, lalu apakah definisi kaya secara umum? Ada sebuah pendapat yang selama ini menjadi pemahaman saya, dan juga terasa pas bagi logika di kepala saya, yaitu bahwa sifat kaya akan terjadi ketika kita bisa memenuhi setiap kebutuhan kita. Disinilah kuncinya! Ada kebutuhan di sana. Maslow boleh saja berpendapat tentang “Five Human Basic Needs”, dan hal itu menurut saya memang sesuatu yang penting untuk memahami orang lain, tapi ketika kita memahami diri kita, justru seharusnya kita mampu melihat bahwa kebutuhan bagi masing-masing diri kita adalah pilihan. Dan jangan lupa, kemampuan untuk memilih, menurut Covey, termasuk dalam anugrah manusiawi yang paling mendasar.

Karena saat ini, kebebasan manusia akan memilih sepertinya terdistorsi ketika definisi ‘kebutuhan’ bagi sebagian besar dari kita, terganggu oleh nafsu yang bernama ‘keinginan’. Sehingga bila definisi kaya adalah ‘bisa memenuhi semua kebutuhan’, kelompok ini akan mengaburkannya dengan definisi ‘bisa memenuhi semua keinginan’. Inilah yang kemudian membawa terminologi kaya pada hal-hal yang bersifat materi. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar kita melihat materi sebagai ‘keinginan’ yang utama.

Dan bila itu kita kembalikan pada kearifan “Sugih Tanpa Banda”, kembali saya harus takjub ketika menyadari bahwa bahwa kalimat ini, oleh penglihatan saya memberi sebuah pencerahan bukan pada bagaimana kita mencari-cari kalau kaya tanpa memiliki harta itu bagaimana, tapi justru kembali kepada masing-masing diri kita untuk dapat membuat garis tebal yang jelas antara apa sebenarnya kebutuhan kita dan apa sebenarnya keinginan kita. Dan untuk kaya, sebenarnya yang perlu kita lakukan adalah (sekedar) mampu memenuhi kebutuhan kita.

Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga


Telah di baca sebanyak: 1579
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *