Kolom Bersama

Kebaikan Seseorang Kadang Terlihat Setelah Ia Wafat

Oleh: Titi Setianingsih

Tadi pagi aku melayat teman kantorku, almarhum Mas Darmanto di daerah Kayu Manis. Setiap ada teman/kerabat yang meninggal yang terbayang mesti kebaikannya. Aku tidak terlalu dekat dengan almarhum, tapi sebagai teman satu kantor aku berusaha berbuat baik padanya, menghormati dia karena usianya lebih tua dariku. Tapi kadang akupun bercanda padanya. Karena almarhum namanya Sudarmanto, aku suka ngeledek. Awas … awas … minggir … ada Mas Manto. Entar dimakan lho…!! Ingat kan tokoh orang makan orang? Sumanto yang dari Purbalingga itu.

Maafkan ya Mas Manto. Semoga Mas Manto berpulang dengan tenang dan damai di sisiNYA. Amin.

Sepulang ngelayat, aku jadi ingat juga almarhum pak Mus, PUKET I di kampusku. Beliau orangnya baik, bijak, sabar, sangat menghargai orang lain, dan kebapakkan. Kayaknya semua ucapannya tidak pernah menyakitkan. Beliaupun meninggal beberapa bulan yang lalu. Bagi orang Yayasan tentu merupakan derita yang amat mendalam ditinggalkan orang yang membesarkan Yayasan, yang berjuang hingga di penghujung usianya.

Ketika itu aku lagi ambil S2 di kampus tempat aku mengajar sekarang. Memasuki semester ke 2 aku hamil anakku yang ke 2, Farah. Dari mulai hamil muda sampai hamil tua kuliahku lancar tak ada halangan apapun, sehat wal-afiat, hingga kuliahku tidak terganggu dan selesai tepat waktu.

Tanggal 21 November 2001, aku lagi ujian semester dan usia kandunganku memasuki bulan ke-9. Biasanya ujian dilakukan malam hari karena memang aku ikut yang kelas malam, aku lupa mata kuliah apa waktu itu, baru setengah soal aku kerjakan tiba-tiba aku pingin ke toilet. Aku minta ijin ke Pengawas Ujian waktu itu kebetulan Pak Mus (almarhum). Setengah berlari aku ke toilet. Ketika masuk ruangan Pak Mus tengah berdiri di depan pintu ruangan. Beliau bilang, “hati=hati Mbak. Gak usah berlari. Ingat yang di perut…!” Serasa air embun menetes di pagi hari ucapan Pak Mus itu. Maknyuss … baik sekali itu Bapak. Aku serasa sedang dinasehati oleh Bapakku sendiri, karena memang Pak Mus ini sudah sepuh, seorang purnawirawan dari POLRI.

Belum berapa lama aku melanjutkan mengerjakan soal-soal ulangan, akupun serasa pingin ke toilet lagi. Aku ijin lagi dan berlari-lari kecil. Eh, belum sampai ke toilet keinginan itupun terhenti. Aku bertanya-tanya ada apa gerangan di dalam perutku ini? Lalu akupun kembali bergegas ke ruangan, ragu-ragu mau masuk apa tidak. Ketika aku lagi bimbang, tiba-tiba Pak Mus keluar dan melihat aku yang tengah bersandar di tembok ruangan. Beliaupun bertanya.

Pak Mus: Kenapa Mbak, kok tidak masuk ruangan?
Aku: Nggak tahu ini Pak. Tadi rasanya pingin pipis, kok sekarang nggak. Lagi nunggu nih Pak, siapa tahu pingin pipis lagi, makanya nggak masuk ruangan dulu.

Pak Mus: Sekarang usia kandungan Mbak Titi berapa bulan?
Aku: Sembilan bulan Pak.

Pak Mus: Oh … sudah waktunya melahirkan itu Mbak. Sudah, mendingan Mbak Titi ke rumah sakit aja sekarang. Ada suaminya nggak di bawah? Kalau enggak ada biar diantar Mas Yudhi.
Aku: Ujiannya gimana Pak, belum selesai. Suami saya sih lagi ke klien

Pak Mus: Sudahlah, percaya sama saya. Isteri saya kan Bidan, jadi saya tahu persis tanda-tanda orang mau melahirkan. Iu bukan pipis, tapi air ketuban. Ujian gampang, nanti diurus belakangan, bisa ujian susulan. Kamu ke rumah sakitnya sama mas Yudhi saja.

Pak Mus-pun lalu berteriak panggil Mas Yudhi, salah satu staf Yayasan. Begitu Mas Yudhi mendekat, Pak Mus langsung kasih perintah.

“Mas Yudhi antar Mbak Titi ke Rumah Sakit sekarang, atau mau ke rumah dulu ambil peralatan persalinan? Kamu antar sampai ke dalam, kalau sudah dapat ruangan baru kamu tinggal!”

Akhirnya aku tinggalkan ruangan ujian itu setelah mengucapkan terima kasih ke Pak Mus. Teman-teman yang lain pada heran awalnya, dikiranya aku sudah selesai mengerjakan semua soal yang ada. Akhirnya aku jelaskan kalau aku harus ke RS, bersalin. Merekapun tertawa.

Di jalan aku lalu telpon ke rumah, minta tolong keponakanku untuk mengantar tas bersalinku yang sudah aku siapkan beberapa hari yang lalu diantar ke pinggir Jalan MT. Haryono, karena kalau aku ke rumah pasti anakku yang pertama, Tia, mau ikut.

Dan sepanjang perjalanan memang air ketuban itu keluar terus. “Aduh, gimana dong Mas Yudhi. Basah ini jok mobil Pak Mus.”

Tapi Mas Yudhi bercanda, “Gak apa-apa, asalkan jangan melahirkan di mobil aja.”

Akupun telpon suamiku yang lagi ketemu klien, minta agar segera pulang dan langsung menuju RS. Tapi suamiku masih tanggung katanya, karena klien yang ditemui kali ini sangat susah ketemunya. Dia pun memutuskan untuk menyelesaikan saja urusannya, dan aku disuruh sendiri saja ke Rumah Sakit.

Begitu sampai di RS, aku turun dari mobil sendiri. Mas Yudhi minta maaf tidak bisa ngantar ke dalam katanya takut lihat orang mau melahirkan, maklum dia masih bujangan. Dengan menenteng tas kuliah di pundak kiri dan tas bersalin di pundak kanan aku melangkah ke dalam dengan air ketuban yang sudah pecah … mengalir dan membasahi bajuku. Pelan tapi tenang, aku langsung lapor ke administrasi.

Malam itu bulan puasa. Aku terbaring sendiri di kamar bersalin, sementara suamiku masih sibuk dengan kerjaannya. Kalau bukan karena kebaikan Pak Mus mungkin tidak akan selancar ini. Terima kasih Pak Mus. (Mudah-mudahan saat ini Almarhum sedang tidur tenang di alam baka, ditemani amal-amal kebaikannya yang ia lakukan selama di dunia. Amin).

Akhirnya, kurang lebih jam 12 malam lewat barangkali, anakku lahir dengan selamat. Persalinannya normal. Ketika bapaknya dipanggil-panggil, dia sedang tertidur pulas di luar ruangan. Kasihan suamiku, mungkin kecapean. Diapun minta maaf tidak bisa ngantar ke Rumah Sakit. Akupun ceritakan semuanya, dia amat kagum dengan sosok Pak Mus yang begitu perhatian dengan mahasiswanya yang sedang kerepotan.

“Baik sekali orang itu ya,” hanya sepenggal kata itu yang keluar dari mulut suamiku. Tapi menurutku mempunyai makna yang mendalam sekali. Betapa tidak, kan sebenarnya itu adalah tugas suamiku, tapi telah tergantikan oleh Beliau. Tentu Suamiku amat berhutang budi padanya.

Dan setiap kali ketemu dengan Pak Mus di kampus, suamiku selalu bilang, “Bapak itu yang menolong Mama waktu melahirkan Farah kan?”

Yaaaah….hanya amal-amal kebaikan yang akan menemani kita dalam berpulang nanti.

Maka dari itu, ayo sama-sama kita berbuat baik kepada sesama. Kepada saudara-saudara kita, kerabat, teman, dan siapapun mereka yang butuh pertolongan! Sering-seringlah kita menengok orang sakit, melayat orang yang meninggal, mengantarnya ke pemakaman, karena dengan begitu kita akan selalu teringat akan KEMATIAN. Dan sahabat yang baik adalah yang dengan melihat dia kita diingatkan akan kematian.

Selamat jalan teman. Sambutlah kematian ini dengan senyuman, karena itu adalah saat yang terindah di mana kita akan bertemu dengan Allah SWT.

Sudah siapkah kita?

*) Titi Setianingsih. Penulis adalah karyawati di sebuah perusahaan asuransi swasta dan dosen tetap di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Pernah menulis buku “Bercocok Tanam Buncis” yang diterbitkan oleh PT. Penebar Swadaya.

Telah di baca sebanyak: 1708
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *