Kolom Bersama

Kebiasaan


Suatu hari ketika saya dalam bus hendak berangkat ke kantor, tanpa sengaja mendengar percakapan seorang yang duduk di samping saya melalui telepon selulernya (tentu ini bukan perbuatan sopan mendengar pembicaraan orang yang tidak ada hubungannya dengan saya) dengan nada sedikit tinggi dia berkata “Itu sudah kebiasaan, tidak bisa dirubah. Jadi terima saja apa adanya!” Saya sedikit kaget lalu melirik ke arah dia. Seorang gadis cantik, dari raut wajahnya jelas terlihat dia sedang marah dan menahan emosi. Wajahnya tegang dan bola matanya sedikit membesar, tangan kirinya menggenggam erat handphone yang menempel ditelinga.

Sebenarnya siapa yang peduli dengan ucapannya. Tidak ada yang istimewa, semua orang juga boleh berkata begitu. Tapi entah mengapa pikiran saya menangkap sesuatu yang tidak nyaman dan seperti ada sesuatu yang mengganjal dihati. Di sepanjang perjalanan pikiran saya terus terusik, digelitik oleh ucapannya itu, dan bertanya-tanya dalam hati “Apa iya, kebiasaan itu tidak bisa dirubah. Dan suka tidak suka orang lain harus menerimanya?” ehm… menarik juga untuk direnungkan.

Bagi saya pribadi arti kebiasaan adalah suatu tindakan atau perbuatan yang dilakukan berulang-ulang, terus menerus hingga masuk dalam pikiran bawah sadar lalu dapat bertindak secara spontan tidak perlu dipikirkan lagi.

Dari beberapa literatur yang saya baca, salah satunya adalah Hypnotherapy-the art of subconscious restructuring yang ditulis oleh Adi W. Gunawan, seorang pakar pikiran (the re-educator & mind navigator). Bahwa pikiran dibagi menjadi dua, yaitu: pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Peran dan pengaruh pikiran sadar terhadap diri kita adalah sebesar 12%, sedangkan pikiran bawah sadar mencapai 88%. Lalu kebiasaan ada pada kategori mana? Jelas ada di pikiran bawah sadar.

Meskipun kebiasaan ada dalam pikiran bawah sadar yang tidak gampang ditembus, tetapi bukan berarti tidak bisa untuk merubah kebiasaan. Ada banyak cara dan jalan menembus pikiran bawah sadar seperti banyak dibahas dalam buku hypnotherapy, tetapi saya punya cara sendiri untuk merubah kebiasaan. Khususnya kebiasaan buruk supaya saya bisa lebih baik lagi, karena yang buruk sudah pasti tidak baik, dan kita wajib senantiasa berusaha merubah atau membuang segala sesuatu yang buruk dan melakukan serta memelihara kebaikan.

Cara saya adalah dengan kesadaran. Artinya setiap kali kebiasaan buruk datang, saya sadari itu kebiasaan buruk. Hanya itu! Otak diprogram untuk selalu ingat “KESADARAN”, saat kebiasaan muncul pikiran otomatis berkata “sadar”. Dan ketika menyadarinya maka logika saya akan berkata “stop! Jangan teruskan” dan kalau saya serius ingin membuang kebiasaan buruk itu maka logika saya akan berkata “Ya, ini harus diakhiri karena ini kebiasaan buruk”. Bila cara ini secara konsisten diterapkan dan dipertahankan terus maka niscaya kebiasaan buruk itu pasti akan pergi alias hilang.

Di sini saya memberikan sebuah ilustrasi mengenai suatu kebiasaan.
Ada sebuah cerita sepasang suami istri yang sudah dikaruniakan tiga orang. Pasangan ini selama belasan tahun rumah tangga tidak pernah harmonis, dan satu-satunya yang menyebabkan kecekcokan dalam rumah tangga mereka adalah kebiasaan suami yang bila buka pintu lemari pakaian tidak menutupnya kembali, sedangkan si istri paling benci hal itu. Berulang kali dinasihati suami tetap lupa, lupa dan lupa menutup pintu lemari. Meskipun sepintas masalahnya sepele dan kecil tapi akibatnya fatal, keributan yang kecil berubah menjadi besar dan perceraian di depan mata. Ketika mereka konseling lalu diberikan solusi supaya menempelkan tulisan “habis buka, tutup kembali” di dua sisi pintu lemari bagian dalam dan luar. Dan setiap kali pintu lemari dibuka tulisan itu harus sangat jelas terbaca oleh suami. Apa yang terjadi? Dalam waktu dua Minggu suami sudah menjadi terbiasa menutup kembali pintu lemari yang dia buka. Tiga Minggu berikutnya tulisan tersebut hilang, dan kalau suami melihat ada pintu lemari yang masih terbuka secara spontan dia akan menutupnya meskipun bukan dia yang membukanya. Bisa dibayakan bagaimana akhir cerita itu. Sekarang keluarga ini bisa hidup harmonis, rukun dan damai.

Sebetulnya mungkin saja untuk merubah sebuah kebiasaan, bahkan saya katakan sangat-sangatlah mungkin itu terjadi. Yang perlu dilakukan, pertama mengakui kebiasaan buruk itu sendiri, kedua punya komitmen untuk merubahnya dan terakhir selalu menyadari kebiasaan itu. Saya percaya dalam waktu singkat bila ketiga poin ini dilakukan dengan baik maka sebuah kebiasaan khususnya kebiasaan yang buruk akan berubah dan tak mustahil hilang. Sebab dari latihan yang paling sederhana dan kecil akan berubah menjadi terbiasa, lalu apa yang sudah biasa dilakukan menjadi sifat, dan sifat menjadi karakter dan karakter bermutasi menjadi takdir….

Anda tidak percaya? Silakan coba….

* Toni Tio dapat dihubungi di: cornelius.tonitio@gmail.com


Telah di baca sebanyak: 2858
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *